✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Berdoa (Memohon)
Kitab 17 · Bab 4

Ciri-Ciri Khusus Wali (Orang Beriman dan Bertakwa) dan Keutamaan Mereka

✦ 12 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ*الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ*لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾[سورة يونس(62-64)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." [QS. Yunus: 62-64]

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa. Mereka dijamin bebas dari rasa takut dan sedih, serta mendapat kabar gembira di dunia dan akhirat. Janji Allah ini pasti dan tidak berubah, yang merupakan keberuntungan paling agung.

# 2
وقال تعالى: ﴿وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا*فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا﴾[سورة مريم(25-26)]
Terjemahan
Dan Allah berfirman: "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan tenangkanlah hatimu." [QS. Maryam: 25-26]

Penjelasan singkat: Ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah yang menghidupkan sunnatullah (hukum alam) sekaligus mengatasinya untuk menolong hamba-Nya yang taat. Perintah menggerakkan pohon kurma yang kering oleh Maryam yang sedang lemah, diikuti gugurnya buah kurma segar, adalah mukjizat yang mengajarkan tentang tawakal, usaha (ikhtiar) sekadarnya, dan keyakinan penuh akan pertolongan Allah yang datang dari arah yang tidak terduga. Allah langsung menjamin rezeki dan ketenangan hati bagi orang yang bertakwa dalam kondisi paling sulit sekalipun.

# 3
وقال تعالى: ﴿ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾[سورة آل عمران(37)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." [QS. Ali 'Imran: 37]

Penjelasan singkat: Ayat ini mengisahkan mukjizat berupa rezeki yang diberikan Allah kepada Maryam. Pelajaran utamanya adalah keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa memberikan rezeki dari jalan yang tidak terduga kepada hamba-Nya yang saleh. Hal ini mengajarkan kita untuk bertawakal sepenuhnya, yakin bahwa sumber segala rezeki hanyalah Allah semata, dan Dia memberikannya tanpa batas kepada siapa yang Dia kehendaki.

# 4
وقال تعالى: ﴿وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا*وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ﴾[سورة الكهف(16-17)]
Terjemahan
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri." [QS. Al-Kahfi: 16-17]

Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan konsekuensi positif dari sikap berlepas diri (al-i'tizāl) dari kesyirikan dan komitmen untuk bertauhid. Allah menjanjikan rahmat, kemudahan urusan, dan perlindungan-Nya bagi orang yang mengambil langkah tegas meninggalkan kebatilan. Fenomena matahari yang condong di sisi gua adalah tanda kekuasaan Allah yang melindungi para pemuda beriman, sekaligus isyarat bahwa pertolongan dan pemeliharaan Allah selalu menyertai hamba-Nya yang bertakwa.

# 5
وعنْ أبي مُحَمَّدٍ عَبْدِ الرَّحْمن بنِ أبي بكر الصِّدِّيقِ رضي اللَّه عنْهُما أنَّ أصْحاب الصُّفَّةِ كانُوا أُنَاساً فُقَرَاءَ وأنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ مرَّةً « منْ كانَ عِنْدَهُ طَعامُ اثنَينِ ، فَلْيذْهَبْ بِثَالث ، ومَنْ كَانَ عِنْدهُ طعامُ أرْبَعَةٍ ، فَلْيَذْهَبْ بخَامِسٍ وبِسَادِسٍ » أوْ كَما قَالَ ، وأنَّ أبَا بَكْرٍ رضي اللَّه عَنْهُ جاءَ بثَلاثَةٍ ، وَانْطَلَقَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِعَشرَةٍ ، وَأنَّ أبَا بَكْرٍ تَعَشَّى عِنْد النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ثُّمَّ لَبِثَ حَتَّى صلَّى العِشَاءَ ، ثُمَّ رَجَعَ ، فَجَاءَ بَعْدَ ما مَضَى من اللَّيلِ مَا شاءَ اللَّه . قَالَتْ امْرَأَتُهُ : ما حبسَكَ عَنْ أضْيافِكَ ؟ قَالَ : أوَ ما عَشَّيتِهمْ ؟ قَالَتْ : أبوْا حَتَّى تَجِيءَ وَقدْ عرَضُوا عَلَيْهِم قَال : فَذَهَبْتُ أنَا ، فَاختبأْتُ ، فَقَالَ : يَا غُنْثَرُ ، فجدَّعَ وَسَبَّ وَقَالَ : كُلُوا هَنِيئاً ، واللَّه لا أَطْعمُهُ أبَداًِ ، قال : وايمُ اللَّهِ ما كُنَّا نَأْخذُ منْ لُقْمةٍ إلاَّ ربا مِنْ أَسْفَلِهَا أكْثَرُ مِنْهَا حتَّى شَبِعُوا ، وصَارَتْ أكثَرَ مِمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذلكَ ، فَنَظَرَ إلَيْهَا أبُو بكْرٍ فَقَال لا مْرَأَتِهِ : يَا أُخْتَ بني فِرَاسٍ مَا هَذا ؟ قَالَتْ : لا وَقُرّةِ عَيني لهي الآنَ أَكثَرُ مِنْهَا قَبْلَ ذَلكَ بِثَلاثِ مرَّاتٍ ، فَأَكَل مِنْهَا أبُو بكْرٍ وَقَال : إنَّمَا كَانَ ذلكَ مِنَ الشَّيطَانِ ، يَعني يَمينَهُ ، ثُمَّ أَكَلَ مِنهَا لٍقمةً ، ثُمَّ حَمَلَهَا إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَأَصْبَحَت عِنْدَهُ . وكانَ بَيْننَا وبَيْنَ قَومٍ عهْدٌ ، فَمَضَى الأجَلُ ، فَتَفَرَّقنَا اثني عشَرَ رَجُلاً ، مَعَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُم أُنَاسٌ ، اللَّه أعْلَم كَمْ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ فَأَكَلُوا مِنْهَا أَجْمَعُونَ . وفي روايَة : فَحَلَفَ أبُو بَكْرٍ لا يَطْعمُه ، فَحَلَفَتِ المرأَةُ لا تَطْعِمَه ، فَحَلَفَ الضِّيفُ ¬ أوِ الأَضْيَافُ ¬ أن لا يَطعَمَه ، أوْ يطعَمُوه حَتَّى يَطعَمه ، فَقَالَ أبُو بَكْرٍ : هذِهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَدَعا بالطَّعامِ فَأَكَلَ وَأَكَلُوا ، فَجَعَلُوا لا يَرْفَعُونَ لُقْمَةً إلاَّ ربَتْ مِنْ أَسْفَلِهَا أَكْثَرَ مِنْهَا ، فَقَال: يَا أُخْتَ بَني فِرَاس ، ما هَذا ؟ فَقالَتْ : وَقُرَّةِ عَيْني إنهَا الآنَ لأَكْثَرُ مِنْهَا قَبْلَ أنْ نَأْكُلَ ، فَأَكَلُوا ، وبَعَثَ بهَا إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فذَكَرَ أَنَّه أَكَلَ مِنهَا . وفي روايةٍ : إنَّ أبَا بَكْرٍ قَالَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ : دُونَكَ أَضْيافَكَ ، فَإنِّي مُنْطَلِقٌ إلى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَافْرُغْ مِنْ قِراهُم قَبْلَ أنْ أجِيءَ ، فَانْطَلَقَ عبْدُ الرَّحمَن ، فَأَتَاهم بمَا عِنْدهُ . فَقَال : اطْعَمُوا ، فقَالُوا : أيْنَ رَبُّ مَنزِلَنَا ؟ قال : اطعموا ، قَالُوا : مَا نَحْنُ بآكِلِين حتَى يَجِيىء ربُ مَنْزِلَنا ، قَال : اقْبَلُوا عَنَّا قِرَاكُم ، فإنَّه إنْ جَاءَ ولَمْ تَطْعَمُوا لَنَلقَيَنَّ مِنْهُ ، فَأَبَوْا ، فَعَرَفْتُ أنَّه يَجِد عَلَيَّ ، فَلَمَّا جاءَ تَنَحَّيْتُ عَنْهُ ، فَقالَ : ماصنعتم ؟ فأَخْبَروهُ ، فقالَ يَا عَبْدَ الرَّحمَنِ فَسَكَتُّ ثم قال : يا عبد الرحمن. فسكت ، فَقَالَ : يا غُنثَرُ أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ إن كُنْتَ تَسمَعُ صوتي لما جِئْتَ ، فَخَرَجتُ ، فَقُلْتُ : سلْ أَضْيَافِكَ ، فَقَالُوا : صَدقَ ، أتَانَا بِهِ . فَقَالَ: إنَّمَا انْتَظَرْتُموني وَاللَّه لا أَطعَمُه اللَّيْلَةَ ، فَقالَ الآخَرون : وَاللَّهِ لا نَطعَمُه حَتَّى تَطعمه ، فَقَالَ : وَيْلَكُم مَالَكُمْ لا تَقْبَلُونَ عنَّا قِرَاكُم ؟ هَاتِ طَعَامَكَ ، فَجاءَ بِهِ ، فَوَضَعَ يَدَه ، فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ ، الأولى مِنَ الشَّيطَانِ فَأَكَلَ وَأَكَلُوا . متفقٌ عليه . قوله : « غُنْثَر » بغين معجمةٍ مضمومةٍ ، ثم نونٍ ساكِنةٍ ، ثُمَّ ثاءٍ مثلثةٍ وهو : الغَبيُّ الجَاهٍلُ ، وقوله : « فجدَّع » أي شَتَمه وَالجَدْع : القَطع . قوله : « يجِدُ عليَّ » هو بكسر الجيمِ ، أيْ : يَغْضَبُ .
Terjemahan
Dari Abu Muhammad 'Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma, bahwa para Ash-Shuffah adalah orang-orang miskin. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang memiliki makanan untuk dua orang, hendaklah dia mengajak orang ketiga. Dan barangsiapa yang memiliki makanan untuk empat orang, hendaklah dia mengajak orang kelima dan keenam." Abu Bakar membawa tiga orang, sementara Nabi ﷺ membawa sepuluh orang. Abu Bakar makan malam bersama Nabi, lalu dia tetap bersama beliau hingga shalat Isya. Kemudian dia pulang ke rumah, tetapi dia tinggal (di rumah Nabi) hingga Nabi mengantuk. Dia sampai di rumah setelah larut malam. Istrinya bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk menemui tamumu?" Dia balik bertanya, "Apakah kamu belum menghidangkan makan malam untuk mereka?" Istrinya menjawab, "Mereka menolak makan hingga kamu datang." Mereka telah menyuguhkan makanan kepada tamu-tamu itu, tetapi mereka tidak mau makan.
'Abdurrahman meriwayatkan: "Aku pun pergi dan bersembunyi. Dia memanggilku, 'Wahai anak kecil!' Dia mencelaku. Kemudian dia berkata, 'Makanlah kalian, demi Allah aku tidak akan memakannya.' Demi Allah, setiap kali kami mengambil sesuap makanan, dari bawahnya muncul makanan yang lebih banyak dari yang kami ambil, hingga mereka kenyang. Makanan itu justru bertambah banyak." Lalu dia berkata kepada istrinya, "Wahai saudari Bani Firas, apa ini?" Istrinya menjawab, "Tidak tahu. Sungguh, sekarang ini lebih banyak tiga kali lipat dari sebelumnya!" Abu Bakar lalu memakannya dan berkata, "Sesungguhnya itu berasal dari setan" (maksudnya adalah sumpahnya). Kemudian dia makan sesuap, lalu membawa makanan itu menemui Rasulullah ﷺ dan menyimpannya bersama beliau. Saat itu kami telah membuat perjanjian dengan sekelompok orang dan waktu yang ditentukan telah tiba. Kami membagi mereka menjadi dua belas kelompok, setiap kelompok memiliki banyak orang. Allah lebih mengetahui jumlah setiap kelompok itu. Lalu beliau memberikan makanan itu kepada mereka, dan mereka semua makan hingga kenyang.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Bakar bersumpah tidak akan memakannya, istrinya bersumpah tidak akan memakannya, dan para tamu bersumpah tidak akan memakannya kecuali Abu Bakar memakannya. Abu Bakar berkata, "Ini sepertinya dari setan!" Lalu dia meminta diambilkan makanan dan memakannya...

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya berbagi dan memperhatikan sesama, khususnya kaum dhuafa. Perintah Nabi untuk menambah jumlah tamu meski makanan terbatas menunjukkan keutamaan mengutamakan orang lain (itsar) dan keyakinan bahwa rezeki dari Allah. Kisah Abu Bakar dan Nabi yang mengajak banyak orang makan malam di rumah mereka menjadi teladan nyata dalam mempraktikkan kedermawanan dan solidaritas sosial dalam Islam.

# 6
وعنْ أبي هُرَيْرَة رضي اللَّه عَنْهُ قَالَ : قال رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لَقَدْ كَان فِيما قَبْلَكُمْ مِنَ الأُممِ نَاسٌ محدَّثونَ ، فإن يَكُ في أُمَّتي أَحَدٌ ، فإنَّهُ عُمَرُ » رواه البخاري ، ورواه مسلم من روايةِ عائشةَ ، وفي رِوايتِهما قالَ ابنُ وَهْبٍ : « محدَّثُونَ » أَي : مُلهَمُون.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh, pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang 'muhaddatsun' (diajak bicara oleh malaikat tanpa kenabian). Jika ada di antara umatku yang seperti itu, maka dia adalah Umar." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dan Muslim meriwayatkannya dari riwayat 'Aisyah. Dalam riwayat keduanya, Ibnu Wahb berkata: "'Muhaddatsun' maksudnya adalah 'mulhamun' (mendapat ilham).")

Penjelasan singkat: Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang mendapat ilham kebenaran dari Allah, sehingga pendapat dan keputusannya sering sesuai dengan wahyu.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan khusus Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Istilah "muhaddatsun" berarti orang yang mendapat ilham atau bisikan kebenaran dari Allah tanpa status nabi. Sabda Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa Umar memiliki kedudukan istimewa, di mana firasat dan ketetapannya sering selaras dengan kebenaran ilahi, sehingga seolah-olah ia "diajak bicara" oleh malaikat melalui ilham yang Allah anugerahkan di dalam hatinya.

# 7
وعنْ جَابِر بن سمُرَةَ ، رضي اللَّه عَنْهُمَا . قَالَ : شَكَا أهْلُ الكُوفَةِ سَعْداً ، يَعْنِي : ابْنِ أبي وَقَّاصٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، إلى عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، فَعزَلَه وَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهِمْ عمَّاراً ، فَشَكَوْا حَتَّى ذكَرُوا أَنَّهُ لا يُحْسِنُ يُصَلِّي ، فَأْرسَلَ إلَيْهِ ، فَقَالَ: ياأَبا إسْحاقَ ، إنَّ هؤُلاءِ يزْعُمُونَ أنَّكَ لا تُحْسِنُ تُصَلِّي. فَقَالَ : أمَّا أَنَا واللَّهِ فَإنِّي كُنْتُ أُصَلِّي بِهمْ صَلاةَ رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لا أَخْرِمُ عَنْهَا أُصَلِّي صَلاةَ العِشَاءِ فَأَرْكُدُ في الأُولَيَيَنِ ، وَأُخِفُّ في الأُخْرَييْنِ ، قال : ذَلِكَ الظَنُّ بكَ يَا أبَا إسْحاقَ ، وأَرسلَ مَعَهُ رَجُلاً ¬ أَوْ رجَالاً ¬ إلَى الكُوفَةِ يَسْأَلُ عَنْهُ أَهْلَ الكُوفَةِ ، فَلَمْ يَدَعْ مَسْجِداً إلاَّ سَأَلَ عَنْهُ ، وَيُثْنُونَ مَعْرُوفاً، حَتَّى دَخَلَ مَسْجِداً لِبَني عَبْسٍ ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ ، يُقَالُ لَهُ أُسامةُ بنُ قَتَادَةَ ، يُكَنَّى أبا سَعْدَةَ، فَقَالَ : أَمَا إذْ نَشَدْتَنَا فَإنَّ سَعْداً كانَ لا يسِيرُ بِالسَّرِيّةِ ولا يَقْسِمُ بِالسَّويَّةِ ، وَلا يعْدِلُ في القَضِيَّةِ ، قَالَ سعْدٌ : أَمَا وَاللَّهِ لأدْعُوَنَّ بِثَلاثٍ : اللَّهُمَّ إنْ كَانَ عبْدكَ هذا كَاذِباً ، قَام رِيَآءً ، وسُمْعَةً ، فَأَطِلْ عُمُرَهُ ، وَأَطِلْ فَقْرَهُ ، وَعَرِّضْهُ للفِتَنِ ، وَكَانَ بَعْدَ ذلكَ إذا سُئِلَ يَقُولُ : شَيْخٌ كَبِيرٌ مَفْتُون ، أصَابتْني دَعْوةُ سعْدٍ . قَالَ عَبْدُ الملِكِ بنُ عُميْرٍ الرَّاوِي عنْ جَابرِ بنِ سَمُرَةَ فَأَنا رَأَيْتُهُ بَعْدَ قَدْ سَقَط حَاجِبَاهُ عَلى عيْنيْهِ مِنَ الكِبَرِ ، وَإنَّهُ لَيَتَعَرَّضُ للجوارِي في الطُّرقِ فَيغْمِزُهُنَّ . متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhuma, bahwa orang-orang Kufah mengadukan Sa'd bin Abi Waqqash kepada Umar bin Al-Khaththab. Umar memecat Sa'd dan mengangkat 'Ammar sebagai penggantinya. Mereka terus mengadukan hingga disebutkan bahwa dia (Sa'd) shalatnya tidak baik. Umar mengutus seseorang menemui Sa'd dan berkata, "Wahai Abu Ishaq, mereka menganggap kamu shalatnya tidak baik dan benar." Sa'd menjawab, "Demi Allah! Aku shalat mengimami mereka seperti shalat Rasulullah ﷺ, aku tidak mengurangi sedikitpun. Aku shalat Isya dengan membaca surat panjang pada dua rakaat pertama dan surat pendek pada dua rakaat terakhir." Umar berkata, "Itulah dugaan tentangmu, wahai Abu Ishaq." Kemudian Umar mengutus seseorang atau beberapa orang bersama Sa'd ke Kufah untuk bertanya kepada penduduk Kufah tentang Sa'd. Mereka bertanya di setiap masjid, dan orang-orang Kufah memujinya, hingga ketika mereka masuk ke sebuah masjid milik Bani 'Abs. Seorang laki-laki dari mereka berdiri, namanya Usamah bin Qatadah, dipanggil Abu Sa'dah. Dia berkata, "Apa yang kalian minta kami ceritakan? Sa'd tidak ikut berjihad di jalan Allah, tidak membagi harta dengan adil, dan tidak memutuskan perkara dengan adil." Sa'd berkata, "Demi Allah, aku akan berdoa kepada Allah dengan tiga permohonan: Ya Allah! Jika hamba-Mu ini berdusta, dia berdiri hanya ingin dilihat dan dipuji, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya, dan timpakanlah fitnah (musibah) kepadanya." Setelah itu, setiap kali dia ditanya, dia selalu berkata, "Aku seorang tua renta yang tertimpa fitnah. Aku mendapat akibat dari doa Sa'd."
'Abdul Malik bin 'Umair meriwayatkan dari Jabir bin Samurah, dia berkata: "Aku melihat alisnya menutupi matanya karena sangat tua, dan dia berjalan di jalan-jalan sambil melihat para wanita." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian ibadah, khususnya shalat, harus merujuk pada sunnah Nabi, bukan sekadar selera atau perasaan masyarakat. Sa'd bin Abi Waqqash diadukan karena shalatnya dianggap "tidak baik", padahal beliau menegaskan bahwa shalatnya persis seperti shalat Rasulullah ﷺ. Kisah ini juga menunjukkan kebijaksanaan seorang pemimpin (Umar) dalam menanggapi pengaduan dengan memverifikasi langsung kepada yang bersangkutan.

# 8
وعنْ عُرْوَةَ بن الزُّبيْر أنَّ سعِيدَ بنَ زَيْدِ بْنِ عمْرو بْنِ نُفَيْلِ ، رضي اللَّه عَنْهُ خَاصَمتْهُ أرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إلى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَم ، وَادَّعَتْ أنَّهُ أَخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سَعِيدٌ : أنَا كُنْتُ آخُذُ مِنْ أرْضِها شَيْئاً بعْدَ الذي سمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ،؟ قَالَ : مَاذا سمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : « مَنْ أَخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إلى سبْعِ أرضينَ » فَقَالَ لَهُ مرْوَانٌ : لا أسْأَلُكَ بَيِّنَةً بعْد هذا ، فَقَال سعيدٌ : اللَّهُمَّ إنْ كانَتْ كاذبِةً ، فَأَعْمِ بصرهَا ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِهَا ، قَالَ : فَمَا ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وبيْنَما هِي تمْشي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرةٍ فَمَاتتْ . متفقٌ عليه . وفي روايةٍ لمسلِمٍ عنْ مُحمَّدِ بن زَيْد بن عبد اللَّه بن عُمَر بمَعْنَاهُ وأَنَّهُ رآهَا عَمْياءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تَقُولُ : أصَابَتْني دعْوَةُ سعًيدٍ ، وَأَنَّها مرَّتْ عَلى بِئْرٍ في الدَّارِ التي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوقَعتْ فِيها ، وَكانَتْ قَبْرهَا .
Terjemahan
Dari 'Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu, bahwa Sa'id bin Zaid bin 'Amr bin Nufail dilaporkan oleh Arwa binti Uwais kepada Marwan bin Al-Hakam bahwa Sa'id telah mengambil tanahnya secara tidak sah. Sa'id berkata, "Bagaimana mungkin aku berani mengambil tanahnya setelah aku mendengar dari Rasulullah ﷺ?" Marwan bertanya, "Apa yang kamu dengar dari Rasulullah ﷺ?" Dia menjawab: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengambil tanah orang lain sejengkal dengan zalim, maka dia akan dikalungkan (dibebani) dengan tujuh lapis bumi." Marwan berkata kepadanya, "Aku tidak meminta bukti lagi setelah ini." Sa'id berkata: "Ya Allah, jika dia (Arwa) berdusta, butakanlah matanya dan matikanlah dia di tanahnya." Dia (perawi) meriwayatkan bahwa dia (Arwa) tidak mati hingga matanya buta, dan ketika dia berjalan di tanahnya, dia jatuh ke dalam lubang dan mati. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat Muslim dari Muhammad bin Zaid bin 'Abdullah bin 'Umar dengan makna yang sama, yaitu: Dia melihat Arwa buta, meraba-raba tembok dan berkata, "Aku terkena doa Sa'id." Dia berjalan di sebuah sumur di tanah yang dia adukan, lalu jatuh ke dalamnya, dan itu menjadi kuburnya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan larangan keras terhadap perbuatan ghulul (mengambil hak orang lain secara zalim), khususnya dalam hal perampasan tanah. Ancaman siksa neraka bagi pelakunya menunjukkan betapa besarnya dosa kezaliman ini. Hikmahnya, seorang Muslim harus sangat menjaga kehormatan dan hak milik orang lain, serta menjauhi segala bentuk penyerobotan dan ketidakadilan dalam muamalah.

