Pengantar
Hadits ini mengajarkan tentang adab atau etika dalam berpakaian, khususnya dalam memakai dan melepas sandal/sepatu. Hal ini merupakan bagian dari sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan kesempurnaan akhlak dan keindahan dalam setiap tindakan. Adab memulai dengan anggota tubuh bagian kanan merupakan prinsip umum dalam Islam yang diterapkan pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah, sahabat yang terkenal dengan banyaknya riwayat hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.Kosa Kata
Intanala (انتعل): Memakai sandal atau sepkeizer Liyabda (فليبدأ): Hendaklah dimulai/hendaklah mendahulukan Naza'a (نزع): Melepas Al-Yumna (اليمنى): Yang kanan Asyysimal (الشمال): Yang kiri Tunalu (تُنْعَل): Dipakaikan sandal Tunzau (تُنْزَعُ): Dilepaskan Al-Adab (الأدب): Etika, tata krama, sopan santunKandungan Hukum
Hadits ini berisi hukum sunah (petunjuk yang sangat dianjurkan) berkaitan dengan: 1. Urutan memulai memakai sandal/sepatu dari kaki kanan 2. Urutan melepas dimulai dari kaki kiri 3. Prinsip umum bahwa anggota tubuh bagian kanan didahulukan dalam berbagai aktivitas 4. Pentingnya etika dan adab dalam setiap aktivitas sehari-hari, sekecil apapunPandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Mazhab Hanafi mengikuti hadits ini dan menganggap tindakan tersebut sebagai sunah (dianjurkan). Abu Yusuf dan Muhammad Al-Hasan, murid Abu Hanifah, menyatakan bahwa memulai dengan anggota kanan merupakan sunah yang konsisten dalam berbagai aktivitas. Imam Abu Hanifah sendiri menekankan pentingnya mengikuti sunah Nabi dalam segala hal, termasuk hal-hal yang tampak sepele. Mereka menilai hadits ini sebagai panduan adab yang harus diikuti oleh seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Maliki:
Imam Malik menerima hadits ini dan menganggapnya sebagai panduan adab yang baik untuk diikuti. Dalam kitab Al-Mudawwanah, dijelaskan bahwa mengikuti sunah Rasulullah dalam setiap hal, baik besar maupun kecil, adalah bentuk dari ihsan dan kesempurnaan agama. Maliki menekankan bahwa hadits-hadits semacam ini menunjukkan perhatian Islam terhadap detail dan kesempurnaan dalam setiap aspek kehidupan. Mengikuti urutan kanan-kiri dianggap sebagai bagian dari pembentukan karakter Muslim yang baik.
Syafi'i:
Imam Syafi'i sangat memperhatikan hadits-hadits tentang adab dan sunah. Beliau menganggap hadits ini sebagai dalil untuk menerapkan prinsip mendahulukan anggota kanan dalam berbagai aktivitas. Dalam kitab Al-Umm, dijelaskan bahwa sunah ini merupakan bagian dari tata krama Islam yang menunjukkan kehormatan terhadap sisi kanan sebagai simbol kebaikan dalam Islam. Syafi'i menekankan bahwa setiap sunah Nabi memiliki hikmah, meskipun tidak selalu terlihat secara langsung oleh kita.
Hanbali:
Mazhab Hanbali, yang dikenal dengan ketatnya dalam mengikuti hadits-hadits shahih, menerima hadits ini dengan baik. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri meriwayatkan hadits serupa dalam Musnadnya. Hanbali menganggap hadits ini sebagai sunah yang jelas dan harus diikuti. Mereka percaya bahwa setiap tindakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki tujuan dan hikmah, bahkan jika berkaitan dengan hal-hal kecil seperti cara memakai dan melepas sandal. Pengetahuan akan hikmah tersebut mungkin kami belum pahami sepenuhnya, tetapi mengikuti sunah tetap menjadi prioritas.
Hikmah & Pelajaran
1. Kesempurnaan dalam Segala Hal: Hadits ini mengajarkan bahwa agama Islam tidak membatasi perhatiannya hanya pada masalah-masalah besar, tetapi juga memperhatikan detail-detail kecil dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tindakan, sekecil apapun, harus dilakukan dengan sempurna dan sesuai dengan sunah Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan adalah karakter seorang Muslim sejati.
2. Kehormatan Anggota Tubuh Bagian Kanan: Dalam Islam, anggota tubuh bagian kanan memiliki kedudukan khusus. Didahulukan dalam berbagai aktivitas seperti makan, minum, memakai pakaian, dan sebagainya. Hal ini memiliki makna spiritual yang mendalam, yaitu mengasosiasikan kanan dengan kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Mengikuti prinsip ini adalah bentuk dari internalisasi nilai-nilai Islamic dalam tindakan sehari-hari.
3. Konsistensi dalam Menjalankan Sunah: Hadits ini menunjukkan pentingnya konsistensi dalam mengikuti sunah Rasulullah. Urutan yang sama diterapkan baik saat memakai maupun melepas, yang menunjukkan bahwa sunah ini bukan sekadar kebetulan tetapi merupakan aturan yang terstruktur dan konsisten. Seorang Muslim diharapkan untuk senantiasa konsisten dalam menjalankan sunah ini, menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
4. Pentingnya Adab dalam Islam: Hadits ini adalah bagian dari pembelajaran tentang adab dan tata krama Islam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah panutan dalam segala hal, termasuk dalam hal-hal yang kelihatannya sepele. Mengikuti adab yang diajarkan oleh Nabi adalah bentuk dari cinta dan penghormatan kepada beliau. Hadits ini juga mengajarkan bahwa adab bukanlah hanya tentang hal-hal formal, tetapi juga tentang cara kita melakukan aktivitas sehari-hari dengan penuh kesadaran dan kesengajaan untuk mengikuti jejak Rasulullah.