✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 322
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 322
Shahih 👁 5
322- وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ : { إِنَّ رَسُولَ اَللَّهِ كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ اَلصَّلَاةِ : " اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْجُبْنِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ اَلْعُمُرِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اَلدُّنْيَا , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ } رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ .
📝 Terjemahan
Dari Sa'd bin Abi Waqas ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah saw. biasa berlindung diri kepada Allah dengan doa-doa ini setelah shalat: 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepadaMu dari kikir, dan aku berlindung diri kepadaMu dari pengecut, dan aku berlindung diri kepadaMu dari dikembalikan kepada usia tua yang paling hina, dan aku berlindung diri kepadaMu dari fitnah dunia, dan aku berlindung diri kepadaMu dari azab kubur'." Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadits no. 6367). Hadits ini termasuk kategori Sahih berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari yang memiliki standar kesahihan tertinggi.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini merupakan salah satu dari berbagai pembelajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang pentingnya ta'awwudz (memohon perlindungan) kepada Allah setelah menyelesaikan shalat. Doa-doa ini mencerminkan kesadaran Rasul akan kelemahan manusia dan kebutuhannya untuk selalu melekat kepada Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, salah satu perawi hadits yang paling kredibel dalam sejarah Islam, yang menunjukkan kehujjahan hadits ini. Sa'd bin Abi Waqash adalah sahabat mulia yang termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijanjikan surga (Asyarah Mubasysyarah), sehingga penyaksiannya sangat dapat dipercaya.

Kosa Kata

Yata'awwadzu (يَتَعَوَّذُ): Bermakna memohon perlindungan, mencari berlindung, dan melindungi diri dari sesuatu yang tidak disukai.

Duburassa-lah (دُبُرَ الصَّلَاةِ): Makna literalnya adalah "setelah shalat" atau "di belakang shalat." Para ulama menafsirkan ini sebagai sesudah mengucapkan taslim (As-salamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh).

Al-Bukhul (البُخْل): Kikir, bakhil, enggan mengeluarkan harta dan manfaat. Ini mencakup kikir dalam harta, ilmu, dan perilaku baik.

Al-Jubn (الجُبْن): Pengecut, takut, lemah semangat dalam menghadapi cobaan dan musuh.

Uraddà Ilà Ardzalal-'Umur (أُرَدّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ): Dikembalikan kepada usia yang sangat tua dan lemah. Ardzal bermakna yang terburuk atau terendah. Maksudnya adalah takut hidup sampai usia sangat tua di mana akal mulai melemah (pikun/khirfah) sehingga tidak bisa beramal dengan baik.

Fitnatuddunya (فِتْنَةِ الدُّنْيَا): Godaan dunia yang dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah, seperti harta, kedudukan, ketenaran, dan keinginan-keinginan duniawi.

'Adzabal-Qabr ('ذَابِ الْقَبْرِ): Azab kubur, siksaan yang diterima jasad di dalam kubur sebelum hari kiamat.

Kandungan Hukum

1. Hukum Ta'awwudz Setelah Shalat

Mengucapkan ta'awwudz (istia'dah/memohon perlindungan) setelah shalat adalah sunnah yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ini menunjukkan kebiasaan beliau yang konsisten (istidhrar) dalam praktik ini, sehingga menjadi sunnah mu'akkadah (sunnah yang dikuatkan) dalam pandangan mayoritas ulama.

2. Kewajaran Memohon Perlindungan dari Sifat-Sifat Buruk

Doa-doa dalam hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim boleh dan bahkan dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari sifat-sifat negatif. Hal ini adalah bagian dari doa dan ta'awwudz yang diperbolehkan dalam syariat.

3. Waktu Pelaksanaan

Di-dhorfkan bahwa ta'awwudz ini dilakukan setelah shalat, terutama setelah menyelesaikan shalat fardu. Beberapa ulama mengatakan waktu terbaik adalah setelah taslim.

4. Jenis-Jenis Doa yang Diajarkan

Doa mencakup lima hal yang dikhawatirkan: - Sifat buruk (kikir dan pengecut) - Kondisi fisik yang melemahkan (usia tua dengan pikun) - Godaan eksternal (fitnah dunia) - Hukuman abadi (azab kubur)

5. Riwayat dan Metode Doa

Para sahabat berdasarkan hadits ini mempraktikkan doa-doa spesifik dengan lafal tertentu yang diajarkan Rasul, menunjukkan pentingnya memilih lafal-lafal doa yang baik dan bermakna.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi menganggap ta'awwudz setelah shalat sebagai sunnah (tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan). Imam Abu Hanifah dan pengikutnya melihat bahwa doa-doa khusus ini memiliki kedudukan istimewa karena diajarkan langsung oleh Rasulullah dan diamalkan secara konsisten. Mereka merekomendasikan pelaksanaannya sebagai bagian dari ta'qib (kegiatan setelah shalat) yang tertib. Dalam Al-Fatawa Al-Hindiyyah, dijelaskan bahwa pembacaan doa-doa ini setelah shalat adalah amal shalih yang disukai. Namun, mereka tidak mewajibkan lafal spesifik; seseorang boleh mengubah atau menambah doa dengan makna yang sama asal tidak mengurangi esensi makna.

Maliki:
Madzhab Maliki sangat menganjurkan praktik ta'awwudz ini dan menganggapnya sebagai sunnah yang dikuatkan (sunnah mu'akkadah). Mereka melihat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa-doa ini dengan cara yang menunjukkan keseringan dan kebiasaan. Dalam kitab-kitab Maliki seperti Sharh Az-Zurqani, dijelaskan bahwa doa-doa ini mencakup perlindungan dari sifat-sifat jelek dan cobaan berat. Madzhab ini juga menganjurkan untuk tidak meninggalkan amal-amal yang terbukti dilakukan Rasul secara konsisten. Mereka memandang bahwa ta'awwudz ini adalah bagian integral dari akhlak islam yang sempurna.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i menganggap ta'awwudz setelah shalat sebagai mu'akad sunnah (sunnah yang dikuatkan/sunnah mu'akkadah). Imam Syafi'i dan pengikutnya sangat menekankan pentingnya mengikuti sunnah Rasul dalam setiap detail, termasuk doa-doa spesifik yang diajarkan. Dalam Al-Umm dan berbagai syarah kitab Syafi'i, dijelaskan bahwa memilih doa-doa yang bermakna dan dikonfirmasi dalam hadits adalah cara terbaik dalam berdoa. Mereka juga menyetujui bahwa ini dapat dilakukan secara verbal (bersuara) atau dalam hati sesuai dengan kondisi. Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa praktik ini termasuk dalam adab shalat yang sempurna.

Hanbali:
Madzhab Hanbali memandang ta'awwudz setelah shalat sebagai sunnah yang sangat direkomendasikan berdasarkan hadits ini yang shahih riwayatnya. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri menerima hadits ini dengan baik karena keshahihan sanadnya. Dalam Syarah Al-Fiqh Al-Akbar dan berbagai kitab Hanbali, dijelaskan bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal doa dan memohon kepada Allah. Hanbali melihat bahwa doa-doa spesifik yang diajarkan Rasul memiliki keistimewaan karena dipilih dan diucapkan oleh Rasul. Mereka juga menganjurkan untuk mengikuti lafal-lafal doa yang terbukti dari hadits shahih sebagai prioritas, meski tidak melarang doa dengan lafal lain yang bermakna.

Hikmah & Pelajaran

1. Kesadaran akan Kebutuhan Perlindungan Ilahi: Hadits ini mengajarkan bahwa manusia, sekuat apapun, tetap memerlukan perlindungan Allah dari keburukan dan cobaan. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang terbaik dari semua manusia konsisten memohon perlindungan, menjadi contoh sempurna tentang tawadhu' (rendah hati) dan ketergantungan kepada Allah. Ini mengingatkan kita untuk tidak pernah merasa aman dari kemungkinan jatuh ke dalam dosa atau keburukan.

2. Lima Hal yang Paling Ditakuti dalam Islam: Doa-doa ini mengungkapkan lima hal yang paling berbahaya bagi seorang mukmin: (1) Kikir yang memotong amal baik, (2) Pengecut yang mencegah jihad dan melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar, (3) Pikun di usia tua yang menghilangkan kemampuan beramal, (4) Fitnah dunia yang menyesatkan, dan (5) Azab kubur yang menyiksa. Memahami ini membantu kita memprioritaskan penjagaan diri dari hal-hal tersebut.

3. Pentingnya Penutup Sempurna Dalam Ibadah: Shalat diakhiri dengan sunnah-sunnah baik yang memperkuat hasil ibadah dan melindungi jiwa. Ini mengajarkan bahwa setiap ibadah sebaiknya diakhiri dengan baik, bukan hanya semata-mata menyelesaikan kewajiban formal. Penutup yang baik membawa berkah pada seluruh ibadah.

4. Doa Sebagai Senjata Mukmin: Hadits ini menunjukkan bahwa doa adalah senjata utama bagi mukmin dalam menghadapi cobaan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengandalkan kekuatan fisik atau harta saja, tetapi selalu terhubung dengan Allah melalui doa. Ini adalah pelajaran bahwa hubungan vertikal dengan Allah harus menjadi fondasi utama, lebih dari apapun yang kita miliki secara materi.

5. Kesempurnaan Akhlak Melalui Perlindungan dari Keburukan: Tujuan akhir dari doa-doa ini adalah mencapai kesempurnaan akhlak. Dengan terlindungi dari sifat kikir, maka datang kesifatan dermawan. Dengan terlindungi dari sifat pengecut, maka datang keberanian dalam kebenaran. Dengan terlindungi dari pikun, dapat terus beramal hingga akhir hayat. Dengan terlindungi dari fitnah dunia, tetap istiqamah dalam agama. Ini menunjukkan bahwa perlindungan dari keburukan adalah jalan menuju kebaikan dan kesempurnaan diri.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat