✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hal-Hal yang Dilarang
Kitab 18 · Bab 1

Larangan Menggunjing dan Perintah Menjaga Lisan

✦ 20 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴾[سورة الحجرات(12)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Janganlah kalian saling memakan daging saudara kalian yang sudah mati. Sungguh, kalian pasti membencinya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." (Al-Hujurat: 12)

Penjelasan singkat: Ayat ini melarang perbuatan ghibah (menggunjing) dengan perumpamaan yang sangat keras dan menjijikkan, yaitu seperti memakan bangkai saudara sendiri. Larangan ini menegaskan betapa buruk dan tercelanya perbuatan tersebut di sisi Allah. Hikmahnya, kita diingatkan untuk menjaga lisan, menghormati kehormatan sesama muslim, dan segera bertaubat kepada Allah Yang Maha Penerima Taubat jika pernah melakukannya.

# 2
وقال تعالى: ﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾[سورة الإسراء(36)]
Terjemahan
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti (mengucapkan/membenarkan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." [Surat Al-Isra' (36)]

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan larangan keras untuk menyebarkan perkataan, keyakinan, atau informasi tanpa dasar ilmu yang sahih. Setiap indera dan hati yang Allah karuniakan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib berhati-hati, selalu memverifikasi kebenaran, dan hanya berbicara berdasarkan pengetahuan yang jelas agar terhindar dari dosa dan kesesatan.

# 3
وقال تعالى: ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾[سورة ق(18)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (Qaf: 18)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia, baik atau buruk, dicatat oleh malaikat yang ditugasi (Kiraman Katibin). Pelajaran utamanya adalah keharusan menjaga lisan, karena semua perkataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Ini mendorong kita untuk selalu berkata jujur, bermanfaat, dan menghindari ghibah, dusta, atau kata-kata sia-sia.

# 4
وَعنْ أبي هُريْرَةَ رضي اللَّه عنْهُ عَنِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَليقُلْ خَيْراً ، أوْ ليَصْمُتْ » متفقٌ عليه . وَهذا الحَديثُ صَرِيحٌ في أَنَّهُ يَنْبغي أن لا يتَكَلَّم إلاَّ إذا كَان الكَلامُ خَيْراً ، وَهُو الَّذي ظَهَرَتْ مصْلحَتُهُ ، وَمَتى شَكَّ في ظُهُورِ المَصْلَحةِ ، فَلا يَتَكَلَّمُ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (Muttafaqun 'alaih).
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa seseorang seharusnya tidak berbicara kecuali jika perkataannya baik, yaitu perkataan yang jelas manfaatnya. Jika dia ragu akan munculnya manfaat, maka hendaknya dia diam.

Penjelasan singkat: Hadis ini menetapkan standar tinggi bagi perkataan seorang mukmin. Intinya, setiap ucapan harus diperiksa dengan dua kriteria: apakah ia baik (khairan) dan membawa maslahat yang jelas. Jika tidak memenuhi syarat itu, atau jika ragu akan manfaatnya, maka sikap utama adalah diam. Dengan demikian, diam bukan sekadar tidak berbicara, tetapi merupakan bentuk keimanan dan kebijaksanaan yang aktif untuk menjaga lisan dari segala keburukan.

# 5
وعَنْ أبي مُوسَى رضي اللَّه عَنْهُ قَال : قُلْتُ يا رَسُولَ اللَّهِ أيُّ المُسْلِمِينَ أفْضَلُ؟ قال : « مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِن لِسَانِهِ وَيَدِهِ » . متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Islam manakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Yaitu orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari (kejahatan) lidah dan tangannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa keutamaan seorang Muslim tidak diukur dari banyaknya ritual ibadah semata, tetapi dari bagaimana dia menjaga keselamatan orang lain. Keislaman yang paling utama adalah yang mampu memberikan rasa aman, dengan menahan lisan dari ucapan menyakiti dan tangan dari perbuatan zalim. Intinya, hakikat keimanan tercermin dalam akhlak dan kepedulian terhadap keamanan serta ketenteraman sesama.

# 6
وَعَنْ سَهْلِ بنِ سعْدٍ قَال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ يَضْمَنْ لي ما بيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بيْنَ رِجْلَيْهِ أضْمنْ لهُ الجَنَّة » . متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang dapat menjamin untukku (menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu kemaluan), maka aku jamin baginya surga." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan kunci utama meraih surga, yaitu menjaga lisan dan kemaluan dari segala hal yang haram. Menjaga lisan berarti mengontrol ucapan dari dusta, ghibah, dan perkataan sia-sia. Sementara menjaga kemaluan adalah dengan menghindari zina dan segala jalan yang mengarah kepadanya. Dengan menjamin dua hal ini, seorang muslim dijanjikan jaminan surga oleh Rasulullah.

# 7
وَعَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : إنَّ الْعَبْد لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمةِ مَا يَتَبيَّنُ فيهَا يَزِلُّ بهَا إلى النَّارِ أبْعَدَ مِمَّا بيْنَ المشْرِقِ والمغْرِبِ » . متفقٌ عليهِ . ومعنى : « يَتَبَيَّنُ » يَتَفَكَّرُ أنَّهَا خَيْرٌ أمْ لا .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang dia tidak memikirkan (akibatnya), karenanya dia terjerumus ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh daripada antara timur dan barat." (Muttafaqun 'alaih).
Makna "yatabayyanu" adalah dia memikirkan apakah itu baik atau tidak.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahaya besar dari lisan. Satu kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan, tanpa dipikirkan baik-buruknya, dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Jarak kehancuran yang ditimbulkannya digambarkan lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Hikmahnya, kita wajib selalu berhati-hati dan berpikir matang sebelum berbicara.

# 8
وَعَنْهُ عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالى مَا يُلقِي لهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللَّه بهَا دَرَجاتٍ ، وَإنَّ الْعبْدَ لَيَتَكلَّمُ بالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ تَعالى لا يُلْقي لهَا بالاً يهِوي بهَا في جَهَنَّم » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah Ta'ala, yang dia tidak menganggapnya penting, namun dengan kata itu Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah Ta'ala, yang dia tidak menganggapnya penting, namun dengan kata itu dia terjungkir ke dalam Jahannam." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan tentang dahsyatnya konsekuensi setiap ucapan. Satu kalimat baik yang diucapkan tanpa direncanakan, bisa mengangkat derajat di sisi Allah. Sebaliknya, satu kalimat buruk yang dianggap remeh, dapat menjerumuskan ke neraka. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga lisan dan bertanggung jawab atas setiap perkataan.

# 9
وعَنْ أبي عَبْدِ الرَّحمنِ بِلال بنِ الحارثِ المُزنيِّ رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « إنَّ الرَّجُلَ ليَتَكَلَّمُ بالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوانِ اللَّهِ تَعالى ما كَانَ يَظُنُّ أنْ تَبْلُغَ مَا بلَغَتْ يكْتُبُ اللَّه اللَّه بهَا رِضْوَانَهُ إلى يَوْمِ يلْقَاهُ ، وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمةِ مِنْ سَخَطِ اللَّه مَا كَانَ يظُنُّ أن تَبْلُغَ ما بلَغَتْ يكْتُبُ اللَّه لَهُ بهَا سَخَطَهُ إلى يَوْمِ يلْقَاهُ ».رواهُ مالك في « المُوطَّإِ » والترمذي وقال :حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari 'Abdurrahman bin Abi Laila Al-Muzani radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan suatu kata yang membuat Allah ridha, dan dia tidak menyangka bahwa kata itu akan sampai (mendapatkan pahala) seperti itu, lalu Allah mencatat untuknya keridhaan-Nya sampai hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan ada seseorang yang mengucapkan suatu kata yang membuat Allah murka, dan dia tidak menyangka bahwa kata itu akan sampai (mendapatkan dosa) seperti itu, lalu Allah mencatat untuknya kemurkaan-Nya sampai hari dia berjumpa dengan-Nya." (Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa' dan At-Tirmidzi, dan dia menyatakan hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan tentang besarnya konsekuensi setiap ucapan. Satu kalimat baik yang diridhai Allah, meski diucapkan tanpa disadari nilainya, dapat mengundang keridhaan-Nya hingga hari kiamat. Sebaliknya, satu kalimat buruk yang menyebabkan kemurkaan Allah, meski dianggap remeh, dapat mendatangkan siksa-Nya yang abadi. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga lisan dan berhati-hati dalam berkata-kata.

# 10
وعَنْ سُفْيان بنِ عبْدِ اللَّهِ رضي اللَّه عنْهُ قَال : قُلْتُ يا رسُولَ اللَّهِ حَدِّثني بأمْرٍ أعْتَصِمُ بِهِ قالَ : « قُلْ ربِّي اللَّه ، ثُمَّ اسْتَقِمْ » قُلْتُ : يا رسُول اللَّهِ ما أَخْوفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ ؟ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ، ثُمَّ قَال : « هذا » . رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Sufyan bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku suatu perkara yang dapat aku pegang teguh." Beliau bersabda: "Katakanlah, 'Tuhanku adalah Allah,' kemudian beristiqamahlah." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa yang paling engkau khawatirkan atasku?" Lalu beliau memegang lidah beliau sendiri dan bersabda: "Ini." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua pondasi utama dalam Islam. Pertama, keyakinan tauhid yang diikrarkan dengan "Tuhanku adalah Allah". Kedua, konsekuensi dari keyakinan itu, yaitu istiqamah (konsisten dan teguh) dalam menjalankan perintah-Nya. Selain itu, Rasulullah juga mengingatkan bahaya besar yang berasal dari lidah, sebagai sumber dosa dan malapetaka. Dengan demikian, hikmahnya adalah menyempurnakan keimanan dengan keteguhan amal dan menjaga lisan.

# 11
وَعَن ابنِ عُمَر رضي اللَّه عنْهُمَا قَالَ : قَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تُكْثِرُوا الكَلامَ بغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ ، فَإنَّ كَثْرَة الكَلامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّه تَعالَى قَسْوةٌ لِلْقَلْبِ ، وإنَّ أبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ القَلبُ القَاسي » . رواه الترمذي .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian memperbanyak bicara tanpa berzikir kepada Allah, karena sesungguhnya banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah Ta'ala akan mengeraskan hati. Dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menjaga lisan dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Intinya, bicara yang tidak bermanfaat dan jauh dari mengingat Allah akan menyebabkan hati menjadi keras. Hati yang keras itulah yang menjadi penghalang terbesar dari kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, kunci utama untuk melembutkan hati dan mendekatkan diri kepada-Nya adalah dengan selalu menyibukkan lisan dan hati dengan zikir.

# 12
وعنْ أبي هُريرَة رضي اللَّه عَنهُ قَالَ : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ وَقَاهُ اللَّه شَرَّ مَا بيْنَ لَحْييْهِ ، وشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الجنَّةَ » رَوَاه التِّرمِذي وقال : حديث حسنٌ.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang Allah lindungi dari keburukan apa yang ada di antara dua janggutnya dan keburukan apa yang ada di antara dua kakinya, maka dia akan masuk surga." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga lisan (ucapan) dan kemaluan dari segala keburukan. Dua hal ini merupakan ujian besar yang menentukan keselamatan seorang hamba. Jika Allah melindungi dan memberikan taufik kepada seseorang untuk menjaga keduanya, itu adalah pertanda utama kesuksesan dan jaminan masuk surga.

# 13
وَعَنْ عُقْبةَ بنِ عامِرٍ رضي اللَّه عنْهُ قَالَ : قُلْتُ يا رَسول اللَّهِ مَا النَّجاةُ ؟ قَال : « أمْسِكْ عَلَيْكَ لِسانَكَ ، وَلْيَسَعْكَ بيْتُكَ ، وابْكِ على خَطِيئَتِكَ » رواه الترمذي وقالَ : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah yang menyelamatkan (dari siksa)?" Beliau bersabda: "Jagalah lidahmu, hendaklah rumahmu mencukupimu, dan tangisilah dosa-dosamu." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga pilar keselamatan hidup seorang Muslim. Pertama, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, dan ghibah. Kedua, merasa cukup dengan rumah dan keluarga untuk membentengi diri dari fitnah dunia dan pergaulan buruk. Ketiga, senantiasa menyesali dosa dengan tangisan taubat, sebagai bentuk kesadaran akan pengawasan Allah. Ketiganya adalah jalan praktis menuju keselamatan dunia dan akhirat.

# 14
وعن أبي سَعيدٍ الخُدْرِيِّ رضي اللَّه عَنْهُ عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « إذا أَصْبح ابْنُ آدم ، فَإنَّ الأعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسانَ ، تَقُولُ : اتِّقِ اللَّه فينَا ، فَإنَّما نحنُ بِكًَ : فَإنِ اسْتَقَمْتَ اسَتقَمْنا وإنِ اعْوججت اعْوَججْنَا » رواه الترمذي . معنى « تُكَفِّرُ اللِّسَان » : أَي تَذِلُّ وتَخْضعُ لَهُ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila anak Adam memasuki waktu pagi, seluruh anggota tubuhnya tunduk kepada lisan, seraya berkata, 'Bertakwalah kepada Allah dalam (menjaga) kami, karena kami tergantung padamu. Jika engkau lurus, kami pun lurus. Jika engkau bengkok, kami pun bengkok.'" (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
Makna "tukaffiru al-lisan" adalah tunduk dan patuh kepadanya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan posisi sentral lisan sebagai penentu arah seluruh perbuatan. Seluruh anggota tubuh tunduk dan mengikuti kondisinya. Lisan yang lurus dengan berkata benar, baik, dan jujur akan membawa kebaikan pada seluruh tindakan. Sebaliknya, lisan yang bengkok dengan ucapan dusta, ghibah, atau maksiat akan menyeret seluruh tubuh kepada keburukan dan kesesatan.

# 15
وعنْ مُعاذ رضي اللَّه عنهُ قال : قُلْتُ يا رسُول اللَّهِ أخبرني بِعَمَلٍ يُدْخِلُني الجَنَّة ، ويُبَاعِدُني عن النَّارِ ؟ قَال : « لَقدْ سَأَلْتَ عنْ عَظِيمٍ ، وإنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلى منْ يَسَّرَهُ اللَّه تَعَالى علَيهِ : تَعْبُد اللَّه لا تُشْركُ بِهِ شَيْئاً ، وتُقِيمُ الصَّلاةَ ، وتُؤتي الزَّكَاةَ ، وتصُومُ رمضَانَ وتَحُجُّ البَيْتَ إن استطعت إِلَيْهِ سَبِيْلاً، ثُمَّ قَال : « ألا أدُلُّك عَلى أبْوابِ الخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ . ،َالصَّدَقةٌ تطْفِيءُ الخَطِيئة كما يُطْفِيءُ المَاءُ النَّار ، وصلاةُ الرَّجُلِ منْ جوْفِ اللَّيْلِ » ثُمَّ تَلا : {تتجافى جُنُوبهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ } حتَّى بلَغَ { يعْمَلُونَ } [ السجدة : 16 ] . ثُمَّ قال: « ألا أُخْبِرُكَ بِرَأسِ الأمْرِ ، وعمودِهِ ، وذِرْوةِ سَنامِهِ » قُلتُ : بَلى يا رسول اللَّهِ : قَالَ : « رأْسُ الأمْرِ الإسْلامُ ، وعَمُودُهُ الصَّلاةُ . وذروةُ سنامِهِ الجِهَادُ » ثُمَّ قال : « ألا أُخْبِرُكَ بـِمِلاكِ ذلكَ كله ؟» قُلْتُ : بَلى يا رسُولَ اللَّهِ . فَأَخذَ بِلِسَانِهِ قالَ : « كُفَّ علَيْكَ هذا » قُلْتُ: يا رسُولَ اللَّهِ وإنَّا لمُؤَاخَذون بمَا نَتَكلَّمُ بِهِ ؟ فقَال : ثَكِلتْكَ أُمُّكَ ، وهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ في النَّارِ على وَجُوهِهِم إلاَّ حصَائِدُ ألْسِنَتِهِمْ ؟ » .رواه الترمذي وقال : حدِيثٌ حسنٌ صحيحٌ ، وقد سبق شرحه .
Terjemahan
Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau bersabda: "Sungguh, engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan. Yaitu, engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji." Kemudian beliau bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." Kemudian beliau membaca ayat: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya..." hingga "...sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." Kemudian beliau bertanya: "Maukah kuberitahukan kepadamu tentang pokok segala urusan, tiangnya, dan puncaknya?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah." Kemudian beliau bersabda: "Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kendali semua itu?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Lalu beliau memegang lidahnya dan bersabda: "Jagalah ini." Aku bertanya, "Wahai Nabi Allah! Apakah kami akan disiksa karena apa yang kami ucapkan?" Beliau menjawab: "Celaka engkau, wahai Mu'adz! Bukankah manusia diseret ke neraka di atas wajah-wajah mereka atau di atas hidung mereka tidak lain karena akibat ucapan lidah mereka?" (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa jalan menuju surga dimulai dari tauhid, yaitu mengesakan Allah tanpa syirik. Kemudian, amalannya diperinci dengan menjalankan rukun Islam yang lima sebagai bukti keimanan. Nabi juga menunjukkan dua amalan khusus, yaitu puasa sebagai perisai dan sedekah sebagai penghapus dosa, yang memperkuat dan menyempurnakan perjalanan seorang hamba.

# 16
وعنْ أبي هُرَيرةَ رضي اللَّه عنهُ أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « أَتَدْرُونَ ما الغِيبةُ؟» قَالُوا : اللَّه ورسُولُهُ أَعْلَمُ . قال : « ذِكرُكَ أَخَاكَ بما يكْرَهُ » قِيل : أَفرأيْتَ إن كان في أخِي ما أَقُولُ ؟ قَالَ : « إنْ كانَ فِيهِ ما تقُولُ فَقَدِ اغْتَبْته ، وإنْ لَمْ يكُن فِيهِ ما تَقُولُ فَقَدْ بهتَّهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda: "Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci." Ada yang bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika apa yang kukatakan tentang saudaraku itu benar?" Beliau menjawab: "Jika apa yang kaukatakan itu benar, maka engkau telah menggunjingnya. Jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini secara tegas mendefinisikan ghibah sebagai menyebutkan aib atau kekurangan saudara sesama Muslim yang tidak disukainya, baik secara fisik, akhlak, atau hal lain. Hikmahnya, kebenaran suatu perkataan tidak menghalalkan ghibah; justru jika benar itu ghibah dan jika dusta itu fitnah yang lebih berat. Larangan ini mengajarkan untuk menjaga kehormatan orang lain dan mengendalikan lisan.

# 17
وعنْ أبي بكْرةَ رضي اللَّه عنْهُ أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال في خُطْبتِهِ يوْم النَّحر بِمنىً في حجَّةِ الودَاعِ : « إنَّ دِماءَكُم ، وأمْوالَكم وأعْراضَكُم حرامٌ عَلَيْكُم كَحُرْمة يومِكُم هذا ، في شهرِكُمْ هذا ، في بلَدِكُم هذا ، ألا هَلْ بلَّغْت » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam khutbahnya pada hari raya Haji Akbar (yaitu haji wada') di Mina: "Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram (terjaga) di antara kalian, seperti keharaman hari ini, bulan ini, dan kota ini (Makkah). Sungguh, aku telah menyampaikan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip fundamental dalam Islam tentang perlindungan hak asasi manusia. Rasulullah SAW menyatakan kehormatan jiwa, harta, dan harga diri setiap individu sebagai sesuatu yang suci dan terlindungi, disamakan dengan kesucian waktu dan tempat ibadah. Pernyataan ini menjadi pondasi hukum sosial yang melarang segala bentuk pembunuhan, perampasan, dan pelecehan kehormatan.

# 18
وعنْ عائِشة رضِي اللَّه عنْها قَالَتْ : قُلْتُ للنبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حسْبُك مِنْ صفِيَّة كذا وكَذَا قَال بعْضُ الرُّواةِ : تعْني قَصِيرةٌ ، فقال : « لقَدْ قُلْتِ كَلِمةً لو مُزجتّ بماءِ البحْر لمَزَجتْه ، » قَالَتْ : وحكَيْتُ له إنساناً فقال : « ما أحِبُّ أني حكَيْتُ إنْساناً وإنَّ لي كذا وَكَذَا » رواه أبو داود ، والترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ . ومعنى : « مزَجَتْهُ » خَالطته مُخَالَطة يَتغَيَّرُ بهَا طَعْمُهُ ، أوْ رِيحُهُ لِشِدةِ نتنها وقبحها ، وهَذا مِنْ أبلغَ الزَّواجِرِ عنِ الغِيبَةِ ، قَال اللَّهُ تَعالى : { وما ينْطِقُ عنِ الهَوى ، إن هُوَ إلا وحْيٌّ يوحَى } [ النجم : 4 ] .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Aku berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Cukuplah bagimu (untuk menceritakan) tentang Shafiyyah begini dan begitu." (Sebagian perawi mengatakan bahwa maksudnya adalah dia pendek). Maka beliau bersabda: "Sungguh, engkau telah mengucapkan suatu kata yang seandainya dicampurkan dengan air laut, niscaya akan merusaknya (mengubah warna, bau, atau rasanya)."
'Aisyah juga meriwayatkan: Aku menyebutkan seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda: "Aku tidak suka membicarakan seseorang (tidak suka membicarakan keburukannya), meskipun aku mendapatkan ini dan itu (pahala)." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia menyatakan hadits ini hasan shahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan betapa besarnya dosa ghibah (menggunjing) dan menyebut-nyebut aib orang lain. Ucapan buruk yang dianggap sepele digambarkan dapat mencemari kebaikan sebesar lautan. Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa beliau tidak suka membicarakan kejelekan orang, sekalipun diberi imbalan dunia yang besar. Intinya, kita harus sangat menjaga lisan dari perkataan yang merendahkan atau menyakiti orang lain.

# 19
وَعَنْ أنَسٍ رضي اللَّه عنهُ قالَ : قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لمَّا عُرِجَ بي مررْتُ بِقَوْمٍ لهُمْ أظْفَارٌ مِن نُحاسٍ يَخمِشُونَ بهَا وجُوهَهُمُ وَصُدُورَهُم ، فَقُلْتُ : منْ هؤلاءِ يَا جِبْرِيل ؟ قَال : هؤلاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُوم النَّاسِ ، ويَقَعُون في أعْراضِهمْ ، » رواهُ أبو داود.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada malam aku di-isra'-kan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, dan mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya, 'Wahai Jibril! Siapakah mereka ini?' Dia menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (menggunjing) dan menodai kehormatan mereka.'" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan azab yang sangat pedih di akhirat bagi orang yang suka menggunjing (ghibah) dan merusak kehormatan orang lain. Perbuatan memakan "daging manusia" adalah metafora untuk menyakiti saudara sesama Muslim dengan membicarakan aibnya. Hikmahnya, kita harus sangat menjaga lisan dan menjauhi segala bentuk perkataan yang dapat merendahkan atau melukai harga diri orang lain.

# 20
وعن أبي هُريْرة رضي اللَّه عنْهُ أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « كُلُّ المُسلِمِ عَلى المُسْلِمِ حرَامٌ : دَمُهُ وعِرْضُهُ وَمَالُهُ » رواهُ مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di antara seorang muslim dengan muslim lainnya diharamkan (untuk menumpahkan) darahnya, (merusak) kehormatannya, dan (mengambil) hartanya." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip dasar perlindungan hak setiap muslim. Intinya adalah larangan mutlak untuk menzalimi sesama muslim, baik secara fisik (darah), verbal dan moral (kehormatan), maupun ekonomi (harta). Ini membentuk pondasi masyarakat yang aman, saling menghormati, dan penuh kepercayaan. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan untuk menjaga keselamatan, harga diri, dan kepemilikan orang lain sebagaimana kita menjaga milik kita sendiri.