Kitab 1 · Bab 4
Keteguhan
✦ 9 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿ يا أيها الذين آمنوا اتقوا اللَّه، وكونوا مع الصادقين ﴾ .سورة التوبة(119)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.' (QS. At-Taubah: 119)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan dua hal yang saling berkaitan: pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Kedua, memilih dan menyertai orang-orang yang jujur (as-shadiqin) dalam perkataan, perbuatan, dan niat. Menyertai mereka akan melindungi iman, menguatkan amal shaleh, dan menuntun kepada kebenaran. Dengan demikian, ketakwaan mendorong untuk bergaul dengan orang-orang baik, dan pergaulan yang baik itu sendiri merupakan bentuk dan penjagaan ketakwaan.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan dua hal yang saling berkaitan: pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Kedua, memilih dan menyertai orang-orang yang jujur (as-shadiqin) dalam perkataan, perbuatan, dan niat. Menyertai mereka akan melindungi iman, menguatkan amal shaleh, dan menuntun kepada kebenaran. Dengan demikian, ketakwaan mendorong untuk bergaul dengan orang-orang baik, dan pergaulan yang baik itu sendiri merupakan bentuk dan penjagaan ketakwaan.
# 2
وقال تعالى : ﴿ والصادقين والصادقات ﴾سورة الأحزاب(35) .
Terjemahan
Allah berfirman: "Laki-laki dan perempuan yang benar..." (Surat Al-Ahzab: 35).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip kesetaraan dalam beramal dan meraih pahala di sisi Allah. Penyebutan "laki-laki dan perempuan yang benar" secara berpasangan menunjukkan bahwa keutamaan dan kedudukan mulia (sebagaimana disebut dalam kelanjutan ayat) terbuka bagi semua mukmin tanpa diskriminasi gender. Hikmahnya adalah bahwa kejujuran dan kebenaran dalam iman, perkataan, serta perbuatan merupakan fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mencapai derajat takwa.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip kesetaraan dalam beramal dan meraih pahala di sisi Allah. Penyebutan "laki-laki dan perempuan yang benar" secara berpasangan menunjukkan bahwa keutamaan dan kedudukan mulia (sebagaimana disebut dalam kelanjutan ayat) terbuka bagi semua mukmin tanpa diskriminasi gender. Hikmahnya adalah bahwa kejujuran dan kebenaran dalam iman, perkataan, serta perbuatan merupakan fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mencapai derajat takwa.
# 3
وقال تعالى: ﴿ فلو صدقوا اللَّه لكان خيرا لهم ﴾ .سورة محمد(21)
Terjemahan
Allah berfirman: "Jika mereka berlaku jujur kepada Allah, itu lebih baik bagi mereka." (Surat Muhammad: 21).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa kejujuran dan ketulusan iman kepada Allah adalah sumber kebaikan yang sejati. Sikap ini membawa ketenangan hati, kemuliaan di dunia, dan pahala di akhirat. Sebaliknya, sikap munafik dan dusta hanya akan merugikan diri sendiri, baik dalam kehidupan sosial maupun di hadapan Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa kejujuran dan ketulusan iman kepada Allah adalah sumber kebaikan yang sejati. Sikap ini membawa ketenangan hati, kemuliaan di dunia, dan pahala di akhirat. Sebaliknya, sikap munafik dan dusta hanya akan merugikan diri sendiri, baik dalam kehidupan sosial maupun di hadapan Allah.
# 4
فَالأَوَّلُ : عَن ابْنِ مَسْعُودٍ رضي اللَّه عنه عن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ ليصْدُقُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقاً ، وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفجُورِ وَإِنَّ الفجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً » متفقٌ عليه
Terjemahan
Pertama: Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa berusaha jujur, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur. Sedangkan dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta yang sangat besar." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kejujuran dan kedustaan bukan sekadar perbuatan biasa, melainkan jalan yang mengarah pada konsekuensi akhirat. Kebiasaan jujur akan mengantarkan pada kebaikan (al-birr) yang puncaknya adalah surga, dan dapat mengangkat derajat seseorang menjadi "shiddiq" di sisi Allah. Sebaliknya, kebiasaan dusta adalah jalan menuju keburukan (al-fujur) yang berujung pada neraka, serta menjerumuskan pelakunya menjadi "kadzdzab" (pendusta besar). Hadis ini mengajarkan untuk konsisten dalam kejujuran, karena kebiasaan akan membentuk identitas dan takdir akhir kita.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kejujuran dan kedustaan bukan sekadar perbuatan biasa, melainkan jalan yang mengarah pada konsekuensi akhirat. Kebiasaan jujur akan mengantarkan pada kebaikan (al-birr) yang puncaknya adalah surga, dan dapat mengangkat derajat seseorang menjadi "shiddiq" di sisi Allah. Sebaliknya, kebiasaan dusta adalah jalan menuju keburukan (al-fujur) yang berujung pada neraka, serta menjerumuskan pelakunya menjadi "kadzdzab" (pendusta besar). Hadis ini mengajarkan untuk konsisten dalam kejujuran, karena kebiasaan akan membentuk identitas dan takdir akhir kita.
