Kitab 1 · Bab 5
Muraqabah (Merasa selalu diawasi oleh Allah)
✦ 14 Hadith ✦
# 1
قَالَ اللَّه تعالى : ﴿ الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين ﴾ .سورة الشعراء(218-219)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dia (Allah) melihatmu (Muhammad) ketika engkau berdiri (untuk shalat pada malam hari) dan (melihat) perubahan gerak tubuhmu di antara orang-orang yang sujud." (Asy-Syu'ara: 218-219).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Melihat dan senantiasa mengawasi hamba-Nya, khususnya Nabi Muhammad SAW, dalam setiap keadaan. Pengawasan ini mencakup ibadah khusus seperti shalat malam, hingga pergerakan dan usaha di tengah masyarakat. Hikmahnya, seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah), baik dalam ritual ibadah maupun dalam aktivitas sosial, sehingga mendorong untuk istiqamah dan ikhlas dalam seluruh gerak-gerik kehidupan.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Melihat dan senantiasa mengawasi hamba-Nya, khususnya Nabi Muhammad SAW, dalam setiap keadaan. Pengawasan ini mencakup ibadah khusus seperti shalat malam, hingga pergerakan dan usaha di tengah masyarakat. Hikmahnya, seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah), baik dalam ritual ibadah maupun dalam aktivitas sosial, sehingga mendorong untuk istiqamah dan ikhlas dalam seluruh gerak-gerik kehidupan.
# 2
وقَالَ تعالى : ﴿ وهو معكم أينما كنتم ﴾ .سورة الحديد(4)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dia (Allah) selalu bersamamu (melihat dan mengetahui) di mana pun kamu berada." (Al-Hadid: 4).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ilmu Allah meliputi segala tempat dan keadaan. Makna "bersama" di sini adalah bersama dengan ilmu, pengawasan, kekuasaan, dan pendengaran-Nya. Hikmahnya adalah agar manusia senantiasa merasa diawasi, sehingga menjauhi maksiat dan berbuat kebajikan di mana pun berada, serta merasa tenang karena pertolongan Allah selalu dekat.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ilmu Allah meliputi segala tempat dan keadaan. Makna "bersama" di sini adalah bersama dengan ilmu, pengawasan, kekuasaan, dan pendengaran-Nya. Hikmahnya adalah agar manusia senantiasa merasa diawasi, sehingga menjauhi maksiat dan berbuat kebajikan di mana pun berada, serta merasa tenang karena pertolongan Allah selalu dekat.
# 3
وقَالَ تعالى : ﴿ إن اللَّه لا يخفى عليه شيء في الأرض ولا في السماء ﴾ .سورة آل عمران(5)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di bumi atau di langit yang dapat tersembunyi dari-Nya." (Ali 'Imran: 5).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan sifat ilmu Allah yang Maha Meliputi (﴾﴿). Tidak ada satu pun di langit dan bumi, baik yang nyata maupun tersembunyi, yang luput dari pengetahuan-Nya. Pelajaran utamanya adalah kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah), sehingga mendorong untuk berbuat baik dan menjauhi maksiat, sekalipun tersembunyi dari manusia. Keyakinan ini juga menjadi dasar untuk bertawakal dan pasrah sepenuhnya kepada hikmah-Nya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan sifat ilmu Allah yang Maha Meliputi (﴾﴿). Tidak ada satu pun di langit dan bumi, baik yang nyata maupun tersembunyi, yang luput dari pengetahuan-Nya. Pelajaran utamanya adalah kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah), sehingga mendorong untuk berbuat baik dan menjauhi maksiat, sekalipun tersembunyi dari manusia. Keyakinan ini juga menjadi dasar untuk bertawakal dan pasrah sepenuhnya kepada hikmah-Nya.
# 4
وقَالَ تعالى : ﴿ إن ربك لبالمرصاد ﴾ .سورة الفجر(14)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya Tuhanmu (Muhammad) benar-benar mengawasimu." (Al-Fajr: 14).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa Allah Swt. senantiasa berada dalam posisi mengawasi dan memperhatikan seluruh perbuatan hamba-Nya. Pengawasan-Nya (المرصاد) bersifat pasti, lengkap, dan penuh keadilan. Oleh karena itu, ayat ini menjadi landasan untuk senantiasa merasa diawasi (muraqabah) dalam setiap keadaan, mendorong seorang muslim untuk berbuat baik dan menjauhi kemungkaran.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa Allah Swt. senantiasa berada dalam posisi mengawasi dan memperhatikan seluruh perbuatan hamba-Nya. Pengawasan-Nya (المرصاد) bersifat pasti, lengkap, dan penuh keadilan. Oleh karena itu, ayat ini menjadi landasan untuk senantiasa merasa diawasi (muraqabah) dalam setiap keadaan, mendorong seorang muslim untuk berbuat baik dan menjauhi kemungkaran.
# 5
وقَالَ تعالى : ﴿ يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور ﴾ .سورة غافر(19)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat (melihat apa yang diharamkan) dan mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada." (Al-Ghafir: 19).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ia mengetahui pandangan mata yang penuh khianat, sekalipun hanya sekilas dan tersembunyi dari manusia. Ia juga mengetahui segala niat, hasrat, dan rahasia yang tersimpan dalam hati. Oleh karena itu, pelajaran utamanya adalah kita harus senantiasa menjaga penglihatan dan memurnikan hati, karena tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ia mengetahui pandangan mata yang penuh khianat, sekalipun hanya sekilas dan tersembunyi dari manusia. Ia juga mengetahui segala niat, hasrat, dan rahasia yang tersimpan dalam hati. Oleh karena itu, pelajaran utamanya adalah kita harus senantiasa menjaga penglihatan dan memurnikan hati, karena tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.
# 6
فالأَوَّلُ : عَنْ عُمرَ بنِ الخطابِ ، رضيَ اللَّهُ عنه ، قال: «بَيْنما نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْد رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ذَات يَوْمٍ إِذْ طَلع عَلَيْنَا رجُلٌ شَديدُ بياضِ الثِّيابِ ، شديدُ سوادِ الشَّعْر ، لا يُرَى عليْهِ أَثَر السَّفَرِ ، ولا يَعْرِفُهُ منَّا أَحدٌ ، حتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَسْنَدَ رَكْبَتَيْهِ إِلَى رُكبَتيْهِ ، وَوَضع كفَّيْه عَلَى فخِذيهِ وقال : يا محمَّدُ أَخبِرْنِي عن الإسلام فقالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : الإِسلامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤتِيَ الزَّكاةَ ، وتصُومَ رَمضَانَ ، وتحُجَّ الْبيْتَ إِنِ استَطَعتَ إِلَيْهِ سَبيلاً.
قال : صدَقتَ . فَعجِبْنا لَهُ يسْأَلُهُ ويصدِّقُهُ ، قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عن الإِيمانِ . قَالَ: أَنْ تُؤْمِن بِاللَّهِ وملائِكَتِهِ ، وكُتُبِهِ ورُسُلِهِ ، والْيومِ الآخِرِ ، وتُؤمِنَ بالْقَدَرِ خَيْرِهِ وشَرِّهِ . قال: صدقْتَ قال : فأَخْبِرْنِي عن الإِحْسانِ . قال : أَنْ تَعْبُدَ اللَّه كَأَنَّكَ تَراهُ . فإِنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإِنَّهُ يَراكَ قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عن السَّاعةِ . قَالَ : مَا المسْؤُولُ عَنْهَا بأَعْلَمَ مِن السَّائِلِ . قَالَ : فَأَخْبرْنِي عَنْ أَمَاراتِهَا . قَالَ أَنْ تلدَ الأَمَةُ ربَّتَها ، وَأَنْ تَرى الحُفَاةَ الْعُراةَ الْعالَةَ رِعاءَ الشَّاءِ يتَطاولُون في الْبُنيانِ ثُمَّ انْطلَقَ ، فلبثْتُ ملِيًّا ، ثُمَّ قَالَ : يا عُمرُ ، أَتَدرِي منِ السَّائِلُ قلتُ : اللَّهُ ورسُولُهُ أَعْلمُ قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعلِّمُكم دِينِكُمْ » رواه مسلمٌ.
ومعْنَى : « تلِدُ الأَمةُ ربَّتَهَا» أَيْ : سيِّدتَهَا ، ومعناهُ أَنْ تكْثُرَ السَّرارِي حتَّى تَلد الأمةُ السرِّيةُ بِنتاً لِسيدهَا ، وبْنتُ السَّيِّدِ في معنَى السَّيِّدِ ، وقِيل غيرُ ذَلِكَ و « الْعالَةُ » : الْفُقراءُ . وقولُهُ « مَلِيًّا » أَيْ زمناً طويلاً ، وكانَ ذلك ثَلاثاً .
Terjemahan
Pertama: Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Suatu hari ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambutnya hitam legam, tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia adalah seorang musafir, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian orang itu duduk menghadap Nabi dengan meletakkan kedua lututnya pada lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya sendiri, lalu bertanya: "Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu." Orang yang bertanya itu berkata: "Engkau benar." Kami heran, dia yang bertanya justru membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang Iman (keyakinan)?" Nabi menjawab: "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk." Orang itu berkata: "Engkau benar." Kemudian dia bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang Ihsan (berbuat baik)?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." Orang itu bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang hari Kiamat?" Nabi menjawab: "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya." Orang itu bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?" Nabi menjawab: "Jika seorang budak perempuan melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang-orang miskin yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian (menjadi pemimpin) dan penggembala kambing saling bermegah-megahan dalam membangun bangunan tinggi."
Penjelasan singkat: Hadis ini, yang dikenal sebagai Hadis Jibril, mengajarkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun utama: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Kisah pertanyaan Malaikat Jibril yang menyamar ini juga menjelaskan perbedaan tingkatan agama, yaitu Islam (rukun lahir), Iman (rukun batin), dan Ihsan (tingkatan kesempurnaan ibadah). Hadis ini merupakan fondasi utama dalam memahami agama secara utuh dan terpadu.
Penjelasan singkat: Hadis ini, yang dikenal sebagai Hadis Jibril, mengajarkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun utama: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Kisah pertanyaan Malaikat Jibril yang menyamar ini juga menjelaskan perbedaan tingkatan agama, yaitu Islam (rukun lahir), Iman (rukun batin), dan Ihsan (tingkatan kesempurnaan ibadah). Hadis ini merupakan fondasi utama dalam memahami agama secara utuh dan terpadu.
# 7
الثَّاني : عن أبي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادةَ ، وأبي عبْدِ الرَّحْمنِ مُعاذِ بْنِ جبل رضيَ اللَّه عنهما ، عنْ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ » رواهُ التِّرْمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Kedua: Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga prinsip hidup utama. Pertama, menjaga ketakwaan kepada Allah di setiap waktu dan tempat. Kedua, segera menutupi kesalahan dengan berbuat baik, karena kebaikan dapat menghapus keburukan. Ketiga, pentingnya bergaul dengan semua orang menggunakan akhlak yang mulia sebagai bentuk ibadah sosial.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga prinsip hidup utama. Pertama, menjaga ketakwaan kepada Allah di setiap waktu dan tempat. Kedua, segera menutupi kesalahan dengan berbuat baik, karena kebaikan dapat menghapus keburukan. Ketiga, pentingnya bergaul dengan semua orang menggunakan akhlak yang mulia sebagai bentuk ibadah sosial.
# 8
الثَّالثُ : عن ابنِ عبَّاسٍ ، رضيَ اللَّه عنهمَا ، قال : « كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يوْماً فَقال : « يَا غُلامُ إِنِّي أُعلِّمكَ كَلِمَاتٍ : « احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَل اللَّه ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ ، واعلَمْ : أَنَّ الأُمَّةَ لَو اجتَمعتْ عَلَى أَنْ ينْفعُوكَ بِشيْءٍ ، لَمْ يَنْفعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَد كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوك بِشَيْءٍ ، لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بَشَيْءٍ قد كَتَبَهُ اللَّه عليْكَ ، رُفِعَتِ الأقْلامُ ، وجَفَّتِ الصُّحُفُ».
رواهُ التِّرمذيُّ وقَالَ : حديثٌ حسنٌ صَحيحٌ .
وفي رواية غيرِ التِّرْمِذيِّ : « احفظَ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ في الرَّخَاءِ يعرِفْكَ في الشِّدةِ ، واعْلَمْ أَنّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصيبَك ، وَمَا أَصَابَكَ لمْ يَكُن لِيُخْطِئَكَ واعْلَمْ أنّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ ، وأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْب ، وأَنَّ مَعَ الْعُسرِ يُسْراً » .
Terjemahan
Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Suatu hari aku pernah membonceng di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: "Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (perintah) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu pada sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Ada riwayat lain dari At-Tirmidzi: "Jagalah (perintah) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalkan dirimu kepada Allah (dengan berbuat baik) di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Ketahuilah, apa yang tidak ditetapkan atasmu tidak akan menimpamu. Dan apa yang ditetapkan atasmu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran. Bersama kesusahan pasti ada kemudahan. Bersama kesulitan pasti ada kelapangan."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip dasar tauhid dan tawakal. Intinya adalah dengan menjaga hak Allah (dengan taat), Allah akan menjaga hamba-Nya. Segala urusan harus disandarkan hanya kepada Allah semata dalam meminta dan memohon pertolongan, karena manfaat dan mudarat sepenuhnya berada di bawah ketetapan-Nya. Keyakinan ini akan melahirkan ketenangan hati dan kemandirian spiritual dari selain Allah.
Ada riwayat lain dari At-Tirmidzi: "Jagalah (perintah) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalkan dirimu kepada Allah (dengan berbuat baik) di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Ketahuilah, apa yang tidak ditetapkan atasmu tidak akan menimpamu. Dan apa yang ditetapkan atasmu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran. Bersama kesusahan pasti ada kemudahan. Bersama kesulitan pasti ada kelapangan."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip dasar tauhid dan tawakal. Intinya adalah dengan menjaga hak Allah (dengan taat), Allah akan menjaga hamba-Nya. Segala urusan harus disandarkan hanya kepada Allah semata dalam meminta dan memohon pertolongan, karena manfaat dan mudarat sepenuhnya berada di bawah ketetapan-Nya. Keyakinan ini akan melahirkan ketenangan hati dan kemandirian spiritual dari selain Allah.
# 9
الرَّابعُ : عنْ أَنَس رضي اللَّهُ عنه قالَ : « إِنَّكُمْ لَتَعْملُونَ أَعْمَالاً هِيَ أَدقُّ في أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، كُنَّا نَعْدُّهَا عَلَى عَهْدِ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنَ الْمُوِبقاتِ » رواه البخاري . وقال : « الْمُوبِقَاتُ » الْمُهْلِكَاتُ .
Terjemahan
Keempat: Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang di mata kalian lebih tipis dari rambut, (padahal) kami pada masa Rasulullah ﷺ menganggapnya sebagai dosa-dosa besar yang membinasakan." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dia (Anas) berkata: "Al-Mawbiqat" artinya yang membinasakan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan tentang bahaya meremehkan dosa kecil. Para sahabat Nabi yang hidup di zamannya menganggap perbuatan yang dianggap sepele oleh generasi setelahnya sebagai "al-mawbiqat", yaitu dosa besar yang dapat membinasakan. Pelajaran utamanya adalah agar kita senantiasa waspada dan tidak memandang rendah suatu kemaksiatan, karena standar dosa dan taat harus merujuk pada penilaian syariat di masa Rasulullah, bukan pada pandangan subjektif kita.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan tentang bahaya meremehkan dosa kecil. Para sahabat Nabi yang hidup di zamannya menganggap perbuatan yang dianggap sepele oleh generasi setelahnya sebagai "al-mawbiqat", yaitu dosa besar yang dapat membinasakan. Pelajaran utamanya adalah agar kita senantiasa waspada dan tidak memandang rendah suatu kemaksiatan, karena standar dosa dan taat harus merujuk pada penilaian syariat di masa Rasulullah, bukan pada pandangan subjektif kita.
# 10
الْخَامِس : عَنْ أبي هريْرَةَ ، رضي اللَّه عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغَارُ ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ تَعَالَى ، أنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ » متفقٌ عليه .
و « الْغَيْرةُ » بفتح الغين : وَأَصلهَا الأَنَفَةُ .
Terjemahan
Kelima: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu, dan kecemburuan Allah Ta'ala itu muncul ketika seseorang melakukan apa yang diharamkan Allah atasnya." Muttafaqun 'alaih.
Dan "Al-Ghairah" dengan fathah pada huruf ghain, asalnya adalah sifat yang tidak suka dinodai.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat ghairah (cemburu), yang merupakan bentuk kemuliaan dan kesucian. Kecemburuan Allah ini muncul sebagai reaksi ketika hamba-Nya melanggar larangan-larangan yang telah ditetapkan. Intinya, hadis ini menegaskan betapa Allah membenci dan tidak rela melihat kemaksiatan dilakukan oleh hamba-Nya, sekaligus menjadi peringatan keras untuk menjauhi segala yang diharamkan.
Dan "Al-Ghairah" dengan fathah pada huruf ghain, asalnya adalah sifat yang tidak suka dinodai.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat ghairah (cemburu), yang merupakan bentuk kemuliaan dan kesucian. Kecemburuan Allah ini muncul sebagai reaksi ketika hamba-Nya melanggar larangan-larangan yang telah ditetapkan. Intinya, hadis ini menegaskan betapa Allah membenci dan tidak rela melihat kemaksiatan dilakukan oleh hamba-Nya, sekaligus menjadi peringatan keras untuk menjauhi segala yang diharamkan.
# 11
- السَّادِسُ : عَنْ أبي هُريْرَةَ رضي اللَّه عنه أَنَّهُ سمِع النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرائيلَ : أَبْرَصَ ، وأَقْرَعَ ، وأَعْمَى ، أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَليَهُمْ فَبَعث إِلَيْهِمْ مَلَكاً ، فأَتَى الأَبْرَصَ فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ أَحبُّ إِلَيْكَ ؟ قَالَ : لَوْنٌ حسنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ ، ويُذْهَبُ عنِّي الَّذي قَدْ قَذَرنِي النَّاسُ ، فَمَسَحهُ فذَهَب عنهُ قذرهُ وَأُعْطِيَ لَوْناً حَسناً . قَالَ : فَأَيُّ الْمالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ ؟ قال : الإِبلُ أَوْ قَالَ الْبَقَرُ شَكَّ الرَّاوِي فأُعْطِيَ نَاقَةً عُشرَاءَ ، فَقَالَ : بارَك اللَّهُ لَكَ فِيها .
فأَتَى الأَقْرعَ فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ أَحب إِلَيْكَ ؟ قال : شَعْرٌ حسنٌ ، ويذْهبُ عنِّي هَذَا الَّذي قَذِرَني النَّاسُ ، فَمسحهُ عنْهُ . أُعْطِيَ شَعراً حسناً . قال فَأَيُّ الْمَالِ . أَحبُّ إِلَيْكَ ؟ قال : الْبَقرُ ، فأُعِطيَ بقرةً حامِلاً ، وقَالَ : بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا .
فَأَتَى الأَعْمَى فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ ؟ قال : أَنْ يرُدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَري فَأُبْصِرَ النَّاسَ فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بصَرَهُ . قال : فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِليْكَ ؟ قال : الْغنمُ فَأُعْطِيَ شَاةً والِداً فَأَنْتجَ هذَانِ وَولَّدَ هَذا ، فكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ الإِبِلِ ، ولَهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَرِ ، وَلَهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَم .
ثُمَّ إِنَّهُ أتَى الأْبرص في صورَتِهِ وَهَيْئتِهِ ، فَقَالَ : رَجُلٌ مِسْكينٌ قدِ انقَطعتْ بِيَ الْحِبَالُ في سَفَرِي ، فَلا بَلاغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ باللَّهِ ثُمَّ بِكَ ، أَسْأَلُكَ بِالَّذي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ ، والْجِلْدَ الْحَسَنَ ، والْمَالَ ، بَعيِراً أَتبلَّغُ بِهِ في سفَرِي ، فقالَ : الحقُوقُ كَثِيرةٌ . فقال : كَأَنِّي أَعْرفُكُ أَلَمْ تَكُنْ أَبْرصَ يَقْذُرُكَ النَّاسُ ، فَقيراً ، فَأَعْطَاكَ اللَّهُ ، فقالَ : إِنَّما وَرثْتُ هَذا المالَ كَابراً عَنْ كابِرٍ ، فقالَ : إِنْ كُنْتَ كَاذِباً فَصَيَّركَ اللَّهُ إِلى مَا كُنْتَ .
وأَتَى الأَقْرَع في صورتهِ وهيئَتِهِ ، فَقَالَ لَهُ مِـثْلَ ما قَالَ لهذَا ، وَرَدَّ عَلَيْه مِثْلَ مَاردَّ هَذَّا ، فَقَالَ : إِنْ كُنْتَ كَاذِباً فَصَيّرَكَ اللهُ إِليَ مَاكُنْتَ .
وأَتَى الأَعْمَى في صُورتِهِ وهَيْئَتِهِ ، فقالَ : رَجُلٌ مِسْكينٌ وابْنُ سَبِيلٍ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ في سَفَرِي ، فَلا بَلاغَ لِيَ اليَوْمَ إِلاَّ بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ ، أَسْأَلُكَ بالَّذي رَدَّ عَلَيْكَ بصرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا في سَفَرِي ؟ فقالَ : قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصري ، فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدعْ مَا شِئْتَ فَوَاللَّهِ ما أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشْيءٍ أَخَذْتَهُ للَّهِ عزَّ وجلَّ . فقالَ : أَمْسِكْ مالَكَ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رضيَ اللَّهُ عنك ، وَسَخَطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ » متفقٌ عليه .
« وَالنَّاقةُ الْعُشَرَاءُ » بِضم العينِ وبالمدِّ : هِيَ الحامِلُ . قولُهُ : « أَنْتجَ » وفي روايةٍ : «فَنَتَجَ » معْنَاهُ : تَوَلَّى نِتَاجَهَا ، والنَّاتجُ للنَّاقةِ كالْقَابِلَةِ لَلْمَرْأَةِ . وقولُهُ: « ولَّدَ هَذا » هُوَ بِتشْدِيدِ اللام : أَيْ : تَولَّى وِلادَتهَا ، وهُوَ بمَعْنَى نَتَجَ في النَّاقَةِ . فالمْوَلِّدُ ، والناتجُ ، والقَابِلَةُ بمَعْنى ، لَكِنْ هَذا للْحَيَوانِ وذاكَ لِغَيْرِهِ . وقولُهُ : « انْقَطَعَتْ بِي الحِبالُ » هُوَ بالحاءِ المهملة والباءِ الموحدة : أَي الأَسْبَاب . وقولُه : « لا أَجهَدُكَ » معناهُ : لا أَشَقُّ عليْك في رَدِّ شَيْءٍ تَأْخُذُهُ أَوْ تَطْلُبُهُ مِنْ مَالِي . وفي رواية البخاري : « لا أَحْمَدُكَ » بالحاءِ المهملة والميمِ ، ومعناهُ : لا أَحْمَدُكَ بِتَرْك شَيْءٍ تَحتاجُ إِلَيْهِ ، كما قالُوا : لَيْسَ عَلَى طُولِ الحياةِ نَدَمٌ أَيْ عَلَى فَوَاتِ طُولِهَا .
Terjemahan
Keenam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa dia benar-benar mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil: seorang berpenyakit kusta, seorang botak, dan seorang buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengutus seorang malaikat kepada mereka. Malaikat itu mendatangi orang yang berpenyakit kusta dan bertanya: 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab: 'Warna kulit yang bagus, kulit yang bersih, dan hilang dariku penyakit yang membuat orang jijik kepadaku.' Malaikat itu lalu mengusapnya, dan seketika penyakitnya hilang, serta diberi kulit yang bagus dan bersih. Kemudian malaikat bertanya: 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab: 'Unta' (atau sapi, perawi ragu, tetapi antara si kusta dan si botak, yang satu menjawab unta dan yang lain sapi). Maka dia diberi seekor unta yang sedang bunting. Malaikat berkata: 'Semoga Allah memberkahi unta ini untukmu.'
Kemudian malaikat mendatangi si botak dan bertanya: 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab: 'Rambut yang indah, dan hilang dariku penyakit yang membuat orang jijik kepadaku.' Malaikat itu lalu mengusapnya, dan seketika penyakitnya hilang, serta diberi rambut yang indah. Kemudian malaikat bertanya: 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab: 'Sapi.' Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting. Malaikat berkata: 'Semoga Allah memberkahi sapi ini untukmu.'
Kemudian malaikat mendatangi si buta dan bertanya: 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab: 'Allah mengembalikan penglihatanku agar aku dapat melihat manusia.' Malaikat itu lalu mengusapnya, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Kemudian malaikat bertanya: 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab: 'Kambing.' Maka dia diberi seekor kambing yang sedang bunting.
Kedua orang pertama pun mengembangbiakkan unta dan sapinya hingga beranak pinak, sedangkan orang ketiga mengembangbiakkan kambingnya hingga beranak pinak pula. Orang pertama memiliki unta yang memenuhi satu lembah, orang kedua memiliki sapi yang memenuhi satu lembah, dan orang ketiga memiliki kambing yang memenuhi satu lembah.
Kemudian malaikat itu datang lagi...
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ujian Allah bisa berupa kekurangan fisik. Inti hikmahnya adalah bahwa kesyukuran dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah adalah kunci diterimanya doa dan pertolongan-Nya. Sebaliknya, kufur nikmat dengan mengklaim kepemilikan atas hasil usaha sendiri akan menghilangkan berkah yang telah diberikan. Kisah ini juga menunjukkan keutamaan bersedekah dan berbuat baik dengan harta yang dititipkan Allah.
Kemudian malaikat mendatangi si botak dan bertanya: 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab: 'Rambut yang indah, dan hilang dariku penyakit yang membuat orang jijik kepadaku.' Malaikat itu lalu mengusapnya, dan seketika penyakitnya hilang, serta diberi rambut yang indah. Kemudian malaikat bertanya: 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab: 'Sapi.' Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting. Malaikat berkata: 'Semoga Allah memberkahi sapi ini untukmu.'
Kemudian malaikat mendatangi si buta dan bertanya: 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab: 'Allah mengembalikan penglihatanku agar aku dapat melihat manusia.' Malaikat itu lalu mengusapnya, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Kemudian malaikat bertanya: 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab: 'Kambing.' Maka dia diberi seekor kambing yang sedang bunting.
Kedua orang pertama pun mengembangbiakkan unta dan sapinya hingga beranak pinak, sedangkan orang ketiga mengembangbiakkan kambingnya hingga beranak pinak pula. Orang pertama memiliki unta yang memenuhi satu lembah, orang kedua memiliki sapi yang memenuhi satu lembah, dan orang ketiga memiliki kambing yang memenuhi satu lembah.
Kemudian malaikat itu datang lagi...
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ujian Allah bisa berupa kekurangan fisik. Inti hikmahnya adalah bahwa kesyukuran dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah adalah kunci diterimanya doa dan pertolongan-Nya. Sebaliknya, kufur nikmat dengan mengklaim kepemilikan atas hasil usaha sendiri akan menghilangkan berkah yang telah diberikan. Kisah ini juga menunjukkan keutamaan bersedekah dan berbuat baik dengan harta yang dititipkan Allah.
# 12
السَّابِعُ : عَنْ أبي يَعْلَى شَدَّادِ بْن أَوْسٍ رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَه هَواهَا ، وتمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأماني » رواه التِّرْمِذيُّ وقالَ حديثٌ حَسَنٌ
قال التِّرْمذيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ : مَعْنَى « دَانَ نَفْسَه » : حَاسَبَهَا .
Terjemahan
Ketujuh: Dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah (tanpa beramal)." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukanlah dalam urusan dunia, tetapi dalam kesadaran akhirat. Orang cerdas (al-kais) adalah yang mampu mengintrospeksi diri (muhasabah) dan mengendalikan hawa nafsu untuk beramal saleh sebagai bekal setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah (al-'ajiz) membiarkan dirinya dikendalikan oleh keinginan rendah dan hanya berangan-ansi tanpa tindakan nyata, sehingga merugi di dunia dan akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukanlah dalam urusan dunia, tetapi dalam kesadaran akhirat. Orang cerdas (al-kais) adalah yang mampu mengintrospeksi diri (muhasabah) dan mengendalikan hawa nafsu untuk beramal saleh sebagai bekal setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah (al-'ajiz) membiarkan dirinya dikendalikan oleh keinginan rendah dan hanya berangan-ansi tanpa tindakan nyata, sehingga merugi di dunia dan akhirat.
# 13
الثَّامِنُ : عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّهُ عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيهِ » حديثٌ حسنٌ رواهُ التِّرْمذيُّ وغيرُهُ .
Terjemahan
Hadits ke-8: Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak penting (tidak bermanfaat)." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kesempurnaan iman seseorang diukur dari kemampuannya menjaga lisan dan perbuatan. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, baik dalam ucapan, pandangan, pikiran, atau tindakan, merupakan bukti kualitas Islam yang baik. Ini melatih disiplin diri, menghemat waktu dan tenaga untuk hal yang bernilai ibadah, serta mencegah dari dosa dan permusuhan. Dengan demikian, keislaman menjadi lebih berkah dan terjaga.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kesempurnaan iman seseorang diukur dari kemampuannya menjaga lisan dan perbuatan. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, baik dalam ucapan, pandangan, pikiran, atau tindakan, merupakan bukti kualitas Islam yang baik. Ini melatih disiplin diri, menghemat waktu dan tenaga untuk hal yang bernilai ibadah, serta mencegah dari dosa dan permusuhan. Dengan demikian, keislaman menjadi lebih berkah dan terjaga.
# 14
التَّاسعُ : عَنْ عُمَرَ رضي اللَّهُ عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا يُسْأَلُ الرَّجُلُ فيمَ ضَربَ امْرَأَتَهُ » رواه أبو داود وغيرُه .
Terjemahan
Hadits ke-9: Dari Umar رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak boleh ditanyakan kepada seorang suami tentang alasan mengapa dia memukul istrinya." (Karena terkadang alasannya adalah hal yang memalukan yang tidak ingin dia ceritakan kepada orang lain). (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip menjaga kehormatan dan privasi rumah tangga. Larangan menanyakan alasan suami memukul istri bertujuan mencegah tersebarnya aib keluarga dan hal-hal memalukan yang seharusnya ditutupi. Hikmahnya adalah mendorong penyelesaian masalah internal dengan bijak, bukan dengan mengumbar cela di publik. Namun, pemahaman ini harus disertai dengan pengertian bahwa memukul adalah langkah terakhir yang dibatasi syariat, bukan anjuran untuk kekerasan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip menjaga kehormatan dan privasi rumah tangga. Larangan menanyakan alasan suami memukul istri bertujuan mencegah tersebarnya aib keluarga dan hal-hal memalukan yang seharusnya ditutupi. Hikmahnya adalah mendorong penyelesaian masalah internal dengan bijak, bukan dengan mengumbar cela di publik. Namun, pemahaman ini harus disertai dengan pengertian bahwa memukul adalah langkah terakhir yang dibatasi syariat, bukan anjuran untuk kekerasan.