✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 302
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 302
Shahih 👁 5
302- وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ اَلنَّبِيَّ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ اَلسَّجْدَتَيْنِ : { اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي , وَارْحَمْنِي , وَاهْدِنِي , وَعَافِنِي , وَارْزُقْنِي } رَوَاهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ , وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُدَ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ .
📝 Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca doa di antara dua sujud dengan: "Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku hidayah, sehatkan aku, dan berilah aku rezeki." Diriwayatkan oleh empat imam (Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) kecuali An-Nasa'i. Lafaznya mengikuti riwayat Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al-Hakim.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini membahas salah satu bagian penting dalam perjalanan shalat, yaitu doa yang dibaca antara dua sujud (ad-du'a' baina as-sajdatain). Ini merupakan waktu yang mulia ketika seorang hamba berada dalam posisi duduk istirahat di antara dua sujud, tempat yang dikenal sebagai momen penerimaan doa. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Abbas, salah satu paling besar dan paling terpercaya dari kalangan sahabat dalam hal pengetahuan tentang tafsir dan cara shalat Nabi ﷺ. Hadits ini menunjukkan pengajaran langsung dari Nabi tentang doa yang dipilih secara khusus untuk momen tertentu dalam shalat.

Kosa Kata

Baina as-sajdatain (بين السجدتين) = di antara dua sujud, yaitu waktu duduk istirahat (jalsah) antara sujud pertama dan sujud kedua.

Allahumma (اللهم) = Ya Allah, bentuk panggilan yang khusus menunjukkan keseriusan doa.

Ighfir li (اغفر لي) = ampuni aku, minta pengampunan atas dosa-dosa.

Arhamni (ارحمني) = kasihi aku, minta rahmat dan belas kasihan Allah.

Ihdini (اهدني) = bimbinglah aku, minta hidayah dan petunjuk ke jalan yang lurus.

'Afini (عافني) = sembuhkan aku/hindari aku dari bala, minta kesehatan dan keselamatan dari segala bencana.

Urzuqni (ارزقني) = rezekikan aku, minta rezeki yang berkah dan halal.

Kandungan Hukum

1. Sunnah Membaca Doa di Antara Dua Sujud
Hadits ini menunjukkan bahwa membaca doa khusus di antara dua sujud adalah sunnah yang dikerjakan oleh Nabi ﷺ. Ini bukan hanya doa biasa, melainkan doa yang dipilih secara khusus untuk momen tersebut.

2. Doa Spesifik yang Diajarkan
Nabi ﷺ mengajarkan formula doa yang spesifik, yang terdiri dari lima permohonan: pengampunan, rahmat, hidayah, kesehatan/keselamatan, dan rezeki. Ini menunjukkan pentingnya mengikuti yang diajarkan Nabi dalam masalah doa.

3. Status Doa Baina as-Sajdatain (Sunnah atau Wajib?)
Mayoritas ulama sepakat bahwa doa antara dua sujud adalah sunnah yang dikuatkan (sunnah mu'akkadah), bukan kewajiban. Namun, sebagian ulama mengatakan yang minimal adalah dzikir atau doa dalam posisi ini.

4. Boleh Berdoa dengan Doa Lain
Meskipun Nabi mengajarkan doa ini, boleh juga membaca doa lain di waktu tersebut, karena hadits ini menunjukkan doa contoh, bukan satu-satunya doa.

5. Kekhususan Momen Antara Dua Sujud
Posisi jalsah (duduk istirahat) antara dua sujud adalah waktu yang istimewa untuk doa, karena merupakan bagian dari rukun atau sunnah shalat, dan hamba berada dalam posisi khusyuk dan kerendahan diri.

6. Kelengkapan Permohonan dalam Doa
Doa yang diajarkan mencakup berbagai aspek kebutuhan spiritual dan materi: pengampunan dosa, rahmat, hidayah spiritual, kesehatan jasmani, dan rezeki ekonomi.

Pandangan 4 Madzhab

Madzhab Hanafi:
Madzhab Hanafi menganggap doa antara dua sujud sebagai sunnah yang dikuatkan (sunnah mu'akkadah). Abu Hanifah sendiri sangat mendorong pengikutnya untuk membaca doa khusus di waktu ini. Mereka menekankan bahwa posisi jalsah (duduk istirahat) ini adalah waktu yang dianjurkan untuk doa. Namun, mereka memberikan fleksibilitas bahwa tidak harus doa yang persis sama, selama doa tersebut baik dan sesuai dengan keadaan. Dalam kitab Al-Hidayah, dijelaskan bahwa membaca doa yang telah diajarkan Nabi adalah yang terbaik, tetapi boleh juga doa lain. Abu Yusuf, salah satu murid Abu Hanifah, pernah berkata bahwa ini adalah waktu yang sangat baik untuk berdoa karena hamba dalam posisi kerendahan diri di hadapan Allah.

