Kitab 1 · Bab 2
Taubat (Pengakuan dosa)
✦ 16 Hadith ✦
# 1
قال العلماء: التوبة واجبة مِنْ كل ذنب. فإن كانت المعصية بين العبد وبين اللَّه تعالى لا تتعلق بحق آدمي فلها ثلاثة شروط: أحدها أن يقلع عَنْ المعصية، والثاني أن يندم عَلَى فعلها، والثالث أن يعزم أن لا يعود إليها أبدا؛ فإن فقد أحد الثلاثة لم تصح توبته. وإن كانت المعصية تتعلق بآدمي فشروطها أربعة: هذه الثلاثة وأن يبرأ مِنْ حق صاحبها. فأن كانت مالا أو نحوه رده إليه، وإن كان حد قذف ونحوه مكنه مِنْه أو طلب عفوه، وإن كانت غيبة استحله مِنْها. ويجب أن يتوب مِنْ جميع الذنوب، فإن تاب مِنْ بعضها صحت توبته عند أهل الحق مِنْ ذلك الذنب وبقى عليه الباقي. وقد تظاهرت دلائل الكتاب والسنة وإجماع الأمة عَلَى وجوب التوبة.
Terjemahan
Ulama Islam berkata, bertaubat adalah kewajiban yang harus dilakukan ketika ada dosa. Jika dosa itu antara manusia dan Allah, tidak terkait dengan hak orang lain, maka taubat memiliki tiga syarat:
Pertama: Dia harus meninggalkan perbuatan dosa itu.
Kedua: Dia harus menyesali perbuatan dosanya itu.
Ketiga: Dia harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu selamanya.
Jika salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah (artinya Allah tidak menerima).
Jika dosa itu terkait dengan hak orang lain, maka taubat memiliki empat syarat: ketiga syarat di atas, dan keempat adalah meminta maaf kepada pemilik hak tersebut. Jika berupa harta atau sesuatu yang serupa dengan harta, harus dikembalikan kepada pemiliknya. Tetapi jika berupa ghibah (menggunjing), harus meminta dihalalkan atau meminta maaf kepada orang yang digunjing. Jika berupa tuduhan, harus meminta maaf kepada orang yang dituduh. Dia wajib bertaubat dari semua dosa. Tetapi jika dia hanya bertaubat dari sebagian dosa, maka taubatnya untuk dosa-dosa itu sah, namun dia masih memiliki dosa-dosa lain yang belum dia taubati dan mintakan ampun.
Banyak dalil dari Al-Qur'an, hadits, dan kesepakatan ulama Islam yang menegaskan wajibnya bertaubat.
Penjelasan singkat: Taubat adalah kewajiban dari setiap dosa. Intinya, taubat yang sah harus memenuhi tiga syarat pokok: menghentikan maksiat, menyesalinya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulang. Jika dosa terkait hak manusia, ditambah syarat keempat, yaitu menyelesaikan urusan dengan orang yang dizalimi, seperti mengembalikan hak atau meminta maaf. Taubat dari sebagian dosa diterima, namun kewajiban taubat mencakup semua dosa.
Pertama: Dia harus meninggalkan perbuatan dosa itu.
Kedua: Dia harus menyesali perbuatan dosanya itu.
Ketiga: Dia harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu selamanya.
Jika salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah (artinya Allah tidak menerima).
Jika dosa itu terkait dengan hak orang lain, maka taubat memiliki empat syarat: ketiga syarat di atas, dan keempat adalah meminta maaf kepada pemilik hak tersebut. Jika berupa harta atau sesuatu yang serupa dengan harta, harus dikembalikan kepada pemiliknya. Tetapi jika berupa ghibah (menggunjing), harus meminta dihalalkan atau meminta maaf kepada orang yang digunjing. Jika berupa tuduhan, harus meminta maaf kepada orang yang dituduh. Dia wajib bertaubat dari semua dosa. Tetapi jika dia hanya bertaubat dari sebagian dosa, maka taubatnya untuk dosa-dosa itu sah, namun dia masih memiliki dosa-dosa lain yang belum dia taubati dan mintakan ampun.
Banyak dalil dari Al-Qur'an, hadits, dan kesepakatan ulama Islam yang menegaskan wajibnya bertaubat.
Penjelasan singkat: Taubat adalah kewajiban dari setiap dosa. Intinya, taubat yang sah harus memenuhi tiga syarat pokok: menghentikan maksiat, menyesalinya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulang. Jika dosa terkait hak manusia, ditambah syarat keempat, yaitu menyelesaikan urusan dengan orang yang dizalimi, seperti mengembalikan hak atau meminta maaf. Taubat dari sebagian dosa diterima, namun kewajiban taubat mencakup semua dosa.
# 2
قال اللَّه تعالى: ﴿ وتوبوا إِلَى اللَّه جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون ﴾ .سورة النور(31)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu." (QS. At-Tahrim: 8)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tobat adalah perintah Allah yang bersifat kolektif bagi seluruh mukmin, bukan hanya untuk orang yang melakukan dosa besar. Seruan "لعلكم تفلحون" (agar kamu beruntung) menunjukkan bahwa tobat merupakan jalan utama meraih kesuksesan sejati di dunia dan akhirat. Dengan demikian, inti ajarannya adalah bahwa kesadaran untuk selalu kembali kepada Allah adalah ciri dan syarat keberuntungan orang beriman.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tobat adalah perintah Allah yang bersifat kolektif bagi seluruh mukmin, bukan hanya untuk orang yang melakukan dosa besar. Seruan "لعلكم تفلحون" (agar kamu beruntung) menunjukkan bahwa tobat merupakan jalan utama meraih kesuksesan sejati di dunia dan akhirat. Dengan demikian, inti ajarannya adalah bahwa kesadaran untuk selalu kembali kepada Allah adalah ciri dan syarat keberuntungan orang beriman.
# 3
وقال تعالى: ﴿ استغفروا ربكم ثم توبوا إليه ﴾ .سورة هود(3)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya." (QS. Hud: 3)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua langkah penting dalam bertaubat. Pertama, istighfar (memohon ampun) untuk menghapus dosa masa lalu. Kedua, taubat (kembali kepada Allah) dengan tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan. Urutan ini menunjukkan bahwa meminta ampun harus diikuti dengan perubahan perbuatan menuju ketaatan.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua langkah penting dalam bertaubat. Pertama, istighfar (memohon ampun) untuk menghapus dosa masa lalu. Kedua, taubat (kembali kepada Allah) dengan tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan. Urutan ini menunjukkan bahwa meminta ampun harus diikuti dengan perubahan perbuatan menuju ketaatan.
