✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
Pribadi

Dari Xtgem ke Laravel, 17 Tahun Perjalanan yang Tidak Direncanakan

· Diperbarui 14 Okt 2025 · 0 komentar · ± 4 menit baca · 👁 56 dilihat

Kalau ada yang tanya kapan saya mulai belajar coding, saya akan jawab: tahun 2008. Dan kalau mereka tanya belajar dari mana — mereka biasanya tidak kenal tempatnya. Bukan Udemy, bukan YouTube, bukan bootcamp. Namanya xtgem. Platform buat bikin website lewat HP Nokia.

Waktu itu saya masih muda, tinggal di Kawunganten, dan punya HP yang layarnya kecil — tapi sudah bisa buka internet, meski lambatnya minta ampun. GPRS. Bukan 4G, bukan 3G. GPRS. Yang loading satu halaman bisa butuh beberapa menit kalau lagi apes.

Tapi justru dari situlah semuanya dimulai.

Xtgem dan Wen.ru — Sekolah Pertama Saya

Xtgem itu platform mobile website builder. Kita bisa bikin halaman web langsung dari HP — isi konten, ganti warna background, pasang link, dan yang paling seru: bisa sisipkan kode HTML manual. Dari situ saya pertama kali kenal tag <b>, <font color>, <marquee> — yang terakhir itu teks berjalan, sempat jadi kebanggaan waktu itu, haha.

Selain xtgem, ada juga wen.ru. Platform serupa, tapi nuansanya lebih ke komunitas. Di sana banyak orang berbagi kode-kode HTML dan CSS sederhana. Saya sering copy-paste kode orang lain, lalu iseng ganti warnanya, ganti teksnya, sampai pelan-pelan ngerti logikanya.

Proses belajarnya sangat tidak terstruktur. Tidak ada kurikulum, tidak ada guru, tidak ada urutan yang jelas. Saya belajar dari rasa penasaran — lihat sesuatu yang menarik di website orang lain, penasaran cara buatnya, cari tahu sendiri. Kalau ketemu jalan buntu ya berhenti dulu, lanjut besok, atau minggu depan, atau bulan depan.

Pindah ke PHP, Masih Pakai HP

Entah tahun berapa persisnya, saya mulai kenal PHP. Waktu itu ada forum-forum mobile — yang tampilannya ringan, bisa dibuka di HP lawas — yang banyak share script PHP sederhana. Guestbook, counter pengunjung, form sederhana. Saya coba pasang, tidak ngerti cara kerjanya, tapi senang kalau berhasil jalan.

Lama-lama mulai penasaran juga dengan logika di baliknya. Kenapa harus pakai tanda titik koma? Kenapa ada yang pakai kutip satu, ada yang kutip dua? Apa bedanya echo sama print? Pertanyaan-pertanyaan kecil itu yang pelan-pelan mendorong saya untuk benar-benar belajar, bukan sekadar copy-paste.

Susahnya belajar di era itu: dokumentasi yang bagus hampir semuanya berbahasa Inggris. Sementara kemampuan bahasa Inggris saya waktu itu ya... cukup untuk baca judul dan nebak-nebak isi paragrafnya. Jadi saya banyak belajar dari trial and error, dari forum lokal yang penuh typo dan kode yang kadang tidak lengkap, dan dari insting sendiri yang makin terasah seiring waktu.

Warnet, Laptop Bekas, dan Seterusnya

Warnet jadi tempat "upgrade" belajar saya. Kalau ada proyek yang butuh layar lebih besar atau koneksi lebih cepat, saya ke warnet. Per jam bayar, jadi harus efisien — tidak boleh kebanyakan buka YouTube atau hal yang tidak perlu. Buka editor, buka dokumentasi, fokus.

Laptop sendiri baru ada beberapa tahun kemudian. Bekas, layarnya retak di sudut, baterainya tidak tahan lama. Tapi itu milestone penting — dari situ bisa install XAMPP, bisa test PHP di localhost, bisa belajar lebih sistematis.

Dari situ nambah terus. MySQL, kemudian framework — pertama CodeIgniter, lalu Laravel. Setiap naik level rasanya seperti masuk ruangan baru yang isinya lebih banyak, lebih rumit, tapi juga lebih seru.

17 Tahun, Tidak Terasa

Kalau dihitung dari 2008 sampai sekarang, sudah 17 tahun lebih saya berkutat dengan hal ini. Tidak punya latar belakang IT formal, tidak pernah kuliah jurusan komputer, tidak pernah ikut bootcamp berbayar. Semua dari jalan yang muter-muter, sering salah, sering frustrasi, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Sekarang saya bisa bikin blog ini dari nol — database-nya, panel admin-nya, tampilan depannya, semua dari tangan sendiri. Bisa bikin aplikasi Android yang sudah ada di Play Store. Bisa nulis kode PHP yang dulu kelihatannya seperti bahasa alien.

Perjalanan itu tidak mulus. Tapi kalau mulus, mungkin tidak seru.

Kamu yang sekarang lagi belajar coding — dari platform apapun, dengan alat apapun — ceritakan dong perjalananmu di komentar. Saya penasaran, di era sekarang yang banyak sumbernya, mulai dari mana kalian biasanya?


Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Komentar