✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 60

Sikap dermawan dan bersedekah di jalan yang baik, dengan penuh keyakinan kepada Allah

✦ 22 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه ﴾ .سورة السبأ(39)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apa yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya." (QS. Saba': 39).

Penjelasan singkat: Ayat ini menjamin bahwa setiap infak di jalan Allah, baik harta, ilmu, atau tenaga, tidak akan pernah sia-sia. Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini mendorong seorang muslim untuk bersikap dermawan dan tidak takut miskin, karena rezeki sejati datang dari Allah.

# 2
وقال تعالى: ﴿ وما تنفقوا من خير فلأنفسكم، وما تنفقون إلا ابتغاء وجه اللَّه، وما تنفقوا من خير يوف إليكم وأنتم لا تظلمون ﴾ .سورة البقرة(272)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dizalimi (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah: 272).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa seluruh infak yang dikeluarkan dengan ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah, sejatinya adalah kebaikan untuk diri sendiri. Allah menjamin balasan yang sempurna atas setiap kebaikan itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dengan demikian, motivasi utama dalam berinfak haruslah ketulusan, bukan mengharap pujian atau balasan dari manusia.

# 3
وقال تعالى: ﴿ وما تنفقوا من خير فإن اللَّه به عليم ﴾ .سورة البقرة(273)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 273).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala bentuk infak yang diberikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, sedikit maupun banyak. Hal ini mengandung motivasi untuk ikhlas dalam berinfak, karena Allah selalu menyaksikan niat dan amal kita. Selain itu, ayat ini juga memberikan jaminan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia, karena Allah akan membalasnya dengan pengetahuan-Nya yang sempurna.

# 4
وعَنِ ابنِ مسعودٍ رضي اللَّه عنه ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا حَسَدَ إِلاَّ في اثنتينِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّه مَالاً ، فَسَلَّطَه عَلَى هَلَكَتِهِ في الحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاه اللَّه حِكْمَةً ، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُها » متفقٌ عليه . معناه : يَنَبِغِي أَن لا يُغبَطَ أَحَدٌ إِلاَّ على إحدَى هَاتَينِ الخَصْلَتَيْنِ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak boleh ada hasad (iri) kecuali terhadap dua hal: (1) Terhadap seorang laki-laki yang Allah berikan harta, lalu ia belanjakan di jalan yang benar (hingga habis). (2) Dan terhadap seorang laki-laki yang Allah berikan hikmah (ilmu), lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya." (Muttafaqun 'alaih).
Maknanya: Tidak selayaknya seseorang diiri/didengki kecuali karena salah satu dari dua sifat ini.

Penjelasan singkat: Hadis ini membedakan hasad (iri hati) yang tercela dan ghibthah (iri yang diperbolehkan). Nabi mengajarkan bahwa hanya ada dua hal yang pantas untuk diiri: pertama, orang yang diberi harta lalu menafkahkannya di jalan kebenaran; kedua, orang yang diberi ilmu lalu mengamalkan dan mengajarkannya. Intinya, keutamaan sejati terletak pada pemanfaatan anugerah Allah (harta dan ilmu) untuk kebaikan dan kemaslahatan umat, bukan sekadar memilikinya.

# 5
وعنه قالَ : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِليه مِن مَالهِ ؟ » قالُوا : يا رَسولَ اللَّه . ما مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ مَالُهُ أَحَبُّ إِليه . قال : « فَإِنَ مَالَه ما قَدَّمَ وَمَالَ وَارِثهِ ما أَخَّرَ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manakah yang lebih kalian cintai, harta ahli warismu atau hartamu sendiri?" Mereka menjawab: "Wahai Rasulullah, tentu saja kami lebih mencintai harta kami sendiri." Beliau bersabda: "Sesungguhnya hartanya adalah apa yang telah ia infakkan (dan pahalanya kekal), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan (dan akan ia tinggalkan)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa harta sejati seorang mukmin bukanlah yang ia tinggalkan untuk warisannya, melainkan yang telah ia infakkan di jalan Allah. Harta yang diinfakkan (disedekahkan) itulah yang menjadi modal abadi di akhirat, sedangkan harta yang ditinggalkan akan menjadi milik orang lain dan habis di dunia. Dengan demikian, hadis ini mendorong untuk bersikap dermawan dan mendahulukan investasi akhirat.

# 6
وعَن عَدِيِّ بنِ حاتم رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمَرةٍ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jagalah dirimu dari api neraka, sekalipun hanya dengan (bersedekah) sepotong kurma." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip mudahnya berbuat kebaikan dan besarnya keutamaan sedekah. Intinya, setiap muslim diperintahkan untuk berusaha menyelamatkan diri dari neraka dengan amal shaleh, sekecil apa pun. Sedekah, meski nilainya sangat kecil seperti sepotong kurma, tetap bernilai dan dapat menjadi pelindung. Pelajaran utamanya adalah tidak meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun dan senantiasa berlomba dalam kebaikan.

# 7
وعن جابرٍ رضي اللَّه عنه قال : ما سُئِل رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم شَيئاً قَطُّ فقالَ : لا . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah dimintai sesuatu lalu beliau menjawab 'tidak'." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sifat dermawan dan lapang dada. Inti pelajarannya adalah anjuran untuk bersikap pemurah, mudah membantu, dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain semampu mungkin. Hikmahnya, sifat ini akan melapangkan hati, mempererat ukhuwah, dan mendatangkan keberkahan. Namun, kemurahan hati Nabi tetap dalam koridor kebenaran dan tidak untuk hal yang maksiat.

# 8
وعن أبي هُريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصبِحُ العِبادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلانِ ، فَيَقُولُ أَحَدَهُمَا : اللَّهُمَّ أَعطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعطِ مُمسكاً تَلَفاً » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap pagi, dua malaikat turun. Salah satunya berdoa: 'Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.' Dan yang lain berdoa: 'Ya Allah, berilah kerusakan (kebinasaan) kepada orang yang menahan (kikir) hartanya'." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan keberkahan berinfak, serta ancaman bagi yang bakhil. Setiap pagi, dua malaikat mendoakan orang yang dermawan agar hartanya diganti, dan orang yang kikir agar hartanya binasa. Ini menunjukkan bahwa sedekah justru melipatgandakan rezeki, sementara menahan harta mendatangkan kerugian.

# 9
وعنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قـال : « قال اللَّه تعالى : أنفِق يا ابْنَ آدمَ يُنْفَقْ عَلَيْكَ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberi infak (rizki) kepadamu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan janji Allah yang pasti bagi orang yang berinfak di jalan-Nya. Infak tidak mengurangi harta, justru menjadi sebab turunnya rezeki dan keberkahan yang lebih luas dari Allah. Pelajaran utamanya adalah mendorong sikap dermawan dan tawakal, serta membangun keyakinan bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat.

# 10
وعن عبد اللَّهِ بن عَمْرو بن العَاصِ رضي اللَّه عنهُما أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَيُّ الإِسلامِ خَيْرٌ ؟ قال : « تُطْعِمْ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لم تَعْرِفْ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan Islam apakah yang paling baik?" Beliau menjawab: "Engkau memberi makan (orang miskin) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa keutamaan dalam Islam diraih dengan amalan sederhana yang membawa dampak sosial nyata. Memberi makan simbol kepedulian pada kebutuhan material sesama, sedangkan menyebarkan salam adalah praktik mempererat persaudaraan dan kedamaian, tanpa memandang status atau perkenalan. Intinya, Islam mengajak untuk memadukan kebaikan hati dengan tindakan nyata dalam membangun hubungan harmonis antar manusia.

# 11
وعنه قال : قالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَرْبَعونَ خَصلَةً أَعلاهَا مَنِيحَةُ العَنْز ما مِن عَاملٍ يعْملُ بخَصلَةٍ منها رَجَاءَ ثَوَابِهَا وَتَصْدِيقَ مَوْعُودِهَا إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّه تعالى بِهَا الجَنَّةَ » رواه البخاري . وقد سبقَ بيان هذا الحديث في باب بَيَان كَثرَةِ طُرق الخَيْرِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada 40 jenis kebaikan, yang paling tinggi adalah meminjamkan kambing (untuk diambil manfaat dan susunya). Barang siapa mengamalkan salah satu dari kebaikan-kebaikan itu dengan mengharap pahalanya dan membenarkan janji (Allah) tentangnya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa pintu kebaikan menuju surga sangat banyak dan beragam, mencapai 40 jenis. Amalan tertinggi adalah "منيحة العنز" (memberi pinjaman kambing untuk diambil manfaatnya), yang menunjukkan keutamaan membantu sesama dengan harta. Kunci diterimanya amalan adalah niat ikhlas mengharap pahala Allah dan keyakinan membenarkan janji-Nya.

# 12
عن أبي أُمَامَةَ صُدَيِّ بنِ عَجْلانَ رضي اللَّهُ عنه قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «يا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ إِن تَبْذُلَ الفَضْلَ خَيرٌ لَكََ ، وإِن تُمْسِكَهُ شَرٌّ لَكَ ، وَلا تُلامُ عَلى كَفَافٍ، وَابْدأْ بِمَنْ تَعُولُ ، واليَدُ العُليَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika kamu menyedekahkan kelebihan hartamu itu lebih baik bagimu, dan jika kamu menahannya (menyimpannya) itu buruk bagimu. Kamu tidak akan dicela karena menyimpan (harta) untuk mencukupi kebutuhanmu. Mulailah sedekahmu dengan memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu terlebih dahulu. Tangan di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (yang menerima)." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menganjurkan untuk bersedekah dengan kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi, mendahulukan keluarga yang menjadi tanggungan, dan mengingatkan keutamaan memberi dibanding menerima.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam kepemilikan harta. Kita dianjurkan bersedekah dengan kelebihan harta karena itu membawa kebaikan, sementara menahannya adalah buruk. Namun, Islam tidak melarang seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Prioritas sedekah dimulai dari tanggungan terdekat, dan kedudukan pemberi lebih mulia daripada penerima.

# 13
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه قال : ما سُئِلَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلَى الإِسْلامِ شَيئاً إِلا أَعْطاه ، وَلَقَدَ جَاءَه رَجُلٌ فَأَعطَاه غَنَماً بَينَ جَبَلَينِ ، فَرَجَعَ إِلى قَومِهِ فَقَالَ : يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمداً يُعْطِي عَطَاءَ مَنْ لا يَخْشَى الفَقْرَ ، وَإِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا ، فَمَا يَلْبَثُ إِلاَّ يَسِيراً حَتَّى يَكُونَ الإِسْلامُ أَحَبَّ إِلَيه منَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa tidak ada seorang pun yang meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ sebagai imbalan masuk Islam, kecuali beliau memberikannya. Seorang laki-laki datang menemui beliau, lalu beliau memberinya kambing yang memenuhi lembah antara dua bukit. Ketika orang itu kembali kepada kaumnya, dia berkata: "Wahai kaumku! Masuklah kalian ke dalam Islam, karena Muhammad memberi sedekah tanpa takut miskin." Ada orang yang masuk Islam karena menginginkan harta dunia, namun tidak lama kemudian, dia lebih mencintai Islam daripada dunia dan segala isinya. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan kemurahan hati Nabi ﷺ dalam berdakwah dan memberi, yang dapat menarik orang untuk masuk Islam, dan akhirnya keimanan mereka menjadi tulus melebihi cinta pada dunia.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemuliaan akhlak dan kedermawanan Rasulullah ﷺ dalam berdakwah. Pemberian beliau yang sangat besar kepada seorang yang baru masuk Islam menjadi sebab tersebarnya kebaikan dan hidayah kepada kaumnya. Hikmahnya, ketulusan dan kemurahan hati dalam mengajak kepada kebaikan dapat membuka pintu hati, sehingga akhirnya keimanan akan mengakar lebih dalam daripada sekadar keinginan duniawi.

# 14
وعن عُمَرَ رضيَ اللَّه عنه قال : قَسَمَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَسْماً ، فَقُلتُ : يا رسولَ اللَّه لَغَيْرُ هَؤُلاَءِ كَانُوا أَحَقَّ بهِ مِنْهُم ؟ قال : « إِنَّهُمْ خَيَّرُوني أَن يَسأَلُوني بالْفُحشِ فَأُعْطيَهم أَوْ يُبَخِّلُوني ، وَلَستُ بِبَاخِلٍ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ membagi-bagikan harta. Aku (Umar) berkata: "Wahai Rasulullah! Orang lain (selain mereka) lebih berhak menerima harta ini." Beliau bersabda: "Sungguh, mereka memberiku dua pilihan: antara mereka meminta kepadaku dengan buruk (terus-menerus) atau mereka akan mengatakan bahwa aku adalah orang yang kikir. Dan aku bukanlah orang yang kikir." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan alasan Nabi ﷺ membagi harta kepada orang-orang yang meminta, yaitu untuk menghindari tuduhan kekikiran dan menjaga hubungan baik, meskipun ada pihak lain yang mungkin lebih membutuhkan.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang sikap mulia Rasulullah ﷺ dalam menghadapi tekanan sosial. Beliau memilih untuk memberi, meski penerimanya bukan yang paling berhak, demi menghindari dua keburukan: didesak dengan cara yang tidak baik atau dituduh bakhil. Hikmahnya, kita diajari untuk menjaga nama baik dan kehormatan diri, serta bersikap bijak dan dermawan dalam menyelesaikan masalah, bahkan jika keputusan itu tidak ideal secara formal.

# 15
وعن جُبَيْرِ بنِ مُطعِم رضيَ اللَّه عنه أَنه قال : بَيْنَمَا هُوَ يسِيرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَقْفَلَهُ مِن حُنَيْنٍ ، فَعَلِقَهُ الأَعْرَابُ يسَأَلُونَهُ ، حَتَّى اضْطَرُّوهُ إِلى سَمُرَةٍ فَخَطَفَتْ رِدَاءَهُ ، فَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : أَعْطُوني رِدَائِي ، فَلَوْ كَانَ لي عَـدَدُ هذِهِ العِضَاهِ نَعَماً ، لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ، ثم لا تَجِدُوني بَخِيلاً وَلا كَذَّاباً وَلا جَبَاناً » رواه البخاري . « مَقْفَلَهُ » أَيْ حَال رُجُوعِهِ . وَ « السَّمُرَةُ » : شَجَرَةٌ . وَ « العِضَاهُ » : شَجَرٌ لَهُ شَوْكٌ.
Terjemahan
Dari Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ketika dia berjalan bersama Nabi ﷺ dalam perjalanan pulang dari Hunain, orang-orang Badui menghadang beliau untuk meminta, hingga memaksa beliau sampai ke sebuah pohon samurah (akasia) dan jubah beliau tersangkut. Nabi ﷺ pun berhenti dan bersabda: "Berikan jubahku! Seandainya aku memiliki ternak sebanyak duri pohon ini, niscaya akan aku bagikan kepada kalian. Dan kalian tidak akan mendapati aku sebagai orang yang kikir, pendusta, atau pengecut." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Catatan: "Maqfalah" berarti saat pulang. "As-Samrah" adalah sejenis pohon. "Al-'Idhah" adalah pohon berduri.

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan kesabaran dan kemurahan hati Nabi ﷺ yang sangat besar, siap membagi semua yang dimiliki seandainya ada, serta menjamin bahwa beliau bukanlah orang yang kikir.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap dermawan dan jujur yang sempurna dari Rasulullah ﷺ. Beliau memberikan keteladanan untuk memenuhi permintaan orang lain sesuai kemampuan, tanpa disertai sifat kikir, dusta, atau pengecut. Hikmahnya, seorang Muslim harus berusaha menjadi pribadi yang pemurah dan dapat dipercaya ucapannya.

# 16
وعن أبي هُريرة رضيَ اللَّهُ عنه أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً ، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وجلَّ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah akan menambahkan kemuliaan kepada hamba yang suka memaafkan, dan barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan bahwa bersedekah tidak membuat harta berkurang, bahkan mendatangkan pahala dan kemuliaan di sisi Allah, serta keutamaan sifat pemaaf dan tawadhu'.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga prinsip hidup utama. Pertama, sedekah tidak mengurangi harta secara hakiki karena diganti dengan berkah dan pahala. Kedua, memaafkan justru mengundang tambahan kemuliaan dari Allah. Ketiga, kerendahan hati (tawadhu') karena Allah adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di dunia dan akhirat.

# 17
وعن أبي كَبشَةَ عُمرو بِنَ سَعدٍ الأَنمَاريِّ رضي اللَّه عنه أَنه سمَع رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « ثَلاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيهِنَّ وَأُحَدِّثُكُم حَدِيثاً فَاحْفَظُوهُ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبدٍ مِن صَدَقَةٍ ، وَلا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً صَبَرَ عَلَيهَا إِلاَّ زَادَهُ اللَّهُ عِزّاً ، وَلا فَتَحَ عَبْدٌ باب مَسأَلَةٍ إِلاَّ فَتَحَ اللَّه عَلَيْهِ باب فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا . وَأُحَدِّثُكُم حَدِيثاً فَاحْفَظُوهُ . قال إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَر: عَبدٍ رَزَقَه اللَّه مَالاً وَعِلْماً ، فَهُو يَتَّقي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُ للَّهِ فِيهِ حَقا فَهذَا بأَفضَل المَنازل . وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّه عِلْماً ، وَلَمْ يَرْزُقهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ : لَو أَنَّ لي مَالاً لَعمِلْتُ بِعَمَل فُلانٍ ، فَهُوَ نِيَّتُهُ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ . وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً ، وَلَمْ يرْزُقْهُ عِلْماً ، فهُوَ يَخْبِطُ في مالِهِ بِغَير عِلمٍ ، لا يَتَّقي فِيهِ رَبَّهُ وَلا يَصِلُ رَحِمَهُ ، وَلا يَعلَمُ للَّهِ فِيهِ حَقا ، فَهَذَا بأَخْبَثِ المَنَازِلِ . وَعَبْدٍ لَمْ يرْزُقْهُ اللَّه مَالاً وَلا عِلْماً ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَل فُلانٍ، فَهُوَ نِيَّتُهُ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Kabsyah 'Umar bin Sa'ad Al-Anmari radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sungguh aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada tiga hal yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menyampaikan satu masalah kepada kalian, maka ingatlah: Harta yang disedekahkan tidak akan berkurang. Hamba yang dizalimi lalu dia bersabar, Allah akan mengangkat derajatnya. Dan hamba yang membuka pintu meminta-minta kepada orang lain, Allah akan membukakan pintu kefakiran baginya (atau sabda beliau yang semisal ini)." "Aku akan menyampaikan satu masalah kepada kalian, maka ingatlah. Sesungguhnya dunia ini untuk empat jenis manusia:
1. Hamba yang Allah beri harta dan ilmu, lalu dia bertakwa kepada Rabbnya dalam menggunakannya, menyambung tali silaturahmi, dan mengetahui hak Allah pada harta itu. Orang ini berada pada kedudukan yang paling utama.
2. Hamba yang Allah beri ilmu tapi tidak diberi harta, namun dia memiliki niat yang tulus: 'Seandainya aku punya harta, aku akan berbuat seperti si fulan (orang pertama).' Pahala mereka berdua sama.
3. Hamba yang Allah beri harta tapi tidak diberi ilmu, dia menghambur-hamburkan hartanya tanpa ilmu, tidak takut kepada Allah, tidak menyambung silaturahmi, dan tidak mengetahui hak Allah pada harta itu. Orang ini berada pada kedudukan yang paling buruk.
4. Hamba yang Allah tidak beri harta dan ilmu, lalu dia berkata: 'Seandainya aku punya harta, aku akan berbuat seperti si fulan (orang ketiga).' Itu adalah niatnya. Dosa keduanya sama."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tiga prinsip hidup yang dijamin kebenarannya. Pertama, sedekah tidak mengurangi harta, malah mendatangkan keberkahan. Kedua, kesabaran atas kezaliman akan diganjar dengan peningkatan kemuliaan oleh Allah. Ketiga, kebiasaan meminta-minta justru akan menjerumuskan ke dalam kefakiran. Intinya, ajaran ini mendorong untuk gemar bersedekah, sabar dalam menghadapi ujian, dan menjaga kehormatan diri dengan tidak menggantungkan hidup pada pemberian orang lain.

# 18
وعن عائشة رضي اللَّه عنها أَنَّهُمْ ذَبحُوا شَاةً ، فقالَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَا بَقِيَ مِنها؟» قالت : ما بقي مِنها إِلاَّ كَتِفُهَا ، قال : « بَقِي كُلُّهَا غَيرَ كَتِفِهَا» رواه الترمذي وقال حديث صحيح . ومعناه : تَصَدَّقُوا بها إلاَّ كَتِفَهَا فقال : بَقِيَتْ لَنا في الآخِرةِ إِلاَّ كَتفَهَا .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa mereka menyembelih seekor kambing. Nabi ﷺ bertanya: "Apa yang tersisa darinya?" 'Aisyah menjawab: "Tidak tersisa kecuali paha bahunya." Beliau bersabda: "Justru yang tersisa semuanya kecuali paha bahunya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits shahih)
Maknanya: Mereka bersedekah dengan (daging) kambing itu kecuali paha bahunya. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Yang tersisa untuk kita di akhirat adalah (pahala) seluruhnya kecuali paha bahunya (yang tidak disedekahkan)."

Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan bahwa harta yang disedekahkan akan kekal pahalanya di akhirat, sedangkan yang disimpan dan dinikmati sendiri akan habis di dunia.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa harta yang hakiki adalah yang disedekahkan. Apa yang dimakan dan habis di dunia justru hilang, sedangkan apa yang diinfakkan akan kekal sebagai pahala di akhirat. Dengan demikian, hadis ini mendorong umat untuk gemar bersedekah dan tidak ragu berbagi rezeki.

# 19
وعن أَسماءَ بنتِ أبي بكرٍ الصديق رضي اللَّه عنهما قالت : قال لي رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تُوكِي فَيوكِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ » . وفي روايةٍ « أَنفِقِي أَو أَنْفَحِي أَو أَنْضِحِي ، وَلا تُحْصي فَيُحْصِيَ اللَّه عَلَيكِ، وَلا تُوعِي فيوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ » متفقٌ عليه . وَ « انْفَحِي » بالحاءِ المهملة : هو بمعنى « أَنفِقِي » وكذلك : « أَنْضِحِي » .
Terjemahan
Dari Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Janganlah kamu menahan (menimbun) harta. Jika tidak, niscaya Allah akan menahan (tidak memberi) rezeki kepadamu."
Dalam riwayat lain: "Bersedekahlah, berilah, atau bagikanlah, dan janganlah menghitung-hitung. Jika tidak, niscaya Allah akan menghitung (membatasi) rezeki yang diberikan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu menahan (harta), jika tidak, niscaya Allah akan menahan (rezeki) darimu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini memperingatkan agar tidak kikir dan menimbun harta, serta menganjurkan untuk memberi dengan lapang tanpa perhitungan, karena itu akan mendatangkan kelapangan rezeki dari Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya bersikap dermawan dan tidak kikir. Intinya, Allah akan melimpahkan rezeki kepada hamba-Nya yang gemar berinfak dan tidak pelit. Sebaliknya, orang yang menghitung-hitung dan menahan hartanya justru akan mendapat balasan serupa, yaitu rezeki yang seret dan terbatas dari Allah. Jadi, kedermawanan adalah kunci untuk membuka pintu rezeki dan keberkahan.

# 20
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَنه سَمِع رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « مَثَلُ البَخِيلِ والمُنْفِقِ ، كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِن حَديد مِنْ ثْدِيِّهِما إِلى تَرَاقِيهمَا، فَأَمَّا المُنْفِقُ ، فَلا يُنْفِقُ إِلاَّ سَبَغَتْ ، أَوْ وَفَرَتْ على جِلدِهِ حتى تُخْفِيَ بَنَانَهُ ، وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ ، وَأَمَّا البَخِيلُ ، فَلا يُرِيدُ أَنْ يُنْفِقَ شَيئاً إِلاَّ لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ مَكَانَهَا ، فَهُو يُوَسِّعُهَا فَلا تَتَّسِعُ » متفقٌ عليه . وَ « الجُبَّةُ » الدِّرعُ ، وَمَعنَاهُ : أَن المُنْفِقَ كُلَّمَا أَنْفَقَ سَبَغَتْ ، وَطَالَتْ حتى تجُرَّ وَرَاءَهُ ، وَتُخْفِيَ رِجلَيهِ وأَثَرَ مَشيهِ وخُطُواتِهِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan orang yang kikir dan orang yang dermawan adalah seperti dua orang yang masing-masing memakai baju besi dari dada hingga tulang selangka. Orang yang dermawan, setiap kali dia bersedekah, baju besinya meluas dan memanjang hingga menutupi kulitnya, menyembunyikan ujung jarinya, dan menghapus jejaknya. Adapun orang yang kikir, setiap kali dia ingin bersedekah, setiap mata rantai baju besinya menempel di tempatnya (tidak mau meluas). Dia berusaha melonggarkannya tetapi tidak bisa." (Muttafaqun 'alaih)
"Al-Jubbah" adalah baju besi. Maknanya: Orang yang dermawan, setiap kali dia bersedekah, baju besinya memanjang hingga menyeret di belakangnya, menutupi kedua kakinya dan jejak langkahnya.

Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan betapa sedekah itu melapangkan dan memudahkan kehidupan pelakunya, sementara kekikiran justru membuatnya sempit dan terhimpit bagai terkurung baju besi.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan dengan perumpamaan yang sangat kuat bahwa sedekah justru melapangkan dan melindungi pelakunya, bagaikan baju besi yang melonggar dan menutupi tubuh si dermawan. Sebaliknya, kekikiran menyempitkan dan menyiksa pelakunya sendiri, seperti baju besi yang mengencang dan menghimpit si kikir. Intinya, kedermawanan membawa ketenangan dan keberkahan hidup, sedangkan kikir mendatangkan kesempitan dan penderitaan, baik di dunia maupun akhirat.

# 21
وعنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ تَصَدَّقَ بِعِدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ ، ولا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللَّه يقْبَلُهَا بِيَمِينِهِ ، ثُمَّ يُرَبِّيها لِصَاحِبَها ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حتى تَكُونَ مِثْلَ الجَبلِ » . متفقٌ عليه . « الفَلُوُّ » بفتحِ الفاءِ وضم اللام وتشديد الواو ، ويقال أَيضاً : بكسر الفاءِ وإِسكان اللام وتخفيف الواو : وهو المُهْرُ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa bersedekah senilai sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik- maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkannya untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya, hingga menjadi seperti gunung." (Muttafaqun 'alaih)
"Al-Fallu" dengan fathah fa', dhamah lam, dan tasydid wau; ada juga yang membaca dengan kasrah fa', sukun lam, dan takhfif wau: artinya anak kuda.

Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan bahwa sedekah sekecil apapun, asal dari sumber yang halal, akan diterima Allah dan dilipatgandakan pahalanya hingga sangat besar di akhirat.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan sedekah, sekecil apapun, asal berasal dari sumber yang halal. Allah menerima dan memberkahi sedekah yang tulus, lalu melipatgandakan pahalanya bagi pelakunya secara luar biasa, bagai merawat anak kuda hingga menjadi sebesar gunung. Ini menjadi motivasi untuk konsisten berbuat baik dengan niat ikhlas dan rezeki yang baik.

# 22
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : بيْنَما رَجُلٌ يَمشِي بِفَلاةٍ مِن الأَرض ، فَسَمِعَ صَوتاً في سَحَابَةٍ : اسقِ حَدِيقَةَ فُلانٍ ، فَتَنَحَّى ذلكَ السَّحَابُ فَأَفْرَغَ مَاءَهُ في حَرَّةٍ ، فإِذا شرجة من تِلْكَ الشِّراجِ قَدِ اسْتَوعَبَتْ ذلِكَ الماءَ كُلَّهُ فَتَتَبَّعَ الماءَ ، فإِذا رَجُلٌ قَائِمٌ في حَدِيقَتِهِ يُحَوِّلُ المَاءَ بمِسحَاتِهِ ، فقال له : يا عَبْدَ اللَّهِ ما اسْمُكَ قال : فُلانٌ، للاسْمِ الَّذِي سَمِعَ في السَّحَابَةِ ، فقال له : يَا عَبْدَ اللَّهِ لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي ؟ فَقَال : إني سَمِعْتُ صَوتاً في السَّحَابِ الذي هذَا مَاؤُهُ يقُولُ : اسقِ حَدِيقَةَ فُلانٍ لإسمِكَ ، فما تَصْنَعُ فِيها ؟ فقال : أَما إِذْ قُلْتَ هَذَا ، فَإني أَنْظُرُ إِلى ما يَخْرُجُ مِنها ، فَأَتَّصَدَّقُ بثُلُثِه ، وآكُلُ أَنا وعِيالي ثُلُثاً ، وأَردُّ فِيها ثُلثَهُ . رواه مسلم . « الحَرَّةُ » الأَرضُ المُلْبَسَةُ حِجَارَةً سَودَاءَ : « والشَّرجَةُ » بفتح الشين المعجمة وإِسكان الراءِ وبالجيم : هِيَ مسِيلُ الماءِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan di sebuah tanah yang kering, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan: 'Siramilah kebun si fulan!' Maka awan itu bergerak menuju kebun dan menumpahkan airnya di tanah yang kering itu, lalu seluruh airnya mengalir ke sebuah saluran. Dia mengikuti aliran air itu, tiba-tiba melihat seorang laki-laki berdiri di kebunnya mengarahkan air ke seluruh bagian kebunnya. Dia bertanya: 'Wahai hamba Allah! Siapa namamu?' Laki-laki itu menjawab dengan nama yang dia dengar dari awan. Laki-laki itu balik bertanya: 'Wahai hamba Allah! Mengapa kamu menanyakan namaku?' Dia menjawab: 'Aku mendengar suara dari awan yang menurunkan hujan ini berkata: Siramilah kebun si fulan! Dan itu adalah namamu. Apa yang kamu lakukan terhadap kebun ini?' Dia menjawab: 'Jika kamu bertanya demikian, aku akan memberitahumu: Sesungguhnya aku memperhatikan hasil dari kebun ini, aku sedekahkan sepertiganya, aku dan keluargaku makan sepertiganya, dan aku kembalikan (untuk modal/tanaman) sepertiganya'." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menceritakan tentang seorang petani yang shaleh yang mengelola kebunnya dengan baik, menyedekahkan sebagian hasilnya, sehingga dia mendapat pertolongan dan keberkahan dari Allah secara langsung.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa amal saleh yang ikhlas, meski tersembunyi dari manusia, dilihat dan diberi balasan langsung oleh Allah. Nama seorang hamba disebut di langit karena ketakwaan dan kedermawanannya dalam mengelola kebunnya. Pelajaran utamanya adalah keutamaan bersedekah dengan harta yang halal serta pentingnya keikhlasan dalam beramal, yang dapat mendatangkan rezeki dan keberkahan dari arah yang tidak disangka-sangka.