✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hal-Hal yang Dilarang
Kitab 18 · Bab 2

Larangan Mendengarkan Gunjingan dan Perintah bagi Orang yang Mendengar Gunjingan untuk Melarangnya. Jika Tidak Mampu atau Orang Tersebut Tidak Mendengarkan, Hendaknya Dia Meninggalkan Tempat Itu Jika Memungkinkan.

✦ 7 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ ﴾[سورة القصص(55)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya." (QS. Al-A'raf: 55)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan sikap bijak seorang mukmin dalam menghadapi perkataan yang tidak berguna (laghwu), seperti celaan, ejekan, atau pembicaraan sia-sia. Hikmahnya adalah menjaga kehormatan diri dengan tidak terlibat dalam hal yang buruk, serta menjaga hati dari pengaruh negatif. Dengan berpaling, kita memilih kedamaian (as-salam) dan mengutamakan perkataan yang baik.

# 2
وقال تعالى: ﴿وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾[سورة المؤمنون(3)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang sia-sia." (QS. Al-Mu'minun: 3)

Penjelasan singkat: Ayat ini menggariskan salah satu sifat mendasar orang beriman, yaitu berpaling dari segala bentuk laghwun (kesia-siaan). Laghwun mencakup perkataan, perbuatan, atau hiburan yang tidak berguna, batil, dan tidak mengandung kebaikan. Dengan menjauhinya, seorang muslim memuliakan waktunya, menjaga kesucian hati, dan mengarahkan energi hanya untuk hal-hal yang bernilai di sisi Allah. Ini adalah dasar untuk membangun kehidupan yang penuh makna dan berkah.

# 3
وقال تعالى: ﴿ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾[سورة الإسراء(36)]
Terjemahan
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." [QS. Al-Isra' (36)]

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan pertanggungjawaban manusia atas segala nikmat dan potensi yang dianugerahkan Allah. Pendengaran, penglihatan, dan hati (akal dan perasaan) adalah alat untuk menerima dan mengolah informasi serta membentuk keyakinan. Kelak, manusia akan ditanya bagaimana ia menggunakan alat-alat tersebut; apakah untuk ketaatan dan kebaikan atau justru untuk kemaksiatan dan kesesatan. Dengan demikian, setiap orang wajib menjaga dan memanfaatkannya sesuai dengan perintah Allah.

# 4
وقال تعالى: ﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾[سورة الأنعام(68)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)." (QS. Al-An'am: 68)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan prinsip menjaga kemuliaan agama dan diri dari penghinaan. Intinya adalah perintah untuk menjauhi dan tidak duduk bersama orang-orang yang mengejek ayat-ayat Allah, sebagai bentuk pembelaan terhadap agama dan penghormatan terhadap firman-Nya. Hikmahnya adalah menjaga keimanan dari pengaruh buruk serta mengambil sikap tegas terhadap kesesatan.

# 5
وعنْ أبي الدَّرْداءِ رضي اللَّه عَنْهُ عنِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « منْ ردَّ عَنْ عِرْضِ أخيهِ، ردَّ اللَّه عنْ وجْههِ النَّارَ يوْمَ القِيَامَةِ » رواه الترمذي وقالَ : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya, Allah akan melindungi wajahnya dari api neraka pada hari kiamat." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia mengatakan hadits ini hasan)
Penjelasan: Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang membela kehormatan dan nama baik saudaranya sesama Muslim dari gunjingan atau fitnah. Balasannya adalah perlindungan Allah dari siksa neraka.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan menjaga kehormatan sesama Muslim. Membela nama baik saudara dari gunjingan atau fitnah adalah bentuk solidaritas yang agung. Allah SWT memberikan balasan setimpal berupa perlindungan wajah dari siksa api neraka di hari Kiamat. Dengan demikian, hadis ini mendorong setiap Muslim untuk menjadi penjaga, bukan perusak, kehormatan orang lain.

# 6
وعنْ عِتْبَانَ بنِ مالِكٍ رضي اللَّهُ عنْهُ في حدِيثِهِ الطَّويلِ المشْهورِ الَّذي تقدَّم في باب الرَّجاءِ قَالَ : قامَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُصلِّي فَقال : « أيْنَ مالِكُ بنُ الدُّخْشُمِ ؟ » فَقَال رجل: ذلكَ مُنافِقٌ لا يُحِبُّ اللَّه ورسُولَهُ ، فَقَال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تقُلْ ذلكَ ، ألا تَراه قد قَال : لا إلهَ إلاَّ اللًه يُريدُ بذلك وجْه اللَّه ، وإن اللَّه قدْ حَرَّمَ على النَّارِ منْ قال : لا إله إلاَّ اللَّه يبْتَغِي بِذلكَ وجْهَ اللَّه » متفقٌ عليه . « وعِتبانُ » بكسر العين على المشهور ، وحُكِي ضمُّها ، وبعدها تاء مثناةٌ مِنْ فوق ، ثُمَّ باء موحدةٌ . و « الدُّخْشُمُ » بضم الدال وإسكان الخاءِ وضمِّ الشين المعجمتين .
Terjemahan
Dari 'Itban bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam haditsnya yang panjang dan masyhur yang telah disebutkan sebelumnya pada bab tentang harapan, ia berkata: Nabi ﷺ berdiri untuk shalat lalu bersabda: "Di mana Malik bin Ad-Dukhsyum?" Seorang laki-laki berkata: "Itu seorang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Jangan kamu katakan itu! Tidakkah kamu melihat dia telah mengucapkan 'Laa ilaaha illallah' dengan mengharap wajah Allah? Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan 'Laa ilaaha illallah' dengan mengharap wajah Allah." (Muttafaqun 'alaih).
Penjelasan: Hadits ini mengajarkan untuk tidak mudah menuduh seseorang sebagai munafik atau kafir hanya karena prasangka. Siapa yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas, maka ia dilindungi. Larangan ini juga mencakup ghibah (membicarakan aib) orang lain.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan larangan menghukumi seseorang sebagai munafik atau penghuni neraka selama ia masih mengucapkan kalimat tauhid (لا إله إلا الله) dengan ikhlas. Nabi �ong meluruskan tuduhan sahabat terhadap Malik bin Ad-Dukhsyum, karena ucapan tauhid yang tulus menjadi sebab perlindungan Allah dari neraka. Hikmahnya, kita dilarang memvonis keimanan orang lain dan harus selalu berprasangka baik selama lahiriahnya menunjukkan keislaman.

# 7
وعَنْ كعْبِ بنِ مالكٍ رضي اللَّه عَنْهُ في حدِيثِهِ الطَّويلِ في قصَّةِ توْبَتِهِ وقد سبقَ في باب التَّوْبةِ . قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهُو جَالِسٌ في القَوْم بِتبُوكَ : « ما فعل كَعْبُ بنُ مالك ؟ » فقالَ رجُلٌ مِنْ بَني سلِمَةَ : يا رسُولَ اللَّه حبسهُ بُرْداهُ ، والنَّظَرُ في عِطْفيْهِ . فقَال لَهُ معاذُ بنُ جبلٍ رضي اللَّه عنْه : بِئس ما قُلْتَ ، واللَّهِ يا رسُولَ اللَّهِ ما عَلِمْنا علَيْهِ إلاَّ خيْراً ، فَسكَتَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم .متفق عليه . « عِطْفَاهُ » جانِباهُ ، وهو إشارةٌ إلى إعجابه بنفسهِ .
Terjemahan
Dari Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu, dalam haditsnya yang panjang yang menceritakan kisah pengakuannya (atas kesalahannya tidak ikut perang Tabuk) yang telah disebutkan sebelumnya pada bab tentang pengakuan dosa, ia berkata: Nabi ﷺ bertanya saat beliau sedang duduk bersama orang-orang di Tabuk: "Apa yang dilakukan Ka'ab bin Malik?" Saat itu seorang laki-laki dari Bani Salamah menjawab: "Wahai Rasulullah! Pakaiannya dan pandangannya terhadap dirinya sendiri telah menghalanginya (untuk ikut serta dalam perang)." Kemudian Mu'adz bin Jabal berkata: "Apa yang kamu katakan itu sangat buruk! Wahai Rasulullah! Demi Allah, semua yang kami ketahui tentang dia adalah baik." Rasulullah ﷺ diam. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Ini adalah potongan dari kisah Ka'ab bin Malik yang tidak ikut Perang Tabuk tanpa alasan yang dibenarkan. Hadits ini menunjukkan larangan berprasangka buruk dan menggunjing (ghibah) seorang Muslim, serta anjuran untuk membela kehormatannya seperti yang dilakukan Mu'adz.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan berprasangka baik (husnuzhan) terhadap sesama muslim. Sahabat yang satu memberikan tuduhan negatif tanpa dasar, sedangkan Mu'adz bin Jabal membela dengan menyatakan kebaikan Ka'ab yang ia ketahui. Sikap Nabi yang diam menunjukkan tidak setuju dengan ucapan buruk dan mendukung pembelaan atas kehormatan saudara.