✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Menjenguk Orang Sakit
Kitab 7 · Bab 9

Apa yang diucapkan atau dibaca oleh orang yang bertakziah kepada mayat dan keluarga mayat.

✦ 5 Hadith ✦
# 1
عن أُمِّ سلَمَةَ رضي اللَّه عنها قالت : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذا حَضرْتُمُ المرِيضَ ، أَوِ المَيِّتَ ، فَقُولُوا خيْراً ، فَإِنَّ الملائِكَةَ يُؤمِّنونَ عَلى ما تقُولُونَ ، قالت: فلمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَة ، أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقُلْتُ : يا رسُولَ اللَّه ، إِنَّ أبا سلَمَة قَدْ مَاتَ ، قالَ : «قُولي : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي وَلَهُ ، وَأَعْقِبْني مِنْهُ عُقبى حسنةً » فقلتُ : فأَعْقَبني اللَّهُ منْ هُوَ خَيْرٌ لي مِنْهُ : مُحمَّداً صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه مسلم هكذا : « إِذا حَضَرْتُمُ المَرِيضَ » أَو « الميِّت »على الشَّكِّ ، رواه أبو داود وغيره:« الميِّت»بلا شَكٍّ .
Terjemahan
Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau orang yang meninggal, maka ucapkanlah kebaikan, karena sesungguhnya para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan." Dia (Ummu Salamah) berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, aku datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal." Beliau bersabda: "Ucapkanlah: 'Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan berilah aku pengganti darinya pengganti yang baik'." Maka aku pun mengucapkannya, lalu Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya: Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi: "Apabila kalian menghadiri orang yang sakit" ATAU "orang yang meninggal" dengan keraguan (pada lafaz). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya: "orang yang meninggal" tanpa keraguan.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua adab utama. Pertama, saat menjenguk orang sakit atau menghadiri jenazah, kita harus selalu mengucapkan perkataan yang baik karena didengar dan diamini oleh malaikat. Kedua, hadis ini memberikan contoh doa yang diajarkan Rasulullah untuk istri yang ditinggal wafat suaminya, yaitu memohon ampunan bagi keduanya dan meminta pengganti yang lebih baik, yang dalam kisah Ummu Salamah terkabul dengan dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW. Intinya, hadis ini mengajarkan optimisme dan husnuzhan kepada Allah dalam setiap musibah.

# 2
وعنها قالت : سمعتُ رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « مَا مِنْ عبدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ ، فيقولُ : إِنَّا للَّهِ وَإِنَّا إِليهِ رَاجِعُونَ : اللَّهمَّ أجرني في مُصِيبَتي ، وَاخْلُف لي خَيْراً مِنْهَا، إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ تعَالى في مُصِيبتِهِ وَأَخْلَف له خَيْراً مِنْهَا . قالت : فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَة ، قلتُ كما أَمَرني رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَأَخْلَفَ اللَّهُ لي خَيْراً منْهُ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah (cobaan) apa pun, lalu dia membaca: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahumma ajirni fi mushibati wakhluf li khairan minha' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya),' melainkan Allah akan memberinya pahala atas musibahnya itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik dari apa yang hilang darinya." Ummu Salamah berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, aku membaca doa sebagaimana yang Rasulullah perintahkan kepadaku, lalu Allah menggantikan untukku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua sikap utama saat tertimpa musibah: pertama, mengucapkan kalimat istirja' (kembali kepada Allah) sebagai bentuk pengakuan ketuhanan dan kepasrahan. Kedua, berdoa meminta pahala dan pengganti yang lebih baik. Janji Rasulullah terbukti nyata pada Ummu Salamah, yang setelah ditinggal wafat suaminya, kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa kesabaran dan doa yang tulus akan mendatangkan kebaikan dari Allah, meski awalnya terasa berat.

