Kitab 1 · Bab 18
Larangan membuat dan mengada-adakan perkara baru (dalam agama).
✦ 7 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ فماذا بعد الحق إلا الضلال ﴾ .سورة يونس(32)
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka tidak ada setelah kebenaran itu, melainkan kesesatan." (QS. Yunus: 32)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran (al-haqq) yang berasal dari Allah bersifat mutlak dan tunggal. Pilihan bagi manusia hanya dua: mengikuti petunjuk-Nya atau menyimpang ke dalam kesesatan. Tidak ada jalan ketiga atau kebenaran tandingan. Oleh karena itu, ayat ini mengajak kita untuk senantiasa berpegang teguh pada kebenaran wahyu dan waspada terhadap segala bentuk penyimpangan.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran (al-haqq) yang berasal dari Allah bersifat mutlak dan tunggal. Pilihan bagi manusia hanya dua: mengikuti petunjuk-Nya atau menyimpang ke dalam kesesatan. Tidak ada jalan ketiga atau kebenaran tandingan. Oleh karena itu, ayat ini mengajak kita untuk senantiasa berpegang teguh pada kebenaran wahyu dan waspada terhadap segala bentuk penyimpangan.
# 2
وقال تعالى: ﴿ ما فرطنا في الكتاب من شيء ﴾ .سورة الأنعام(38)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Kitab (Al-Qur'an)." (QS. Al-An'am: 38)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kesempurnaan dan kelengkapan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Tidak ada suatu perkara penting yang berkaitan dengan agama dan kebahagiaan dunia akhirat yang luput dari penjelasannya. Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan rujukan utama dan mencukupi bagi seluruh umat manusia dalam semua urusan agamanya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kesempurnaan dan kelengkapan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Tidak ada suatu perkara penting yang berkaitan dengan agama dan kebahagiaan dunia akhirat yang luput dari penjelasannya. Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan rujukan utama dan mencukupi bagi seluruh umat manusia dalam semua urusan agamanya.
# 3
وقال تعالى: ﴿ فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى اللَّه والرسول ﴾سورة النساء(59) : أي الكتاب والسنة.
Terjemahan
Allah berfirman: "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)." (QS. An-Nisa': 59)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa sumber utama penyelesaian segala perselisihan dan perbedaan pendapat dalam agama adalah kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini merupakan prinsip fundamental agar umat tidak terpecah oleh subjektivitas dan hawa nafsu. Perintah ini juga menunjukkan otoritas mutlak kedua wahyu tersebut sebagai pedoman hidup yang wajib didahulukan di atas pendapat manusia mana pun.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa sumber utama penyelesaian segala perselisihan dan perbedaan pendapat dalam agama adalah kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini merupakan prinsip fundamental agar umat tidak terpecah oleh subjektivitas dan hawa nafsu. Perintah ini juga menunjukkan otoritas mutlak kedua wahyu tersebut sebagai pedoman hidup yang wajib didahulukan di atas pendapat manusia mana pun.
# 4
وقال تعالى: ﴿ وأن هذا صراطي مستقيماً فاتبعوه، ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ﴾ .سورة الأنعام(153)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya." (QS. Al-An'am: 153)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa hanya ada satu jalan lurus (ash-shirath al-mustaqim) yang ditetapkan Allah untuk diikuti. Larangan mengikuti "jalan-jalan lain" adalah peringatan agar tidak terpecah belah oleh berbagai pendapat, hawa nafsu, atau bid'ah yang menyimpang dari ajaran-Nya. Hikmahnya adalah kewajiban untuk berpegang teguh pada syariat Allah secara murni dan menjauhi segala bentuk penyimpangan yang akan memecah belah kesatuan umat.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa hanya ada satu jalan lurus (ash-shirath al-mustaqim) yang ditetapkan Allah untuk diikuti. Larangan mengikuti "jalan-jalan lain" adalah peringatan agar tidak terpecah belah oleh berbagai pendapat, hawa nafsu, atau bid'ah yang menyimpang dari ajaran-Nya. Hikmahnya adalah kewajiban untuk berpegang teguh pada syariat Allah secara murni dan menjauhi segala bentuk penyimpangan yang akan memecah belah kesatuan umat.
# 5
وقال تعالى: ﴿ قل إن كنتم تحبون اللَّه فاتبعوني يحببكم اللَّه، ويغفر لكم ذنوبكم ﴾ .سورة آل عمران(31)
Terjemahan
Allah berfirman: "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'" (QS. Ali 'Imran: 31)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa bukti cinta kepada Allah yang sejati adalah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. Konsekuensi dari mengikuti Nabi adalah mendapatkan cinta Allah dan ampunan-Nya. Dengan demikian, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, tetapi harus dibuktikan dengan ketundukan pada syariat dan teladan Rasulullah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa bukti cinta kepada Allah yang sejati adalah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. Konsekuensi dari mengikuti Nabi adalah mendapatkan cinta Allah dan ampunan-Nya. Dengan demikian, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, tetapi harus dibuktikan dengan ketundukan pada syariat dan teladan Rasulullah.
