✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Pahala
Kitab 9 · Bab 43

Pahala menyegerakan berbuka puasa, apa yang sebaiknya dimakan saat berbuka, dan apa yang sebaiknya dibaca saat berbuka

✦ 7 Hadith ✦
# 1
عَنْ سَهْلِ بنِ سَعْدٍ رضِيَ اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « لا يَزالُ النَّاسُ بخَيْرٍ مَا عَجلوا الفِطْرَ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa menyegerakan berbuka puasa saat Maghrib tiba adalah sunnah yang membawa kebaikan kolektif. Sikap ini mencerminkan ketaatan pada ketentuan Allah dan menghindari sikap berlebihan dalam agama. Dengan demikian, kesegeraan dalam berbuka menjadi indikator bahwa umat tetap berpegang pada ajaran Rasulullah, yang merupakan sumber kebaikan dan keberkahan.

# 2
وعن أَبي عَطِيَّةَ قَالَ : دخَلتُ أَنَا ومسْرُوقٌ على عائشَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهَا فقَالَ لهَا مَسْرُوقٌ : رَجُلانِ منْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كلاَهُمَا لا يَأْلُو عَنِ الخَيْرِ : أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ المغْربَ والإِفْطَارَ ، والآخَرُ يُؤَخِّرُ المغْرِبَ والإِفْطَارَ ؟ فَقَالَتْ : مَنْ يُعَجِّلُ المَغْربَ وَالإِفْطَارَ ؟ قالَ : عَبْدُ اللَّه ¬ يعني ابنَ مَسْعودٍ ¬ فَقَالَتْ : هكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، يصْنَعُ . رواه مسلم. قوله : « لا يَأْلُوا » أَيْ لا يُقَصِّرُ في الخَيْرِ .
Terjemahan
Dari Abu 'Athiyyah, dia berkata: "Aku dan Masruq masuk menemui 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Masruq berkata kepadanya: 'Ada dua orang dari sahabat Muhammad ﷺ, keduanya tidak pernah kendor dalam kebaikan. Salah satunya menyegerakan maghrib dan berbuka, sedangkan yang lain mengakhirkan maghrib dan berbuka?' 'Aisyah bertanya: 'Siapa yang menyegerakan maghrib dan berbuka?' Dia menjawab: 'Abdullah -maksudnya Ibnu Mas'ud-. 'Aisyah berkata: 'Demikianlah Rasulullah ﷺ melakukannya.'" (Diriwayatkan oleh Muslim). Ucapan "la ya'lu" artinya: tidak kendor/berkurang dalam kebaikan.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sunnah Nabi dalam berbuka puasa dan salat Maghrib adalah menyegerakannya. Penjelasan Aisyah ini menjadi rujukan utama untuk menyelesaikan perbedaan praktik di kalangan sahabat. Hikmahnya adalah mengutamakan petunjuk Rasulullah, menjaga kesehatan dengan segera mengembalikan energi, serta tidak memberatkan diri dalam ibadah.

# 3
وَعَنْ أَبي هُريرَةَ رَضِيَ اللَّه عنْهُ قالَ : قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال اللَّه عَزَّ وَجَلَّ: { أَحَبُّ عِبَادِي إِليَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْراً } رواه الترمذي وقالَ : حَديثٌ حسنٌ
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbukanya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: hadits hasan).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa menyegerakan berbuka puasa ketika waktu maghrib tiba adalah amalan yang sangat dicintai Allah. Hal ini menunjukkan sikap bersegera dalam ketaatan dan menjalankan sunnah Nabi, serta menghindari sikap berlebihan dan mempersulit diri dalam ibadah. Dengan demikian, bersegera berbuka mencerminkan ketaatan dan rasa syukur atas nikmat yang Allah izinkan.

# 4
وَعنْ عُمر بنِ الخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْهُ ، قالَ : قال رَسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ ههُنَا وأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ ههُنا ، وغَرَبتِ الشَّمسُ ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصائمُ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila malam telah datang dari sini dan siang telah pergi dari sini, serta matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah (boleh) berbuka." (Muttafaqun 'alaih).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan batas waktu berbuka puasa, yaitu ketika matahari terbenam secara sempurna dan malam mulai datang. Ini menunjukkan kemudahan dalam Islam, di mana seorang muslim tidak perlu menunda-nunda berbuka setelah yakin matahari telah terbenam. Hikmahnya adalah menyegerakan berbuka sesuai sunnah merupakan bentuk ketaatan dan syukur atas karunia Allah.

# 5
وَعَنْ أَبي إِبراهيمَ عبدِ اللَّهِ بنِ أَبي أَوْفى رَضِي اللَّه عنْهُمَا ، قالَ : سِرْنَا مَعَ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَهُوَ صائمٌ ، فَلَمَّا غَرَبتِ الشَّمسُ ، قالَ لِبْعضِ الْقَوْمِ : « يَا فُلانُ انْزلْ فَاجْدحْ لَنا ، فَقَال : يا رَسُول اللَّهِ لَوْ أَمْسَيتَ ؟ قالَ : « انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا » قالَ : إِنَّ علَيْكَ نَهَاراً ، قال : « انْزلْ فَاجْدَحْ لَنَا » قَالَ : فَنَزَلَ فَجَدَحَ لَهُمْ فَشَرِبَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ثُمَّ قالَ: « إِذا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ ههُنَا ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَائمُ » وأَشارَ بِيَدِهِ قِبَلَ المَشْرِقِ . متفقٌ عليه . قوله : « اجْدَحْ » بجيم ثُمَّ دال ثم حاء مهملتين ، أَي : اخْلِطِ السَّوِيقَ بالماءِ .
Terjemahan
Dari Ibrahim 'Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: "Kami pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ sementara beliau sedang berpuasa. Ketika matahari terbenam, beliau berkata kepada seseorang: 'Wahai fulan, turunlah dan siapkan minuman untuk berbuka bagi kami.' Orang itu berkata: 'Wahai Rasulullah, masih ada siang.' Beliau bersabda: 'Turunlah dan siapkan minuman untuk berbuka bagi kami.' Dia berkata: 'Masih ada siang.' Beliau bersabda lagi: 'Turunlah dan siapkan minuman untuk berbuka bagi kami.' Maka dia pun turun dan menyiapkan minuman untuk berbuka bagi mereka. Rasulullah ﷺ lalu meminumnya, kemudian bersabda: 'Apabila kalian melihat malam telah datang dari sini, itulah waktu orang yang berpuasa berbuka.' Beliau menunjuk ke arah timur dengan tangannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk segera berbuka puasa begitu matahari terbenam, tanpa menunda-nunda. Perintah Rasulullah ﷺ yang diulang tiga kali menunjukkan penekanan terhadap sunah ini. Sikap sahabat yang ragu karena masih terlihat cahaya siang diluruskan oleh Nabi, mengajarkan bahwa patokan berbuka adalah tenggelamnya matahari, bukan lenyapnya cahaya senja sepenuhnya.

# 6
وَعَنْ سَلْمَانَ بنِ عَامر الضَّبِّيِّ الصَّحَابيِّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: «إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطِرْ عَلى تَمْرٍ ، فَإِنْ لَمْ يَجدْ ، فَلْيُفْطِرْ على مَاءٍ فَإِنَّه طَهُورٌ » . روَاهُ أَبو دَاودَ ، والترمذي وقالَ : حديثٌ حَسَنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Salman bin 'Amir Adh-Dhabbi radhiyallahu 'anhu, dia melaporkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Apabila seseorang dari kalian akan berbuka puasa, hendaklah dia memulainya dengan kurma. Jika tidak ada, maka mulailah dengan air karena ia adalah penyuci." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sunnah dan hikmah medis dalam berbuka puasa. Anjuran mendahulukan kurma karena mudah dicerna, cepat mengembalikan energi, dan mengandung gula alami. Jika tidak ada, air putih menjadi pilihan utama karena suci, menyegarkan, dan menghidrasi tubuh dengan netral. Intinya, Islam mengatur tata cara berbuka dengan prinsip kesederhanaan, kesehatan, dan kesiapan untuk ibadah selanjutnya.

# 7
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، قالَ : كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلى رُطَبَاتٍ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيرْاتٌ ، فإِنْ لمْ تَكُنْ تُميرْاتٌ حَسَا حَسَواتٍ مِنْ ماءٍ رواه أبو داود ، والترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Rasulullah ﷺ biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah) sebelum shalat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, maka beliau meminum beberapa teguk air." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia menyatakan bahwa hadits ini hasan).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sunnah Nabi ﷺ dalam mendahulukan berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib, sebagai bentuk menyegerakan kebaikan. Urutan berbuka dengan ruthab, tamr, atau air menunjukkan kesederhanaan dan memprioritaskan yang manis dan mudah dicerna untuk memulihkan energi. Intinya, Islam memberikan tuntunan yang mudah dan fleksibel, sesuai dengan ketersediaan makanan, tanpa memberatkan umatnya.