✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 323
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 323
👁 5
323- وَعَنْ ثَوْبَانَ قَالَ : { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ اَللَّهَ ثَلَاثًا , وَقَالَ : " اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَلسَّلَامُ وَمِنْكَ اَلسَّلَامُ . تَبَارَكْتَ يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
📝 Terjemahan
Dari Thauban radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila selesai dari salatnya, dia memohon ampun kepada Allah tiga kali, dan berkata: 'Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (sumber keselamatan), dan dari-Mu datang keselamatan. Berkah Engkau wahai Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.' (H.R. Muslim)

Status Hadits: Hadits Sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini menjelaskan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dilakukan setelah menyelesaikan salat fardhu. Perbuatan ini mencerminkan kesadaran akan ketidaksempurnaan manusia dalam menjalankan ibadah dan kebutuhan untuk memohon ampunan kepada Allah Ta'ala. Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Thauban, salah satu pelayan Nabi yang paling dekat dan mengetahui detail-detail tindakan Nabi. Kedudukan sunnah ini sangat penting dalam membentuk adab seseorang setelah menunaikan salat.

Kosa Kata

Insharf (انصرف): Selesai, pergi meninggalkan tempat salat setelah memberikan salam penutup.

Istaghfara (استغفر): Memohon ampunan kepada Allah dengan ucapan "astaghfirullah".

Assalam (السلام): Keselamatan, ketenteraman, kedamaian dari segala bala dan malapetaka.

Tabarakta (تبارت): Berkah, meningkat kebaikannya, bertambah keberkahan dan kekuatan.

Dhal-Jalal (ذا الجلال): Pemilik kebesaran dan keagungan.

Al-Ikram (الإكرام): Kemuliaan, kehormatan, dan pemberian yang mulia.

Kandungan Hukum

1. Hukum Istighfar Setelah Salat: Istighfar (memohon ampunan) tiga kali setelah salat adalah Sunnah Mu'akkadah (sunnah yang sangat ditekankan) karena dilakukan oleh Nabi secara konsisten.

2. Doa Setelah Salat: Membaca doa "Allahumma Anta As-Salam..." adalah sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan setelah istighfar.

3. Waktu Pelaksanaan: Dilakukan langsung setelah mengucapkan salam penutup salat, sebelum berdiri atau beranjak dari tempat salat.

4. Jumlah Istighfar: Dilakukan sebanyak tiga kali dengan ucapan "Astaghfirullah" atau sejenisnya.

5. Keistimewaan Doa: Doa ini mengandung pengakuan akan kesempurnaan Allah dan ketidaksempurnaan manusia dalam menjalankan ibadah.

Pandangan 4 Madzhab

Madhhab Hanafi:
Madhhab Hanafi menganggap istighfar dan doa setelah salat sebagai sunnah yang disunnahkan (mustahabb), bukan sebagai sunnah mu'akkadah. Mereka memandang bahwa ketika Nabi melakukan sesuatu berdasarkan situasi tertentu, tidak selalu harus ditiru secara mutlak. Akan tetapi, mayoritas ulama Hanafiah mengatakan bahwa istighfar setelah salat sangat dianjurkan karena menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan atas kesalahan dalam ibadah. Ulama Hanafi seperti Al-Kasyani dan An-Nawawi berkomentar bahwa praktik ini menunjukkan adab tinggi dalam beribadah kepada Allah Ta'ala.

Madhhab Maliki:
Madhhab Maliki menekankan bahwa istighfar dan doa setelah salat adalah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah mu'akkadah). Mereka percaya bahwa setiap Muslim harus mengikuti Sunnah Nabi dalam hal ini karena menunjukkan kesadaran akan kelemahan manusia. Ulama Maliki menambahkan bahwa doa ini sangat relevan karena meminta perlindungan kepada Allah dari semua bahaya. Imam Malik sendiri diriwayatkan sering mengulang istighfar ini dalam kesehariannya sebagai bentuk implementasi dari hadits ini.

Madhhab Syafi'i:
Madhhab Syafi'i mengklasifikasikan istighfar dan doa setelah salat sebagai Sunnah Mu'akkadah yang sangat penting. Imam Syafi'i dalam Al-Umm menekankan pentingnya mengikuti sunnah-sunnah Nabi yang konsisten. Beliau mengatakan bahwa karena Nabi melakukan ini secara rutin setiap kali menyelesaikan salat, maka ini menjadi bagian dari sunnah yang wajib ditiru. Syafi'iah juga menjelaskan bahwa doa ini memiliki makna spiritual yang mendalam karena mengakui bahwa hanya Allah yang memberikan keselamatan sejati.

Madhhab Hanbali:
Madhhab Hanbali sangat menekankan pentingnya mengikuti Sunnah Nabi secara detail. Imam Ahmad ibn Hanbal mencatat hadits ini dalam Musnadnya dan menganggapnya sebagai praktik yang sangat dianjurkan. Beliau berpendapat bahwa istighfar tiga kali dan membaca doa setelah salat adalah bagian integral dari kesempurnaan pelaksanaan salat. Hanbali memperkuat pandangan ini dengan mengatakan bahwa setiap Muslim yang ingin mencapai kesempurnaan dalam ibadah harus melaksanakan sunnah-sunnah ini dengan ikhlas.

Hikmah & Pelajaran

1. Kesadaran Akan Ketidaksempurnaan Ibadah: Hadits ini mengajarkan bahwa manusia, meskipun telah berusaha sebaik-baiknya dalam menjalankan salat, tetap memiliki kekurangan. Istighfar setelah salat merupakan pengakuan akan ketidaksempurnaan ini dan permohonan ampunan untuk setiap kekurangan yang mungkin terjadi dalam ibadah kita, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

2. Pentingnya Kerendahan Hati di Hadapan Allah: Doa "Allahumma Anta As-Salam wa Minka As-Salam" menunjukkan sikap kerendahan hati yang mendalam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun sebagai Nabi dan utusan Allah yang paling sempurna, tetap menunjukkan kerendahan hati dalam berdoa. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kerendahan hati adalah ciri orang yang beriman sejati, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah.

3. Pengakuan Atas Keagungan Allah dan Kelemahan Manusia: Dalam doa ini, Nabi menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala keselamatan (As-Salam) dan dari-Nya datang semua bentuk kebaikan dan perlindungan. Penghargaan kepada Allah dengan sebutan "Dhal-Jalal wal-Ikram" (Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan) menunjukkan pengakuan penuh terhadap kesempurnaan dan kekuasaan Allah. Ini mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu menyadari bahwa semua keselamatan, perlindungan, dan keberkahan datang dari Allah semata.

4. Adab dan Tata Krama Spiritual Setelah Beribadah: Hadits ini menetapkan standar adab dan tata krama dalam beribadah. Setelah menunaikan kewajiban salat, seorang Muslim tidak langsung berdiri dan pergi begitu saja, tetapi harus memuji Allah, memohon ampunan, dan berdoa dengan khusyu'. Ini menciptakan penghubung emosional dan spiritual yang lebih dalam antara hamba dan Tuhannya. Dengan demikian, ibadah tidak hanya dipandang sebagai ritual mekanis, melainkan sebagai interaksi yang hidup dan bermakna dengan Allah Ta'ala.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat