Kitab 1 · Bab 56
Keutamaan menahan lapar, hidup sederhana, merasa puas dengan makanan, minuman, pakaian sederhana, dan hal-hal lain yang menjadi rezeki badan, serta meninggalkan keinginan hawa nafsu
✦ 35 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غياً، إلا من تاب وآمن وعمل صالحاً، فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون شيئاً ﴾ .سورة مريم(59-60)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Kemudian datang setelah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh; maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun." (Maryam: 59-60)
Penjelasan singkat: Ayat ini memberikan peringatan keras tentang dua penyebab utama kesesatan: menyia-nyiakan shalat (dengan meninggalkan atau meremehkan syarat, rukun, dan waktunya) serta mengikuti hawa nafsu. Ancaman "kesesatan" (ghayy) adalah balasan yang nyata. Namun, Allah membuka pintu harapan dengan tiga syarat tobat: taubat sejati, mengokohkan iman, dan disertai amal saleh. Bagi yang memenuhi syarat, janji surga dan keadilan-Nya pasti terlaksana.
Penjelasan singkat: Ayat ini memberikan peringatan keras tentang dua penyebab utama kesesatan: menyia-nyiakan shalat (dengan meninggalkan atau meremehkan syarat, rukun, dan waktunya) serta mengikuti hawa nafsu. Ancaman "kesesatan" (ghayy) adalah balasan yang nyata. Namun, Allah membuka pintu harapan dengan tiga syarat tobat: taubat sejati, mengokohkan iman, dan disertai amal saleh. Bagi yang memenuhi syarat, janji surga dan keadilan-Nya pasti terlaksana.
# 2
وقال تعالى: ﴿ فخرج على قومه في زينته، قال الذين يريدون الحياة الدنيا: يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنه لذو حظ عظيم. وقال الذين أوتوا العلم: ويلكم! ثواب اللَّه خير لمن آمن وعمل صالحاً ﴾ .سورة القصص(79-80)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Karun keluar (menuju kaumnya) dengan perhiasannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, 'Wahai, kiranya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Karun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.' Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata, 'Celakalah kamu! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan...'" (Al-Qashash: 79-80)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan perbedaan pandangan antara orang yang berorientasi dunia dan orang yang berilmu. Kaum yang silau oleh harta Karun menganggapnya sebagai keberuntungan tertinggi. Sebaliknya, orang berilmu menegaskan bahwa pahala dari Allah bagi orang beriman dan beramal saleh itu jauh lebih utama dan kekal. Pelajarannya adalah agar kita tidak tertipu oleh kemewahan duniawi dan selalu mendahulukan keimanan serta amal kebajikan untuk meraih ridha Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan perbedaan pandangan antara orang yang berorientasi dunia dan orang yang berilmu. Kaum yang silau oleh harta Karun menganggapnya sebagai keberuntungan tertinggi. Sebaliknya, orang berilmu menegaskan bahwa pahala dari Allah bagi orang beriman dan beramal saleh itu jauh lebih utama dan kekal. Pelajarannya adalah agar kita tidak tertipu oleh kemewahan duniawi dan selalu mendahulukan keimanan serta amal kebajikan untuk meraih ridha Allah.
# 3
وقال تعالى: ﴿ ثم لتسألن يومئذ عن النعيم ﴾ .سورة التكاثر(8)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)." (At-Takatsur: 8)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kenikmatan yang Allah berikan di dunia, seperti kesehatan, waktu luang, harta, dan ilmu, akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Pertanyaan itu bukan tentang kehalalannya, tetapi tentang sejauh mana kita telah mensyukuri dan memanfaatkannya untuk ketaatan. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu menggunakan segala nikmat yang dimiliki sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk bermegah-megahan atau melalaikan kewajiban.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kenikmatan yang Allah berikan di dunia, seperti kesehatan, waktu luang, harta, dan ilmu, akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Pertanyaan itu bukan tentang kehalalannya, tetapi tentang sejauh mana kita telah mensyukuri dan memanfaatkannya untuk ketaatan. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu menggunakan segala nikmat yang dimiliki sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk bermegah-megahan atau melalaikan kewajiban.
# 4
وقال تعالى: ﴿ من كان يريد العاجلة عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد، ثم جعلنا له جهنم يصلاها مذموماً مدحوراً ﴾ .
سورة الإسراء(18)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia (yang cepat), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (Al-Isra': 18)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa orang yang hanya mengejar kenikmatan duniawi akan diberi kesenangan sesuai kehendak Allah, namun itu hanyalah istidraj (jebakan berupa kelapangan). Balasan sebenarnya adalah kehinaan di neraka Jahanam. Hikmahnya, seorang muslim harus menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir, dan selalu memprioritaskan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa orang yang hanya mengejar kenikmatan duniawi akan diberi kesenangan sesuai kehendak Allah, namun itu hanyalah istidraj (jebakan berupa kelapangan). Balasan sebenarnya adalah kehinaan di neraka Jahanam. Hikmahnya, seorang muslim harus menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir, dan selalu memprioritaskan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.
# 5
وعن عائشةَ ، رضي اللَّه عنها ، قالت : ما شَبعَ آلُ مُحمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ خُبْزِ شَعِيرٍ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ . متفقٌ عليه .
وفي رواية : مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّد صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُنْذُ قَـدِمَ المَدِينةَ مِنْ طَعامِ البرِّ ثَلاثَ لَيَال تِبَاعاً حَتَّى قُبِض .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah kenyang memakan roti dari gandum, sampai beliau wafat. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan: Sejak tiba di Madinah, keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah kenyang memakan makanan dari gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya. Mereka seringkali hidup dalam keadaan tidak kenyang, bahkan dari makanan pokok seperti roti gandum. Keadaan ini berlangsung lama, sejak di Madinah hingga beliau wafat. Pelajaran utamanya adalah teladan zuhud, ketawadukan, dan prioritas mengutamakan akhirat serta kepentingan umat di atas kesenangan duniawi.
Dalam riwayat lain disebutkan: Sejak tiba di Madinah, keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah kenyang memakan makanan dari gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya. Mereka seringkali hidup dalam keadaan tidak kenyang, bahkan dari makanan pokok seperti roti gandum. Keadaan ini berlangsung lama, sejak di Madinah hingga beliau wafat. Pelajaran utamanya adalah teladan zuhud, ketawadukan, dan prioritas mengutamakan akhirat serta kepentingan umat di atas kesenangan duniawi.
# 6
وعن عُرْوَةَ عَنْ عائشة رضي اللَّه عنها ، أَنَّهَا كَانَتْ تَقُولُ : وَاللَّه يا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إلى الهِلالِ ثمَّ الهِلالِ . ثُمَّ الهلالِ ثلاثةُ أَهِلَّةٍ في شَهْرَيْنِ . وَمَا أُوقِدَ في أَبْيَاتِ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نارٌ . قُلْتُ : يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعِيشُكُمْ ؟ قالتْ : الأَسْوَدَانِ : التَّمْرُ وَالمَاءُ إِلاَّ أَنَّهُ قَدْ كَانَ لرسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جِيرانٌ مِنَ الأَنْصَـارِ . وَكَانَتْ لَهُمْ مَنَايحُ وَكَانُوا يُرْسِلُونَ إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ أَلبانها فَيَسْقِينَا . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Urwah, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa ia pernah berkata: "Demi Allah, wahai anak saudariku, sesungguhnya kami pernah melihat hilal, kemudian hilal, kemudian hilal lagi –tiga kali hilal dalam dua bulan– dan tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Aku ('Urwah) bertanya, "Wahai bibiku, lalu dengan apa kalian hidup?" Ia menjawab, "Dengan dua yang hitam: kurma dan air, hanya saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki tetangga dari kalangan Anshar yang memiliki hewan ternak perahan, dan mereka mengirimkan sebagian susunya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau memberi kami minum." Muttafaqun 'alaih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan keluarganya. Dalam dua bulan, mereka hanya bertahan dengan kurma dan air, tanpa memasak. Ini mengajarkan sikap qana'ah (merasa cukup), ketabahan, dan zuhud terhadap dunia. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan pentingnya hubungan bertetangga yang baik, karena tetangga Anshar terkadang membantu mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan keluarganya. Dalam dua bulan, mereka hanya bertahan dengan kurma dan air, tanpa memasak. Ini mengajarkan sikap qana'ah (merasa cukup), ketabahan, dan zuhud terhadap dunia. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan pentingnya hubungan bertetangga yang baik, karena tetangga Anshar terkadang membantu mereka.
# 7
وعن أبي سعيدٍ المقْبُريِّ عَنْ أبي هُرَيرةَ رضي اللَّه عنه . أَنه مَرَّ بِقَوم بَيْنَ أَيْدِيهمْ شَاةٌ مَصْلِيةٌ . فَدَعَوْهُ فَأَبى أَنْ يَأْكُلَ ، وقال : خَرج رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم من الدنيا ولمْ يشْبعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ . رواه البخاري .
« مَصْلِيَّةٌ » بفتحِ الميم : أَيْ : مَشْوِيةٌ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang di hadapan mereka ada kambing panggang. Mereka mengundangnya makan, tetapi ia menolak dan berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan dunia ini dalam keadaan belum pernah kenyang memakan roti gandum." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
"Mashliyyah" dengan fathah mim: yaitu yang dipanggang.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap zuhud dan meneladani kehidupan sederhana Rasulullah SAW. Penolakan Abu Hurairah untuk menyantap hidangan mewah merupakan bentuk pengendalian diri dan pengingat bahwa kesederhanaan adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah. Hikmahnya, kita diajak untuk tidak terperangkap dalam kehidupan materialistik dan selalu bersyukur atas rezeki yang halal sekalipun sederhana.
"Mashliyyah" dengan fathah mim: yaitu yang dipanggang.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap zuhud dan meneladani kehidupan sederhana Rasulullah SAW. Penolakan Abu Hurairah untuk menyantap hidangan mewah merupakan bentuk pengendalian diri dan pengingat bahwa kesederhanaan adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah. Hikmahnya, kita diajak untuk tidak terperangkap dalam kehidupan materialistik dan selalu bersyukur atas rezeki yang halal sekalipun sederhana.
# 8
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه ، قال : لمْ يأْكُل النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم على خِوَانٍ حَتَّى مَات ، وَمَا أَكَلَ خُبزاً مرَقَّقاً حَتَّى مَاتَ . رواه البخاري.
وفي روايةٍ له : وَلا رَأَى شَاةَ سَمِيطاً بِعَيْنِهِ قطُّ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah makan di atas meja makan sampai beliau wafat, dan beliau juga tidak pernah makan roti yang lembut sampai beliau wafat. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Dalam riwayat lain disebutkan: Aku tidak pernah melihat kambing yang bulunya dicukur lalu dipanggang dengan kedua mataku sendiri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menghindari kemewahan dalam hal makan, seperti menggunakan meja atau memakan roti yang dihaluskan secara khusus. Ini bukan larangan, tetapi teladan untuk zuhud dan tidak berlebihan. Hikmahnya adalah mendahulukan kesahajaan, bersyukur atas yang ada, dan tidak terbebani oleh gaya hidup mewah.
Dalam riwayat lain disebutkan: Aku tidak pernah melihat kambing yang bulunya dicukur lalu dipanggang dengan kedua mataku sendiri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menghindari kemewahan dalam hal makan, seperti menggunakan meja atau memakan roti yang dihaluskan secara khusus. Ini bukan larangan, tetapi teladan untuk zuhud dan tidak berlebihan. Hikmahnya adalah mendahulukan kesahajaan, bersyukur atas yang ada, dan tidak terbebani oleh gaya hidup mewah.
# 9
وعن النُّعمانِ بن بشيرٍ رضي اللَّه عنهما قال : لقد رَأَيْتُ نَبِيَّكُمْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وما يَجِدُ مِنْ الدَّقَلِ ما يَمْلأُ به بَطْنَهُ ، رواه مسلم .
الدَّقَلُ : تمْرٌ رَدِيءٌ .
Terjemahan
Dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Sungguh aku pernah melihat Nabimu shallallahu 'alaihi wasallam, dan beliau tidak mendapatkan kurma yang jelek sekalipun untuk mengisi perutnya." Diriwayatkan oleh Muslim.