# 6
عن عائشةَ ، رضي اللَّه عنها ، قالت قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ أَحْدثَ في أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فهُو رَدٌّ » متفقٌ عليه .
وفي رواية لمسلمٍ : « مَنْ عَمِلَ عمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُو ردٌّ » .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (dalam ibadah) yang bukan urusan agama kami, maka amalan itu tertolak."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip dasar ibadah dalam Islam, yaitu al-ibrah bi al-ittiba' (beramal berdasarkan contoh Nabi), bukan dengan membuat-buat cara baru. Intinya, semua bentuk ibadah mahdhah (seperti shalat, puasa) harus bersumber dari tuntunan Rasulullah ﷺ. Inovasi dalam ritual ibadah yang tidak ada contohnya (bid'ah) ditolak, karena agama telah sempurna. Hikmahnya adalah menjaga kemurnian syariat dari penyimpangan.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (dalam ibadah) yang bukan urusan agama kami, maka amalan itu tertolak."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip dasar ibadah dalam Islam, yaitu al-ibrah bi al-ittiba' (beramal berdasarkan contoh Nabi), bukan dengan membuat-buat cara baru. Intinya, semua bentuk ibadah mahdhah (seperti shalat, puasa) harus bersumber dari tuntunan Rasulullah ﷺ. Inovasi dalam ritual ibadah yang tidak ada contohnya (bid'ah) ditolak, karena agama telah sempurna. Hikmahnya adalah menjaga kemurnian syariat dari penyimpangan.
# 7
وعن جابرٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : كان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، إِذَا خَطَب احْمرَّتْ عيْنَاهُ ، وعَلا صوْتُهُ ، وَاشْتَدَّ غَضَبهُ ، حتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ : «صَبَّحَكُمْ ومَسَّاكُمْ » وَيقُولُ : « بُعِثْتُ أَنَا والسَّاعةُ كَهَاتيْن » وَيَقْرنُ بين أُصْبُعَيْهِ ، السبَابَةِ ، وَالْوُسْطَى ، وَيَقُولُ: « أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيرَ الْحَديثَ كِتَابُ اللَّه ، وخَيْرَ الْهَدْى هدْيُ مُحمِّد صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدثَاتُهَا وكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ » ثُمَّ يقُولُ : « أَنَا أَوْلَى بُكُلِّ مُؤْمِن مِنْ نَفْسِهِ . مَنْ تَرَك مَالا فَلأهْلِهِ ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْناً أَوْ ضَيَاعاً، فَإِليَّ وعَلَيَّ » رواه مسلم .
وعنِ الْعِرْبَاض بن سَارِيَةَ ، رضي اللَّه عنه ، حَدِيثُهُ السَّابِقُ في بابِ الْمُحَافَظةِ عَلَى السُّنَّةِ.
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ ketika berkhutbah Jumat, matanya memerah, suaranya keras, dan penuh kemarahan yang sangat, seakan-akan beliau sedang memperingatkan pasukan (tentang musuh). Beliau bersabda: "Musuh dapat menyerang kalian baik di waktu pagi maupun petang." Dan beliau bersabda: "Jarak waktu antara aku diutus sebagai Rasul dan hari Kiamat adalah seperti dua jari ini." Beliau merapatkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Beliau bersabda lagi: "Kemudian, sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (bid'ah), dan setiap bid'ah itu sesat." Kemudian beliau bersabda: "Aku lebih berhak atas seorang mukmin daripada dirinya sendiri. Barangsiapa (meninggal) meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya. Dan barangsiapa (meninggal) meninggalkan hutang atau anak-anak yang masih kecil, maka akulah yang bertanggung jawab."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, hadis ini terdapat dalam bab menjaga sunnah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan kebenaran. Ekspresi fisik beliau yang tegas menunjukkan betapa seriusnya peringatan tentang dekatnya hari Kiamat dan ancaman terhadap iman. Pelajaran utamanya adalah kita harus menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman tertinggi, serta menjauhi segala perkara baru dalam agama (bid'ah) yang dapat menyesatkan.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, hadis ini terdapat dalam bab menjaga sunnah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan kebenaran. Ekspresi fisik beliau yang tegas menunjukkan betapa seriusnya peringatan tentang dekatnya hari Kiamat dan ancaman terhadap iman. Pelajaran utamanya adalah kita harus menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman tertinggi, serta menjauhi segala perkara baru dalam agama (bid'ah) yang dapat menyesatkan.