# 5
الثَّاني : عَنْ أبي مُحَمَّدٍ الْحَسنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أبي طَالِبٍ ، رَضيَ اللَّهُ عَنْهما ، قَالَ حفِظْتُ مِنْ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « دَعْ ما يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَريبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ » رواه التِرْمذي وقال : حديثٌ صحيحٌ .
قَوْلُهُ : « يرِيبُكَ » هُوَ بفتحِ الياء وضَمِّها ، وَمَعْناهُ : اتْرُكْ ما تَشُكُّ في حِلِّه ، واعْدِلْ إِلى مَا لا تَشُكُّ فيه .
Terjemahan
Kedua: Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Aku hafal dari Rasulullah ﷺ: "Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu ketenangan, dan dusta itu keraguan." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits hasan shahih.
Ucapannya: "Yang meragukanmu" bisa dibaca dengan fathah atau dhammah pada huruf ya'. Maknanya: Tinggalkan apa yang kamu ragukan kehalalannya, dan beralihlah kepada apa yang tidak kamu ragukan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip kehati-hatian (wara') dalam kehidupan, terutama dalam hal halal dan haram. Intinya adalah meninggalkan perkara syubhat (meragukan) dan memilih perkara yang jelas kehalalannya. Dengan itu, hati akan tenang. Selain itu, hadis ini juga menegaskan bahwa kejujuran membawa ketenangan, sedangkan kebohongan justru menimbulkan kegelisahan dan keraguan.
Ucapannya: "Yang meragukanmu" bisa dibaca dengan fathah atau dhammah pada huruf ya'. Maknanya: Tinggalkan apa yang kamu ragukan kehalalannya, dan beralihlah kepada apa yang tidak kamu ragukan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip kehati-hatian (wara') dalam kehidupan, terutama dalam hal halal dan haram. Intinya adalah meninggalkan perkara syubhat (meragukan) dan memilih perkara yang jelas kehalalannya. Dengan itu, hati akan tenang. Selain itu, hadis ini juga menegaskan bahwa kejujuran membawa ketenangan, sedangkan kebohongan justru menimbulkan kegelisahan dan keraguan.
# 6
الثَّالثُ : عنْ أبي سُفْيانَ صَخْرِ بْنِ حَربٍ . رضيَ اللَّه عنه . في حديثِه الطَّويلِ في قِصَّةِ هِرقْلُ ، قَالَ هِرقْلُ : فَماذَا يَأْمُرُكُمْ يعْني النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: قُلْتُ : يقول « اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ لا تُشرِكُوا بِهِ شَيْئاً ، واتْرُكُوا ما يَقُولُ آباؤُكُمْ ، ويَأْمُرنَا بالصَّلاةِ والصِّدقِ ، والْعفَافِ ، والصِّلَةِ » . متفقٌ عليه.
Terjemahan
Ketiga: Dari Abu Sufyan bin Shahr bin Harb radhiyallahu 'anhu, dalam hadits panjangnya yang menceritakan tentang Raja Heraklius. Di dalamnya, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan: "Apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada kalian?" Abu Sufyan menjawab: Aku menjawab, beliau bersabda: "Sembahlah Allah semata, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian (jika bertentangan dengan syariat), dan beliau memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri (menjauhi perbuatan keji dan meminta-minta), dan menyambung tali silaturahmi." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan inti dakwah Nabi Muhammad ﷺ, yaitu mengajak manusia kepada tauhid yang murni dengan meninggalkan segala bentuk syirik dan tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Allah. Perintah shalat, kejujuran, menjaga kesucian diri, dan menyambung silaturahmi merupakan pondasi utama akhlak dan ibadah dalam Islam. Dialog dengan Heraklius menunjukkan bahwa pesan Islam bersifat universal, ditujukan untuk seluruh umat manusia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan inti dakwah Nabi Muhammad ﷺ, yaitu mengajak manusia kepada tauhid yang murni dengan meninggalkan segala bentuk syirik dan tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Allah. Perintah shalat, kejujuran, menjaga kesucian diri, dan menyambung silaturahmi merupakan pondasi utama akhlak dan ibadah dalam Islam. Dialog dengan Heraklius menunjukkan bahwa pesan Islam bersifat universal, ditujukan untuk seluruh umat manusia.
# 7
الرَّابِعُ : عَنْ أبي ثَابِتٍ ، وقِيلَ : أبي سعيدٍ ، وقِيلَ : أبي الْولِيدِ ، سَهْلِ بْنِ حُنيْفٍ ، وَهُوَ بدرِيٌّ ، رضي اللَّه عنه ، أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ سَأَلَ اللَّهَ ، تعالَى الشِّهَادَة بِصِدْقٍ بَلَّغهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهدَاء ، وإِنْ مَاتَ عَلَى فِراشِهِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Keempat: Dari Abu Syuraih, ada yang mengatakan Abu Sa'id, dan yang lain mengatakan Abu Al-Walid Sahl bin Hunaif dari kabilah Bani 'Amir radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh untuk mati syahid di jalan Allah, Allah akan mengangkat derajatnya (di surga) hingga mencapai derajat para syuhada, meskipun dia mati di atas tempat tidurnya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa nilai amal bergantung pada niat dan keikhlasan hati. Seseorang yang dengan tulus membulatkan tekad dan berdoa untuk meraih mati syahid, meskipun ia wafat secara wajar, dapat meraih kedudukan mulia sebagai syahid di sisi Allah. Ini menunjukkan kemurahan Allah dan pentingnya kesungguhan dalam berharap hanya kepada-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa nilai amal bergantung pada niat dan keikhlasan hati. Seseorang yang dengan tulus membulatkan tekad dan berdoa untuk meraih mati syahid, meskipun ia wafat secara wajar, dapat meraih kedudukan mulia sebagai syahid di sisi Allah. Ini menunjukkan kemurahan Allah dan pentingnya kesungguhan dalam berharap hanya kepada-Nya.
# 8
الخامِسُ : عَنْ أبي هُريْرة رضي اللَّهُ عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « غزا نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِياءِ صلواتُ اللَّه وسلامُهُ علَيهِمْ فَقَالَ لقوْمِهِ : لا يتْبعْني رَجُلٌ ملَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ. وَهُوَ يُرِيدُ أَن يَبْنِيَ بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِها ، ولا أَحدٌ بنَى بيُوتاً لَمْ يرفَع سُقوفَهَا ، ولا أَحَدٌ اشْتَرى غَنَماً أَوْ خَلَفَاتٍ وهُو يَنْتَظرُ أوْلادَهَا . فَغزَا فَدنَا مِنَ الْقَرْيةِ صلاةَ الْعصْرِ أَوْ قَريباً مِنْ ذلكَ ، فَقَال للشَّمس : إِنَّكِ مَأمُورةٌ وأَنا مأمُورٌ ، اللهمَّ احْبسْهَا علَينا ، فَحُبستْ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عليْهِ ، فَجَمَعَ الْغَنَائِم ، فَجاءَتْ يَعْنِي النَّارَ لتَأكُلهَا فَلَمْ تطْعمْهَا ، فقال: إِنَّ فِيكُمْ غُلُولاً، فليبايعنِي منْ كُلِّ قبِيلَةٍ رجُلٌ ، فلِزقتْ يدُ رَجُلٍ بِيدِهِ فَقَالَ : فِيكُم الْغُلولُ ، فليبايعنِي قبيلَتُك ، فلزقَتْ يدُ رجُليْنِ أو ثلاثَةٍ بِيَدِهِ فقَالَ : فِيكُمُ الْغُلُولُ ، فَجاءوا برَأْسٍ مِثْلِ رَأْس بَقَرَةٍ مِنْ الذَّهبِ ، فوضَعها فَجَاءَت النَّارُ فَأَكَلَتها ، فلمْ تَحل الْغَنَائِمُ لأحدٍ قَبلَنَا ، ثُمَّ أَحَلَّ اللَّهُ لَنا الغَنَائِمَ لمَّا رأَى ضَعفَنَا وعجزنَا فأحلَّها لنَا » متفقٌ عليه .
« الخلفاتُ » بفتح الخاءِ المعجمة وكسرِ اللامِ : جمْعُ خَلِفَةٍ ، وهِي النَّاقَةُ الحاملُ .