Ad-Daqal: kurma yang jelek.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ yang sangat mendalam. Beliau rela menahan lapar dan mengisi perutnya hanya dengan kurma berkualitas rendah (daqal), padahal sebagai pemimpin umat, beliau bisa memilih yang lebih baik. Ini menjadi teladan zuhud, ketawadhu'an, dan kesabaran dalam menerima ketetapan rezeki. Keadaan tersebut justru menunjukkan betapa beliau tidak terikat pada dunia dan lebih mengutamakan akhirat.
Ad-Daqal: kurma yang jelek.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ yang sangat mendalam. Beliau rela menahan lapar dan mengisi perutnya hanya dengan kurma berkualitas rendah (daqal), padahal sebagai pemimpin umat, beliau bisa memilih yang lebih baik. Ini menjadi teladan zuhud, ketawadhu'an, dan kesabaran dalam menerima ketetapan rezeki. Keadaan tersebut justru menunjukkan betapa beliau tidak terikat pada dunia dan lebih mengutamakan akhirat.
# 10
وعن سهل بن سعدٍ رضي اللَّه عنه ، قال : ما رَأى رُسولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم النّقِيُّ منْ حِينَ ابْتعَثَهُ اللَّه تعالى حتَّى قَبَضَهُ اللَّه تعالى ، فقيل لَهُ هَلْ كَانَ لَكُمْ في عهْد رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَنَاخلُ ؟ قال : ما رأى رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُنْخَلاَ مِنْ حِينَ ابْتَعثَهُ اللَّه تَعَالَى حَتَّى قَبَضُه اللَّه تعالى ، فَقِيلَ لهُ : كَيْفَ كُنْتُمْ تَأْكُلُونَ الشَّعِيرَ غيرَ منْخُولٍ ؟ قال : كُنَّا نَطْحُنَهُ ونَنْفُخُهُ ، فَيَطيرُ ما طارَ ، وما بَقِي ثَرَّيْناهُ . رواه البخاري .
قوله : « النَّقِيّ » : هو بفتح النون وكسر القاف وتشديد الياءِ . وهُوَ الخُبْزُ الحُوَّارَى ، وَهُوَ : الدَّرْمَكُ ، قوله : « ثَرَّيْنَاهُ » هُو بثاءٍ مُثَلَّثَةٍ ، ثُمَّ رَاءٍ مُشَدَّدَةٍ ، ثُمَّ ياءٍ مُثَنَّاةٍ مِنْ تحت ثُمَّ نون ، أَيْ : بَلَلْناهُ وعَجَنَّاهُ .
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melihat roti yang bersih (terbuat dari tepung halus) sejak Allah Ta'ala mengutusnya sampai Allah Ta'ala mewafatkannya." Lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kalian memiliki ayakan?" Ia menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melihat ayakan sejak Allah Ta'ala mengutusnya sampai Allah Ta'ala mewafatkannya." Lalu ditanyakan lagi, "Lalu bagaimana kalian memakan gandum yang tidak diayak?" Ia menjawab, "Kami menggilingnya lalu meniupnya, maka yang beterbangan akan beterbangan, dan yang tersisa kami basahi dan kami adon." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Ucapan beliau "An-Naqiy": dengan fathah nun, kasrah qaf, dan tasydid ya'. Itu adalah roti halus yang terbuat dari gandum. Ucapan beliau "Tsarrainaahu": dengan tsa' tsulatsiyyah, kemudian ra' yang ditasydid, kemudian ya' mutsannat dari bawah, kemudian nun. Artinya: kami membasahinya dan mengadonnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka memakan roti dari tepung gandum kasar yang tidak diayak, cukup dengan ditiup untuk membuang sekam. Ini mengajarkan sikap qana'ah (merasa cukup), zuhud terhadap dunia, dan ketidakterikatan pada kemewahan, meski hal-hal yang halal sekalipun.
Ucapan beliau "An-Naqiy": dengan fathah nun, kasrah qaf, dan tasydid ya'. Itu adalah roti halus yang terbuat dari gandum. Ucapan beliau "Tsarrainaahu": dengan tsa' tsulatsiyyah, kemudian ra' yang ditasydid, kemudian ya' mutsannat dari bawah, kemudian nun. Artinya: kami membasahinya dan mengadonnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka memakan roti dari tepung gandum kasar yang tidak diayak, cukup dengan ditiup untuk membuang sekam. Ini mengajarkan sikap qana'ah (merasa cukup), zuhud terhadap dunia, dan ketidakterikatan pada kemewahan, meski hal-hal yang halal sekalipun.
# 11
وعن أبي هُريرةَ رضي اللَّه عنه قال : خَرَجَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ ، فَإِذا هُوَ بِأَبي بكْرٍ وعُمَرَ رضي اللَّه عنهما ، فقال : « ما أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُما هذِهِ السَّاعَةَ؟» قالا : الجُوعُ يا رَسولَ اللَّه . قالَ : « وَأََنا ، والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لأَخْرَجَني الَّذِي أَخْرَجَكُما . قُوما » فقَاما مَعَهُ ، فَأَتَى رَجُلاً مِنَ الأَنْصارِ ، فَإِذَا هُوَ لَيْسَ في بيتهِ ، فَلَمَّا رَأَتْهُ المرَأَةُ قالَتْ : مَرْحَباً وَأَهْلاً . فقال لها رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَيْنَ فُلانٌ » قالَتْ : ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا الماءَ ، إِذْ جاءَ الأَنْصَاريُّ ، فَنَظَرَ إلى رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَصَاحِبَيْهِ ، ثُمَّ قالَ: الحَمْدُ للَّه ، ما أَحَدٌ اليَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيافاً مِنِّي فانْطَلقَ فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وتَمْرٌ ورُطَبٌ ، فقال : كُلُوا ، وَأَخَذَ المُدْيَةَ ، فقال لَهُ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِيَّاكَ وَالحَلُوبَ » فَذَبَحَ لَهُمْ ، فَأَكلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذلكَ العِذْقِ وشَرِبُوا . فلمَّا أَنْ شَبعُوا وَرَوُوا قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لأَبي بكرٍ وعُمَرَ رضي اللَّه عنهما : « وَالَّذِي نَفْسي بِيَدِهِ ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هذَا النَّعيمِ يَوْمَ القِيامَةِ ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الجُوعُ ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هذا النَّعِيمُ » رواه مسلم .
قَوْلُها : « يَسْتَعْذبُ » أَيْ : يَطْلبُ الماءَ العَذْبَ ، وهُوَ الطَّيبُ . و « العِذْقُ » بكسر العين وإسكان الذال المعجمة : وَهُو الكِباسَةُ ، وهِيَ الغُصْنُ . و « المُدْيةُ » بضم الميم وكسرِها : هي السِّكِّينُ . و « الحلُوبُ » ذاتُ اللبَن . وَالسؤالُ عَنْ هذا النعِيم سُؤالُ تَعدِيد النِّعَم لا سُؤالُ توْبيخٍ وتَعْذِيبٍ . واللَّهُ أَعْلَمُ وهذا الأنصارِيُّ الَّذِي أَتَوْهُ هُوَ أَبُو الهَيْثمِ بنُ التَّيِّهان رضي اللَّه عنه ،كَذا جاءَ مُبَيناً في روايةِ الترمذي وغيره .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Pada suatu siang atau malam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar, tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Beliau bertanya, "Apa yang mengeluarkan kalian berdua dari rumah kalian pada saat ini?" Mereka menjawab, "Lapar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh yang mengeluarkanku adalah yang mengeluarkan kalian berdua. Berangkatlah!" Maka mereka berdua berangkat bersama beliau. Beliau mendatangi seorang laki-laki Anshar, ternyata ia tidak ada di rumah. Ketika istrinya melihat beliau, ia berkata, "Marhaban wa ahlan (selamat datang)." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya, "Di mana Fulan?" Ia menjawab, "Ia pergi mencari air tawar untuk kami." Tiba-tiba laki-laki Anshar itu datang. Ia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kedua sahabatnya, lalu berkata, "Segala puji bagi Allah, pada hari ini tidak ada seorang pun yang lebih mulia tamunya daripada aku." Lalu ia pergi dan membawakan untuk mereka setandan kurma yang berisi kurma muda, kurma masak, dan ruthab (kurma segar). Ia berkata, "Makanlah!" Kemudian ia mengambil pisau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya, "Jangan sembelih yang masih menghasilkan susu!" Maka ia menyembelih untuk mereka. Mereka pun makan dari kambing itu dan dari setandan kurma itu, serta minum. Setelah mereka kenyang dan puas minum, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Lapar yang mengeluarkan kalian dari rumah kalian, kemudian kalian tidak kembali sampai kalian mendapatkan kenikmatan ini." Diriwayatkan oleh Muslim.
Ucapan perempuan itu "Yasta'dzibu" artinya: mencari air yang tawar, yaitu yang enak. "Al-'Idzqu" dengan kasrah 'ain dan sukun dzal mu'jamah: adalah kibasah, yaitu dahan. "Al-Mudyah" dengan dhammah atau kasrah mim: adalah pisau. "Al-Halub" adalah yang memiliki susu (hewan yang masih menyusui). Pertanyaan tentang kenikmatan ini adalah pertanyaan untuk mengingatkan nikmat, bukan pertanyaan untuk mencela dan menyiksa. Wallahu a'lam. Laki-laki Anshar yang mereka datangi itu adalah Abu Al-Haitsam bin At-Tayyihan radhiyallahu 'anhu, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam riwayat At-Tirmidzi dan lainnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya solidaritas sosial dan sikap rendah hati pemimpin. Rasulullah ﷺ, meski sebagai nabi, merasakan kesulitan yang sama (lapar) dengan sahabatnya, menunjukkan empati dan kesederhanaan. Beliau tidak segan mengajak mereka mencari solusi bersama, yang mencerminkan kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan mengutamakan kebersamaan dalam menghadapi ujian hidup.
Ucapan perempuan itu "Yasta'dzibu" artinya: mencari air yang tawar, yaitu yang enak. "Al-'Idzqu" dengan kasrah 'ain dan sukun dzal mu'jamah: adalah kibasah, yaitu dahan. "Al-Mudyah" dengan dhammah atau kasrah mim: adalah pisau. "Al-Halub" adalah yang memiliki susu (hewan yang masih menyusui). Pertanyaan tentang kenikmatan ini adalah pertanyaan untuk mengingatkan nikmat, bukan pertanyaan untuk mencela dan menyiksa. Wallahu a'lam. Laki-laki Anshar yang mereka datangi itu adalah Abu Al-Haitsam bin At-Tayyihan radhiyallahu 'anhu, sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam riwayat At-Tirmidzi dan lainnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya solidaritas sosial dan sikap rendah hati pemimpin. Rasulullah ﷺ, meski sebagai nabi, merasakan kesulitan yang sama (lapar) dengan sahabatnya, menunjukkan empati dan kesederhanaan. Beliau tidak segan mengajak mereka mencari solusi bersama, yang mencerminkan kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan mengutamakan kebersamaan dalam menghadapi ujian hidup.
# 12
وعن خالدِ بنِ عُمَرَ العَدَويِّ قال : خَطَبَنَا عُتْبَةُ بنُ غَزْوانَ ، وكانَ أَمِيراً عَلى البَصْرَةِ ، فَحمِدَ اللَّه وأَثْنى عليْهِ ، ثُمَّ قَالَ : أَمَا بعْدُ ، فَإِنَّ الدُّنْيَا آذَنَتْ بصُرْمٍ ، ووَلَّتْ حَذَّاءَ ، وَلَمْ يَبْقَ منها إِلاَّ صُبَابَةٌ كَصُبابةِ الإِناءِ يتصابُّها صاحِبُها ، وإِنَكُمْ مُنْتَقِلُونَ مِنْها إلى دارٍ لا زَوالَ لهَا ، فانْتَقِلُوا بِخَيْرِ ما بِحَضْرَتِكُم فَإِنَّهُ قَدْ ذُكِرَ لَنا أَنَّ الحَجَرَ يُلْقَى مِنْ شَفِير جَهَنَّمَ فَيهْوى فِيهَا سَبْعِينَ عاماً لا يُدْركُ لَها قَعْراً ، واللَّهِ لَتُمْلأَنَّ .. أَفَعَجِبْتُمْ ،؟ ولَقَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ ما بَيْنَ مِصْراعَيْنِ مِنْ مَصاريعِ الجَنَّةِ مَسيرةَ أَرْبَعِينَ عاماً ، وَلَيَأْتِينَّ عَلَيها يَوْمٌ وهُوَ كَظِيظٌ مِنَ الزِّحامِ ، وَلَقَدْ رأَيتُني سابعَ سبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مالَنا طَعامٌ إِلاَّ وَرَقُ الشَّجَرِ ، حتى قَرِحَتْ أَشْداقُنا ، فالْتَقَطْتُ بُرْدَةً فشَقَقْتُها بيْني وَبَينَ سَعْدِ بنِ مالكٍ فَاتَّزَرْتُ بنِصْفِها، وَاتَّزَر سَعْدٌ بنِصفِها ، فَمَا أَصْبَحَ اليَوْم مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ أَصْبَحَ أَمِيراً عَلى مِصْرٍ مِنْ الأَمْصَارِ . وإِني أَعُوذُ باللَّهِ أَنْ أَكْونَ في نَفْسي عَظِيماً . وعِنْدَ اللَّهِ صَغِيراً . رواهُ مسلم .
وله : « آذَنَتْ » هُوَ بَمدِّ الأَلِفِ ، أَيْ : أَعْلَمَتْ . وقوله : « بِصُرْمٍ » : هو بضم الصاد . أي : بانْقطاعِها وَفَنائِها . وقوله « ووَلَّتْ حَذَّاءَ » هو بحاءٍ مهملةٍ مفتوحةٍ ، ثُمَّ ذال معجمة مشدَّدة ، ثُمَّ أَلف ممدودَة . أَيْ : سَريعَة وَ « الصُّبابةُ » بضم الصاد المهملة : وهِي البقِيَّةُ اليَسِيرَةُ . وقولُهُ : « يَتَصابُّها » هو بتشديد الباءِ . أَيْ : يجْمَعُها . و الكَظِيظُ : الكثيرُ المُمْتَلئُ . وقوله : « قَرِحَتْ » هو بفتحِ القاف وكسر الراءِ ، أَيْ : صارَتْ فِيهَا قُرُوحٌ .
Terjemahan
Dari Khalid bin Umar Al-'Adawi, ia berkata: 'Utbah bin Ghazwan pernah berkhutbah kepada kami, saat itu ia adalah seorang amir (gubernur) di Bashrah. Ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, "Amma ba'du. Sesungguhnya dunia telah mengabarkan perpisahan (akan berakhir), dan telah pergi dengan cepat. Tidak tersisa darinya kecuali sisa-sisa seperti sisa-sisa di dalam bejana yang dikumpulkan oleh pemiliknya. Dan sesungguhnya kalian akan pindah darinya menuju negeri yang tidak akan lenyap. Maka pindahlah dengan membawa bekal terbaik yang ada pada kalian. Karena sungguh telah disebutkan kepada kami bahwa sebuah batu dilemparkan dari tepi neraka Jahanam, lalu ia terjun ke dalamnya selama tujuh puluh tahun sebelum mencapai dasarnya. Demi Allah, neraka itu pasti akan terisi penuh... Apakah kalian heran? Dan sungguh telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga adalah perjalanan empat puluh tahun. Dan sungguh akan datang suatu hari di mana surga itu penuh sesak dengan orang banyak. Dan sungguh aku pernah melihat diriku sebagai orang ketujuh dari tujuh orang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kami tidak memiliki makanan selain daun-daun pohon, sampai pipi kami terluka. Lalu aku mendapatkan sehelai kain burdah, aku belah antara aku dan Sa'ad bin Malik. Aku memakai sarung dengan separuhnya, dan Sa'ad memakai sarung dengan separuhnya. Maka tidak ada seorang pun dari kami pada hari ini melainkan ia menjadi seorang amir (pemimpin) di suatu negeri. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari merasa besar di hadapanku sendiri, namun kecil di sisi Allah." Diriwayatkan oleh Muslim.
Bagian hadits: "Aadzanat" dengan memanjangkan alif, artinya: mengabarkan. Ucapan beliau "Bishurmin": dengan dhammah shad, artinya: terputusnya dan binasanya. Ucapan beliau "Wa wallat hadzdzaa'a": dengan ha' muhmalah fathah, kemudian dzal mu'jamah yang ditasydid, kemudian alif mamdudah. Artinya: cepat. "Ash-Shubaabah" dengan dhammah shad muhmalah: adalah sisa yang sedikit. Ucapan beliau "Yatashabbushaa" dengan tasydid ba': artinya mengumpulkannya. "Al-Kazhiizh": yang banyak dan penuh. Ucapan beliau "Qarihat": dengan fathah qaf dan kasrah ra', artinya: menjadi luka-luka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan sifat dunia yang fana dan hampir berakhir, bagaikan sisa sedikit air dalam bejana. Kehidupan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal dan abadi. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mempersiapkan bekal amal shaleh sebanyak-banyaknya sebelum kematian menjemput.
Bagian hadits: "Aadzanat" dengan memanjangkan alif, artinya: mengabarkan. Ucapan beliau "Bishurmin": dengan dhammah shad, artinya: terputusnya dan binasanya. Ucapan beliau "Wa wallat hadzdzaa'a": dengan ha' muhmalah fathah, kemudian dzal mu'jamah yang ditasydid, kemudian alif mamdudah. Artinya: cepat. "Ash-Shubaabah" dengan dhammah shad muhmalah: adalah sisa yang sedikit. Ucapan beliau "Yatashabbushaa" dengan tasydid ba': artinya mengumpulkannya. "Al-Kazhiizh": yang banyak dan penuh. Ucapan beliau "Qarihat": dengan fathah qaf dan kasrah ra', artinya: menjadi luka-luka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan sifat dunia yang fana dan hampir berakhir, bagaikan sisa sedikit air dalam bejana. Kehidupan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal dan abadi. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mempersiapkan bekal amal shaleh sebanyak-banyaknya sebelum kematian menjemput.
# 13
وعن أبي موسى الأَشْعَريِّ رضي اللَّهُ عنه قال : أَخْرَجَتْ لَنا عائِشَةُ رضي اللَّهُ عنها كِساء وَإِزاراً غَلِيظاً قالَتْ : قُبِضَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في هذين . متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah mengeluarkan kepada kami selembar selimut dan kain sarung yang kasar, seraya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diwafatkan dalam keadaan mengenakan kedua pakaian ini." Muttafaqun 'alaih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ, yang wafat hanya mengenakan pakaian kasar. Ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk zuhud terhadap dunia dan tidak bermewah-mewah. Keadaan beliau yang seperti itu juga mencerminkan ketawadhu'an dan fokus pada akhirat, mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada sandang, melainkan pada ketakwaan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ, yang wafat hanya mengenakan pakaian kasar. Ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk zuhud terhadap dunia dan tidak bermewah-mewah. Keadaan beliau yang seperti itu juga mencerminkan ketawadhu'an dan fokus pada akhirat, mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada sandang, melainkan pada ketakwaan.
# 14
وعنْ سَعد بن أبي وَقَّاصٍ . رضيَ اللَّه عنه قال : إِنِّي لأَوَّلُ العَربِ رَمَى بِسَهْمِ في سَبِيلِ اللَّهِ ، وَلَقَدْ كُنا نَغْزُو مَعَ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ما لَنَا طَعَامٌ إِلاَّ وَرَقُ الحُبْلَةِ . وَهذا السَّمَرُ . حَتى إِنْ كانَ أَحَدُنا لَيَضَعُ كما تَضَعُ الشاةُ مالَهُ خَلْطٌ . متفقٌ عليه .
« الحُبْلَةِ » بضم الحاءِ المهملة وإِسكانِ الباءِ الموحدةِ : وهي والسَّمُرُ ، نَوْعانِ مَعْروفانِ مِنْ شَجَرِ البَادِيَةِ .
Terjemahan
Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Kami pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sementara kami tidak memiliki makanan kecuali daun pohon hublah dan pohon samar (sejenis pohon di padang pasir), sampai-sampai salah seorang dari kami membuang kotorannya seperti kambing membuang kotorannya karena tidak ada makanan yang tercampur (dengan makanan lain)." (Muttafaqun 'alaih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan pengorbanan dan kesabaran luar biasa para sahabat Nabi dalam berjihad. Mereka rela berperang dalam kondisi lapar ekstrem, hanya memakan daun pohon, hingga mengalami gangguan pencernaan. Ini mengajarkan bahwa perjuangan di jalan Allah seringkali penuh ujian dan kepahitan, serta membutuhkan ketabahan dan pengorbanan harta maupun jiwa.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan pengorbanan dan kesabaran luar biasa para sahabat Nabi dalam berjihad. Mereka rela berperang dalam kondisi lapar ekstrem, hanya memakan daun pohon, hingga mengalami gangguan pencernaan. Ini mengajarkan bahwa perjuangan di jalan Allah seringkali penuh ujian dan kepahitan, serta membutuhkan ketabahan dan pengorbanan harta maupun jiwa.
# 15
وعن أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه . قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «اللَّهُمَّ اجْعَلْ رزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتاً » متفقٌ عليه .
قال أَهْلُ اللُّغَة والْغَرِيبِ : معْنَى « قُوتاً » أَيْ مَا يَسدُّ الرَّمَقَ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup (untuk menopang hidup)." (Muttafaqun 'alaih).
Para ahli bahasa dan gharib (kata asing) berkata: Makna "quutan" adalah sesuatu yang menopang kehidupan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap qana'ah dan zuhud. Nabi Muhammad justru memohon rezeki untuk keluarganya sekadar cukup untuk menopang hidup (qut), bukan kelimpahan. Ini menjadi teladan agar seorang muslim tidak tamak terhadap dunia, tetapi fokus pada kecukupan yang menunjang ibadah. Hikmahnya adalah mendahulukan kepentingan akhirat dan menjaga diri dari ketergantungan pada harta.
Para ahli bahasa dan gharib (kata asing) berkata: Makna "quutan" adalah sesuatu yang menopang kehidupan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap qana'ah dan zuhud. Nabi Muhammad justru memohon rezeki untuk keluarganya sekadar cukup untuk menopang hidup (qut), bukan kelimpahan. Ini menjadi teladan agar seorang muslim tidak tamak terhadap dunia, tetapi fokus pada kecukupan yang menunjang ibadah. Hikmahnya adalah mendahulukan kepentingan akhirat dan menjaga diri dari ketergantungan pada harta.
# 16
وعن أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه قال : واللَّه الذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ ، إِنْ كُنْتُ لأعَتمِدُ بِكَبِدِي على الأَرْضِ مِنَ الجُوعِ ، وإِنْ كُنْتُ لأشُدُّ الحجَرَ على بَطْني منَ الجُوعِ . وَلَقَدْ قَعَدْتُ يوْماً على طَرِيقهِمُ الذي يَخْرُجُونَ مِنْهُ ، فَمَرَّ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآنِي ، وعَرَفَ ما في وجْهي ومَا في نَفْسِي ، ثُمَّ قال : « أَبا هِرٍّ ،،» قلتُ : لَبَّيْكَ يا رسولَ اللَّه، قال : «الحَقْ » ومَضَى ، فَاتَّبَعْتُهُ ، فدَخَلَ فَاسْتَأْذَنَ ، فَأُذِنَ لي فدَخَلْتُ ، فوَجَدَ لَبَناً في قَدحٍ فقال: « مِنْ أَيْنَ هذَا اللَّبَنُ ؟ » قالوا : أَهْداهُ لَكَ فُلانٌ أَو فُلانة قال : « أَبا هِرٍّ،،» قلتُ : لَبَّيْكَ يا رسول اللَّه ، قال : « الحق إِلى أَهْل الصُّفَّةِ فادْعُهُمْ لي». قال : وأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضيَافُ الإِسْلام ، لا يَأْوُون عَلى أَهْلٍ ، ولا مَالٍ ، ولا على أَحَدٍ، وكانَ إِذَا أَتَتْهُ صدقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ . ولَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئاً ، وإِذَا أَتَتْهُ هديَّةٌ أَرْسلَ إِلَيْهِمْ وأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فيها ، فسَاءَني ذلكَ فَقُلْتُ : وما هذَا اللَّبَنُ في أَهْلِ الصُّفَّةِ ؟ كُنْتَ أَحَقَّ أَن أُصِيب منْ هذا اللَّبَنِ شَرْبَةً أَتَقَوَّى بِهَا، فَإِذا جاءُوا أَمَرنِي ، فكُنْتُ أَنا أُعْطِيهِمْ ، وما عَسَى أَن يبْلُغَني منْ هذا اللَّبَنِ ، ولمْ يَكُنْ منْ طَاعَةِ اللَّه وطَاعَةِ رسوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بدٌّ. فأَتيتُهُم فدَعَوْتُهُمْ ، فأَقْبَلُوا واسْتأْذَنوا ، فَأَذِنَ لهُمْ وَأَخَذُوا مَجَالِسَهُمْ مِنَ الْبَيْتِ قال : « يا أَبا هِرّ ،، » قلتُ : لَبَّيْكَ يا رسولَ اللَّه ، قال : « خذْ فَأَعْطِهِمْ » قال : فَأَخَذْتُ الْقَدَحَ فَجَعَلْت أُعْطِيهِ الرَّجُلَ فيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ، ثُمَّ يردُّ عليَّ الْقَدَحَ ، فَأُعطيهِ الآخرَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يروَى ، ثُمَّ يَرُدُّ عَليَّ الْقَدحَ ، حتَّى انْتَهَيتُ إِلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وََقَدْ رَوِيَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ، فَأَخَذَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ على يَدِهِ ، فَنَظَرَ إِليَّ فَتَبَسَّمَ ، فقال : « أَبا هِرّ » قلتُ : لَبَّيْكَ يا رسول اللَّه قال : « بَقِيتُ أَنَا وَأَنْتَ » قلتُ صَدَقْتَ يا رسولَ اللَّه ، قال : « اقْعُدْ فَاشْرَبْ » فَقَعَدْتُ فَشَربْتُ : فقال : « اشرَبْ » فشَربْت ، فما زال يَقُولُ : « اشْرَبْ » حَتَّى قُلْتُ : لا وَالَّذِي بعثكَ بالحَقِّ ما أَجِدُ لَهُ مسْلَكاً ، قال : « فَأَرِني » فأَعطيْتهُ الْقَدَحَ ، فحمِدَ اللَّه تعالى ، وَسمَّى وَشَربَ « الفَضَلَةَ» رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Demi Allah yang tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain-Nya, aku pernah meletakkan perutku ke tanah karena sangat lapar, dan aku pernah mengikat perutku dengan batu karena menahan lapar. Sungguh, pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dilalui orang. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lewat di depanku, beliau tersenyum saat melihatku dan mengetahui kebutuhanku dari raut wajahku. Lalu beliau bersabda: 'Wahai Abu Hurairah!' Aku menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Ikutlah aku.' Maka beliau pun berjalan dan aku mengikutinya dari belakang. Setibanya di rumah, beliau meminta izin lalu masuk. Beliau mengizinkanku, maka aku pun masuk mengikutinya. Di sana beliau melihat susu dalam sebuah mangkuk, lalu bertanya: 'Dari mana susu ini?' Mereka menjawab: 'Ada yang menghadiahkannya untuk Tuan.' Beliau bersabda: 'Wahai Abu Hurairah!' Aku menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Pergilah kepada Ahlu Suffah dan undang mereka untukku.' Ahlu Suffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak tinggal bersama keluarga, tidak memiliki harta, dan tidak memiliki sanak keluarga. Jika ada yang memberi sedekah kepada beliau, beliau mengirimkannya kepada mereka tanpa mengambil sedikitpun. Dan jika ada yang memberi hadiah kepada beliau, beliau mengambil sedikit lalu sisanya diberikan kepada mereka. Mendengar perintah untuk mengundang mereka, hatiku merasa sedih. Aku berkata dalam hati: 'Bagaimana mungkin susu ini cukup untuk Ahlu Suffah? Akulah yang lebih pantas meminum susu ini agar badanku menjadi kuat.' Namun, mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah suatu keharusan. Maka aku pergi menemui dan mengundang mereka. Setelah mereka datang, mereka meminta izin dan diizinkan masuk, lalu mereka duduk di tempat yang tersedia di rumah itu. Beliau bersabda: 'Wahai Abu Hurairah!' Aku menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Ambillah susu ini dan berikan kepada mereka.' Aku mengambil mangkuk berisi susu itu dan memberikannya kepada orang pertama. Ia minum sampai kenyang, lalu mengembalikannya kepadaku. Aku berikan kepada orang kedua, ia minum sampai kenyang lalu mengembalikannya. Orang ketiga pun minum sampai kenyang, lalu mengembalikannya. (Hadits berlanjut).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesabaran dan ketawadhu'an sahabat Abu Hurairah dalam menghadapi kesusahan hidup. Nabi Muhammad ﷺ dengan sifat belas kasih dan perhatiannya yang mendalam, mampu membaca penderitaan sahabatnya tanpa diungkapkan. Respons spontan Nabi untuk mengajak Abu Hurairah mengikuti beliau mengajarkan pentingnya kepedulian sosial, tolong-menolong, dan memenuhi kebutuhan sesama tanpa menunggu permintaan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesabaran dan ketawadhu'an sahabat Abu Hurairah dalam menghadapi kesusahan hidup. Nabi Muhammad ﷺ dengan sifat belas kasih dan perhatiannya yang mendalam, mampu membaca penderitaan sahabatnya tanpa diungkapkan. Respons spontan Nabi untuk mengajak Abu Hurairah mengikuti beliau mengajarkan pentingnya kepedulian sosial, tolong-menolong, dan memenuhi kebutuhan sesama tanpa menunggu permintaan.
# 17
وعن مُحَمَّدِ بنِ سِيرينَ عن أبي هريرةَ ، رضي اللَّه عنه ، قال : لَقَدْ رأَيْتُني وإِنِيّ لأَخِرُّ فِيما بَيْنَ مِنْبَرِ رسولِ اللَّه صلى الله عليه وسلم إلى حُجْرَةِ عائِشَةَ رضي اللَّه عنها مَغْشِيّاً عَلَيَّ ، فَيجِيءُ الجَائي ، فيَضَعُ رِجْلَهُ عَلى عُنُقي ، وَيرَى أَنِّي مَجْنونٌ وما بي مِن جُنُونٍ ، وما بي إِلاَّ الجُوعُ . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Muhammad bin Sirin radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Kalian pasti pernah melihatku, terkadang aku pingsan di antara mimbar (tempat khutbah) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan rumah Aisyah. Saat itu, ada orang yang datang dan menginjak leherku karena mengira aku gila. Padahal sebenarnya aku tidak gila, aku hanya kelaparan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa parahnya kemiskinan dan kelaparan yang dialami sebagian sahabat Nabi, seperti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Ia rela menahan malu dan direndahkan (sampai diinjak lehernya) demi tetap dekat dengan majelis ilmu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Pelajaran utamanya adalah keutamaan bersabar atas kesusahan duniawi demi menuntut ilmu agama, serta anjuran untuk tidak terburu-buru menilai orang lain sebelum mengetahui keadaannya yang sebenarnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa parahnya kemiskinan dan kelaparan yang dialami sebagian sahabat Nabi, seperti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Ia rela menahan malu dan direndahkan (sampai diinjak lehernya) demi tetap dekat dengan majelis ilmu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Pelajaran utamanya adalah keutamaan bersabar atas kesusahan duniawi demi menuntut ilmu agama, serta anjuran untuk tidak terburu-buru menilai orang lain sebelum mengetahui keadaannya yang sebenarnya.
# 18
وعن عائشةَ ، رضيَ اللَّه عنها ، قَالَتْ : تُوُفِّيَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ودِرْعُهُ مرْهُونَةٌ عِند يهودِيٍّ في ثَلاثِينَ صاعاً منْ شَعِيرٍ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat sedang baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai 30 sha' gandum." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ, meskipun beliau adalah pemimpin umat. Beliau tidak segan menggadaikan barang pribadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini juga menjadi dalil diperbolehkannya transaksi gadai (rahn) dalam Islam. Keadaan beliau yang wafat dalam kondisi masih memiliki hutang menggambarkan bahwa hidup zuhud dan tidak berlebihan adalah teladan utama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ, meskipun beliau adalah pemimpin umat. Beliau tidak segan menggadaikan barang pribadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini juga menjadi dalil diperbolehkannya transaksi gadai (rahn) dalam Islam. Keadaan beliau yang wafat dalam kondisi masih memiliki hutang menggambarkan bahwa hidup zuhud dan tidak berlebihan adalah teladan utama.
# 19
وعن أَنس رضي اللَّه عنه قال : رَهَنَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دِرْعهُ بِشَعِيرٍ ، ومشيتُ إِلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِخُبْزِ شَعيرٍ ، وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ ، وَلَقَدْ سمِعْتُهُ يقُولُ : « ما أَصْبحَ لآلِ مُحَمَّدٍ صــاعٌ ولا أَمْسَى وَإِنَّهُم لَتِسْعَةُ أَبْيَاتٍ » رواه البخاري .
« الإِهَالَةُ » بكسر الهمزة : الشَّحْمُ الذَّائِبُ . وَالسَّنِخَةُ » بِالنون والخاءِ المعجمة ، وَهِي: المُتَغَيِّرةُ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menggadaikan baju besinya dengan (utang) gandum. Aku pernah membawakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam roti gandum dan minyak samin yang sudah berubah rasa. Sungguh aku pernah mendengar beliau bersabda: 'Keluarga Muhammad tidak pernah memiliki persediaan makanan satu sha' di pagi hari maupun di sore hari, padahal mereka adalah sembilan rumah tangga.'" (HR. Al-Bukhari).
"Ihālah" dengan kasrah hamzah: lemak yang mencair. "Sanikhah" dengan nun dan kha' mu'jamah: yang sudah berubah (basi).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya yang sangat miskin, hingga beliau harus menggadaikan barang dan menerima makanan basi. Kondisi ini dialami padahal tanggungan beliau banyak (sembilan rumah tangga). Pelajaran utamanya adalah kezuhudan, ketawadukan, dan kesabaran atas ketiadaan, serta bahwa kemuliaan seorang pemimpin bukan terletak pada kekayaan duniawi.
"Ihālah" dengan kasrah hamzah: lemak yang mencair. "Sanikhah" dengan nun dan kha' mu'jamah: yang sudah berubah (basi).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya yang sangat miskin, hingga beliau harus menggadaikan barang dan menerima makanan basi. Kondisi ini dialami padahal tanggungan beliau banyak (sembilan rumah tangga). Pelajaran utamanya adalah kezuhudan, ketawadukan, dan kesabaran atas ketiadaan, serta bahwa kemuliaan seorang pemimpin bukan terletak pada kekayaan duniawi.
# 20
وعن أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه ، قال : لَقدْ رَأَيْتُ سبْعينَ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ ، ما مِنْهُم رَجلٌ عَلَيهِ رِدَاء ، إِمَّا إِزارٌ وإِمَّا كِسَاءٌ ، قَدْ ربطُوا في أَعْنَاقِهم مِنهَا ما يَبْلُغُ نِصفَ السَّاقيْنِ ، وَمِنهَا ما يَبلُغُ الكَعْبَينِ ، فيجمعُهُ بِيَدِهِ كَراهِيَةَ أَن تُرَى عَوْرَتُهُ . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku pernah melihat tujuh puluh orang dari kalangan Ahlu Suffah, tidak seorang pun dari mereka yang memiliki selimut (rida'), mereka hanya memiliki kain bawah (izar) atau kain penutup badan (kisa'). Mereka mengikatkannya di leher mereka, ada yang panjangnya sampai pertengahan betis, ada yang sampai mata kaki. Mereka memeganginya dengan tangan karena khawatir auratnya terlihat." (HR. Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan dan kemiskinan para Ahlu Suffah, namun mereka sangat menjaga kehormatan dan aurat. Pelajaran utamanya adalah keutamaan hidup zuhud terhadap dunia dan kesungguhan dalam menutup aurat meski dalam kondisi serba kekurangan. Ini juga menunjukkan betapa beratnya perjuangan mereka dalam menuntut ilmu dan beribadah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan dan kemiskinan para Ahlu Suffah, namun mereka sangat menjaga kehormatan dan aurat. Pelajaran utamanya adalah keutamaan hidup zuhud terhadap dunia dan kesungguhan dalam menutup aurat meski dalam kondisi serba kekurangan. Ini juga menunjukkan betapa beratnya perjuangan mereka dalam menuntut ilmu dan beribadah.
# 21
وعن عائشةَ رضي اللَّه عنها قالت : كَانَ فِرَاشُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِن أدَمٍ حشْوُهُ لِيف . رواه البخاري
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Kasur Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terbuat dari kulit yang disamak, diisi dengan sabut pohon kurma." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ, meskipun beliau mampu memilih kemewahan. Kasur beliau yang hanya terbuat dari kulit dan sabut kurma menunjukkan zuhud dan tidak terikat pada dunia. Ini menjadi teladan bagi umatnya untuk hidup sederhana, mengutamakan akhirat, dan tidak berlebihan dalam urusan duniawi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ, meskipun beliau mampu memilih kemewahan. Kasur beliau yang hanya terbuat dari kulit dan sabut kurma menunjukkan zuhud dan tidak terikat pada dunia. Ini menjadi teladan bagi umatnya untuk hidup sederhana, mengutamakan akhirat, dan tidak berlebihan dalam urusan duniawi.
