Kitab 1 · Bab 55
Keutamaan tidak rakus terhadap dunia, dorongan untuk tidak serakah, dan keutamaan hidup sederhana
✦ 41 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ إنما مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض مما يأكل الناس والأنعام، حتى إذا أخذت الأرض زخرفها وازَّيَّنَتْ وظن أهلها أنهم قادرون عليها أتاها أمرنا ليلاً أو نهاراً فجعلناها حصيداً كأن لم تغن بالأمس، كذلك نفصل الآيات لقوم يتفكرون ﴾ .سورة يونس(24)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tumbuh-tumbuhan di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan berhias, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah keputusan Kami (bencana) di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (Yunus: 24)
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan kehidupan dunia dengan metafora tanaman yang subur, indah, dan memberi manfaat, namun tiba-tiba musnah. Hikmahnya adalah agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia yang sementara, merasa mampu menguasainya, dan lalai akan kuasa Allah. Kematian atau bencana bisa datang kapan saja, mengingatkan bahwa hakikat kehidupan adalah ujian dan peringatan bagi orang yang berpikir.
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan kehidupan dunia dengan metafora tanaman yang subur, indah, dan memberi manfaat, namun tiba-tiba musnah. Hikmahnya adalah agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia yang sementara, merasa mampu menguasainya, dan lalai akan kuasa Allah. Kematian atau bencana bisa datang kapan saja, mengingatkan bahwa hakikat kehidupan adalah ujian dan peringatan bagi orang yang berpikir.
# 2
وقال تعالى: ﴿ واضرب لهم مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض فأصبح هشيماً تذروه الرياح، وكان اللَّه على كل شيء مقتدراً. المال والبنون زينة الحياة الدنيا، والباقيات الصالحات خير عند ربك ثواباً وخير أملاً ﴾ .سورة الكهف(45-46)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al-Kahfi: 45-46)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia dan segala perhiasannya (harta, anak) ibarat tanaman yang subur kemudian kering dan hancur. Ia bersifat sementara dan mudah lenyap. Hikmahnya adalah agar manusia tidak terpedaya oleh kemegahan dunia, tetapi fokus pada amal shaleh yang pahalanya kekal dan lebih baik di sisi Allah sebagai investasi akhirat.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia dan segala perhiasannya (harta, anak) ibarat tanaman yang subur kemudian kering dan hancur. Ia bersifat sementara dan mudah lenyap. Hikmahnya adalah agar manusia tidak terpedaya oleh kemegahan dunia, tetapi fokus pada amal shaleh yang pahalanya kekal dan lebih baik di sisi Allah sebagai investasi akhirat.
# 3
وقال تعالى: ﴿ اعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر في الأموال والأولاد، كمثل غيث أعجب الكفار نباته، ثم يهيج فتراه مصفراً، ثم يكون حطاماً، وفي الآخرة عذاب شديد، ومغفرة من اللَّه ورضوان، وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور ﴾ .سورة الحديد(20)
Terjemahan
Allah berfirman: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadid: 20)
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan kehidupan dunia sebagai kesenangan sementara yang menipu, seperti tanaman hijau yang akhirnya mengering dan hancur. Fokus pada kebanggaan harta dan anak hanya melalaikan dari tujuan akhir. Hikmahnya, manusia harus menyadari bahwa yang kekal dan utama adalah menggapai ampunan dan ridha Allah di akhirat, bukan terperdaya gemerlap dunia.
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan kehidupan dunia sebagai kesenangan sementara yang menipu, seperti tanaman hijau yang akhirnya mengering dan hancur. Fokus pada kebanggaan harta dan anak hanya melalaikan dari tujuan akhir. Hikmahnya, manusia harus menyadari bahwa yang kekal dan utama adalah menggapai ampunan dan ridha Allah di akhirat, bukan terperdaya gemerlap dunia.
# 4
وقال تعالى: ﴿ زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث، ذلك متاع الحياة الدنيا، والله عنده حسن المآب ﴾ .سورة آل عمران(14)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Ali 'Imran: 14)
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa kecintaan pada berbagai syahwat duniawi (harta, tahta, wanita) adalah ujian dan tipu daya yang diperindah. Semua itu hanyalah kesenangan sementara dan bukan tujuan akhir. Hikmahnya, seorang muslim harus bijak menyikapinya, tidak terperdaya, dan senantiasa mengingat bahwa kehidupan akhirat di sisi Allah adalah tujuan sejati yang lebih baik dan kekal.
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa kecintaan pada berbagai syahwat duniawi (harta, tahta, wanita) adalah ujian dan tipu daya yang diperindah. Semua itu hanyalah kesenangan sementara dan bukan tujuan akhir. Hikmahnya, seorang muslim harus bijak menyikapinya, tidak terperdaya, dan senantiasa mengingat bahwa kehidupan akhirat di sisi Allah adalah tujuan sejati yang lebih baik dan kekal.
# 5
وقال تعالى: ﴿ يا أيها الناس إن وعد اللَّه حق فلا تغرنكم الحياة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرور ﴾ .سورة فاطر(5)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai manusia! Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah." (Fathir: 5)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia yang sementara dan menipu. Hati-hati terhadap tipu daya setan yang menjadikan seseorang meragukan janji Allah (baik janji pahala maupun ancaman-Nya). Intinya, kita harus memprioritaskan kehidupan akhirat yang kekal dan mewaspadai segala bentuk penyesatan yang menjauhkan dari ketaatan.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia yang sementara dan menipu. Hati-hati terhadap tipu daya setan yang menjadikan seseorang meragukan janji Allah (baik janji pahala maupun ancaman-Nya). Intinya, kita harus memprioritaskan kehidupan akhirat yang kekal dan mewaspadai segala bentuk penyesatan yang menjauhkan dari ketaatan.
# 6
وقال تعالى: ﴿ ألهاكم التكاثر، حتى زرتم المقابر، كلا سوف تعلمون، ثم كلا سوف تعلمون، كلا لو تعلمون علم اليقين ﴾ .سورة التكاثر(1-5)
Terjemahan
Allah berfirman: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan sekali-kali janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin..." (At-Takatsur: 1-5)
Penjelasan singkat: Surah ini bukan hadis, tetapi wahyu Allah langsung. Ayat-ayat ini merupakan teguran keras terhadap penyakit hati berupa takatsur (bermegah-megahan dalam hal duniawi seperti harta, pengikut, atau keturunan) yang melalaikan dari akhirat. Ancaman "kelak kamu akan mengetahui" diulang sebagai penekanan akan penyesalan di alam kubur (barzakh) dan hari kiamat. Hikmahnya adalah agar manusia segera sadar, meninggalkan kesombongan dunia, dan berbekal dengan ilmu keyakinan (iman dan amal shaleh) sebelum ajal tiba.
Penjelasan singkat: Surah ini bukan hadis, tetapi wahyu Allah langsung. Ayat-ayat ini merupakan teguran keras terhadap penyakit hati berupa takatsur (bermegah-megahan dalam hal duniawi seperti harta, pengikut, atau keturunan) yang melalaikan dari akhirat. Ancaman "kelak kamu akan mengetahui" diulang sebagai penekanan akan penyesalan di alam kubur (barzakh) dan hari kiamat. Hikmahnya adalah agar manusia segera sadar, meninggalkan kesombongan dunia, dan berbekal dengan ilmu keyakinan (iman dan amal shaleh) sebelum ajal tiba.
# 7
وقال تعالى: ﴿ وما هذه الحياة الدنيا إلا لهو ولعب، وإن الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون ﴾ .سورة العنكبود(64)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." (Al-'Ankabut: 64)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa hakikat kehidupan dunia hanyalah sementara, penuh kesenangan semu yang melalaikan. Sebaliknya, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi dan sejati. Hikmahnya adalah agar manusia tidak terbuai oleh dunia, tetapi memprioritaskan amal untuk bekal menuju negeri yang kekal.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa hakikat kehidupan dunia hanyalah sementara, penuh kesenangan semu yang melalaikan. Sebaliknya, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi dan sejati. Hikmahnya adalah agar manusia tidak terbuai oleh dunia, tetapi memprioritaskan amal untuk bekal menuju negeri yang kekal.
# 8
عن عمرو بنِ عوفٍ الأَنْصاريِّ . رضي اللَّه عنه ، أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بَعَثَ أَبا عُبيدةَ بنَ الجرَّاحِ ، رضي اللَّه عنه ، إلى البَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجزْيَتِهَا فَقَدمَ بِمالٍ منَ البحْرَينِ ، فَسَمِعَت الأَنصَارُ بقُدومِ أبي عُبَيْدَةَ ، فوافَوْا صَلاةَ الفَجْرِ مَعَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَلَمَّا صَلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، انْصَرَفَ ، فَتَعَرَّضُوا لَهُ ، فَتَبَسَّمَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حِينَ رَآهُمْ ، ثُمَّ قال : «أَظُنُّكُم سَمِعتُم أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيء مِنَ الْبَحْرَيْنِ » فقالوا : أَجَل يا رسول اللَّه ، فقــال: « أَبْشِرُوا وأَمِّلُوا ما يَسرُّكُمْ ، فواللَّه ما الفقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ . وَلكنّي أَخْشى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُم كما بُسطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا . فَتَهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengutus Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyah (upeti) dari sana. Kemudian ia kembali membawa harta dari Bahrain. Ketika kaum Al-Ansar mendengar kabar kepulangan Abu 'Ubaidah, mereka berkumpul untuk melaksanakan shalat Subuh bersama Rasulullah ﷺ. Setelah Rasulullah selesai shalat, beliau beranjak pergi dan mereka pun berjalan menghampiri beliau. Rasulullah ﷺ tersenyum ketika melihat mereka, kemudian bersabda: "Aku kira kalian telah mendengar kabar kepulangan Abu 'Ubaidah dengan membawa harta dari Bahrain?" Mereka menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Bergembiralah dan berharaplah dengan apa yang akan menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir (jika) dibentangkan luas bagi kalian (kenikmatan) dunia sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, lalu (dunia) itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah yang dipercaya Rasulullah mengurus harta negara. Senyum Rasulullah melihat para Anshar yang menunggu setelah shalat Subuh mengisyaratkan pemahaman beliau akan harapan mereka atas pembagian harta. Peristiwa ini menjadi pengantar bagi teladan agung berikutnya, yaitu sikap zuhud, kejujuran, dan tidak tamak terhadap harta dunia, yang dijelaskan dalam kelanjutan hadis ini.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah yang dipercaya Rasulullah mengurus harta negara. Senyum Rasulullah melihat para Anshar yang menunggu setelah shalat Subuh mengisyaratkan pemahaman beliau akan harapan mereka atas pembagian harta. Peristiwa ini menjadi pengantar bagi teladan agung berikutnya, yaitu sikap zuhud, kejujuran, dan tidak tamak terhadap harta dunia, yang dijelaskan dalam kelanjutan hadis ini.
# 9
وعن أبي سعيدٍ الخدريِّ ، رضيَ اللَّه عنه . قالَ : جَلَسَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلى المِنْبَرِ ، وَجَلسْنَا حَوْلَهُ.فقال:« إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُم مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِن زَهْرَةِ الدُّنيَا وَزيَنتهَا » متفقٌ عيه.
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ duduk di atas mimbar, dan kami duduk di sekeliling beliau. Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya di antara yang paling aku khawatirkan atas kalian setelah aku meninggal adalah dibukakannya bagi kalian keindahan dan perhiasan dunia." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan bahwa kelimpahan harta dan kemewahan dunia justru dapat menjadi ujian besar bagi keimanan. Nabi ﷺ mengkhawatirkan hal ini karena ia dapat melalaikan hati dari akhirat, menimbulkan ketamakan, dan memicu perselisihan. Hikmahnya, kita harus waspada dan bijak dalam menyikapi dunia, menjadikannya sarana ibadah, bukan tujuan utama.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan bahwa kelimpahan harta dan kemewahan dunia justru dapat menjadi ujian besar bagi keimanan. Nabi ﷺ mengkhawatirkan hal ini karena ia dapat melalaikan hati dari akhirat, menimbulkan ketamakan, dan memicu perselisihan. Hikmahnya, kita harus waspada dan bijak dalam menyikapi dunia, menjadikannya sarana ibadah, bukan tujuan utama.
# 10
عنه أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : « إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّه تَعالى مُسْتَخْلِفكُم فِيهَا ، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْملُونَ فاتَّقُوا الدُّنْيَا واتَّقُوا النِّسَاءِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Darinya (Abu Sa'id Al-Khudri) juga berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau (menawan). Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian khalifah (pengganti) di bumi ini, maka Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah terhadap (godaan) dunia dan berhati-hatilah terhadap (godaan) wanita." Diriwayatkan oleh Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan bahwa dunia dengan segala kenikmatannya adalah amanah dan ujian dari Allah. Manusia ditugasi sebagai khalifah untuk mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Inti peringatannya adalah agar kita selalu waspada dan bertakwa, menjaga diri dari godaan dunia yang melalaikan dan dari fitnah yang dapat ditimbulkan oleh hubungan dengan wanita.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan bahwa dunia dengan segala kenikmatannya adalah amanah dan ujian dari Allah. Manusia ditugasi sebagai khalifah untuk mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Inti peringatannya adalah agar kita selalu waspada dan bertakwa, menjaga diri dari godaan dunia yang melalaikan dan dari fitnah yang dapat ditimbulkan oleh hubungan dengan wanita.
# 11
وعن أَنسٍ رضيَ اللَّه عنه . أَنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « اللَّهُمَّ لا عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَةِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang kekal) selain kehidupan akhirat." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk memandang rendah kehidupan dunia yang fana dan sementara. Nabi ﷺ mengarahkan hati agar senantiasa mengutamakan dan merindukan kehidupan akhirat yang abadi dan hakiki. Hikmahnya adalah agar seorang muslim tidak tertipu oleh gemerlap dunia, sehingga seluruh amal dan usahanya diorientasikan untuk meraih kebahagiaan akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk memandang rendah kehidupan dunia yang fana dan sementara. Nabi ﷺ mengarahkan hati agar senantiasa mengutamakan dan merindukan kehidupan akhirat yang abadi dan hakiki. Hikmahnya adalah agar seorang muslim tidak tertipu oleh gemerlap dunia, sehingga seluruh amal dan usahanya diorientasikan untuk meraih kebahagiaan akhirat.
# 12
وعنهُ عن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاثَةٌ : أَهْلُهُ وَمالُهُ وَعَمَلُهُ : فَيَرْجِعُ اثْنَانِ . وَيَبْقَى وَاحدٌ : يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Darinya (Anas) radhiyallahu 'anhu juga berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tiga hal mengikuti jenazah (hingga ke kubur): keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua hal kembali pulang dan satu hal tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali pulang, sedangkan amalnya tetap bersamanya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi, seperti keluarga dan harta, hanya menemani manusia sampai liang kubur. Setelah itu, yang tetap menyertai dan menjadi bekal hakiki hanyalah amal perbuatannya. Pelajaran utamanya adalah kita harus memprioritaskan dan memperbanyak amal shaleh, karena hanya itulah yang akan menjadi teman abadi serta penolong di akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi, seperti keluarga dan harta, hanya menemani manusia sampai liang kubur. Setelah itu, yang tetap menyertai dan menjadi bekal hakiki hanyalah amal perbuatannya. Pelajaran utamanya adalah kita harus memprioritaskan dan memperbanyak amal shaleh, karena hanya itulah yang akan menjadi teman abadi serta penolong di akhirat.
# 13
وعنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يُؤْتِيَ بَأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِن أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيُصْبَغُ في النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ : يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خيراً قَطُّ ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعيمٌ قَطُّ ؟ فيقول : لا واللَّه يارَبِّ. وَيُؤْتِى بأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْساً في الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً في الجَنَّةِ ، فَيُقَالُ لَهُ : يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْساً قَطُّ ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةُ قَطُّ ؟ فيقولُ : لا ، وَاللَّه ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ ، وَلا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ » رواه مسلم .
Terjemahan
Darinya (Anas) radhiyallahu 'anhu juga berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling banyak mendapat kenikmatan di dunia, yang termasuk penghuni neraka, lalu ia dicelupkan sekali ke dalam neraka, kemudian ditanya: 'Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?' Ia menjawab: 'Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.' Kemudian didatangkan orang yang paling banyak mendapat kesulitan di dunia, yang termasuk penghuni surga, lalu ia dicelupkan sekali ke dalam surga, kemudian ditanya: 'Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesulitan? Apakah kamu pernah merasakan kesusahan?' Ia menjawab: 'Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, aku tidak pernah mengalami kesulitan dan tidak pernah melihat kesusahan sama sekali.'" Diriwayatkan oleh Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati adalah akhirat, bukan dunia. Kenikmatan duniawi yang tidak disyukuri dan digunakan untuk maksiat akan terasa sia-sia, sementara kesabaran atas kesusahan dunia akan diganti dengan kenikmatan abadi. Esensinya, hidup di dunia hanyalah ujian sementara, dan balasan sebenarnya akan diberikan di akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati adalah akhirat, bukan dunia. Kenikmatan duniawi yang tidak disyukuri dan digunakan untuk maksiat akan terasa sia-sia, sementara kesabaran atas kesusahan dunia akan diganti dengan kenikmatan abadi. Esensinya, hidup di dunia hanyalah ujian sementara, dan balasan sebenarnya akan diberikan di akhirat.
# 14
وعن المُسْتَوْردِ بنِ شدَّادٍ رَضِيَ اللَّه عنه ، قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : مَا الدُّنْيَا في الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحدُكُمْ أُصْبُعَهُ في الْيَمِّ . فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟» رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, (perbandingan) dunia dengan akhirat tidak lain hanyalah seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah apa yang tersisa (melekat) padanya." Diriwayatkan oleh Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa tidak berharganya kenikmatan duniawi jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang abadi. Ibarat setetes air yang menempel di jari setelah dicelupkan ke lautan luas, dunia hanyalah bagian yang sangat kecil dan remeh. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya tidak terpedaya oleh dunia dan lebih memprioritaskan bekal untuk kehidupan akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa tidak berharganya kenikmatan duniawi jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang abadi. Ibarat setetes air yang menempel di jari setelah dicelupkan ke lautan luas, dunia hanyalah bagian yang sangat kecil dan remeh. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya tidak terpedaya oleh dunia dan lebih memprioritaskan bekal untuk kehidupan akhirat.
