Kitab 1 · Bab 19
Tentang orang yang memulai amal kebaikan atau keburukan.
✦ 4 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين، واجعلنا للمتقين إماماً ﴾ .سورة الفرقان(74)
Terjemahan
Allah berfirman: "(Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih itu adalah) orang-orang yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa'."
(Al-Furqan: 74)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa doa dan cita-cita tertinggi seorang mukmin bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan umat. Memohon keluarga yang menjadi penyejuk hati adalah fondasi membangun masyarakat yang baik. Puncaknya adalah permohonan agar dijadikan pemimpin bagi orang-orang bertakwa, yang mencerminkan tanggung jawab untuk menjadi teladan dan pembawa manfaat seluas-luasnya bagi orang lain.
(Al-Furqan: 74)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa doa dan cita-cita tertinggi seorang mukmin bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan umat. Memohon keluarga yang menjadi penyejuk hati adalah fondasi membangun masyarakat yang baik. Puncaknya adalah permohonan agar dijadikan pemimpin bagi orang-orang bertakwa, yang mencerminkan tanggung jawab untuk menjadi teladan dan pembawa manfaat seluas-luasnya bagi orang lain.
# 2
وقال تعالى: ﴿ وجعلناهم أئمة يهدون بأمرنا ﴾ .سورة الأنبياء(73)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan Kami menjadikan mereka (Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub) sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami."
(Al-Anbiya': 73)
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati dan hidayah yang diberikan kepada para nabi seperti Ibrahim dan keturunannya bersumber dari perintah Allah, bukan dari keinginan pribadi. Hikmahnya, seorang pemimpin yang dijadikan teladan haruslah berpegang teguh pada perintah Allah dan berfungsi sebagai penunjuk jalan yang benar bagi umat, bukan sebagai pengikut hawa nafsu. Dengan demikian, kepemimpinan yang diberkahi adalah yang mengedepankan petunjuk Ilahi dalam setiap tindakannya.
(Al-Anbiya': 73)
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati dan hidayah yang diberikan kepada para nabi seperti Ibrahim dan keturunannya bersumber dari perintah Allah, bukan dari keinginan pribadi. Hikmahnya, seorang pemimpin yang dijadikan teladan haruslah berpegang teguh pada perintah Allah dan berfungsi sebagai penunjuk jalan yang benar bagi umat, bukan sebagai pengikut hawa nafsu. Dengan demikian, kepemimpinan yang diberkahi adalah yang mengedepankan petunjuk Ilahi dalam setiap tindakannya.
# 3
عَنْ أَبَي عَمروٍ جَرير بنِ عبدِ اللَّه ، رضي اللَّه عنه ، قال : كُنَّا في صَدْر النَّهارِ عِنْد رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَجاءهُ قوْمٌ عُرَاةٌ مُجْتابي النِّمار أَو الْعَباءِ . مُتَقلِّدي السُّيوفِ عامَّتُهمْ ، بل كلهم مِنْ مُضرَ ، فَتمعَّر وجهُ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، لِما رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقة ، فدخلَ ثُمَّ خرج ، فَأَمر بلالاً فَأَذَّن وأَقَامَ ، فَصلَّى ثُمَّ خَطبَ ، فَقالَ : {يَا أَيُّهَا الناسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الذي خلقكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدةٍ } إِلَى آخِرِ الآية: { إِنَّ اللَّه كَانَ عَليْكُمْ رَقِيباً} ، وَالآيةُ الأُخْرَى الَّتِي في آخر الْحشْرِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمنُوا اتَّقُوا اللَّه ولْتنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمتْ لِغَدٍ} تَصدٍََّق رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاع بُرِّه مِنْ صَاعِ تَمرِه حَتَّى قَالَ : وَلوْ بِشقِّ تَمْرةٍ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كادتْ كَفُّهُ تَعجزُ عَنْهَا ، بَلْ قَدْ عَجزتْ ، ثُمَّ تَتابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْميْنِ مِنْ طَعامٍ وَثيابٍ ، حتَّى رَأَيْتُ وجْهَ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، يَتهلَّلُ كَأَنَّهُ مذْهَبَةٌ ، فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ سَنَّ في الإِسْلام سُنةً حَسنةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وأَجْرُ منْ عَملَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ ينْقُصَ مِنْ أُجُورهِمْ شَيءٌ ، ومَنْ سَنَّ في الإِسْلامِ سُنَّةً سيَّئةً كَانَ عَليه وِزْرها وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعْده مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزارهمْ شَيْءٌ » رواه مسلم .
قَوْلُهُ : « مُجْتَابي النَّمارِ » هُو بالجِيمِ وبعد الأَلِفِ باء مُوَحَّدَةٌ . والنِّمَارُ : جمْعُ نَمِرَة، وَهِيَ : كِسَاءٌ مِنْ صُوفٍ مُخَطَّط . وَمَعْنَى « مُجْتابيها » أَي : لابِسِيهَا قدْ خَرَقُوهَا في رؤوسهم . « والْجَوْبُ » : الْقَطْعُ ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى : { وثَمْودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بالْوَادِ } أَيْ : نَحَتُوهُ وَقَطَعُوهُ . وَقَوْلهُ « تَمَعَّرَ » هو بالعين المهملة ، أَيْ : تَغَيرَ . وَقَوْلهُ: « رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ » بفتح الكاف وضمِّها ، أَيْ : صَبْرتَيْنِ . وَقَوْلُهُ : « كَأَنَّه مَذْهَبَةٌ» هـو بالذال المعجمةِ ، وفتح الهاءِ والباءِ الموحدة ، قَالَهُ الْقَاضي عِيَاضٌ وغَيْرُهُ . وصَحَّفَه بَعْضُهُمْ فَقَالَ : « مُدْهُنَةٌ » بِدَال مهملةٍ وضم الهاءِ وبالنون ، وَكَذَا ضَبَطَهُ الْحُمَيْدِيُّ ، والصَّحيحُ الْمَشْهُورُ هُوَ الأَوَّلُ . وَالْمُرَادُ بِهِ عَلَى الْوَجْهَيْنِ : الصَّفَاءُ وَالاسْتِنَارُة .
Terjemahan
Dari Abu 'Amr, yaitu Jarir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Kami berada di awal siang hari bersama Rasulullah ﷺ, lalu datanglah sekelompok orang yang telanjang, memakai selimut yang berlubang (karena sobek) atau jubah, dengan pedang terikat di pinggang. Kebanyakan, bahkan seluruhnya, dari suku Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ berubah (murung) karena melihat keadaan mereka yang sangat miskin. Beliau masuk kemudian keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk azan dan iqamah. Beliau shalat kemudian berkhutbah. Beliau membaca: 'Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu...' sampai akhir ayat: '...Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.' (An-Nisa': 1) dan ayat lain di akhir surat Al-Hasyr: 'Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok...' (Al-Hasyr: 18). Kemudian beliau menganjurkan bersedekah dengan dinar, dirham, pakaian, satu sha' gandum, atau satu sha' kurma, sampai beliau bersabda: '...walaupun hanya dengan separuh biji kurma.' Lalu datang seorang laki-laki Anshar membawa sekantong (harta) yang hampir tangannya tidak kuat, bahkan memang tidak kuat membawanya. Kemudian orang-orang berdatangan (bersedekah) berturut-turut, sampai aku melihat dua tumpukan makanan dan pakaian, hingga aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri, bagaikan emas yang bersinar. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa yang memulai (mencontohkan) suatu sunnah (perbuatan) yang baik dalam Islam, maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memulai (mencontohkan) suatu sunnah (perbuatan) yang buruk dalam Islam, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.'"
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya memberi contoh kebaikan dan bahaya memberi contoh keburukan. Pahala atau dosa dari orang yang mengikuti contoh itu akan terus mengalir kepada pelopor pertama tanpa mengurangi pahala/dosa pengikutnya. Ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab dan peluang amal kita dalam menyebarkan kebaikan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kepedulian sosial Nabi Muhammad ﷺ yang mendalam. Kesedihan beliau melihat kemiskinan para sahabat menjadi pendorong langsung untuk bertindak. Melalui khutbah setelah shalat, beliau mengajak seluruh umat bertakwa dan bersatu, mengingatkan bahwa semua manusia berasal dari asal yang sama, yang implikasinya adalah tanggung jawab bersama untuk saling menolong.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya memberi contoh kebaikan dan bahaya memberi contoh keburukan. Pahala atau dosa dari orang yang mengikuti contoh itu akan terus mengalir kepada pelopor pertama tanpa mengurangi pahala/dosa pengikutnya. Ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab dan peluang amal kita dalam menyebarkan kebaikan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kepedulian sosial Nabi Muhammad ﷺ yang mendalam. Kesedihan beliau melihat kemiskinan para sahabat menjadi pendorong langsung untuk bertindak. Melalui khutbah setelah shalat, beliau mengajak seluruh umat bertakwa dan bersatu, mengingatkan bahwa semua manusia berasal dari asal yang sama, yang implikasinya adalah tanggung jawab bersama untuk saling menolong.
# 4
وعن ابن مسعودٍ رضي اللَّه عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « ليس مِنْ نفْسٍ تُقْتَلُ ظُلماً إِلاَّ كَانَ عَلَى ابنِ آدمَ الأوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دمِهَا لأَنَّهُ كَان أَوَّل مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Setiap jiwa yang terbunuh secara zalim, maka anak pertama Adam (Qabil) ikut memikul sebagian tanggung jawab atas darahnya, karena dialah orang pertama yang membunuh (sehingga orang lain belajar membunuh karenanya)."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tanggung jawab kolektif dan bahaya memulai keburukan. Pembunuh pertama, Qabil, ikut menanggung dosa setiap pembunuhan zalim karena dialah yang mencontohkan dan membuka pintu kejahatan itu. Pelajaran utamanya adalah agar kita sangat berhati-hati agar tidak menjadi pelopor perbuatan maksiat, sebab dosa pelopor akan terus terbawa oleh para peniru yang datang setelahnya.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tanggung jawab kolektif dan bahaya memulai keburukan. Pembunuh pertama, Qabil, ikut menanggung dosa setiap pembunuhan zalim karena dialah yang mencontohkan dan membuka pintu kejahatan itu. Pelajaran utamanya adalah agar kita sangat berhati-hati agar tidak menjadi pelopor perbuatan maksiat, sebab dosa pelopor akan terus terbawa oleh para peniru yang datang setelahnya.