# 22
وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال : كُنَّا جُلُوساً مَعَ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذْ جاءَ رَجُلٌ مِن الأَنْصارِ ، فسلَّم علَيهِ ، ثُمَّ أَدبرَ الأَنْصَارِيُّ ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يَا أَخَا الأَنْصَارِ ، كَيْفَ أَخِي سعْدُ بنُ عُبادةَ ؟ » فقال : صَالحٌ ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ يعُودُهُ مِنْكُمْ ؟ » فَقام وقُمْنا مَعَهُ ، ونَحْنُ بضْعَةَ عشَر ما علَينَا نِعالٌ وَلا خِفَافٌ ، وَلا قَلانِسُ، ولا قُمُصٌ نمشي في تلكَ السِّبَاخِ ، حَتَّى جِئْنَاهُ ، فاسْتَأْخَرَ قَوْمُهُ مِنْ حوله حتَّى دنَا رسولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَأَصْحابُهُ الَّذِين مَعهُ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Suatu ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar memberi salam kepada beliau, kemudian orang Anshar itu pergi. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: 'Wahai saudara Anshar, bagaimana keadaan saudaraku Sa'ad bin 'Ubadah?' Orang itu menjawab bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Siapa di antara kalian yang ingin menjenguknya (Sa'ad)?' Beliau lalu berdiri dan kami pun ikut berdiri bersamanya. Kami berjumlah lebih dari sepuluh orang, tidak ada yang memakai sandal, khuff (sepatu kulit), imamah (sorban), atau qamis (baju panjang). Kami berjalan kaki telanjang di tanah yang kering dan panas hingga sampai ke rumahnya. Kemudian kaumnya (kaum Anshar) beringsut memberi tempat untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya agar bisa mendekati Sa'ad." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memperhatikan keadaan saudara seiman (ukhuwah islamiyah) dan menanyakan kabarnya, sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan kesederhanaan para sahabat yang langsung bertindak untuk menjenguk tanpa memedulikan penampilan, serta anjuran untuk bersegera dalam kebaikan dan menjenguk orang yang sakit.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memperhatikan keadaan saudara seiman (ukhuwah islamiyah) dan menanyakan kabarnya, sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan kesederhanaan para sahabat yang langsung bertindak untuk menjenguk tanpa memedulikan penampilan, serta anjuran untuk bersegera dalam kebaikan dan menjenguk orang yang sakit.
# 23
وعن عِمْرانَ بنِ الحُصَينِ رضي اللَّه عنهما ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَنه قال : « خَيْرُكُمْ قَرنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يلوُنَهم ، ثُمَّ الَّذِينَ يلُونَهُم » قال عِمرَانُ : فَمَا أَدري قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَرَّتَيْن أو ثَلاثاً « ثُمَّ يَكُونُ بَعدَهُمْ قَوْمٌ يشهدُونَ ولا يُسْتَشْهَدُونَ ، وَيَخُونُونَ وَلا يُؤْتَمَنُونَ ، وَيَنْذِرُونَ وَلا يُوفُونَ ، وَيَظْهَرُ فِيهمْ السِّمَنُ » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Imran bin Al-Hushain radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi'in), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi'ut tabi'in)." Imran berkata: "Aku tidak tahu apakah Nabi menyebutkan dua kali atau tiga kali." (Beliau bersabda): "Kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum yang bersaksi padahal tidak diminta bersaksi, berkhianat dan tidak dipercaya, bernadzar tetapi tidak menepati, dan kegemukan tampak pada mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menetapkan keutamaan generasi awal Islam (sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in) sebagai teladan terbaik. Kemudian, hadis ini memperingatkan tentang kemunculan generasi yang memiliki sifat-sifat buruk, seperti mudah bersaksi tanpa diminta, berkhianat, dan ingkar janji. Intinya, hadis ini mengajak kita untuk berpegang pada manhaj dan akhlak generasi terbaik serta mewaspadai penyimpangan yang akan muncul di kemudian hari.
Penjelasan singkat: Hadis ini menetapkan keutamaan generasi awal Islam (sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in) sebagai teladan terbaik. Kemudian, hadis ini memperingatkan tentang kemunculan generasi yang memiliki sifat-sifat buruk, seperti mudah bersaksi tanpa diminta, berkhianat, dan ingkar janji. Intinya, hadis ini mengajak kita untuk berpegang pada manhaj dan akhlak generasi terbaik serta mewaspadai penyimpangan yang akan muncul di kemudian hari.
# 24
وعن أبي أُمامة رضي اللَّه عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يا ابْنَ آدمَ : إِنَّكَ إِنْ تَبْذُل الفَضلَ خَيْرٌ لَكَ ، وَأَن تُمْسِكهُ شرٌّ لَكَ ، ولا تُلامُ عَلى كَفَافٍ، وَابدأ بِمنْ تَعُولُ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu menginfakkan kelebihan hartamu itu lebih baik bagimu, dan jika kamu menahannya itu buruk bagimu. Kamu tidak akan dicela karena menyimpan harta secukup kebutuhan. Dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu (untuk diberi nafkah)." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam kepemilikan harta. Kita dianjurkan untuk bersikap dermawan dengan menginfakkan kelebihan harta, karena menahannya justru membawa dampak buruk. Namun, Islam tidak mencela seseorang yang memenuhi kebutuhan dasarnya secara wajar (kifayah). Prioritas utama dalam berinfak adalah memberikan nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggungan kita terlebih dahulu.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam kepemilikan harta. Kita dianjurkan untuk bersikap dermawan dengan menginfakkan kelebihan harta, karena menahannya justru membawa dampak buruk. Namun, Islam tidak mencela seseorang yang memenuhi kebutuhan dasarnya secara wajar (kifayah). Prioritas utama dalam berinfak adalah memberikan nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggungan kita terlebih dahulu.
# 25
وعن عُبَيد اللَّه بِن مِحْصَنٍ الأَنْصارِيِّ الخَطْمِيِّ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ أَصبح مِنكُمْ آمِناً في سِرْبِهِ ، معافى في جَسدِه ، عِندهُ قُوتُ يَومِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحذافِيرِها . رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
« سِرْبِهِ » بكسر السين المهملة ، أَي : نَفْسِهِ ، وقِيلَ : قَومِه .
Terjemahan
Dari 'Ubaidullah bin Mihshan Al-Anshari Al-Khathmi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa di antara kalian pada pagi hari merasa aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata: hadits hasan).
"Sirbihi" dengan kasrah sin: dirinya, ada juga yang mengatakan: kaumnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan ukuran kebahagiaan dan kecukupan yang sejati, yaitu rasa aman, kesehatan jasmani, dan terpenuhinya kebutuhan pokok sehari-hari. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan bahwa siapa yang telah meraih tiga nikmat ini, maka ia telah memiliki seluruh kenikmatan dunia. Dengan demikian, hadis ini mengajak kita untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat dasar yang sering terlupakan, serta tidak terus-menerus mengejar hal-hal duniawi yang berlebihan.
"Sirbihi" dengan kasrah sin: dirinya, ada juga yang mengatakan: kaumnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan ukuran kebahagiaan dan kecukupan yang sejati, yaitu rasa aman, kesehatan jasmani, dan terpenuhinya kebutuhan pokok sehari-hari. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan bahwa siapa yang telah meraih tiga nikmat ini, maka ia telah memiliki seluruh kenikmatan dunia. Dengan demikian, hadis ini mengajak kita untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat dasar yang sering terlupakan, serta tidak terus-menerus mengejar hal-hal duniawi yang berlebihan.
# 26
وعن عبدِ اللَّه بن عمرو بنِ العاصِ رضي اللَّه عنهما ، أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « قَدْ أَفَلَحَ مَن أَسلَمَ ، وكَانَ رِزقُهُ كَفَافاً ، وَقَنَّعَهُ اللَّه بِمَا آتَاهُ » رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan-Nya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggarisbawahi tiga pilar kebahagiaan sejati seorang muslim. Pertama, nikmat hidayah Islam sebagai dasar segala kebaikan. Kedua, rezeki yang cukup, bukan berlebihan, sebagai bentuk kecukupan dari Allah. Ketiga dan yang terpenting adalah sifat qana'ah, yaitu merasa cukup dan bersyukur atas pemberian-Nya. Ketiganya merupakan kesempurnaan keberuntungan di dunia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggarisbawahi tiga pilar kebahagiaan sejati seorang muslim. Pertama, nikmat hidayah Islam sebagai dasar segala kebaikan. Kedua, rezeki yang cukup, bukan berlebihan, sebagai bentuk kecukupan dari Allah. Ketiga dan yang terpenting adalah sifat qana'ah, yaitu merasa cukup dan bersyukur atas pemberian-Nya. Ketiganya merupakan kesempurnaan keberuntungan di dunia.
# 27
وعن أبي مُحَمَّد فَضَالَةَ بنِ عُبَيْد الأَنْصَارِيِّ رضي اللَّه عنه ، أَنَّهُ سَمِعَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلى الإِْسلام ، وَكَانَ عَيْشهُ كَفَافاً ، وَقَنِعَ » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسن صحيح .
Terjemahan
Abu Muhammad Fadhlah bin 'Ubaid Al-Anshari meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berbahagialah orang yang diberi petunjuk untuk masuk Islam, kehidupannya sederhana (cukup), dan ia qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang dimilikinya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggarisbawahi tiga kebahagiaan sejati seorang muslim. Pertama, nikmat terbesar yaitu hidayah Islam. Kedua, kehidupan yang sederhana namun mencukupi (kafaf). Ketiga, sikap qana'ah, yaitu merasa cukup dan bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Kombinasi ketiganya menjamin ketenteraman hati dan kebahagiaan hakiki di dunia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggarisbawahi tiga kebahagiaan sejati seorang muslim. Pertama, nikmat terbesar yaitu hidayah Islam. Kedua, kehidupan yang sederhana namun mencukupi (kafaf). Ketiga, sikap qana'ah, yaitu merasa cukup dan bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Kombinasi ketiganya menjamin ketenteraman hati dan kebahagiaan hakiki di dunia.
# 28
وعن ابن عباسٍ رضي اللَّه عنهما قال : كان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَبِيتُ اللَّيَالِيَ المُتَتَابِعَةَ طَاوِياً ، وَأَهْلُهُ لا يَجِدُونَ عَشاءَ ، وَكَانَ أَكْثَرُ خُبْزِهِمْ خُبْز الشَّعِيرِ. رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيح .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah tidur beberapa malam dalam keadaan lapar, dan keluarganya tidak memiliki makanan untuk makan malam, dan roti mereka kebanyakan adalah roti gandum." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya. Beliau rela menahan lapar berhari-hari dan hanya mengonsumsi makanan sederhana seperti roti gandum. Ini mengajarkan umatnya untuk hidup zuhud, qana'ah, dan tidak berlebihan dalam urusan dunia. Kesabaran dan ketabahan beliau menjadi teladan dalam menjalani kehidupan dengan penuh syukur, meski dalam keadaan serba kekurangan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya. Beliau rela menahan lapar berhari-hari dan hanya mengonsumsi makanan sederhana seperti roti gandum. Ini mengajarkan umatnya untuk hidup zuhud, qana'ah, dan tidak berlebihan dalam urusan dunia. Kesabaran dan ketabahan beliau menjadi teladan dalam menjalani kehidupan dengan penuh syukur, meski dalam keadaan serba kekurangan.
# 29
وعن فضَالَةَ بنِ عُبَيْدٍ رضي اللَّه عنه ، أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَانَ إِذَا صَلَّى بِالنَّاسِ يَخِرُّ رِجَالٌ مِنْ قَامَتِهِمْ في الصَّلاةِ مِنَ الخَصَاصةِ وَهُمْ أَصْحابُ الصُّفَّةِ حَتَّى يَقُولَ الأَعْرَابُ : هُؤُلاءِ مَجَانِينُ ، فَإِذَا صلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم انْصَرفِ إِلَيْهِمْ ، فقال : « لَوْ تَعْلَمُونَ ما لَكُمْ عِنْدَ اللَّه تعالى ، لأَحْبَبْتُمْ أَنْ تَزْدادُوا فَاقَةً وَحَاجَةً» رواه الترمذي ، وقال حديثٌ صحيحٌ.
« الخَصاصَةُ » : الْفَاقَةُ والجُوعُ الشَّديدُ .
Terjemahan
Dari Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika shalat mengimami orang-orang, ada beberapa laki-laki yang jatuh pingsan karena kelaparan yang sangat -mereka adalah Ahlu Suffah- sampai-sampai orang-orang badui berkata: "Mereka ini orang-orang gila." Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai shalat, beliau mendatangi mereka dan bersabda: "Seandainya kalian mengetahui pahala yang menanti kalian di sisi Allah Ta'ala, niscaya kalian akan berharap untuk bertambah fakir dan membutuhkan." (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits shahih).
"Al-Khashashah": kefakiran dan kelaparan yang sangat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keutamaan sabar atas kemiskinan dan lapar di jalan Allah. Penderitaan Ahlu Suffah justru menjadi sebab diperolehnya pahala besar di sisi-Nya. Rasulullah mengajarkan bahwa kemuliaan diukur dari ketakwaan, bukan harta, dan bahwa ketaatan dalam kesulitan memiliki nilai yang sangat tinggi dalam timbangan akhirat.
"Al-Khashashah": kefakiran dan kelaparan yang sangat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keutamaan sabar atas kemiskinan dan lapar di jalan Allah. Penderitaan Ahlu Suffah justru menjadi sebab diperolehnya pahala besar di sisi-Nya. Rasulullah mengajarkan bahwa kemuliaan diukur dari ketakwaan, bukan harta, dan bahwa ketaatan dalam kesulitan memiliki nilai yang sangat tinggi dalam timbangan akhirat.
# 30
وعن أبي كَريمَةَ المِقْدامِ بن معْدِ يكَرِب رضي اللَّه عنه قال : سمِعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقَولُ : « مَا ملأَ آدمِيٌّ وِعَاءً شَرّاً مِنْ بَطنِه ، بِحسْبِ ابن آدمَ أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبُهُ ، فإِنْ كَانَ لا مَحالَةَ ، فَثلُثٌ لطَعَامِهِ ، وثُلُثٌ لِشرابِهِ ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ » .
رواه الترمذي وقال : حديث حسن . « أُكُلاتٌ » أَيْ : لُقمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Karimah Al-Miqdad bin Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Anak Adam tidak memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napasnya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip sederhana namun mendalam tentang menjaga pola makan. Nabi ﷺ menegaskan bahwa perut adalah wadah terburuk jika diisi berlebihan. Hikmahnya adalah agar kita makan secukupnya untuk menjaga kesehatan dan kekuatan, bukan untuk memuaskan nafsu. Anjuran mengisi perut hanya sepertiga untuk makanan, minuman, dan napas adalah panduan praktis untuk hidup sederhana, sehat, dan terhindar dari penyakit.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip sederhana namun mendalam tentang menjaga pola makan. Nabi ﷺ menegaskan bahwa perut adalah wadah terburuk jika diisi berlebihan. Hikmahnya adalah agar kita makan secukupnya untuk menjaga kesehatan dan kekuatan, bukan untuk memuaskan nafsu. Anjuran mengisi perut hanya sepertiga untuk makanan, minuman, dan napas adalah panduan praktis untuk hidup sederhana, sehat, dan terhindar dari penyakit.
# 31
وعن أبي أُمَامَةَ إِيَاسِ بنِ ثَعْلَبَةَ الأَنْصَارِيِّ الحارثيِّ رضي اللَّه عنه قال : ذَكَرَ أَصْحابُ رَسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يوْماً عِنْدَهُ الدُّنْيَا ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَلا تَسْمَعُونَ ؟ أَلا تَسْمَعُونَ ؟ إِنَّ الْبَذَاذَة مِن الإِيمَان إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الإِيمَانِ» يعْني: التَّقَحُّلَ . رواه أبو داود .
« الْبَذَاذَةُ » : بِالْبَاءِ المُوَحَّدةِ وَالذَّالَينِ المُعْجمَتَيْنِ ، وَهِيَ رَثاثَةُ الهَيْئَةِ ، وَتَرْكُ فَاخِرِ اللِّبَاسِ وأَمَّا « التَّقَحُّلُّ » فَبِالْقَافِ والحاء ، قال أَهْلُ اللُّغَة : المُتَقَحِّل : هُوَ الرَّجُلُ الْيَابِسُ الجِلدِ مِنْ خُشُونَةَ الْعَيْشِ ، وَتَرْكِ التَّرَفَّهِ .
Terjemahan
Dari Abu Umamah Iyas bin Tsa'labah Al-Anshari Al-Haritsi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Pada suatu hari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut-nyebut dunia di sisi beliau. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan (dalam penampilan) itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman.' Maksudnya adalah at-taqahhul (hidup sederhana dan keras)." (HR. Abu Dawud).
"Al-Badzadzah" dengan ba' dan dua dzal mu'jamah: penampilan yang sederhana/lusuh, dan meninggalkan pakaian mewah. Adapun "at-taqahhul" dengan qaf dan ha': Ahli bahasa berkata: al-mutaqahhil adalah laki-laki yang kulitnya kering karena kerasnya kehidupan dan meninggalkan kemewahan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kesederhanaan dalam penampilan dan hidup (al-badzadzah) merupakan bagian dari keimanan. Nabi ﷺ menekankannya sebagai pengingat saat para sahabat membicarakan dunia, agar tidak terperdaya oleh gemerlapnya. Hikmahnya adalah agar seorang muslim menjaga sikap zuhud, tidak berlebihan dalam urusan dunia, dan lebih mengutamakan kesederhanaan yang mencerminkan kekuatan iman.
"Al-Badzadzah" dengan ba' dan dua dzal mu'jamah: penampilan yang sederhana/lusuh, dan meninggalkan pakaian mewah. Adapun "at-taqahhul" dengan qaf dan ha': Ahli bahasa berkata: al-mutaqahhil adalah laki-laki yang kulitnya kering karena kerasnya kehidupan dan meninggalkan kemewahan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kesederhanaan dalam penampilan dan hidup (al-badzadzah) merupakan bagian dari keimanan. Nabi ﷺ menekankannya sebagai pengingat saat para sahabat membicarakan dunia, agar tidak terperdaya oleh gemerlapnya. Hikmahnya adalah agar seorang muslim menjaga sikap zuhud, tidak berlebihan dalam urusan dunia, dan lebih mengutamakan kesederhanaan yang mencerminkan kekuatan iman.
# 32
وعن أبي عبدِ اللَّه جابر بن عبد اللَّه رضي اللَّه عنهما قال : بَعَثَنَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَأَمَّرَ عَلَينَا أَبَا عُبَيْدَةَ رضي اللَّه عنه ، نتَلَقَّي عِيراً لِقُرَيْشٍ ، وَزَّودَنَا جِرَاباً مِنْ تَمْرٍ لَمْ يجِدْ لَنَا غَيْرَهُ ، فَكَانَ أَبُو عُبَيْدةَ يُعْطِينَا تَمْرةً تَمْرَةً ، فَقِيل : كَيْف كُنْتُمْ تَصْنَعُونَ بِهَا ؟ قال : نَمَصُّهَا كَمَا يَمَصُّ الصَّبِيُّ ، ثُمَّ نَشْرَبُ عَلَيهَا مِنَ المَاءِ ، فَتَكْفِينَا يَوْمَنَا إِلى اللَّيْلِ ، وكُنَّا نَضْرِبُ بِعِصيِّنا الخَبَطَ ، ثُمَّ نَبُلُّهُ بِالمَاءِ فَنَأْكُلُهُ. قال : وانْطَلَقْنَا على ساَحِلِ البَحْرِ ، فرُفعَ لنَا على ساحِلِ البَحْرِ كهَيْئَةِ الكَثِيبِ الضخم ، فَأَتيْنَاهُ فَإِذا هِي دَابَّةٌ تُدْعى العَنْبَرَ ، فقال أَبُو عُبَيْدَةَ : مَيْتَةٌ ، ثُمَّ قال : لا ، بلْ نحْنُ رسُلُ رسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وفي سبيلِ اللَّه ، وقَدِ اضْطُرِرتمْ فَكلُوا ، فَأَقَمْنَا علَيْهِ شَهْراً ، وَنَحْنُ ثَلاثُمائَة ، حتَّى سَمِنَّا ، ولقَدْ رَأَيتُنَا نَغْتَرِفُ من وقْبِ عَيْنِهِ بالْقِلالِ الدُّهْنَ ونَقْطَعُ منْهُ الْفِدَرَ كَالثَّوْرِ أَو كقَدْرِ الثَّوْرِ .
ولَقَدْ أَخَذَ مِنَّا أَبُو عُبيْدَةَ ثَلاثَةَ عَشَرَ رَجُلاً فأَقْعَدَهُم في وقْبِ عَيْنِهِ وَأَخَذَ ضِلَعاً منْ أَضْلاعِهِ فأَقَامَهَا ثُمَّ رَحَلَ أَعْظَمَ بَعِيرٍ مَعَنَا فمرّ منْ تَحْتِهَا وَتَزَوَّدْنَا مِنْ لحْمِهِ وَشَائِقَ، فَلمَّا قدِمنَا المديِنَةَ أَتَيْنَا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَذكْرَنَا ذلكَ له ، فقال : « هُوَ رِزْقٌ أَخْرَجَهُ اللَّه لَكُمْ ، فَهَلْ معَكمْ مِنْ لحْمِهِ شَيء فَتطْعِمُونَا ؟ » فَأَرْسلْنَا إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْهُ فَأَكَلَهُ . رواه مسلم .
« الجِرَابُ » : وِعاء مِنْ جِلْدٍ مَعْرُوف ، وَهُو بكَسِر الجيم وفتحِها ، والكسرُ أَفْصحُ . قوله : « نَمَصُّهَا » بفتح الميم « والخَبْطَ » وَرَقُ شَجَرٍ مَعْرُوف تَأْكُلُهُ الإِبلُ . « وَالكَثِيبُ » التَّلُّ مِنَ الرَّمْلِ ، « والوَقْبُ » : بفتحِ الواوِ وإِسكان القافِ وبعدهَا باء موحدةٌ ، وَهُو نقرة العيْن « وَالقِلالُ » الجِرَارُ . « والفِدَرُ » بكسرِ الفاءِ وفتح الدال : القِطعُ . « رَحَلَ البَعِيرَ » بتخفيفِ الحاءِ أيْ جعلَ عليه الرحْلَ. و « الْوَشَائق » بالشينِ المعجمةِ والقافِ : اللَّحْمُ الَّذي اقْتُطِعَ ليقَدَّدَ مِنْه ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Abu Abdullah Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus kami dan menunjuk Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu sebagai pemimpin kami untuk menyergap kafilah Quraisy. Beliau membekali kami satu kantong kulit berisi kurma, tidak ada bekas lain yang beliau dapatkan untuk kami. Maka Abu Ubaidah memberikan kepada kami kurma satu butir demi satu butir. Ditanyakan kepadanya: 'Bagaimana kalian mengolahnya?' Ia menjawab: 'Kami menghisapnya seperti bayi menghisap, kemudian kami meminum air setelahnya, itu cukup untuk kami sepanjang hari sampai malam.' Dan kami memukul-mukul daun kering (al-khabath) dengan tongkat kami, lalu kami basahi dengan air dan kami memakannya. Ia berkata: 'Kami berjalan menyusuri pantai, tiba-tiba terlihat oleh kami di pantai seperti gundukan pasir yang besar. Kami mendatanginya, ternyata itu adalah seekor binatang laut yang disebut al-'anbar (ikan paus).' Abu Ubaidah berkata: 'Ini bangkai.' Kemudian ia berkata: 'Tidak, kita adalah utusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, di jalan Allah, dan kalian dalam keadaan terpaksa, maka makanlah.' Kami tinggal di sana selama satu bulan, kami berjumlah tiga ratus orang, sampai-sampai kami menjadi gemuk. Sungguh aku melihat kami mengambil minyak dari lubang matanya dengan qilal (tempayan kecil), dan kami memotong dagingnya sebesar sapi atau ukuran sapi. Abu Ubaidah mengambil tiga belas orang dari kami dan mendudukkan mereka di lubang matanya. Ia mengambil satu tulang rusuknya dan menegakkannya, lalu mengendarai unta terbesar yang kami miliki dan berjalan melintas di bawahnya. Kami membawa bekal dagingnya yang telah dikeringkan. Ketika kami tiba di Madinah, kami mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: 'Itu adalah rezeki yang dikeluarkan Allah untuk kalian. Apakah kalian masih memiliki sebagian dagingnya untuk kalian berikan kepada kami?' Maka kami mengirimkan sebagian dagingnya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau memakannya." (HR. Muslim).
"Al-Jiraab": wadah dari kulit yang dikenal. "Namashshuhaa": kami menghisapnya. "Al-Khabath": daun pohon yang dikenal, dimakan oleh unta. "Al-Katsiib": gundukan pasir. "Al-Waqb": lekuk/lubang mata. "Al-Qilaal": tempayan kecil. "Al-Fidar": potongan-potongan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesabaran dan ketabahan para sahabat dalam menjalankan perintah Rasulullah meski dengan bekal yang sangat minim. Mereka bertahan dengan menghisap sebutir kurma dan meminum air, yang mencukupi seharian. Kisah ini mengajarkan sikap qana'ah (merasa cukup), tawakal, serta kepatuhan kepada pemimpin dalam kondisi sulit sekalipun.
"Al-Jiraab": wadah dari kulit yang dikenal. "Namashshuhaa": kami menghisapnya. "Al-Khabath": daun pohon yang dikenal, dimakan oleh unta. "Al-Katsiib": gundukan pasir. "Al-Waqb": lekuk/lubang mata. "Al-Qilaal": tempayan kecil. "Al-Fidar": potongan-potongan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesabaran dan ketabahan para sahabat dalam menjalankan perintah Rasulullah meski dengan bekal yang sangat minim. Mereka bertahan dengan menghisap sebutir kurma dan meminum air, yang mencukupi seharian. Kisah ini mengajarkan sikap qana'ah (merasa cukup), tawakal, serta kepatuhan kepada pemimpin dalam kondisi sulit sekalipun.
# 33
وعن أَسْمَاءَ بنْتِ يَزِيدَ رضي اللَّه عنها قالت : كانَ كُمُّ قمِيصِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِلى الرُّصْغِ رواه أبو داود ، والترمذي ، وقال : حديث حسن .
« الرُّصْغُ » بالصادِ والرُّسْغُ بالسينِ أَيضاً : هوَ المُفْصِلُ بينْ الكَفِّ والسَّاعِدِ .
Terjemahan
Dari Asma' binti Yazid radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Lengan baju gamis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai ke pergelangan tangan." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan).
"Ar-rushghu" dengan shad, dan "ar-rusghu" dengan sin juga: sendi antara telapak tangan dan lengan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan sunnah Nabi Muhammad ﷺ dalam berpakaian, yaitu panjang lengan baju yang menutup hingga pergelangan tangan. Hal ini menunjukkan sikap kesopanan, ketawadhu'an, dan menghindari bentuk pakaian yang isbal (menjulur berlebihan). Dengan demikian, umat Islam diajarkan untuk menjaga penampilan yang rapi dan sederhana, sesuai dengan tuntunan syariat.
"Ar-rushghu" dengan shad, dan "ar-rusghu" dengan sin juga: sendi antara telapak tangan dan lengan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan sunnah Nabi Muhammad ﷺ dalam berpakaian, yaitu panjang lengan baju yang menutup hingga pergelangan tangan. Hal ini menunjukkan sikap kesopanan, ketawadhu'an, dan menghindari bentuk pakaian yang isbal (menjulur berlebihan). Dengan demikian, umat Islam diajarkan untuk menjaga penampilan yang rapi dan sederhana, sesuai dengan tuntunan syariat.
# 34
وعن جابر رضي اللَّه عنه قال : إِنَّا كُنَّا يَوْم الخَنْدَقِ نَحْفِرُ ، فَعَرضَتْ كُدْيَةٌ شَديدَةٌ فجاءُوا إِلى النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقالوا : هَذِهِ كُدْيَةٌ عَرَضتْ في الخَنْدَقِ . فقال: « أَنَا نَازِلٌ » ثُمَّ قَامَ وبَطْنُهُ معْصوبٌ بِحَجرٍ ، وَلَبِثْنَا ثَلاثَةَ أَيَّامٍ لا نَذُوقُ ذَوَاقاً ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم المِعْول ، فَضرَب فعاد كَثيباً أَهْيَلَ ، أَوْ أَهْيَمَ .
فقلتَ : يا رسولَ اللَّه ائْذَن لي إِلى البيتِ ، فقلتُ لامْرَأَتي : رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم شَيْئاً مافي ذلكَ صبْرٌ فِعِنْدَكَ شَيءٌ ؟ فقالت : عِندِي شَعِيرٌ وَعَنَاقٌ ، فَذَبحْتُ العَنَاقَ ، وطَحَنْتُ الشَّعِيرَ حَتَّى جَعَلْنَا اللحمَ في البُرْمَة ، ثُمَّ جِئْتُ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَالعجِينُ قَدْ انْكَسَرَ والبُرْمَةُ بيْنَ الأَثَافِيِّ قَد كَادَتَ تَنْضِجُ .
فقلتُ : طُعَيِّمٌ لي فَقُمْ أَنْت يا رسولَ اللَّه وَرَجُلٌ أَوْ رَجُلانِ ، قال : « كَمْ هُوَ ؟» فَذَكَرتُ له فقال : « كثِير طيب ، قُل لَهَا لا تَنْزِع البُرْمَةَ ، ولا الخُبْزَ مِنَ التَّنُّورِ حَتَّى آتيَ » فقال : « قُومُوا » فقام المُهَاجِرُون وَالأَنْصَارُ ، فَدَخَلْتُ عليها فقلت : وَيْحَكِ جَاءَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَالمُهَاجِرُونَ ، وَالأَنْصارُ وَمن مَعَهم ، قالت : هل سأَلَكَ ؟ قلتُ : نعم ، قال : « ادْخُلوا وَلا تَضَاغَطُوا » فَجَعَلَ يَكْسِرُ الخُبْزَ ، وَيجْعَلُ عليهِ اللحمَ ، ويُخَمِّرُ البُرْمَةَ والتَّنُّورَ إِذا أَخَذَ مِنْهُ ، وَيُقَرِّبُ إِلى أَصْحَابِهِ ثُمَّ يَنْزِعُ فَلَمْ يَزَلْ يَكْسِرُ وَيَغْرفُ حَتَّى شَبِعُوا ، وَبَقِيَ مِنه ، فقال: « كُلِي هذَا وَأَهدي ، فَإِنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ مَجَاعَةٌ » متفقٌ عليه .
وفي روايةٍ : قال جابرٌ : لمَّا حُفِرَ الخَنْدَقُ رَأَيتُ بِالنبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَمَصاً ، فَانْكَفَأْتُ إِلى امْرَأَتي فقلت : هل عِنْدَكِ شَيْء ، فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَمَصاً شَدِيداً.
فَأَخْرَجَتْ إِليَّ جِراباً فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ ، داجِنٌ فَذَبحْتُهَا ، وَطَحنتِ الشَّعِير فَفَرَغَتْ إلى فَرَاغِي ، وَقَطَّعْتُهَا في بُرَمتِهَا ، ثُمَّ وَلَّيْتُ إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَتْ : لا تفضحْني برسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ومن معَهُ ، فجئْتُه فَسَارَرْتُهُ فقلتُ يا رسول اللَّه ، ذَبَحْنا بُهَيمَةً لَنَا، وَطَحَنْتُ صَاعاً مِنْ شَعِيرٍ ، فَتَعالَ أَنْتَ وَنَفَرٌ مَعَكَ ، فَصَاحَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : « يَا أَهْلَ الخَنْدَق : إِنَّ جابراً قدْ صنَع سُؤْراً فَحَيَّهَلاًّ بكُمْ » فقال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « لا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ وَلا تَخْبِزُنَّ عجِينَكُمْ حَتَّى أَجيءَ » . فَجِئْتُ ، وَجَاءَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقْدُمُ النَّاسَ ، حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتي فقالتْ : بِك وَبِكَ ، فقلتُ : قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ . فَأَخْرَجَتْ عجيناً فَبسَقَ فِيهِ وبارَكَ ، ثُمَّ عَمَدَ إِلى بُرْمَتِنا فَبَصَقَ وَبَارَكَ، ثُمَّ قال : « ادْعُ خَابزَةً فلْتَخْبزْ مَعكِ ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُم وَلا تَنْزلُوها » وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللَّه لأَكَلُوا حَتَّى تَركُوهُ وَانَحرَفُوا ، وإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ ، وَأَنَّ عَجِينَنَا لَيخْبَز كَمَا هُوَ .
قَوْلُه : « عَرَضَت كُدْيَةٌ » : بضم الكاف وإِسكان الدال وبالياءِ المثناة تحت ، وَهِيَ قِطْعَةٌ غَلِيظَةٌ صُلْبَةٌ مِنَ الأَرْضِ لا يَعْمَلُ فيها الْفَأْسُ . « وَالْكَثِيبُ » أَصْلُهْ تَلُّ الرَّمْلِ ، والمُرَادُ هُنَا: صَارتْ تُراباً ناعِماً ، وَهُوَ مَعْنَى « أَهْيَلَ » . و «الأَثَافي » : الأَحْجَارُ الَّتي يَكُونُ عَلَيْهَا القِدرُ. و « تَضَاغَطُوا » : تَزَاحَمُوا . و « المَجاعَةُ » : الجُوعُ ، وهو بفتحِ الميم . و«الخَمصُ » بفتحِ الخاءِ المعجمة والميم : الجُوعُ . و « انْكَفَأْتُ » : انْقَلَبْتُ وَرَجَعْتُ . و«الْبُهَيمَةُ » بضم الباءِ: تَصغير بَهْمَة ، وَهِيَ الْعنَاقُ بفتح العين و «الدَّاجِنُ » : هي الَّتي أَلِفَتِ الْبيْتَ . و«السُّؤْر » : الطَّعَام الَّذِي يُدْعَى النَّاسُ إَلَيْه وَهُوَ بُالْفارِسيَّةِ ، و«حَيَّهَلا» أي:تَعَالوا . وَقَوْلها « بكَ وَبكَ » أَي : خَاصَمَتْهُ وَسَبَّتْهُ ، لأَنَّهَا اعْتَقْدَت أَنَّ الَّذي عندهَا لا يَكفيهم ، فَاسْتَحْيَتْ وخفي علَيْهَا مَا أَكَرَم اللَّه سُبحانَهُ وتعالى بِهِ نَبِيَّهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ هذِهِ المُعْجِزَةِ الظَّاهِرةِ والآيَةِ الْبَاهِرَةِ . « بَسقَ » أَي : بصَقَ، وَيُقَالُ أَيضاً : بَزقَ ثَلاثُ لُغَاتٍ . و « عَمَد » بفتح الميم : قصَد. و « اقْدَحي » أَي : اغرِفي ، والمِقْدَحةُ : المِغْرفَةُ . و «تَغِطُّ » أَي لِغَلَيَانِهَا صَوْتٌ . واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika kami sedang menggali parit (Khandaq), tiba-tiba ada sebongkah batu yang keras. Mereka pun datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: 'Ini ada batu keras yang menghalangi di parit.' Beliau bersabda: 'Aku yang akan turun (mengatasinya).' Kemudian beliau berdiri, sementara perutnya diikat dengan batu karena lapar. Kami telah tiga hari tidak merasakan makanan. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengambil pacul dan memukul batu itu, maka batu itu menjadi seperti tanah yang berpasir. Aku (Jabir) berkata: 'Wahai Rasulullah, izinkan aku pulang ke rumah.' Lalu aku berkata kepada istriku: 'Aku melihat pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sesuatu (tanda lapar) yang aku tidak bisa bersabar melihatnya. Apakah kamu punya sesuatu?' Ia menjawab: 'Aku punya sedikit gandum dan seekor anak kambing.' Aku pun menyembelih anak kambing itu dan menumbuk gandum hingga kami masukkan daging ke dalam periuk. Kemudian aku datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sementara adonan roti sudah mengembang dan periuk di atas tungku hampir matang. Aku berkata: 'Aku punya sedikit makanan, berdirilah wahai Rasulullah, dan (bawa) satu atau dua orang.' Beliau bertanya: 'Berapa banyaknya?' Aku menyebutkan jumlahnya. Beliau bersabda: 'Banyak dan baik. Katakan padanya (istrimu) jangan angkat periuk dan jangan keluarkan roti dari oven sampai aku datang.' Kemudian beliau bersabda: 'Berdirilah!' Maka berdirilah orang-orang Muhajirin dan Anshar. Aku masuk menemui istriku dan berkata: 'Celaka kamu! Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang bersama orang-orang Muhajirin, Anshar, dan siapa saja yang bersama mereka.' Ia bertanya: 'Apakah beliau bertanya padamu?' Aku jawab: 'Ya.' (Setelah mereka datang), Nabi bersabda: 'Masuklah dan jangan berdesak-desakan.' Lalu beliau mulai memecah-mecah roti dan meletakkan daging di atasnya, menutup periuk dan oven setiap kali mengambil darinya, dan menghidangkannya kepada para sahabatnya, kemudian mengambil lagi. Beliau terus memecah roti dan menyendok (makanan) hingga mereka semua kenyang, dan masih ada sisanya. Beliau bersabda: 'Makanlah ini dan berikanlah (kepada orang lain), karena orang-orang sedang dilanda kelaparan.'" (Muttafaqun 'alaih).
Dalam riwayat lain, Jabir berkata: "Ketika parit Khandaq digali, aku melihat Nabi shallallahu 'alih wasallam sangat lapar. Aku segera pulang menemui istriku dan berkata: 'Apakah kamu punya sesuatu? Karena aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat lapar.' Ia mengeluarkan kantong berisi satu sha' gandum, dan kami punya seekor anak kambing piaraan. Aku menyembelihnya dan menumbuk gandum. Istriku menyelesaikan (tugasnya) bersamaan dengan selesainya tugasku..."
Penjelasan Singkat: Hadits ini menceritakan mukjizat Nabi Muhammad SAW saat perang Khandaq, di mana makanan sedikit yang dimiliki Jabir dapat mencukupi ratusan sahabat berkat doa dan berkah dari Nabi. Hadits ini mengajarkan tentang kesabaran, kerja keras, tawakal, dan keajaiban berkah dari Allah yang diberikan melalui tangan Nabi-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam kepemimpinan dan solidaritas. Beliau turun langsung mengatasi kesulitan umatnya, meski dalam kondisi lapar dan lemah. Sikap ini mengajarkan bahwa pemimpin sejati haruslah rendah hati, pantang menyerah, dan siap berkorban bersama rakyat yang dipimpinnya.
Dalam riwayat lain, Jabir berkata: "Ketika parit Khandaq digali, aku melihat Nabi shallallahu 'alih wasallam sangat lapar. Aku segera pulang menemui istriku dan berkata: 'Apakah kamu punya sesuatu? Karena aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat lapar.' Ia mengeluarkan kantong berisi satu sha' gandum, dan kami punya seekor anak kambing piaraan. Aku menyembelihnya dan menumbuk gandum. Istriku menyelesaikan (tugasnya) bersamaan dengan selesainya tugasku..."
Penjelasan Singkat: Hadits ini menceritakan mukjizat Nabi Muhammad SAW saat perang Khandaq, di mana makanan sedikit yang dimiliki Jabir dapat mencukupi ratusan sahabat berkat doa dan berkah dari Nabi. Hadits ini mengajarkan tentang kesabaran, kerja keras, tawakal, dan keajaiban berkah dari Allah yang diberikan melalui tangan Nabi-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam kepemimpinan dan solidaritas. Beliau turun langsung mengatasi kesulitan umatnya, meski dalam kondisi lapar dan lemah. Sikap ini mengajarkan bahwa pemimpin sejati haruslah rendah hati, pantang menyerah, dan siap berkorban bersama rakyat yang dipimpinnya.
# 35
وعن أَنس رضي اللَّه عنه قال : قال أَبو طَلْحَةَ لأُمِّ سُلَيْم : قَد سَمعتُ صَوتَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ضَعِيفاً أَعرِفُ فِيهِ الجُوعَ ، فَهَل عِندَكِ مِن شيءٍ ؟ فقالت : نَعَمْ ، فَأَخْرَجَتْ أَقَرَاصاً مِن شَعيرٍ ، ثُمَّ أَخَذَت خِمَاراً لَهَا فَلَفَّتِ الخُبزَ بِبَعضِه ، ثُمَّ دسَّتْهُ تَحْتَ ثَوبي وَرَدَّتْني بِبَعضِه ، ثُمَّ أَرْسلَتْنِي إِلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَذَهَبتُ بِهِ ، فَوَجَدتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جالِساً في المَسْجِدِ ، ومَعَهُ النَّاسُ ، فَقُمتُ عَلَيهِمْ ، فقالَ لي رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ ؟ » فقلت : نَعم ، فقال: « أَلِطَعَام » فقلت : نَعَم ، فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «قُومُوا » فَانْطَلَقُوا وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيديِهِم حَتَّى جِئتُ أَبَا طَلْحَةَ فَأَخبَرتُهُ ، فقال أَبُو طَلْحَةَ : يا أُمِّ سُلَيمٍ : قَد جَاءَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بالنَّاسِ وَلَيْسَ عِنْدَنَا ما نُطْعِمُهُمْ ؟ فقالتْ : اللَّهُ وَرسُولُهُ أَعْلَمُ .
فَانطَلَقَ أَبُو طَلْحةَ حتَّى لَقِيَ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فأَقبَلَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَعَه حَتَّى دَخَلا ، فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « هَلُمِّي ما عِندَكِ يا أُمِّ سُلَيْمٍ » فَأَتَتْ بِذلكَ الخُبْزِ ، فَأَمَرَ بِهِ رسولُ اللَّه ففُتَّ ، وعَصَرَت عَلَيه أُمُّ سُلَيمٍ عُكَّةً فَآدَمَتْهُ ، ثُمَّ قال فِيهِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ما شَاءَ اللَّه أَنْ يَقُولَ ، ثُمَّ قَالَ : « ائذَن لِعَشَرَةٍ » فَأَذِنَ لَهُم ، فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا ثُمَّ خَرَجُوا ، ثم قال : « ائذَن لِعَشَرَةٍ » فَأَذنَ لهم ، فَأَكَلُوا حتى شَبِعُوا ، ثم خَرَجوا ، ثُمَّ قال : « ائذَنْ لِعَشَرَةٍ» فَأَذِنَ لهُم حتى أَكل القَوْمُ كُلُّهُم وَشَبِعُوا ، وَالْقَوْمُ سَبْعونَ رَجُلاً أَوْ ثَمَانُونَ . متفق عليه.
وفي روايةٍ : فما زال يَدخُلُ عشَرَةٌ وَيَخْرُجُ عَشَرَةٌ ، حتى لم يَبْقَ مِنهم أَحَدٌ إِلا دَخَلَ ، فَأَكَلَ حتى شَبِعَ ، ثم هَيَّأَهَا فَإِذَا هِي مِثلُهَا حِينَ أَكَلُوا مِنها .
وفي روايةٍ : فَأَكَلُوا عَشَرَةً عَشَرةً ، حتى فَعَلَ ذلكَ بثَمانِينَ رَجُلاً ثم أَكَلَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بعد ذلكَ وََأَهْلُ البَيت ، وَتَركُوا سُؤراً .
وفي روايةٍ : ثمَّ أفضَلُوا ما بَلَغُوا جيرانَهُم .
وفي روايةٍ عن أَنسٍ قال : جِئتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يوْماً فَوَجَدتُهُ جَالِساً مع َأَصحابِهِ ، وَقد عَصَبَ بَطْنَهُ بِعِصابَةٍ ، فقلتُ لِبَعضِ أَصحَابِهِ : لِمَ عَصَبَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بطْنَهُ ؟ فقالوا : مِنَ الجُوعِ .
فَذَهَبْتُ إِلى أبي طَلحَةَ ، وَهُوَ زَوْجُ أُمِّ سُليمٍ بنتِ مِلحَانَ ، فقلتُ : يَا أَبتَاه ، قد رَأَيْت رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَصبَ بطنَهُ بِعِصَابَةٍ ، فَسَأَلتُ بَعضَ أَصحَابِهِ ، فقالوا : مِنَ الجُوعِ . فَدَخل أَبُو طَلحَةَ على أُمِّي فقال : هَل مِن شَيءٍ ؟ قالت : نعم عِندِي كِسَرٌ مِنْ خُبزٍ وَتمرَاتٌ، فإِنْ جَاءَنَا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَحْدهُ أَشبَعنَاه ، وإِن جَاءَ آخَرُ معه قَلَّ عَنْهمْ ، وذَكَرَ تَمَامَ الحَديث.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim: "Sungguh aku mendengar suara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat lemah, aku tahu itu karena lapar. Jadi, apakah kamu punya makanan?" Ia menjawab: "Ya." Lalu ia mengeluarkan beberapa roti jelai, kemudian mengambil kerudungnya, membungkus roti itu bersamanya, lalu memasukkannya ke bawah bajuku dan menyuruhku membungkus sisanya. Kemudian ia mengutusku (Anas) untuk mengundang Rasulullah. Aku pun pergi mengundang beliau. Setibanya di sana, aku melihat Rasulullah sedang duduk di masjid bersama banyak orang. Aku berdiri di dekat mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadaku: "Apakah Abu Thalhah mengutusmu?" Aku jawab: "Ya." Beliau bertanya lagi: "Untuk jamuan makan?" Aku jawab: "Ya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda kepada orang-orang yang bersama beliau: "Berdirilah kalian." Mereka pun berjalan dan aku berjalan di depan mereka hingga bertemu Abu Thalhah. Aku pun memberitahunya. Abu Thalhah berkata: "Wahai Ummu Sulaim! Rasulullah telah datang bersama banyak orang, sementara kita tidak punya apa-apa untuk menjamu mereka." Ia (Ummu Sulaim) menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah dan Rasulullah pun datang bersamanya lalu masuk ke rumah berdua. Rasulullah bersabda: "Wahai Ummu Sulaim, bawalah apa yang kamu punya kepadaku." Ia lalu membawakan roti itu kepada beliau. Beliau menyuruhnya memotong-motong roti menjadi kecil-kecil, dan ia mengambil kantong lemak lalu membukanya dan mengolesinya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca doa yang Allah kehendaki, lalu bersabda: "Izinkan sepuluh orang masuk." Beliau mengizinkan mereka masuk dan mereka makan hingga kenyang lalu keluar. Kemudian beliau bersabda: "Izinkan sepuluh orang lagi masuk." Beliau mengizinkan mereka dan mereka makan hingga kenyang lalu keluar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: (Kemudian beliau bersabda: "Izinkan sepuluh orang lagi masuk.") Beliau mengizinkan mereka masuk dan seluruh kelompok mereka makan hingga kenyang. Saat itu mereka berjumlah 70 atau 80 orang. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain: Beliau mengizinkan masuk sepuluh-sepuluh orang dan mengeluarkan mereka sepuluh-sepuluh orang, hingga tidak ada seorang pun yang tersisa; setiap orang makan hingga kenyang. Kemudian beliau mengumpulkan (sisa roti) dan melihatnya...
Penjelasan Singkat: Hadits ini menceritakan mukjizat lain di mana makanan sedikit dari Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dapat mencukupi puluhan sahabat karena berkah dari doa Rasulullah SAW. Ini menunjukkan keutamaan berbagi meski sedikit dan kekuasaan Allah untuk melipatgandakan rezeki.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan dan keikhlasan Nabi Muhammad ﷺ serta pengorbanan para sahabat. Ummu Sulaim rela menggunakan kerudungnya untuk membungkus makanan bagi Rasulullah yang lapar, menunjukkan prioritas dalam berbuat baik meski dengan sarana terbatas. Kisah ini mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama kepada pemimpin atau orang alim, serta sikap bersyukur dan qanaah dalam keadaan apa pun.
Dalam riwayat lain: Beliau mengizinkan masuk sepuluh-sepuluh orang dan mengeluarkan mereka sepuluh-sepuluh orang, hingga tidak ada seorang pun yang tersisa; setiap orang makan hingga kenyang. Kemudian beliau mengumpulkan (sisa roti) dan melihatnya...
Penjelasan Singkat: Hadits ini menceritakan mukjizat lain di mana makanan sedikit dari Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dapat mencukupi puluhan sahabat karena berkah dari doa Rasulullah SAW. Ini menunjukkan keutamaan berbagi meski sedikit dan kekuasaan Allah untuk melipatgandakan rezeki.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesederhanaan dan keikhlasan Nabi Muhammad ﷺ serta pengorbanan para sahabat. Ummu Sulaim rela menggunakan kerudungnya untuk membungkus makanan bagi Rasulullah yang lapar, menunjukkan prioritas dalam berbuat baik meski dengan sarana terbatas. Kisah ini mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama kepada pemimpin atau orang alim, serta sikap bersyukur dan qanaah dalam keadaan apa pun.