# 15
وعن جابرٍ ، رضِيَ اللَّه عنهُ أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَرَّ بِالسُّوقِ وَالنَّاسُ كتفَيْهِ ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ ، فَتَنَاوَلَهُ ، فَأَخَذَ بَأُذُنِهِ ، ثُمَّ قال : « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟» فَقالوا : مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ ؟ ثم قال : « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا : وَاللَّه لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْباً ، إِنَّهُ أَسَكُّ . فكَيْفَ وَهو مَيَّتٌ ، فقال : « فَوَ اللَّه للدُّنْيَا أَهْونُ عَلى اللَّه مِنْ هذا عَلَيْكُمْ » رواه مسلم.
قوله « كَتفَيْهِ » أَيْ : عن جانبيه . و « الأَسكُّ » الصغير الأُذُن .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memasuki pasar melalui satu jalan, dan ada banyak orang di sekeliling beliau. Saat itu beliau menemukan anak domba yang mati dengan telinga kecil. Beliau mengambil telinganya lalu bertanya: 'Siapa di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?' Mereka menjawab: 'Kami tidak menginginkannya, bahkan jika lebih murah dari ini. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?' Kemudian beliau bertanya lagi: 'Apakah kalian mau memilikinya secara gratis?' Mereka menjawab: 'Demi Allah! Sekalipun ia hidup, ia cacat karena telinganya kecil, apalagi setelah mati?' Beliau bersabda: 'Demi Allah! Sungguh, dunia ini di sisi Allah lebih hina daripada bangkai anak domba ini bagi kalian.'"
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan betapa rendahnya nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengibaratkan dunia yang dikejar manusia lebih hina daripada bangkai anak domba yang tak bernilai di mata para pedagang.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa rendahnya nilai duniawi di mata Rasulullah ﷺ. Beliau mengibaratkan dunia yang diidam-idamkan manusia seperti bangkai anak domba yang cacat dan tak berguna, yang bahkan tak ada orang yang mau membelinya dengan harga murah. Pelajaran utamanya adalah agar kita tidak tertipu dan terlalu mencintai dunia, serta meletakkan segala sesuatu pada proporsi yang benar sesuai nilainya di sisi Allah.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan betapa rendahnya nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengibaratkan dunia yang dikejar manusia lebih hina daripada bangkai anak domba yang tak bernilai di mata para pedagang.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa rendahnya nilai duniawi di mata Rasulullah ﷺ. Beliau mengibaratkan dunia yang diidam-idamkan manusia seperti bangkai anak domba yang cacat dan tak berguna, yang bahkan tak ada orang yang mau membelinya dengan harga murah. Pelajaran utamanya adalah agar kita tidak tertipu dan terlalu mencintai dunia, serta meletakkan segala sesuatu pada proporsi yang benar sesuai nilainya di sisi Allah.
# 16
وعن أبي ذرٍّ رَضِيَ اللَّه عنه ، قال : كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، في حَرَّةٍ بالمدينة ، فَاسْتَقْبلَنَا أَحُدٌ فقال : « يا أَبَا ذَرٍّ » . قلت : لَبَّيْكَ يا رسول اللَّه . فقال : « مَا يَسُرُّني أَنَّ عِنْدِي مِثل أَحُدٍ هذا ذَهباً تَمْضِي عَلَيَّ ثَلاثَةُ أَيَّامٍ وعِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ ، إِلاَّ شَيْءٌ أَرْصُدُهُ لِدَيْنِ ، إِلاَّ أَنْ أَقُولَ بِهِ في عِبَاد اللَّه هكَذَا وَهَكَذا » عن يَمِينهِ وعن شماله ومن خلفه ، ثم سار فقال : « إِنَّ الأَكثَرِينَ هُمُ الأَقَلُّونَ يَومَ القيامةِ إِلاَّ مَنْ قَالَ بالمَالِ هكذَا وهكذا » عن يمينهِ ، وعن شمالهِ ، ومِنْ خَلفه « وَقَليلٌ مَا هُمْ » . ثم قال لي : « مَكَانَك لا تَبْرَحْ حَتَّى آتيَكَ » . ثم انْطَلَقَ في سَوَادِ اللَّيْلِ حتى تَوَارَى ، فسمِعْتُ صَوْتاً قَدِ ارْتَفَعَ، فَتَخَوَّفْتُ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ عَرَضَ للنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَأَرَدْتُ أَنْ آتِيَهُ فَذَكَرْتُ قوله : « لا تَبْرَحْ حَتَّى آتيَكَ » فلم أَبْرَحْ حَتَّى أَتَاني ، فَقُلْتُ : لقد سَمِعْتُ صَوتاً تَخَوَّفْتُ منه ، فَذَكَرْتُ له . فقال: « وَهَلْ سَمِعْتَهُ ؟ » قلت : نَعَم ، قال : « ذَاكَ جِبريلُ أَتاني فقال : مَن ماتَ مِنْ أُمتِكَ لايُشرِكُ باللَّه شَيئاً دَخَلَ الجَنَّةَ ، قلتُ : وَإِنْ زَنَي وَإِنْ سَرَقَ ؟ قال : وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ » متفقٌ عليه . وهذا لفظ البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku berjalan bersama Nabi ﷺ di daerah tanah berbatu hitam, hingga melihat gunung Uhud di depan. Lalu beliau bersabda: 'Wahai Abu Dzar!' Aku menjawab: 'Ya, Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Aku tidak suka jika aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu setelah tiga hari masih tersisa padaku satu dinar, kecuali yang kusisihkan untuk membayar hutang, kecuali jika aku sedekahkan emas itu di jalan Allah seperti ini, seperti ini, dan seperti itu' – sambil menunjuk ke kanan, kiri, dan belakangnya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan dan bersabda: 'Sesungguhnya orang yang paling banyak hartanya adalah yang paling sedikit mendapat pahala di akhirat, kecuali orang yang menginfakkannya (di jalan Allah) seperti ini, seperti ini, dan seperti itu – ke kanan, kiri, dan belakangnya.' Kemudian beliau berkata kepadaku: 'Tetaplah di tempat ini, jangan pergi ke mana pun sampai aku kembali.' Lalu beliau pergi dalam kegelapan malam hingga tak terlihat. Sebentar kemudian, aku mendengar suara keras. Aku khawatir ada orang yang berniat jahat kepada Rasulullah, dan aku ingin mencarinya, tapi aku teringat sabda beliau: 'Tetaplah di tempat ini, jangan pergi ke mana pun sampai aku kembali.' Maka aku tidak pergi hingga beliau kembali menemuiku. Aku berkata: 'Aku mendengar suara dan aku sangat mengkhawatirkanmu.' Aku ceritakan suara itu kepada beliau. Beliau bertanya: 'Apakah kamu mendengarnya?' Aku jawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Itu adalah Jibril yang datang menemuiku dan berkata: 'Barangsiapa dari umatmu yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, ia akan masuk surga.' Aku bertanya: 'Sekalipun ia berzina atau mencuri?' Jibril menjawab: 'Sekalipun ia berzina atau mencuri.'"
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengandung beberapa pelajaran: anjuran untuk bersedekah ke berbagai arah, keutamaan tidak menumpuk harta, dan besarnya rahmat Allah yang mengampuni dosa besar (selain syirik) bagi ahli tauhid, meskipun tetap ada konsekuensi atas dosanya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan zuhud dan kedermawanan. Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidak mencintai harta yang berlebihan dan menimbunnya. Harta yang dimiliki selayaknya segera disalurkan di jalan Allah, baik untuk sedekah maupun melunasi utang, sehingga membawa manfaat bagi orang lain dan tidak menjadi beban di akhirat.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengandung beberapa pelajaran: anjuran untuk bersedekah ke berbagai arah, keutamaan tidak menumpuk harta, dan besarnya rahmat Allah yang mengampuni dosa besar (selain syirik) bagi ahli tauhid, meskipun tetap ada konsekuensi atas dosanya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan zuhud dan kedermawanan. Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidak mencintai harta yang berlebihan dan menimbunnya. Harta yang dimiliki selayaknya segera disalurkan di jalan Allah, baik untuk sedekah maupun melunasi utang, sehingga membawa manfaat bagi orang lain dan tidak menjadi beban di akhirat.
# 17
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه ، عنْ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لو كان لي مِثلُ أُحُدٍ ذَهَباً ، لَسرَّني أَنْ لا تَمُرَّ علَيَّ ثَلاثُ لَيَالٍ وَعِندِي منه شَيءٌ إلاَّ شَيءٌ أُرْصِدُه لِدَينٍ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, aku tidak suka jika tersisa padaku lebih dari tiga hari, kecuali yang kusisihkan untuk membayar hutang."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan sikap zuhud terhadap dunia dan anjuran untuk segera menginfakkan kelebihan harta, tidak menimbunnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap zuhud dan kedermawanan. Rasulullah ﷺ memberikan teladan untuk tidak mencintai dan menimbun harta duniawi. Kelebihan harta sebaiknya segera disalurkan, kecuali sejumlah yang diperlukan untuk menunaikan kewajiban seperti membayar utang. Intinya, harta adalah amanah yang harus dikelola dengan baik, bukan untuk dikumpulkan secara berlebihan.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan sikap zuhud terhadap dunia dan anjuran untuk segera menginfakkan kelebihan harta, tidak menimbunnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap zuhud dan kedermawanan. Rasulullah ﷺ memberikan teladan untuk tidak mencintai dan menimbun harta duniawi. Kelebihan harta sebaiknya segera disalurkan, kecuali sejumlah yang diperlukan untuk menunaikan kewajiban seperti membayar utang. Intinya, harta adalah amanah yang harus dikelola dengan baik, bukan untuk dikumpulkan secara berlebihan.
# 18
وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : انْظُرُوا إلى منْ هَوَ أَسفَلُ منْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إلى مَنْ فَوقَكُم فهُوَ أَجْدرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَليْكُمْ » متفقٌ عليه وهذا لفظ مسلمٍ .
وفي رواية البخاري ، « إِذا نَظَر أَحَدُكُمْ إلى مَنْ فُضلَ عليهِ في المالِ وَالخَلْقِ فلْينْظُرْ إلى مَنْ هو أَسْفَلُ مِنْهُ » .
Terjemahan
Dari beliau (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Lihatlah orang yang di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang di atas kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafaz dalam riwayat Muslim).
Dalam riwayat Al-Bukhari: "Apabila kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian dalam hal harta dan penampilan, maka lihatlah orang yang di bawah kalian."
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan agar kita selalu bersyukur dengan melihat orang yang lebih susah dari kita, bukan iri dengan melihat orang yang lebih beruntung, agar hati tetap qana'ah dan tenang.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip qana'ah (merasa cukup) dan syukur. Dengan melihat orang yang lebih rendah dalam hal harta dan kondisi hidup, kita akan selalu menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah kita terima. Sebaliknya, jika kita hanya melihat ke atas, hati akan mudah dirasuki rasa kurang dan menganggap remeh karunia-Nya.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafaz dalam riwayat Muslim).
Dalam riwayat Al-Bukhari: "Apabila kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian dalam hal harta dan penampilan, maka lihatlah orang yang di bawah kalian."
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan agar kita selalu bersyukur dengan melihat orang yang lebih susah dari kita, bukan iri dengan melihat orang yang lebih beruntung, agar hati tetap qana'ah dan tenang.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip qana'ah (merasa cukup) dan syukur. Dengan melihat orang yang lebih rendah dalam hal harta dan kondisi hidup, kita akan selalu menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah kita terima. Sebaliknya, jika kita hanya melihat ke atas, hati akan mudah dirasuki rasa kurang dan menganggap remeh karunia-Nya.
# 19
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « تَعِسَ عبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالقطيفَةِ وَالخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعطِيَ رضي ، وَإِنْ لَمْ يُعطَ لَمْ يَرْضَ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari beliau (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah (pakaian mewah), dan celakalah hamba khameelah (pakaian mewah lainnya). Jika diberi, ia senang, tetapi jika tidak diberi, ia tidak senang."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadits ini memperingatkan bahaya mencintai harta dan kemewahan dunia secara berlebihan, yang membuat seseorang menjadi budaknya, sehingga perasaan senang dan sedihnya bergantung pada pemberian dan materi.
Penjelasan singkat: Hadis ini memperingatkan bahaya mencintai harta dan kemewahan dunia secara berlebihan. Seseorang yang menjadi "hamba" benda duniawi akan selalu diperbudak oleh rasa tidak puas, bergembira hanya jika mendapatkannya dan kecewa jika tidak. Hikmahnya, kita harus menguasai harta, bukan diperbudaknya, dan menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuan, bukan sekadar kepemilikan materi.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadits ini memperingatkan bahaya mencintai harta dan kemewahan dunia secara berlebihan, yang membuat seseorang menjadi budaknya, sehingga perasaan senang dan sedihnya bergantung pada pemberian dan materi.
Penjelasan singkat: Hadis ini memperingatkan bahaya mencintai harta dan kemewahan dunia secara berlebihan. Seseorang yang menjadi "hamba" benda duniawi akan selalu diperbudak oleh rasa tidak puas, bergembira hanya jika mendapatkannya dan kecewa jika tidak. Hikmahnya, kita harus menguasai harta, bukan diperbudaknya, dan menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuan, bukan sekadar kepemilikan materi.
# 20
وعنه ، رضي اللَّه عنه ، قال : لقَدْ رَأَيْتُ سبعِين مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ ، ما منْهُم رَجُلٌ عليه رداءٌ ، إِمَّا إِزَارٌ ، وإِمَّا كِسَاءٌ ، قدْ ربطُوا في أَعْنَاقِهِمْ ، فَمنْهَا مَا يبْلُغُ نِصفَ السَّاقَيْن . ومنْهَا ما يَبْلُغُ الكَعْبينِ . فَيجْمَعُهُ بيدِه كراهِيَةَ أَنْ تُرَى عوْرتُه » رواه البخاري .
Terjemahan
Dan darinya (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Sungguh aku telah melihat tujuh puluh orang dari Ahlus Shuffah, tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki ridâ' (selendang). Mereka hanya memiliki izâr (kain bawah) atau kisâ' (kain penutup badan) yang mereka ikatkan di leher mereka. Di antaranya ada yang hanya sampai pertengahan betis, dan ada yang sampai mata kaki. Lalu ia pegang dengan tangannya karena khawatir auratnya terlihat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup para Ahlus Shuffah, sahabat Nabi yang tinggal di serambi masjid. Mereka hidup dalam keterbatasan materi, bahkan pakaian pun sangat sederhana dan terbatas. Namun, di balik itu, mereka sangat menjaga adab dan rasa malu dengan berusaha menutup aurat sebaik mungkin. Pelajaran utamanya adalah keutamaan zuhud (tidak bergantung pada dunia) dan kesungguhan dalam menjaga kehormatan serta aurat meski dalam kondisi serba kekurangan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup para Ahlus Shuffah, sahabat Nabi yang tinggal di serambi masjid. Mereka hidup dalam keterbatasan materi, bahkan pakaian pun sangat sederhana dan terbatas. Namun, di balik itu, mereka sangat menjaga adab dan rasa malu dengan berusaha menutup aurat sebaik mungkin. Pelajaran utamanya adalah keutamaan zuhud (tidak bergantung pada dunia) dan kesungguhan dalam menjaga kehormatan serta aurat meski dalam kondisi serba kekurangan.
# 21
وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الدُّنْيَا سِجْنُ المُؤْمِنِ وجنَّةُ الكَافِرِ» رواه مسلم .
Terjemahan
Dari beliau (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Bagi mukmin, kehidupan dunia penuh dengan aturan, ujian, dan keterbatasan dibandingkan kenikmatan akhirat. Sebaliknya, bagi orang kafir, dunia adalah puncak kenikmatan mereka karena mereka tidak mendapat bagian di akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan perspektif berbeda antara mukmin dan kafir terhadap dunia. Bagi orang beriman, dunia bagai penjara karena mereka terikat aturan syariat, menjauhi maksiat, dan meyakini kehidupan akhirat yang lebih kekal dan penuh kenikmatan. Sebaliknya, bagi orang kafir, dunia adalah surga karena mereka bebas mengikuti hawa nafsu dan menganggap dunia sebagai tujuan akhir, sehingga mereka tidak mendapatkan kenikmatan hakiki di akhirat.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Bagi mukmin, kehidupan dunia penuh dengan aturan, ujian, dan keterbatasan dibandingkan kenikmatan akhirat. Sebaliknya, bagi orang kafir, dunia adalah puncak kenikmatan mereka karena mereka tidak mendapat bagian di akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan perspektif berbeda antara mukmin dan kafir terhadap dunia. Bagi orang beriman, dunia bagai penjara karena mereka terikat aturan syariat, menjauhi maksiat, dan meyakini kehidupan akhirat yang lebih kekal dan penuh kenikmatan. Sebaliknya, bagi orang kafir, dunia adalah surga karena mereka bebas mengikuti hawa nafsu dan menganggap dunia sebagai tujuan akhir, sehingga mereka tidak mendapatkan kenikmatan hakiki di akhirat.
# 22
وعن ابن عمر ، رضي اللَّه عنهما ، قال : أَخَذ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِمَنْكِبَيَّ ، فقال : « كُنْ في الدُّنْيا كأَنَّكَ غريبٌ ، أَوْ عَابِرُ سبيلٍ » .
وَكَانَ ابنُ عمرَ ، رضي اللَّه عنهما ، يقول : إِذَا أَمْسيْتَ ، فَلا تَنْتظِرِ الصَّباحَ وإِذَا أَصْبحْت ، فَلا تنْتَظِرِ المَساءَ ، وخُذْ منْ صِحَّتِكَ لمرضِكَ ومِنْ حياتِك لِموتكَ . رواه البخاري .
قالوا في شرح هذا الحديث معناه لا تَركَن إلى الدُّنْيَا ولا تَتَّخِذْهَا وَطَناً ، ولا تُحدِّثْ نَفْسكَ بِطُول الْبقَاءِ فِيهَا ، وَلا بالاعْتِنَاءِ بِهَا ، ولا تَتَعَلَّقْ مِنْهَا إلاَّ بِما يَتَعَلَّقُ بِه الْغَرِيبُ في غيْرِ وطَنِهِ ، ولا تَشْتَغِلْ فِيهَا بِما لا يشتَغِلُ بِهِ الْغرِيبُ الَّذِي يُريدُ الذَّهاب إلى أَهْلِهِ . وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقٌ .
Terjemahan
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ memegang kedua pundakku lalu bersabda: "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir."
Dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma biasa berkata: "Jika engkau berada di waktu petang, janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu petang. Ambillah (manfaatkan) masa sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Para ulama menjelaskan hadits ini: Maksudnya jangan bersandar pada dunia, jangan menjadikannya sebagai tanah air, jangan berangan-angan untuk lama tinggal di dalamnya, jangan sibuk dengannya, dan jangan bergantung padanya kecuali sebagaimana bergantungnya orang asing di negeri orang lain, serta jangan sibuk di dalamnya dengan hal-hal yang tidak disibukkan oleh orang asing yang ingin pulang ke keluarganya. Dan dengan Allah-lah taufik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim tidak terikat dan berpanjang angan-angan terhadap dunia. Bersikap seperti orang asing atau musafir berarti hidup dengan zuhud, selalu siap berpindah (menuju akhirat), dan tidak menunda-nunda amal baik. Nasihat Ibnu Umar menekankan urgensi waktu dan kesehatan sebagai modal beramal sebelum datangnya kematian. Intinya, dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tujuan akhir.
Dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma biasa berkata: "Jika engkau berada di waktu petang, janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu petang. Ambillah (manfaatkan) masa sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Para ulama menjelaskan hadits ini: Maksudnya jangan bersandar pada dunia, jangan menjadikannya sebagai tanah air, jangan berangan-angan untuk lama tinggal di dalamnya, jangan sibuk dengannya, dan jangan bergantung padanya kecuali sebagaimana bergantungnya orang asing di negeri orang lain, serta jangan sibuk di dalamnya dengan hal-hal yang tidak disibukkan oleh orang asing yang ingin pulang ke keluarganya. Dan dengan Allah-lah taufik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim tidak terikat dan berpanjang angan-angan terhadap dunia. Bersikap seperti orang asing atau musafir berarti hidup dengan zuhud, selalu siap berpindah (menuju akhirat), dan tidak menunda-nunda amal baik. Nasihat Ibnu Umar menekankan urgensi waktu dan kesehatan sebagai modal beramal sebelum datangnya kematian. Intinya, dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tujuan akhir.
# 23
وعن أبي الْعبَّاس سَهْلِ بنِ سعْدٍ السَّاعديِّ ، رضي اللَّه عنه ، قال : جاءَ رجُلٌ إلى النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : فقالَ : يا رسول اللَّه دُلَّني عَلى عمَلٍ إِذا عَمِلْتُهُ أَحبَّني اللَّه ، وَأَحبَّني النَّاسُ ، فقال : « ازْهَدْ في الدُّنيا يُحِبَّكَ اللَّه ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحبَّكَ النَّاسُ » حديثٌ حسنٌ رواه ابن مَاجَه وغيره بأَسانيد حسنةٍ .
Terjemahan
Dari Abu al-'Abbas Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku." Beliau bersabda: "Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu." Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad yang baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua prinsip dasar untuk meraih cinta Allah dan manusia. Pertama, zuhud terhadap dunia dengan tidak menjadikannya tujuan utama, sehingga hati bersih untuk Allah. Kedua, zuhud terhadap hak orang lain dengan tidak tamak dan iri, sehingga tidak ada permusuhan. Dengan demikian, kunci dicintai adalah melepaskan ketergantungan hati dari selain Allah.
Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku." Beliau bersabda: "Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu." Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad yang baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua prinsip dasar untuk meraih cinta Allah dan manusia. Pertama, zuhud terhadap dunia dengan tidak menjadikannya tujuan utama, sehingga hati bersih untuk Allah. Kedua, zuhud terhadap hak orang lain dengan tidak tamak dan iri, sehingga tidak ada permusuhan. Dengan demikian, kunci dicintai adalah melepaskan ketergantungan hati dari selain Allah.
# 24
وعن النُّعْمَانِ بنِ بَشيرٍ ، رضيَ اللَّه عنهما ، قالَ : ذَكَر عُمَرُ بْنُ الخَطَّاب ، رضي اللَّه عنه ، ما أصاب النَّاسُ مِنَ الدُّنْيَا ، فقال : لَقَدْ رَأَيْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَظَلُّ الْيَوْمَ يَلْتَوي ما يَجِدُ مِنَ الدَّقَل ما يمْلأُ بِهِ بطْنَهُ . رواه مسلم .
« الدَّقَلُ » بفتح الدال المهملة والقاف : رَدِئُ التَّمْرِ .
Terjemahan
Dan dari an-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menyebutkan tentang apa yang telah diperoleh manusia dari dunia, lalu berkata: "Sungguh aku pernah melihat Rasulullah ﷺ seharian merasakan lapar, tidak mendapatkan kurma yang buruk (dakal) sekalipun untuk mengisi perutnya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
"Dakal" dengan fathah dal dan qaf: kurma yang jelek.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan zuhud beliau terhadap dunia. Meski sebagai pemimpin, beliau rela menahan lapar dan memakan makanan seadanya. Ini menjadi teladan agar seorang Muslim tidak terperdaya oleh gemerlap dunia dan selalu bersyukur atas rezeki yang halal, sekalipun sederhana.
"Dakal" dengan fathah dal dan qaf: kurma yang jelek.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan zuhud beliau terhadap dunia. Meski sebagai pemimpin, beliau rela menahan lapar dan memakan makanan seadanya. Ini menjadi teladan agar seorang Muslim tidak terperdaya oleh gemerlap dunia dan selalu bersyukur atas rezeki yang halal, sekalipun sederhana.
# 25
وعن عائشةَ ، رضي اللَّه عنها ، قالت : تُوفِّيَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وما في بَيْتي مِنْ شَيْءٍ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلاَّ شَطْرُ شَعيرٍ في رَفٍّ لي ، فَأَكَلْتُ مِنْهُ حَتَّى طَال علَيَّ ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ . متفقٌ عليه .
« شَطْرُ شَعيرٍ » أَي شَيْء مِنْ شَعيرٍ . كَذا فسَّرهُ التِّرمذيُّ .
Terjemahan
Dan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Rasulullah ﷺ wafat, sementara di rumahku tidak ada sesuatu pun yang dimakan oleh makhluk bernyawa, kecuali sedikit gandum di rak milikku. Lalu aku memakannya hingga lama bagiku, kemudian aku timbang dan habislah ia." (Muttafaqun 'alaih).
"Sya'thru sya'irin" artinya sedikit gandum. Demikianlah penafsiran at-Tirmidzi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ dan keluarganya hingga akhir hayat beliau. Keadaan tersebut menunjukkan zuhud dan ketidakmelekatan terhadap dunia, serta kesabaran dan qana'ah istri beliau, Aisyah RA. Hikmahnya adalah teladan untuk hidup sederhana, bersyukur atas rezeki yang sedikit, dan mengutamakan kehidupan akhirat.
"Sya'thru sya'irin" artinya sedikit gandum. Demikianlah penafsiran at-Tirmidzi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ dan keluarganya hingga akhir hayat beliau. Keadaan tersebut menunjukkan zuhud dan ketidakmelekatan terhadap dunia, serta kesabaran dan qana'ah istri beliau, Aisyah RA. Hikmahnya adalah teladan untuk hidup sederhana, bersyukur atas rezeki yang sedikit, dan mengutamakan kehidupan akhirat.
# 26
وعن عمر بنِ الحارِث أَخي جُوَيْرِية بنْتِ الحَارثِ أُمِّ المُؤْمِنِينَ ، رضي اللَّه عنهما ، قال : مَا تَرَكَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، عِنْدَ مَوْتِهِ دِينَاراً وَلا دِرْهَماً ، ولا عَبْداً ، وَلا أَمَةً ، وَلا شَيْئاً إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ الَّتي كَان يَرْكَبُهَا ، وَسِلاحَهُ ، وَأَرْضاً جَعَلَهَا لابْنِ السَّبيِلِ صَدَقَةً » رواه البخاري .
Terjemahan
Dan dari Umar bin al-Harits, saudara Juwairiyah binti al-Harits Ummul Mukminin radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan ketika wafatnya dinar maupun dirham, tidak pula budak laki-laki atau perempuan, tidak pula sesuatu apa pun, kecuali baghal putihnya yang biasa beliau tunggangi, senjatanya, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sebagai sedekah untuk ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan ketidakberpihakan beliau terhadap harta dunia. Beliau wafat tanpa meninggalkan warisan harta pribadi yang menggiurkan, melainkan hanya beberapa barang keperluan. Tanah yang dimiliki pun diwakafkan untuk kepentingan umum (ibnu sabil), menegaskan bahwa kepemimpinan beliau adalah untuk melayani umat, bukan mengumpulkan kekayaan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan ketidakberpihakan beliau terhadap harta dunia. Beliau wafat tanpa meninggalkan warisan harta pribadi yang menggiurkan, melainkan hanya beberapa barang keperluan. Tanah yang dimiliki pun diwakafkan untuk kepentingan umum (ibnu sabil), menegaskan bahwa kepemimpinan beliau adalah untuk melayani umat, bukan mengumpulkan kekayaan.
# 27
وعن خَبَّابِ بنِ الأَرَتِّ ، رضي اللَّه عنه ، قال هَاجَرْنَا مَعَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نَلْتَمِسُ وَجهَ اللَّه تعالى فَوَقَعَ أَجْرُنا عَلى اللَّه ، فَمِنَّا مَنْ مَاتَ وَلَمْ يأْكُلْ مِنْ أَجرِهِ شَيْئاً . مِنْهُم مُصْعَبُ بن عَمَيْر ، رضي اللَّه عنه ، قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ ، وَتَرَكَ نَمِرَةً، فَكُنَّا إِذَا غَطَّيْنا بهَا رَأْسَهُ، بَدَتْ رجْلاهُ ، وَإِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رِجْلَيْهِ ، بَدَا رَأْسُهُ ، فَأَمَرَنا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، أَنْ نُغَطِّيَ رَأْسَهُ، وَنَجْعَلَ عَلى رجْليهِ شَيْئاً مِنَ الإِذْخِرِ ، ومِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ . فَهُوَ يَهدبُهَا، متفقٌ عليه.
« النَّمِرَةُ » : كسَاء مُلَوَّنٌ منْ صُوفٍ . وقوله : « أينَعَت » أَيْ : نَضَجَتْ وَأَدْرَكَتْ . وقوله : « يَهْدِبُهَا » هو بفتح الباءِ وضم الدال وكسرها . لُغَتَان . أَيْ: يَقْطِفُهَا وَيجْتَنِيهَا وَهَذِهِ اسْتِعَارَةٌ لمَا فَتَحَ اللَّه تَعَالى عَلَيْهِمْ مِنَ الدُّنْيَا وَتَمَكنُوا فيهَا .
Terjemahan
Dan dari Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami berhijrah bersama Rasulullah ﷺ mengharap wajah Allah Ta'ala, maka pahala kami menjadi tanggungan Allah. Di antara kami ada yang mati dan belum memakan sedikit pun dari pahalanya. Di antaranya Mush'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu, terbunuh pada perang Uhud. Ia hanya meninggalkan selembar namirah (kain bergaris). Jika kami menutupi kepalanya, kakinya terbuka. Jika kami menutupi kakinya, kepalanya terbuka. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menutupi kepalanya dan memberi idzkhir (sejenis rumput wangi) pada kakinya. Dan di antara kami ada yang buahnya telah masak, lalu ia memetiknya." (Muttafaqun 'alaih).
"An-Namirah" adalah kain wol berwarna. "Ayna'at" artinya matang dan ranum. "Yahdibuha" artinya memetik dan memanennya. Ini adalah kiasan untuk apa yang Allah buka bagi mereka dari dunia dan mereka dapat menikmatinya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan pengorbanan besar para sahabat dalam hijrah, semata mengharap ridha Allah. Kemiskinan material mereka, seperti yang dialami Mush‘ab bin ‘Umair, justru menunjukkan kekayaan iman dan ketulusan. Perintah Nabi untuk menutupi jenazahnya dengan kain sederhana mengajarkan kesederhanaan dan bahwa nilai seseorang terletak pada ketakwaan, bukan harta dunia. Pahala sejati ada di sisi Allah.
"An-Namirah" adalah kain wol berwarna. "Ayna'at" artinya matang dan ranum. "Yahdibuha" artinya memetik dan memanennya. Ini adalah kiasan untuk apa yang Allah buka bagi mereka dari dunia dan mereka dapat menikmatinya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan pengorbanan besar para sahabat dalam hijrah, semata mengharap ridha Allah. Kemiskinan material mereka, seperti yang dialami Mush‘ab bin ‘Umair, justru menunjukkan kekayaan iman dan ketulusan. Perintah Nabi untuk menutupi jenazahnya dengan kain sederhana mengajarkan kesederhanaan dan bahwa nilai seseorang terletak pada ketakwaan, bukan harta dunia. Pahala sejati ada di sisi Allah.
# 28
وعن سَهْلِ بنِ سَعْد السَّاعديِّ ، رضي اللَّه عنه ، قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّه جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافراً منْها شَرْبَةَ مَاءٍ » رواه الترمذي . وقال حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dan dari Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya dunia ini setara di sisi Allah dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi orang kafir minum seteguk air pun darinya." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa remeh dan tidak berharganya dunia beserta segala isinya di mata Allah ﷻ. Nilainya bahkan dianggap lebih rendah daripada sayap nyamuk yang sangat kecil. Hikmahnya, seorang Muslim tidak boleh tertipu dan terpesona oleh gemerlap dunia, apalagi sampai melalaikan akhirat. Nikmat dunia yang diberikan kepada orang kafir sama sekali tidak menunjukkan kemuliaan atau ridha Allah atas mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa remeh dan tidak berharganya dunia beserta segala isinya di mata Allah ﷻ. Nilainya bahkan dianggap lebih rendah daripada sayap nyamuk yang sangat kecil. Hikmahnya, seorang Muslim tidak boleh tertipu dan terpesona oleh gemerlap dunia, apalagi sampai melalaikan akhirat. Nikmat dunia yang diberikan kepada orang kafir sama sekali tidak menunjukkan kemuliaan atau ridha Allah atas mereka.
# 29
وعن أبي هُرَيْرَة رضي اللَّه عنه ، قال : سمعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ، مَلعون مَا فيها ، إِلاَّ ذِكْرَ اللَّه تعالى ، ومَا وَالاَه وَعالماً وَمُتَعلِّماً » .
رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan segala yang ada di dalamnya terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah, apa-apa yang mendekatkan kepada-Nya, seorang alim, dan seorang penuntut ilmu." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Dunia dan isinya pada dasarnya adalah fitnah dan melalaikan, kecuali jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, seperti berdzikir, belajar, dan mengajarkan ilmu.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa orientasi hidup yang semata-mata duniawi adalah tercela dan menyesatkan. Nilai dunia hanya menjadi baik jika digunakan sebagai sarana untuk berzikir, taat kepada Allah, serta menuntut dan menyebarkan ilmu agama. Dengan demikian, fokus utama seorang muslim adalah mengarahkan segala aktivitas duniawinya untuk meraih keridhaan Allah SWT.
Penjelasan singkat: Dunia dan isinya pada dasarnya adalah fitnah dan melalaikan, kecuali jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, seperti berdzikir, belajar, dan mengajarkan ilmu.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa orientasi hidup yang semata-mata duniawi adalah tercela dan menyesatkan. Nilai dunia hanya menjadi baik jika digunakan sebagai sarana untuk berzikir, taat kepada Allah, serta menuntut dan menyebarkan ilmu agama. Dengan demikian, fokus utama seorang muslim adalah mengarahkan segala aktivitas duniawinya untuk meraih keridhaan Allah SWT.
# 30
وعن عَبْدِ اللَّه بنِ مسعودٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تَتَّخِذُوا الضَّيْعَةَ فَتَرْغَبُوا في الدُّنْيا » .
رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian tamak terhadap dunia, niscaya dunia akan membuat kalian sibuk." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Ketamakan terhadap dunia akan menyibukkan hati dan fisik seseorang dari mengingat Allah dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan agar seorang muslim tidak menjadikan kepemilikan harta dan ketamakan terhadap dunia sebagai tujuan utama. Kecintaan berlebihan akan dunia akan menyibukkan hati dan raga dari kewajiban beribadah dan mengingat Allah. Fokus hidup yang seharusnya adalah memprioritaskan akhirat, sementara dunia hanya dijadikan sarana penunjang. Dengan demikian, jiwa akan tetap tenang dan tidak terbelenggu oleh keinginan duniawi.
Penjelasan singkat: Ketamakan terhadap dunia akan menyibukkan hati dan fisik seseorang dari mengingat Allah dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan agar seorang muslim tidak menjadikan kepemilikan harta dan ketamakan terhadap dunia sebagai tujuan utama. Kecintaan berlebihan akan dunia akan menyibukkan hati dan raga dari kewajiban beribadah dan mengingat Allah. Fokus hidup yang seharusnya adalah memprioritaskan akhirat, sementara dunia hanya dijadikan sarana penunjang. Dengan demikian, jiwa akan tetap tenang dan tidak terbelenggu oleh keinginan duniawi.
# 31
وعن عبدِ اللَّه بنِ عمرو بنِ العاصِ رضي اللَّه عنهما ، قال : مَرَّ عَلَيْنَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَنحنُ نُعالجُ خُصًّا لَنَا فقال : « ما هذا ؟ » فَقُلْنَا : قَدْ وَهِي ، فَنَحْنُ نُصْلِحُه ، فقال : « ما أَرَى الأَمْرَ إِلاَّ أَعْجَلَ مِنْ ذلكَ » .
رواه أَبو داود ، والترمذيُّ بإِسناد البخاريِّ ومسلم ، وقال الترمذيُّ : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ berjalan dan menemui kami sedang memperbaiki gubuk kayu kami. Beliau bertanya: "Apa yang kalian lakukan?" Kami menjawab: "Gubuk kami telah rapuh dan kami sedang memperbaikinya." Beliau bersabda: "Aku melihat bahwa kematian akan datang lebih cepat dari itu." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan penguat dari Al-Bukhari dan Muslim, dan at-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadits ini mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini sangat singkat dan kematian bisa datang kapan saja, sehingga jangan terlalu sibuk dan berpanjang angan-angan dengan urusan dunia yang fana.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan manusia agar tidak terlalu sibuk dan panjang angan-angan dalam urusan dunia yang bersifat sementara, seperti memperbaiki tempat tinggal, seolah-olah akan hidup selamanya. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ajal (kematian) bisa datang lebih cepat daripada selesainya pekerjaan duniawi tersebut. Intinya, kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal dan tidak tertipu oleh kesibukan dunia.
Penjelasan singkat: Hadits ini mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini sangat singkat dan kematian bisa datang kapan saja, sehingga jangan terlalu sibuk dan berpanjang angan-angan dengan urusan dunia yang fana.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan manusia agar tidak terlalu sibuk dan panjang angan-angan dalam urusan dunia yang bersifat sementara, seperti memperbaiki tempat tinggal, seolah-olah akan hidup selamanya. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ajal (kematian) bisa datang lebih cepat daripada selesainya pekerjaan duniawi tersebut. Intinya, kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal dan tidak tertipu oleh kesibukan dunia.
# 32
وعن كَعْبِ بنِ عِيَاضٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : سمعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فتنةً ، فِتنَةُ أُمَّتي المَالُ » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.
Terjemahan
Dari Ka'ab bin 'Iyadh radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap umat akan diuji, dan ujian bagi umatku adalah harta."
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Harta merupakan ujian besar bagi umat ini, apakah digunakan di jalan Allah atau justru menjerumuskan ke dalam kesombongan, ketamakan, dan melalaikan kewajiban.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa harta adalah ujian khusus bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Ujian ini menentukan apakah harta menjadi sarana taat dan berbuat kebajikan, atau justru menjadi godaan yang menjerumuskan ke dalam keserakahan, kelalaian, dan penyimpangan dari jalan Allah. Oleh karena itu, seorang muslim harus bersikap bijak, bersyukur, dan menggunakan hartanya di jalan yang diridhai-Nya.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Harta merupakan ujian besar bagi umat ini, apakah digunakan di jalan Allah atau justru menjerumuskan ke dalam kesombongan, ketamakan, dan melalaikan kewajiban.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa harta adalah ujian khusus bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Ujian ini menentukan apakah harta menjadi sarana taat dan berbuat kebajikan, atau justru menjadi godaan yang menjerumuskan ke dalam keserakahan, kelalaian, dan penyimpangan dari jalan Allah. Oleh karena itu, seorang muslim harus bersikap bijak, bersyukur, dan menggunakan hartanya di jalan yang diridhai-Nya.
# 33
- وعن أبي عمرو ، ويقالُ : أَبو عبدِ اللَّه ، ويقال : أَبو لَيْلى عُثْمَانُ بنُ عَفَّانَ رضي اللَّه عنه ، أَنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لَيْسَ لابْن آدَمَ حَقٌّ في سِوى هَذِهِ الخِصَال : بَيْتٌ يَسْكُنُهُ ، وَثَوْبٌ يُوَارِي عَوْرَتَهُ وَجِلْفُ الخُبز ، وَالمَاءِ » رواه الترمذي وقال : حديث صحيح.
قال الترمذي : سمعتُ أَبَا داوُدَ سلَيمَانَ بنَ سَالمٍ البَلْخِيَّ يقول : سَمِعْتُ النَّضْر بْنَ شُمَيْلٍ يقولُ : الجلفُ : الخُبزُ لَيْس مَعَهُ إِدَامٌ . وقَالَ : غيرُهُ : هُوَ غَلِيظُ الخُبْزِ . وقَالَ الرَّاوِي : المُرَادُ بِهِ هُنَا وِعَاءُ الخُبزِ ، كالجَوَالِقِ وَالخُرْجِ ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dan dari Abu 'Amru – ada yang mengatakan: Abu Abdullah, ada yang mengatakan: Abu Laila – Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada hak bagi anak Adam selain dari perkara-perkara ini: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya, dan jilful khubzi wal maa' (roti keras dan air)." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata: hadits shahih).
At-Tirmidzi berkata: Aku mendengar Abu Dawud Sulaiman bin Salim al-Balkhi berkata: Aku mendengar an-Nadhr bin Syumail berkata: "Al-Jilfu" adalah roti tanpa lauk. Yang lain berkata: Itu adalah roti yang kasar. Perawi berkata: Maksudnya di sini adalah wadah roti, seperti karung dan kantong. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kesederhanaan hidup dan membatasi hak kebutuhan pokok manusia pada tiga hal: tempat tinggal, pakaian, serta makanan dan minuman yang paling dasar (roti keras dan air). Ini merupakan bimbingan agar manusia tidak serakah, selalu bersyukur, dan tidak diperbudak oleh keinginan terhadap dunia. Hikmahnya adalah mendorong kita untuk qana'ah (merasa cukup) dengan rezeki yang halal serta memprioritaskan kebutuhan esensial di atas keinginan.
At-Tirmidzi berkata: Aku mendengar Abu Dawud Sulaiman bin Salim al-Balkhi berkata: Aku mendengar an-Nadhr bin Syumail berkata: "Al-Jilfu" adalah roti tanpa lauk. Yang lain berkata: Itu adalah roti yang kasar. Perawi berkata: Maksudnya di sini adalah wadah roti, seperti karung dan kantong. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kesederhanaan hidup dan membatasi hak kebutuhan pokok manusia pada tiga hal: tempat tinggal, pakaian, serta makanan dan minuman yang paling dasar (roti keras dan air). Ini merupakan bimbingan agar manusia tidak serakah, selalu bersyukur, dan tidak diperbudak oleh keinginan terhadap dunia. Hikmahnya adalah mendorong kita untuk qana'ah (merasa cukup) dengan rezeki yang halal serta memprioritaskan kebutuhan esensial di atas keinginan.
# 34
وعنْ عبْدِ اللَّه بنِ الشِّخِّيرِ « بكسر الشين والخاءِ المشددةِ المعجمتين» رضي اللَّه عنه ، أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهُوَ يَقْرَأُ : { أَلهَاكُمُ التَّكَاثُرُ } قال: « يَقُولُ ابنُ آدَم: مَالي ، مَالي ، وَهَل لَكَ يَا ابن آدمَ مِنْ مالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلت فَأَفْنيْتَ ، أو لبِستَ فَأَبْلَيْتَ ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضيْتَ ؟» رواه مسلم .
Terjemahan
Dan dari Abdullah bin asy-Syikhkhir (dengan syin dan khâ' yang disukun dan ditasydid) radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: "Aku mendatangi Nabi ﷺ saat beliau membaca: 'Alhakumut takâtsur' (Bermegah-megahan telah melalaikan kalian). Beliau bersabda: 'Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Padahal, wahai anak Adam, tidak ada hartamu kecuali apa yang telah kamu makan lalu kamu habiskan, atau yang telah kamu pakai lalu kamu usangkan, atau yang telah kamu sedekahkan lalu kamu abadikan (pahalanya).'" (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Harta yang sejati bukanlah yang hanya dikumpulkan dan dibanggakan. Nilai harta itu terletak pada pemanfaatannya untuk kebaikan: yang dimakan (kebutuhan), dipakai (manfaat), atau disedekahkan (investasi akhirat). Hadis ini mengingatkan agar kita tidak terlena dengan kesenangan duniawi yang bersifat sementara, dan mengalihkan fokus pada amal yang kekal pahalanya.
Penjelasan singkat: Harta yang sejati bukanlah yang hanya dikumpulkan dan dibanggakan. Nilai harta itu terletak pada pemanfaatannya untuk kebaikan: yang dimakan (kebutuhan), dipakai (manfaat), atau disedekahkan (investasi akhirat). Hadis ini mengingatkan agar kita tidak terlena dengan kesenangan duniawi yang bersifat sementara, dan mengalihkan fokus pada amal yang kekal pahalanya.
# 35
وعن عبدِ اللَّه بن مُغَفَّلٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : قال رجُلٌ للنَّبِيِّ ص: يارسولَ اللَّه ، واللَّه إِنِّي لأُحِبُّكَ ، فقال : « انْظُرْ ماذا تَقُولُ ؟ » قال : وَاللَّه إِنِّي لأُحِبُّكَ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، فقال : « إِنْ كُنْتَ تُحبُّني فَأَعِدَّ لَلفقْر تِجْفافاً، فإِنَّ الفَقْر أَسْرَعُ إلى من يُحِبُّني مِنَ السَّيْل إلى مُنْتَهَاهُ » رواه الترمذي وقال حديث حسن.
« التِّجْفَافُ » بكسرِ التاءِ المثناةِ فوقُ وإسكان الجيم وبالفاءِ المكررة ، وَهُوَ شَيْءُ يَلْبِسُهُ الفَرسُ ، لِيُتَّقَى بِهِ الأَذَى ، وَقَدْ يَلْبَسُهُ الإِنْسَانُ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu." Beliau bersabda, "Perhatikanlah apa yang kamu ucapkan!" Laki-laki itu berkata lagi, "Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu," (ia ucapkan) tiga kali. Maka beliau bersabda, "Jika kamu benar mencintaiku, maka persiapkanlah untuk (menghadapi) kefakiran sebuah pelana (perisai), karena sesungguhnya kefakiran lebih cepat datang kepada orang yang mencintaiku daripada banjir yang mengalir ke tempat tujuannya." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan.
"At-Tijfaaf" dengan tasydid huruf fa' adalah sesuatu yang dipakai kuda untuk melindunginya dari gangguan, dan terkadang juga dipakai manusia.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa cinta sejati kepada Rasulullah SAW bukan hanya pengakuan lisan, tetapi kesiapan menghadapi konsekuensinya. Konsekuensi utama yang disebutkan adalah kefakiran, yang dapat dimaknai sebagai ujian hidup dan pengorbanan duniawi. Dengan demikian, pengakuan cinta harus dibuktikan dengan ketabahan dan persiapan jiwa dalam menghadapi segala cobaan.
"At-Tijfaaf" dengan tasydid huruf fa' adalah sesuatu yang dipakai kuda untuk melindunginya dari gangguan, dan terkadang juga dipakai manusia.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa cinta sejati kepada Rasulullah SAW bukan hanya pengakuan lisan, tetapi kesiapan menghadapi konsekuensinya. Konsekuensi utama yang disebutkan adalah kefakiran, yang dapat dimaknai sebagai ujian hidup dan pengorbanan duniawi. Dengan demikian, pengakuan cinta harus dibuktikan dengan ketabahan dan persiapan jiwa dalam menghadapi segala cobaan.
# 36
وعن كَعبِ بنِ مالكٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَاذِئْبَان جَائعَانِ أُرْسِلا في غَنَم بأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ على المالِ وَالشـَّرفِ لِدِينهِ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Dua ekor serigala yang lapar dilepaskan pada seekor kambing tidak lebih berbahaya bagi kambing itu daripada bahayanya ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa berbahayanya ambisi (hirs) terhadap harta dan kedudukan bagi agama seseorang. Bahaya itu diibaratkan lebih dahsyat daripada serigala lapar yang menerkam kambing. Hikmahnya, kita harus sangat waspada dan mengendalikan kecintaan berlebihan pada dunia, karena dapat merusak dan menghancurkan keimanan serta amal ibadah kita.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa berbahayanya ambisi (hirs) terhadap harta dan kedudukan bagi agama seseorang. Bahaya itu diibaratkan lebih dahsyat daripada serigala lapar yang menerkam kambing. Hikmahnya, kita harus sangat waspada dan mengendalikan kecintaan berlebihan pada dunia, karena dapat merusak dan menghancurkan keimanan serta amal ibadah kita.
# 37
وعن عبدِ اللَّه بن مَسْعُودٍ رضي اللَّه عنه ، قال : نَامَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم على حَصيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ في جَنْبِهِ ، قُلْنَا : يا رَسُولَ الَّه لوِ اتَّخَذْنَا لكَ وِطَاءً ، فقال : « مَالي وَلَلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا » .
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح
Terjemahan
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah tidur di atas selembar tikar, dan ketika bangun terdapat bekas tikar itu di punggung beliau. Kami berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya kami sediakan untukmu sesuatu yang lembut (seperti kasur)?" Beliau bersabda, "Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi meninggalkannya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan sikap zuhud Nabi Muhammad ﷺ terhadap dunia. Beliau menolak kemewahan dan memilih hidup sederhana, meski mampu. Perumpamaan beliau sebagai musafir yang hanya singgah sebentar mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, bukan tujuan akhir. Hikmahnya adalah agar kita tidak terikat dan berlomba pada hal duniawi, tetapi fokus pada bekal untuk kehidupan akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan sikap zuhud Nabi Muhammad ﷺ terhadap dunia. Beliau menolak kemewahan dan memilih hidup sederhana, meski mampu. Perumpamaan beliau sebagai musafir yang hanya singgah sebentar mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, bukan tujuan akhir. Hikmahnya adalah agar kita tidak terikat dan berlomba pada hal duniawi, tetapi fokus pada bekal untuk kehidupan akhirat.
# 38
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه ، قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يَدْخُلُ الفُقَراءُ الجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِمائَةِ عَامٍ » رواه الترمذي وقال : حديث صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang fakir akan masuk surga sebelum orang-orang kaya, dengan selisih lima ratus tahun." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits shahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan hidup sederhana dan bahaya cinta dunia. Orang fakir yang sabar dan bersyukur akan didahulukan masuk surga sebagai bentuk kemuliaan dan balasan di akhirat. Ini menjadi pengingat bahwa kekayaan bukan tolok ukur kemuliaan, justru bisa menjadi ujian yang memperberat hisab.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan hidup sederhana dan bahaya cinta dunia. Orang fakir yang sabar dan bersyukur akan didahulukan masuk surga sebagai bentuk kemuliaan dan balasan di akhirat. Ini menjadi pengingat bahwa kekayaan bukan tolok ukur kemuliaan, justru bisa menjadi ujian yang memperberat hisab.
# 39
وعن ابن عَبَّاسِ ، وعِمْرَانَ بن الحُصَيْن ، رضي اللَّه عنهم ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « آطَّلعْتُ في الجَنَّةِ فَرَأَيْت أَكْثَرَ أَهلِهَا الفُقَراءَ . وَاطَّلَعْتُ في النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّساءَ » متفقٌ عليه . من رواية ابن عباس .
ورواه البخاري أيْضاً من روايةِ عِمْرَان بنِ الحُصَينِ ..
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas dan 'Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Aku diperlihatkan surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku diperlihatkan neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita." Muttafaqun 'alaih. Dari riwayat Ibnu Abbas.
Dan Al-Bukhari juga meriwayatkannya dari riwayat 'Imran bin Hushain.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua pelajaran utama. Pertama, kemiskinan duniawi bukanlah penghalang untuk meraih kemuliaan akhirat, bahkan orang fakir yang sabar dan bersyukur berpotensi besar menjadi penghuni surga. Kedua, pernyataan tentang mayoritas penghuni neraka adalah wanita merupakan peringatan keras, khususnya bagi wanita, untuk lebih waspada terhadap godaan dan kemaksiatan yang sering menjadi sebab masuk neraka, seperti sikap kufur nikmat dan durhaka kepada suami. Ini adalah teguran untuk introspeksi, bukan celaan mutlak.
Dan Al-Bukhari juga meriwayatkannya dari riwayat 'Imran bin Hushain.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua pelajaran utama. Pertama, kemiskinan duniawi bukanlah penghalang untuk meraih kemuliaan akhirat, bahkan orang fakir yang sabar dan bersyukur berpotensi besar menjadi penghuni surga. Kedua, pernyataan tentang mayoritas penghuni neraka adalah wanita merupakan peringatan keras, khususnya bagi wanita, untuk lebih waspada terhadap godaan dan kemaksiatan yang sering menjadi sebab masuk neraka, seperti sikap kufur nikmat dan durhaka kepada suami. Ini adalah teguran untuk introspeksi, bukan celaan mutlak.
# 40
وعن أُسامةَ بنِ زيدٍ رضيَ اللَّه عنهما ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « قُمْتُ عَلى بَاب الجَنَّةِ ، فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا المَساكينُ . وأَصَحَابُ الجِدِّ محبُوسُونَ ، غَيْرَ أَنَّ أَصحَابَ النَّار قَد أُمِرَ بِهمْ إلى النَّارِ » متفقٌ عليه .
و « الجَدُّ » الحَظُّ وَالغِنَى . وقد سبق بيان هذا الحديث في باب فضلِ الضَّعَفَةِ.
Terjemahan
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Aku berdiri di pintu surga, maka kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang yang memiliki kecukupan (kaya) ditahan, kecuali bahwa penghuni neraka telah diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka." Muttafaqun 'alaih.
"Al-Jadd" artinya keberuntungan dan kekayaan. Penjelasan hadits ini telah disebutkan sebelumnya dalam bab keutamaan orang-orang yang lemah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah aib dan kekayaan bukanlah jaminan masuk surga. Orang miskin yang sabar dan bersyukur justru lebih banyak memasuki surga karena lebih mudah lulus dari ujian hisab. Sebaliknya, orang kaya akan "ditahan" untuk dihisab lebih ketat terkait harta mereka. Hikmahnya adalah agar kita tidak silau oleh dunia dan selalu menggunakan nikmat Allah di jalan yang benar.
"Al-Jadd" artinya keberuntungan dan kekayaan. Penjelasan hadits ini telah disebutkan sebelumnya dalam bab keutamaan orang-orang yang lemah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah aib dan kekayaan bukanlah jaminan masuk surga. Orang miskin yang sabar dan bersyukur justru lebih banyak memasuki surga karena lebih mudah lulus dari ujian hisab. Sebaliknya, orang kaya akan "ditahan" untuk dihisab lebih ketat terkait harta mereka. Hikmahnya adalah agar kita tidak silau oleh dunia dan selalu menggunakan nikmat Allah di jalan yang benar.
# 41
وعن أبي هريرة ، رضي اللَّه عنه ، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ كَلِمَةُ لَبِيدٍ :
أَلا كُلُّ شيْءٍ ما خَلا اللهَ بَاطِلُ متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ucapan yang paling benar yang diucapkan oleh seorang penyair adalah ucapan Labid: 'Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil (sia-sia dan akan binasa)'." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tauhid sebagai kebenaran paling hakiki. Pernyataan penyair Jahiliah, Labid, yang diakui Nabi, menyatakan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil, artinya fana dan tidak kekal. Hikmahnya, kita diajak untuk memprioritaskan orientasi hidup pada Allah Yang Maha Kekal, dan tidak tertipu oleh dunia yang sementara.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tauhid sebagai kebenaran paling hakiki. Pernyataan penyair Jahiliah, Labid, yang diakui Nabi, menyatakan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil, artinya fana dan tidak kekal. Hikmahnya, kita diajak untuk memprioritaskan orientasi hidup pada Allah Yang Maha Kekal, dan tidak tertipu oleh dunia yang sementara.