✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Berjuang di Jalan Allah
Kitab 12 · Bab 1

Pahala berjihad di jalan Allah

✦ 74 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ﴾[سورة التوبة(36)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 190)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip perang dalam Islam sebagai tindakan defensif (membalas perang) dan kolektif. Perintah untuk memerangi kaum musyrik secara keseluruhan adalah karena mereka juga memerangi umat Islam secara keseluruhan. Hikmah utamanya adalah larangan melampaui batas (berbuat zalim) dalam peperangan, serta penegasan bahwa pertolongan Allah hanya bagi orang-orang yang bertakwa.

# 2
وقال تعالى: ﴿كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾[سورة البقرة(216)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa manusia seringkali membenci sesuatu yang justru mengandung kebaikan, dan menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk baginya. Hikmahnya, kita diperintahkan untuk tunduk pada ketetapan Allah meski bertentangan dengan hawa nafsu, karena ilmu Allah Maha Luas sedangkan pengetahuan kita sangat terbatas. Ketaatan dalam keadaan sulit, seperti perang, dapat menjadi jalan menuju kebaikan yang tidak kita ketahui.

# 3
وقال تعالى: ﴿انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ﴾[سورة التوبة(41)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah: 41)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kewajiban jihad yang bersifat menyeluruh dan tidak mengenal pengecualian. Perintah "berangkatlah" berlaku bagi setiap muslim, baik dalam kondisi mudah maupun sulit, sehat maupun sakit, muda maupun tua. Hikmahnya adalah bahwa kesungguhan dalam membela agama Allah harus diutamakan di atas segala kondisi pribadi, dengan mengorbankan harta dan jiwa sebagai bukti keimanan.

# 4
وقال تعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾[سورة التوبة(111)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 111)

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan transaksi agung antara Allah dengan orang beriman, di mana jiwa dan harta mereka dibeli dengan imbalan surga. Ini menegaskan keutamaan dan pahala besar bagi jihad fi sabilillah, baik gugur maupun menang. Janji Allah adalah kebenaran mutlak yang tertulis dalam semua kitab samawi, menjamin kemenangan abadi bagi mereka yang memenuhi janji setianya.

# 5
وقال تعالى: ﴿لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا*دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾[سورة النساء(95-96)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga). Dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan, dan rahmat. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nisa': 95-96)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keutamaan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Meskipun Allah menjanjikan balasan baik bagi semua mukmin, mereka yang berjihad diberi kelebihan derajat dan pahala yang sangat besar. Pelajarannya adalah bahwa amal shaleh yang disertai pengorbanan nyata memiliki kedudukan lebih tinggi di sisi Allah, sambil tetap mengakui bahwa janji Allah berlaku bagi semua orang beriman sesuai kondisi dan kemampuannya.

# 6
وقال تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ*تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ*يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ*وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ﴾[سورة الصف(10-13)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang agung. Dan (karunia) lain yang kamu sukai, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin." (QS. Ash-Shaff: 10-13)

Penjelasan singkat: Ayat ini menawarkan "perdagangan" istimewa dengan Allah, di mana modalnya adalah iman dan jihad dengan harta serta jiwa. Keuntungannya adalah keselamatan dari azab, ampunan dosa, serta balasan surga 'Adn yang kekal. Intinya, kesuksesan sejati seorang mukmin terletak pada kesiapan mengorbankan apa yang dicintai di dunia untuk meraih ridha dan pahala akhirat yang tak terhingga.

# 7
عَنْ أبي هُريرةَ ، رضي اللَّه عنْهُ ، قال : سئِلَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَيُّ الأعمالِ أفْضَلُ ؟ قالَ : « إيمانٌ باللَّهِ ورَسولِهِ » قيل : ثُمَّ مَاذَا ؟ قَالَ : « الجهادُ في سبِيلِ اللَّهِ » قِيل : ثُمَّ ماذا ؟ قال : « حَجٌّ مَبُرُورٌ » متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata: Rasulullah ﷺ ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ditanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Ditanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Haji mabrur." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengurutkan amalan-amalan utama dalam Islam: (1) Iman yang benar, (2) Jihad di jalan Allah, dan (3) Haji yang mabrur (diterima).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa fondasi segala amal adalah keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah itu, jihad sebagai puncak pengorbanan, lalu haji mabrur sebagai penyempurna. Urutan ini mengajarkan bahwa amal ibadah fisik yang agung sekalipun, nilainya bergantung pada keimanan yang mendasarinya.

# 8
وعَنِ ابنِ مَسْعُودٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قَالَ : قُلْتُ يا رَسُول اللَّهِ ، أيُّ العَمَل أَحَبُّ إلى اللَّهِ تَعَالى ؟ قالَ : « الصَّلاةُ عَلى وَقْتِهَا » قُلْتُ : ثُمَّ أَي ؟ قَالَ : « بِرُّ الوَالدَيْنِ» قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ « الجِهَادُ في سَبيلِ اللَّهِ » . متفقٌ عليهِ
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah ﷺ, amalan apakah yang paling dicintai Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengurutkan amalan yang paling dicintai Allah: (1) Shalat tepat waktu, (2) Berbakti kepada orang tua, dan (3) Jihad di jalan Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prioritas amal saleh. Shalat tepat waktu adalah ibadah pokok yang langsung menghubungkan hamba dengan Allah, sehingga paling utama. Kemudian berbakti kepada orang tua, sebagai bentuk syukur dan penghormatan setelah beribadah kepada Sang Pencipta. Barulah setelah dua kewajiban ini, jihad di jalan Allah yang merupakan puncak pengorbanan. Urutan ini menegaskan keseimbangan antara hak Allah, hak manusia (terutama orang tua), dan kepentingan agama.

# 9
وَعنْ أبي ذَرٍّ ، رضي اللَّه عنهُ ، قَالَ : قُلْتُ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ العملِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : « الإيمَانُ بِاللَّهِ ، وَالجِهَادُ في سبِيلِهِ » . مُتفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Abu Dzar رضي الله عنه, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah ﷺ, amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa dasar segala amal kebaikan adalah keimanan yang benar kepada Allah. Iman bukan hanya pengakuan, tetapi fondasi yang memotivasi seluruh perbuatan. Jihad di jalan Allah ditempatkan sebagai amal utama setelah iman, yang mencakup makna luas: berjuang dengan harta, jiwa, lisan, dan segala kemampuan untuk menegakkan agama. Dengan demikian, keutamaan amal ditentukan oleh sejauh mana ia menyatukan ketulusan iman dengan pengorbanan di jalan-Nya.

# 10
وعنْ أَنَسٍ ، رضي اللَّه عنهُ ، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « لَغَدْوَةٌ في سبِيلِ اللَّهِ ، أوْ رَوْحَةٌ ، خَيْرٌ مِن الدُّنْيَا وَمَا فِيها » . متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Anas رضي الله عنه, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Berangkat (untuk berjihad) pada pagi hari atau sore hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pahala dan keutamaan berjihad di jalan Allah, sekalipun hanya berangkat di satu waktu (pagi atau sore), melebihi nilai seluruh dunia.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan agung dari amal di jalan Allah, khususnya jihad. Nilai satu langkah perjuangan, baik di waktu pagi maupun sore, melebihi seluruh kemewahan dunia dan segala isinya. Ini menjadi motivasi untuk mengutamakan investasi akhirat dan rela berkorban demi agama.

# 11
وَعَنْ أبي سَعيدٍ الخُدْريِّ ، رضي اللَّه عنهُ قال : أَتى رَجُلٌ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ : أَيُّ النَّاسِ أَفْضلُ ؟ قَال : « مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ ومالِهِ في سبِيلِ اللَّهِ » قال : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : « مُؤْمِنٌ في شِعْبٍ مِنَ الشِّعابِ يعْبُدُ اللَّه ، ويَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ . متفقٌ عليهِ.
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, "Siapakah manusia yang paling utama?" Beliau menjawab, "Seorang mukmin yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah." Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Kemudian seorang mukmin yang berada di suatu lembah gunung, dia beribadah kepada Allah dan meninggalkan manusia dari kejahatannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menyebutkan dua golongan manusia utama: (1) Mujahid yang berjuang dengan jiwa dan harta, dan (2) Orang shaleh yang menyendiri untuk beribadah dan tidak mengganggu orang lain.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang tingkatan keutamaan amal. Yang paling utama adalah mukmin yang aktif berjihad dengan jiwa dan harta untuk membela agama dan masyarakat. Tingkat berikutnya adalah mukmin yang menyendiri untuk fokus beribadah dan menjauhi manusia dari keburukannya. Ini menunjukkan bahwa kontribusi sosial yang aktif lebih utama, namun mengisolasi diri untuk menjaga keselamatan agama dan sosial juga mulia.

# 12
وعنْ سهل بنِ سعْدٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قَالَ : « رِباطٌ يَوْمٍ في سَبيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيا وما عَلَيْها ، ومَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنَ الجنَّةِ خَيْرٌ من الدُّنْيا وما عَلَيْها ، والرَّوْحةُ يرُوحُها العبْدُ في سَبيلِ اللَّهِ تَعالى ، أوِ الغَدْوَةُ ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْياَ وَما عَليْهَا » . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berjaga-jaga (di perbatasan) satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Satu langkah yang ditempuh seorang hamba di jalan Allah Ta'ala, baik di waktu pagi atau sore, lebih baik daripada dunia dan seisinya." (Muttafaqun 'alaih).

Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan keutamaan besar dari berjihad di jalan Allah, baik dengan berjaga di perbatasan (ribath) maupun dengan melangkah untuk berperang. Pahalanya jauh melebihi segala kenikmatan duniawi.

# 13
وعَنْ سَلْمَانَ ، رضي اللَّه عَنهُ ، قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : «رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيرٌ مِنْ صِيامِ شَهْرٍ و قِيامِهِ ، وَإنْ ماتَ فيهِ أجري عليه عمَلُهُ الَّذي كان يَعْمَلُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزقُهُ ، وأمِنَ الفَتَّانَ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Salman radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berjaga-jaga (ribath) di perbatasan satu siang dan satu malam lebih baik daripada puasa dan shalat selama satu bulan. Dan jika dia mati (syahid) pada saat itu, maka pahala amalannya yang biasa dia lakukan akan terus mengalir untuknya, dan dia akan diberi rezeki (di surga), serta akan dilindungi dari fitnah (pertanyaan) kubur." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan keutamaan berjaga di perbatasan untuk membela agama Allah. Pahalanya melebihi ibadah sunnah yang sangat besar (puasa dan shalat sebulan penuh), dan jika gugur sebagai syahid, dia akan mendapatkan tiga keutamaan: pahala yang terus mengalir, rezeki di surga, dan keselamatan dari siksa kubur.

# 14
وعَنْ فضَالةَ بن عُبيد ، رَضيَ اللَّه عنْهُ ، أَنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ على عَملِهِ إلاَّ المُرابِطَ في سَبيلِ اللَّهِ ، فَإنَّهُ يُنَمَّى لهُ عَمَلُهُ إلى يوْمِ القِيامَةِ ، ويُؤمَّنُ فِتْنةِ القَبرِ » . رواه أبو داودَ والترمذيُّ وقَالَ : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap orang yang mati, amalannya akan terputus, kecuali orang yang mati syahid di medan jihad di jalan Allah. Amalannya akan terus bertambah hingga hari Kiamat, dan dia akan dilindungi dari fitnah (pertanyaan) kubur." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia (At-Tirmidzi) berkata: Hadits ini hasan).

