Orang-orang sering heran kalau tahu saya dari desa. "Loh, dari desa tapi bisa coding?" — kira-kira begitu reaksinya. Seolah-olah desa dan teknologi itu dua hal yang tidak mungkin ketemu di satu tempat.
Saya dari Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah. Kalau kamu buka maps dan cari "Kawunganten Cilacap", itu beneran ada. Desa yang tidak terlalu besar, tidak terlalu ramai, tidak ada mall atau kafe kekinian di sini. Tapi tempat inilah yang membentuk saya jadi seperti sekarang — termasuk cara saya berpikir soal banyak hal.
Serba Terbatas, Tapi Justru Itu yang Melatih
Waktu kecil dulu, akses ke segala sesuatu memang terbatas. Bacaan terbatas, tontonan terbatas, dan tentu saja akses informasi jauh lebih terbatas dibanding anak-anak kota. Tidak ada toko buku besar di dekat rumah. Internet baru saya kenal setelah lumayan dewasa, dan itupun harus ke warnet dulu.
Tapi justru keterbatasan itu yang melatih satu hal: kreativitas dalam keterbatasan. Kalau tidak bisa beli sesuatu, ya bikin sendiri. Kalau tidak bisa belajar dari guru, ya cari cara lain. Mentalitas itu yang tanpa saya sadari kebawa sampai ke dunia coding.
Waktu saya mulai iseng di xtgem tahun 2008, saya tidak punya akses ke kursus coding, tidak ada komunitas lokal yang bisa dimintai tolong, tidak ada teman yang bisa diajak diskusi soal PHP. Yang ada hanya HP Nokia, paket data yang mahal, dan rasa penasaran yang — syukurlah — tidak pernah habis.
Bahasa Ngapak dan Logika Coding
Lucu juga kalau dipikir-pikir — bahasa ngapak yang kami pakai sehari-hari di sini punya struktur yang cukup lugas. Ora ya ora, iya ya iya. Tidak banyak basa-basi. Dan mungkin itu sedikit banyak membentuk cara saya nulis kode juga: kalau bisa pendek, tidak perlu dipanjang-panjangin. Kalau bisa langsung, tidak perlu muter-muter.
Saya tidak tahu ini teori yang valid secara akademis atau tidak. Tapi saya percaya lingkungan tempat kita tumbuh membentuk cara kita berpikir, termasuk dalam hal teknis.
Masih di Sini, dan Tidak Menyesal
Beberapa teman yang dulu sama-sama besar di sini sudah pindah ke kota — Jakarta, Semarang, Purwokerto. Ada yang kerja di pabrik, ada yang buka usaha, ada yang sudah tidak ketahuan kabarnya. Sementara saya masih di sini, di Kawunganten, dengan laptop dan koneksi internet yang sekarang sudah jauh lebih layak dari era GPRS dulu.
Saya tidak pernah merasa harus pindah ke kota untuk bisa berkarya. Coding bisa dilakukan dari mana saja — dari kamar sempit di pinggir sawah sekalipun. Yang penting ada listrik, ada internet, dan ada keinginan untuk terus belajar.
Blog ini, kawunganten.com, sengaja saya namai dari nama desa ini. Bukan cuma karena mudah diingat, tapi karena saya ingin ada jejak digital bahwa dari tempat yang dianggap "pinggiran" ini pun bisa lahir sesuatu yang lumayan.
Kamu dari mana? Apakah tempat asalmu juga punya pengaruh besar ke cara kamu kerja atau belajar? Cerita di komentar ya — saya sungguh penasaran.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.
Tulis Komentar