Kitab 7 · Bab 10
Diperbolehkan menangis untuk menunjukkan kesedihan atas mayat, asalkan bukan tangisan yang diperintahkan atau jeritan.
✦ 4 Hadith ✦
# 1
أما النياحة فحرام، وسيأتي فيها باب كتاب النهي إن شاء اللَّه تعالى. وأما البكاء فجاءت أحاديث بالنهي عنه، وأن الميت يعذب ببكاء أهله. وهي متأولة محمولة على من أوصى به، والنهي إنما هو عن البكاء الذي فيه ندب أو نياحة.
Terjemahan
Meratap dengan keras (niyahah) atas mayit adalah dilarang, dan kami akan menjelaskannya dalam pembahasan tentang larangan tersebut. Adapun menangis biasa, terdapat banyak hadits yang melarangnya, dan mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. Namun, para ulama menafsirkan bahwa ini khusus untuk mayit yang berwasiat agar dirinya diratapi. Jadi, larangan itu hanya untuk orang yang berwasiat agar dirinya diratapi atau untuk ratapan yang keras saja.
Penjelasan singkat: Larangan utama dalam hadis ini adalah niyahah (meratap dengan keras dan berlebihan). Adapun menangis biasa karena sedih diperbolehkan. Riwayat tentang siksa bagi mayit karena tangisan keluarganya ditafsirkan ulama khusus untuk kasus di mana si mayit sebelumnya berwasiat agar dirinya diratapi. Intinya, Islam melarang ekspresi kesedihan yang berlebihan dan merusak, tetapi membolehkan tangisan sebagai bentuk kesedihan yang wajar.
Penjelasan singkat: Larangan utama dalam hadis ini adalah niyahah (meratap dengan keras dan berlebihan). Adapun menangis biasa karena sedih diperbolehkan. Riwayat tentang siksa bagi mayit karena tangisan keluarganya ditafsirkan ulama khusus untuk kasus di mana si mayit sebelumnya berwasiat agar dirinya diratapi. Intinya, Islam melarang ekspresi kesedihan yang berlebihan dan merusak, tetapi membolehkan tangisan sebagai bentuk kesedihan yang wajar.
# 2
عن ابنِ عُمرَ رضي اللَّه عنهما أَنَّ رسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عاد سَعْدَ بنَ عُبَادَةَ ، وَمَعَهُ عبْدُ الرَّحمنِ بنُ عَوفٍ ، وسعْدُ بْنُ أَبي وَقَّاصٍ ، وعبْدُ اللَّهِ بن مَسْعُودٍ رضي اللَّه عنهم ، فَبكى رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فلمَّا رَأَى القوْمُ بُكاءَ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، بَكَوْا ، فقال : « أَلا تَسْمعُونَ ؟ إِنَّ اللَّه لا يُعَذِّبُ بِدمْعِ العَيْنِ ، وَلا بِحُزْنِ القَلْبِ ، وَلكِنْ يُعَذّبُ بِهذاَ أَوْ يَرْحَمُ » وَأَشَارَ إِلى لِسَانِهِ .متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjenguk Sa'ad bin 'Ubadah, dan bersama beliau Abdurrahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhum. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menangis. Ketika orang-orang melihat tangisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, merekapun menangis. Lalu beliau bersabda: "Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena air mata dan tidak karena kesedihan hati, tetapi Dia menyiksa atau merahmati karena ini," sambil beliau menunjuk ke lidahnya.
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan bahwa menangis karena rasa sedih atau belas kasihan adalah fitrah manusiawi yang tidak dilarang, bahkan dicontohkan oleh Rasulullah. Inti hikmahnya adalah bahwa Allah tidak menyiksa hamba-Nya semata-mata karena tangisan atau kesedihan hati. Akan tetapi, siksa atau rahmat Allah bergantung pada lisan (ucapan) yang diisyaratkan oleh Rasulullah, yang menjadi sumber dosa atau ketaatan. Dengan demikian, hadis ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga lisan.
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan bahwa menangis karena rasa sedih atau belas kasihan adalah fitrah manusiawi yang tidak dilarang, bahkan dicontohkan oleh Rasulullah. Inti hikmahnya adalah bahwa Allah tidak menyiksa hamba-Nya semata-mata karena tangisan atau kesedihan hati. Akan tetapi, siksa atau rahmat Allah bergantung pada lisan (ucapan) yang diisyaratkan oleh Rasulullah, yang menjadi sumber dosa atau ketaatan. Dengan demikian, hadis ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga lisan.