Madzhab Maliki:
Madzhab Maliki juga mengakui status sunnah dari doa antara dua sujud. Mereka menekankan mengikuti Sunnah Nabi dalam hal ini dan memandang doa yang diajarkan sebagai yang terbaik. Malik bin Anas sendiri dalam Muwatta'-nya menyebutkan beberapa bentuk doa pada waktu ini. Ulama Maliki mengatakan bahwa jalsah ini adalah bagian dari Sunnah, dan mengisinya dengan doa adalah melengkapi Sunnah. Mereka juga sepakat bahwa boleh membaca doa lain selama berniat baik. Asy-Syatibi dalam Al-Muwafaqat membahas bahwa waktu-waktu tertentu dalam shalat memiliki adab-adab khusus yang patut diikuti.

Madzhab Syafi'i:
Madzhab Syafi'i menganggap doa antara dua sujud sebagai sunnah. Imam Syafi'i dalam Al-Umm menekankan pentingnya mengikuti yang diajarkan Nabi. Akan tetapi, Syafi'i membuat perbedaan: jika tidak membaca doa khusus pun tidak menghilangkan sahihnya shalat, karena jalsah ini adalah sunnah bukan rukun. Namun, membacakan doa yang telah diajarkan adalah lebih sempurna. Ulama Syafi'i menekankan bahwa khusyuk dan konsentrasi dalam doa di waktu ini lebih penting daripada sekadar membaca tanpa perasaan. An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa walaupun sunnah, tetapi ini adalah sunnah yang sangat dikuatkan dan dianjurkan.

Madzhab Hanbali:
Madzhab Hanbali memandang doa antara dua sujud dengan sangat serius sebagai sunnah yang dikuatkan. Ahmad bin Hanbal sendiri sangat memperhatikan hal ini dalam praktik shalatnya. Bahkan, ada pendapat di kalangan Hanbali yang mengatakan bahwa meninggalkan doa sepenuhnya pada waktu ini adalah makruh (tidak disukai). Mereka mendasarkan pada hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ selalu membaca doa pada waktu ini. Ibn Qayyim Al-Jawziyah dalam Zad Al-Ma'ad memberikan penjelasan mendalam tentang pentingnya memanfaatkan momen ini untuk berdoa, karena hamba berada dalam posisi paling rendah (tawadhu') di hadapan Tuhannya. Mereka juga menekankan bahwa doa dalam posisi ini memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.

Hikmah & Pelajaran

1. Pentingnya Memanfaatkan Momen Khusus dalam Ibadah
Setiap bagian dari shalat memiliki keistimewaan tersendiri. Momen antara dua sujud adalah waktu istimewa ketika seorang hamba berada dalam posisi kerendahan diri dan rendah hati di hadapan Allah. Ini adalah pelajaran untuk selalu mencari kesempatan emas dalam setiap ibadah untuk berdoa dan memohon kepada Allah dengan sepenuh hati.

2. Kelengkapan Kebutuhan Manusia dalam Satu Doa
Doa yang diajarkan Nabi mencakup lima aspek penting: pengampunan atas dosa masa lalu (ghufran), rahmat untuk sekarang (rahmah), bimbingan ke masa depan (hidayah), kesehatan jasmani ('afiyah), dan rezeki untuk kehidupan (rizq). Ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah dalam semua aspek kehidupannya, tidak hanya spiritual tetapi juga materi.

3. Pentingnya Mengikuti Contoh Nabi dalam Doa
Meskipun Allah memperbolehkan hamba untuk berdoa dengan kata-kata sendiri, mengikuti doa yang telah diajarkan Nabi adalah yang paling sempurna. Ini karena doa dari Nabi adalah hasil dari kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam tentang kebutuhan manusia, serta merupakan bagian dari Sunnah yang dikuatkan.

4. Keseimbangan antara Aspek Spiritual dan Material
Doa ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara kebutuhan spiritual dan kebutuhan material. Pengampunan, rahmat, dan hidayah adalah kebutuhan spiritual, sementara kesehatan dan rezeki adalah kebutuhan material. Keduanya sama pentingnya dan keduanya harus dimohonkan kepada Allah secara bersamaan. Ini adalah pandangan holistik Islam tentang kehidupan manusia yang seimbang dan menyeluruh.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat