✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 7

Keimanan yang benar dan tawakkal kepada Allah

✦ 18 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا اللَّه ورسوله وصدق اللَّه ورسوله، وما زادهم إلا إيمانا وتسليما ﴾ .سورة الأحزاب(22)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (sekutu musyrik) yang banyak (datang mengepung Madinah), mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu justru menambah keimanan mereka dan ketundukan mereka." (Al-Ahzab: 22).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa ujian dan musibah yang dihadapi seorang mukmin adalah bagian dari janji Allah. Sikap yang benar adalah mengimani dan membenarkan janji tersebut, sehingga ujian justru menguatkan keimanan dan ketundukan (taslim) kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan melemahkan hati.

# 2
وقال تعالى : ﴿ الذين قال لهم الناس إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم، فزادهم إيمانا، وقالوا: حسبنا اللَّه ونعم الوكيل. فانقلبوا بنعمة من اللَّه وفضل لم يمسسهم سوء، واتبعوا رضوان اللَّه، والله ذو فضل عظيم ﴾ .سورة آل عمران(173-174)
Terjemahan
Allah berfirman: "(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang (Nua'im bin Mas'ud Al-Asyja'i) yang mengatakan, 'Sesungguhnya orang-orang (Abu Sufyan dan lainnya) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.' Maka mereka kembali dengan membawa nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Ali 'Imran: 173-174).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa ujian dan ancaman justru dapat meningkatkan ketakwaan. Kunci menghadapinya adalah dengan tawakal sepenuhnya kepada Allah, mengucapkan "Hasbunallahu wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami). Janji Allah benar, siapa yang bertawakal dan kembali kepada-Nya akan dilindungi dan diberi karunia.

# 3
وقال تعالى : ﴿ وتوكل على الحي الذي لا يموت ﴾ .سورة الفرقان(58)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Hidup Kekal, Yang tidak mati." (Al-Furqan: 58).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tawakal harus ditujukan hanya kepada Allah SWT, karena Dialah satu-satunya Dzat yang Maha Hidup dan Kekal abadi. Sifat-Nya yang tidak pernah mati ini menjadi dasar keyakinan bahwa segala urusan yang diserahkan kepada-Nya pasti dalam penjagaan dan pengaturan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, seorang muslim diajak untuk melepaskan ketergantungan hati pada makhluk yang fana dan sepenuhnya bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan.

# 4
وقال تعالى : ﴿ وعلى اللَّه فليتوكل المؤمنون ﴾ .سورة إبراهيم(11)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman bertawakal." (Ibrahim: 11).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tawakal yang sejati hanya ditujukan kepada Allah semata. Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan, karena hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala urusan. Perintah ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus bersandar hati sepenuhnya kepada-Nya setelah melakukan ikhtiar, serta tidak menggantungkan harapan pada selain Allah. Dengan demikian, tawakal menjadi sumber ketenangan dan kekuatan hati dalam menghadapi kehidupan.

# 5
وقال تعالى : ﴿ فإذا عزمت فتوكل على اللَّه ﴾ .سورة آل عمران(159)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah." (Ali 'Imran: 159).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua tahap penting dalam mengambil keputusan. Pertama, melakukan musyawarah dan pertimbangan matang hingga terbentuk ketetapan hati (azam). Kedua, setelah tekad bulat diambil, kita harus berserah diri dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian, tawakal bukan berarti pasif tanpa perencanaan, tetapi justru menjadi puncak dari ikhtiar yang sungguh-sungguh.

# 6
وقال تعالى : ﴿ ومن يتوكل على اللَّه فهو حسبه ﴾ : أي كافيه.سورة الطلاق(3)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (At-Talaq: 3).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif, tetapi kepasrahan total setelah berusaha dengan disertai keyakinan penuh bahwa Allah Maha Mencukupi. Allah menjamin akan mencukupi segala kebutuhan, baik material maupun spiritual, bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh bersandar hanya kepada-Nya. Ini menjadi penenang hati dan penguat tekad dalam menghadapi segala ujian kehidupan.

# 7
وقال تعالى : ﴿ إنما المؤمنون الذين إذا ذكر اللَّه وجلت قلوبهم، وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا، وعلى ربهم يتوكلون ﴾ .سورة الأنفال(2)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) iman mereka dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." (Al-Anfal: 2).