# 3
وعن أُسَامة بنِ زَيْدٍ رضي اللَّه عنهما أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رُفِعَ إِلَيهِ ابْنُ ابْنَتِهِ وَهُوَ في المَوْتِ ، فَفَاضَتْ عَيْنا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فقال له سعدٌ : مَا هذا يا رسولَ اللَّهِ ؟، قال: « هَذِهِ رحمةٌ جَعَلها اللَّهُ تَعالى في قلوبِ عبادِهِ ، وَإِنما يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عبَادِهِ الرُّحَمَاءَ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Sesungguhnya salah seorang cucu laki-laki Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dihadapkan kepada beliau, saat dia sedang sekarat. Saat itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meneteskan air mata. Sa'ad bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, apakah ini?" Beliau menjawab: "Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Dan sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa menangis karena rasa sedih dan kasihan adalah wujud rahmat (belas kasih) yang Allah anugerahkan dalam hati hamba-Nya. Hal ini bukanlah tanda kelemahan atau ketidaksabaran, melainkan bukti hati yang hidup dan lembut. Rasulullah pun mengajarkan bahwa sifat penyayang ini justru menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada hamba tersebut.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa menangis karena rasa sedih dan kasihan adalah wujud rahmat (belas kasih) yang Allah anugerahkan dalam hati hamba-Nya. Hal ini bukanlah tanda kelemahan atau ketidaksabaran, melainkan bukti hati yang hidup dan lembut. Rasulullah pun mengajarkan bahwa sifat penyayang ini justru menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada hamba tersebut.
# 4
وعن أَنسٍ رضيَ اللَّهُ عنه أَنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دَخَلَ عَلى ابْنه إِبَراهِيمَ رضيَ اللَّهُ عنْه وَهُوَ يَجودُ بَنفسِه فَجعلتْ عَيْنا رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم تَذْرِفَانِ . فقال له عبدُ الرَّحمن بنُ عوفٍ: وأَنت يا رسولَ اللَّه ؟، فقال : « يا ابْنَ عوْفٍ إِنَّها رَحْمةٌ » ثُمَّ أَتْبَعَها بأُخْرَى ، فقال: « إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ والقَلْب يَحْزَنُ ، وَلا نَقُولُ إِلا ما يُرضي رَبَّنا وَإِنَّا لفِرَاقِكَ يا إِبْرَاهيمُ لمَحْزُونُونَ » .
رواه البخاري ، وروى مُسلمٌ بعضَه .
والأَحاديث في الباب كثيرة في الصحيح مشهورة ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Ali radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi putranya yang bernama Ibrahim, saat dia sedang sekarat. Saat itu, kedua mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meneteskan air mata. Abdurrahman bin 'Auf bertanya: "Wahai Rasulullah, bahkan engkau pun menangis?" Beliau bersabda: "Wahai Ibnu 'Auf, ini adalah rasa kasih sayang." Kemudian air mata beliau terus mengalir, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya air mata mengalir dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan sesuatu yang mendatangkan murka Tuhan kami. Wahai Ibrahim, sesungguhnya kami sangat bersedih karena berpisah denganmu."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa menangis karena rasa sedih dan kehilangan adalah ekspresi kasih sayang (rahmat) yang manusiawi dan diperbolehkan dalam Islam. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan bahwa seorang Muslim boleh mengekspresikan kesedihan hatinya. Namun, di saat yang sama, lisan harus tetap dijaga untuk hanya mengucapkan perkataan yang diridhai Allah, menunjukkan kesabaran dan penerimaan atas takdir-Nya.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa menangis karena rasa sedih dan kehilangan adalah ekspresi kasih sayang (rahmat) yang manusiawi dan diperbolehkan dalam Islam. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan bahwa seorang Muslim boleh mengekspresikan kesedihan hatinya. Namun, di saat yang sama, lisan harus tetap dijaga untuk hanya mengucapkan perkataan yang diridhai Allah, menunjukkan kesabaran dan penerimaan atas takdir-Nya.