Penjelasan singkat: Hadits ini menerangkan keistimewaan orang yang mati syahid. Berbeda dengan manusia lain yang amalnya terputus setelah wafat, amal baik seorang syahid justru terus berkembang pahalanya. Dia juga mendapat perlindungan dari ujian di alam kubur.

# 15
وَعنْ عُثْمَانَ ، رضي اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : «رباطُ يَوْمٍ في سبيلِ اللَّه خَيْرٌ مِنْ ألْفِ يَوْمٍ فيما سواهُ مِنَ المَنازلِ » . رواهُ الترمذيُّ وقالَ : حديثٌ حسن صَحيحٌ .
Terjemahan
Dari Utsman radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berjaga-jaga (ribath) satu hari di jalan Allah lebih baik daripada seribu hari di tempat-tempat selainnya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits hasan shahih).

Penjelasan singkat: Hadits ini kembali menegaskan keutamaan ribath (berjaga di perbatasan atau di jalan Allah). Satu hari yang dihabiskan untuk tujuan ini dinilai lebih utama daripada ibadah di tempat lain selama ribuan hari.

# 16
وَعَنْ أبي هُرَيرَة ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قَال : قَالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « تَضَمَّنَ اللَّه لِمنْ خَرَجَ في سَبيلِهِ ، لا يُخْرجُهُ إلاَّ جِهَادٌ في سَبيلي ، وإيمانٌ بي وَتَصْدِيقٌ برُسُلي فَهُوَ ضَامِنٌ أنْ أدْخِلَهُ الجَنَّةَ ، أوْ أرْجِعَهُ إلى مَنْزِلِهِ الذي خَرَجَ مِنْهُ بما نَالَ مِنْ أجْرٍ ، أوْ غَنِيمَة ، وَالَّذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ ما مِنْ كَلْمٍ يُكلَم في سبيلِ اللَّهِ إلاَّ جاءَ يوْم القِيامةِ كَهَيْئَتِهِ يوْم كُلِم، لَوْنُهُ لَوْن دَم ، ورِيحُهُ ريحُ مِسْكٍ ، والَّذي نَفْسُ مُحمَّدٍ بِيدِهِ لَوْلا أنْ أَشُقَّ على المُسْلِمينَ ما قعَدْتُ خِلاف سرِيَّةٍ تَغْزُو في سَببيلِ اللَّه أبَداً ، ولكِنْ لا أجِدٌ سعَة فأَحْمِلَهمْ ولا يجدُونَ سعَةً ، ويشُقُّ علَيْهِمْ أن يَتَخَلفوا عنِّي ، وَالذي نفْسُ مُحَمَّد بِيدِهِ ، لَودِدْتُ أن أغزوَ في سبِيلِ اللَّهِ ، فَأُقْتَل ، ثُمَّ أغْزو ، فَأُقتل ، ثُمَّ أغزو ، فَأُقتل » رواهُ مُسلمٌ وروى البخاريُّ بعْضهُ . « الكَلْمُ » : الجرح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah menjamin bagi orang yang keluar di jalan-Nya, yang tidak ada yang membuatnya keluar dari rumahnya kecuali untuk berjihad di jalan Kami, beriman kepada Kami, dan membenarkan rasul-rasul Kami, bahwa Allah akan menjamin untuk memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya ke rumahnya yang dia tinggalkan, dengan membawa pahala atau ghanimah (harta rampasan perang). Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang terluka di jalan Allah melainkan pada hari Kiamat dia akan datang dengan lukanya yang mengeluarkan darah, warnanya seperti warna darah, dan baunya seperti bau minyak kesturi. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku tidak akan duduk (tinggal di belakang) dari pasukan yang berperang di jalan Allah. Tetapi aku tidak memiliki kemampuan untuk memberi kendaraan kepada mereka, dan mereka pun tidak memiliki kemampuan untuk pergi sendiri, dan mereka juga merasa berat untuk tidak pergi bersamaku. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku sangat ingin berperang di jalan Allah lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits panjang ini mengandung beberapa poin penting: 1) Jaminan surga atau pahala besar bagi mujahid. 2) Luka di jalan Allah akan menjadi tanda kemuliaan di hari Kiamat. 3) Keinginan kuat Rasulullah untuk syahid berulang kali, menunjukkan betapa tingginya kedudukan syahid. 4) Kebijaksanaan Rasulullah yang tidak memaksakan jihad karena kondisi umat yang belum mampu.

# 17
وَعنْهُ قال : قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما مِنْ مَكلوم يُكْلَمُ في سبيل اللَّه إلاَّ جاءَ يَوْمَ القِيامةِ ، وكَلْمُهُ يَدْمِي : اللوْنُ لونُ دمٍ والريحُ رِيحُ مِسْكٍ » . متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap orang yang terluka di jalan Allah, maka pada hari Kiamat lukanya akan mengeluarkan darah, warnanya seperti warna darah, dan baunya seperti bau minyak kesturi." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan kemuliaan luka yang didapat di medan jihad. Di dunia mungkin terlihat menyakitkan, tetapi di akhirat akan berubah menjadi tanda kehormatan yang indah dan harum.

# 18
وعَنْ مُعاذٍ رضي اللَّه عَنْهُ ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قَالَ : « منْ قاتل في سَبيلِ اللَّهِ مِنْ رَجل مُسلِمٍ فُواقَ نَاقةٍ وجبتْ له الجَنَّةُ ، ومَنْ جُرِحَ جُرْحاً في سبيلِ اللَّه أوْ نكِب نَكبَةً، فَإنَّهَا تجيءُ يَوْمَ القِيامة كأغزَرِ ما كَانَتْ : لَوْنُهَا الزَّعْفَرانُ ، ورِيحُها كالمِسكِ» . رواهُ أبو داودَ ، والترمذيُّ وقال : حديثٌ حسَنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Mu'adz radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim yang berperang di jalan Allah selama kira-kira waktu memerah susu unta dua kali, maka dia pasti masuk surga. Barangsiapa yang terluka atau terkena musibah apa pun di jalan Allah, maka pada hari Kiamat dia akan datang dengan luka yang lebih banyak dari yang dia alami, warnanya seperti warna darah, dan baunya seperti bau minyak kesturi." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia (At-Tirmidzi) berkata: Hadits ini hasan).

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan bahwa waktu berjihad yang singkat pun (sekadar memerah unta dua kali) sudah cukup untuk menjamin surga, jika ikhlas karena Allah. Luka dan musibah di jalan Allah akan menjadi bukti kemuliaan di akhirat.

# 19
وعنْ أبي هُريرةَ ، رضِي اللَّه عَنْهُ ، قال : مَرَّ رَجُلٌ مِنْ أصْحَاب رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، بشِعْب فيهِ عُيَيْنَةٌ مِن ماءٍ عَذْبةٍ ، فأَعجبتهُ ، فَقَالَ : لَو اعتزَلتُ النَّاسَ فَأَقَمْتُ في هذا الشِّعْبِ ، ولَنْ أفعلِ حَتى أسْتأْذنَ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فذكر ذلكَ لرسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ : « لا تفعلْ ، فإنَّ مُقامَ أحدِكُمْ في سبيلِ اللَّهِ أفضَلُ مِنْ صلاتِهِ في بيتِهِ سبْعِينَ عاماً ، ألا تُحبُّونَ أنْ يَغْفِر اللَّه لَكُمْ ويُدْخِلكَمُ الجنَّةَ ؟ اغزُوا في سبيلِ اللَّهِ ، منْ قَاتَلَ في سَبيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَة وَجَبتْ له الجَنَّةُ » . رواهُ الترمذيُّ وَقالَ : حديثٌ حَسَنٌ . والفُوَاقُ: مَا بَيْنَ الحَلْبتَيْنِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ada seorang laki-laki dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati sebuah lembah yang ada mata air tawar di dalamnya, yang membuatnya kagum. Dia pun berkata: "Seandainya aku meninggalkan manusia dan menetap di lembah ini (tentu lebih baik), tetapi aku tidak akan melakukannya kecuali setelah meminta izin kepada Rasulullah." Lalu dia menyampaikan hal itu kepada Rasulullah, maka beliau bersabda: "Jangan kamu lakukan itu, karena sesungguhnya berdiam (berjaga) di jalan Allah lebih baik daripada shalatmu di rumah selama 70 tahun. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga? Berperanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah selama kira-kira waktu memerah susu unta dua kali, maka dia pasti masuk surga." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits ini hasan).

Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan bahwa jihad di jalan Allah lebih utama daripada ibadah sunnah yang dilakukan sendirian di tempat yang sunyi sekalipun. Ibadah sosial untuk membela agama dinilai lebih mulia.

# 20
وعَنْهْ قَالَ قِيلَ : يا رسُولَ اللَّهِ ، ما يَعْدِلُ الجِهَادَ في سَبيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ : « لا تَسْتَطيعُونَه ، » فأعادوا عليه مرتين أو ثلاثاً كل ذلك يقول : « لا تستطيعون ، » . ثُمَّ قال : « مثَل المجاهد في سبيل اللَّهِ كمثَل الصَّائمِ القَائمِ القَانِتِ بآياتِ اللَّهِ لا يَفْتُرُ : مِنْ صلاةٍ ، ولا صيامٍ ، حتى يَرجِعَ المجاهدُ في سبيل اللَّهِ » متفقٌ عليهِ . وهذا لفظُ مسلِمٍ . وفي روايةِ البخاري ، أنَّ رجلا قَال : يا رسُولَ اللَّهِ دُلَّني عَلى عملٍ يَعْدِلُ الجهَادَ ؟ قال: « لا أجدهُ » ثُمَّ قال : « هل تَستَطِيعُ إذا خَرَجَ المُجاهِدُ أن تدخُلَ مَسجِدَك فتَقُومَ ولا تَفتُرَ ، وتَصُومَ ولا تُفطِرَ ؟ » فَقالَ : ومَنْ يستطِيعُ ذَلك ؟
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ada yang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Amal apakah yang setara dengan jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab: "Kalian tidak akan mampu melakukannya." Orang itu bertanya lagi dua atau tiga kali, dan beliau tetap menjawab: "Kalian tidak akan mampu melakukannya." Kemudian pada kali ketiga, beliau bersabda: "Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa, shalat, dan taat kepada perintah Allah dengan membaca ayat-ayat-Nya, dan dia terus berpuasa dan shalat tanpa henti sampai orang yang berjihad di jalan Allah itu pulang." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan: "Sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya: 'Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang setara dengan jihad di jalan Allah?' Beliau menjawab: 'Aku tidak menemukan yang setara dengan itu.' Kemudian beliau melanjutkan: 'Apakah kamu mampu, ketika orang yang berjihad di jalan Allah telah berangkat, kamu masuk ke dalam masjidmu lalu shalat terus tanpa henti, dan kamu berpuasa terus tanpa berbuka?' Orang itu berkata: 'Siapa yang mampu melakukan itu?'"

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan keutamaan jihad yang sangat tinggi, hingga sulit dicari tandingannya. Ibadah puasa dan shalat yang dilakukan terus-menerus tanpa henti pun masih dianggap belum tentu menyamai pahala jihad, karena jihad mengandung pengorbanan harta, jiwa, dan tenaga di medan yang sesungguhnya.

# 21
وعنْهُ أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « مِنْ خَيرِ معاشِ الناس لَهُم رجُلٌ مُمسِكٌ بعنَانِ فرسِهِ في سبيل اللَّهِ ، يطِيرُ على متنِهِ كُلَّما سمِع هَيعةً ، أوْ فَزَعَة طَار على متنِهِ ، يَبْتَغِي القتل أو المَوتَ مظَانَّهُ ، أو رَجُلٌ في غُنَيْمةٍ أو شَعفَةٍ مِن هذه الشُّعفِ أو بطنِ وادٍ من هذِهِ الأودِيةِ يُقيمُ الصَّلاةَ ، ويُؤْتي الزَّكاةَ ، ويعْبُدُ ربَّهُ حتَّى يَأْتِيَه اليَقِينُ لَيْسَ من النَّاسِ إلاَّ في خَيْرٍ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di antara kehidupan yang baik bagi seseorang adalah seorang laki-laki yang memegang tali kekang kudanya (bersiap) untuk berjihad di jalan Allah. Dia melakukan perjalanan dengan cepat di atas punggungnya, setiap kali mendengar seruan untuk berperang (jihad) atau teriakan yang mengajak berperang. Dia melakukan perjalanan di atas punggung kuda, mencari kematian atau terbunuh di medan perang itu. Atau seorang laki-laki lain yang berada di puncak gunung atau di lembah gunung, melakukan shalat, membayar zakat, dan beribadah kepada Allah hingga dia meninggal. Orang yang seperti ini termasuk manusia yang terbaik." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan dua contoh manusia terbaik: 1) Mujahid yang selalu siap siaga dan mencari kesyahidan. 2) Ahli ibadah yang tekun beribadah di tempat yang sunyi. Keduanya adalah bentuk kehidupan yang mulia di sisi Allah.

# 22
وعَنْهُ ، أنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قالَ : « إنَّ في الجنَّةِ مائَةَ درجةٍ أعدَّهَا اللَّه للمُجَاهِدينَ في سبيلِ اللَّه ما بيْن الدَّرجَتَينِ كما بيْنَ السَّمَاءِ والأَرْضِ » . رواهُ البخاريُّ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga ada 100 tingkatan yang telah Allah sediakan untuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya seperti jarak antara langit dan bumi." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan betapa tinggi dan agungnya kedudukan para mujahid di surga. Mereka akan menempati tingkatan-tingkatan khusus yang jaraknya sangat jauh, menunjukkan kemuliaan dan perbedaan pahala yang besar.

# 23
وعَن أبي سعيدٍ الخُدْرِيِّ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، أنَّ رسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « مَنْ رضي بِاللَّهِ رَبَّا ، وبالإسْلامِ ديناً ، وَبمُحَمَّدٍ رَسُولاً ، وَجَبت لَهُ الجَنَّةُ » فَعَجب لهَا أبو سَعيدٍ، فَقَال أعِدْها عَلَيَّ يا رَسولَ اللَّهِ فَأَعادَهَا عَلَيْهِ ، ثُمَّ قال : « وَأُخْرى يَرْفَعُ اللَّه بِها العَبْدَ مائَةَ درَجةً في الجَنَّةِ ، ما بيْن كُلِّ دَرَجَتَين كَما بَين السَّماءِ والأرْضِ » قال : وما هِي يا رسول اللَّه ؟ قال : « الجِهادُ في سبِيل اللَّه ، الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ » . رواهُ مُسلمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang rela menerima Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, maka dia akan masuk surga." Abu Sa'id sangat gembira mendengar perkataan ini, lalu berkata: "Ulangilah lagi untukku." Beliau pun mengulanginya sekali lagi, kemudian bersabda: "Dan ada amalan lain yang dengannya Allah akan mengangkat derajat hamba-Nya seratus tingkat di dalam surga, dan jarak antara satu tingkat dengan tingkat lainnya seperti antara langit dan bumi." Abu Sa'id bertanya: "Wahai Rasulullah, amalan apakah itu?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan bahwa syarat utama masuk surga adalah tauhid (menerima Allah, Islam, dan Muhammad). Kemudian, jihad disebut sebagai amalan yang dapat mengangkat derajat seseorang sangat tinggi di dalam surga, melebihi tingkatan-tingkatan biasa.

# 24
وعَنْ أبي بَكْرِ بن أبي مُوسى الأشْعَرِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ أبي ، رضي اللَّه عنْه، وَهُوَ بحَضْرَةِ العَدُوِّ ، يقول : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ أبْوابَ الجَنَّةِ تَحْتَ ظِلالِ السُّيُوفِ » فَقامَ رَجُلٌ رَثُّ الهَيْئَةِ فَقَالَ : يَا أبَا مُوسَى أَأَنْت سمِعْتَ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول هذا؟ قال : نَعم ، فَرجَع إلى أصحَابِهِ ، فَقَال : « أقرأ علَيْكُمُ السَّلامَ » ثُمَّ كَسَر جفْن سَيفِهِ فألْقاه ، ثمَّ مَشَى بِسيْفِهِ إلى العدُوِّ فضَرب بِهِ حتَّى قُتل » . رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Abu Bakar bin Abu Musa meriwayatkan: Aku mendengar ayahku (Abu Musa Al-Asy'ari) radhiyallahu 'anhu, ketika musuh telah datang, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya pintu-pintu surga berada di bawah naungan pedang." Tiba-tiba seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping berdiri dan bertanya: "Wahai Abu Musa, apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian?" Dia menjawab: "Ya." Orang itu pun kembali menemui teman-temannya, lalu berkata: "Aku ucapkan salam perpisahan kepada kalian." Kemudian dia memecahkan sarung pedangnya dan melemparkannya. Lalu dia mengambil pedang itu dan berjalan menuju musuh, dan menggunakan pedang tersebut untuk bertempur melawan musuh hingga terbunuh. (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan motivasi kuat yang timbul dari sabda Nabi. Mendengar bahwa surga diraih dengan jihad (pedang), seorang sahabat segera mengambil tindakan nyata dan berperang hingga syahid, mengamalkan apa yang didengarnya.

# 25
وعن أبي عَبْسٍ عبدِ الرَّحمنِ بْنِ جُبَيْرٍ ، رضي اللَّه عنهُ قال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما اغْبَرَّتْ قدَما عَبْدٍ في سبيلِ اللَّه فتَمسَّه النَّارُ » . رواهُ البخاري .
Terjemahan
Dari Abu 'Abs 'Abdurrahman bin Jabr radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kaki seorang hamba Allah yang berdebu karena berjihad di jalan Allah, tidak akan disentuh oleh api neraka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadits ini memberikan jaminan keselamatan dari neraka bagi orang yang berjihad dengan ikhlas. Debu di kaki karena perjalanan jihad menjadi bukti pengorbanan yang akan melindunginya dari siksa api.

# 26
وَعَنْ أبي هُرَيْرَةَ ، رضي اللَّه عنهُ ، قَالَ : قَال رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يلجُ النًَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيةِ اللَّهِ حتَّى يعُودَ اللَّبَن في الضَّرعِ ، وَلاَ يَجْتَمِعُ عَلَى عَبْدٍ غُبَارٌ في سبيل اللَّهِ ودخَان جهَنَّم » ، رواه الترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke tempat asalnya (payudara). Tidak mungkin terkumpul pada seorang hamba Allah dua hal sekaligus, yaitu debu di jalan Allah dan asap neraka Jahannam." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).

Penjelasan singkat: Hadits ini menyebutkan dua hal yang melindungi dari neraka: 1) Menangis karena takut kepada Allah. 2) Berjihad hingga berdebu di jalan Allah. Keduanya adalah tanda keimanan dan pengorbanan yang tidak mungkin disatukan dengan nasib penghuni neraka.

# 27
وعن ابن عبَّاسٍ ، رضي اللَّه عَنْهُمَا ، قَالَ : سمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ: «عيْنَانِ لا تَمسُّهُمَا النَّارُ : عيْنٌ بكَت مِنْ خَشْيةِ اللَّهِ ، وعيْنٌ باتَت تحْرُسُ في سبِيلِ اللَّهِ». رواه الترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di malam hari untuk berjaga (berjihad) di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits ini hasan).

Penjelasan singkat: Hadits ini mirip dengan sebelumnya, menekankan keutamaan dua jenis mata: mata yang menangis dalam ketaatan dan mata yang terjaga untuk berjihad. Keduanya mendapat jaminan perlindungan dari neraka.

# 28
وعن زَيدِ بنِ خَالدٍ ، رضِي اللَّه عَنْه ، أنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « من جهَّزَ غَازِياً في سبيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا ، ومنْ خَلَفَ غَازياً في أَهْلِهِ بخَيْر فَقَدْ غزَا » . متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Zaid bin Khalid radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang mempersiapkan (perbekalan) seorang yang berperang di jalan Allah, maka ia telah (dianggap) berperang. Dan barangsiapa yang mengurusi keluarga seorang yang berperang dengan baik, maka ia telah (dianggap) berperang." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan dan keadilan Islam dalam membagi pahala jihad. Pahala yang sama dengan orang yang berperang di jalan Allah tidak hanya untuk pejuang di medan tempur, tetapi juga untuk siapa saja yang mendukung mereka. Dukungan itu berupa dua bentuk: (1) bantuan material seperti mempersiapkan perbekalan, dan (2) bantuan sosial dengan menjaga keluarga yang ditinggalkan. Dengan demikian, umat Islam diajarkan untuk saling membantu dan solidaritas, di mana setiap kontribusi, baik langsung maupun tidak langsung, sangat bernilai di sisi Allah.

# 29
وَعَنْ أبي أُمامة ، رضي اللَّه عنْهُ قَالَ : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أفْضَلُ الصَّدَقات ظِلُّ فُسْطَاطٍ في سبيل اللَّه ومَنِيحةُ خادمٍ في سبيل الله أو طَروقهُ فحلٍ في سبيل اللَّه» رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sedekah terbaik adalah memberikan keteduhan (tenda/naungan) di jalan Allah, atau memberikan pembantu di jalan Allah, atau memberikan hewan tunggangan di jalan Allah.' (HR. Tirmidzi, hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah terbaik adalah yang mendukung perjuangan di jalan Allah (fisabilillah). Bentuknya konkret: memberi naungan/tenda, pembantu, atau kendaraan untuk keperluan jihad atau aktivitas ibadah yang berat. Intinya, prioritas sedekah adalah untuk kemaslahatan agama yang kolektif dan membantu perjuangan menegakkan kebenaran.

