Kitab 1 · Bab 17
Kewajiban menegakkan hukum Allah, dan apa yang harus diucapkan oleh orang yang diajak kepada hal tersebut, serta amar ma'ruf nahi munkar.
✦ 3 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم، ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجاً مما قضيت، ويسلموا تسليماً ﴾ .سورة النساء(65)
Terjemahan
Allah berfirman: "Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman (dengan iman yang sempurna) hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman seorang muslim terikat dengan penerimaan total terhadap hukum Rasulullah ﷺ. Inti pelajarannya adalah keimanan yang sejati mengharuskan kita merujuk segala perselisihan kepada sunnah beliau, tanpa ada rasa berat hati atau penolakan dalam diri. Konsekuensinya, kepatuhan harus lahir dari ketundukan hati (taslim) yang utuh, bukan sekadar kepatuhan lahiriah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman seorang muslim terikat dengan penerimaan total terhadap hukum Rasulullah ﷺ. Inti pelajarannya adalah keimanan yang sejati mengharuskan kita merujuk segala perselisihan kepada sunnah beliau, tanpa ada rasa berat hati atau penolakan dalam diri. Konsekuensinya, kepatuhan harus lahir dari ketundukan hati (taslim) yang utuh, bukan sekadar kepatuhan lahiriah.
# 2
وقال تعالى: ﴿ إنما كان قول المؤمنين إذا دعوا إلى اللَّه ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا: سمعنا وأطعنا، وأولئك هم المفلحون ﴾ .سورة النور(51)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan: 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur: 51)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ciri utama orang beriman adalah ketundukan total kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Sikap "sami'na wa atha'na" (kami mendengar dan kami taat) tanpa keraguan atau penolakan adalah kunci keberuntungan di dunia dan akhirat. Perintah ini mengajarkan untuk mengedepankan syariat di atas hawa nafsu dan pendapat pribadi dalam menyelesaikan segala perselisihan.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ciri utama orang beriman adalah ketundukan total kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Sikap "sami'na wa atha'na" (kami mendengar dan kami taat) tanpa keraguan atau penolakan adalah kunci keberuntungan di dunia dan akhirat. Perintah ini mengajarkan untuk mengedepankan syariat di atas hawa nafsu dan pendapat pribadi dalam menyelesaikan segala perselisihan.
# 3
عن أَبِي هريرة رضي اللَّه عنه ، قال : لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : { للَّهِ ما في السَّمواتِ وَمَا فِي الأرض وإن تبدوا مافِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفوهُ يُحاسبْكُمْ بِهِ اللَّه} الآية [البقرة 283 ] اشْتَدَّ ذلكَ عَلَى أَصْحابِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فأَتوْا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ثُمَّ برَكُوا عَلَى الرُّكَب فَقالُوا : أَيْ رسولَ اللَّه كُلِّفَنَا مِنَ الأَعمالِ مَا نُطِيقُ : الصَّلاَةَ وَالْجِهادَ وَالصِّيام وَالصَّدقةَ ، وَقَدَ أُنْزلتْ عليْكَ هَذِهِ الآيَةُ وَلا نُطِيقُهَا . قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَتُريدُونَ أَنْ تَقُولوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتابَين مِنْ قَبْلكُمْ : سَمِعْنَا وَعصينَا ؟ بَلْ قُولوا : سمِعْنا وَأَطَعْنَا غُفْرانَك رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمصِيرُ » فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَومُ ، وَذَلقَتْ بِهَا أَلْسِنتهُمْ ، أَنَزلَ اللَّه تَعَالَى في إِثْرهَا : { آمنَ الرَّسُولُ بِما أُنْزِلَ إِليْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤمِنونَ كُلٌّ آمنَ بِاللَّه وَملائِكَتِهِ وكُتبِه وَرُسُلهِ لا نُفرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلهِ وَقالوا سمعْنَا وَأَطعْنا غُفْرَانكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصيرُ } فَلَمَّا فعَلُوا ذلك نَسَخَهَا اللَّه تَعَالَى ، فَأَنْزَلَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : { لا يُكلِّفُ اللَّه نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبتْ ، رَبَّنَا لا تُؤاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَو أَخْطَأْنَا } قَالَ : نَعَمْ { رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا } قَالَ: نعَمْ { رَبَّنَا ولا تُحَمِّلْنَا مَالا طَاقَةَ لَنَا بِهِ } قَالَ : نَعَمْ { واعْفُ عَنَّا واغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْت مَوْلانَا فانْصُرنَا عَلَى الْقَومِ الْكَافِرينَ } قَالَ : نعَمْ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah (رضي الله عنه) berkata: Ketika Allah menurunkan ayat kepada Rasul-Nya: "Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan memperhitungkannya. Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 283). Ayat ini sangat memberatkan para sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka mendatangi Rasulullah ﷺ, lalu berlutut seraya berkata: "Wahai Rasulullah, kami dibebani amalan-amalan yang kami mampu melakukannya, seperti shalat, jihad, puasa, sedekah. Tetapi ayat yang diturunkan kepadamu ini, kami tidak mampu melakukannya." Rasulullah ﷺ bersabda: "Apakah kalian ingin mengatakan seperti yang dikatakan ahli kitab sebelum kalian: 'Kami mendengar tetapi kami tidak menaati'? Seharusnya kalian katakan: 'Kami mendengar dan kami taati, ampunilah kami wahai Rabb kami, dan kepada-Mu lah kami kembali.'" Maka mereka pun mengucapkan: "Kami mendengar dan kami taati, ampunilah kami wahai Rabb kami, dan kepada-Mu lah kami kembali." Ketika mereka mengucapkannya dengan lisan yang tunduk, Allah menurunkan ayat: "Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata: 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Rabb kami, dan kepada-Mu lah kami kembali.'" Setelah mereka melakukan hal itu, Allah menurunkan ayat baru yang menghapus ayat sebelumnya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. 'Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.' Allah berfirman: 'Aku lakukan.' 'Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.' Allah berfirman..."
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa para sahabat merasa berat dengan beban takwa yang menyangkut isi hati. Namun, Rasulullah ﷺ kemudian menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perbuatan nyata, bukan sekadar lintasan hati. Hikmahnya, Islam adalah agama yang realistis dan mempertimbangkan kemampuan manusia, serta menekankan amal perbuatan, bukan sekadar angan-angan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa para sahabat merasa berat dengan beban takwa yang menyangkut isi hati. Namun, Rasulullah ﷺ kemudian menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perbuatan nyata, bukan sekadar lintasan hati. Hikmahnya, Islam adalah agama yang realistis dan mempertimbangkan kemampuan manusia, serta menekankan amal perbuatan, bukan sekadar angan-angan.