✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1542
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Al-Jami  ·  بَابُ اَلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ  ·  Hadits No. 1542
Shahih 👁 6
1542- وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ عَشْرَ مَرَّاتٍ, كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . .
📝 Terjemahan
Dari Abu Ayyub al-Ansari radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan: Lā ilāha illallāh, waḥdahu lā sharīka lahu (Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia sendiri tiada sekutu bagi-Nya) sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail." Hadits ini diriwayatkan secara mutaffaq 'alaihi (disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim). Status hadits: SHAHIH.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini merupakan salah satu hadits utama yang menunjukkan kebesaran kalimat Tauhid "Lā ilāha illallāh" dan nilai spiritual serta pahala yang luar biasa. Abu Ayyub al-Ansari adalah sahabat Nabi yang terkenal dengan ketaatannya dan keutamaannya. Hadits ini diriwayatkan oleh kedua Imam Bukhari dan Muslim yang merupakan bukti kekuatan dan kredibilitas sanad-nya. Pernyataan bahwa mengucapkan kalimah tauhid sepuluh kali setara dengan memerdekakan empat jiwa menunjukkan kemulian Lā ilāha illallāh dalam syariat Islam.

Kosa Kata

Lā ilāha illallāh (لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ): Kalimah tauhid yang berarti "Tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah". Ini adalah fondasi keimanan Islam yang paling agung. Kalimah ini mengandung pengertian penyangkalan terhadap semua ilah palsu dan pengafirman terhadap segala yang disembah selain Allah.

Waḥdahu (وَحْدَهُ): Secara sendiri-sendiri, artinya Allah satu-satunya Tuhan tanpa ada yang menyamai kesempurnaannya. Ini adalah penegasan akan keunikan dan keesaan Allah.

Lā sharīka lahu (لَا شَرِيكَ لَهُ): Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal rububiyah (penciptaan, pengurusan), uluhiyah (ketuhanan), dan asmā wa shifāt (nama dan sifat).

'Ashara Marrāt (عَشْرَ مَرَّاتٍ): Sepuluh kali. Angka sepuluh memiliki keistimewaan dalam bahasa Arab yang sering dikaitkan dengan kesempurnaan.

Ka Man A'taq (كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ): Seperti orang yang telah memerdekakan. Memberikan gambaran tentang besarnya pahala.

Arba'ata Anfus (أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ): Empat jiwa/nyawa. Dalam konteks syariat Islam, memerdekakan seorang budak merupakan ibadah yang sangat mulia dan besar pahalanya.

Min Waladi Isma'īl (مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ): Dari keturunan Ismail. Ini menunjukkan bahwa budak-budak tersebut adalah dari keturunan Nabi Ismail, sehingga memiliki kemuliaan karena nasab mereka.

Kandungan Hukum

1. Keutamaan Mengucapkan Kalimah Tauhid
Hadits ini menunjukkan bahwa mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan kesadaran dan khusyuk memiliki pahala yang sangat besar. Dengan sepuluh kali pengucapan, seseorang mendapat pahala seolah-olah telah memerdekakan empat jiwa yang memiliki nasab mulia.

2. Nilai Ibadah Memerdekakan Budak
Pembanding yang digunakan (memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail) menunjukkan bahwa memerdekakan budak merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya dalam Islam. Hal ini sejalan dengan banyak ayat Al-Quran yang memuji pembebasan budak.

3. Pentingnya Niat dan Kehadiran Hati dalam Dzikir
Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, mufassirun sepakat bahwa mengucapkan kalimah dengan niat, kesadaran, dan kehadiran hati adalah syarat mutlak untuk mendapatkan pahala ini, bukan sekadar menggerakkan lisan tanpa pemahaman.

4. Kelipatan Pahala dalam Ibadah
Hadits menunjukkan bahwa ibadah-ibadah tertentu memiliki pahala yang berlipat ganda. Satu kelimaan dari satu ibadah bisa menghasilkan pahala ibadah lain yang lebih berat.

5. Hukum Mengucapkan Kalimah Tauhid
Mengucapkan Lā ilāha illallāh merupakan ibadah yang sunah dan sangat dianjurkan. Semua sahabat dan 'ulama sepakat bahwa ini adalah amal yang sangat utama.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi: Mazhab Hanafi menekankan bahwa mengucapkan kalimah tauhid dengan khusyuk dan pemahaman mendalam adalah ibadah yang mulia. Imam Abu Hanifah dan pengikutnya sangat menganjurkan dzikir berulang-ulang sebagai sarana taqarrub kepada Allah. Mereka memandang hadits ini sebagai motivasi kuat untuk memperbanyak dzikir, terutama dalam waktu luang setelah shalat fardhu. Dari sisi fiqih, mereka tidak menambahkan syarat-syarat tambahan selain yang disebutkan dalam hadits, yaitu kesadaran dalam mengucapkan kalimah. Para 'ulama Hanafi menerima hadits ini dengan baik dan menggunakannya sebagai dalil untuk anjuran memperbanyak dzikir Lā ilāha illallāh.

Maliki: Mazhab Maliki sangat memperhatikan hadits tentang dzikir dan tauhid. Imam Malik sendiri sangat konsisten dalam menekankan pentingnya tauhid murni dan penjagaan hati. Mereka melihat hadits ini sebagai motivasi bagi para mukmin untuk senantiasa memuji Allah dan memurnikan dzikir mereka. Mazhab Maliki juga menekankan bahwa setiap dzikir harus dilakukan dengan ikhlas dan khusyuk. Mereka percaya bahwa pahala yang luar biasa besar dalam hadits ini adalah karena kalimah tauhid mengandung pengakuan murni akan keesaan Allah dan penyangkalan terhadap semua sekutu-Nya. Para 'ulama Maliki menerima hadits ini sebagai dalil yang kuat dan sering merujuknya dalam kitab-kitab mereka tentang fadhail (keutamaan) amal-amal.

Syafi'i: Mazhab Syafi'i memiliki perhatian khusus terhadap hadits-hadits tentang dzikir dan du'a. Imam Syafi'i sendiri dikenal sebagai ulama yang sangat mencintai dzikir dan do'a. Dalam memahami hadits ini, mereka menekankan bahwa makna dari "seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa" adalah suatu perumpamaan untuk menggambarkan besarnya pahala, bukan berarti secara literalnya sama dengan memerdekakan budak. Para 'ulama Syafi'i menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa ibadah-ibadah tertentu memiliki pahala yang berlipat ganda, dan dzikir adalah termasuk ibadah-ibadah yang paling utama. Mereka juga menekankan pentingnya kehadiran hati (hudūr al-qalb) dalam dzikir agar mendapatkan manfaat maksimal darinya.

Hanbali: Mazhab Hanbali, terutama melalui Imam Ahmad ibn Hanbal, memiliki standar yang tinggi dalam menerima hadits, namun mereka dengan antusias menerima hadits-hadits tentang keutamaan dzikir dan tauhid. Imam Ahmad sendiri adalah seorang yang sangat rajin dalam dzikir dan menganjurkan murid-muridnya untuk memperbanyak dzikir. Dalam konteks hadits ini, mereka memandang bahwa pahala yang digambarkan adalah nyata dan bukan sekadar kiasan. Mereka percaya bahwa Allah akan memberikan pahala kepada siapa saja yang secara konsisten mengucapkan kalimah tauhid dengan niat dan pemahaman yang benar. Para 'ulama Hanbali juga menekankan bahwa dzikir harus dilakukan dalam berbagai kondisi: dalam perjalanan, di rumah, dalam keadaan duduk dan berjalan, sesuai dengan hadits yang berbunyi "dhikruhu qa'iman wa qa'idan wa 'alā junūbih".

Hikmah & Pelajaran

1. Kebesaran Kalimah Tauhid: Kalimah "Lā ilāha illallāh" bukan sekadar ungkapan verbal belaka, tetapi merupakan pernyataan tauhid yang paling agung dalam Islam. Setiap pengucapannya dengan kesadaran mendalam membuka pintu berbagai kebaikan spiritual dan memberikan dampak positif pada hati dan jiwa penuturnya. Ini mengajarkan kita bahwa setiap kata dalam dzikir memiliki makna dan nilai yang dalam.

2. Pentingnya Konsistensi dan Disiplin dalam Ibadah: Hadits menyebutkan "sepuluh kali" secara spesifik, menunjukkan bahwa ibadah yang konsisten dan terukur memiliki nilai yang sangat besar. Ini mengajarkan kita bahwa disiplin dalam beribadah, bahkan yang sederhana, dapat menghasilkan pahala yang luar biasa. Mengucapkan kalimah tauhid sepuluh kali saja sudah dapat memberikan pahala yang setara dengan memerdekakan empat jiwa.

3. Kemudahan dan Aksesibilitas Jalan Menuju Surga: Allah telah memberikan jalan yang mudah bagi hambanya untuk mendapatkan pahala besar tanpa memerlukan kesulitan yang berarti. Setiap muslim dapat mengucapkan kalimah tauhid kapan saja dan di mana saja tanpa memerlukan syarat-syarat khusus selain niat dan kesadaran. Ini adalah manifestasi dari firman Allah dalam Quran yang menyatakan bahwa agama Islam adalah agama yang mudah (tayyisir).

4. Hubungan Antara Hati dan Lisan dalam Ibadah: Hadits mengajarkan bahwa mengucapkan kalimah tauhid dengan lisan harus disertai dengan kehadiran hati dan pemahaman akan makna yang mendalam. Ini bukan sekadar gerakan otomatis mulut, tetapi ungkapan sejati dari keimanan hati. Perpaduan sempurna antara lisan dan hati adalah kunci untuk meraih pahala maksimal dari setiap ibadah.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Al-Jami