✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 42

Keutamaan berbuat baik kepada teman-teman orang tua, kerabat, istri, dan orang lain yang harus dihormati

✦ 5 Hadith ✦
# 1
عن ابن عمر رضي اللَّه عنهما أَن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِن أَبرَّ البرِّ أَنْ يصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ »
Terjemahan
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seseorang berbuat baik kepada teman ayahnya (setelah ayahnya meninggal)."

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua tidak berakhir dengan wafatnya mereka. Salah satu bentuk bakti yang paling utama adalah dengan menyambung dan berbuat baik kepada sahabat-sahabat ayah kita. Dengan demikian, kita menghormati hubungan yang dijaga oleh orang tua kita, menunjukkan kesetiaan pada wasiat mereka, dan memperluas silaturahmi. Ini adalah bentuk ihsan dan pemuliaan yang sangat dalam dalam Islam.

# 2
وعن عبدِ اللَّهِ بن دينارٍ عن عبد اللَّه بن عمر رضي اللَّه عنهما أَنَّ رجُلاً مِنَ الأَعْرابِ لقِيهُ بِطرِيق مكَّة ، فَسلَّم عَليْهِ عَبْدُ اللَّه بْنُ عُمرَ ، وحملهُ على حمارٍ كَانَ يرْكَبُهُ، وأَعْطَاهُ عِمامةً كانتْ على رأْسِهِ ، قال ابنُ دِينَارٍ : فقُلنا لهُ : أَصْلَحكَ اللَّه إِنَّهمْ الأَعْرابُ وهُمْ يرْضَوْنَ بِاليسِيرِ . فقال عبدُ اللَّه بنُ عمر: إِنَّ هذا كَان ودّاً لِعُمَرَ بن الخطاب رضي اللَّه عنه ، وإِنِّي سمِعْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: « إِنَّ أَبرَّ البِرِّ صِلةُ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ ». وفي روايةٍ عن ابن دينار عن ابن عُمَر أَنَّهُ كَانَ إِذا خرج إلى مَكَّةَ كَانَ لَهُ حِمارٌ يَتَروَّحُ عليْهِ إذا ملَّ رُكُوب الرَّاحِلَةِ ، وعِمامةٌ يشُدُّ بِها رأْسهُ ، فَبيْنَا هُو يوْما على ذلِكَ الحِمَارِ إذْ مَرَّ بِهِ أَعْرابيٌّ ، فقال : أَلَسْتَ فُلانَ بْنَ فُلانٍ ؟ قال : بلَى : فَأَعْطَاهُ الحِمَارَ ، فقال : ارْكَبْ هذا ، وأَعْطاهُ العِمامةَ وقال : اشْدُدْ بِهَا رأْسَكَ ، فقال لَهُ بَعْضُ أَصْحابِهِ : غَفَر اللَّه لَكَ ، أَعْطَيْتَ هذَا الأَعْرابيِّ حِماراً كنْتَ تَروَّحُ عليْهِ ، وعِمامَةً كُنْتَ تشُدُّ بِهَا رأْسَكَ؟ فقال : إِنِّي سَمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُقولُ : « إِنْ مِنْ أَبَرِّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْد أَنْ يُولِّىَ» وإِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيقاً لِعُمر رضي اللَّه عنه ، روى هذِهِ الرِّواياتِ كُلَّهَا مسلم .
Terjemahan
'Abdullah bin Dinar meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Di jalan menuju Mekah, ia bertemu dengan seorang badui. 'Abdullah bin 'Umar memberinya salam, lalu menyuruh orang badui itu menaiki keledai yang sedang ia tunggangi dan memberikan sorban yang ia pakai di kepala kepada orang badui itu. Aku (Ibnu Dinar) bertanya kepadanya: "Semoga Allah memperbaiki dirimu. Mereka itu orang-orang badui, mereka cukup puas dengan sesuatu yang sedikit." 'Abdullah bin 'Umar berkata: "Ayah orang ini adalah teman dekat 'Umar bin Al-Khaththab, dan aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seseorang berbuat baik kepada teman ayahnya.'"
Dalam riwayat lain dari Ibnu Dinar dari Ibnu 'Umar: Setiap kali ia pergi ke Mekah, ia memiliki keledai untuk beristirahat ketika lelah dalam perjalanan, dan ia memiliki sorban yang diikatkan di kepalanya. Suatu hari, saat ia berada di atas keledai itu, seorang badui berpapasan dengannya secara kebetulan. Ia bertanya: "Apakah engkau anak si fulan... anak si fulan?" Orang badui itu menjawab: "Ya." Ibnu 'Umar pun memberikan keledainya kepada orang badui itu dan berkata: "Naiklah keledai ini." Kemudian ia melepas sorbannya dan memberikannya kepada orang badui itu seraya berkata: "Pakailah ini untuk menutup kepalamu." Sebagian teman-temannya berkata kepadanya: "Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau memberikan kepada orang badui ini keledai yang biasa engkau gunakan untuk istirahat dan sorban yang biasa engkau pakai di kepala?" Ia menjawab: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seseorang berbuat baik kepada teman ayahnya setelah ayahnya meninggal.' Ayah orang ini adalah teman 'Umar (ayahku)." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan berbuat baik dan memuliakan orang lain, terutama karena hubungan silaturahmi dan kecintaan kepada orang shaleh. Sikap Abdullah bin Umar yang sangat dermawan kepada seorang badui, bukan karena statusnya, tetapi karena orang itu adalah kekasih ayahnya (Umar bin Khattab), menunjukkan betapa kita harus menghormati dan berbuat baik kepada siapa pun yang memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang kita cintai karena Allah.

# 3
وعن أبي أُسَيْد بضم الهمزة وفتح السين مالكِ بنِ ربِيعَةَ السَّاعِدِيِّ رضي اللَّه عنه قال : بَيْنا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذ جاءَهُ رجُلٌ مِنْ بني سَلَمة فقالَ : يارسولَ اللَّه هَلْ بقى مِن بِرِّ أَبويَّ شىءٌ أَبرُّهُمَا بِهِ بَعدَ مَوْتِهِمَا ؟ فقال : « نَعَمْ ، الصَّلاَة علَيْهِمَا ، والاسْتِغْفَارُ لَهُما ، وإِنْفاذُ عَهْدِهِما ، وصِلةُ الرَّحِمِ التي لا تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا ، وإِكَرَامُ صَدِيقهما » رواه أبو داود .
Terjemahan
Dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Suatu hari ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Salamah. Ia bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah masih ada kebaikan yang dapat aku lakukan untuk kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?" Beliau menjawab: "Ya. Mendoakan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan janji-janji mereka setelah mereka wafat, menyambung tali silaturahmi yang berasal dari mereka, dan memuliakan teman-teman mereka." Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa bakti kepada orang tua tidak terputus saat mereka meninggal. Kita tetap dapat berbuat kebaikan untuk mereka dengan mendoakan, memohonkan ampun, menunaikan wasiat atau janji mereka, serta menyambung silaturahmi dan memuliakan sahabat mereka. Ini menunjukkan keutamaan doa anak yang saleh dan bentuk kasih sayang yang berkelanjutan.

# 4
وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : ما غِرْتُ على أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا غِرْتُ على خديجةَ رضي اللَّه عنها . ومَا رَأَيْتُهَا قَطُّ ، ولَكنْ كَانَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا ، وَرُبَّما ذَبح الشَّاةَ ، ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاء ، ثُمَّ يَبْعثُهَا في صدائِق خدِيجةَ ، فَرُبَّما قلتُ لَهُ : كَأَنْ لَمْ يكُنْ في الدُّنْيَا إِلاَّ خديجةُ ، فيقولُ : « إِنَّها كَانتْ وكَانَتْ وكَانَ لي مِنْهَا ولَدٌ » متفقٌ عليه . وفي روايةٍ وإنْ كَانَ لَيذبحُ الشَّاةَ ، فَيُهْدِي في خَلائِلِهَا مِنْهَا مَا يسَعُهُنَّ . وفي روايةٍ كَانَ إِذَا ذَبحَ الشَّاةَ يَقُولُ : « أَرْسِلُوا بِهَا إِلى أَصْدِقَاءِ خَدِيجةَ » . وفي روايةٍ قالت : اسْتَأْذَنَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخُتُ خَديجَةَ عَلَى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَعَرفَ اسْتِئْذَانَ خديجة ، فَارْتَاحَ لَذَلِكَ فقالَ : « اللَّهُمَّ هَالَةُ بِنْتُ خوَيْلِدٍ » . قوْلُهَا : « فَارتَاحَ » هو بِالحاءِ ، وفي الجمْعِ بين الصحيحين لَلْحُمَيْدِي : « فَارْتَاعَ» بِالعينِ ومعناه :اهْتَمَّ بِهِ .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap seorang pun dari istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti cemburuku terhadap Khadijah radhiyallahu 'anha, padahal aku tidak pernah melihatnya. Akan tetapi, beliau sering menyebut-nyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing, lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, kemudian mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Maka, terkadang aku berkata kepada beliau: 'Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.' Beliau menjawab:

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kedudukan mulia Khadijah di hati Rasulullah SAW. Cinta dan penghargaan beliau yang mendalam tetap abadi, bahkan setelah kematiannya, dengan menyebut kebaikannya dan menjaga silaturahmi dengan sahabat-sahabatnya. Hal ini mengajarkan tentang pentingnya memuliakan orang yang telah berjasa, bersikap setia, dan bersyukur atas kebaikan pasangan.

# 5
وعن أَنس بن مالكٍ رضي اللَّه عنه قال : خَرجْتُ معَ جرير بن عبدِ اللَّه الْبَجَليِّ رضي اللَّه عنه في سَفَرٍ، فَكَانَ يَخْدُمُني فقلتُ لَهُ: لا تَفْعلْ، فقال : إِنِّي قَدْ رَأَيـْتُ الأَنصارَ تَصْنَعُ برسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم شَيْئاً آلَيْتُ عَلى نَفْسي أَنْ لا أَصْحبَ أَحداً مِنْهُمْ إِلاَّ خَدمْتُهُ متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah pergi bersama Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu dalam sebuah perjalanan, dan Jarir melayani aku. Aku berkata: 'Jangan lakukan itu.' Ia berkata: 'Aku pernah melihat kaum Anshar melakukan sesuatu untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku bersumpah pada diriku bahwa jika aku menemani seseorang dari mereka, aku pasti akan melayaninya.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan tawadhu' dan berbakti kepada orang yang berjasa. Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu dengan rendah hati melayani Anas bin Malik, karena Anas adalah seorang Anshar yang dahulu sangat berjasa melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Perbuatan Jarir ini menunjukkan sikap mulia dalam membalas kebaikan dan menghormati keutamaan para sahabat, serta meneladani akhlak Rasulullah dalam memperlakukan mereka.