# 30
وعنْ أنسٍ ، رضي اللَّه عنْه ، أنَّ فَتىً مِن أسْلَمَ قال : يا رسول اللَّهِ إنِّي أُريد الغَزْو ولَيْس معِى ما أتَجهَّزُ بِهِ ، قال : « ائتِ فُلاناً ، فَإنَّه قَد كانَ تَجهَّزَ فَمَرِضَ » فأتاه فَقَال: إنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُقْرِئَكَ السَّلامَ ويقولُ : أعطِني الذي تَجهَّزتَ بِهِ ، قَالَ : يا فُلانَةُ، أعْطِيهِ، الذي كُنْتُ تَجهَّزْتُ بِهِ ، ولا تَحْبِسين مِنْهُ شَيْئاً ، فوَاللَّهِ لا تَحْبِسي مِنْه شَيْئاً فَيُبارَكَ لَكِ فِيهِ . رواه مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang pemuda dari suku Aslam berkata: 'Wahai Rasulullah, aku ingin pergi berperang tetapi aku tidak memiliki bekal untuk itu.' Beliau bersabda: 'Temuilah si Fulan, karena ia telah mempersiapkan bekal tetapi ia sakit.' Pemuda itu pun menemuinya dan berkata: 'Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan bersabda: Berikanlah bekalmu kepadaku.' Orang itu berkata kepada istrinya: 'Berikan bekalku kepadanya.' Istrinya berkata: 'Tidak ada yang lebih baik?' Ia berkata: 'Tidak.' Maka istrinya pun memberikan bekalnya, lalu pemuda itu berangkat hingga menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda: 'Mengapa Fulan tidak berangkat?' Orang-orang menjawab: 'Ia sakit.' Beliau bersabda: 'Siapa yang membekalinya?' Mereka menjawab: 'Si Fulan.' Beliau bersabda: 'Sungguh pahala si Fulan sama dengan pahala pemuda ini.' (HR. Ahmad, shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya solidaritas sosial (ta'awun) dalam Islam. Rasulullah SAW mengajarkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dengan cara yang bijak, di sini dengan mengalihkan bekal orang yang sakit kepada yang mampu berperang. Selain itu, terkandung adab meminta dengan baik melalui penyampaian salam, serta keutamaan ikhlas dalam memberi dan keyakinan akan keberkahan harta yang didermakan.

# 31
وعن أبي سَعيدٍ الخُدْرِيِّ ، رضي اللَّهُ عنهُ ، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بَعثَ إلى بَني لِحيانَ ، فَقَالَ : « لِيَنْبَعِثْ مِنْ كُلِّ رجُلَيْنِ أحدَهُما ، والأَجْرُ بينَهُما » رواهُ مسلمٌ . وفي روايةٍ لهُ : « لِيخْرُجْ مِنْ كُلِّ رجلين رجُلٌ » ثُمَّ قال لِلقاعِدِ : « أَيُّكُمْ خَلَفَ الخارج في أَهْلِهِ ومالِهِ بخَيْرٍ كان لهُ مِثْلُ نِصْفِ أَجرِ الخارِجِ » .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutusnya ke Bani Lahyan dari suku Hudzail, dan bersabda: 'Hendaklah setiap dua orang mengirim satu orang (untuk berperang), dan pahala keduanya sama.' Dalam riwayat lain: 'Kemudian bagi yang tinggal, hendaknya salah seorang dari mereka mengirim satu orang, maka pahalanya sama antara yang pergi dan yang membekali.' (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan prinsip gotong royong dan keadilan dalam ibadah jihad. Rasulullah mengatur agar dalam kondisi tertentu, tugas berat dapat dijalankan secara bergilir oleh sebagian kelompok. Yang berangkat dan yang tinggal untuk mengurusi keluarga serta harta saudaranya, keduanya sama-sama mendapat pahala. Ini menunjukkan bahwa kontribusi tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga dukungan logistik dan sosial bernilai ibadah yang besar di sisi Allah.

# 32
وعنِ البراءِ ، رضي اللَّه عَنْـهُ ، قال : أتى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، رجلٌ مقنَّعٌ بِالحدِيدِ ، فَقال : يا رَسُول اللَّهِ أُقَاتِلُ أوْ أُسْلِمُ ؟ فقَال : « أسْلِمْ ، ثُمَّ قاتِلْ » فَأسْلَم ، ثُمَّ قَاتَلَ فَقُتِلَ، فقَال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « عمِل قَلِيلاً وَأُجِر كَثيراً » . متفقٌ عليهِ ، وهذا لفظُ البخاري .
Terjemahan
Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ dengan membawa senjata dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah aku harus berperang (di jalan Allah) atau masuk Islam terlebih dahulu?" Beliau menjawab: "Masuk Islamlah terlebih dahulu, kemudian berperanglah." Laki-laki itu pun masuk Islam, kemudian ikut berperang di medan pertempuran dan terbunuh. Saat itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Ia melakukan amalan yang sedikit, namun diberi pahala yang banyak." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan keutamaan niat yang tulus dan keislaman yang benar sebagai landasan utama sebelum berjihad. Amalan yang sedikit tetapi dilandasi keimanan dan keikhlasan dapat menghasilkan pahala yang besar di sisi Allah.

# 33
وعَنْ أنَسٍ ، رضي اللَّه عنْهُ ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « ما أَحدٌ يدْخُلُ الجنَّة يُحِبُّ أنْ يرْجِعَ إلى الدُّنْيَا ولَه ما على الأرْضِ منْ شَيءٍ إلاَّ الشَّهيدُ ، يتمَنَّى أنْ يَرْجِع إلى الدُّنْيَا ، فَيُقْتَلَ عشْرَ مَرَّاتٍ ، لِما يرى مِنَ الكرامةِ » . وفي روايةٍ : « لِمَا يرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ » . مُتفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun yang masuk Surga lalu ingin kembali ke dunia, untuk mendapatkan kenikmatan dunia, kecuali orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia ingin kembali ke dunia dan dibunuh sepuluh kali karena melihat keutamaan pahala mati syahid di jalan Allah."
Dalam satu riwayat lain: "Karena ia melihat keutamaan pahala mati syahid di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala mati syahid di jalan Allah, sehingga seorang syahid pun berharap bisa kembali ke dunia untuk meraihnya lagi.

# 34
وعَنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عَمرو بنِ العاص ، رضي اللَّه عنْهما ، أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « يغْفِرُ اللَّه للشَّهيدِ كُلَّ شَيْئٍ إلاَّ الدَّيْنَ » رواه مسلمٌ . وفي روايةٍ له : « القَتْلُ في سَبِيلِ اللَّهِ يُكفِّرُ كُلَّ شَيءٍ إلاَّ الدَّيْن »
Terjemahan
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah mengampuni semua dosa orang yang mati syahid di jalan-Nya, kecuali hutang." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Dalam riwayat lain dari Ath-Thabrani: "Kematian di jalan Allah menghapus semua dosa, kecuali hutang."

Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan keutamaan mati syahid yang dapat menghapus semua dosa, namun juga menegaskan tanggung jawab terhadap hak sesama manusia (hutang) yang harus diselesaikan.

# 35
وعَنْ أبي قتَادَةَ ، رضي اللَّه عَنْه ، أنَّ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَامَ فيهمْ فَذَكَرَ أنَّ الجِهادَ في سبِيلِ اللَّهِ ، وَالإيمانَ بِاللَّهِ ، أَفْضَلُ الأَعْمَال ، فَقَامَ رجُلٌ ، فَقَال : يا رَسُول اللَّهِ أَرأَيْتَ إنْ قُتِلْتُ في سبيلِ اللَّهِ أتُكَفَّرُ عنِّي خَطاياي ؟ فَقالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « نعمْ إنْ قُتِلت في سبيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صابِرٌ ، مُحْتسِبٌ مُقبلٌ غيْرُ مُدْبِرٍ » ثُمَّ قَال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «كَيْفَ قُلْتَ ؟ » قال : أَرأَيْتَ إنْ قُتِلْتُ في سبيل اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عنِّي خَطَايَايَ ؟ فَقَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « نَعمْ وأَنْتَ صابِرٌ مُحْتَسِبٌ ، مُقْبلٌ غَيْرُ مُدْبرٍ ، إلاَّ الدَّيْنَ ، فَإنَّ جِبْرِيلَ عليه السلامُ قال لي ذلكَ » . رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berdiri di tengah-tengah mereka dan mengingatkan bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada Allah adalah amalan yang paling utama. Kemudian seorang laki-laki berdiri dan bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya. Jika engkau terbunuh di jalan Allah, sementara engkau bersabar, mengharap pahala dari Allah, maju ke depan dan tidak mundur ke belakang." Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya: "Apa yang baru kau tanyakan?" Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya: "Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya. Jika engkau terbunuh di jalan Allah, sementara engkau bersabar, mengharap pahala dari Allah, maju ke depan dan tidak mundur ke belakang, kecuali hutang. Jibril telah memberitahuku demikian." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan syarat-syarat untuk meraih pengampunan dosa melalui syahid: niat ikhlas, sabar, mengharap pahala Allah, dan maju pantang mundur dalam pertempuran. Hutang tetap menjadi pengecualian.

# 36
وعَنْ جابرٍ رضي اللَّه عَنْهُ ، قالَ : قالَ رَجُلٌ : أين أنَا يا رسُولَ اللَّهِ إنْ قُتِلتُ؟ قال : « في الجَنَّةِ » . فألقى تَمَرَاتٍ كُنَّ في يَدِهِ ، ثُمَّ قاتَلَ حتَّى قُتِلَ ، رواهُ مسلم .
Terjemahan
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah ﷺ, di manakah tempatku jika aku terbunuh?" Beliau menjawab: "Di Surga." Laki-laki itu pun melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian ia ikut serta dalam pertempuran hingga terbunuh. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan keyakinan kuat seorang sahabat terhadap janji Rasulullah ﷺ tentang Surga bagi orang yang syahid, sehingga ia segera bertindak tanpa ragu.

# 37
وعنْ أنَسٍ رضي اللَّه عَنْهُ ، قالَ انْطَلقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَأَصْحَابُهُ حَتَّى سَبَقُوا المشْركِينَ إلى بَدرٍ ، وَجَاءَ المُشرِكونَ ، فقالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يَقْدمنَّ أحَدٌ مِنْكُمْ إلى شيءٍ حَتَّى أكُونَ أنا دُونَهُ » فَدَنَا المُشرِكونَ ، فقَال رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قُومُوا إلى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمواتُ وَالأَرْضُ » قال : يَقولُ عُمَيْرُ بنُ الحُمَامِ الأنْصَارِيُّ رضي اللَّه عَنْهُ : يا رسولَ اللَّه جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمواتُ والأرضُ ؟ قالَ : « نَعم » قالَ : بَخٍ بَخٍ ، فقالًَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما يَحْمِلُكَ على قَولِكَ بَخٍ بخٍ ؟ » قالَ لا وَاللَّهِ يا رسُول اللَّه إلاَّ رَجاءَ أن أكُونَ مِنْ أهْلِها ، قال : « فَإنَّكَ مِنْ أهْلِهَا » فَأخْرج تَمَرَاتٍ مِنْ قَرَنِهِ ، فَجَعَل يَأْكُلُ منْهُنَّ، ثُمَّ قَال لَئِنْ أنَا حَييتُ حتى آكُل تَمَراتي هذِهِ إنَّهَا لحَيَاةٌ طَويلَةٌ ، فَرَمَى بمَا مَعَهُ مَنَ التَّمْرِ . ثُمَّ قَاتَلَهُمْ حَتَّى قُتِلَ . رواهُ مسلمٌ . « القرَنَ » بفتح القاف والراءِ : هو جُعْبَةُ النُشَّابِ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ dan para sahabat berangkat hingga mendahului orang-orang musyrik ke Badar. Orang-orang musyrik pun datang. Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah seorang pun dari kalian mendahului melakukan sesuatu hingga aku berada di depannya." Orang-orang musyrik mendekat, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Berdirilah menuju Surga yang luasnya seluas langit dan bumi." 'Umair bin Al-Humam Al-Anshari radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Rasulullah, Surga yang luasnya seluas langit dan bumi?" Beliau menjawab: "Ya." Ia berkata: "Bagus! Bagus!" Rasulullah ﷺ bertanya: "Apa yang mendorongmu mengatakan 'bagus, bagus'?" Ia menjawab: "Demi Allah, wahai Rasulullah, tidak lain hanyalah harapan agar aku termasuk penghuninya." Beliau bersabda: "Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya." Lalu ia mengeluarkan beberapa butir kurma dari tempat panahnya dan mulai memakannya. Kemudian ia berkata: "Sungguh, jika aku hidup hingga menghabiskan kurma-kurma ini, maka itu adalah kehidupan yang panjang." Lalu ia melemparkan kurma yang ada padanya, kemudian berperang melawan mereka hingga terbunuh. Diriwayatkan oleh Muslim.
"Al-Qarnu" (dengan fathah pada qaf dan ra') adalah tempat anak panah.