# 9
وَعَنْ جَابِرِ بنِ عبْدِ اللَّهِ رضي اللَّه عَنْهُما قَال : لمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دَعاني أبي مِنَ اللَّيْلِ فَقَال : مَا أُرَاني إلاَّ مَقْتُولا في أوَّل مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أصْحابِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَإنِّي لا أَتْرُكُ بعْدِي أعزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرِ نَفْسِ رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وإنَّ علَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، واسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً : فأَصْبَحْنَا ، فَكَانَ أوَّل قَتِيلٍ ، ودَفَنْتُ مَعهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نفسي أنْ أتْرُكهُ مع آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجته بعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فَإذا هُو كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْر أُذُنِهِ ، فَجَعَلتُهُ في قَبْرٍ عَلى حٍدَةٍ . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Sebelum perang Uhud dimulai, pada malam itu ayahku memanggilku dan berkata: "Ayah merasa ayah akan menjadi orang pertama yang terbunuh di antara sahabat Nabi ﷺ, dan ayah tidak meninggalkan sesuatu yang lebih berharga bagimu setelah ayah selain Rasulullah. Ayah punya hutang, lunasilah hutang ayah dan berbuat baiklah kepada saudara-saudaramu." Ketika pagi tiba, dia adalah orang pertama yang terbunuh dan dikuburkan bersama seorang laki-laki lain dalam satu liang kubur. Kemudian, aku tidak merasa tenang membiarkannya berada dalam kubur bersama orang lain, maka aku menggali jasadnya setelah enam bulan. Saat itu, dia seperti pada hari aku menguburkannya, kecuali telinganya. Lalu aku menguburkannya di liang kubur yang terpisah. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kesiapan jiwa seorang mukmin dalam menghadapi takdir, sebagaimana ditunjukkan oleh firasat Abdullah bin Haram tentang syahidnya. Pelajaran utamanya adalah tanggung jawab terhadap hak sesama, yaitu dengan wasiat untuk melunasi hutang dan berbuat baik kepada keluarga, yang harus diprioritaskan sebelum berjihad. Ini menegaskan bahwa kesalehan sosial adalah bagian integral dari keimanan.

# 10
وَعَنْ أنَسٍ رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أصْحابِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَرَجا مِنْ عِنْدِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في لَيْلَةٍ مُظْلِمَةَ ومَعهُمَا مِثْلُ المِصْبَاحَينِ بيْنَ أيديهِما ، فَلَمَّا افتَرَقَا ، صارَ مَعَ كلِّ واحِدٍ مِنهما وَاحِدٌ حَتى أتَى أهْلَهُ . رواه البخاري مِنْ طرُقٍ ، وفي بعْضِها أنَّ الرَّجُلَيْنِ أُسيْدُ بنُ حُضيرٍ ، وعبَّادُ بنُ بِشْرٍ رضي اللَّه عَنْهُما .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa dua orang sahabat Nabi ﷺ keluar dari sisi Nabi ﷺ pada malam yang gelap, dan bersama mereka ada seperti dua lentera di depan mereka. Ketika mereka berpisah, masing-masing dari mereka memiliki satu lentera hingga sampai ke keluarganya. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari berbagai jalur, dan dalam sebagian jalurnya disebutkan bahwa kedua orang itu adalah Usaid bin Hudhair dan 'Abbad bin Bisyr radhiyallahu 'anhuma).

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemuliaan dan cahaya iman yang Allah berikan kepada para sahabat Nabi yang bertakwa. Cahaya yang menyertai mereka secara nyata adalah tanda (karamah) dan perlindungan Allah bagi hamba-Nya yang shaleh, sekaligus bukti kebenaran janji-Nya untuk memberi penerangan dalam kegelapan, baik secara fisik maupun maknawi. Kisah ini juga menggambarkan keutamaan khusus para sahabat yang selalu dekat dengan Rasulullah ﷺ.

# 11
وعنْ أبي هُرَيْرةَ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قَال : بَعثَ رَسُولُ اللِّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَشَرَةَ رهْطٍ عَيْناً سَريَّةً ، وأمَّرَ عليْهِم عَاصِمَ بنَ ثابِتٍ الأنصاريَّ ، رضي اللَّه عنْهُ ، فَانطَلَقُوا حتَّى إذا كانُوا بالهَدْاةِ ، بيْنَ عُسْفانَ ومكَّةَ ، ذُكِرُوا لَحِيِّ منْ هُذَيْلٍ يُقالُ لهُمْ : بنُوا لِحيَانَ ، فَنَفَرُوا لهمْ بقَريب منْ مِائِةِ رجُلٍ رَامٍ فَاقْتَصُّوا آثَارَهُمْ ، فَلَمَّا أحَسَّ بهِمْ عاصِمٌ ؤَأصحابُهُ ، لجَأوا إلى مَوْضِعٍ ، فَأحاطَ بهمُ القَوْمُ ، فَقَالُوا انْزلوا ، فَأَعْطُوا بأيْدِيكُمْ ولكُم العَهْدُ والمِيثاقَ أنْ لا نَقْتُل مِنْكُم أحداً ، فَقَالَ عاصم بن ثابت : أيها القومُ ، أَمَّا أَنَا فلا أَنْزِلُ عَلَى ذِمةِ كَافرٍ . اللهمَّ أخْبِرْ عَنَّا نَبِيَّكَ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَرمَوْهُمْ بِالنَّبْلِ فَقَتَلُوا عَاصِماً ، ونَزَل إلَيْهِمْ ثَلاثَةُ نَفَرٍ على العهدِ والمِيثاقِ ، مِنْهُمْ خُبيْبٌ ، وزَيْدُ بنُ الدَّثِنِة ورَجُلٌ آخَرُ ، فَلَمَّا اسْتَمْكَنُوا مِنْهُمْ أطْلَقُوا أوْتَار قِسِيِّهمْ ، فرَبطُوهُمْ بِها ، قَال الرَّجلُ الثَّالِثُ : هذا أوَّلُ الغَدْرِ واللَّهِ لا أصحبُكمْ إنَّ لي بهؤلاءِ أُسْوةً ، يُريدُ القَتْلى ، فَجرُّوهُ وعالجوه ، فَأبي أنْ يَصْحبَهُمْ ، فَقَتَلُوهُ ، وانْطَلَقُوا بخُبَيْبٍ ، وَزيْدِ بنِ الدَّثِنَةِ ، حتى بَاعُوهُما بمكَّةَ بَعْد وَقْعةِ بدرٍ ، فَابتَاعَ بَنُو الحارِثِ ابنِ عامِرِ بن نوْفَلِ بنِ عَبْدِ مَنَافٍ خُبَيْباً ، وكانَ خُبَيبُ هُوَ قَتَل الحَارِثَ يَوْمَ بَدْرٍ ، فلَبِثَ خُبيْبٌ عِنْدهُم أسِيراً حَتى أجْمَعُوا على قَتْلِهِ ، فَاسْتَعارَ مِنْ بعْضِ بنَاتِ الحارِثِ مُوسَى يَسْتحِدُّ بهَا فَأَعَارَتْهُ ، فَدَرَجَ بُنَيُّ لهَا وَهِي غَافِلةٌ حَتى أَتَاهُ ، فَوَجَدْتُه مُجْلِسَهُ عَلى فَخذِهِ وَالمُوسَى بِيده ، فَفَزِعتْ فَزْعَةً عَرَفَهَا خُبَيْبٌ ، فَقَال : أتَخْشيْنَ أن أقْتُلَهُ ما كُنْتُ لأفْعل ذلكَ ، قَالَتْ : وَاللَّهِ ما رأيْتُ أسِيراً خَيْراً مِنْ خُبيبٍ ، فواللَّهِ لَقَدْ وَجدْتُهُ يوْماً يأَكُلُ قِطْفاً مِنْ عِنبٍ في يدِهِ ، وإنَّهُ لمُوثَقٌ بِالحديدِ وَما بمَكَّةَ مِنْ ثمَرَةٍ ، وَكَانَتْ تقُولُ: إنَّهُ لَرزقٌ رَزقَهُ اللَّه خُبَيباً ، فَلَمَّا خَرجُوا بِهِ مِنَ الحَرمِ لِيقْتُلُوهُ في الحِلِّ ، قَال لهُم خُبيبُ : دعُوني أُصلي ركعتَيْنِ ، فتَرَكُوهُ ، فَركعَ رَكْعَتَيْنِ، فقالَ : واللَّهِ لَوْلا أنْ تَحسَبُوا أنَّ مابي جزَعٌ لَزِدْتُ : اللَّهُمَّ أحْصِهمْ عدداً ، واقْتُلهمْ بَدَداً ، ولا تُبْقِ مِنْهُم أحداً . وقال: فلَسْتُ أُبالي حينَ أُقْتلُ مُسْلِماً على أيِّ جنْبٍ كَانَ للَّهِ مصْرعِي وذلِكَ في ذَاتِ الإلَهِ وإنْ يشَأْ يُبَارِكْ عَلَى أوْصالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ وكانَ خُبيْبٌ هُو سَنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ قُتِلَ صبْراً الصَّلاةَ وأخْبَر ¬ يعني النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . أصْحَابهُ يوْمَ أُصِيبُوا خبرهُمْ ، وبعَثَ نَاسٌ مِنْ قُريْشٍ إلى عاصِم بن ثابتٍ حينَ حُدِّثُوا أنَّهُ قُتِل أنْ يُؤْتَوا بشَيءٍ مِنْهُ يُعْرفُ . وكَانَ قتَل رَجُلاً مِنْ عُظَمائِهِمْ ، فبَعثَ اللَّه لِعَاصِمٍ مِثْلَ الظُّلَّةِ مِنَ الدَّبْرِ ، فَحَمَتْهُ مِنْ رُسُلِهِمْ ، فَلَمْ يقْدِرُوا أنْ يَقْطَعُوا مِنهُ شَيْئاً . رواه البخاري . قولُهُ : الهَدْاَةُ : مَوْضِعٌ ، وَالظُّلَّةُ : السحاب ، والدَّبْرُ : النَّحْلُ . وقَوْلُهُ : « اقْتُلْهُمْ بِدَداً » بِكسرِ الباءِ وفتحهَا ، فمن كسر ، قال هو جمعٍ بِدَّةٍ بكسر الباءِ ، وهو النصِيب ، ومعناه اقْتُلْهُـمْ حِصَصاً مُنْقَسِمَةً لِكلِّ واحِدٍ مِنْهُمْ نصيبٌ ، ومن فَتَح ، قَالَ : مَعْنَاهُ : مُتَفَرِّقِينَ في القَتْلِ واحِداً بَعْدَ وَاحِد مِنَ التّبْدِيدِ . وفي الباب أحاديثٌ كَثِيرَةٌ صحِيحَةُ سبقت في مواضِعها مِنْ هذا الكتاب مِنها حديثُ الغُلام الذي كانَ يأتي الرَّاهِبَ والسَّاحِرَ ومِنْهَا حَديثُ جُرَيجٍ ، وحديثُ أصحَابِ الغار الذين أَطْبقَتْ علَيْهمُ الصَّخْرةُ ، وحديثُ الرَّجُلِ الذي سَمِعَ صَوتاً في السَّحاب يقولُ : اسْقِ حدِيقة فلانٍ ، وغيرُ ذلك والدَّلائِلُ في الباب كثيرةٌ مَشْهُورةٌ ، وبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus sepuluh orang sebagai mata-mata dan menunjuk Ashim bin Tsabit Al-Anshari sebagai pemimpin mereka. Mereka berangkat hingga tiba di daerah antara Usfan dan Makkah. Lalu diberitahukan kepada sekelompok suku Hudzail yang disebut Bani Lihyan. Mereka mengejar dengan sekitar seratus orang pemanah. Ketika Ashim dan para sahabatnya melihat mereka, mereka naik ke sebuah bukit. Kaum musyrikin mengepung mereka dan berkata: 'Turunlah dan serahkan diri kalian, kami berjanji tidak akan membunuh seorang pun dari kalian.' Ashim bin Tsabit berkata: 'Aku tidak akan turun ke dalam perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikanlah keadaan kami ini kepada Nabi-Mu.' Lalu mereka memerangi dan membunuh tujuh orang dengan anak panah, dan tersisa tiga orang... (HR. Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kesiapan berkorban di jalan Allah. Sepuluh sahabat yang diutus Rasulullah menghadapi kepungan musuh yang jauh lebih banyak, menunjukkan keteguhan dalam menjalankan tugas meski berisiko tinggi. Kisah ini juga menggambarkan bentuk pengorbanan (syahadah) yang mungkin ditemui dalam dakwah, serta pentingnya kepemimpinan dan solidaritas dalam tim ketika menghadapi ujian.

# 12
وعَن ابْنِ عُمر رضي اللَّه عنْهُما قال : ما سمِعْتُ عُمرَ رضي اللَّه عنْهُ يَقُولُ لِشَيءٍ قطُّ : إنِّي لأظُنَّهُ كَذا إلاَّ كَانَ كَمَا يَظُنُّ ، رواهُ البُخَاري .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Setiap kali aku mendengar Umar radhiyallahu 'anhu mengatakan tentang sesuatu: 'Aku kira ini begini dan begitu,' ternyata terbukti kebenarannya. (HR. Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keistimewaan dan ketajaman intuisi (firasat) Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang selalu terbukti benar. Ini bukan sekadar tebakan, melainkan ilham dan cahaya dari Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang yang bertakwa dan mendalam ilmunya. Pelajarannya, ketepatan firasat seorang mukmin berasal dari ketakwaan dan kejernihan hati, serta menjadi salah satu tanda kebaikan dalam diri seseorang.