✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 513
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صَلَاةِ اَلِاسْتِسْقَاءِ  ·  Hadits No. 513
👁 6
513- عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { خَرَجَ اَلنَّبِيُّ مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ .
📝 Terjemahan
Dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: "Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dengan penuh kerendahan hati, berpakaian sederhana, bersikap khusyu', berjalan dengan tenang, dan penuh doa permohonan. Kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat seperti shalat Ied, dan beliau tidak memberikan khutbah seperti khutbah Ied kalian." Hadits diriwayatkan oleh lima imam (Imamul Khomsah), disahihkan oleh At-Tirmidzi, Abu 'Awanah, dan Ibn Hibban.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini menjelaskan tentang tata cara Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat istisqa' (shalat permintaan turun hujan). Ibn Abbas meriwayatkan detail-detail penting tentang bagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mempersiapkan diri dan melaksanakan ibadah ini dengan penuh kekhidmatan dan rasa pengagungan kepada Allah. Shalat istisqa' adalah salah satu shalat sunnah yang dilakukan ketika musim kering panjang dan umat membutuhkan hujan untuk kelangsungan hidup mereka.

Kosa Kata

Mutawadi'an (متواضعًا): Berpenampilan dengan kerendahan hati dan meninggalkan kesombongan Mutabadzilan (متبذّلًا): Berpakaian sederhana, tidak berpakaian mewah atau bagus-bagus Mutakhashi'an (متخشّعًا): Menampilkan rasa takut dan khidmat kepada Allah, merendahkan diri Mutarassilan (متَرَسِّلًا): Berjalan dengan perlahan-lahan dan tenang dengan penuh martabat Mutadarri'an (متَضَرِّعًا): Menampilkan perasaan membutuhkan dan memohon kepada Allah dengan sepenuh hati Istisqa' (الاستسقاء): Permintaan turun hujan dengan melaksanakan shalat khusus

Kandungan Hukum

1. Shalat istisqa' adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam dengan tata cara khusus 2. Shalat istisqa' dilaksanakan dengan dua rakaat seperti shalat Ied 3. Shalat istisqa' tidak memerlukan khutbah, atau jika ada khutbah maka berbeda dengan khutbah Ied 4. Dalam pelaksanaan shalat istisqa', dianjurkan untuk menampilkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan rasa ketergantungan penuh kepada Allah 5. Wajah dan penampilan fisik harus mencerminkan kekhidmatan dan kerendahan hati saat melaksanakan shalat istisqa'

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi menganggap shalat istisqa' adalah sunnah muakkadah. Mereka menyetujui bahwa shalat istisqa' terdiri dari dua rakaat seperti shalat Ied. Dalam hal khutbah, ulama Hanafi berpendapat bahwa khutbah dalam shalat istisqa' adalah sunnah, tetapi berbeda karakternya dari khutbah Ied. Khutbah shalat istisqa' hanya terdiri dari satu khutbah, bukan dua khutbah seperti Ied, dan isinya lebih berfokus pada permohonan ampun dan doa untuk turun hujan. Mereka juga menekankan pentingnya menampilkan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah melalui kesederhanaan dalam penampilan.

Maliki:
Madzhab Maliki melihat shalat istisqa' sebagai sunnah yang telah dipraktikkan pada masa Nabi dan khalifah-khalifah sesudahnya. Mereka setuju dengan dua rakaat sebagai bentuk shalat istisqa' dan tidak mewajibkan khutbah. Imam Malik berdasarkan praktik ahlus Sunnah di Madinah berpendapat bahwa khutbah dalam shalat istisqa' adalah pilihan, bukan kewajiban. Imam Malik juga menekankan aspek spiritual yaitu menampilkan ketawaduan dan ketergantungan kepada Allah dalam shalat istisqa'. Kerendahan hati dan kesederhanaan pakaian dianggap sebagai wujud penyerahan diri kepada Allah.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i menganggap shalat istisqa' adalah sunnah dengan bentuk dua rakaat tanpa adzan atau iqamah yang keras. Mengenai khutbah, Imam Syafi'i berpendapat bahwa khutbah dalam shalat istisqa' adalah sunnah dan dilaksanakan setelah shalat, bukan sebelumnya. Khutbah ini berbeda dengan khutbah Ied baik dalam bentuk, waktu, maupun isinya. Imam Syafi'i sangat menekankan pentingnya aspek ta'abbud (menampilkan ketundukan) kepada Allah melalui penampilan yang sederhana dan sikap yang menunjukkan ketergantungan penuh kepada Allah dalam memohon hujan.

Hanbali:
Madzhab Hanbali melihat shalat istisqa' sebagai sunnah yang dikukuhkan oleh praktik Nabi. Mereka sepakat dengan dua rakaat sebagai bentuk shalat dan mengizinkan khutbah sesudah shalat, tetapi tidak mewajibkannya. Dalam hal khutbah, ulama Hanbali berpendapat bahwa jika ada khutbah, isinya harus berbeda dari khutbah Ied, lebih fokus pada permohonan ampun dosa dan doa untuk turun hujan. Mereka juga sangat memperhatikan aspek moral dan spiritual dalam shalat istisqa', yaitu bahwa umat Islam harus menyadari ketergantungan mereka kepada Allah dan menampilkan kerendahan hati melalui kesederhanaan dalam penampilan dan keikhlasan dalam permohonan.

Hikmah & Pelajaran

1. Kerendahan Hati di Hadapan Allah - Hadits ini mengajarkan bahwa ketika memohon kepada Allah, seorang hamba harus meninggalkan segala bentuk kesombongan dan kegayaan. Penampilan Nabi yang sederhana, bukan berkemas dengan pakaian mewah, menunjukkan bahwa dalam menghadap Allah, satu-satunya yang penting adalah kesederhanaan hati dan keikhlasan niat. Semua manusia, termasuk Nabi, adalah hamba yang membutuhkan kepada Allah.

2. Kesadaran Ketergantungan Kepada Allah - Melalui shalat istisqa' dan cara pelaksanaannya yang penuh dengan penampilan kerendahan hati, umat Islam diingatkan bahwa segala kebutuhan mereka, termasuk hujan yang mendatangkan berkah bagi hasil bumi, hanya datang dari Allah semata. Tidak ada yang dapat memberikan hujan kecuali Allah, sehingga kebutuhan akan hujan seharusnya menjadi pengingat bahwa semua makhluk tergantung kepada kehendak Allah.

3. Sinkronisasi Antara Ucapan dan Tindakan - Ketika memohon kepada Allah, tindakan fisik harus sejalan dengan apa yang diucapkan dalam doa. Nabi tidak hanya memohon dalam doa, tetapi juga menampilkan kebutuhan dan kerendahan hati melalui cara berjalan, pakaian, dan sikap tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah yang sempurna adalah ketika hati, lisan, dan anggota badan bekerja bersama dalam kepatuhan kepada Allah.

4. Universalitas Masalah Kemanusiaan - Shalat istisqa' mencerminkan bahwa semua manusia, kaya maupun miskin, memiliki kebutuhan bersama terhadap berkah dan hujan dari Allah. Dalam momen seperti ini, semua perbedaan sosial dan status ditinggalkan, dan semua bersatu dalam kebutuhan kepada Allah. Ini mengajarkan solidaritas umat Islam dalam menghadapi tantangan bersama dan kesamaan derajat semua manusia di hadapan Allah.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat