✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 3

Kesabaran

✦ 36 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿ يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ﴾ .سورة آل عمران(200)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (Ali 'Imran: 200).

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan tiga tingkatan ketahanan diri: sabar menghadapi ujian, saling menasihati dalam kesabaran (musābarah), dan selalu waspada menjaga keimanan serta batasan agama. Perintah ini diakhiri dengan perintah bertakwa, yang menunjukkan bahwa semua bentuk kesabaran dan kewaspadaan itu berlandaskan ketakwaan kepada Allah. Kombinasi inilah yang akan mengantarkan seorang mukmin kepada keberuntungan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

# 2
وقال تعالى : ﴿ ولنبلونكم بشيء مِنْ الخوف والجوع ونقص مِنْ الأموال والأنفس والثمرات، وبشر الصابرين ﴾ .سورة البقرة(155)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 155).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ujian berupa kesulitan adalah ketetapan Allah yang pasti terjadi dalam kehidupan. Kabar gembira dan janji kebaikan khusus Allah peruntukkan bagi orang-orang yang sabar, yaitu yang tetap teguh dan istiqamah dalam ketaatan ketika menghadapi cobaan. Dengan demikian, kesabaran menjadi kunci meraih keberuntungan dan rahmat Ilahi di balik setiap ujian.

# 3
وقال تعالى : ﴿ إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب ﴾ .سورة الزمر(10)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (Az-Zumar: 10).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keutamaan sabar yang luar biasa. Pahala orang yang sabar tidak dihitung secara terbatas, melainkan dilipatgandakan oleh Allah tanpa batas. Ini mencakup sabar dalam menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang terasa berat. Janji ini menjadi motivasi kuat untuk tetap teguh dan tabah dalam segala ujian kehidupan.

# 4
وقال تعالى: ﴿ ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور ﴾ .سورة الشورى(43)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan sesungguhnya barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Asy-Syura: 43).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia yang harus diwujudkan saat menghadapi kesulitan atau kezaliman orang lain, yaitu sabar dan memaafkan. Menahan diri dari balas dendam dan memberi maaf adalah tindakan yang memerlukan keteguhan hati yang kuat. Allah menyifati perbuatan ini sebagai "urusan yang besar" atau tekad yang kokoh, menunjukkan kedudukannya yang agung dalam Islam. Dengan demikian, kombinasi sabar dan memaafkan adalah jalan menuju keluhuran jiwa dan kemuliaan derajat di sisi Allah.

# 5
وقال تعالى: ﴿ استعينوا بالصبر والصلاة إن اللَّه مع الصابرين ﴾ .سورة البقرة(153)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (Al-Baqarah: 153).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa solusi utama dalam menghadapi segala kesulitan hidup adalah dengan bersabar dan menegakkan shalat. Sabar adalah keteguhan hati, sedangkan shalat adalah penghubung langsung kepada Allah. Kombinasi keduanya menunjukkan bahwa pertolongan Allah diperoleh melalui ketabahan hati dan penguatan spiritual. Hanya orang yang khusyuk dalam shalatnya yang akan merasakan kemudahan dan kekuatan dari ibadah tersebut.

# 6
وقال تعالى: ﴿ ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين مِنْكم والصابرين ﴾ .سورة محمد(31)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu." (Muhammad: 31).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ujian dari Allah adalah sunnatullah dan bertujuan untuk memisahkan antara pengakuan dan realita keimanan. Ujian bukanlah untuk memberitahu Allah (karena Dia Maha Mengetahui), tetapi untuk menampakkan hakikat keimanan, jihad, dan kesabaran seorang hamba secara nyata. Hikmahnya adalah agar manusia mengetahui kadar dirinya dan menyadari bahwa jalan menuju keridhaan Allah harus ditempuh dengan keteguhan dalam berjuang dan sabar menghadapi cobaan.

# 7
والآيات في الأمر بالصبر وبيان فضله كثيرة معروفة.
Terjemahan
Ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan penjelasan tentang manfaatnya sangat banyak yang telah diketahui.

Penjelasan singkat: Perintah untuk bersabar dan keutamaan sabar merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam Al-Qur'an, sebagaimana diisyaratkan dalam teks ini. Banyaknya ayat yang membahasnya menunjukkan bahwa kesabaran adalah fondasi penting dalam keimanan dan ketakwaan seorang muslim. Oleh karena itu, seorang muslim harus senantiasa berusaha melatih dan mengamalkan kesabaran dalam menghadapi segala ujian kehidupan.

# 8
وعن أبي مَالِكٍ الْحَارِثِ بْنِ عَاصِم الأشْعريِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَان ، وَالْحَمْدُ للَّه تَمْلأَ الْميزانَ وسُبْحَانَ الله والحَمْدُ للَّه تَمْلآنِ أَوْ تَمْلأ مَا بَيْنَ السَّموَات وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةِ نورٌ ، والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ ، والْقُرْآنُ حُجَّةُ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاس يَغْدُو، فَبِائِعٌ نَفْسَهُ فمُعْتِقُها ، أَوْ مُوبِقُهَا» رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Malik Al-Harits bin 'Asim Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersuci adalah separuh iman, ucapan 'Alhamdulillah' memenuhi timbangan, ucapan 'Subhanallah wal hamdulillah' memenuhi (atau mengisi) apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti (iman), kesabaran adalah sinar, dan Al-Qur'an adalah hujjah (bukti) untukmu atau terhadapmu. Setiap orang pergi di waktu pagi, ada yang menjual dirinya (dengan amal baik) lalu membebaskannya dari neraka, dan ada yang menghancurkan dirinya (dengan amal buruk) lalu memasukkannya ke dalam neraka." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan keutamaan berbagai amalan: bersuci, dzikir, shalat, sedekah, sabar, dan membaca Al-Qur'an. Setiap hari, manusia memilih antara amal yang menyelamatkan atau yang mencelakakan dirinya.

# 9
وَعَنْ أبي سَعيدٍ بْن مَالِك بْن سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ نَاساً مِنَ الأنصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فأَعْطاهُم ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ، حَتَّى نَفِد مَا عِنْدَهُ ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ أَنَفَقَ كُلَّ شَيْءٍ بِيَدِهِ : « مَا يَكُنْ مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أدَّخِرَهُ عَنْكُمْ ، وَمَنْ يسْتعْفِفْ يُعِفَّهُ الله وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ . وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sekelompok orang Anshar meminta (sedekah) kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberi mereka. Kemudian mereka meminta lagi, dan beliau pun memberi mereka lagi, hingga habislah apa yang beliau miliki. Setelah beliau memberikan semua yang beliau miliki, beliau bersabda: "Kebaikan apa pun yang ada padaku, tidak akan aku sembunyikan dari kalian. Barangsiapa yang menahan diri (tidak meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dari kebutuhan untuk meminta. Barangsiapa yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, maka Allah akan memberinya kecukupan. Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan memberinya kesabaran. Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan keutamaan tidak meminta-minta, merasa cukup dengan rezeki Allah, dan berusaha untuk sabar. Kesabaran adalah karunia Allah yang terbaik bagi seorang hamba.

# 10
وَعَنْ أبي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن : إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ » رواه مسلم
Terjemahan
Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik, dan ini tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur (maka itu baik baginya). Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar (maka itu juga baik baginya)." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Kehidupan seorang mukmin selalu baik. Saat senang, ia bersyukur dan mendapat pahala. Saat susah, ia bersabar dan juga mendapat pahala. Jadi, apapun keadaannya selalu membawa kebaikan.

# 11
وعنْ أَنسٍ رضِيَ الله عنْهُ قَالَ : لمَّا ثقُلَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جَعَلَ يتغشَّاهُ الكرْبُ فقَالتْ فاطِمَةُ رَضِيَ الله عنْهَا : واكَرْبَ أبَتَاهُ ، فَقَالَ : « ليْسَ عَلَى أبيك كرْبٌ بعْدَ اليَوْمِ » فلمَّا مَاتَ قالَتْ : يَا أبتَاهُ أَجَابَ ربّاً دعَاهُ ، يا أبتَاهُ جنَّةُ الفِرْدَوْسِ مأوَاهُ ، يَا أَبَتَاهُ إِلَى جبْريلَ نْنعَاهُ ، فلَمَّا دُفنَ قالتْ فاطِمَةُ رَضِيَ الله عَنهَا : أطَابتْ أنفسُكُمْ أَنْ تَحْثُوا عَلَى رسُول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم التُّرابَ ؟ روَاهُ البُخاريُّ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika penyakit Nabi ﷺ semakin parah hingga hampir membuat beliau pingsan, Fatimah radhiyallahu 'anha berkata: "Alangkah beratnya penderitaan ayahku!" Lalu beliau bersabda: "Tidak ada lagi penderitaan bagi ayahmu setelah hari ini." Ketika beliau wafat, Fatimah berkata: "Wahai ayahku, engkau telah menjawab panggilan Rabbmu. Wahai ayahku, surga Firdaus adalah tempat tinggalmu. Wahai ayahku, kami menyampaikan berita duka atas wafatmu kepada Jibril." Ketika jasad beliau dikubur, Fatimah berkata: "Apakah kalian tega hati melemparkan tanah ke atas (jasad) Rasulullah?" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan detik-detik wafatnya Rasulullah ﷺ dan kesedihan putri beliau, Fatimah. Sabda beliau menegaskan bahwa penderitaan dunia telah berakhir dan beliau akan menempati surga Firdaus.

# 12
وعنْ أبي زيْد أُسامَة بن زيد حَارثَةَ موْلَى رسُول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وحبَّهِ وابْنِ حبِّهِ رضـِيَ الله عنهُمَا ، قالَ : أَرْسلَتْ بنْتُ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : إنَّ ابْنِي قَدِ احتُضِرَ فاشْهدْنَا ، فأَرسَلَ يقْرِئُ السَّلامَ ويَقُول : « إن للَّه مَا أَخَذَ ، ولهُ مَا أعْطَى ، وكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بأجَلٍ مُسمَّى ، فلتصْبِر ولتحْتسبْ » فأرسَلَتْ إِليْهِ تُقْسمُ عَلَيْهِ ليأْتينَّها. فَقَامَ وَمَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبادَةَ، وَمُعَاذُ ابْنُ جَبَلٍ ، وَأُبَيُّ بْنَ كَعْبٍ ، وَزَيْدُ بْنِ ثاَبِتٍ ، وَرِجَالٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ، فَرُفِعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم الصبيُّ ، فأقعَدَهُ في حِجْرِهِ ونَفْسُهُ تَقعْقعُ ، فَفَاضتْ عَيْناهُ ، فقالَ سعْدٌ : يَا رسُولَ الله مَا هَذَا ؟ فقالَ: « هَذِهِ رَحْمةٌ جعلَهَا اللَّهُ تعَلَى في قُلُوبِ عِبَادِهِ » وفي روِايةٍ : « في قُلُوبِ منْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ منْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَمَعْنَى « تَقَعْقَعُ » : تَتحَرَّكُ وتَضْطَربُ .
Terjemahan
Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu, seorang pembantu Rasulullah ﷺ yang beliau cintai, dan anak dari orang yang beliau cintai, ia berkata: Putri Nabi mengirim seseorang kepada beliau, berkata: "Anak lelakiku sedang sekarat, datanglah kepada kami." Beliau mengirim seseorang untuk menyampaikan salam dan bersabda: "Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia berikan. Segala sesuatu telah ditentukan ajalnya. Hendaklah dia bersabar dan mengharap pahala (dari Allah)." Putri beliau mengirim utusan sekali lagi, bersumpah bahwa beliau harus datang. Maka beliau pun berangkat, bersama Sa'ad bin 'Ubadah, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Haritsah, dan beberapa orang lainnya. (Sesampainya di sana) anak itu diangkat dan diberikan kepada beliau. Beliau memangku anak itu di pangkuannya, sementara anak itu sedang kejang-kejang (sekarat). Air mata beliau pun berlinang. Sa'ad bertanya: "Wahai Rasulullah, apa ini?" Beliau menjawab: "Ini adalah rahmat yang Allah jadikan dalam hati hamba-hamba-Nya." Dalam satu riwayat: "Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan bahwa menangis karena kasih sayang adalah wajar dan merupakan bagian dari rahmat Allah. Rasulullah pun menangis saat melihat cucunya sekarat, namun tetap mengingatkan untuk bersabar dan mengharap pahala.

# 13
وَعَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « كَانَ مَلِكٌ فيِمَنْ كَانَ قبْلَكُمْ، وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ ، فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِك : إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابعَثْ إِلَيَّ غُلاَماً أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ ، فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلاَماً يعَلِّمُهُ ، وَكَانَ في طَريقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ، فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلاَمهُ فأَعْجَبهُ ، وَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بالرَّاهِب وَقَعَدَ إِلَيْه ، فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ ، فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فقال : إِذَا خَشِيتَ السَّاحِر فَقُلْ : حبَسَنِي أَهْلي ، وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ: حَبَسَنِي السَّاحرُ . فَبيْنَمَا هُو عَلَى ذَلِكَ إذْ أتَى عَلَى دابَّةٍ عظِيمَة قدْ حَبَسَت النَّاس فقال : اليوْمَ أعْلَمُ السَّاحِرُ أفْضَل أم الرَّاهبُ أفْضلَ ؟ فأخَذَ حجَراً فقالَ : اللهُمَّ إنْ كان أمْرُ الرَّاهب أحَبَّ إلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فاقتُلْ هَذِهِ الدَّابَّة حتَّى يمْضِيَ النَّاسُ ، فرَماها فقتَلَها ومَضى النَّاسُ، فأتَى الرَّاهب فأخبَرهُ . فقال لهُ الرَّاهبُ : أىْ بُنيَّ أَنْتَ اليوْمَ أفْضلُ منِّي ، قدْ بلَغَ مِنْ أمْركَ مَا أَرَى ، وإِنَّكَ ستُبْتَلَى ، فإنِ ابْتُليتَ فَلاَ تدُلَّ عليَّ ، وكانَ الغُلامُ يبْرئُ الأكْمةَ والأبرصَ ، ويدَاوي النَّاس مِنْ سائِرِ الأدوَاءِ . فَسَمعَ جلِيسٌ للملِكِ كانَ قدْ عمِىَ، فأتَاهُ بهداياَ كثيرَةٍ فقال : ما ههُنَا لك أجْمَعُ إنْ أنْتَ شفَيْتني ، فقال إنِّي لا أشفِي أحَداً، إِنَّمَا يشْفِي الله تعَالى، فإنْ آمنْتَ بِاللَّهِ تعَالَى دعوْتُ الله فشَفاكَ ، فآمَنَ باللَّه تعَالى فشفَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ، فأتَى المَلِكَ فجَلَس إليْهِ كما كانَ يجْلِسُ فقالَ لَهُ المَلكُ : منْ ردَّ علَيْك بصَرك؟ قال : ربِّي . قَالَ: ولكَ ربٌّ غيْرِي ؟، قَالَ : رَبِّي وربُّكَ الله ، فأَخَذَهُ فلَمْ يزلْ يُعذِّبُهُ حتَّى دلَّ عَلَى الغُلاَمِ فجئَ بِالغُلاَمِ ، فقال لهُ المَلكُ : أىْ بُنَيَّ قدْ بَلَغَ منْ سِحْرِك مَا تبْرئُ الأكمَهَ والأبرَصَ وتَفْعلُ وَتفْعَلُ فقالَ : إِنَّي لا أشْفي أَحَداً ، إنَّما يشْفي الله تَعَالَى، فأخَذَهُ فَلَمْ يزَلْ يعذِّبُهُ حتَّى دلَّ عَلَى الرَّاهبِ ، فجِئ بالرَّاهِبِ فقيل لَهُ : ارجَعْ عنْ دِينكَ، فأبَى ، فدَعا بالمنْشَار فوُضِع المنْشَارُ في مفْرقِ رأْسِهِ، فشقَّهُ حتَّى وقَعَ شقَّاهُ ، ثُمَّ جِئ بجَلِيسِ المَلكِ فقِلَ لَهُ : ارجِعْ عنْ دينِكَ فأبَى ، فوُضِعَ المنْشَارُ في مفْرِقِ رَأسِهِ ، فشقَّهُ به حتَّى وقَع شقَّاهُ ، ثُمَّ جئ بالغُلامِ فقِيل لَهُ : ارجِعْ عنْ دينِكَ ، فأبَى ، فدَفعَهُ إِلَى نَفَرٍ منْ أصْحابِهِ فقال : اذهبُوا بِهِ إِلَى جبَلِ كَذَا وكذَا فاصعدُوا بِهِ الجبلَ ، فـإذَا بلغتُمْ ذروتهُ فإنْ رجعَ عنْ دينِهِ وإِلاَّ فاطرَحوهُ فذهبُوا به فصعدُوا بهِ الجَبَل فقال : اللَّهُمَّ اكفنِيهمْ بمَا شئْت ، فرجَف بِهمُ الجَبَلُ فسَقطُوا ، وجَاءَ يمْشي إِلَى المَلِكِ ، فقالَ لَهُ المَلكُ : ما فَعَلَ أَصحَابكَ ؟ فقالَ : كفانيهِمُ الله تعالَى ، فدفعَهُ إِلَى نَفَرَ منْ أصْحَابِهِ فقال : اذهبُوا بِهِ فاحملُوه في قُرقُور وَتَوسَّطُوا بِهِ البحْرَ ، فإنْ رَجَعَ عنْ دينِهِ وإلاَّ فَاقْذفُوهُ ، فذَهبُوا بِهِ فقال : اللَّهُمَّ اكفنِيهمْ بمَا شِئْت ، فانكَفَأَتْ بِهِمُ السَّفينةُ فغرِقوا ، وجَاءَ يمْشِي إِلَى المَلِك . فقالَ لَهُ الملِكُ : ما فَعَلَ أَصحَابكَ ؟ فقال : كفانِيهمُ الله تعالَى . فقالَ للمَلِكِ إنَّك لسْتَ بقَاتِلِي حتَّى تفْعلَ ما آمُركَ بِهِ . قال : ما هُوَ ؟ قال : تجْمَعُ النَّاس في صَعيدٍ واحدٍ ، وتصلُبُني عَلَى جذْعٍ ، ثُمَّ خُذ سهْماً مِنْ كنَانتِي ، ثُمَّ ضعِ السَّهْمِ في كَبدِ القَوْسِ ثُمَّ قُل : بسْمِ اللَّهِ ربِّ الغُلاَمِ ثُمَّ ارمِنِي ، فإنَّكَ إذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتنِي . فجَمَع النَّاس في صَعيدٍ واحِدٍ ، وصلَبَهُ عَلَى جذْعٍ ، ثُمَّ أَخَذَ سهْماً منْ كنَانَتِهِ ، ثُمَّ وضَعَ السَّهمَ في كبِدِ القَوْسِ، ثُمَّ قَالَ : بِسْم اللَّهِ رَبِّ الغُلامِ ، ثُمَّ رمَاهُ فَوقَعَ السَّهمُ في صُدْغِهِ ، فَوضَعَ يدَهُ في صُدْغِهِ فمَاتَ . فقَالَ النَّاسُ : آمَنَّا بِرَبِّ الغُلاَمِ ، فَأُتِىَ المَلكُ فَقِيلُ لَهُ : أَرَأَيْت ما كُنْت تحْذَر قَدْ وَاللَّه نَزَلَ بِك حَذرُكَ . قدْ آمنَ النَّاسُ . فأَمَرَ بِالأخدُودِ بأفْوَاهِ السِّكك فخُدَّتَ وَأضْرِمَ فِيها النيرانُ وقالَ : مَنْ لَمْ يرْجَعْ عنْ دينِهِ فأقْحمُوهُ فِيهَا أوْ قيلَ لَهُ : اقْتَحمْ ، ففعَلُوا حتَّى جَاءتِ امرَأَةٌ ومعَهَا صَبِيٌّ لهَا ، فَتقَاعَسَت أنْ تَقعَ فِيهَا ، فقال لَهَا الغُلاَمُ : يا أمَّاهْ اصبِرِي فَإِنَّكَ عَلَي الحَقِّ » روَاهُ مُسْلَمٌ . « ذرْوةُ الجَبلِ » : أعْلاهُ ، وَهي بكَسْر الذَّال المعْجمَة وضمها و « القُرْقورُ » بضَمِّ القَافَيْن : نوْعٌ منْ السُّفُن و « الصَّعِيدُ » هُنا : الأرضُ البارزَةُ و «الأخْدُودُ»: الشُّقوقُ في الأرْضِ كالنَّهْرِ الصَّغيرِ و « أُضرِمَ » أوقدَ « وانكفَأَت» أي : انقلبَتْ و « تقاعسَت » توقَّفتْ وجبُنتْ .
Terjemahan
Dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dahulu sebelum kalian ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah tua, ia berkata kepada raja: 'Aku sudah tua, utuslah seorang pemuda kepadaku agar aku ajari sihir.' Raja pun mengutus seorang pemuda untuk belajar sihir darinya. Di perjalanan menuju tukang sihir, pemuda itu bertemu dengan seorang rahib. Ia duduk mendengarkan perkataan rahib itu dan tertarik. Setiap kali pergi ke tukang sihir, ia selalu melewati rahib itu dan duduk mendengarkannya. Ketika ia datang kepada tukang sihir, ia dipukul (karena terlambat). Ia pun menceritakan hal ini kepada rahib. Rahib berkata: 'Jika kamu takut pada tukang sihir, katakan: 'Keluargaku yang menahanku.' Jika kamu takut pada keluargamu, katakan: 'Tukang sihir yang menahanku.' Suatu hari, di jalan ia dihadang oleh seekor binatang buas yang besar. Ia berkata: 'Hari ini aku akan tahu, siapa yang lebih utama, tukang sihir atau rahib?' Ia mengambil sebuah batu dan berdoa: 'Ya Allah, jika urusan rahib lebih Engkau sukai daripada urusan tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia melemparkan batu itu dan membunuh binatang itu. Orang-orang pun bisa lewat. Ia datang kepada rahib dan menceritakannya. Rahib berkata: 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih utama dariku. Urusanmu telah mencapai tingkat yang aku yakini bahwa engkau akan diuji. Jika engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan diriku.' Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta, penderita kusta, dan menyembuhkan orang dari berbagai penyakit. Seorang pejabat dekat raja yang buta mendengar hal ini. Ia membawa banyak hadiah untuk pemuda itu dan berkata: 'Semua ini untukmu jika kamu bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu menjawab: 'Aku tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah-lah yang menyembuhkan.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan berlanjut).

Penjelasan singkat: Hadits yang panjang ini menceritakan kisah pemuda beriman di zaman dahulu yang diberi mukjizat oleh Allah. Intinya mengajarkan tauhid, bahwa hanya Allah yang menyembuhkan, serta kesabaran dalam menghadapi ujian.

# 14
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَال : «اتَّقِي الله وَاصْبِرِي » فَقَالَتْ : إِلَيْكَ عَنِّي ، فَإِنِّكَ لَمْ تُصَبْ بمُصِيبتى، وَلَمْ تعْرفْهُ ، فَقيلَ لَها : إِنَّه النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَتتْ بَابَ النَّبِّي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فلَمْ تَجِد عِنْدَهُ بَوَّابينَ ، فَقالتْ : لَمْ أَعْرِفْكَ ، فقالَ : « إِنَّما الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأولَى » متفقٌ عليه. وفي رواية لمُسْلمٍ : « تَبْكِي عَلَى صَبيٍّ لَهَا » .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ berjalan dan menjumpai seorang wanita yang sedang menangis di samping sebuah kuburan. Beliau bersabda: "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah." Wanita itu menjawab: "Menjauhlah dariku! Engkau tidak mengalami musibah seperti yang kualami." Wanita itu tidak mengenali beliau. Kemudian ada yang memberitahunya bahwa itu adalah Nabi. Ia pun mendatangi pintu rumah Nabi, dan saat itu tidak ada penjaga pintu bersama beliau. Ia berkata: "Aku tidak mengenalimu." Beliau bersabda: "Sesungguhnya kesabaran itu (harus dilakukan) pada saat pertama kali musibah menimpa." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Wanita itu menangis karena kematian anak lelakinya."

Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan bahwa kesabaran yang sejati ditunjukkan segera saat musibah pertama kali datang, bukan setelah berlalu. Rasulullah mengajarkan untuk segera mengingat Allah dan bersabar.

# 15
وَعَنْ أبي هَرَيرَةَ رَضي اللَّه عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « يَقولُ اللَّهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبهُ إِلاَّ الجَنَّة » رواه البخاري
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah berfirman: 'Aku tidak memiliki balasan bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mengambil nyawa kekasihnya dari penduduk dunia, lalu ia bersabar dan mengharap pahala dari-Ku, selain surga.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadits Qudsi ini menjanjikan surga bagi orang beriman yang kehilangan orang yang dicintainya, lalu ia bersabar dan mengharap pahala hanya dari Allah.

# 16
وعَنْ عائشَةَ رضي اللَّهُ عنها أنَهَا سَأَلَتْ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَن الطَّاعونِ ، فَأَخبَرَهَا أَنَهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللَّه تعالى عَلَى منْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ تعالَى رحْمةً للْمُؤْمنِينَ ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ في الطَّاعُون فَيَمْكُثُ في بلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang wabah tha'un (wabah mematikan seperti pes, kolera, dll). Beliau bersabda: "Tha'un adalah azab yang Allah timpakan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka barangsiapa yang tertimpa tha'un, lalu ia tetap tinggal di negerinya (tidak keluar karena khawatir menulari orang lain) dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah, serta mengetahui bahwa musibah yang menimpanya telah ditetapkan Allah baginya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan sikap seorang muslim saat terjadi wabah. Ia harus sabar, tetap di tempat, mengharap pahala, dan yakin itu adalah takdir Allah. Jika dilakukan, pahalanya setara dengan syahid.

# 17
وعَنْ أَنسٍ رضي اللَّه عنه قال : سَمِعْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : « إنَّ اللَّه عَزَّ وجَلَّ قَالَ : إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبدِي بحبيبتَيْهِ فَصبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجنَّةَ » يُريدُ عينيْه ، رواه البخاريُّ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan mencabut penglihatan kedua matanya, lalu ia bersabar, maka Aku akan menggantikan keduanya untuknya dengan surga.'" Yang dimaksud adalah kedua matanya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keagungan balasan bagi hamba yang sabar menghadapi ujian kehilangan penglihatan. Allah secara langsung menjanjikan surga sebagai pengganti dari musibah kehilangan kedua mata di dunia. Ini menunjukkan betapa tinggi nilai kesabaran dalam Islam, terutama ketika diuji pada hal yang sangat dicintai. Janji ini menjadi motivasi kuat untuk tetap ridha dan tabah dalam menghadapi cobaan berat.

# 18
وعنْ عطاءِ بْن أَبي رَباحٍ قالَ : قالَ لِي ابْنُ عبَّاسٍ رضي اللَّهُ عنهُمَا ألا أريكَ امْرَأَةً مِن أَهْلِ الجَنَّة ؟ فَقُلت : بلَى ، قَالَ : هذِهِ المْرأَةُ السوْداءُ أَتَتِ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقالَتْ : إِنِّي أُصْرَعُ ، وإِنِّي أَتكَشَّفُ ، فَادْعُ اللَّه تعالى لِي قَالَ : « إِن شئْتِ صَبَرْتِ ولكِ الْجنَّةُ، وإِنْ شِئْتِ دعَوْتُ اللَّه تَعالَى أَنْ يُعافِيَكِ » فقَالتْ : أَصْبرُ ، فَقالت : إِنِّي أَتَكشَّفُ ، فَادْعُ اللَّه أَنْ لا أَتكشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا . متَّفقٌ عليْهِ .
Terjemahan
Dari 'Atak bin Abu Rabah radhiyallahu 'anhu, bahwa Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bertanya kepadaku: "Apakah kamu ingin aku tunjukkan seorang wanita dari penghuni surga?" Aku menjawab: "Ya, ingin." Dia berkata: "Wanita berkulit hitam ini pernah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'Aku menderita penyakit ayan (epilepsi), dan (setiap kali kambuh) aku sering menyingkap auratku. Oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar aku sembuh.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika kamu bersabar, kamu akan masuk surga. Tetapi jika kamu tidak mau, aku akan memohon kepada Allah agar kamu sembuh.' Wanita itu berkata: 'Aku akan bersabar, tetapi (setiap kali kambuh) aku menyingkap auratku. Oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar aku tidak menyingkap auratku.' Maka beliau pun berdoa untuknya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan tentang keutamaan sabar dalam menghadapi musibah dan penyakit. Seorang wanita yang menderita penyakit berat dijanjikan surga jika ia bersabar. Ini menunjukkan betapa Allah menghargai kesabaran hamba-Nya dan bahwa musibah bisa menjadi penghapus dosa serta jalan menuju surga.

# 19
وعنْ أَبي عبْدِ الرَّحْمنِ عبْدِ اللَّه بنِ مسْعُودٍ رضيَ اللَّه عنه قَال : كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يحْكيِ نَبيّاً من الأَنْبِياءِ ، صلواتُ اللَّهِ وسَلاَمُهُ عَليْهم ، ضَرَبُهُ قَوْمُهُ فَأَدْمـوْهُ وهُو يمْسحُ الدَّم عنْ وجْهِهِ ، يقُولُ : « اللَّهمَّ اغْفِرْ لِقَوْمي فإِنَّهُمْ لا يعْلمُونَ » متفقٌ عَلَيْه .
Terjemahan
Dari Abu 'Abdurrahman 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, berkata: "Aku (mengingat dengan jelas) seolah-olah aku sedang melihat Rasulullah ﷺ ketika beliau menceritakan tentang seorang nabi di antara para nabi: 'Kaumnya memukulnya hingga berdarah. Dia lalu mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa kepada Allah: 'Ya Allah! Ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.'"
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menceritakan keteladanan seorang nabi yang sangat penyayang dan pemaaf. Meskipun disakiti oleh kaumnya sendiri, dia justru mendoakan ampunan untuk mereka karena ketidaktahuan mereka. Ini adalah contoh akhlak mulia dalam menghadapi permusuhan dan kebodohan.

# 20
َعنْ أَبي سَعيدٍ وأَبي هُرَيْرة رضي اللَّه عَنْهُمَا عن النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَا مِنْ خطَايَاه » متفقٌ عليه . و « الْوَصَب » : الْمرضُ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik berupa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, bahaya, dan kesusahan lainnya, bahkan duri yang menusuknya, semuanya merupakan sebab dihapusnya dosa-dosanya oleh Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini memberikan penghiburan dan motivasi bagi orang beriman. Setiap kesulitan, penyakit, atau gangguan kecil yang dialami seorang muslim, jika dihadapi dengan sabar dan iman, akan menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosanya. Tidak ada musibah yang sia-sia bagi seorang mukmin.

# 21
وعن ابْن مسْعُود رضي اللَّه عنه قَالَ : دَخلْتُ عَلى النَبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهُو يُوعَكُ فَقُلْتُ يا رسُولَ اللَّه إِنَّكَ تُوعكُ وَعْكاً شَدِيداً قال : « أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلانِ مِنْكُم» قُلْتُ : ذلك أَنَّ لَكَ أَجْريْن ؟ قال : « أَجَلْ ذَلك كَذَلك مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى ، شوْكَةٌ فَمَا فوْقَهَا إلاَّ كَفَّر اللَّه بهَا سيئاته ، وَحطَّتْ عنْهُ ذُنُوبُهُ كَمَا تَحُطُّ الشَّجرةُ وَرقَهَا » متفقٌ عليه. وَ « الْوَعْكُ » : مَغْثُ الحمَّى ، وقيل : الْحُمى .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, berkata: "Aku menjenguk Nabi ﷺ ketika beliau sedang menderita demam. Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, sungguh engkau sedang menderita demam yang sangat tinggi.' Beliau bersabda: 'Benar, dan sesungguhnya aku menderita demam seperti demamnya dua orang dari kalian.' Aku (Ibnu Mas'ud) berkata: 'Itu berarti engkau akan mendapatkan pahala dua kali lipat, bukan?' Beliau menjawab: 'Benar, memang seperti itu. Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah berupa tusukan duri atau yang lebih besar dari itu, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya, dan dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun-daun berguguran dari pohonnya.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan kembali bahwa musibah dan penderitaan adalah pembersih dosa. Bahkan Rasulullah ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) pun diberi ujian yang lebih berat, yang menunjukkan tingkat pahala yang lebih besar. Setiap kesulitan yang dihadapi dengan sabar akan menggugurkan dosa-dosa.

# 22
وعنْ أَبي هُرَيرة رضيَ اللَّهُ عنه قال : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ » : رواه البخاري . وضَبطُوا « يُصِب » : بفَتْحِ الصَّادِ وكَسْرِهَا
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya cobaan dengan berbagai kesulitan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan hikmah di balik cobaan. Cobaan bukanlah tanda murka Allah, tetapi bisa menjadi tanda kasih sayang-Nya. Allah menguji hamba yang Dia cintai untuk mengangkat derajatnya, membersihkan dosanya, dan menguji kesabaran serta keimanannya.

# 23
وعَنْ أَنَسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يتَمنينَّ أَحدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ ، فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فاعلاً فليقُل : اللَّهُمَّ أَحْيني ما كَانَت الْحياةُ خَيراً لِي وتوفَّني إِذَا كَانَتِ الْوفاَةُ خَيْراً لِي » متفق عليه
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika terpaksa (berkeinginan demikian), maka hendaklah dia berdoa: 'Ya Allah, berilah aku kehidupan jika hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini melarang seorang muslim berputus asa dan mengharapkan kematian karena beratnya musibah. Sebaliknya, kita harus berserah diri kepada Allah dan memohon agar diberikan yang terbaik, hidup atau mati, karena hanya Allah yang mengetahui mana yang lebih baik untuk hamba-Nya.

# 24
وعنْ أبي عبدِ اللَّهِ خَبَّابِ بْن الأَرتِّ رضيَ اللَّهُ عنه قال : شَكَوْنَا إِلَى رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهُو مُتَوسِّدٌ بُردةً لَهُ في ظلِّ الْكَعْبةِ ، فَقُلْنَا : أَلا تَسْتَنْصرُ لَنَا أَلا تَدْعُو لَنَا ؟ فَقَالَ : قَد كَانَ مَنْ قَبْلكُمْ يؤْخَذُ الرَّجُلُ فيُحْفَرُ لَهُ في الأَرْضِ في جْعلُ فِيهَا ، ثمَّ يُؤْتِى بالْمِنْشارِ فَيُوضَعُ علَى رَأْسِهِ فيُجعلُ نصْفَيْن ، ويُمْشطُ بِأَمْشاطِ الْحديدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعظْمِهِ ، ما يَصُدُّهُ ذلكَ عَنْ دِينِهِ ، واللَّه ليتِمنَّ اللَّهُ هَذا الأَمْر حتَّى يسِير الرَّاكِبُ مِنْ صنْعاءَ إِلَى حَضْرمْوتَ لا يخافُ إِلاَّ الله والذِّئْبَ عَلَى غنَمِهِ ، ولكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ » رواه البخاري . وفي رواية : « وهُوَ مُتَوسِّدٌ بُرْدةً وقَدْ لقِينَا مِنَ الْمُشْركِين شِدَّةً » .
Terjemahan
Dari Abu 'Abdullah Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu, berkata: "Kami mengadukan (siksaan kaum musyrik yang sangat berat) kepada Rasulullah ﷺ, sementara beliau sedang berbaring dengan bersandar pada selendangnya di bawah naungan Ka'bah. Kami berkata: 'Tidakkah engkau memohon pertolongan Allah untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?' Beliau bersabda: 'Sungguh, orang-orang sebelum kalian ada yang ditangkap, lalu digalikan lubang untuknya dan dia dimasukkan ke dalamnya, kemudian dibawa gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu digergaji hingga terbelah dua. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga terkelupas daging dan tulangnya. Siksaan itu tidak membuatnya meninggalkan agamanya. Demi Allah! Allah pasti akan menyempurnakan urusan (agama) ini, hingga seorang pengendara dapat berangkat dari Shan'a ke Hadramaut tanpa takut kepada apa pun selain Allah, dan tidak takut kepada serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi, kalian terlalu terburu-buru.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Terdapat riwayat lain: "Saat itu beliau sedang berbaring dengan berselimut kain tebal, dan sungguh kami telah mengalami siksaan yang berat dari orang-orang kafir."

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan kesabaran para sahabat dan nubuwat Rasulullah ﷺ tentang masa depan Islam yang gemilang. Beliau mengingatkan para sahabat akan beratnya ujian yang dihadapi umat-umat terdahulu, dan meyakinkan mereka bahwa kemenangan dan keamanan akan datang, meskipun mereka harus bersabar terlebih dahulu.

# 25
وعن ابن مَسعُودٍ رضي اللَّه عنه قال : لمَّا كَانَ يَوْمُ حُنَيْنٍ آثر رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نَاساً في الْقِسْمَةِ : فأَعْطَى الأَقْرعَ بْنَ حابِسٍ مائةً مِنَ الإِبِلِ وأَعْطَى عُييْنَةَ بْنَ حِصْنٍ مِثْلَ ذلِكَ ، وأَعطى نَاساً منْ أشرافِ الْعربِ وآثَرهُمْ يوْمئِذٍ في الْقِسْمَةِ . فَقَالَ رجُلٌ : واللَّهِ إنَّ هَذِهِ قِسْمةٌ ما عُدِلَ فِيها ، وما أُريد فِيهَا وَجهُ اللَّه ، فَقُلْتُ: واللَّه لأُخْبِرَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فأتيتُهُ فَأخبرته بِما قال ، فتغَيَّر وَجْهُهُ حتَّى كَانَ كَالصِّرْفِ . ثُمَّ قال : « فَمنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ يعدِلِ اللَّهُ ورسُولُهُ ؟ ثم قال : يرحَمُ اللَّهُ موسى قَدْ أُوْذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصبرَ » فَقُلْتُ: لا جرمَ لا أَرْفعُ إلَيه بعْدها حدِيثاً. متفقٌ عليه . وقَوْلُهُ « كَالصِرْفَ » هُو بِكسْرِ الصادِ الْمُهْملةِ : وَهُوَ صِبْغٌ أَحْمَرُ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, berkata: "Setelah Perang Hunain, Rasulullah ﷺ membagi harta rampasan perang (ghanimah) dengan memberikan bagian lebih banyak kepada orang-orang tertentu (dengan tujuan menarik hati mereka yang baru masuk Islam). Beliau memberikan seratus ekor unta kepada Al-Aqra' bin Habis. Beliau juga memberikan kepada Uyainah bin Hisn seperti itu, dan beliau memberikan kepada para pembesar Arab lebih banyak dari yang lain pada hari itu. Seorang laki-laki berkata: 'Demi Allah! Pembagian ini tidak adil dan tidak dimaksudkan untuk mencari ridha Allah.' Aku (Ibnu Mas'ud) pun berkata: 'Demi Allah, aku akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah.' Aku pun mendatangi beliau dan menyampaikan apa yang dikatakan orang itu. Seketika itu wajah beliau berubah, seolah memerah, kemudian beliau bersabda: 'Siapa lagi yang dapat berbuat adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak berbuat adil?' Kemudian beliau bersabda lagi: 'Semoga Allah merahmati (Nabi) Musa; dia telah disakiti lebih dari ini, tetapi dia tetap bersabar.' Setelah mendengar itu, aku (Ibnu Mas'ud) berpikir, aku tidak akan menyampaikan pengaduan lagi kepada beliau." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan kebijaksanaan Rasulullah ﷺ dalam politik dan dakwah, yaitu memberikan sesuatu kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau yang hatinya masih lemah (mu'allaf) untuk menguatkan keislaman mereka. Ini adalah tindakan yang dibenarkan syariat dan berdasarkan wahyu, bukan ketidakadilan. Hadits ini juga mengajarkan untuk tidak tergesa-gesa menilai keputusan pemimpin sebelum memahami hikmah di baliknya.

# 26
وعن أنس رضي اللَّه عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بعبْدِهِ خَيْراً عجَّلَ لَهُ الْعُقُوبةَ في الدُّنْيَا ، وإِذَا أَرَادَ اللَّه بِعبدِهِ الشَّرَّ أمسَكَ عنْهُ بذَنْبِهِ حتَّى يُوافِيَ بهِ يَومَ الْقِيامةِ » . وقَالَ النبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّ عِظَمَ الْجزاءِ مَعَ عِظَمِ الْبلاءِ ، وإِنَّ اللَّه تعالى إِذَا أَحَبَّ قَوماً ابتلاهُمْ ، فَمنْ رضِيَ فلَهُ الرضَا ، ومَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ » رواه الترمذي وقَالَ: حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia (jika ia berbuat salah). Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menunda (hukuman) atas dosa-dosanya hingga Dia penuhi balasannya pada hari kiamat."
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa ridha (terhadap ujian), maka Allah pun ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka (terhadap ujian), maka Allah pun murka kepadanya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengandung dua pelajaran penting. Pertama, cobaan di dunia bisa menjadi pembersih dosa, yang merupakan bentuk kasih sayang Allah. Kedua, besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Keridhaan terhadap ketetapan Allah adalah kunci meraih cinta-Nya.

# 27
وعنْ أَنَسٍ رضي اللَّه عنه قال : كَانَ ابْنٌ لأبي طلْحةَ رضي اللَّه عنه يَشْتَكي ، فخرج أبُو طَلْحة ، فَقُبِضَ الصَّبِيُّ ، فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحةَ قال : ما فَعَلَ ابنِي ؟ قَالَت أُمُّ سُلَيْم وَهِيَ أُمُّ الصَّبيِّ : هو أَسْكَنُ مَا كَانَ ، فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا، فَلَمَّا فرغَ قَالَتْ : وارُوا الصَّبيَّ ، فَلَمَّا أَصْبحَ أَبُو طَلْحَة أَتَى رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَأَخْبرهُ، فَقَالَ: « أَعرَّسْتُمُ اللَّيْلَةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قال : « اللَّهمَّ باركْ لَهُما » فَولَدتْ غُلاماً فقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ : احْمِلْهُ حتَّى تَأَتِيَ بِهِ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وبَعثَ مَعهُ بِتمْرَات ، فقال : «أَمعهُ شْيءٌ ؟ » قال : نعمْ ، تَمراتٌ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَمضَغَهَا ، ثُمَّ أَخذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا في في الصَّبيِّ ثُمَّ حَنَّكَه وسمَّاهُ عبدَ اللَّهِ متفقٌ عليه . وفي روايةٍ للْبُخَاريِّ : قال ابْنُ عُيَيْنَة : فَقَالَ رجُلٌ منَ الأَنْصارِ : فَرَأَيْتُ تَسعة أَوْلادٍ كلُّهُمْ قدْ قَرؤُوا الْقُرْآنَ ، يعْنِي مِنْ أَوْلادِ عَبْدِ اللَّه الْموْلُود . وفي روايةٍ لمسلِم : ماتَ ابْنٌ لأبِي طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ ، فَقَالَتْ لأهْلِهَا : لا تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بابنِهِ حتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ ، فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وشَرِبَ ، ثُمَّ تَصنَّعتْ لهُ أَحْسنَ ما كانتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذلكَ ، فَوقَعَ بِهَا ، فَلَمَّا أَنْ رأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعِ وأَصَابَ مِنْها قَالتْ: يا أَبَا طلْحةَ ، أَرَايْتَ لَوْ أَنَّ قَوْماً أَعارُوا عارِيتهُمْ أَهْل بيْتٍ فَطَلبوا عاريَتَهُم ، ألَهُمْ أَنْ يمْنَعُوهَا؟ قَالَ : لا ، فَقَالَتْ : فاحتسِبْ ابْنَكَ . قَالَ : فغَضِبَ ، ثُمَّ قَالَ : تركتنِي حتَّى إِذَا تَلطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبرتِني بِابْني ، فَانْطَلَقَ حتَّى أَتَى رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فأخْبَرهُ بما كَانَ ، فَقَالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « بَاركَ اللَّه لكُما في ليْلتِكُما » . قال : فحملَتْ ، قال : وكَانَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في سفَرٍ وهِي مَعَهُ وكَانَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذَا أَتَى الْمَدِينَةِ مِنْ سَفَرٍ لاَ يَطْرُقُها طُرُوقاً فَدنَوْا مِنَ الْمَدِينَةِ ، فَضَرَبَهَا الْمَخاضُ ، فَاحْتَبَس عَلَيْهَا أَبُو طلْحَةَ ، وانْطلَقَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . قَالَ : يقُولُ أَبُو طَلْحةَ إِنَّكَ لتعلمُ يَا ربِّ أَنَّهُ يعْجبُنِي أَنْ أَخْرُجَ معَ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذَا خَرَجَ ، وأَدْخُلَ مَعهُ إِذَا دَخَلَ ، وقَدِ احْتَبَسْتُ بِما تَرى . تقولُ أُمُّ سُلَيْمٍ : يا أَبَا طلْحةَ مَا أَجِد الَّذي كنْتُ أَجِدُ ، انْطَلِقْ ، فانْطَلقْنَا ، وضَربهَا المَخاضُ حينَ قَدِمَا فَولَدتْ غُلاماً . فقالَتْ لِي أُمِّي : يا أَنَسُ لا يُرْضِعُهُ أَحدٌ تَغْدُوَ بِهِ عَلَى رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فلمَّا أَصْبحَ احتملْتُهُ فانطَلقْتُ بِهِ إِلَى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . وذَكَرَ تمامَ الْحَدِيثِ .
Terjemahan
Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: "Seorang anak Abu Thalhah sakit, lalu Abu Thalhah pergi keluar. Kemudian anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah pulang, dia bertanya: 'Bagaimana keadaan anakku?' Ummu Sulaim (istri Abu Thalhah dan ibu anak itu) menjawab: 'Dia sedang tenang dan baik.' Dia pun menyiapkan makan malam untuknya (Abu Thalhah), dan dia pun makan malam. Setelah itu, dia (Abu Thalhah) bersetubuh dengan istrinya (Ummu Sulaim). Setelah selesai, dia (Ummu Sulaim) berkata: 'Tolong urusilah jenazah anak ini.' Keesokan paginya, Abu Thalhah datang menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu. Beliau bertanya: 'Apakah kalian sempat bersetubuh tadi malam?' Abu Thalhah menjawab: 'Ya.' Beliau lalu berdoa: 'Ya Allah, berkatilah mereka berdua pada malam mereka.' Kemudian istri Abu Thalhah melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah menyuruhku (Anas): 'Bawalah dia kepada Nabi.' Aku (Anas) pun membawanya kepada Nabi sambil membawa beberapa kurma. Nabi menggendong anak itu dan bertanya: 'Apakah ada sesuatu yang dibawa bersamanya?' Aku menjawab: 'Ya, ada kurma.' Nabi lalu mengambil kurma itu, mengunyahnya, kemudian mengeluarkannya dari mulut beliau dan memasukkannya ke mulut bayi itu, lalu mengusap langit-langit mulut bayi itu (agar mudah menelan), dan memberinya nama: Abdullah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Terdapat riwayat dari Bukhari: "Ibnu 'Uyainah berkata: Seorang laki-laki Anshar berkata: Aku melihat anak itu memiliki 9 anak. Mereka semua hafal Al-Qur'an dengan baik. Maksudnya: 9 anak itu adalah anak-anak Abdullah."
Terdapat riwayat dari Muslim: "Seorang anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal. Dia (Ummu Sulaim) berkata kepada keluarganya: 'Jangan beritahu Abu Thalhah tentang kematian anaknya, biarlah aku yang memberitahunya.' Ketika Abu Thalhah datang, dia menghidangkan makan malam untuk suaminya. Abu Thalhah makan malam. Kemudian dia berdandan sangat cantik, seperti biasanya dia berdandan untuknya. Dia pun bersetubuh dengannya. Setelah dia melihat bahwa suaminya telah kenyang dan telah bersetubuh, dia berkata: 'Wahai Abu Thalhah! Bagaimana pendapatmu jika sebuah keluarga meminjamkan ...'"

Penjelasan singkat: Hadits yang panjang ini menunjukkan kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha yang luar biasa. Dia menyembunyikan berita duka kematian anaknya agar suaminya tidak bersedih dan dapat beristirahat serta berhubungan suami-istri dengan tenang. Sikapnya yang bijaksana dan tawakal ini kemudian diberkahi Allah dengan kelahiran seorang anak yang didoakan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

# 28
وعنْ أَبِي هُريرةَ رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لَيْسَ الشديدُ بالصُّرَعةِ إِنمَّا الشديدُ الَّذي يمْلِكُ نَفسَهُ عِنْد الْغَضَبِ » متفقٌ عليه . « والصُّرَعَةُ » بِضمِّ الصَّادِ وفتْحِ الرَّاءِ ، وأصْلُهُ عنْد الْعربِ منْ يصرَعُ النَّاسَ كثيراً .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam gulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah." (Muttafaqun 'alaih)
"Ash-Shur'ah" dengan mendhamahkan shad dan memfathahkan ra'. Asalnya menurut orang Arab adalah orang yang sering menjatuhkan orang (dalam gulat).

Penjelasan singkat: Hadits ini mendefinisikan ulang makna kekuatan sejati. Kekuatan bukan terletak pada fisik yang dapat mengalahkan lawan, tetapi pada kemampuan mengendalikan hawa nafsu, terutama amarah. Menguasai diri saat emosi adalah ciri orang yang kuat iman dan akhlaknya.

# 29
- وعنْ سُلَيْمانَ بْنِ صُرَدٍ رضي اللَّه عنهُ قال : كُنْتُ جالِساً مع النَّبِي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ورجُلان يستَبَّانِ وأَحدُهُمَا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ . وانْتفَخَتْ أودَاجهُ . فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنِّي لأعلَمُ كَلِمةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عنْهُ ما يجِدُ ، لوْ قَالَ : أَعْوذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ذَهَبَ عنْهُ ما يجدُ . فقَالُوا لَهُ : إِنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : «تعوَّذْ بِاللِّهِ مِن الشَّيَطان الرَّجِيمِ ». متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu, berkata: "(Suatu hari) aku duduk bersama Nabi ﷺ, saat itu ada dua orang laki-laki yang saling mencaci. Wajah salah satunya memerah dan urat lehernya menegang. (Melihat itu) Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat, jika dia mengucapkannya, niscaya apa yang ada padanya (kemarahan) akan hilang. Jika dia mengucapkan: A'udzu billahi minasy syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk), niscaya akan hilang apa yang ada padanya (kemarahan).' Mereka pun memberitahukan hal itu kepada laki-laki tersebut: 'Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk'.'' (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini memberikan solusi praktis untuk meredam amarah, yaitu dengan membaca ta'awwudz (memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan). Amarah seringkali berasal dari bisikan setan, sehingga memohon perlindungan kepada Allah adalah cara efektif untuk menenangkan hati dan pikiran.

# 30
وعنْ مُعاذ بْنِ أَنَسٍ رضي اللَّه عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « مَنْ كظَمَ غيظاً ، وهُو قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ ، دَعَاهُ اللَّهُ سُبْحانَهُ وتَعالَى عَلَى رُؤُوسِ الْخلائقِ يَوْمَ الْقِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ » رواه أَبُو داوُدَ ، والتِّرْمِذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Mu'adz bin Anas radhiyallahu 'anhu, berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa menahan amarahnya, padahal dia mampu untuk meluapkannya, maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu menyuruhnya memilih bidadari surga (hurul 'in) mana saja yang dia kehendaki." (Diriwayatkan oleh Abu

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan besar bagi orang yang mampu menahan amarah, meski ia berkuasa untuk melampiaskannya. Allah menjanjikan ganjaran istimewa di akhirat, yaitu kemuliaan di hadapan semua makhluk dan hak untuk memilih bidadari surga. Intinya, mengendalikan emosi adalah akhlak mulia yang mendatangkan pahala luar biasa.

# 31
وعنْ أَبِي هُريْرَةَ رَضيَ اللَّهُ عنهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ للنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أوْصِني ، قَالَ : « لا تَغضَبْ » فَردَّدَ مِراراً قَالَ ، « لا تَغْضَبْ » رواه البخاريُّ.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'Berilah aku wasiat.' Beliau bersabda: 'Janganlah marah.' Orang itu mengulangi pertanyaannya beberapa kali, dan beliau tetap bersabda: 'Janganlah marah.' (HR. Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan betapa besarnya bahaya dan dampak negatif dari sifat marah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memberikan wasiat yang singkat namun sangat mendasar, yaitu menahan diri dari kemarahan. Pengulangan jawaban yang sama saat permintaan wasiat diulang menunjukkan bahwa mengendalikan amarah adalah kunci utama kebaikan dan pondasi akhlak mulia. Dengan menguasai diri saat marah, seorang muslim dapat terhindar dari banyak kesalahan dan kerusakan.

# 32
وَعَنْ أبي هُرَيْرةَ رَضِيَ اللَّهُ عنه قال : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَا يَزَال الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمؤمِنَةِ في نَفْسِهِ وَولَدِهِ ومَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّه تعالى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ» رواه التِّرْمِذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحِيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ujian (dari Allah) senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak ada dosa padanya.' (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa musibah dan ujian yang menimpa seorang mukmin—baik pada jiwa, anak, maupun harta—merupakan bentuk pembersihan dosa dan pengangkatan derajat. Allah Ta'ala mengujinya di dunia agar ia bertemu dengan-Nya dalam keadaan suci dari dosa. Dengan demikian, kesabaran dalam menghadapi cobaan adalah jalan untuk meraih ampunan dan kesempurnaan iman.

# 33
وَعَنْ ابْن عَبَاسٍ رضي اللَّه عنهما قال : قَدِمَ عُيَيْنَة بْنُ حِصْنٍ فَنَزلَ عَلَى ابْنِ أَخيِهِ الْحُر بْنِ قَيْسٍ ، وَكَانَ مِن النَّفَرِ الَّذِين يُدْنِيهِمْ عُمرُ رضِيَ اللَّهُ عنهُ ، وَكَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحابَ مَجْلِسِ عُمَرَ رضي اللَّهُ عنه وَمُشاوَرَتِهِ كُهولاً كَانُوا أَوْ شُبَّاناً ، فَقَالَ عُييْنَةُ لابْنِ أَخيِهِ : يَا ابْنَ أَخِى لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الأمِيرِ فَاسْتَأْذِنْ لى عَلَيْهِ ، فاستَأذنَ فَأَذِنَ لَهُ عُمرُ . فَلَمَّا دخَلَ قَالَ : هِيْ يا ابْنَ الْخَطَّاب ، فَوَاللَّه مَا تُعْطِينَا الْجَزْلَ وَلا تَحْكُمُ فِينَا بالْعَدْل ، فَغَضِبَ عُمَرُ رضيَ اللَّه عنه حتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِهِ فَقَالَ لَهُ الْحُرُّ : يا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّه تعَالى قَال لِنبِيِّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : { خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجاهلينَ } [ سورة الأعراف: 198 ] وإنَّ هَذَا مِنَ الجاهلينَ ، وَاللَّه ما جاوَزَها عُمَرُ حِينَ تلاها ، وكَانَ وَقَّافاً عِنْد كِتَابِ اللَّهِ تعالى رواه البخارى .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Uyainah bin Hishn datang (ke Madinah) dan singgah di rumah keponakannya, Al-Hurr bin Qais. Al-Hurr termasuk orang-orang yang didekatkan oleh Umar radhiyallahu 'anhu. Para qari' adalah sahabat majelis Umar radhiyallahu 'anhu dan tempat ia bermusyawarah, baik mereka yang sudah tua maupun yang masih muda. Uyainah berkata kepada keponakannya: "Wahai keponakanku, engkau memiliki kedudukan di sisi Amirul Mukminin ini, mintakanlah izin untukku menemuinya." Lalu ia meminta izin dan Umar mengizinkannya.

Ketika Uyainah masuk, ia berkata: "Wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami pemberian yang banyak dan tidak memutuskan perkara di antara kami dengan adil." Maka Umar radhiyallahu 'anhu marah hingga hampir saja menghukumnya. Al-Hurr lalu berkata kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam: 'Berilah maaf, suruhlah dengan yang ma'ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.' (QS. Al-A'raf: 199). Dan sesungguhnya orang ini termasuk dari orang-orang yang jahil." Demi Allah, Umar tidak melampaui (ayat) itu ketika dibacakan, dan beliau adalah orang yang selalu berhenti (mematuhi) Kitab Allah Ta'ala.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan adab dan tata krama dalam meminta izin bertemu pemimpin. Uyainah bin Hishn tidak langsung menghadap Khalifah Umar, tetapi meminta perantara keponakannya yang telah dikenal baik. Ini mengajarkan pentingnya menghormati protokol dan menggunakan jalur yang sopan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan kebijakan Umar yang mendekatkan dan bermusyawarah dengan para ahli Al-Qur'an dari berbagai usia, menekankan nilai ilmu dan syura dalam kepemimpinan.

# 34
وعَن ابْنِ مسْعُودٍ رضي اللَّه عنه أنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّهَا سَتكُونُ بَعْدِى أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرونَها ، قَالُوا : يا رسُولَ اللَّهِ فَما تَأمرُنا ؟ قالَ : تُؤَدُّونَ الْحقَّ الَّذي عَلَيْكُمْ وتَسْألونَ اللَّه الذي لكُمْ » متفقٌ عليه . « والأَثَرَةُ » : الانفرادُ بالشيْءِ عمَّنْ لَهُ فيهِ حقٌّ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya setelah aku (wafat) akan terjadi sikap mementingkan diri sendiri dan banyak perkara yang kalian ingkari.' Para sahabat bertanya: 'Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Tunaikan kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap sabar dan bijak menghadapi pemimpin yang zalim atau kondisi yang tidak adil. Inti ajarannya adalah kita tetap wajib menunaikan hak dan kewajiban kita secara proporsional, meski hak kita diabaikan. Sementara itu, untuk memperoleh hak yang tidak diberikan, kita harus bersandar dan memohon hanya kepada Allah, bukan dengan cara memberontak atau anarki. Dengan demikian, keseimbangan antara menegakkan kewajiban sosial dan ketawakalan kepada Allah tetap terjaga.

# 35
وَعن أبي يحْيَى أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رضي اللَّهُ عنهُ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ قال : يا رسولَ اللَّهِ أَلا تَسْتَعْمِلُني كَمَا اسْتْعْملتَ فُلاناً وفلاناً فَقَالَ : « إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدي أَثَرَةً فاصْبِرُوا حَتَّى تلقَوْنِي علَى الْحوْضِ » متفقٌ عليه . « وأُسَيْدٌ » بِضَمِّ الْهمْزةِ . « وحُضَيْرٌ » بِحاءٍ مُهْمَلَةٍ مضمُومَةٍ وضادٍ مُعْجَمَةٍ مفْتُوحةٍ ، واللَّهُ أَعْلَمُ .
Terjemahan
Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata: 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku sebagaimana engkau mengangkat si Fulan?' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya setelah aku (wafat) kalian akan menghadapi sikap mementingkan diri sendiri, maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kesabaran dalam menghadapi ketidakadilan sosial dan politik, seperti nepotisme atau favoritisme (atsarah), yang mungkin terjadi sepeninggal Nabi. Rasulullah ﷺ tidak menjanjikan perubahan duniawi, tetapi mengingatkan untuk menjaga kesabaran dan orientasi akhirat dengan mengharapkan pertemuan di telaga surga (al-haudh). Hikmahnya, seorang Muslim dituntut untuk bersikap sabar dan tawakal atas ketidakadilan, sambil terus berpegang pada janji Allah dan Rasul-Nya.

# 36
وَعنْ أبي إِبْراهيمَ عَبْدِ اللَّه بْنِ أبي أَوْفي رضي اللَّهُ عنهمَا أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في بعْضِ أَيَّامِهِ التي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ ، انْتَظرَ حَتَّى إِذَا مَالَتِ الشَّمْسُ قَامَ فِيهمْ فَقَالَ: « يَا أَيُّهَا النَّاسُ لا تَتَمنَّوا لِقَاءَ الْعدُوِّ ، وَاسْأَلُوا اللَّه العَافِيَةَ ، فَإِذَا لقيتُموهم فاصْبرُوا ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّة تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ » ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ ، وَهَازِمَ الأَحْزابِ ، اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنا عَلَيْهِمْ » . متفقٌ عليه وباللَّه التَّوْفيقُ .
Terjemahan
Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada beberapa hari peperangan berdoa: 'Ya Allah, Yang menurunkan kitab, Yang menjalankan awan, Yang mengalahkan golongan-golongan musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami mengalahkan mereka.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim tidak gegabah mengharapkan pertempuran, tetapi memohon keselamatan kepada Allah. Namun, jika peperangan telah terjadi dan pertemuan dengan musuh tak terhindarkan, maka wajib bersabar dan teguh. Di balik kesulitan dan bahaya perang, terdapat janji pahala besar, yaitu surga, bagi mereka yang berjuang dengan sabar dan ikhlas.