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan tiga ciri utama orang beriman sejati. Pertama, hati yang takut dan khusyuk saat mengingat Allah. Kedua, keimanan yang terus bertambah ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an. Ketiga, ketergantungan hati yang total hanya kepada Allah semata. Intinya, iman yang hidup akan terlihat dari pengaruhnya dalam hati, keyakinan, dan amal perbuatan.

# 8
- فَالأوَّلَ : عَن ابْن عَبَّاسٍ رضي اللَّهُ عنهما قال : قال رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم : « عُرضَت عليَّ الأمَمُ ، فَرَأيْت النَّبِيَّ وَمعَه الرُّهيْطُ والنَّبِيَّ ومَعهُ الرَّجُل وَالرَّجُلانِ ، وَالنَّبِيَّ وليْسَ مَعهُ أحدٌ إذ رُفِعَ لِى سوادٌ عظيمٌ فظننتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي ، فَقِيلَ لِى: هذا موسى وقومه ولكن انظر إلى الأفق فإذا سواد عظيم فقيل لى انظر إلى الأفق الآخر فإذا سواد عظيم فقيل لي : هَذه أُمَّتُكَ ، ومعَهُمْ سبْعُونَ أَلْفاً يَدْخُلُونَ الْجَنَّة بِغَيْرِ حِسَابٍ ولا عَذَابٍ » ثُمَّ نَهَض فَدَخَلَ منْزِلَهُ ، فَخَاض النَّاسُ في أُولَئِكَ الَّذينَ يدْخُلُون الْجنَّةَ بِغَيْرِ حسابٍ وَلا عذابٍ ، فَقَالَ بعْضهُمْ : فَلَعَلَّهُمْ الَّذينَ صَحِبُوا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وقَال بعْضهُم : فَلعَلَّهُمْ الَّذينَ وُلِدُوا في الإسْلامِ ، فَلَمْ يُشْرِكُوا باللَّه شيئاً وذَكَروا أشْياء فَخرجَ عَلَيْهمْ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقَالَ : « مَا الَّذي تَخُوضونَ فِيهِ ؟ » فَأخْبَرُوهُ فَقَالَ : « هُمْ الَّذِينَ لا يرقُونَ، وَلا يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ يَتَطيَّرُون ، وَعَلَى ربِّهمْ يتَوكَّلُونَ » فقَامَ عُكَّاشةُ بنُ مُحْصِن فَقَالَ : ادْعُ اللَّه أنْ يجْعَلَني مِنْهُمْ ، فَقَالَ : « أنْت مِنْهُمْ » ثُمَّ قَام رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ : ادْعُ اللَّه أنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فقال : «سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ » متفقٌ عليه . « الرُّهَيْطُ بِضمِّ الرَّاء : تَصغيرِ رَهْط ، وهُم دُونَ عشرةِ أنْفُس . « والأفُقُ » : النَّاحِيةُ والْجانِب . « وعُكاشَةُ » بِضَمِّ الْعيْن وتَشْديد الْكافِ وَبِتَخْفيفها ، والتَّشْديدُ أفْصحُ .
Terjemahan
Hadits ke-1: Dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Diperlihatkan kepadaku umat-umat (terdahulu). Aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikut (kurang dari sepuluh orang). Nabi lain bersama satu atau dua orang pengikut. Dan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan manusia yang sangat banyak. Aku mengira mereka adalah umatku, tetapi dikatakan kepadaku, 'Ini adalah Nabi Musa dan kaumnya.' Lihatlah ke arah ufuk yang lain! Aku pun melihat sekumpulan manusia yang sangat banyak. Dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke ufuk yang lain!' Aku pun melihat sekumpulan manusia yang sangat banyak. Dikatakan kepadaku, 'Ini adalah umatmu, dan di antara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.'"
Kemudian beliau bangun dan masuk ke rumahnya. Orang-orang pun mulai memperbincangkan tentang siapa mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab itu. Sebagian berkata, 'Mungkin mereka adalah para sahabat Rasulullah.' Yang lain berkata, 'Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah sedikit pun.' Ada pula yang berpendapat lain. Kemudian Rasulullah ﷺ keluar dan bertanya, 'Apa yang sedang kalian perbincangkan?' Mereka pun memberitahukan perbincangan mereka. Beliau bersabda, 'Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah (dengan jampi), tidak melakukan tathayyur (menganggap sial karena burung atau lainnya), dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka.' Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, 'Doakanlah aku agar termasuk golongan mereka, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, 'Engkau termasuk golongan mereka.' Kemudian seorang lelaki lain berdiri dan berkata, 'Doakanlah aku agar termasuk golongan mereka.' Beliau bersabda, 'Ukasyah telah mendahuluimu.' (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ dari segi jumlah yang besar. Hikmahnya, pertama, kita harus bersyukur termasuk dalam umat yang banyak dan mendapat syafaatnya. Kedua, banyaknya pengikut bukan jaminan kebenaran, karena nabi-nabi terdahulu ada yang hanya sedikit pengikutnya. Ketiga, di akhir hadis (yang terpotong) disebutkan tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, menunjukkan bahwa kualitas keimanan dan ketakwaan, bukan sekadar jumlah, yang menentukan kemuliaan di sisi Allah.

# 9
الثَّانِي : عَنْ ابْن عبَّاس رضي اللَّه عنهما أيْضاً أَنَّ رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ يقُولُ : «اللَّهُم لَكَ أسْلَمْتُ وبِكَ آمنْتُ ، وعليكَ توَكَّلْتُ ، وإلَيكَ أنَبْتُ ، وبِكَ خاصَمْتُ . اللَّهمَّ أعُوذُ بِعِزَّتِكَ ، لا إلَه إلاَّ أنْتَ أنْ تُضِلَّنِي أنْت الْحيُّ الَّذي لا تمُوتُ ، وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يمُوتُونَ» متفقٌ عليه . وَهَذا لَفْظُ مُسْلِمٍ وَاخْتَصرهُ الْبُخَارِيُ .
Terjemahan
Kedua: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ biasa berdoa: "Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan hujjah-Mu aku berdebat (kepada musuh). Ya Allah, aku berlindung dengan kekuasaan-Mu, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, janganlah Engkau sesatkan aku. Hanya Engkau yang hidup kekal, sedangkan jin dan manusia akan mati semua." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Ini adalah lafaz dalam riwayat Muslim, dan Al-Bukhari meringkasnya).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan inti dari tauhid dan ketundukan seorang hamba. Doa ini mengandung ikrar penyerahan diri, keimanan, tawakal, dan taubat hanya kepada Allah. Permohonan perlindungan dari kesesatan dan pengakuan bahwa hanya Allah Yang Maha Kekal menguatkan keyakinan akan keesaan-Nya dan ketergantungan mutlak makhluk kepada-Nya.

# 10
الثَّالِثُ : عن ابْنِ عَبَّاس رضي اللَّه عنهما أيضاً قال : «حسْبُنَا اللَّهُ ونِعْمَ الْوكِيلُ قَالَهَا إبْراهِيمُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حينَ أُلْقِى في النَّارِ ، وَقالهَا مُحمَّدٌ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حيِنَ قَالُوا: «إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إيماناً وقَالُوا : حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوكِيلُ » رواه البخارى. وفي رواية له عن ابْنِ عَبَّاسٍ رضي اللَّه عنهما قال : « كَانَ آخِرَ قَوْل إبْراهِيمَ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حِينَ ألْقِي في النَّارِ « حسْبي اللَّهُ وَنِعمَ الْوَكِيلُ » .
Terjemahan
Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa kalimat "Hasbunallahu wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung) telah diucapkan oleh Ibrahim 'alaihis salam ketika dilemparkan ke dalam api, dan Muhammad ﷺ mengucapkannya ketika orang-orang berkata: "Sesungguhnya sekelompok orang (Abu Sufyan dan lainnya) telah berkumpul untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka." Peristiwa ini justru menambah keimanan mereka dan mereka berkata: "Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Ada satu riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ucapan terakhir Ibrahim 'alaihis salam ketika dilemparkan ke dalam api adalah "Hasbunallahu wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kalimat "Hasbunallahu wa ni'mal wakil" adalah kalimat tauhid dan tawakal yang agung, diucapkan oleh para nabi dalam kondisi terdesak. Ia menunjukkan sikap bersandar sepenuhnya kepada Allah, percaya bahwa perlindungan-Nya cukup. Ucapan ini membuahkan ketenangan dan menambah kekuatan iman, sebagaimana dialami oleh Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, dan para sahabat.

# 11
الرَّابعُ : عَن أبي هُرَيْرةَ رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أقْوَامٌ أفْئِدتُهُمْ مِثْلُ أفئدة الطَّيْرِ » رواه مسلم . قيل معْنَاهُ مُتوَكِّلُون ، وقِيلَ قُلُوبُهُمْ رقِيقةٌ .
Terjemahan
Keempat: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Akan masuk surga beberapa kelompok manusia, dan hati mereka seperti hati burung." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Sebagian ulama berkata: Maknanya adalah mereka bertawakkal kepada Allah (seperti burung yang bertawakkal kepada Allah). Dan yang lain berkata: Hati mereka lembut seperti hati burung.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan sifat utama penghuni surga, yaitu tawakkal dan kelembutan hati. Seperti burung yang pergi pagi hari dengan perut kosong namun percaya pada rezeki Allah, muslim sejati menghadirkan ketergantungan total kepada-Nya. Hikmahnya, keselamatan akhirat diraih dengan menyucikan hati dari sifat keras dan berat, serta mengisi jiwa dengan kepercayaan yang mendalam pada pengaturan Allah Ta'ala.

# 12
الْخَامِسُ : عنْ جَابِرٍ رضي اللَّهُ عنه أَنَّهُ غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قِبَلَ نَجْدٍ فَلَمَّا قَفَل رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَفَل مَعهُمْ ، فأدْركتْهُمُ الْقائِلَةُ في وادٍ كَثِيرِ الْعضَاهِ ، فَنَزَلَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، وتَفَرَّقَ النَّاسُ يسْتظلُّونَ بالشجر ، ونَزَلَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم تَحْتَ سمُرَةٍ ، فَعَلَّقَ بِهَا سيْفَه ، ونِمْنَا نوْمةً ، فإذا رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يدْعونَا ، وإِذَا عِنْدَهُ أعْرابِيُّ فقَالَ : « إنَّ هَذَا اخْتَرَطَ عَلَيَّ سيْفي وأَنَا نَائِمٌ ، فاسْتيقَظتُ وَهُو في يدِهِ صَلْتاً ، قالَ : مَنْ يَمْنَعُكَ منِّي ؟ قُلْتُ : اللَّه ثَلاثاً » وَلَمْ يُعاقِبْهُ وَجَلَسَ . متفقٌ عليه . وفي رواية : قَالَ جابِرٌ : كُنَّا مع رسول اللِّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بذاتِ الرِّقاعِ ، فإذَا أتينا على شَجرةٍ ظليلة تركْنَاهَا لرسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَجاء رجُلٌ من الْمُشْرِكِين ، وسيف رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُعَلَّقٌ بالشَّجرةِ ، فاخْترطهُ فقال : تَخَافُنِي ؟ قَالَ : « لا » قَالَ : فمَنْ يمْنَعُكَ مِنِّي ؟ قال: «اللَّه». وفي رواية أبي بكرٍ الإِسماعيلي في صحيحِهِ : قال منْ يمْنعُكَ مِنِّي ؟ قَالَ : « اللَّهُ » قال: فسقَطَ السَّيْفُ مِنْ يدِهِ ، فأخذ رسَول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم السَّيْفَ فَقال : « منْ يمنعُكَ مِنِّي ؟ » فَقال : كُن خَيْرَ آخِذٍ ، فَقَالَ : « تَشهدُ أنْ لا إلَه إلا اللَّهُ ، وأنِّي رسولُ اللَّه ؟ » قال : لا، ولكِنِّي أعاهِدُك أن لا أقَاتِلَكَ ، ولا أكُونَ مع قوم يقاتلونك ، فَخلَّى سبِيلهُ ، فَأتى أصحابَه فقَالَ : جِئتكُمْ مِنْ عِندِ خيرِ النَّاسِ . قَولُهُ : « قَفَل » أيْ : رجع . و « الْعِضَاهُ » الشَّجر الذي لَه شَوْك . و «السَّمُرةُ » بِفَتْحِ السينِ وضمِّ الْميمِ : الشَّجَرةُ مِن الطَّلْحِ ، وهِي الْعِظَام منْ شَجرِ الْعِضاهِ . و « اخْترطَ السَّيْف » أي : سلَّهُ وهُو في يدِهِ . « صلتاً » أيْ : مسْلُولاً ، وهُو بِفْتح الصادِ وضمِّها .
Terjemahan
Kelima: Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa sesungguhnya dia pernah ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ di daerah Najd. Ketika Rasulullah ﷺ pulang, dia pun pulang bersamanya. Ketika siang hari, mereka sampai di sebuah lembah yang penuh dengan pohon berduri. Rasulullah ﷺ berhenti untuk istirahat, dan orang-orang (yang bersama beliau) pun berpencar untuk beristirahat di bawah naungan pohon. Rasulullah ﷺ beristirahat di bawah sebuah pohon dan menggantungkan pedangnya di pohon itu. Ketika kami sedang tidur, tiba-tiba Rasulullah ﷺ memanggil kami. Kami pun mendatangi beliau. Saat itu ada seorang Arab badui bersama beliau. Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang ini telah mengambil pedangku dan mengancamku saat aku sedang tidur. Ketika aku terbangun, pedangku telah terhunus dan berada di tangannya. Dia berkata kepadaku: 'Siapa yang dapat melindungimu dariku?' Aku menjawab: 'Allah,' sebanyak tiga kali." Saat itu, beliau ﷺ tidak menghukum orang itu, dan beliau duduk. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Ada satu riwayat bahwa Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Dzatur Riqa'. Ketika kami sampai di sebuah pohon yang rindang, kami menempatkan Rasulullah ﷺ di sana. Seorang laki-laki musyrik datang kepada beliau. Saat itu, pedang Rasulullah ﷺ tergantung di pohon. Orang itu mengambil pedang tersebut dan bertanya: 'Apakah kamu tidak takut kepadaku?' Beliau ﷺ menjawab: 'Tidak.' Orang itu bertanya lagi: 'Siapa yang dapat melindungimu dariku?' Beliau ﷺ menjawab: 'Allah.'"
Ada satu riwayat dari Abu Bakar Al-Isma'ili dalam kitab Shahihnya: "Orang itu bertanya: 'Siapa yang dapat melindungimu?' Beliau ﷺ menjawab: 'Allah.'" Dia (perawi) berkata: "Seketika itu pedang terjatuh dari tangan orang itu. Rasulullah ﷺ mengambil pedang itu dan bertanya kepada orang itu: 'Siapa yang dapat melindungimu dariku?' Orang itu berkata: 'Berilah aku maaf.' Beliau bertanya: 'Apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah?' Orang itu menjawab: 'Tidak! Tetapi aku berjanji: Aku tidak akan memerangimu, dan juga tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangimu.'"

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya sikap waspada dan persiapan, bahkan dalam keadaan istirahat. Rasulullah ﷺ menggantungkan pedangnya di pohon, menunjukkan kesiagaan menghadapi potensi bahaya. Selain itu, kisah ini juga menggambarkan kemuliaan akhlak dan kedekatan beliau dengan para sahabat, di mana beliau sendiri yang membangunkan mereka dengan penuh kelembutan.

# 13
السادِسُ : عنْ عمرَ رضي اللَّهُ عنه قال : سمعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ: « لَوْ أنَّكم تتوكَّلونَ على اللَّهِ حقَّ تَوكُّلِهِ لرزَقكُم كَما يرزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِماصاً وترُوحُ بِطَاناً» رواه الترمذي ، وقال : حديثٌ حسنٌ . معْناهُ تَذْهَبُ أوَّلَ النَّهَارِ خِماصاً : أي ضَامِرةَ الْبُطونِ مِنَ الْجُوعِ ، وترْجِعُ آخِرَ النَّهَارِ بِطَاناً : أيْ مُمْتَلِئةَ الْبُطُونِ .
Terjemahan
Keenam: Dari Umar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya kalian bertawakkal (dan berserah diri) kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung-burung itu keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Maknanya adalah burung-burung keluar dari sarang pada pagi hari dengan perut kosong karena lapar, dan pulang pada sore hari dengan perut kenyang.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal yang sejati bukan berarti bermalas-malasan, tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh seperti burung yang pergi mencari rezeki di pagi hari. Allah menjamin rezeki bagi hamba-Nya yang menggabungkan ikhtiar lahiriah dengan ketergantungan hati sepenuhnya kepada-Nya. Dengan demikian, kunci rezeki adalah sinergi antara usaha maksimal dan keyakinan penuh akan jaminan Allah.

# 14
السَّابِعُ : عن أبي عِمَارةَ الْبراءِ بْنِ عازِبٍ رضي اللَّه عنهما قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يا فُلان إذَا أَويْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُل : اللَّهمَّ أسْلَمْتُ نفْسي إلَيْكَ ، ووجَّهْتُ وجْهِي إِلَيْكَ ، وفَوَّضْتُ أمري إِلَيْكَ ، وألْجأْتُ ظهْرِي إلَيْكَ . رغْبَة ورهْبةً إلَيْكَ ، لا ملجَأَ ولا منْجى مِنْكَ إلاَّ إلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذي أنْزَلْتَ، وبنبيِّك الَّذي أرْسلتَ ، فَإِنَّكَ إنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وإنْ أصْبحْتَ أصَبْتَ خيْراً » متفقٌ عليه . وفي رواية في الصَّحيحين عن الْبرَاء قال : قال لي رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إذَا أتَيْتَ مضجعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ للصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأيْمَنِ وقُلْ : وذَكَر نحْوَه ثُمَّ قَالَ وَاجْعَلْهُنَّ آخرَ ما تَقُولُ » .
Terjemahan
Ketujuh: Dari Abu Umamah Al-Bahili bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Bahili! Ketika kamu sampai di tempat tidurmu, bacalah doa: 'Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan harapan dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan dari (siksa)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus.'"
Jika kamu membaca doa itu lalu kamu mati pada malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah (suci, dalam Islam). Tetapi jika kamu belum mati, kamu akan bangun di pagi hari dalam keadaan baik. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Ada satu riwayat dalam kedua kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari Al-Bahili bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika kamu sampai di tempat tidurmu, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah pada sisi kananmu, lalu bacalah (doa seperti di atas)." Dia menyebutkan hadits tersebut secara lengkap seperti hadits di atas. Kemudian dia menambahkan: "Jadikanlah doa ini sebagai ucapan terakhirmu."

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan doa sebelum tidur yang intinya adalah penyerahan diri total kepada Allah. Dengan mengikrarkan ketundukan, penyerahan urusan, dan keimanan kepada kitab serta rasul-Nya, seorang muslim mengakhiri hari dalam keadaan fitrah. Doa ini juga mengandung makna rasa harap dan takut hanya kepada-Nya, sebagai bentuk tauhid yang sempurna.

# 15
الثَّامِنُ : عنْ أبي بَكْرٍ الصِّدِّيق رضي اللَّه عنه عبدِ اللَّه بنِ عثمانَ بنِ عامِرِ بنِ عُمَرَ ابن كعب بن سعد بْنِ تَيْمِ بْن مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْن لُؤيِّ بْنِ غَالِب الْقُرَشِيِّ التَّيْمِيِّ رضي اللَّه عنه وهُو وأبُوهُ وَأُمَّهُ صحابَةٌ ، رضي اللَّه عنهم قال : نظرتُ إلى أقْدَامِ المُشْرِكِينَ ونَحنُ في الْغَارِ وهُمْ علَى رؤوسنا فقلتُ : يا رسولَ اللَّهِ لَوْ أَنَّ أحَدَهمْ نَظرَ تَحتَ قَدميْهِ لأبصرَنا فقال: « مَا ظَنُّك يا أبا بكرٍ باثْنْينِ اللَّهُ ثالثُِهْما » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Kedelapan: Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu (Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi), dia dan ayahnya, juga ibunya, semuanya adalah sahabat Nabi. Dia berkata: Ketika kami (Abu Bakar dan Nabi) berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik yang berada di atas kami. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, pasti dia akan melihat kita." Beliau ﷺ bersabda: "Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu tentang dua orang yang ketiganya adalah Allah (siapa yang dapat mencelakai mereka)?" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang keyakinan dan tawakal yang sempurna kepada Allah. Di saat genting, Rasulullah ﷺ menenangkan Abu Bakar dengan mengingatkan bahwa pertolongan dan penjagaan Allah selalu menyertai hamba-Nya yang beriman. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam setiap kesulitan, kita harus percaya bahwa Allah selalu bersama kita, memberikan perlindungan dan jalan keluar.

# 16
التَّاسِعُ : عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ سلَمَةَ ، واسمُهَا هِنْدُ بنْتُ أبي أُمَيَّةَ حُذَيْفةَ المخزومية رضي اللَّهُ عنها أن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ إذَا خَرجَ مِنْ بيْتِهِ قالَ : « بسم اللَّهِ، توكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أعوذُ بِكَ أنْ أَضِلَّ أو أُضَلَّ ، أَوْ أَزِلَّ أوْ أُزلَّ ، أوْ أظلِمَ أوْ أُظلَم ، أوْ أَجْهَلَ أو يُجهَلَ عَلَيَّ » حديثٌ صحيحٌ رواه أبو داود والتِّرمذيُّ وَغيْرُهُمَا بِأسانِيدَ صحيحةٍ . قالَ التِّرْمذي : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ ، وهذا لَفظُ أبي داودَ .
Terjemahan
Kesembilan: Dari Ummul Mu'minin Ummu Salamah (namanya adalah Hindun) binti Abu Umayyah Hudzaifah Al-Makhzumiyyah radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Sesungguhnya Nabi ﷺ ketika keluar dari rumahnya, beliau membaca doa: "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari menzalimi atau dizalimi, dan dari berbuat kebodohan atau dibodohi." (Hadits ini hasan shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya dengan sanad yang kuat. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan. Ini adalah lafaz dalam riwayat Abu Dawud).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memulai aktivitas dengan menyebut nama Allah dan bertawakkal. Doa Nabi ﷺ ini berisi permohonan perlindungan dari berbagai bentuk kesesatan, kezaliman, dan kebodohan, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari orang lain. Ini menunjukkan sikap rendah hati, kewaspadaan, dan ketergantungan hanya kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan.

# 17
الْعَاشِرُ : عنْ أنسٍ رضيَ اللَّهُ عنه قال : قال : رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ قَالَ يعنِي إذا خَرَج مِنْ بيْتِهِ : بِسْم اللَّهِ توكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، ولا حوْلَ ولا قُوةَ إلاَّ بِاللَّهِ ، يقالُ لهُ هُديتَ وَكُفِيت ووُقِيتَ ، وتنحَّى عنه الشَّيْطَانُ » رواه أبو داودَ والترمذيُّ ، والنِّسائِيُّ وغيرُهمِ : وقال الترمذيُّ : حديثٌ حسنٌ ، زاد أبو داود : « فيقول : يعْنِي الشَّيْطَانَ لِشَيْطانٍ آخر : كيْفَ لك بِرجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفي وَوُقِى»؟ .
Terjemahan
Kesepuluh: Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa membaca (ketika keluar dari rumahnya): 'Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah,' maka dikatakan kepadanya: 'Kamu telah diberi petunjuk, kamu telah dicukupi dan dilindungi,' dan setan pun menjauh darinya." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan lainnya). Abu Dawud menambahkan: "Setan berkata kepada setan yang lain: 'Apa yang dapat kamu lakukan terhadap seorang laki-laki yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?'"

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan doa ketika keluar rumah. Dengan mengawali aktivitas dengan menyebut nama Allah, bertawakkal, dan mengakui bahwa semua kekuatan berasal dari-Nya, seorang muslim akan mendapatkan jaminan bimbingan, kecukupan rezeki, dan perlindungan. Doa ini juga menjadi sebab dijauhkannya gangguan setan, karena setan mengakui ketidakberdayaannya menghadapi orang yang dilindungi Allah.

# 18
وَعنْ أنَسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : كَان أخوانِ عَلَى عهْدِ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وكَانَ أَحدُهُما يأْتِي النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، والآخَرُ يحْتَرِفُ ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أخَاهُ للنبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : « لَعلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ » رواه التِّرْمذيُّ بإسناد صحيح على شرط مسلمٍ . « يحْترِفُ » : يكْتَسِب ويَتَسبَّبُ .
Terjemahan
Dan dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi ﷺ. Salah seorang dari mereka mendatangi Nabi ﷺ (untuk menuntut ilmu), sedangkan yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda: "Mudah-mudahan kamu diberi rezeki karena dia." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad shahih menurut syarat Muslim).
"Bekerja" artinya berusaha dan mencari sebab.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu agama adalah suatu bentuk usaha yang mulia dan bernilai ibadah. Nabi ﷺ tidak menyalahkan saudara yang fokus belajar, bahkan menyatakan bahwa saudara yang bekerja pun bisa mendapat bagian rezeki dan pahala karena ikut menafkahinya. Ini menunjukkan keutamaan mendukung para penuntut ilmu, serta bahwa rezeki tidak hanya datang dari usaha fisik semata, tetapi juga dapat diperoleh melalui keberkahan ilmu dan orang yang shaleh.