Penjelasan singkat: Hadits ini menceritakan semangat sahabat 'Umair bin Al-Humam yang lebih memilih segera meraih syahid dan Surga daripada menikmati kesenangan dunia yang sebentar.

# 38
وعنه قال : جاءَ ناسٌ إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أنِ ابْعث معنَا رجالاً يُعَلِّمونَا القُرآنَ والسُّنَّةَ، فَبعثَ إلَيْهِم سبعِينَ رجلا مِنَ الأنْصارِ يُقَالُ لهُمُ : القُرَّاءُ ، فيهِم خَالي حرَامٌ ، يقرؤُون القُرآنَ ، ويتَدَارسُونَهُ باللَّيْلِ يتعلَّمُونَ ، وكانُوا بالنَّهار يجيئُونَ بالماءِ ، فَيَضعونهُ في المسجِدِ ، ويحْتَطِبُون فَيبيعُونه ، ويَشْتَرُونَ بِهِ الطَّعام لأهلِ الصُّفَّةِ ولِلفُقراءِ ، فبعثَهم النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فعرضوا لهم فقتلُوهُم قبل أنْ يبلُغُوا المكانَ ، فقَالُوا : اللَّهُمَّ بلِّغ عنَّا نَبيَّنَا أَنَّا قَد لَقِينَاكَ فَرضِينَا عنْكَ ورضيت عَنا ، وأَتى رجُلٌ حراماً خالَ أنس مِنْ خَلْفِهِ ، فَطعنَهُ بِرُمحٍ حتى أنْفَذهُ ، فَقَال حرامٌ : فُزْتُ وربِّ الكَعْبةِ ، فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ إخْوانَكم قَد قُتِلُوا وإنهم قالُوا : اللَّهُمَّ بلِّغ عنَّا نبينا أَنَّا قَد لَقِيناكَ فَرضِينَا عنكَ ورضِيتَ عَنَّا » متفقٌ عليه، وهذا لفظ مسلم .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: Sekelompok orang datang menemui Nabi ﷺ dan memohon: "Utuslah sekelompok orang bersama kami untuk mengajarkan kami Al-Qur'an dan Sunnah (jalan hidup) Anda." Beliau pun mengutus tujuh puluh orang Anshar yang ahli membaca Al-Qur'an kepada mereka. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang merupakan paman dari ibuku, bernama Haram. Mereka biasa membaca Al-Qur'an dan saling mengajar di malam hari, serta mempelajari maknanya. Di siang hari, mereka biasa mengambil air ke masjid, mencari kayu bakar untuk dijual guna membeli makanan bagi Ahlu Suffah (orang-orang yang tinggal di serambi masjid Nabi) dan orang-orang miskin. Ketika Nabi mengutus mereka, mereka dihadang dan dibunuh sebelum mencapai tujuan. (Sebelum wafat) mereka berkata: "Ya Allah! Sampaikanlah kepada Nabi kami bahwa kami telah menemui-Mu, dan kami ridha menemui-Mu, dan Dia pun ridha menemui kami." Saat itu, seorang laki-laki datang dari belakang Haram (paman dari ibu Anas) dan menikamnya dari belakang dengan tombak hingga wafat. Haram berkata: "Demi Tuhan Ka'bah, aku telah beruntung." Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah dibunuh, dan mereka berkata: 'Ya Allah! Sampaikanlah kepada Nabi kami bahwa kami telah menemui-Mu, dan kami ridha menemui-Mu, dan Dia pun ridha menemui kami.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengisahkan para sahabat ahli Qur'an (qurra') yang gugur syahid saat menjalankan dakwah. Kesyahidan mereka disambut dengan keridhaan Allah dan mereka pun ridha kepada-Nya.

# 39
وعنهُ قال : غَاب عَمِّي أنسُ بنُ النضْر رضي اللَّه عنْهُ عنِ قِتَالِ بدرٍ ، فقال : يا رسول اللَّه غِبتُ عن أوَّلِ قِتالٍ قاتَلتَ المُشرِكينَ ، لئِنِ اللَّه أشْهَدني قِتالَ المُشرِكِينَ ليَرينَّ اللَّه ما أَصنع . فلمَّا كانَ يومُ أحُدٍ انكشفَ المُسلِمُونَ ، فقال : اللَّهُمَّ إنِّي أَعتَذِرُ إلَيك مِمًَّا صنع هَؤُلاءِ ¬ يعْني أصْحابهُ ¬ ؤأَبْرأُ إليكَ مِمَّا صنع هَؤُلاءِ ¬ يعني المُشركينَ ¬ ثُمَّ تقدَّم فاستَقبلهُ سعدُ بنُ مُعاذٍ فقال : يا سعدُ بنَ مُعاذٍ الجنَّةُ وربِّ النَّضْرِ ، إنِّي أجِدُ رِيحَهَا مِن دونِ أُحدٍ ، قال سعدٌ : فما استَطعتُ يا رسول اللَّهِ مَا صنَع ، قال أنسٌ : فَوجدْنَا بِهِ بِضعاً وثَمانِينَ ضربةً بالسَّيفِ ، أوْ طَعنةَ برُمْحٍ أوْ رميةً بِسهمٍ ، ووجدناهُ قد قُتِلَ ومثَّلَ بِهِ المُشرِكونَ ، فَما عرفَهُ أحدٌ إلا أُختُهُ بِبنانِهِ . قال أنسٌ : كُنَّا نَرى ¬ أوْ نَظُنُّ ¬ أَنَّ هذِهِ الآيةَ نَزَلَتْ فِيهِ وفي أَشبَاهِهِ : { مِنَ المُؤْمِنينَ رِجَالٌ صدقُوا ما عَاهَدوا اللَّه عليْهِ فَمِنْهُمْ منْ قَضَى نَحْبَهُ } إلى آخرهَا [ الأحزاب : 23 ] . متفقٌ عليه ، وقد سبَقَ في باب المُجاهدة .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu juga: Pamanku, Anas bin An-Nadhr radhiyallahu 'anhu, tidak hadir dalam perang Badar. Ia berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, aku tidak hadir dalam pertempuran pertama yang engkau lakukan melawan orang-orang musyrik. Jika Allah memberiku kesempatan hadir dalam pertempuran melawan orang-orang musyrik, Allah akan memperlihatkan apa yang akan kulakukan." Pada perang Uhud, kaum Muslimin mengalami kekalahan. Ia (Anas bin An-Nadhr) berkata: "Ya Allah, aku memohon ampun atas apa yang dilakukan oleh mereka (maksudnya sahabat-sahabatnya yang mundur) dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka (maksudnya orang-orang musyrik)." Kemudian ia maju dan bertemu Sa'ad bin Mu'adz. Ia (Anas bin An-Nadhr) berkata: "Wahai Sa'ad bin Mu'adz! Demi Tuhan An-Nadhr, sungguh aku mencium aroma Surga di dekat gunung Uhud." Sa'ad berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti yang dilakukannya." Anas (bin Malik) berkata: "Kami melihat tubuhnya (Anas bin An-Nadhr) terluka lebih dari delapan puluh tempat, akibat tebasan pedang, tusukan tombak, dan anak panah. Kami melihatnya terbunuh, dan orang-orang musyrik telah melukainya sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya melalui ujung jarinya." Anas berkata: "Kami mengira dan menduga bahwa ayat ini turun mengenai dirinya dan orang-orang yang seperti dia, yaitu firman Allah: 'Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah...' (QS. Al-Ahzab: 23) sampai akhir ayat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menceritakan keteguhan dan semangat sahabat Anas bin An-Nadhr yang merindukan syahid. Pengorbanannya yang luar biasa di medan Uhud diabadikan dalam Al-Qur'an.

# 40
وعنْ سمُرةَ رضي اللَّه عَنهُ قالَ : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « رأَيْتُ اللَّيْلَةَ رجُلين أتَياني ، فَصعِدا بي الشَّجرةَ ، فَأدْخَلاني دَاراً هِي أحْسنُ وَأَفضَل ، لَمْ أَر قَطُّ أَحْسنَ منها، قالا : أَمَّا هذِهِ الدَّار فَدارُ الشهداءِ » رواه البخاري وهو بعضٌ من حديثٍ طويلٍ فيه أنواع العلم سيأتي في باب تحريمِ الكذبِ إنْ شاءَ اللَّه تعالى .
Terjemahan
Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tadi malam aku bermimpi melihat dua orang laki-laki mendatangiku dan membawaku naik ke sebatang pohon, kemudian memasukkanku ke dalam sebuah negeri yang paling indah, yang belum pernah kulihat sesuatu yang lebih indah daripadanya. Keduanya berkata kepadaku: 'Negeri ini adalah negeri untuk para syuhada.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan kemuliaan dan keindahan tempat para syuhada di akhirat, sebagai motivasi untuk berjihad di jalan Allah.

# 41
وعنْ أنسٍ رضي اللَّه عنْهُ أنَّ أُم الرَّبيعِ بنْتَ البَرَاءِ وهي أُمُّ حارثةَ بنِ سُرَاقةَ ، أتَتِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقَالَت : يا رَسُولَ اللَّهِ ألا تُحدِّثُني عَنْ حارِثَةَ ، وَكانَ قُتِل يوْمَ بدْرٍ ، فَإنْ كانَ في الجَنَّةِ صَبَرتُ ، وَإن كانَ غَيْر ذلكَ اجْتَهَدْتُ عليْهِ في البُكَاءِ ، فقال : « يا أُم حارِثَةَ إنَّهَا جِنانٌ في الجَنَّةِ ، وَإنَّ ابْنَكَ أَصاب الفرْدوْسَ الأَعْلى » . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Ummu Ar-Rabi' binti Al-Bara' (yang juga merupakan Ummu Haritsah bin Suraqah) datang menemui Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberitahuku tentang keadaan Haritsah (ia terbunuh dalam perang Uhud)? Jika ia berada di Surga, aku akan bersabar, tetapi jika tidak, aku akan menangis sedih." Beliau bersabda: "Wahai Ummu Haritsah, ia berada di taman-taman Surga yang banyak di dalam Surga. Sesungguhnya anakmu meraih Firdaus yang tertinggi." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadits ini memberikan kabar gembira tentang kedudukan tinggi seorang syahid (Haritsah) di Surga, sebagai penghibur bagi keluarganya yang ditinggalkan.

# 42
وعَنْ جابر بن عبدِ اللَّهِ رضي اللَّه عنْهُما قال : جِيءَ بابي إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قدْ مُثِّل بِهِ فَؤُضعَ بَيْنَ يَديْه ، فَذَهَبْتُ أَكْشِفُ عنْ وجهِهِ فَنَهاني قَوْمٌ فقال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما زَالَتِ الملائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِها » . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Mayat ayahku dibawa menghadap Nabi ﷺ dan diletakkan di hadapan beliau, sementara tubuhnya penuh luka tusukan musuh. Saat itu, aku berjalan hendak membuka wajahnya, tetapi kaumku melarangku. Nabi ﷺ bersabda: "Para malaikat terus menaungi dan meneduhinya dengan sayap-sayap mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan kemuliaan seorang syahid, di mana para malaikat memberikan penghormatan dengan menaunginya.

# 43
وعَنْ سهل بن حُنَيْفٍ رضي اللَّه عنهُ أنَّ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ سأَلَ اللَّه تعالى الشَّهَادةَ بِصِدْقٍ بلَّغهُ منَازِلَ الشُّهَداءِ وإنْ ماتَ على فِراشِهِ » . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memohon kepada Allah mati syahid dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan menyampaikannya kepada kedudukan para syuhada, meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan kekuatan niat. Siapa yang benar-benar berniat tulus untuk syahid, maka ia dapat meraih pahalanya meski meninggal secara wajar.

# 44
وعنْ أنسٍ رضي اللَّه عنْهُ قال : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ طلَب الشَّهَادةَ صادِقاً أُعطيها ولو لم تُصِبْهُ » . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memohon kepada Allah mati syahid dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberikannya, meskipun ia tidak mati syahid di jalan-Nya." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Mirip dengan hadits sebelumnya, ini menunjukkan keutamaan niat yang ikhlas. Pahala syahid dapat diraih berdasarkan kesungguhan niat, bukan semata-mata cara meninggalnya.

# 45
وعَنْ أبي هُريْرةَ رضي اللَّهُ عنهُ قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما يَجِدُ الشَّهِيدُ مِن مَسِّ القتْلِ إلاَّ كما يجِدُ أحدُكُمْ مِنْ مسِّ القَرْصَةِ » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh, kecuali seperti salah seorang dari kalian merasakan sakitnya dicubit." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan shahih.

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan bahwa rasa sakit saat syahid sangat ringan di dunia, sebagai kemuliaan dari Allah bagi para syuhada.

# 46
وعنْ عبْدِ اللَّهِ بن أبي أوْفَى رضي اللَّه عنْهُما أنَّ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في بعضَ أيَّامِهِ التي لَقِي فِيهَا العدُوَّ انتَظر حتى مَالتِ الشَّمسُ ، ثُمَّ قام في النَّاس فقال : « أَيُّهَا النَّاسُ، لا تَتَمنَّوْا لِقَاءَ العدُوِّ ، وَسلُوا اللَّه العافِيةَ ، فإذا لقِيتُمُوهُم فَاصبِرُوا ، واعلَمُوا أنَّ الجَنَّةَ تَحْتَ ظِلالِ السُّيوفِ » ثم قال : « اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الكتاب ومُجرِيَ السَّحابِ ، وهَازِمَ الأَحْزَابِ اهْزِمهُم وانْصُرنَا علَيهِم » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pada suatu saat ketika bertemu musuh, beliau menunggu hingga matahari condong, kemudian beliau berdiri dan bersabda: "Wahai manusia! Janganlah kalian berharap untuk bertemu musuh, dan mohonlah kepada Allah keselamatan. Namun, jika kalian bertemu musuh, maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa Surga berada di bawah naungan pedang." Kemudian beliau bersabda: "Ya Allah, Engkau yang menurunkan Kitab, yang menggerakkan awan, yang mengalahkan pasukan Ahzab. Kalahkanlah musuh ini dan tolonglah kami untuk mengalahkan mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini berisi bimbingan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi perang: tidak mencari-cari musuh, tetapi jika sudah bertemu harus sabar dan tegar karena pahala besar (Surga) menanti. Disertai pula doa memohon kemenangan.

# 47
وعن سهْلِ بنِ سعد رضي اللَّه عنْهُ قال : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ثِنَتانِ لا تُرَدَّانِ ، أوْ قَلَّمَا تُردَّانِ : الدُّعَاءُ عِنْد النِّدَاءِ وعِند البأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُم بَعضاً » . رواه أبو داود بإسناد صحيح .
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dua doa yang tidak ditolak atau jarang ditolak adalah doa ketika azan (dikumandangkan) dan doa di medan pertempuran ketika kedua pasukan saling serang." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan waktu-waktu mustajab untuk berdoa, yaitu saat azan dan saat gentingnya pertempuran di jalan Allah.

# 48
وعَنْ أنسٍ رضي اللَّه عنْهُ قال : كانَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا غَزَا قال : « اللَّهُمَّ أنت عضُدِي ونَصِيري ، بِك أَجُولُ ، وبِك أصولُ ، وبِكَ أُقاتِل » رواهُ أبو داود ، والترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ setiap kali berperang, beliau biasa mengucapkan:
"Ya Allah, Engkaulah penolongku dan pembelaku. Dengan-Mu aku bergerak, dengan-Mu aku menyerang, dan dengan-Mu aku berperang."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi berkata: "Hadits hasan.")

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus selalu menyandarkan segala kekuatan dan usahanya hanya kepada Allah. Doa Nabi ﷺ sebelum berperang menunjukkan ketauhidan yang sempurna, bahwa kemenangan dan pertolongan sejati hanya datang dari-Nya. Ini menjadi teladan untuk senantiasa bergantung pada Allah dalam setiap langkah dan menghadapi tantangan, baik besar maupun kecil.

# 49
وعَن أبي مُوسى ، رضي اللَّه عنْهُ ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ إذا خَاف قوماً قال : اللَّهُمَّ إنَّا نَجعَلُكَ في نُحُورِهِم ، ونَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرورِهِم » رواه أبو داود بإسناد صحيحٍ .
Terjemahan
Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengkhawatirkan suatu kaum, beliau berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan-Mu penghadang di leher-leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.' (HR. Abu Dawud, hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan strategi spiritual menghadapi ancaman. Intinya adalah bertawakkal total kepada Allah sebagai pelindung utama, dengan menempatkan-Nya sebagai penghalang dari musuh. Selain itu, kita diajari untuk memohon perlindungan-Nya dari segala keburukan yang mungkin mereka lakukan. Doa ini menggabungkan keyakinan akan kekuasaan Allah dengan sikap hati-hati dan tidak meremehkan bahaya.

# 50
وعنْ ابنِ عُمَر ، رضي اللَّه عنهما ، أَنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « الخَيْلُ مَعْقُودٌ في نَوَاصِيَها الخَيرُ إلى يوْمِ القِيامَةِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kuda diikat pada kebaikan hingga hari kiamat, yaitu pahala dan rampasan perang.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan berkuda dan anjuran untuk memeliharanya. Kebaikan yang dijanjikan mencakup pahala di akhirat, seperti untuk jihad dan melindungi kaum muslimin, serta manfaat duniawi seperti harta rampasan perang (ghanimah). Janji ini tetap berlaku hingga akhir zaman, menunjukkan bahwa Islam memperhatikan aspek pertahanan dan kebugaran fisik umatnya.

# 51
وعنْ عُرْوَةَ البَارِقِيِّ ، رضي اللَّه عتْهُ ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « الخَيْلُ مَعقُودٌ في نَواصِيهَا الخَيرُ إلى يوْمِ القِيامَةِ : الأَجرُ ، والمغنَمُ » . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Urwah Al-Bariqi radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kuda diikat pada kebaikan di ubun-ubunnya hingga hari kiamat, yaitu pahala dan rampasan perang. Pemiliknya wajib merawat dan memandikannya.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan berkuda dan anjuran untuk memeliharanya. Kebaikan yang dijanjikan berupa pahala dan ghanimah (rampasan perang) tetap berlaku hingga akhir zaman, sesuai konteks jihad di masa Rasulullah. Sabda ini juga mengandung pelajaran untuk berbuat baik kepada hewan tunggangan dengan merawat dan membersihkannya.

# 52
وعَنْ أبي هُريْرَةَ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قالَ : قال رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « من احتَبَس فَرساً في سبيلِ اللَّهِ ، إيماناً بِاللَّهِ ، وتَصدِيقاً بِوعْدِهِ ، فإنَّ شِبَعهُ ورَيْهُ وروْثَهُ ، وبولَهُ في مِيزَانِهِ يومَ القِيامَةِ » رواه البخاريُّ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang memelihara seekor kuda untuk digunakan di jalan Allah dengan penuh keimanan dan keyakinan terhadap janji-Nya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya atas setiap pemberian makanan, pemberian minum, kotoran, dan kencingnya, yang semuanya tercatat dalam timbangan amal baiknya pada hari kiamat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa niat yang ikhlas dan keyakinan kepada janji Allah mengangkat amal biasa menjadi ibadah. Memelihara kuda untuk jihad fisabilillah bernilai pahala besar, bahkan hingga hal-hal yang dianggap remeh seperti kotorannya. Ini menunjukkan keluasan rahmat Allah dan bahwa pahala mencakup semua konsekuensi dari persiapan di jalan-Nya.

# 53
وعنْ أبي مسْعُودٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قال جاءَ رجُلُ إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِنَاقَةٍ مَخْطُومةٍ فقال : هذِهِ في سبيل اللَّهِ ، فقال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لكَ بِهَا يَومَ القِيامةِ سبعُمِائَةِ ناقَةٍ كُلُّها مخطُومةٌ » رواهُ مسلم .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada seorang laki-laki datang menemui Nabi dengan membawa seekor unta yang sudah siap untuk dikendarai, dan berkata, 'Ini untuk berjuang di jalan Allah.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bagimu di hari kiamat nanti (pahala) tujuh ratus ekor unta, dan setiap ekornya sudah siap untuk dikendarai.'" (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan balasan berlipat ganda dari Allah bagi orang yang berinfak di jalan-Nya. Sedekah dengan harta yang berkualitas (unta yang siap pakai) dijawab dengan pahala berlipat tujuh ratus kali lipat di akhirat. Ini menjadi motivasi untuk bersedekah dengan harta terbaik dan ikhlas, serta keyakinan akan janji Allah yang pasti ditepati.

# 54
وعن أبي حمّادٍ ¬ ويُقال : أبو سُعاد ، ويُقالُ : أبو أَسدٍ ، ويقال : أبو عامِرٍ، ويقالُ : أبو عَمْرو ، ويقالُ : أبو الأسْودِ ، ويقال : أبو عَبْسٍ ¬ عُقْبةُ بنِ عامِرٍ الجُهَنيِّ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قال : سمِعْتُ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهُوَ عَلى المِنْبرِ ، يقولُ : «وَأَعِدُّوا لهُم ما استَطَعْتُم من قُوَّةٍ ، ألا إنَّ القُوَّةَ الرَّمْيُ ، ألا إنَّ القُوَّةَ الرَّمْيُ ، ألا إنَّ القُوَّةَ الرَّمْيُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hamad – dan ada yang mengatakan: Abu Su'ad, Abu Asad, Abu 'Amir, Abu 'Amru, Abu Al-Aswad, Abu 'Abs – 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbar: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah! Ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah! Ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah!" (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menekankan pentingnya mempersiapkan kekuatan fisik dan militer, khususnya keterampilan memanah, sebagai bagian dari kewaspadaan dan pertahanan dalam Islam.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban umat Islam untuk mempersiapkan kekuatan fisik dan militer sebagai bentuk i'dad (persiapan) menghadapi musuh. Penekanan berulang Rasulullah ﷺ bahwa "kekuatan itu adalah memanah" menyoroti pentingnya menguasai keterampilan bela diri dan teknologi persenjataan yang relevan pada zamannya. Esensi perintah ini adalah agar umat selalu waspada, profesional, dan tidak lengah, dengan senantiasa mengembangkan alat dan keahlian pertahanan sesuai dengan konteks kekuatan yang berkembang di setiap masa.

# 55
وعَنْهُ قال : سمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : « ستُفْتَحُ علَيكُم أَرضُونَ ، ويكفِيكُم اللَّه ، فَلا يعْجِزْ أَحَدُكُمْ أنْ يلْهُو بِأَسْهُمِهِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari dia (Uqbah bin Amir) radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Kelak akan dibukakan untuk kalian banyak negeri, dan Allah sudah cukup bagi kalian dalam menghadapi musuh. Oleh karena itu, janganlah kalian bermalas-malasan dalam belajar memanah." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya kesiapan dan kekuatan umat Islam meski dalam keadaan aman dan diberi kelapangan rezeki. Perintah memanah (sebagai simbol ketrampilan bela diri dan persiapan perang) menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya ritual, tetapi mencakup juga persiapan fisik dan keahlian untuk menjaga kemaslahatan umat. Pesan utamanya adalah larangan bermalas-malasan dan kewajiban untuk terus meningkatkan kemampuan, sebagai bentuk tawakal yang disertai usaha.

# 56
وعْنهُ أَنَّهُ قال : قَال رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ عُلِّمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تركَهُ ، فَلَيس مِنَّا، أوْ فقَد عَصى » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari dia (Uqbah bin Amir) radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang telah diajari memanah, kemudian dia meninggalkannya, maka dia bukan dari golongan kami, atau sungguh dia telah berbuat maksiat." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga dan mengamalkan ilmu serta keterampilan yang telah dipelajari, khususnya yang berkaitan dengan kesiapan membela agama dan umat. Meninggalkan latihan memanah setelah mempelajarinya dinilai sebagai pengingkaran terhadap sunnah Nabi dan bentuk ketaatan yang berkurang. Hikmahnya, seorang muslim harus konsisten dalam mengamalkan kebaikan dan tidak menyia-nyiakan potensi yang telah Allah berikan untuk kemaslahatan.

# 57
وعنهُ رضي اللَّه عنْهُ ، قالَ : سمِعْتُ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : « إنَّ اللَّه يُدخِلُ بِالسهمِ ثَلاثةَ نَفَرٍ الجنَّةَ : صانِعهُ يحتسِبُ في صنْعتِهِ الخير ، والرَّامي بِهِ ، ومُنْبِلَهُ، وَارْمُوا وارْكبُوا ، وأنْ ترمُوا أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أنْ تَرْكَبُوا . ومَنْ تَرَكَ الرَّميَ بعْد ما عُلِّمهُ رغبَةً عنه . فَإنَّهَا نِعمةٌ تَركَهَا » أوْ قال : « كَفَرَهَا » رواهُ أبو داودَ .
Terjemahan
Dari dia (Uqbah bin Amir) radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam surga karena satu anak panah: orang yang membuatnya dengan niat baik dalam pembuatannya, orang yang memanahkannya, dan orang yang menyodorkannya (untuk dipanah). Belajarlah memanah dan berkuda. Dan belajar memanah itu lebih aku sukai daripada belajar berkuda. Barangsiapa yang meninggalkan panahan setelah diajari karena tidak menyukainya, maka itu adalah sebuah nikmat yang dia tinggalkan." Atau beliau bersabda: "Dia tidak tahu nilainya." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan memanah sebagai ibadah dan sarana jihad. Hikmahnya, Allah memberi pahala besar hingga surga bukan hanya untuk pemanah, tetapi juga bagi yang mendukungnya dengan ikhlas. Meninggalkan kebaikan yang telah dipelajari merupakan bentuk mengingkari nikmat Allah. Hadis ini juga mengajarkan bahwa setiap peran dalam kebaikan, sekecil apapun, bernilai di sisi-Nya jika diniatkan ikhlas.

# 58
وعَنْ سَلَمةَ بن الأكوعِ ، رضي اللَّه عنْهُ ، قال : مَرَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، على نَفَرٍ ينتَضِلُون ، فقال : « ارْمُوا بَنِي إِسْماعيل فَإنَّ أبَاكم كان رَامِياً » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ berjalan melewati sekelompok orang yang sedang berlomba memanah. Beliau pun bersabda: "Wahai anak keturunan Ismail! Belajarlah memanah, karena nenek moyang kalian adalah seorang pemanah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya melatih keterampilan memanah sebagai bagian dari persiapan fisik dan pertahanan diri dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ mengaitkannya dengan warisan Nabi Ismail, menunjukkan penghargaan terhadap tradisi dan keahlian yang bermanfaat. Secara lebih luas, hadis ini menganjurkan umat untuk menguasai berbagai ilmu dan keterampilan yang berguna, khususnya yang berkaitan dengan kekuatan dan kesiapan dalam membela diri.

# 59
وعَنْ عمْرو بنِ عبسَةَ ، رضي اللَّه عَنْهُ قال : سمِعتُ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، يقولُ: « منْ رَمَى بِسهمٍ في سبيلِ اللَّه فَهُو لَهُ عِدْلُ مُحرَّرةٍ » . رواهُ أبو داود ، والترمذي وقالا : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari 'Amr bin 'Abasah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang melepaskan satu anak panah (di medan perang) di jalan Allah, maka dia akan mendapat pahala seperti memerdekakan seorang budak." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari ikut serta dalam jihad fi sabilillah, sekalipun dengan kontribusi yang dianggap kecil seperti melepaskan satu anak panah. Pahalanya disetarakan dengan memerdekakan budak, yang merupakan amal sosial sangat mulia. Ini menunjukkan betapa Allah SWT menghargai setiap ikhtiar dan pengorbanan hamba-Nya di jalan-Nya, serta mendorong semangat untuk berpartisipasi sesuai kemampuan.

# 60
وعَن أبي يحيى خُريم بن فاتِكٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قال : قال رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً في سبيلِ اللَّهِ كُتِبَ لَهُ سبْعُمِائِة ضِعفٍ » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حَسَنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Yahya Khurain bin Fatik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menyumbangkan sesuatu di jalan Allah, maka akan dicatat pahala baginya sebanyak tujuh ratus kali lipat." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kemurahan Allah dalam membalas infak di jalan-Nya. Balasan pahala yang dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali menunjukkan betapa Allah sangat menghargai dan melipatgandakan kebaikan hamba-Nya. Ini menjadi motivasi kuat bagi muslim untuk bersemangat dalam berinfak, baik untuk jihad, ilmu, dakwah, atau kepentingan umat lainnya, dengan penuh keikhlasan.

# 61
وعنْ أبي سَعيدٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما مِنْ عبدٍ يصومُ يوْماً في سبِيلِ اللَّهِ إلاَّ باعد اللَّه بِذلكَ اليوم وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سبْعِين خَرِيفاً » متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan karena hari itu." (Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan: Puasa yang dilakukan dengan ikhlas untuk jihad atau memperkuat diri di jalan Allah memiliki pahala yang sangat besar, yaitu dijauhkan dari neraka sejauh puluhan tahun perjalanan.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan puasa sunnah yang diniatkan untuk membela agama Allah (fi sabilillah). Pahalanya sangat agung, yaitu dijauhkan dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Ini menunjukkan bahwa nilai suatu amal bergantung pada keikhlasan dan tujuannya. Puasa yang dimaksudkan untuk menguatkan diri dalam ketaatan dan jihad termasuk amal yang dicintai Allah.

# 62
وعنْ أبي أُمامةَ ، رضي اللَّه عنْهُ ، عَنِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : « مَنْ صامَ يَوْماً في سبيل اللَّهِ جَعَلَ اللَّه بينَهُ وَبيْنَ النَّارِ خَنْدَقاً كَمَا بيْن السَّماءِ والأرْضِ » رواهُ الترمذي وقال:حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjadikan antara dirinya dan neraka sebuah parit selebar antara langit dan bumi." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: hadits hasan shahih)
Penjelasan: Puasa di jalan Allah akan menjadi penghalang yang sangat besar dan kuat antara pelakunya dengan api neraka.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan keutamaan luar biasa bagi orang yang berpuasa satu hari dengan niat ikhlas di jalan Allah (fi sabilillah). Balasannya adalah perlindungan dari neraka berupa parit pemisah yang sangat lebar dan dalam, bagaikan jarak antara langit dan bumi. Ini menunjukkan betapa besarnya pahala dan kemuliaan di sisi Allah bagi orang yang melatih diri dengan puasa untuk tujuan taat kepada-Nya.

# 63
وعنْ أبي هُريرة ، رضي اللَّه عنهُ ، قالَ : قال رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ ماتَ ولَمْ يَغْزُ ، وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَه بِغَزوٍ ، ماتَ عَلى شُعْبَةٍ مَنَ النِّفَاقِ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang mati tanpa pernah berjihad di jalan Allah, dan tanpa pernah berniat untuk berjihad, maka dia mati dalam keadaan memiliki salah satu sifat kemunafikan." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan semangat jihad dan niat tulus di jalan Allah. Intinya, seorang Muslim harus memiliki ghirah (semangat) membela agama, minimal dalam bentuk keinginan dan kesiapan hati. Kematian tanpa semangat ini dinilai sebagai tanda kemunafikan, karena menunjukkan lemahnya iman dan ketidaksesuaian antara keyakinan dan tindakan. Dengan demikian, hadis ini mengajak setiap Muslim untuk senantiasa memupuk keberanian, pengorbanan, dan kesungguhan niat dalam membela kebenaran.

# 64
وعَن جابرٍ ، رضي اللَّه عنْهُ ، قالَ : كنَّا مع النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، في غَزَاة فقال : «إنَّ بالمدينةِ لَرِجالاً ما سِرتُمْ مَسيراً ، وَلا قَطَعْتُمْ وادياً إلاَّ كانُوا معكُم ، حبَسهُمُ المَرضُ». وفي روايةٍ : « حبَسهُمُ العُذْرُ » . وفي روايةٍ : إلاَّ شَرَكُوكُمْ في الأَجرِ » رواهُ البخاري من روايةِ أَنَسٍ ، ورواهُ مسلمٌ من روايةِ جابرٍ واللفظ له .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Kami pernah bersama Nabi ﷺ dalam sebuah peperangan. Saat itu beliau bersabda: "Di Madinah ada banyak laki-laki yang bersama kalian di setiap jarak yang kalian tempuh, atau di setiap lembah yang kalian lalui. Hal yang menghalangi mereka (untuk ikut bersama kalian) adalah sakit."
Dalam riwayat lain: "Hal yang menghalangi mereka adalah keperluan-keperluan (yang mendesak)."
Dalam riwayat lain: "Mereka turut serta mendapatkan pahala bersama kalian." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan niat yang tulus. Seseorang yang berniat ikut berjihad atau berbuat kebajikan, tetapi terhalang oleh uzur syar'i seperti sakit, tetap mendapat pahala penuh seolah-olah ia melakukannya. Ini menunjukkan kemurahan Allah dan bahwa pahala amal bergantung pada niat, bukan sekadar kemampuan fisik.

