Kitab 3 · Bab 10
Hendaknya makan dengan tiga jari, menjilat jari, dan tidak mengelapnya sebelum menjilatnya. Hendaknya menjilat piring, mengambil makanan yang jatuh untuk dimakan lagi, dan diperbolehkan mengelapnya dengan telapak tangan atau lainnya setelah menjilatnya.
✦ 7 Hadith ✦
# 1
عن ابنِ عباسٍ رضي اللَّه عنهما قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «إِذا أَكلَ أَحدُكُمْ طَعَاماً، فَلا يَمسحْ أَصابِعَهُ حتى يلعَقَهَا أَو يُلْعِقَها» متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah ia membersihkan jari-jemarinya hingga ia menjilatinya atau orang lain menjilatinya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan, sekecil apa pun. Perintah menjilati jari sebelum membersihkannya mengandung hikmah menghargai rezeki dan bersyukur atas nikmat Allah. Selain itu, terdapat hikmah kesehatan, di mana bisa jadi pada sisa makanan di jari terdapat keberkahan atau zat yang bermanfaat bagi tubuh. Perilaku ini juga mencerminkan adab dan kesederhanaan yang diajarkan Islam.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan, sekecil apa pun. Perintah menjilati jari sebelum membersihkannya mengandung hikmah menghargai rezeki dan bersyukur atas nikmat Allah. Selain itu, terdapat hikmah kesehatan, di mana bisa jadi pada sisa makanan di jari terdapat keberkahan atau zat yang bermanfaat bagi tubuh. Perilaku ini juga mencerminkan adab dan kesederhanaan yang diajarkan Islam.
# 2
وعن كعْبِ بنِ مالك رضيَ اللَّه عنه قال: رَأَيْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَأْكُلُ بِثلاثِ أَصابِعَ فَإِذا فَرغَ لَعِقَها. رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Ka'ab bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ makan dengan tiga jari beliau. Dan setelah selesai makan, beliau menjilatinya.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab makan yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, dan jari tengah) serta menjilati jari setelah selesai. Cara ini menumbuhkan rasa syukur, menghargai rezeki, dan menjaga kebersihan agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Selain itu, makan dengan cara sederhana ini juga lebih menyehatkan dan mencerminkan sikap qana'ah (merasa cukup).
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab makan yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, dan jari tengah) serta menjilati jari setelah selesai. Cara ini menumbuhkan rasa syukur, menghargai rezeki, dan menjaga kebersihan agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Selain itu, makan dengan cara sederhana ini juga lebih menyehatkan dan mencerminkan sikap qana'ah (merasa cukup).
# 3
وعن جابرٍ رضي اللَّه عنه أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أمر بِلَعْقِ الأَصَابِعِ والصَّحْفَةِ وقال: «إِنَّكُمْ لا تَدرُونَ في أَيِّ طعَامِكم البَركةُ» رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Jabir رضي الله عنه, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menjilati jari-jemari dan piring. Beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak tahu di bagian mana dari makanan kalian terdapat berkah."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghargai dan mensyukuri nikmat makanan, termasuk sisa yang menempel di jari dan piring, karena keberkahan rezeki itu tidak diketahui letaknya. Perintah menjilati jari dan membersihkan piring merupakan bentuk penghormatan terhadap makanan, mencegah sikap boros, serta upaya untuk meraih berkah yang Allah sediakan di dalamnya. Dengan demikian, seorang muslim diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak menyia-nyiakan rezeki sekecil apa pun.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghargai dan mensyukuri nikmat makanan, termasuk sisa yang menempel di jari dan piring, karena keberkahan rezeki itu tidak diketahui letaknya. Perintah menjilati jari dan membersihkan piring merupakan bentuk penghormatan terhadap makanan, mencegah sikap boros, serta upaya untuk meraih berkah yang Allah sediakan di dalamnya. Dengan demikian, seorang muslim diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak menyia-nyiakan rezeki sekecil apa pun.
# 4
وعنه أن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «إِذا وقعت لُقمَةُ أَحدِكُمْ، فَليَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ ما كان بها من أذًى وليَأْكُلْهَا، ولا يدَعْها للشَّيطَانِ، ولا يمسَحْ يَدهُ بِالمِنْدِيلِ حتَّى يَلعقَ أَصَابِعَهُ، فإِنه لا يَدرِي في أَيِّ طعامِهِ البركةُ» رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Jabir رضي الله عنه juga, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila sesuap makanan salah seorang di antara kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotorannya, lalu memakannya. Jangan membiarkannya untuk setan. Dan janganlah ia mengelap tangannya dengan sapu tangan hingga ia menjilatinya, karena ia tidak tahu di bagian mana dari makanannya terdapat berkah."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghargai rezeki dan tidak menyia-nyiakannya, sekalipun hanya sesuap makanan yang jatuh. Dengan membersihkan dan memakannya kembali, kita melawan bisikan setan yang suka pada pemborosan. Perintah untuk menjilati jari sebelum mencuci tangan menekankan bahwa berkah makanan itu tidak diketahui letaknya, sehingga kita dianjurkan untuk mengambilnya sepenuhnya. Intinya adalah sikap syukur, hemat, dan menjaga nikmat Allah.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghargai rezeki dan tidak menyia-nyiakannya, sekalipun hanya sesuap makanan yang jatuh. Dengan membersihkan dan memakannya kembali, kita melawan bisikan setan yang suka pada pemborosan. Perintah untuk menjilati jari sebelum mencuci tangan menekankan bahwa berkah makanan itu tidak diketahui letaknya, sehingga kita dianjurkan untuk mengambilnya sepenuhnya. Intinya adalah sikap syukur, hemat, dan menjaga nikmat Allah.
# 5
وعنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «إِن الشَّيْطَانَ يَحضرُ أَحدَكُم عِند كُلِّ شَيءٍ مِنْ شَأْنِهِ، حتى يَحْضُرَهُ عِندَ طعَامِهِ، فَإِذا سَقَطَتْ لُقْمةُ أَحَدِكم فَليَأْخذْهَا فَلْيُمِطْ ما كانَ بها مِن أَذى، ثُمَّ ليَأْكُلْهَا ولا يَدَعها للشَّيْطَانِ، فإذا فَرغَ فَلْيلْعَقْ أَصابِعِهُ فإِنَّه لا يدري في أَيِّ طعامِهِ البرَكَةُ» رواه مسلم.
Terjemahan
Dari dia (seorang sahabat) radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setan itu hadir dalam segala urusan kalian, bahkan ketika kalian makan. Oleh karena itu, jika makanan salah seorang dari kalian terjatuh, hendaklah ia mengambilnya kembali, membersihkan kotorannya, lalu memakannya kembali, jangan dibiarkan untuk setan. Dan setelah selesai makan, hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, karena ia tidak tahu di bagian makanan mana terdapat keberkahan." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang terjatuh dengan membersihkannya lalu memakannya, agar tidak menjadi bagian untuk setan. Selain itu, dianjurkan menjilati jari setelah makan karena keberkahan makanan bisa saja tersisa di jari.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk selalu menghargai rezeki dan tidak menyia-nyiakannya, karena setan selalu mengintai untuk ikut menikmati apa yang kita sia-siakan. Perintah mengambil makanan yang jatuh setelah dibersihkan dan menjilati jari setelah makan adalah bentuk syukur dan ikhtiar untuk meraih keberkahan yang letaknya tidak kita ketahui dalam makanan tersebut. Intinya, Islam mengajarkan etos hidup bersih, hemat, dan penuh rasa syukur atas nikmat Allah.
Penjelasan: Hadits ini mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang terjatuh dengan membersihkannya lalu memakannya, agar tidak menjadi bagian untuk setan. Selain itu, dianjurkan menjilati jari setelah makan karena keberkahan makanan bisa saja tersisa di jari.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk selalu menghargai rezeki dan tidak menyia-nyiakannya, karena setan selalu mengintai untuk ikut menikmati apa yang kita sia-siakan. Perintah mengambil makanan yang jatuh setelah dibersihkan dan menjilati jari setelah makan adalah bentuk syukur dan ikhtiar untuk meraih keberkahan yang letaknya tidak kita ketahui dalam makanan tersebut. Intinya, Islam mengajarkan etos hidup bersih, hemat, dan penuh rasa syukur atas nikmat Allah.
# 6
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه قال: كان: رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا أَكَلَ طعَاماً، لعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلاثَ، وقالَ: «إِذا سقَطَتْ لُقمةُ أَحدِكم فَلْيَأْخُذْها، وليمِطْ عنها الأذى، وليَأْكُلْهَا، ولا يَدعْهَا للشَّيطَانِ» وأَمَرنَا أَن نَسلتَ القَصعةَ وقال: إِنَّكم لا تدْرُونَ في أَيِّ طَعَامِكم البَركةُ» رواه مُسلمٌ.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai makan, beliau menjilati ketiga jarinya, dan beliau bersabda: "Jika makanan salah seorang dari kalian terjatuh, hendaklah ia membersihkan tempat yang kotor lalu memakannya, jangan dibiarkan untuk setan." Beliau memerintahkan kami untuk membersihkan piring, dan beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak tahu di bagian makanan mana terdapat keberkahan." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menekankan kembali pentingnya menghargai makanan yang terjatuh dan membersihkan piring hingga bersih, karena keberkahan makanan bisa saja tersisa di mana saja.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga adab utama terkait makanan. Pertama, menghargai makanan dengan menjilati jari dan membersihkan piring agar keberkahan yang mungkin tersisa tidak terbuang. Kedua, jika makanan jatuh, kita disuruh mengambil, membersihkan, dan memakannya kembali, sebagai bentuk syukur dan tidak menyia-nyiakannya. Ketiga, larangan membiarkan makanan untuk setan, yang berarti kita harus mencegah sikap boros dan meremehkan rezeki, karena semua itu adalah nikmat dan berkah dari Allah.
Penjelasan: Hadits ini menekankan kembali pentingnya menghargai makanan yang terjatuh dan membersihkan piring hingga bersih, karena keberkahan makanan bisa saja tersisa di mana saja.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga adab utama terkait makanan. Pertama, menghargai makanan dengan menjilati jari dan membersihkan piring agar keberkahan yang mungkin tersisa tidak terbuang. Kedua, jika makanan jatuh, kita disuruh mengambil, membersihkan, dan memakannya kembali, sebagai bentuk syukur dan tidak menyia-nyiakannya. Ketiga, larangan membiarkan makanan untuk setan, yang berarti kita harus mencegah sikap boros dan meremehkan rezeki, karena semua itu adalah nikmat dan berkah dari Allah.
# 7
وعن سعيد بنِ الحارث أَنَّه سأَل جابراً رضيَ اللَّه عنه عن الوضوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ، فقال: لا، قد كُنَّا زمنَ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لا نجدُ مثلَ ذلك الطعامِ إِلاَّ قلِيلاً، فإِذا نَحنُ وجدناهُ، لَم يَكْنْ لَنَا مَنَادِيلُ إِلا أَكُفَّنَا وسَوَاعدنَا وأَقْدَامَنَا، ثُمَّ نُصَلِّي وَلا نَتَوَضَّأُ. رواه البخاري.
Terjemahan
Sa'id bin Al-Harits meriwayatkan: Ia bertanya kepada Jabir tentang mengambil wudhu setelah memakan makanan yang dimasak dengan api. Jabir menjawab: "Tidak, tidak perlu wudhu. Di masa Nabi ﷺ, kami sangat sedikit memiliki makanan seperti itu. Jika kami memilikinya, kami tidak memiliki kain tangan, hanya telapak tangan, pergelangan tangan, dan kaki kami saja. Kemudian kami shalat tanpa mengambil wudhu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa memakan makanan yang disentuh api (dimasak) tidak membatalkan wudhu. Sahabat Nabi melaksanakan shalat setelah memakannya tanpa berwudhu ulang. Hikmahnya, hukum Islam itu mudah dan mempertimbangkan keadaan nyata; wudhu hanya batal oleh hal-hal yang ditetapkan syariat, bukan sekadar bersentuhan dengan api.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa memakan makanan yang disentuh api (dimasak) tidak membatalkan wudhu. Sahabat Nabi melaksanakan shalat setelah memakannya tanpa berwudhu ulang. Hikmahnya, hukum Islam itu mudah dan mempertimbangkan keadaan nyata; wudhu hanya batal oleh hal-hal yang ditetapkan syariat, bukan sekadar bersentuhan dengan api.