# 4
وقال تعالى: ﴿ يا أيها الذين آمنوا توبوا إِلَى اللَّه توبة نصوحا ﴾ سورة التحريم(8)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus." (QS. At-Tahrim: 8)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan orang beriman untuk segera bertaubat dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang tulus dan murni. Taubat nasuha mengharuskan penyesalan mendalam, meninggalkan dosa secara total, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Perintah ini menunjukkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan, tetapi perubahan hati dan perbuatan yang menjadi bukti keimanan.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan orang beriman untuk segera bertaubat dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang tulus dan murni. Taubat nasuha mengharuskan penyesalan mendalam, meninggalkan dosa secara total, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Perintah ini menunjukkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan, tetapi perubahan hati dan perbuatan yang menjadi bukti keimanan.
# 5
وعَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال : سمِعتُ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « واللَّه إِنِّي لأَسْتَغْفرُ الله ، وَأَتُوبُ إِليْه ، في اليَوْمِ ، أَكثر مِنْ سَبْعِين مرَّةً » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya), dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa istighfar dan taubat adalah ibadah harian yang terus-menerus, bahkan bagi manusia terbaik seperti Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk dosa besar, tetapi juga untuk menyempurnakan hati dan meningkatkan kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, umat Islam dituntut untuk selalu introspeksi dan memperbanyak istighfar setiap hari sebagai bentuk ketawadhu'an dan kebutuhan spiritual.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa istighfar dan taubat adalah ibadah harian yang terus-menerus, bahkan bagi manusia terbaik seperti Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk dosa besar, tetapi juga untuk menyempurnakan hati dan meningkatkan kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, umat Islam dituntut untuk selalu introspeksi dan memperbanyak istighfar setiap hari sebagai bentuk ketawadhu'an dan kebutuhan spiritual.
# 6
- وعن الأَغَرِّ بْن يَسار المُزنِيِّ رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يا أَيُّها النَّاس تُوبُوا إِلى اللَّهِ واسْتغْفرُوهُ فإِني أَتوبُ في اليَوْمِ مائة مَرَّة » رواه مسلم
Terjemahan
Tentang Al-Agharr bin Yasar Al-Muzani (semoga Allah meridhainya), dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa taubat dan istighfar adalah kewajiban yang terus-menerus, bahkan bagi manusia yang paling suci sekalipun. Rasulullah ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) saja bertaubat seratus kali sehari, apalagi kita yang banyak kelalaian dan kesalahan. Ini mengajarkan bahwa kesempurnaan iman seorang hamba justru terlihat dari kesadarannya untuk selalu kembali kepada Allah dan tidak pernah merasa bebas dari kebutuhan akan ampunan-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa taubat dan istighfar adalah kewajiban yang terus-menerus, bahkan bagi manusia yang paling suci sekalipun. Rasulullah ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) saja bertaubat seratus kali sehari, apalagi kita yang banyak kelalaian dan kesalahan. Ini mengajarkan bahwa kesempurnaan iman seorang hamba justru terlihat dari kesadarannya untuk selalu kembali kepada Allah dan tidak pernah merasa bebas dari kebutuhan akan ampunan-Nya.
# 7
وعنْ أبي حَمْزَةَ أَنَس بن مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : للَّهُ أَفْرحُ بتْوبةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سقطَ عَلَى بعِيرِهِ وقد أَضلَّهُ في أَرضٍ فَلاةٍ متفقٌ عليه .
وفي رواية لمُسْلمٍ : « للَّهُ أَشدُّ فرحاً بِتَوْبةِ عَبْدِهِ حِين يتُوبُ إِلْيهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كان عَلَى راحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فلاةٍ ، فانْفلتتْ مِنْهُ وعلَيْها طعامُهُ وشرَابُهُ فأَيِسَ مِنْهَا ، فأَتَى شَجَرةً فاضْطَجَعَ في ظِلِّهَا ، وقد أَيِسَ مِنْ رَاحِلتِهِ ، فَبَيْنما هوَ كَذَلِكَ إِذْ هُوَ بِها قَائِمة عِنْدَهُ ، فَأَخذ بِخطامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الفَرحِ : اللَّهُمَّ أَنت عبْدِي وأَنا ربُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الفرح » .
Terjemahan
Tentang Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari (semoga Allah meridhainya) (pelayan Rasulullah ﷺ), dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang mengendarai untanya di sebuah padang pasir, lalu unta itu lari membawa makanan dan minuman yang menjadi bekalnya. Dia pun putus asa, lalu pergi berteduh di bawah pohon dengan perasaan putus asa. Tiba-tiba untanya kembali berdiri di dekatnya, dia pun mengambil tali kekangnya lalu karena terlalu gembira dia berkata: 'Wahai Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu.' Dia salah ucap karena terlalu gembira."
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan besarnya kasih sayang Allah. Allah sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali kendaraan dan bekal hidupnya yang hilang di padang tandus. Ini memberi motivasi untuk tidak putus asa dari rahmat-Nya dan segera bertaubat, karena pintu taubat selalu terbuka dan disambut dengan sukacita oleh Allah.
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang mengendarai untanya di sebuah padang pasir, lalu unta itu lari membawa makanan dan minuman yang menjadi bekalnya. Dia pun putus asa, lalu pergi berteduh di bawah pohon dengan perasaan putus asa. Tiba-tiba untanya kembali berdiri di dekatnya, dia pun mengambil tali kekangnya lalu karena terlalu gembira dia berkata: 'Wahai Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu.' Dia salah ucap karena terlalu gembira."
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan besarnya kasih sayang Allah. Allah sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali kendaraan dan bekal hidupnya yang hilang di padang tandus. Ini memberi motivasi untuk tidak putus asa dari rahmat-Nya dan segera bertaubat, karena pintu taubat selalu terbuka dan disambut dengan sukacita oleh Allah.
# 8
وعن أبي مُوسى عَبْدِ اللَّهِ بنِ قَيْسٍ الأَشْعَرِيِّ ، رضِي الله عنه ، عن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « إِن الله تعالى يبْسُطُ يدهُ بِاللَّيْلِ ليتُوب مُسيءُ النَّهَارِ وَيبْسُطُ يَدهُ بالنَّهَارِ ليَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن مغْرِبِها » رواه مسلم
Terjemahan
Tentang Abu Musa 'Abdullah bin Qais Al-Asy'ari (semoga Allah meridhainya), dia berkata Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari barat." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat dan kesediaan Allah menerima taubat hamba-Nya setiap saat, siang dan malam. Pintu taubat terbuka lebar tanpa henti, menunjukkan kasih sayang Allah yang tak terbatas. Namun, kesempatan ini akan tertutup saat tanda Kiamat besar muncul, yaitu terbitnya matahari dari barat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat dan kesediaan Allah menerima taubat hamba-Nya setiap saat, siang dan malam. Pintu taubat terbuka lebar tanpa henti, menunjukkan kasih sayang Allah yang tak terbatas. Namun, kesempatan ini akan tertutup saat tanda Kiamat besar muncul, yaitu terbitnya matahari dari barat.
# 9
وعَنْ أبي هُريْرةَ رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ تاب قَبْلَ أَنْ تطلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مغْرِبِهَا تَابَ الله علَيْه » رواه مسلم .
Terjemahan
Tentang Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya), dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa pintu taubat Allah terbuka luas sepanjang hayat, selama tanda-tanda besar Kiamat belum muncul. Batas akhirnya adalah terbitnya matahari dari barat, yang merupakan salah satu tanda kiamat kubra. Hikmahnya adalah agar manusia segera bertaubat dan tidak menunda-nunda, karena kematian atau datangnya hari Kiamat bisa terjadi kapan saja tanpa diketahui.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa pintu taubat Allah terbuka luas sepanjang hayat, selama tanda-tanda besar Kiamat belum muncul. Batas akhirnya adalah terbitnya matahari dari barat, yang merupakan salah satu tanda kiamat kubra. Hikmahnya adalah agar manusia segera bertaubat dan tidak menunda-nunda, karena kematian atau datangnya hari Kiamat bisa terjadi kapan saja tanpa diketahui.
# 10
وعَنْ أبي عَبْدِ الرَّحْمن عَبْدِ اللَّهِ بن عُمرَ بن الخطَّاب رضي الله عنهما عن النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَالَم يُغرْغرِ» رواه الترمذي وقال: حديث حسنٌ .
Terjemahan
Tentang Abu 'Abdurrahman 'Abdullah bin 'Umar bin Al-Khaththab (semoga Allah meridhainya), dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menerima taubat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (saat sakaratul maut)." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat Allah dan kesempatan bertobat yang diberikan-Nya kepada hamba. Pintu tobat terbuka lebar sepanjang hayat, selama ajal belum benar-benar tiba. Ini menjadi motivasi untuk segera kembali kepada Allah dan tidak menunda-nunda taubat, serta penghiburan bagi yang telah berbuat dosa agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat Allah dan kesempatan bertobat yang diberikan-Nya kepada hamba. Pintu tobat terbuka lebar sepanjang hayat, selama ajal belum benar-benar tiba. Ini menjadi motivasi untuk segera kembali kepada Allah dan tidak menunda-nunda taubat, serta penghiburan bagi yang telah berbuat dosa agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
# 11
وعَنْ زِرِّ بْنِ حُبْيشٍ قَال : أَتيْتُ صفْوانَ بْنِ عسَّالٍ رضِي الله عنْهُ أَسْأَلُهُ عن الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فقال : مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ ؟ فقُلْتُ : ابْتغَاءُ الْعِلْمِ ، فقَال: إِنَّ الْملائِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحتِها لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضاء بمَا يَطلُبُ ، فَقلْتُ : إِنَّه قدْ حَكَّ في صدْرِي الْمسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ بَعْدَ الْغَائِطِ والْبوْلِ ، وكُنْتَ امْرَءاً مِنْ أَصْحاب النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَجئْت أَسْأَلُكَ : هَلْ سمِعْتَهُ يذْكرُ في ذَلِكَ شيْئاً ؟ قال : نعَمْ كانَ يأْمُرنا إذا كُنا سفراً أوْ مُسافِرين أَن لا ننْزعَ خفافَنا ثلاثة أَيَّامٍ ولَيَالِيهنَّ إِلاَّ مِنْ جنَابةٍ ، لكِنْ مِنْ غائطٍ وبْولٍ ونْومٍ . فقُلْتُ : هَل سمِعتهُ يذكُر في الْهوى شيْئاً ؟ قال : نعمْ كُنَّا مَع رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في سفرٍ ، فبيْنا نحنُ عِنْدهُ إِذ نادَاهُ أَعْرابي بصوْتٍ له جهوريٍّ : يا مُحمَّدُ ، فأَجَابهُ رسولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نحْوا مِنْ صَوْتِه : «هاؤُمْ» فقُلْتُ لهُ : وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ فإِنَّك عِنْد النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وقدْ نُهِيت عَنْ هذا ، فقال : واللَّه لا أَغضُضُ : قَالَ الأَعْرابِيُّ : الْمَرْءُ يُحِبُّ الْقَوم ولَمَّا يلْحق بِهِمْ؟ قال النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «الْمرْءُ مع منْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيامةِ » فما زَالَ يُحدِّثُنَا حتَّى ذكر باباً من الْمَغْرب مَسيرةُ عرْضِه أوْ يسِير الرَّاكِبُ في عرْضِهِ أَرْبَعِينَ أَوْ سَبْعِينَ عَاماً. قَالَ سُفْيانُ أَحدُ الرُّوَاةِ . قِبل الشَّامِ خلقَهُ اللَّهُ تعالى يوْم خلق السموات والأَرْضَ مفْتوحاً لِلتَّوبة لا يُغلقُ حتَّى تَطلُعَ الشَّمْسُ مِنْهُ » رواه التِّرْمذي وغيره وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Tentang Zirr bin Hubaisy, dia berkata: Aku menemui Shafwan bin 'Assal (semoga Allah meridhainya) untuk menanyakan tentang masalah mengusap khuff (sepatu kulit) (saat berwudhu). Ketika sampai, dia bertanya: 'Ada keperluan apa kamu datang?' Aku menjawab: 'Untuk mencari ilmu.' Dia berkata: 'Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk pencari ilmu karena ridha dengan ilmu yang dia cari.' Aku bertanya: 'Dalam hatiku masih ada keraguan tentang masalah mengusap khuff (saat berwudhu) setelah membasuh kedua kaki, dan engkau adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ, jadi aku bertanya kepadamu, apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu tentang masalah ini?' Dia menjawab: 'Ya, pernah. Beliau memerintahkan kami ketika kami dalam perjalanan untuk tidak melepas khuff selama tiga hari tiga malam, kecuali karena junub. Adapun karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur, tidak perlu melepas khuff (saat berwudhu).' Aku bertanya lagi: 'Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah cinta?' Dia menjawab: 'Ya, pernah. Suatu hari kami sedang bepergian bersama Rasulullah ﷺ. Ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba seorang badui memanggil beliau dengan suara keras: 'Wahai Muhammad!' Rasulullah ﷺ menjawab dengan suara sekeras suara orang itu: 'Aku di sini.' Aku (Shafwan) berkata kepada orang itu: 'Kurangilah suaramu karena engkau sedang berada di hadapan Nabi, dan perbuatanmu seperti ini dilarang.' Orang itu menjawab: 'Demi Allah, aku tidak akan mengurangi suaraku.' Orang badui itu bertanya: 'Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi amal baiknya tidak menyamai amal baik mereka?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Di hari kiamat, setiap orang akan bersama orang yang dia cintai.' Beliau terus menyampaikan kepada kami, dan terakhir beliau mengingatkan: 'Sebuah pintu di sebelah barat, lebarnya atau jarak yang ditempuh seorang pengendara untuk melintasi lebarnya adalah empat puluh atau tujuh puluh tahun.'"
Perawi Sufyan berkata: "(Sebuah pintu) di sebelah barat, Allah menciptakannya sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi, terbuka untuk menerima taubat, tidak akan ditutup
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan menuntut ilmu syar'i. Malaikat merendahkan sayapnya sebagai bentuk keridhaan terhadap penuntut ilmu. Kisah ini juga menunjukkan adab dalam mencari ilmu, yaitu mendatangi sumber yang ahli (sahabat Nabi) untuk mengklarifikasi keraguan dalam masalah agama, seperti hukum mengusap khuf.
Perawi Sufyan berkata: "(Sebuah pintu) di sebelah barat, Allah menciptakannya sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi, terbuka untuk menerima taubat, tidak akan ditutup
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan menuntut ilmu syar'i. Malaikat merendahkan sayapnya sebagai bentuk keridhaan terhadap penuntut ilmu. Kisah ini juga menunjukkan adab dalam mencari ilmu, yaitu mendatangi sumber yang ahli (sahabat Nabi) untuk mengklarifikasi keraguan dalam masalah agama, seperti hukum mengusap khuf.
# 12
وعنْ أبي سعِيدٍ سَعْد بْنِ مالك بْنِ سِنانٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه أَن نَبِيَّ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « كان فِيمنْ كَانَ قَبْلكُمْ رَجُلٌ قتل تِسْعةً وتِسْعين نفْساً ، فسأَل عن أَعلَم أَهْلِ الأَرْضِ فدُلَّ على راهِبٍ ، فَأَتَاهُ فقال : إِنَّهُ قَتَل تِسعةً وتسعِينَ نَفْساً ، فَهلْ لَهُ مِنْ توْبَةٍ ؟ فقال : لا فقتلَهُ فكمَّلَ بِهِ مِائةً ثمَّ سألَ عن أعلم أهلِ الأرضِ ، فدُلَّ على رجلٍ عالمٍ فقال: إنهَ قَتل مائةَ نفسٍ فهلْ لَهُ مِنْ تَوْبةٍ ؟ فقالَ: نَعَمْ ومنْ يحُولُ بيْنَهُ وبيْنَ التوْبة ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كذا وكذا ، فإِنَّ بها أُنَاساً يعْبُدُونَ الله تعالى فاعْبُدِ الله مَعْهُمْ ، ولا تَرْجعْ إِلى أَرْضِكَ فإِنَّهَا أَرْضُ سُوءٍ ، فانطَلَق حتَّى إِذا نَصَف الطَّريقُ أَتَاهُ الْموْتُ فاختَصمتْ فيهِ مَلائكَةُ الرَّحْمَةِ وملاكةُ الْعَذابِ . فقالتْ ملائكةُ الرَّحْمَةَ : جاءَ تائِباً مُقْبلا بِقلْبِهِ إِلى اللَّهِ تعالى ، وقالَتْ ملائكَةُ الْعذابِ : إِنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خيْراً قطُّ ، فأَتَاهُمْ مَلكٌ في صُورَةِ آدمي فجعلوهُ بيْنهُمْ أَي حكماً فقال قيسوا ما بَيْن الأَرْضَين فإِلَى أَيَّتهما كَان أَدْنى فهْو لَهُ، فقاسُوا فوَجَدُوه أَدْنى إِلَى الأَرْضِ التي أَرَادَ فَقبَضْتهُ مَلائكَةُ الرَّحمةِ » متفقٌ عليه.
وفي روايةٍ في الصحيح : « فكَان إِلَى الْقرْيَةِ الصَّالحَةِ أَقْربَ بِشِبْرٍ ، فجُعِل مِنْ أَهْلِها » وفي رِواية في الصحيح : « فأَوْحَى اللَّهُ تعالَى إِلَى هَذِهِ أَن تَبَاعَدِى، وإِلى هَذِهِ أَن تَقرَّبِي وقَال : قِيسُوا مَا بيْنهمَا ، فَوَجدُوه إِلَى هَذِهِ أَقَرَبَ بِشِبْرٍ فَغُفَرَ لَهُ » . وفي روايةٍ : « فنأَى بِصَدْرِهِ نَحْوهَا » .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Sa'd bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.' (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daraquthni, hadits hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip dasar dalam Islam untuk menghilangkan kemudaratan. Larangan "tidak boleh membahayakan" berarti dilarang melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Larangan "tidak boleh dibahayakan" berarti kita juga berhak untuk tidak dizalimi atau dirugikan oleh pihak lain. Intinya, Islam melindungi setiap individu dari segala bentuk bahaya dan kezaliman, baik sebagai pelaku maupun korban.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip dasar dalam Islam untuk menghilangkan kemudaratan. Larangan "tidak boleh membahayakan" berarti dilarang melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Larangan "tidak boleh dibahayakan" berarti kita juga berhak untuk tidak dizalimi atau dirugikan oleh pihak lain. Intinya, Islam melindungi setiap individu dari segala bentuk bahaya dan kezaliman, baik sebagai pelaku maupun korban.
# 13
وعَنْ عبْدِ اللَّهِ بنِ كَعْبِ بنِ مَالكٍ ، وكانَ قائِدَ كعْبٍ رضِيَ الله عنه مِنْ بَنِيهِ حِينَ عَمِيَ، قال : سَمِعْتُ كعْبَ بن مَالكٍ رضِي الله عنه يُحَدِّثُ بِحدِيِثِهِ حِين تخَلَّف عَنْ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، في غزوةِ تبُوكَ . قَال كعْبٌ : لمْ أَتخلَّفْ عَنْ رسولِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، في غَزْوَةٍ غَزَاها إِلاَّ في غزْوَةِ تَبُوكَ ، غَيْر أَنِّي قدْ تخلَّفْتُ في غَزْوةِ بَدْرٍ ، ولَمْ يُعَاتَبْ أَحد تَخلَّف عنْهُ ، إِنَّما خَرَجَ رسولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم والمُسْلِمُونَ يُريُدونَ عِيرَ قُريْش حتَّى جَمعَ الله تعالَى بيْنهُم وبيْن عَدُوِّهِمْ عَلَى غيْرِ ميعادٍ . وَلَقَدْ شهدْتُ مَعَ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ليْلَةَ العَقبَةِ حِينَ تَوَاثَقْنَا عَلَى الإِسْلامِ ، ومَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشهَدَ بَدْرٍ ، وإِن كَانتْ بدْرٌ أَذْكَرَ في النَّاسِ مِنهَا وكان من خبري حِينَ تخلَّفْتُ عَنْ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، في غَزْوَةِ تبُوك أَنِّي لَمْ أَكُنْ قَطُّ أَقْوَى ولا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخلَّفْتُ عَنْهُ في تِلْكَ الْغَزْوَة ، واللَّهِ ما جَمعْتُ قبْلها رَاحِلتيْنِ قطُّ حتَّى جَمَعْتُهُما في تلك الْغَزوَةِ ، ولَمْ يكُن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُريدُ غَزْوةً إِلاَّ ورَّى بغَيْرِهَا حتَّى كَانَتْ تِلكَ الْغَزْوةُ ، فغَزَاها رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في حَرٍّ شَديدٍ ، وَاسْتَقْبَلَ سَفراً بَعِيداً وَمَفَازاً. وَاسْتَقْبَلَ عَدداً كَثيراً ، فجَلَّى للْمُسْلمِينَ أَمْرَهُمْ ليَتَأَهَّبوا أُهْبَةَ غَزْوِهِمْ فَأَخْبَرَهُمْ بوَجْهِهِمُ الَّذي يُريدُ ، وَالْمُسْلِمُون مَع رسول الله كثِيرٌ وَلاَ يَجْمَعُهُمْ كِتَابٌ حَافِظٌ « يُريدُ بذلكَ الدِّيَوان » قال كَعْبٌ : فقلَّ رَجُلٌ يُريدُ أَنْ يَتَغَيَّبَ إِلاَّ ظَنَّ أَنَّ ذلكَ سَيَخْفى بِهِ مَالَمْ يَنْزِلْ فيهِ وَحْىٌ مِن اللَّهِ ، وغَزَا رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم تلكَ الغزوةَ حين طَابت الثِّمَارُ والظِّلالُ ، فَأَنا إِلَيْهَا أَصْعرُ ، فتجهَّز رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَالْمُسْلِمُون معهُ ، وطفِقْت أَغدو لِكىْ أَتَجَهَّزَ معهُ فأَرْجعُ ولمْ أَقْض شيئاً ، وأَقُولُ في نَفْسى: أَنا قَادِرٌ علَى ذلك إِذا أَرَدْتُ، فلمْ يَزلْ يتمادى بي حتَّى اسْتمَرَّ بالنَّاسِ الْجِدُّ ، فأَصْبَحَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم غَادياً والْمُسْلِمُونَ معَهُ ، وَلَمْ أَقْضِ مِنْ جهازي شيْئاً ، ثُمَّ غَدَوْتُ فَرَجَعْتُ وَلَم أَقْض شَيْئاً ، فَلَمْ يزَلْ يَتَمادَى بِي حَتَّى أَسْرعُوا وتَفَارَط الْغَزْوُ ، فَهَمَمْتُ أَنْ أَرْتَحِل فأَدْركَهُمْ ، فَيَاليْتَني فَعلْتُ ، ثُمَّ لَمْ يُقَدَّرْ ذلك لي ، فَطفقتُ إِذَا خَرَجْتُ في النَّاسِ بَعْد خُرُوجِ رسُول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُحْزُنُنِي أَنِّي لا أَرَى لِي أُسْوَةً ، إِلاَّ رَجُلاً مَغْمُوصاً عَلَيْه في النِّفاقِ ، أَوْ رَجُلاً مِمَّنْ عَذَرَ اللَّهُ تعالَى مِن الضُّعَفَاءِ ، ولَمْ يَذكُرني رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حتَّى بَلَغ تَبُوكَ ، فقالَ وَهُوَ جَالِسٌ في القوْمِ بتَبُوك : ما فَعَلَ كعْبُ بْنُ مَالكٍ ؟ فقالَ رَجُلٌ مِن بَنِي سلمِة : يا رسول الله حَبَسَهُ بُرْدَاهُ ، وَالنَّظرُ في عِطْفيْه . فَقال لَهُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ رضيَ اللَّهُ عنه . بِئس ما قُلْتَ ، وَاللَّهِ يا رسول الله مَا عَلِمْنَا علَيْهِ إِلاَّ خَيْراً ، فَسكَت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم. فبَيْنَا هُوَ علَى ذلك رَأَى رَجُلاً مُبْيِضاً يَزُولُ به السَّرَابُ ، فقالَ رسولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : كُنْ أَبَا خَيْثمَةَ ، فَإِذا هوَ أَبُو خَيْثَمَةَ الأَنْصَاريُّ وَهُوَ الَّذي تَصَدَّقَ بصاع التَّمْر حين لمَزَهُ المنافقون قَالَ كَعْبٌ : فَلَّما بَلَغني أَنَّ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَدْ توَجَّهَ قَافلا منْ تَبُوكَ حَضَرَني بَثِّي ، فطفقتُ أَتذكَّرُ الكذِبَ وَأَقُولُ: بِمَ أَخْرُجُ من سَخطه غَداً وَأَسْتَعينُ عَلَى ذلكَ بِكُلِّ ذِي رَأْي مِنْ أَهْلي ، فَلَمَّا قِيلَ : إِنَّ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قدْ أَظِلَّ قادماً زاحَ عَنِّي الْبَاطِلُ حَتَّى عَرَفتُ أَنِّي لم أَنج مِنْهُ بِشَيءٍ أَبَداً فَأَجْمَعْتُ صِدْقَةُ ، وأَصْبَحَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَادماً ، وكان إِذا قدمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بالْمَسْجد فرَكعَ فيه رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلس للنَّاس ، فلمَّا فعل ذَلك جَاءَهُ الْمُخلَّفُونَ يعْتذرُون إِليْه وَيَحْلفُون لَهُ ، وكانوا بضعاً وثمَانين رَجُلا فقبل منْهُمْ عَلانيَتهُمْ وَاسْتغفَر لهُمْ وَوَكلَ سَرَائرَهُمْ إِلى الله تعَالى . حتَّى جئْتُ ، فلمَّا سَلَمْتُ تبسَّم تبَسُّم الْمُغْضب ثمَّ قَالَ : تَعَالَ، فجئتُ أَمْشي حَتى جَلَسْتُ بيْن يَدَيْهِ ، فقالَ لِي : مَا خَلَّفَكَ ؟ أَلَمْ تكُنْ قد ابْتَعْتَ ظَهْرَك، قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ الله إِنِّي واللَّه لَوْ جلسْتُ عنْد غيْركَ منْ أَهْلِ الدُّنْيَا لَرَأَيْتُ أَني سَأَخْرُج منْ سَخَطه بعُذْرٍ ، لقدْ أُعْطيتُ جَدَلا ، وَلَكنَّي وَاللَّه لقدْ عَلمْتُ لَئن حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حديث كَذبٍ ترْضى به عنِّي لَيُوشكَنَّ اللَّهُ يُسْخطك عليَّ ، وإنْ حَدَّثْتُكَ حَديث صدْقٍ تجدُ علَيَّ فيه إِنِّي لأَرْجُو فِيه عُقْبَى الله عَزَّ وَجلَّ ، واللَّه ما كان لِي من عُذْرٍ ، واللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَى وَلا أَيْسر مِنِّي حِينَ تَخلفْتُ عَنك قَالَ : فقالَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَمَّا هذَا فقَدْ صَدَقَ ، فَقُمْ حَتَّى يَقْضيَ اللَّهُ فيكَ » وسَارَ رِجَالٌ مِنْ بَنِي سَلمة فاتَّبعُوني ، فقالُوا لِي : واللَّهِ مَا عَلِمْنَاكَ أَذنْبتَ ذَنْباً قبْل هذَا ، لقَدْ عَجَزتَ في أن لا تَكُون اعتذَرْت إِلَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بمَا اعْتَذَرَ إِلَيهِ الْمُخَلَّفُون فقَدْ كَانَ كافِيَكَ ذنْبكَ اسْتِغفارُ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لَك . قَالَ : فوالله ما زَالُوا يُؤنِّبُوننِي حتَّى أَرَدْت أَنْ أَرْجِعَ إِلى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فأَكْذِب نفسْي ، ثُمَّ قُلتُ لهُم : هَلْ لَقِيَ هَذا معِي مِنْ أَحدٍ ؟ قَالُوا : نَعَمْ لقِيَهُ معك رَجُلان قَالا مِثْلَ مَا قُلْتَ ، وقيل لَهمَا مِثْلُ مَا قِيلَ لكَ ، قَال قُلْتُ : مَن هُمَا ؟ قالُوا : مُرارةُ بْنُ الرَّبِيع الْعَمْرِيُّ ، وهِلال ابْن أُميَّةَ الْوَاقِفِيُّ ؟ قَالَ : فَذكَروا لِي رَجُلَيْنِ صَالِحَيْن قدْ شَهِدا بدْراً فِيهِمَا أُسْوَةٌ . قَالَ : فَمَضيْت حِينَ ذَكَروهُمَا لِي .
وَنهَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عن كَلامِنَا أَيُّهَا الثلاثَةُ مِن بَين من تَخَلَّف عَنهُ ، قالَ : فاجْتَنبَنا النَّاس أَوْ قَالَ: تَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّى تَنَكَّرت لِي في نفسي الأَرْضُ ، فَمَا هيَ بالأَرْضِ التي أَعْرِفُ ، فَلَبثْنَا عَلَى ذَلكَ خمْسِينَ ليْلَةً . فأَمَّا صَاحبايَ فَاستَكَانَا وَقَعَدَا في بُيُوتهمَا يَبْكيَانِ وأَمَّا أَنَا فَكُنتُ أَشَبَّ الْقَوْمِ وَأَجْلَدَهُمْ ، فَكُنتُ أَخْرُج فَأَشهَدُ الصَّلاة مَعَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَطُوفُ في الأَسْوَاقِ وَلا يُكَلِّمُنِي أَحدٌ ، وآتِي رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فأُسَلِّمُ عَلَيْهِ ، وَهُو في مجْلِسِهِ بعدَ الصَّلاةِ ، فَأَقُولُ في نفسِي : هَل حَرَّكَ شفتَيهِ بردِّ السَّلامِ أَم لاَ ؟ ثُمَّ أُصلِّي قريباً مِنهُ وأُسَارِقُهُ النَّظَرَ ، فَإِذَا أَقبَلتُ على صلاتِي نَظر إِلَيَّ ، وإِذَا الْتَفَتُّ نَحْوَهُ أَعْرَضَ عَنِّي ، حَتى إِذا طَال ذلكَ عَلَيَّ مِن جَفْوَةِ الْمُسْلمينَ مشَيْت حَتَّى تَسوَّرْت جدارَ حَائط أبي قَتَادَةَ وَهُوَا ابْن عَمِّي وأَحبُّ النَّاسَ إِلَيَّ ، فَسلَّمْتُ عَلَيْهِ فَواللَّهِ مَا رَدَّ عَلَيَّ السَّلامَ ، فَقُلْت لَه : يا أَبَا قتادَة أَنْشُدكَ باللَّه هَلْ تَعْلَمُني أُحبُّ الله وَرَسُولَه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ؟ فَسَكَتَ، فَعُدت فَنَاشَدتُه فَسكَتَ ، فَعُدْت فَنَاشَدْته فَقَالَ : الله ورَسُولُهُ أَعْلَمُ . فَفَاضَتْ عَيْنَايَ ، وَتَوَلَّيْتُ حَتَّى تَسَوَّرتُ الْجدَارَ
فبَيْنَا أَنَا أَمْشي في سُوقِ المدينةِ إِذَا نَبَطيُّ منْ نبطِ أَهْلِ الشَّام مِمَّنْ قَدِمَ بالطَّعَامِ يبيعُهُ بالمدينةِ يَقُولُ : مَنْ يَدُلُّ عَلَى كعْبِ بْنِ مَالكٍ ؟ فَطَفقَ النَّاسُ يشيرون له إِلَى حَتَّى جَاءَني فَدَفَعَ إِلى كتَاباً منْ مَلِكِ غَسَّانَ ، وكُنْتُ كَاتِباً . فَقَرَأْتُهُ فَإِذَا فيهِ : أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ قَدْ بلَغَنَا أَن صاحِبَكَ قدْ جَفاكَ ، ولمْ يجْعلْك اللَّهُ بدَارِ هَوَانٍ وَلا مَضْيعَةٍ ، فَالْحقْ بِنا نُوَاسِك ، فَقلْت حِين قرأْتُهَا: وَهَذِهِ أَيْضاً من الْبَلاءِ فَتَيمَّمْتُ بِهَا التَّنُّور فَسَجرْتُهَا .
حَتَّى إِذَا مَضَتْ أَرْبَعُون مِن الْخَمْسِينَ وَاسْتَلْبَثِ الْوَحْىُ إِذَا رسولِ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَأْتِينِي ، فَقَالَ: إِنَّ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَأَمُرُكَ أَنْ تَعْتزِلَ امْرأَتكَ ، فقُلْتُ: أُطَلِّقُهَا ، أَمْ مَاذا أَفعْلُ ؟ قَالَ: لا بَلْ اعتْزِلْهَا فلا تقربَنَّهَا ، وَأَرْسلَ إِلى صَاحِبيَّ بِمِثْلِ ذلِكَ . فَقُلْتُ لامْرَأَتِي : الْحقِي بِأَهْلكِ فَكُونِي عِنْدَهُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللُّهُ في هذَا الأَمر ، فَجَاءَت امْرأَةُ هِلالِ بْنِ أُمَيَّةَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقالتْ لَهُ : يا رسول الله إِنَّ هِلالَ بْنَ أُميَّةَ شَيْخٌ ضَائعٌ ليْسَ لَهُ خادِمٌ ، فهلْ تَكْرهُ أَنْ أَخْدُمهُ ؟ قال : لا، وَلَكِنْ لا يَقْربَنَّك . فَقَالَتْ : إِنَّهُ وَاللَّه مَا بِهِ مِنْ حَركةٍ إِلَى شَيءٍ ، وَوَاللَّه ما زَالَ يَبْكِي مُنْذُ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ إِلَى يَوْمِهِ هَذَا . فَقَال لِي بعْضُ أَهْلِي: لَو اسْتأَذنْت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في امْرَأَتِك ، فقَدْ أَذن لامْرأَةِ هِلالِ بْنِ أُمَيَّةَ أَنْ تَخْدُمَهُ؟ فقُلْتُ: لا أَسْتَأْذِنُ فِيهَا رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ومَا يُدْريني مَاذا يَقُولُ رسولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذَا اسْتَأْذَنْتُهُ فِيهَا وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ فلَبِثْتُ بِذلك عشْر ليالٍ ، فَكَمُلَ لَنا خمْسُونَ لَيْلَةً مِنْ حينَ نُهي عَنْ كَلامنا .
ثُمَّ صَلَّيْتُ صَلاَةَ الْفَجْرِ صباحَ خمْسينَ لَيْلَةً عَلَى ظهْرِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِنَا ، فَبينَا أَنَا جَالسٌ عَلَى الْحال التي ذكَر اللَّهُ تعالَى مِنَّا ، قَدْ ضَاقَتْ عَلَيَّ نَفْسِى وَضَاقَتْ عَليَّ الأَرضُ بمَا رَحُبَتْ، سَمعْتُ صَوْتَ صَارِخٍ أوفي عَلَى سَلْعٍ يَقُولُ بأَعْلَى صَوْتِهِ : يَا كَعْبُ بْنَ مَالِكٍ أَبْشِرْ، فخرَرْتُ سَاجِداً ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ قَدْ جَاءَ فَرَجٌ فَآذَنَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم النَّاس بِتوْبَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْنَا حِين صَلَّى صَلاة الْفجْرِ فذهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُوننا ، فذهَبَ قِبَلَ صَاحِبَيَّ مُبَشِّرُونَ ، وركض رَجُلٌ إِليَّ فرَساً وَسَعَى ساعٍ مِنْ أَسْلَمَ قِبَلِي وَأَوْفَى عَلَى الْجَبلِ ، وكَان الصَّوْتُ أَسْرَعَ مِنَ الْفَرَسِ ، فلمَّا جَاءَنِي الَّذي سمِعْتُ صوْتَهُ يُبَشِّرُنِي نَزَعْتُ لَهُ ثَوْبَيَّ فَكَسَوْتُهُمَا إِيَّاهُ ببشارَته واللَّه ما أَمْلِكُ غَيْرَهُمَا يوْمَئذٍ ، وَاسْتَعَرْتُ ثَوْبَيْنِ فَلَبسْتُهُمَا وانْطَلَقتُ أَتَأَمَّمُ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوْجاً فَوْجاً يُهَنِّئُونني بِالتَّوْبَةِ وَيَقُولُون لِي : لِتَهْنِكَ تَوْبَةُ الله عَلَيْكَ، حتَّى دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جَالِسٌ حَوْلَهُ النَّاسُ ، فَقَامَ طلْحَةُ بْنُ عُبَيْد الله رضي الله عنه يُهَرْوِل حَتَّى صَافَحَنِي وهَنَّأَنِي ، واللَّه مَا قَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهاجِرِينَ غَيْرُهُ ، فَكَان كَعْبٌ لا يَنْساهَا لِطَلحَة . قَالَ كَعْبٌ : فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال: وَهوَ يَبْرُقُ وَجْهُهُ مِنَ السُّرُور أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ ، مُذْ ولَدَتْكَ أُمُّكَ ، فقُلْتُ : أمِنْ عِنْدِكَ يَا رَسُول اللَّهِ أَم مِنْ عِنْد الله ؟ قَالَ : لاَ بَلْ مِنْ عِنْد الله عَز وجَلَّ ، وكانَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذَا سُرَّ اسْتَنارَ وَجْهُهُ حتَّى كَأنَّ وجْهَهُ قِطْعَةُ قَمر، وكُنَّا نعْرِفُ ذلِكَ مِنْهُ، فلَمَّا جلَسْتُ بَيْنَ يدَيْهِ قُلتُ: يَا رسول اللَّهِ إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنْخَلِعَ مِن مَالي صدَقَةً إِلَى اللَّهِ وإِلَى رَسُولِهِ .
فَقَالَ رَسُول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْر لَكَ ، فَقُلْتُ إِنِّي أُمْسِكُ سَهْمِي الَّذي بِخيْبَر . وَقُلْتُ : يَا رَسُولَ الله إِن الله تَعَالىَ إِنَّما أَنْجَانِي بالصدق ، وَإِنْ مِنْ تَوْبَتي أَن لا أُحدِّثَ إِلاَّ صِدْقاً ما بَقِيتُ ، فوا لله ما علِمْتُ أحداً مِنَ المسلمِين أَبْلاْهُ اللَّهُ تَعَالَى في صدْق الْحَديث مُنذُ ذَكَرْتُ ذَلكَ لرِسُولِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَحْسَنَ مِمَّا أَبْلاَنِي اللَّهُ تَعَالَى ، وَاللَّهِ مَا تَعمّدْت كِذْبَةً مُنْذُ قُلْت ذَلِكَ لرَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِلَى يَوْمِي هَذَا ، وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ يَحْفظني اللَّهُ تَعَالى فِيمَا بَقِي ، قَالَ : فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى : { لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ والأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ في سَاعَةِ الْعُسْرةِ } حَتَّى بَلَغَ : { إِنَّه بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَعَلَى الثَّلاَثةِ الَّذينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ } حتى بلغ: { اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادقين } [ التوبة : 117 ، 119 ] .
قالَ كعْبٌ : واللَّهِ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ نِعْمَةٍ قَطُّ بَعْدَ إِذْ هَدانِي اللَّهُ لِلإِسْلام أَعْظمَ في نَفسِي مِنْ صِدْقي رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَن لاَّ أَكُونَ كَذَبْتُهُ ، فأهلكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا إِن الله تَعَالَى قَالَ للَّذِينَ كَذَبُوا حِينَ أَنزَلَ الْوَحْيَ شَرَّ مَا قَالَ لأحدٍ ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : {سيَحلِفون بِاللَّه لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُم إِليْهِم لتُعْرِضوا عَنْهُمْ فأَعْرِضوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْس ومَأواهُمْ جَهَنَّمُ جَزاءً بِمَا كَانُوا يكْسبُون . يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ ترْضَوْا عَنْهُمْ فَإِن الله لاَ يَرْضَى عَنِ الْقَوْم الفاسقين َ } [ التوبة 95 ، 96 ] .
قال كَعْبٌ : كنَّا خُلِّفْنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ عَنْ أَمْر أُولِئَكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حِينَ حَلَفوا لَهُ ، فبايعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ ، وِأرْجَأَ رَسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أمْرَنا حَتَّى قَضَى اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ بِذَلكَ ، قَالَ اللُّه تَعَالَى : { وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا } .
وليْسَ الَّذي ذَكَرَ مِمَّا خُلِّفنا تَخَلُّفُنا عَن الغزو ، وَإِنََّمَا هُوَ تَخْلَيفهُ إِيَّانَا وإرجاؤُهُ أَمْرَنَا عَمَّنْ حَلَفَ لَهُ واعْتذَرَ إِليْهِ فَقَبِلَ مِنْهُ . مُتَّفَقٌ عليه .
وفي رواية « أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَرَجَ في غَزْوةِ تَبُوك يَوْمَ الخميسِ ، وَكَان يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الخميس » .
وفي رِوَايةٍ : « وَكَانَ لاَ يَقدُمُ مِنْ سَفَرٍ إِلاَّ نهَاراً في الضُّحَى . فَإِذَا قَدِم بَدَأَ بالمْسجدِ فصلَّى فِيهِ ركْعتيْنِ ثُمَّ جَلَس فِيهِ » .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik — yang menjadi pemandu Ka'ab ketika Ka'ab buta — radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Ka'ab bin Malik ketika beliau bertaubat: 'Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah kamu alami sejak ibumu melahirkanmu.'
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan taubat nasuha dan kejujuran. Ka’ab bin Malik diuji karena mengakui kesalahannya secara terbuka saat tertinggal dari Perang Tabuk tanpa alasan, sementara banyak munafik berbohong. Justru karena kejujurannya itu, taubatnya diterima dan ia mendapat kabar gembira dari Rasulullah. Pelajaran utamanya adalah kejujuran dalam mengakui kesalahan, meskipun pahit, adalah kunci diterimanya taubat dan rahmat Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan taubat nasuha dan kejujuran. Ka’ab bin Malik diuji karena mengakui kesalahannya secara terbuka saat tertinggal dari Perang Tabuk tanpa alasan, sementara banyak munafik berbohong. Justru karena kejujurannya itu, taubatnya diterima dan ia mendapat kabar gembira dari Rasulullah. Pelajaran utamanya adalah kejujuran dalam mengakui kesalahan, meskipun pahit, adalah kunci diterimanya taubat dan rahmat Allah.
# 14
وَعَنْ أبي نُجَيْد بِضَم النُّونِ وَفَتْح الْجيِمِ عِمْرانَ بْنِ الحُصيْنِ الخُزاعيِّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرأَةً مِنْ جُهينةَ أَتَت رَسُولَ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهِيَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَا ، فقَالَتْ : يَا رسول الله أَصَبْتُ حَدّاً فأَقِمْهُ عَلَيَّ ، فَدَعَا نَبِيُّ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَليَّهَا فَقَالَ : أَحْسِنْ إِليْهَا ، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَشُدَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُها ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فرُجِمتْ ، ثُمَّ صلَّى عَلَيْهَا . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ ، قَالَ : لَقَدْ تَابَتْ تَوْبةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْن سبْعِينَ مِنْ أَهْلِ المدِينَةِ لوسعتهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنفْسهَا للَّهِ عَزَّ وجَل؟،» رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Amr bin Imran bin Al-Hushain Az-Zayyi radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya seorang wanita dari suku Juhainah datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan hamil karena perbuatan zina. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah melakukan suatu dosa (yang wajib dihukum), maka hukumlah aku." Nabi memanggil walinya, lalu bersabda: "Perlakukanlah dia dengan baik. Ketika dia telah melahirkan, bawalah dia kepadaku." Walinya pun melaksanakan perintah Rasulullah. Setelah wanita itu melahirkan, ia dibawa menghadap Nabi. Saat itu pakaian wanita itu diikatkan (pada tubuhnya agar tidak terbuka). Kemudian Rasulullah memerintahkan agar ia dirajam dengan batu. Setelah itu beliau menshalatkannya. Lalu Umar berkata: "Apakah engkau menshalatkannya, padahal dia telah berzina?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya dia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya itu dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah, niscaya mencukupi mereka. Apakah engkau menemukan taubat yang lebih utama daripada pengorbanan dirinya untuk Allah?" (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadits ini menceritakan tentang seorang wanita yang datang mengakui perbuatan zinanya dan meminta dihukum. Rasulullah menunda hukuman rajam hingga ia melahirkan. Setelah dirajam, Rasulullah tetap menshalatkannya karena taubatnya yang tulus dan pengorbanannya di jalan Allah dianggap sangat mulia.
Penjelasan singkat: Hadits ini menceritakan tentang seorang wanita yang datang mengakui perbuatan zinanya dan meminta dihukum. Rasulullah menunda hukuman rajam hingga ia melahirkan. Setelah dirajam, Rasulullah tetap menshalatkannya karena taubatnya yang tulus dan pengorbanannya di jalan Allah dianggap sangat mulia.
# 15
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاس وأنس بن مالك رَضِي الله عنْهُم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « لَوْ أَنَّ لابْنِ آدَمَ وَادِياً مِنْ ذَهَبِ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وادِيانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوب اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ » مُتَّفَقٌ عَليْهِ .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya anak Adam memiliki emas sepenuh satu lembah, niscaya ia menginginkan emas sepenuh dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah (kematian). Allah senantiasa menerima taubat orang yang bertaubat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan harta dunia. Hanya kematianlah yang akan menghentikan keinginannya. Namun, Allah Maha Penerima taubat bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan harta dunia. Hanya kematianlah yang akan menghentikan keinginannya. Namun, Allah Maha Penerima taubat bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.
# 16
وَعَنْ أبي هريرة رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « يَضْحكُ اللَّهُ سبْحَانُه وتَعَالَى إِلَى رَجُلَيْنِ يقْتُلُ أحدُهُمَا الآخَرَ يدْخُلاَنِ الجَنَّة ، يُقَاتِلُ هَذَا في سبيلِ اللَّهِ فيُقْتل ، ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيسْلِمُ فيستشهدُ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki; yang satu membunuh yang lain, namun keduanya masuk surga. Yang pertama berperang di jalan Allah lalu terbunuh (ia masuk surga). Kemudian Allah menerima taubat dari si pembunuh (yang kedua) setelah ia masuk Islam, lalu ia pun terbunuh di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Seorang yang awalnya membunuh seorang mujahid, kemudian bertaubat, masuk Islam, dan akhirnya mati syahid, maka keduanya dirahmati Allah dan masuk surga.
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Seorang yang awalnya membunuh seorang mujahid, kemudian bertaubat, masuk Islam, dan akhirnya mati syahid, maka keduanya dirahmati Allah dan masuk surga.