Kitab 1 · Bab 54
Menangis karena takut kepada Allah
✦ 13 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ ويخرون للأذقان يبكون ويزيدهم خشوعاً ﴾ .سورة الإسراء(109)
Terjemahan
Allah berfirman: "Mereka menyungkurkan wajah sambil menangis (ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan), dan (hal itu) menambah mereka khusyuk." (QS. Al-Isra': 109)
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan sifat sejati orang beriman ketika mendengar ayat Allah, yaitu tunduk, menangis penuh rasa takut dan pengagungan. Tangisan itu bukanlah kesedihan, melainkan bukti hati yang hidup dan tersentuh kebesaran-Nya, sehingga menambah kekhusyukan. Hal ini mengajarkan bahwa tujuan membaca Al-Qur’an adalah meresapi maknanya hingga membekas dalam hati dan perilaku.
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan sifat sejati orang beriman ketika mendengar ayat Allah, yaitu tunduk, menangis penuh rasa takut dan pengagungan. Tangisan itu bukanlah kesedihan, melainkan bukti hati yang hidup dan tersentuh kebesaran-Nya, sehingga menambah kekhusyukan. Hal ini mengajarkan bahwa tujuan membaca Al-Qur’an adalah meresapi maknanya hingga membekas dalam hati dan perilaku.
# 2
وقال تعالى: ﴿ أفمن هذا الحديث تعجبون، وتضحكون ولا تبكون! ﴾ .سورة النجم(59-60)
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka apakah mereka merasa heran terhadap Al-Qur'an? Dan (apakah) mereka menertawakan dan tidak menangis (karena takut akan peringatannya)?" (QS. An-Najm: 59-60)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia mengecam sikap orang-orang yang mengherankan dan menertawakan kebenaran Al-Qur'an, tanpa disertai rasa takut dan tangis penyesalan. Pelajaran utamanya adalah agar kita menerima wahyu dengan sikap khusyuk, takzim, dan introspeksi diri, bukan dengan ejekan atau keangkuhan. Setiap peringatan Allah harus menyentuh hati, mendorong kepada tangis keinsafan dan perbaikan amal.
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia mengecam sikap orang-orang yang mengherankan dan menertawakan kebenaran Al-Qur'an, tanpa disertai rasa takut dan tangis penyesalan. Pelajaran utamanya adalah agar kita menerima wahyu dengan sikap khusyuk, takzim, dan introspeksi diri, bukan dengan ejekan atau keangkuhan. Setiap peringatan Allah harus menyentuh hati, mendorong kepada tangis keinsafan dan perbaikan amal.
# 3
وعَن أبي مَسعودٍ ، رضي اللَّه عنه . قالَ : قال لي النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «اقْرَأْ علَّي القُرآنَ » قلتُ : يا رسُولَ اللَّه ، أَقْرَأُ عَلَيْكَ ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟، قالَ : « إِني أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي » فقرَأْتُ عليه سورَةَ النِّساء ، حتى جِئْتُ إلى هذِهِ الآية : { فَكَيْفَ إِذا جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّة بِشَهيد وِجئْنا بِكَ عَلى هَؤلاءِ شَهِيداً } [ الآية : 41 ] قال : « حَسْبُكَ الآنَ » فَالْتَفَتَّ إِليْهِ . فَإِذَا عِيْناهُ تَذْرِفانِ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ berkata kepadaku: "Bacakanlah Al-Qur'an untukku." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah aku membacakannya untukmu, padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?" Beliau bersabda: "Aku ingin mendengar dari orang lain." Maka aku membacakan surat An-Nisa' hingga sampai pada ayat yang artinya: "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?" Beliau bersabda: "Cukup." Aku menoleh kepadanya, ternyata kedua matanya meneteskan air mata. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari orang lain, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian hingga meneteskan air mata saat ayat tentang hari kiamat dibacakan. Hal ini mengajarkan kita untuk menghayati kandungan Al-Qur'an, merasakan keagungannya, dan menghormati siapa pun yang membacanya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari orang lain, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian hingga meneteskan air mata saat ayat tentang hari kiamat dibacakan. Hal ini mengajarkan kita untuk menghayati kandungan Al-Qur'an, merasakan keagungannya, dan menghormati siapa pun yang membacanya.
# 4
وعن أنس ، رضي اللَّه عنه ، قالَ : خَطَبَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خُطْبَةً مَا سَمِعْتُ مِثْلَهَا قَطُّ ، فقالَ : « لَوْ تعْلمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كثيراً» قال : فَغَطَّى أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . وُجُوهَهُمْ . ولهمْ خَنِينٌ . متفقٌ عليه . وَسَبَقَ بيَانُهُ في بابِ الخَوفِ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah berkhutbah dengan suatu khutbah yang belum pernah aku dengar sebelumnya, beliau bersabda: "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Anas berkata: Maka para sahabat Rasulullah ﷺ menutupi wajah mereka sambil menangis tersedu-sedu. Muttafaqun 'alaih. Penjelasannya telah disebutkan dalam bab tentang rasa takut (kepada Allah).
Penjelasan: Hadits ini menggambarkan betapa beratnya pengetahuan Nabi tentang akhirat dan takdir manusia, sehingga membuat beliau sedih dan menangis, serta mengajak para sahabat untuk serius dalam beribadah dan tidak terlena oleh dunia.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengungkapkan betapa dalamnya ilmu Rasulullah ﷺ tentang hakikat dunia dan akhirat. Beliau mengajarkan bahwa jika manusia menyadari realitas yang sebenarnya, mereka akan lebih banyak bersedih dan takut kepada Allah daripada bergembira dengan dunia. Tangisan para sahabat adalah bukti kesungguhan mereka dalam merenungkan peringatan ini, mengajak kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan tidak terlena oleh kehidupan fana.
Penjelasan: Hadits ini menggambarkan betapa beratnya pengetahuan Nabi tentang akhirat dan takdir manusia, sehingga membuat beliau sedih dan menangis, serta mengajak para sahabat untuk serius dalam beribadah dan tidak terlena oleh dunia.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengungkapkan betapa dalamnya ilmu Rasulullah ﷺ tentang hakikat dunia dan akhirat. Beliau mengajarkan bahwa jika manusia menyadari realitas yang sebenarnya, mereka akan lebih banyak bersedih dan takut kepada Allah daripada bergembira dengan dunia. Tangisan para sahabat adalah bukti kesungguhan mereka dalam merenungkan peringatan ini, mengajak kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan tidak terlena oleh kehidupan fana.
# 5
وعن أبي هريرة ، رضي اللَّه عنه ، قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لاَيَلِجُ النَّارَ رَجْلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّه حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ في الضَّرْع وَلا يَجْتَمعُ غُبَارٌ في سَبِيلِ اللَّه ودُخانُ جَهَنَّمَ » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke tempat asalnya. Dan debu (keringat) perjuangan di jalan Allah tidak akan bertemu dengan asap neraka." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari dua amalan: menangis karena takut kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya. Tangis ikhlas akibat rasa takut (khasyyah) kepada Allah adalah tanda keimanan yang dapat menyelamatkan dari neraka. Demikian pula, keringat dan debu yang melekat dalam perjuangan fisabilillah akan menjadi penghalang dari siksa api neraka. Keduanya menunjukkan betapa Allah sangat menghargai ketulusan hati dan pengorbanan hamba-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari dua amalan: menangis karena takut kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya. Tangis ikhlas akibat rasa takut (khasyyah) kepada Allah adalah tanda keimanan yang dapat menyelamatkan dari neraka. Demikian pula, keringat dan debu yang melekat dalam perjuangan fisabilillah akan menjadi penghalang dari siksa api neraka. Keduanya menunjukkan betapa Allah sangat menghargai ketulusan hati dan pengorbanan hamba-Nya.
# 6
وعنه قالَ : قالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلاَّ ظِلُّهُ : إِمامٌ عادِلٌ ، وشابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّه تَعالى . وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّق بالمَسَاجِدِ . وَرَجُلانِ تَحَابَّا في اللَّه . اجتَمَعا عَلَيهِ . وتَفَرَّقَا عَلَيهِ ، وَرَجَلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمالٍ . فَقَالَ : إِنّي أَخافُ اللَّه . ورَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةَ فأَخْفاها حتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمالهُ ما تُنْفِقُ يَمِينهُ . ورَجُلٌ ذَكَرَ اللَّه خالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ» متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan 'Arsy-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena itu, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan, lalu ia menjawab: 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah', seorang laki-laki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu meneteskan air matanya (karena takut kepada-Nya)." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan naungan Allah di hari Kiamat bagi tujuh golongan yang istimewa. Intinya, perlindungan itu diberikan kepada siapa saja yang konsisten dalam ketakwaan, baik dalam urusan publik (seperti pemimpin adil) maupun privat (seperti menjaga diri dari godaan). Hikmahnya, amal yang tampak biasa (seperti cinta karena Allah atau sedekah rahasia) bernilai tinggi di sisi-Nya, dan kesempatan meraih kemuliaan itu terbuka bagi semua kalangan, dari pemuda hingga orang dewasa.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan naungan Allah di hari Kiamat bagi tujuh golongan yang istimewa. Intinya, perlindungan itu diberikan kepada siapa saja yang konsisten dalam ketakwaan, baik dalam urusan publik (seperti pemimpin adil) maupun privat (seperti menjaga diri dari godaan). Hikmahnya, amal yang tampak biasa (seperti cinta karena Allah atau sedekah rahasia) bernilai tinggi di sisi-Nya, dan kesempatan meraih kemuliaan itu terbuka bagi semua kalangan, dari pemuda hingga orang dewasa.
# 7
وعَن عبد اللَّه بنِ الشِّخِّير . رضي اللَّه عنه . قال : أَتَيْتُ رسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهُو يُصلِّي ولجوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ المرْجَلِ مِنَ البُكَاءِ .
حديث صحيح رواه أبو داود . والتِّرمذيُّ في الشَّمائِل بإِسنادٍ صحيحٍ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Asy-Syikhkhir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah menemui Rasulullah ﷺ, saat itu beliau sedang shalat, dan dari dada beliau terdengar suara gemuruh seperti gemuruhnya periuk yang mendidih. Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail dengan sanad yang shahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kekhusyukan dan keharuan Rasulullah �ah dalam shalat, yang terwujud hingga ke suara tangis dari dada beliau. Ini menjadi pelajaran utama tentang bagaimana seharusnya menghadirkan hati dan merasakan keagungan Allah saat berdiri di hadapan-Nya. Seorang muslim diajarkan untuk meneladani kesungguhan dan penghayatan mendalam dalam ibadah, jauh dari sikap lalai atau tergesa-gesa.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kekhusyukan dan keharuan Rasulullah �ah dalam shalat, yang terwujud hingga ke suara tangis dari dada beliau. Ini menjadi pelajaran utama tentang bagaimana seharusnya menghadirkan hati dan merasakan keagungan Allah saat berdiri di hadapan-Nya. Seorang muslim diajarkan untuk meneladani kesungguhan dan penghayatan mendalam dalam ibadah, jauh dari sikap lalai atau tergesa-gesa.
# 8
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه . قالَ : قالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، لأَبِيِّ بنِ كَعْبٍ . رضي اللَّه عنه : « إِنَّ اللَّه ، عَزَّ وجَلَّ ، أَمْرَني أَنْ أَقْرَأَ علَيْكَ : لَمْ يَكُن الَّذِينَ كَفَرُوا » قَالَ : وَسَمَّاني ؟ قال : « نَعَمْ » فَبَكى أُبَيٌّ . متفقٌ عليه . وفي رواية: فَجَعَلَ أُبَيٌّ يَبْكي.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka'ab: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk membacakan (Al-Qur'an) kepadamu: 'Sesungguhnya orang-orang kafir...'." Ubay bertanya: "Apakah Allah menyebut namaku kepada Tuan?" Beliau menjawab: "Ya." Maka Ubay pun menangis. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dalam satu riwayat lain: Ubay pun mulai menangis.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan sahabat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut namanya secara khusus di hadapan Nabi-Nya. Tangisannya adalah ekspresi haru, syukur, dan rasa takut (khauf) karena pengagungan yang besar kepada Allah. Pelajaran pentingnya adalah betapa tingginya kedudukan orang yang mempelajari, mengajarkan, dan mencintai Al-Qur'an, serta bagaimana seharusnya seorang hamba menyikapi kemuliaan yang diterimanya dengan penuh kesadaran akan keagungan Sang Pemberi nikmat.
Dalam satu riwayat lain: Ubay pun mulai menangis.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan sahabat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut namanya secara khusus di hadapan Nabi-Nya. Tangisannya adalah ekspresi haru, syukur, dan rasa takut (khauf) karena pengagungan yang besar kepada Allah. Pelajaran pentingnya adalah betapa tingginya kedudukan orang yang mempelajari, mengajarkan, dan mencintai Al-Qur'an, serta bagaimana seharusnya seorang hamba menyikapi kemuliaan yang diterimanya dengan penuh kesadaran akan keagungan Sang Pemberi nikmat.
# 9
وعنه قالَ : قالَ أَبو بَكْرٍ لعمرَ ، رضي اللَّه عنهما . بعدَ وفاةِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : انْطَلِقْ بِنا إلى أُمِّ أَيمنَ . رضي اللَّه عنها . نَزُورُها كما كَانَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، يَزُورُها . فَلَمَّا انْتَهَيا إِليْها بَكَتْ . فقَالا لها : ما يُبْكِيكِ ؟ أَمَا تَعْلَمِينَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّه تعالى خَيْرٌ لِرَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قالَتْ : إِني لاَ أَبْكِي ، أَنِّي لأَعْلَمُ أَنَّ ما عنْدَ اللَّه خَيرٌ لِرَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ولكِنِّي أَبْكِي أَنَّ الوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّماءِ فَهَيَّجَتْهُما عَلى البُكاءِ ، فَجَعَلا يَبْكِيانِ مَعهَا رواهُ مسلم. وقد سبق في باب زيارَةِ أَهل الخير
Terjemahan
Dan darinya (Anas bin Malik) berkata: Abu Bakar berkata kepada Umar radhiyallahu 'anhuma setelah wafatnya Rasulullah ﷺ: "Marilah kita pergi menemui Ummu Aiman radhiyallahu 'anha, kita menziarahinya sebagaimana Rasulullah ﷺ biasa menziarahinya." Ketika mereka berdua sampai kepadanya, ia menangis. Mereka berdua bertanya: "Apa yang membuatmu menangis? Tidakkah kamu tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah ﷺ?" Ia menjawab: "Sesungguhnya aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah ﷺ, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit." Maka ucapan itu membangkitkan kesedihan mereka berdua hingga mereka pun menangis bersamanya. Diriwayatkan oleh Muslim. Telah disebutkan sebelumnya dalam bab ziarah kepada orang-orang saleh.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya melanjutkan tradisi kebaikan (ittiba') yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, seperti menjaga silaturahim dan menghibur keluarga beliau. Tangisan Ummu Aiman bukan karena ragu akan kemuliaan akhirat bagi Nabi, tetapi sebagai ekspresi cinta dan rindu manusiawi yang tulus. Kisah ini juga menunjukkan kepekaan dan kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dalam melanjutkan sunnah Nabi secara nyata.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya melanjutkan tradisi kebaikan (ittiba') yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, seperti menjaga silaturahim dan menghibur keluarga beliau. Tangisan Ummu Aiman bukan karena ragu akan kemuliaan akhirat bagi Nabi, tetapi sebagai ekspresi cinta dan rindu manusiawi yang tulus. Kisah ini juga menunjukkan kepekaan dan kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dalam melanjutkan sunnah Nabi secara nyata.
# 10
وعن ابن عَمَر ، رضي اللَّه عنهما ، قال : « لَمَّا اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَجَعُهُ قيلَ لَهُ في الصَّلاَةِ فقال : « مُرُوا أَبا بَكْرِ فَلْيُصَلِّ بالنَّاسِ » فقالتْ عائشةُ ، رضي اللَّه عنها: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقيقٌ إِذا قَرَأَ القُرآنَ غَلَبَهُ البُكاءُ » فقال : « مُرُوهُ فَلْيُصَلِّ » .
وفي رواية عن عائشةَ ، رضي اللَّه عنها ، قالَتْ : قلتُ : إِنَّ أَبا بَكْرٍ إِذا قَامَ مقامَكَ لَم يُسْمع النَّاس مِنَ البُكَاءِ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Ketika sakit Rasulullah ﷺ bertambah parah, beliau ditanya tentang siapa yang akan mengimami shalat. Beliau bersabda: "Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia." Saat itu Aisyah berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang sangat lembut hatinya, jika ia membaca (Al-Qur'an) ia akan menangis." Beliau tetap bersabda: "Perintahkan dia untuk mengimami shalat."
Dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha: Aku berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar, jika berdiri di tempatmu (wahai Rasulullah), ia tidak akan dapat memperdengarkan bacaannya kepada orang-orang karena tangisannya."
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai pengganti (khalifah) Rasulullah ﷺ dalam kepemimpinan umat, khususnya dalam urusan agama (shalat). Penunjukan ini bersifat tegas dan final meskipun ada pertimbangan lain, menunjukkan persiapan Rasulullah ﷺ untuk masa setelah wafatnya. Sikap lembut hati dan tangis Abu Bakar saat membaca Al-Qur'an justru menjadi bukti ketakwaannya, bukan penghalang untuk memimpin.
Dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha: Aku berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar, jika berdiri di tempatmu (wahai Rasulullah), ia tidak akan dapat memperdengarkan bacaannya kepada orang-orang karena tangisannya."
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai pengganti (khalifah) Rasulullah ﷺ dalam kepemimpinan umat, khususnya dalam urusan agama (shalat). Penunjukan ini bersifat tegas dan final meskipun ada pertimbangan lain, menunjukkan persiapan Rasulullah ﷺ untuk masa setelah wafatnya. Sikap lembut hati dan tangis Abu Bakar saat membaca Al-Qur'an justru menjadi bukti ketakwaannya, bukan penghalang untuk memimpin.
# 11
وعن إِبراهيمَ بنِ عبدِ الرَّحمنِ بنِ عوفٍ أَنَّ عبدَ الرَّحمنِ بنَ عَوْفٍ ، رَضيَ اللَّه عنهُ أُتِيَ بطَعامٍ وكانَ صائماً ، فقالَ : قُتِلَ مُصْعَبُ بنُ عُمَيرٍ ، رضيَ اللَّه عنه ، وهُوَ خَيْرٌ مِنِّي ، فَلَمْ يُوجَدْ لَه ما يُكَفَّنُ فيهِ إِلاَّ بُرْدَةٌ إِنْ غُطِّي بِها رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاُه ، وإِنْ غُطِّيَ بها رِجْلاه بَدَا رأْسُهُ ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا ما بُسِطَ أَوْ قالَ : أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيا مَا أُعْطِينَا قَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنا عُجِّلَتْ لَنا . ثُمَّ جَعَلَ يبْكي حَتَّى تَرَكَ الطَّعامَ . رواهُ البخاري .
Terjemahan
Dan dari Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf bahwa Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu didatangkan makanan padahal ia sedang berpuasa, lalu ia berkata: "Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu telah terbunuh, dan ia lebih baik dariku, namun tidak didapati kain untuk mengkafaninya kecuali sehelai burdah (kain selimut). Jika kepalanya ditutup, maka kakinya terbuka, dan jika kakinya ditutup, maka kepalanya terbuka. Kemudian telah dibentangkan bagi kami dari (kenikmatan) dunia ini apa yang telah dibentangkan" -atau ia berkata: "Kami telah diberi dari dunia ini apa yang telah diberi"- "Sungguh kami khawatir bahwa kebaikan-kebaikan kami telah disegerakan (diberikan) untuk kami di dunia." Kemudian ia pun menangis hingga meninggalkan makanan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan sikap wara' dan kehati-hatian generasi awal Islam terhadap kemewahan dunia. Abdurrahman bin 'Auf mengingat kesederhanaan syahid seperti Mus'ab bin 'Umair, lalu khawatir kenikmatan yang mereka dapatkan justru menjadi bagian dari pahala yang disegerakan (sehingga berkurang di akhirat). Intinya, kita diajarkan untuk selalu bersyukur namun tetap waspada agar harta dunia tidak melalaikan dari tujuan akhirat dan membuat kita lupa pada kesederhanaan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan sikap wara' dan kehati-hatian generasi awal Islam terhadap kemewahan dunia. Abdurrahman bin 'Auf mengingat kesederhanaan syahid seperti Mus'ab bin 'Umair, lalu khawatir kenikmatan yang mereka dapatkan justru menjadi bagian dari pahala yang disegerakan (sehingga berkurang di akhirat). Intinya, kita diajarkan untuk selalu bersyukur namun tetap waspada agar harta dunia tidak melalaikan dari tujuan akhirat dan membuat kita lupa pada kesederhanaan.
# 12
وعن أبي أُمامة صُدَيِّ بْنِ عَجلانَ الباهِليِّ ، رضيَ اللَّه عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « لَيْسَ شَيءٌ أَحَبَّ إِلى اللَّه تعالى من قَطْرَتَين . وأَثَرَيْنِ : قَطْرَةُ دُمُوعٍ من خَشيَةِ اللَّه وَقَطرَةُ دَمٍ تُهرَاقُ في سَبِيلِ اللَّه تعالى ، وأما الأثران فأثر في سبيل الله تعـالى وَأَثَرٌ في فَرِيضَةٍ منْ فَرَائِضِ اللَّه تعالى » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Umamah Suday bin 'Ajlan Al-Bahili radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetesan dan dua bekas: tetesan air mata yang menetes karena takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir di jalan Allah. Adapun dua bekas adalah: bekas (luka) karena berjihad di jalan Allah, dan bekas (kapalan) dalam melaksanakan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah."
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang mempertemukan ketulusan hati dengan pengorbanan fisik. Dua tetesan (air mata takwa dan darah syahid) mewakili ketundukan batin dan pengabdian nyata. Dua bekas (luka jihad dan kapalan ibadah) simbol ketekunan berjuang dan istiqamah dalam ketaatan. Intinya, keimanan yang sempurna terwujud dalam rasa takut kepada Allah yang mendalam, diikuti dengan perjuangan dan kesungguhan menjalankan perintah-Nya.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang mempertemukan ketulusan hati dengan pengorbanan fisik. Dua tetesan (air mata takwa dan darah syahid) mewakili ketundukan batin dan pengabdian nyata. Dua bekas (luka jihad dan kapalan ibadah) simbol ketekunan berjuang dan istiqamah dalam ketaatan. Intinya, keimanan yang sempurna terwujud dalam rasa takut kepada Allah yang mendalam, diikuti dengan perjuangan dan kesungguhan menjalankan perintah-Nya.
# 13
حديث العْرباض بنِ ساريةَ . رضي اللَّه عنه ، قال : وعَظَنَا رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ منها القُلُوبُ ، وذَرَفْت منْهَا العُيُونُ » . وقد سبق في باب النهي عن البدع.
Terjemahan
Dari Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat kepada kami yang membuat hati bergetar dan air mata berlinang...
Hadits ini telah disebutkan sebelumnya dalam bab larangan terhadap perkara-perkara baru dalam agama (bid'ah).
Penjelasan singkat: Nasihat Rasulullah ﷺ yang mendalam mampu menyentuh kalbu dan menggerakkan air mata, menunjukkan kekuatan kebenaran yang disampaikan dengan penuh ketulusan. Hadits ini, yang ditempatkan dalam bab larangan bid'ah, mengajarkan bahwa nasihat yang menghidupkan hati adalah cara efektif untuk mengukuhkan iman dan menjauhi penyimpangan. Esensinya adalah keharusan menyampaikan serta menerima kebenaran dengan penuh kesungguhan hati, bukan sekadar formalitas, agar dapat membekas dalam jiwa dan membentengi dari perkara baru yang diada-adakan dalam agama.
Hadits ini telah disebutkan sebelumnya dalam bab larangan terhadap perkara-perkara baru dalam agama (bid'ah).
Penjelasan singkat: Nasihat Rasulullah ﷺ yang mendalam mampu menyentuh kalbu dan menggerakkan air mata, menunjukkan kekuatan kebenaran yang disampaikan dengan penuh ketulusan. Hadits ini, yang ditempatkan dalam bab larangan bid'ah, mengajarkan bahwa nasihat yang menghidupkan hati adalah cara efektif untuk mengukuhkan iman dan menjauhi penyimpangan. Esensinya adalah keharusan menyampaikan serta menerima kebenaran dengan penuh kesungguhan hati, bukan sekadar formalitas, agar dapat membekas dalam jiwa dan membentengi dari perkara baru yang diada-adakan dalam agama.