Kitab 1 · Bab 20
Memberi petunjuk kepada jalan kebaikan dan mengajak kepada petunjuk yang benar atau kepada kesesatan.
✦ 8 Hadith ✦
# 1
قال تعالى: ﴿ وادع إلى ربك ﴾ .سورة القصص(87)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan serulah (manusia) kepada Tuhanmu."
(Al-Qashash: 87)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan dakwah dengan hikmah dan cara yang baik. Perintah "ud'u" (serulah) bersifat umum, mencakup seluruh umat Islam sesuai kemampuan masing-masing, baik dengan lisan, tulisan, maupun keteladanan dalam akhlak. Seruan ini ditujukan kepada "Rabbika" (Tuhanmu), menegaskan bahwa dakwah harus murni mengajak kepada Allah, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Intinya, setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk mengajak kepada kebaikan dan ketauhidan.
(Al-Qashash: 87)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan dakwah dengan hikmah dan cara yang baik. Perintah "ud'u" (serulah) bersifat umum, mencakup seluruh umat Islam sesuai kemampuan masing-masing, baik dengan lisan, tulisan, maupun keteladanan dalam akhlak. Seruan ini ditujukan kepada "Rabbika" (Tuhanmu), menegaskan bahwa dakwah harus murni mengajak kepada Allah, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Intinya, setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk mengajak kepada kebaikan dan ketauhidan.
# 2
وقال تعالى: ﴿ ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة ﴾ .سورة النحل(125)
Terjemahan
Allah berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik."
(An-Nahl: 125)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa dakwah Islam harus dilaksanakan dengan dua pendekatan utama: hikmah (argumentasi yang tepat, mendalam, dan sesuai kondisi objek dakwah) dan mau'izhah hasanah (nasihat baik yang menyentuh hati tanpa celaan). Ini mengajarkan bahwa tujuan mengajak kepada kebenaran bukanlah untuk mengalahkan lawan bicara, melainkan untuk memberikan pencerahan dengan cara yang santun dan efektif, sehingga pesan Islam dapat diterima dengan kesadaran.
(An-Nahl: 125)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa dakwah Islam harus dilaksanakan dengan dua pendekatan utama: hikmah (argumentasi yang tepat, mendalam, dan sesuai kondisi objek dakwah) dan mau'izhah hasanah (nasihat baik yang menyentuh hati tanpa celaan). Ini mengajarkan bahwa tujuan mengajak kepada kebenaran bukanlah untuk mengalahkan lawan bicara, melainkan untuk memberikan pencerahan dengan cara yang santun dan efektif, sehingga pesan Islam dapat diterima dengan kesadaran.
# 3
وقال تعالى: ﴿ وتعاونوا على البر والتقوى ﴾ .سورة آل عمران(2)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa."
(Al-Ma'idah: 2)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk saling bekerja sama dan mendukung dalam segala bentuk kebaikan (al-birr) dan ketakwaan (at-taqwa). Intinya, solidaritas sosial harus dibangun di atas dasar ketaatan kepada Allah dan nilai-nilai kebaikan universal, bukan untuk tujuan dosa atau permusuhan. Perintah ini menjadi landasan penting bagi terciptanya masyarakat yang harmonis, saling peduli, dan kuat secara spiritual maupun sosial.
(Al-Ma'idah: 2)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk saling bekerja sama dan mendukung dalam segala bentuk kebaikan (al-birr) dan ketakwaan (at-taqwa). Intinya, solidaritas sosial harus dibangun di atas dasar ketaatan kepada Allah dan nilai-nilai kebaikan universal, bukan untuk tujuan dosa atau permusuhan. Perintah ini menjadi landasan penting bagi terciptanya masyarakat yang harmonis, saling peduli, dan kuat secara spiritual maupun sosial.
# 4
وقال تعالى: ﴿ ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ﴾ .سورة آل عمران(104)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan."
(Ali 'Imran: 104)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kewajiban kolektif (fardhu kifayah) umat Islam untuk selalu memiliki kelompok yang aktif mendakwahkan kebaikan (al-khair) dan mengajak pada yang ma'ruf. Hikmahnya adalah agar agama tetap terjaga, masyarakat terbimbing, dan kebaikan senantiasa dominan. Setiap muslim, sesuai kapasitasnya, berkewajiban mendukung dan terlibat dalam upaya dakwah ini.
(Ali 'Imran: 104)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kewajiban kolektif (fardhu kifayah) umat Islam untuk selalu memiliki kelompok yang aktif mendakwahkan kebaikan (al-khair) dan mengajak pada yang ma'ruf. Hikmahnya adalah agar agama tetap terjaga, masyarakat terbimbing, dan kebaikan senantiasa dominan. Setiap muslim, sesuai kapasitasnya, berkewajiban mendukung dan terlibat dalam upaya dakwah ini.
# 5
وعن أَبِي مسعودٍ عُقبَةَ بْن عمْرٍو الأَنْصَارِيِّ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلهُ مثلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan berdakwah dan mengajak kepada kebaikan. Pahala tidak hanya untuk pelaku langsung, tetapi juga bagi siapa saja yang menjadi sebab terlaksananya kebaikan tersebut, baik dengan mengajarkan, menunjukkan jalan, atau memudahkannya. Ini merupakan motivasi besar untuk saling menasihati dalam kebenaran dan ketakwaan, serta mendorong semangat kolaborasi dalam kebaikan.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan berdakwah dan mengajak kepada kebaikan. Pahala tidak hanya untuk pelaku langsung, tetapi juga bagi siapa saja yang menjadi sebab terlaksananya kebaikan tersebut, baik dengan mengajarkan, menunjukkan jalan, atau memudahkannya. Ini merupakan motivasi besar untuk saling menasihati dalam kebenaran dan ketakwaan, serta mendorong semangat kolaborasi dalam kebaikan.
# 6
وعن أَبِي هريرة رضي اللَّه عنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «منْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ منْ تَبِعَهُ لا ينْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُورِهِم شَيْئاً ، ومَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لا ينقُصُ ذلكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئاً » رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk yang baik, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip tanggung jawab sosial dalam menyebarkan kebaikan atau keburukan. Setiap dakwah atau seruan yang kita lakukan memiliki konsekuensi pahala atau dosa yang berlipat, mengikuti jumlah orang yang terpengaruh olehnya. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dan selektif dalam mengajak orang lain, memastikan bahwa seruan kita selalu menuju petunjuk dan kebaikan.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip tanggung jawab sosial dalam menyebarkan kebaikan atau keburukan. Setiap dakwah atau seruan yang kita lakukan memiliki konsekuensi pahala atau dosa yang berlipat, mengikuti jumlah orang yang terpengaruh olehnya. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dan selektif dalam mengajak orang lain, memastikan bahwa seruan kita selalu menuju petunjuk dan kebaikan.
# 7
وعن أَبي العباسِ سهل بنِ سعدٍ السَّاعِدِيِّ رضي اللَّه عنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال يَوْمَ خَيْبَرَ : « لأعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَداً رَجُلاً يَفْتَحُ اللَّه عَلَى يَدَيْهِ ، يُحبُّ اللَّه ورسُولَهُ ، وَيُحبُّهُ اللَّه وَرَسُولُهُ » فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا . فَلَمَّا أصبحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : كُلُّهُمْ يَرجُو أَنْ يُعْطَاهَا ، فقال: « أَيْنَ عليُّ بنُ أَبي طالب ؟ » فَقيلَ : يا رسولَ اللَّه هُو يَشْتَكي عَيْنَيْه قال : « فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ » فَأُتِي بِهِ ، فَبَصقَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في عيْنيْهِ ، وَدعا لَهُ ، فَبَرأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجعٌ ، فأَعْطَاهُ الرَّايَةَ . فقال عليٌّ رضي اللَّه عنه : يا رسول اللَّه أُقاتِلُهمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا ؟ فَقَالَ : « انْفُذْ عَلَى رِسلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلامِ ، وَأَخْبرْهُمْ بِمَا يجِبُ مِنْ حقِّ اللَّه تَعَالَى فِيهِ ، فَواللَّه لأَنْ يَهْدِيَ اللَّه بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمَ» متفقٌ عليه.
قوله : « يَدُوكُونَ » : أَيْ يخُوضُونَ ويتحدَّثون ، قوْلُهُ : « رِسْلِكَ » بكسر الراءِ وبفَتحِهَا لُغَتَانِ ، وَالْكَسْرُ أَفْصَحُ .
Terjemahan
Dari Abu 'Abdillah Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, bahwa pada perang Khaibar, Rasulullah ﷺ bersabda: "Besok aku akan serahkan bendera ini kepada seorang laki-laki yang Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya." Malam itu orang-orang saling memperbincangkan siapakah yang akan diberi bendera itu. Keesokan harinya, orang-orang datang menemui Rasulullah ﷺ, mereka semua berharap akan diberi bendera itu. Beliau bertanya: "Di mana Ali bin Abi Thalib?" Mereka menjawab: "Wahai Rasulullah, matanya sedang sakit." Beliau bersabda: "Suruhlah dia datang kepadaku." Ketika Ali dibawa, Rasulullah ﷺ meludahi mata Ali dan mendoakannya, seketika itu juga sembuh seakan-akan tidak pernah sakit. Beliau pun menyerahkan bendera itu kepadanya. Ali bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?" Beliau bersabda: "Berjalanlah perlahan-lahan sampai kamu tiba di tanah mereka. Kemudian serulah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kewajiban mereka terhadap Allah. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta yang paling berharga)."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan khusus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, yang dipilih langsung oleh Rasulullah ﷺ dengan kriteria ilahiyah: cinta dan dicintai Allah serta Rasul-Nya. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan dan kejayaan umat ditentukan oleh ketakwaan dan kedekatan hubungan dengan Allah, bukan semata popularitas atau ambisi pribadi. Pilihan Nabi yang mengejutkan para sahabat juga mengajarkan bahwa Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki berdasarkan ilmu-Nya.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan khusus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, yang dipilih langsung oleh Rasulullah ﷺ dengan kriteria ilahiyah: cinta dan dicintai Allah serta Rasul-Nya. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan dan kejayaan umat ditentukan oleh ketakwaan dan kedekatan hubungan dengan Allah, bukan semata popularitas atau ambisi pribadi. Pilihan Nabi yang mengejutkan para sahabat juga mengajarkan bahwa Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki berdasarkan ilmu-Nya.
# 8
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه أَنْ فَتًى مِنْ أَسْلَمَ قال : يا رسُولَ اللَّه إِنِّي أُرِيد الْغَزْوَ ولَيْس مَعِي مَا أَتجهَّزُ بِهِ ؟ قَالَ : « ائْتِ فُلاناً فإِنه قَدْ كانَ تَجَهَّزَ فَمَرِضَ » فَأَتَاهُ فقال : إِنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُقْرئُكَ السَّلامَ وَيَقُولُ : أَعْطِني الذي تجَهَّزْتَ بِهِ ، فقال : يا فُلانَةُ أَعْطِيهِ الذي تجَهَّزْتُ بِهِ ، ولا تحْبِسِي مِنْهُ شَيْئاً ، فَواللَّه لا تَحْبِسِينَ مِنْهُ شَيْئاً فَيُبَارَكَ لَكِ فِيهِ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki dari Bani Aslam datang dan berkata: "Wahai Rasulullah! Aku ingin ikut berperang, tetapi aku tidak memiliki bekal untuk berperang." Beliau bersabda: "Temuilah si fulan, karena dia telah mempersiapkan peralatan perang, tetapi dia sakit." Laki-laki itu pun menemui orang tersebut dan berkata: "Sesungguhnya Rasulullah menyampaikan salam untukmu, dan beliau bersabda: 'Berikanlah peralatan perang yang telah kamu persiapkan itu kepadaku.'" Orang itu berkata kepada istrinya: "Wahai istriku, berikanlah semua peralatan yang telah kusiapkan itu kepadanya, janganlah kamu sembunyikan sedikit pun. Demi Allah, jika kamu menyembunyikan sesuatu, Allah tidak akan memberkahinya.'"
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya solidaritas sosial (ta'awun) dalam Islam. Seorang sahabat yang sakit rela menyerahkan seluruh bekal perangnya kepada saudaranya yang membutuhkan, demi mendukung jihad fi sabilillah. Kisah ini juga menunjukkan kepercayaan dan kepatuhan kepada petunjuk Rasulullah, serta keyakinan bahwa berinfak dengan ikhlas akan mendatangkan keberkahan harta.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya solidaritas sosial (ta'awun) dalam Islam. Seorang sahabat yang sakit rela menyerahkan seluruh bekal perangnya kepada saudaranya yang membutuhkan, demi mendukung jihad fi sabilillah. Kisah ini juga menunjukkan kepercayaan dan kepatuhan kepada petunjuk Rasulullah, serta keyakinan bahwa berinfak dengan ikhlas akan mendatangkan keberkahan harta.