# 65
وعنْ أبي مُوسى ، رضي اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ أعْرَابيّاً أَتى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقَال : يا رسول اللَّه ، الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْتمِ ، والرَّجُلُ يُقَاتِلُ ليُذْكَرَ ، والرَّجُلُ يُقاتِلُ ليُرى مكانُه؟ وفي روايةٍ : يُقاتلُ شًَجاعَةً ويُقَاتِلُ حَمِيَّةً . وفي روايةٍ : ويُقاتلُ غَضَباً ، فَمْنْ في سبيل اللَّهِ ؟ فَقَالَ رسولُ اللِّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ قَاتَلَ لتكُونَ كَلِمَةُ اللَّه هِيَ العُلْيا ، فَهُوَ في سبيلِ اللَّهِ » متفقٌ عليه
Terjemahan
Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ dan bertanya: "Wahai Rasulullah, ada orang yang berperang untuk mendapatkan harta rampasan, ada yang berperang agar namanya disebut-sebut, dan ada yang berperang agar kedudukannya terlihat."
Dalam riwayat lain: "Dia berperang agar disebut pemberani."
Dalam riwayat lain: "Dia berperang untuk membela keluarganya."
Dalam riwayat lain: "Dia berperang untuk meluapkan kemarahan. Manakah yang dianggap fi sabilillah (di jalan Allah)?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka dialah yang berperang di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa niat adalah penentu utama diterimanya amal jihad. Perang fisik baru dianggap "fi sabilillah" jika tujuannya semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah (agama-Nya). Adapun niat-niat duniawi seperti mencari harta, popularitas, kedudukan, membela suku, atau sekadar keberanian dan emosi, tidak membuat amal tersebut bernilai ibadah di sisi Allah.

# 66
وعنْ عبد اللَّهِ بن عمرو بنِ العاص ، رضي اللَّه عنْهُما ، قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما مِنْ غَازِيةٍ ، أوْ سَرِيَّةٍ تَغْزُو ، فَتَغْنمُ وتَسْلَم ، إلاَّ كانُوا قَدْ تعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أَجورِهِم، ومَا مِنْ غازِيةٍ أوْ سرِيَّةٍ تُخْفِقُ وتُصابُ إلاَّ تَمَّ لهم أُجورُهُمْ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap pasukan atau tentara yang berperang, lalu mendapatkan harta rampasan dan selamat, maka mereka telah mendapatkan dua pertiga pahala (perang). Setiap pasukan atau tentara yang berperang, lalu tidak mendapatkan kemenangan dan mengalami musibah (cedera/gugur), maka dia akan mendapatkan pahala yang sempurna." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa nilai utama jihad adalah keikhlasan dan pengorbanan, bukan harta rampasan perang. Pahala sempurna justru diberikan kepada mereka yang gagal meraih kemenangan duniawi tetapi mengalami musibah atau gugur. Sebaliknya, pasukan yang selamat dan mendapat ghanimah dianggap telah mengambil sebagian pahalanya di dunia. Intinya, balasan di akhirat berbanding terbalik dengan keuntungan dunia yang diperoleh.

# 67
وعنْ أبي أُمامَةَ ، رضي اللَّه عنْهُ ، أنَّ رَجُلاً قالَ : يا رسولَ اللَّه ائذَن لي في السِّياحةِ . فَقالَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ سِياحةَ أُمَّتي الجِهادُ في سبيلِ اللَّهِ ، عَزَّ وجلَّ » رواهُ أبو داود بإسناد جيِّد .
Terjemahan
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk bersiyaah (mengembara/bertapa)." Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya siyaah umatku adalah jihad di jalan Allah Azza wa Jalla." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik)
Penjelasan: Bentuk pengembaraan spiritual atau ibadah yang utama dalam Islam bukanlah mengasingkan diri, tetapi berjihad di jalan Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa bentuk pengabdian dan pendakian spiritual tertinggi dalam Islam bukanlah dengan mengasingkan diri (bertapa) dari masyarakat. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ mengarahkan semangat tersebut untuk diwujudkan dalam jihad fi sabilillah, yaitu bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah. Perjuangan itu mencakup jihad melawan hawa nafsu, menyebarkan kebaikan, membela kebenaran, dan berkorban untuk kemaslahatan umat. Dengan demikian, kesalehan sejati terwujud dalam keterlibatan aktif membangun masyarakat, bukan dalam pengasingan diri.

# 68
وعَنْ عبدِ اللَّهِ بن عَمْرو بن العاص ، رضي اللَّه عنهمَا ، عنِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « قَفْلَةٌ كَغزْوةٌ » . رواهُ أبو داود بإسناد جيد . « القَفلَةُ » : الرُّجُوعُ ، والمراد : الرُّجوعُ مِنَ الغزْوِ بعد فراغِهِ ، ومعناه : أَنه يُثابُ في رُجُوعِهِ بعد فراغِهَ مِنَ الغَزْوِ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Pulang dari perang (dengan selamat) seperti (pahala) berperang." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik)
"Al-Qaflah" artinya pulang, maksudnya adalah kembali dari peperangan setelah selesai. Maknanya: Dia mendapat pahala dalam kepulangannya setelah menyelesaikan peperangan.
Penjelasan: Orang yang pulang dengan selamat dari jihad juga mendapatkan pahala, karena perjalanan pulangnya adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa perjuangan seorang muslim dinilai secara utuh dari awal hingga akhir. Pahala jihad tidak hanya diperoleh saat berperang, tetapi juga dalam perjalanan pulang dengan selamat. Ini menunjukkan keutamaan menyempurnakan suatu amal ibadah dan mengandung hikmah bahwa setiap langkah dalam ketaatan bernilai di sisi Allah.

# 69
وعن السائب بن يزيد و رضي اللَّه عنْهُ ، قالَ : لمَّا قدِمَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَنْ غَزوةِ تَبُوكَ تَلَقَّاه النَّاسُ ، فَتَلَقَّيْتُهُ مع الصِّبيانِ على ثَنيِّةِ الوَداعِ . رواه أبو داود بإسناد صَحيحٍ بهذا اللفظ ، وَرَواه البخاريُّ قال : ذَهَبْنَا نتَلقَّى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَعَ الصِّبيَانِ إلى ثَنِيَّةِ الوَداعِ .
Terjemahan
Dari As-Saib bin Yazid radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ketika Nabi ﷺ tiba dari Perang Tabuk, orang-orang menyambutnya. Aku pun menyambut beliau bersama anak-anak kecil di Tsaniyyatul Wada'. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih dengan lafaz ini, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan lafaz: Kami pergi menyambut Rasulullah ﷺ bersama anak-anak kecil ke Tsaniyyatul Wada'.)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan besarnya kecintaan para sahabat, termasuk anak-anak kecil, kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menyambut beliau dengan sukacita sepulang dari perang, yang menggambarkan betapa Nabi adalah pusat kasih sayang dan teladan bagi seluruh lapisan masyarakat. Tradisi menyambut orang yang pulang dari perjuangan dengan penghormatan juga merupakan adab yang terpuji.

# 70
وعَنْ أبي أُمَامَةَ ،رضي اللَّه عَنْهُ ، عَن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « مَنْ لم يغْزُ ، أوْ يُجهِّزْ غَازياً ، أوْ يَخْلُفْ غَازياً في أهْلِهِ بِخَيرٍ أصابَهُ اللَّه بِقَارِعةٍ قَبْلَ يوْمِ القِيامةِ » . رواهُ أبو داود بإسناد صحيحٍ .
Terjemahan
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang tidak ikut berjihad, tidak menafkahi orang yang berjihad, dan tidak menjaga keluarga orang yang berjihad dengan baik, maka Allah akan menimpakan bencana kepadanya sebelum hari kiamat." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kontribusi dalam perjuangan membela agama (jihad) tidak hanya terbatas pada ikut berperang secara fisik. Umat Islam dapat berpartisipasi dengan tiga cara: turun langsung ke medan perang, mendukung logistik pejuang, atau menjaga keluarga mereka yang ditinggalkan. Ancaman bencana dari Allah bagi yang mengabaikan ketiga opsi ini menunjukkan besarnya tanggung jawab kolektif dan urgensi solidaritas sosial dalam Islam. Setiap muslim dituntut untuk berkontribusi sesuai kemampuannya.

# 71
وعنْ أنس ، رضي اللَّه عنْهُ ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « جاهِدُوا المُشرِكينَ بِأَموالِكُمْ وأَنْفُسِكُم وأَلسِنَتِكُم » . رواهُ أبو داود بإسناد صحيح .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa jihad (berjuang) di jalan Allah memiliki tiga medan utama: harta, jiwa, dan lisan. Ini menunjukkan bahwa kontribusi dalam membela agama dan melawan kemusyrikan tidak hanya terbatas pada pertempuran fisik. Perjuangan dengan lisan mencakup dakwah, menyampaikan kebenaran, dan membantah kesesatan, sementara dengan harta adalah melalui infak dan mendanai kebaikan. Dengan demikian, setiap muslim dapat berperan sesuai kemampuannya.

# 72
وعَنْ أبي عَمْرو . ويقالُ : أبو حكِيمٍ النُعْمَانِ بنِ مُقَرِّنٍ رضي اللَّه عنْهُ قال : شَهِدْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا لَمْ يقَاتِلْ مِنْ أوَّلِ النَّهارِ أَخَّر القِتالَ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ ، وتَهبَّ الرِّياحُ ، ويَنزِلَ النَّصْرُ . رواهُ أبو داود ، والترمذي ، وقال : حديثٌ حَسَنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Umair, dia dipanggil Abu Hakim An-Nu'man bin Muqarrin radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku melihat Rasulullah ﷺ, ketika beliau tidak segera memerangi musuh di pagi hari, beliau menundanya hingga matahari terbenam, saat itu angin akan berhembus dan pertolongan Allah turun." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia menyatakan hadits ini hasan sahih).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan strategi dan tawakal dalam peperangan. Nabi ﷺ menunda pertempuran hingga waktu Zuhur bukan karena ragu, tetapi menunggu waktu yang tepat saat kondisi fisik lebih prima dan angin berhembus yang dapat menguntungkan pasukan Muslim. Hal ini mengandung hikmah untuk mempertimbangkan faktor alam, memilih waktu terbaik, dan bersabar menanti turunnya pertolongan Allah (nashr) yang sering dikaitkan dengan waktu tersebut.

# 73
وعنْ أبي هريْرَةَ رضي اللَّه عنهُ ، قالَ : قالَ رَسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ العَدُوِّ ، فإذا لَقيتُمُوهم ، فَاصُبِروا » متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian berharap untuk bertemu musuh, dan mohonlah kepada Allah keselamatan. Namun, apabila kalian bertemu musuh, maka bersabarlah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap hati-hati dan tidak gegabah dalam menghadapi permusuhan. Larangan berharap bertemu musuh adalah bentuk tawakal dan penghindaran dari bahaya. Namun, jika pertemuan itu terjadi secara tak terelakkan, perintah untuk bersabar menjadi kunci keteguhan hati, ketabahan dalam bertempur, dan menjaga prinsip dalam menghadapi ujian.

# 74
وعَنْهُ وعَنْ جابرٍ ، رضي اللَّه عَنْهُما ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « الحرْبُ خُدْعَةٌ» متفقٌ عليهِ
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhuma dan Jabir: Rasulullah ﷺ bersabda: "Perang itu adalah tipu daya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa strategi dan siasat yang diperbolehkan dalam peperangan untuk mengalahkan musuh. Hikmahnya, Islam mengakui pentingnya kecerdikan dan perencanaan matang dalam menghadapi permusuhan, selama tidak melanggar batas-batas syariat. Prinsip ini juga mengajarkan untuk selalu waspada dan tidak naif dalam setiap bentuk perlawanan terhadap kebatilan.