Pertanyaan ini sudah beberapa kali muncul di kolom komentar maupun dari teman-teman yang tahu saya punya blog: "Kenapa tidak pakai WordPress saja? Kan lebih gampang."
Jawaban pendeknya: ya, memang lebih gampang. Tapi itu bukan yang saya cari.
WordPress Itu Bagus, Saya Tidak Membantah
Saya tidak akan pura-pura WordPress itu jelek β karena tidak. WordPress itu luar biasa. Komunitas besarnya, ribuan plugin gratis, tema yang tinggal pasang, dukungan SEO yang sudah matang. Untuk kebutuhan umum, sulit cari tandingannya.
Tapi justru karena itu juga WordPress terasa terlalu besar untuk kebutuhan saya. Blog ini awalnya murni tempat saya nulis-nulis saja. Tidak butuh WooCommerce, tidak butuh plugin membership, tidak butuh visual builder yang berat. Kalau saya pasang WordPress, sembilan puluh persen fiturnya tidak akan pernah saya sentuh.
Dan satu hal yang sering bikin saya tidak nyaman dengan WordPress β saya tidak benar-benar paham apa yang terjadi di baliknya. Kalau ada error, saya harus cari di forum, tebak-tebak plugin mana yang konflik, atau tunggu update. Saya tidak bisa masuk ke inti masalahnya langsung.
Bikin Sendiri, Ngerti Sendiri
Itu alasan utamanya. Kalau saya yang bikin, saya yang tahu setiap barisnya. Kalau ada bug, saya bisa langsung buka file-nya dan debug. Tidak perlu cari plugin tambahan, tidak perlu khawatir kompatibilitas versi, tidak ada kode orang lain yang berjalan di background tanpa saya tahu fungsinya.
Blog ini dibangun dengan PHP murni β tanpa framework besar, tanpa template engine yang berat. Database MySQL, query langsung, tidak ada ORM yang berlapis-lapis. Mungkin terdengar primitif bagi sebagian orang, tapi buat saya justru terasa bersih dan mudah dikontrol.
Panel admin-nya juga saya tulis sendiri. Form input artikel, moderasi komentar, manajemen kategori, statistik pengunjung β semuanya dari nol. Ada yang tanya, "Buang waktu tidak tuh?" Mungkin iya kalau diukur dari standar efisiensi. Tapi saya justru menikmati prosesnya.
Bukan Tanpa Masalah
Jujur saja, ada beberapa hal yang lebih susah kalau bikin sendiri. SEO misalnya β saya harus riset dan implementasi sendiri meta tag, sitemap, schema markup, dan sebagainya. Tidak ada plugin yang langsung beres dengan tiga klik.
Keamanan juga jadi tanggung jawab penuh. Tidak ada tim yang secara rutin rilis security patch. Kalau ada celah, saya harus nemuin dan tambal sendiri. Itu beban tambahan yang tidak boleh dianggap remeh.
Dan tentu saja, waktu pengembangannya jauh lebih lama. Fitur yang di WordPress tinggal install plugin lima menit, di sini bisa butuh beberapa hari untuk dibangun dari awal. Itu pilihan yang saya buat dengan sadar.
Tapi Ada yang Tidak Ternilai
Setiap fitur di blog ini ada karena saya yang memutuskan perlu. Tidak ada fitur yang hadir karena "bawaan theme" atau karena plugin defaultnya begitu. Kalau saya ingin halaman resep masakan, saya bikin halaman resep masakan. Kalau saya ingin fitur baca kitab online, saya bikin fitur itu. Tidak ada keterbatasan dari struktur orang lain.
Dan yang paling saya syukuri: setiap kali ada yang error, saya tidak panik. Saya tahu harus buka file mana, cek baris berapa, dan biasanya dalam waktu singkat sudah ketemu masalahnya. Itu rasa percaya diri yang tidak bisa dibeli dari plugin apapun.
Blog ini mungkin tidak se-canggih situs-situs besar yang dibangun oleh tim developer profesional. Tapi ia milik saya sepenuhnya β setiap barisnya, setiap keputusan desainnya, setiap fiturnya. Dan buat saya yang belajar coding otodidak dari xtgem dan wen.ru sejak 2008, itu adalah pencapaian yang saya banggakan.
Kalau kamu juga punya pengalaman bikin platform sendiri, atau sebaliknya punya argumen kuat kenapa WordPress lebih baik β saya sungguh ingin dengar pendapatmu di kolom komentar. Diskusi seperti ini selalu menarik buat saya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.
Tulis Komentar