Terjemahan
Kelima: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada seorang Nabi di antara para Nabi (zaman dahulu) berangkat berperang. Beliau berkata kepada kaumnya: 'Jangan ada yang mengikutiku, seorang laki-laki yang baru menikahi seorang wanita dan ingin menyetubuhinya tetapi belum sempat, dan orang yang membangun rumah tetapi belum memasang atapnya, serta orang yang membeli kambing atau unta betina yang sedang bunting dan menunggu kelahirannya.' Kemudian beliau berangkat berperang. Ketika hampir tiba di perkampungan (musuh) pada waktu shalat Ashar atau mendekati waktu Ashar, beliau berkata kepada matahari: 'Sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah. Ya Allah, tahanlah ia (matahari) agar tidak terbenam.' Maka matahari pun ditahan perjalanannya hingga beliau meraih kemenangan. Kemudian beliau mengumpulkan harta rampasan perang. Lalu turunlah api untuk membakar harta rampasan itu, tetapi api itu tidak memakannya. Nabi itu berkata: 'Sesungguhnya di antara kalian ada yang berkhianat (mengambil harta rampasan tanpa izin).' Maka, setiap suku harus mengirimkan satu orang untuk bersumpah kepadaku. Ketika tangan seorang laki-lahan menyentuh tangan beliau, beliau berkata: 'Di antara kalian ada yang berkhianat.' Maka, suruhlah sukumu untuk bersumpah kepadaku. Lalu tangan dua atau tiga orang menyentuh tangan beliau, dan beliau berkata: 'Di antara kalian ada yang berkhianat.' Akhirnya mereka menemukan sebuah kepala berbentuk kepala sapi yang terbuat dari emas, lalu meletakkannya kembali ke dalam harta rampasan. Setelah itu, barulah api datang dan membakar harta rampasan tersebut. Harta rampasan tidak dihalalkan bagi umat sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkannya bagi kita karena melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip keadilan dan penghargaan terhadap hak-hak pribadi, bahkan dalam situasi penting seperti jihad. Nabi melarang tiga golongan ikut berperang karena mereka memiliki tanggung jawab dan hak yang belum terselesaikan, seperti memenuhi hak pasangan, menyempurnakan tempat tinggal, dan menunggu hasil usaha. Ini mengajarkan bahwa kewajiban sosial dan ibadah tidak boleh mengabaikan kewajiban personal yang sah dan mendesak.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip keadilan dan penghargaan terhadap hak-hak pribadi, bahkan dalam situasi penting seperti jihad. Nabi melarang tiga golongan ikut berperang karena mereka memiliki tanggung jawab dan hak yang belum terselesaikan, seperti memenuhi hak pasangan, menyempurnakan tempat tinggal, dan menunggu hasil usaha. Ini mengajarkan bahwa kewajiban sosial dan ibadah tidak boleh mengabaikan kewajiban personal yang sah dan mendesak.
# 9
السادِسُ : عن أبي خالدٍ حكيمِ بنِ حزَامٍ . رضِيَ اللَّهُ عنه ، قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الْبيِّعَان بالخِيارِ ما لم يَتفرَّقا ، فإِن صدقَا وبيَّنا بوُرِك لهُما في بَيعْهِما ، وإِن كَتَما وكذَبَا مُحِقَتْ بركةُ بيْعِهِما » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Keenam: Dari Abu Khalid Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Penjual dan pembeli masih memiliki hak pilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang) dengan benar, Allah akan memberkahi jual beli mereka. Tetapi jika mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat barang), Allah akan menghilangkan berkah dari jual beli mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip kejujuran dan transparansi dalam transaksi jual beli. Hak khiyar (memilih melanjutkan atau membatalkan) tetap berlaku selama kedua pihak belum berpisah. Keberkahan dalam usaha diperoleh melalui sikap jujur dan menjelaskan kondisi barang secara jelas, sementara dusta dan penyembunyian cacat akan menghapus keberkahan tersebut, meskipun transaksi secara hukum sah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip kejujuran dan transparansi dalam transaksi jual beli. Hak khiyar (memilih melanjutkan atau membatalkan) tetap berlaku selama kedua pihak belum berpisah. Keberkahan dalam usaha diperoleh melalui sikap jujur dan menjelaskan kondisi barang secara jelas, sementara dusta dan penyembunyian cacat akan menghapus keberkahan tersebut, meskipun transaksi secara hukum sah.