# 3
وعن أَبي موسى رضي اللَّه عنه أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِذا ماتَ وَلدُ العبْدِ قال اللَّهُ تعالى لملائِكَتِهِ : قَبضْتُم وَلدَ عَبْدِي ؟ فيقولُونَ : نعَم ، فيقولُ : قَبَضتُم ثمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فيقولونَ : نَعم . فَيَقُولُ : فَمَاذَا قال عبْدِي ؟ فيقُولُونَ : حمِدكَ واسْتَرْجعَ ، فيقولُ اللَّهُ تعالى: ابْنُوا لعبدِي بَيتاً في الجَنَّة، وَسَمُّوهُ بيتَ الحمدِ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن.
Terjemahan
Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikat: 'Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?' Mereka menjawab: 'Ya.' Dia berfirman: 'Apakah kalian telah mencabut buah hatinya?' Mereka menjawab: 'Ya.' Dia bertanya lagi: 'Apa yang diucapkan hamba-Ku?' Mereka menjawab: 'Dia memuji-Mu dan membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).' Maka Allah berfirman: 'Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan beri nama: Rumah Pujian.'"
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kesabaran tertinggi saat kehilangan anak. Hikmahnya, orangtua yang kehilangan buah hati lalu menerimanya dengan mengucapkan pujian kepada Allah (hamdalah) dan kalimat istirja' (inna lillahi), maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga yang dinamakan "Bait al-Hamd" (Rumah Pujian). Ini menunjukkan betapa mulia dan besar pahala kesabaran serta penerimaan atas takdir yang pedih di sisi Allah.

# 4
وعن أَبي هُريرةَ رضي اللَّهُ عنه أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : يقُولُ اللَّهُ تعالى : ما لعَبْدِي المؤْمِن عِنْدي جزَاءٌ إِذا قَبَضْتُ صَفيَّه مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ، ثُمَّ احْتَسَبهُ ، إِلاَّ الجَنَّةَ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman: "Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang orang yang dicintainya di dunia dicabut nyawanya, kemudian dia bersabar, melainkan surga."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan surga bagi seorang mukmin yang kehilangan orang yang dicintainya, lalu ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah (ihtisab). Ini menunjukkan bahwa kesabaran atas musibah kematian orang terkasih, dengan keyakinan bahwa itu adalah takdir Allah, memiliki nilai yang sangat agung. Janji ini menjadi penghibur dan motivasi untuk tetap teguh dalam iman di kala sedih. Intinya, kesabaran yang ikhlas atas kehilangan adalah jalan langsung menuju surga.

# 5
وعن أُسامةَ بنِ زيدٍ رضي اللَّه عنهما قال : أَرْسَلَتْ إِحْدى بَناتِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِلَيهِ تَدْعُوهُ وتُخْبِرُهُ أَنَّ صبيًّا لهَا أَوْ ابْناً في المَوتِ فقال للرَّسول : « ارْجِعْ إِلَيْهَا ، فَأَخْبِرْهَا أَنَّ للَّهِ تعالى مَا أَخذَ ولَهُ ما أعطى ، وَكُلُّ شَيْء عِنْدَهُ بِأَجْلٍ مُسَمَّى، فَمُرْهَا، فلْتَصْبِرْ ولْتَحْتسِبْ » وذكر تمام الحديث ، متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Seorang putri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang untuk memanggil beliau dan mengabarkan bahwa putranya sedang sekarat. Beliau bersabda: "Kembalilah kepadanya dan katakan: 'Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditetapkan ajalnya. Maka hendaklah dia bersabar dan mengharap pahala dari Allah'." ... Dia (perawi) menyebutkan hadits tersebut secara lengkap.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa segala kehidupan dan kematian adalah ketetapan Allah. Inti hikmahnya adalah perintah untuk bersabar (bersabar) dan berhusnuzan kepada Allah (ih-tisab) saat menghadapi musibah kematian, dengan keyakinan bahwa semua yang diambil dan diberikan-Nya adalah hak prerogatif Allah serta telah ditentukan waktunya. Sikap ini mencegah kita dari berkeluh kesah yang berlebihan dan mengembalikan hati pada ketenangan iman.