✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
Pribadi

Rutinitas Coding Saya yang Tidak Terlalu Glamor

· Diperbarui 17 Des 2025 · 0 komentar · ± 3 menit baca · 👁 52 dilihat

Kalau kamu bayangkan seorang programmer itu kerja di kantor modern dengan meja standing desk, monitor ultrawide, dan kopi artisan di sebelah laptopnya — rutinitas saya jauh dari gambaran itu.

Saya coding dari rumah, di Kawunganten. Setup-nya sederhana: laptop, meja kayu biasa, dan kadang kipas angin kalau siang terlalu panas. Minumannya teh atau kopi sachet — tidak ada espresso single origin di sini.

Tapi justru dari setup yang serba biasa itulah semua proyek yang ada di blog ini lahir. Jadi mungkin ada baiknya saya ceritakan bagaimana rutinitas harian saya sebenarnya.

Pagi: Bukan Jam 5 Subuh Macam Konten Motivasi

Saya tidak percaya dengan mitos "bangun jam 5 pagi, langsung coding tiga jam sebelum dunia terbangun." Itu mungkin cocok untuk sebagian orang, tapi bukan saya.

Biasanya saya mulai aktif coding setelah sarapan dan urusan rumah selesai. Sekitar jam 8 atau 9 pagi. Pertama yang saya buka biasanya bukan IDE, tapi notes — catatan kecil berisi apa yang sedang dikerjakan dan apa yang harus dilanjutkan hari ini. Tanpa itu saya sering lupa progress terakhir, apalagi kalau kemarin berhentinya di tengah-tengah debug yang panjang.

Sesi Fokus, Bukan Marathon

Saya tidak bisa coding delapan jam non-stop. Tidak ada yang bisa, menurut saya — atau kalau pun bisa, hasilnya tidak optimal di jam-jam terakhir. Saya biasanya kerja dalam sesi-sesi: satu setengah sampai dua jam fokus, lalu istirahat sebentar. Keluar dari depan layar, minum sesuatu, jalan-jalan sebentar di sekitar rumah.

Jeda itu bukan buang waktu. Sering kali justru di waktu jeda itulah solusi dari masalah yang tadi stuck tiba-tiba muncul sendiri. Otak perlu waktu untuk memproses di background.

Sore Biasanya untuk Nulis atau Baca

Setelah makan siang dan ngantuk sedikit reda, sesi sore saya biasanya tidak untuk coding yang berat. Lebih ke nulis artikel seperti ini, baca dokumentasi, atau eksplorasi hal-hal baru yang belum saya coba. Coding yang membutuhkan konsentrasi tinggi — seperti debug error yang kompleks atau merancang arsitektur fitur baru — saya lebih suka lakukan di pagi hari waktu kepala masih segar.

Malam: Tergantung Mood

Kadang malam saya coding lagi, kadang tidak. Kalau ada sesuatu yang sedang menarik dan otak masih mau diajak mikir, lanjut. Kalau sudah capek, stop. Saya belajar untuk tidak memaksakan diri — kode yang ditulis dalam kondisi lelah biasanya lebih banyak menimbulkan bug baru dari pada menyelesaikan masalah lama.

Tidak Selalu Produktif, dan Itu Tidak Apa-Apa

Ada hari-hari di mana saya buka laptop, staring ke layar selama setengah jam, dan tidak menghasilkan apa-apa yang berarti. Bukan karena malas — tapi entah kenapa mood dan fokus tidak mau datang hari itu.

Dulu saya sering guilty soal ini. Merasa seharusnya bisa lebih produktif, seharusnya bisa push lebih keras. Sekarang saya sudah lebih bisa menerima ritme itu. Ada hari yang sangat produktif, ada hari yang biasa-biasa, ada hari yang zonk. Yang penting tidak berhenti terlalu lama.

Coding itu bukan lari sprint, tapi maraton panjang. Sudah 17 tahun lebih saya ada di jalur ini, dan yang membuat saya bertahan bukan karena setiap hari selalu semangat — tapi karena meski tidak selalu semangat, saya tetap kembali ke depan laptop keesokan harinya.

Bagaimana rutinitas kerjamu? Apakah kamu tipe yang bisa fokus berjam-jam atau lebih cocok dengan sesi-sesi pendek? Cerita di komentar — saya selalu penasaran bagaimana orang lain mengatur ritme kerjanya.


Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Komentar