Kitab 18 · Bab 11
Larangan melaknat seseorang atau hewan tertentu
✦ 8 Hadith ✦
# 1
عن أبي زيْدٍ ثابتِ بنِ الضَّحاكِ الأنصاريِّ رضي اللَّه عنهُ ، وهو من أهْل بيْعةِ الرِّضوانِ قال : قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « من حَلَف عَلى يمِينٍ بِملَّةٍ غيْرٍ الإسْلامِ كاذباً مُتَعَمِّداً، فهُو كما قَالَ ، ومنْ قَتَل نَفسهُ بشيءٍ ، عُذِّب بِهِ يوْم القِيامةِ ، وَليْس على رجُلٍ نَذْرٌ فِيما لا يَملِكهُ ، ولعنُ المُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Dzar Al-Ghifari, Shahabat bin 'Adas Al-Anshari radhiyallahu 'anhu (dia adalah salah seorang yang berbai'at kepada Rasulullah ﷺ), beliau berkata: "Barangsiapa bersumpah dengan nama agama selain Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia ucapkan. Barangsiapa bunuh diri dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan digunakan untuk menyiksanya di hari akhir. Sumpah untuk memiliki sesuatu yang bukan haknya tidak boleh dilaksanakan. Dan mencela seorang mukmin sama seperti membunuhnya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung beberapa pelajaran penting: larangan bersumpah palsu dengan menyebut agama lain, ancaman berat bagi pelaku bunuh diri, ketidakabsahan nazar atas sesuatu yang bukan miliknya, serta larangan keras mencela sesama mukmin karena dosanya disetarakan dengan membunuh. Intinya, Islam menekankan kejujuran, menjaga nyawa, kehati-hatian dalam berjanji, dan keharusan memuliakan saudara seiman.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung beberapa pelajaran penting: larangan bersumpah palsu dengan menyebut agama lain, ancaman berat bagi pelaku bunuh diri, ketidakabsahan nazar atas sesuatu yang bukan miliknya, serta larangan keras mencela sesama mukmin karena dosanya disetarakan dengan membunuh. Intinya, Islam menekankan kejujuran, menjaga nyawa, kehati-hatian dalam berjanji, dan keharusan memuliakan saudara seiman.
# 2
وعنْ أبي هُريْرةَ رضي اللَّه عنهُ أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا ينْبغِي لِصِدِّيقٍ أنْ يكُونَ لَعَّاناً » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak pantas bagi seorang yang jujur (shiddiq) menjadi seorang yang suka melaknat." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Seorang yang dikenal kejujuran dan kebenarannya (shiddiq) tidak sepatutnya sering mengucapkan laknat atau kutukan, karena itu bertentangan dengan akhlak mulia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menetapkan standar akhlak tinggi bagi orang beriman, khususnya yang dikenal sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur dan membenarkan kebenaran). Intinya, sifat suka melaknat atau mengutuk sangat bertolak belakang dengan kedudukan mulia tersebut. Pelajaran utamanya adalah kejujuran iman harus diwujudkan dalam tutur kata yang baik dan penuh kasih sayang, bukan dengan doa keburukan untuk orang lain. Dengan demikian, hadis ini mengajak setiap muslim untuk meninggalkan kebiasaan melaknat dan menjaga lisan sebagai cermin keimanan.
Penjelasan singkat: Seorang yang dikenal kejujuran dan kebenarannya (shiddiq) tidak sepatutnya sering mengucapkan laknat atau kutukan, karena itu bertentangan dengan akhlak mulia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menetapkan standar akhlak tinggi bagi orang beriman, khususnya yang dikenal sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur dan membenarkan kebenaran). Intinya, sifat suka melaknat atau mengutuk sangat bertolak belakang dengan kedudukan mulia tersebut. Pelajaran utamanya adalah kejujuran iman harus diwujudkan dalam tutur kata yang baik dan penuh kasih sayang, bukan dengan doa keburukan untuk orang lain. Dengan demikian, hadis ini mengajak setiap muslim untuk meninggalkan kebiasaan melaknat dan menjaga lisan sebagai cermin keimanan.
# 3
وعنْ أبي الدَّردَاءِ رضي اللَّه عَنْهُ قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يكُونُ اللَّعَّانُون شُفعَاءَ ، ولا شُهَدَاءَ يوْمَ القِيامَةِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang suka melaknat tidak akan dapat menjadi pemberi syafaat dan saksi pada hari kiamat." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan peringatan keras tentang bahaya kebiasaan melaknat. Intinya, sifat suka mengutuk akan menghalangi seseorang dari meraih kemuliaan di akhirat, yaitu terhalang dari menjadi pemberi syafaat dan saksi. Pelajaran utamanya adalah agar seorang Muslim menjaga lisannya, menghindari kata-kata laknat, dan selalu berusaha berkata baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan peringatan keras tentang bahaya kebiasaan melaknat. Intinya, sifat suka mengutuk akan menghalangi seseorang dari meraih kemuliaan di akhirat, yaitu terhalang dari menjadi pemberi syafaat dan saksi. Pelajaran utamanya adalah agar seorang Muslim menjaga lisannya, menghindari kata-kata laknat, dan selalu berusaha berkata baik.
# 4
وعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رضي اللَّه عنْهُ قالَ : قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تَلاعنُوا بلعنةِ اللَّه ، ولا بِغضبِهِ ، ولا بِالنَّارِ » رواه أبو داود ، والترمذي وقالا : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah, kemurkaan-Nya, dan neraka." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini melarang keras menggunakan nama Allah, murka-Nya, atau neraka sebagai alat melaknat sesama. Larangan ini mengajarkan untuk menjaga lisan dan menghormati kesucian nama serta sifat-sifat Allah. Intinya, seorang muslim harus menghindari kebiasaan mengutuk dan berkata kasar, serta mengedepankan sikap santun dalam berinteraksi.
Penjelasan singkat: Hadis ini melarang keras menggunakan nama Allah, murka-Nya, atau neraka sebagai alat melaknat sesama. Larangan ini mengajarkan untuk menjaga lisan dan menghormati kesucian nama serta sifat-sifat Allah. Intinya, seorang muslim harus menghindari kebiasaan mengutuk dan berkata kasar, serta mengedepankan sikap santun dalam berinteraksi.
# 5
وعن ابن مسعودٍ رضي اللَّه عنهُ قال : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لَيْس المؤمِنُ بِالطَّعَّانِ ، ولا اللَّعَّانِ ولا الفَاحِشِ ، ولا البذِيِّ » رواه الترمذي وقالَ : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah mukmin yang sempurna, orang yang suka mencela, melaknat, berperilaku keji, dan berkata kotor." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa ciri utama seorang mukmin sejati tercermin dari akhlaknya. Beliau menjauhi sifat-sifat buruk seperti mencela orang lain, melaknat, berbuat keji, dan berkata kotor. Dengan demikian, kesempurnaan iman seseorang sangat berkaitan dengan kemampuannya menjaga lisan dan perilaku agar tidak menyakiti sesama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa ciri utama seorang mukmin sejati tercermin dari akhlaknya. Beliau menjauhi sifat-sifat buruk seperti mencela orang lain, melaknat, berbuat keji, dan berkata kotor. Dengan demikian, kesempurnaan iman seseorang sangat berkaitan dengan kemampuannya menjaga lisan dan perilaku agar tidak menyakiti sesama.
# 6
وعنْ أبي الدَّرْداءِ رضي اللَّه عنهُ قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : إنَّ العبْد إذا لَعنَ شَيْئاً ، صعِدتِ اللَّعْنةُ إلى السَّماء ، فتُغْلَقُ أبْوابُ السَّماءِ دُونَها ، ثُمَّ تَهبِطُ إلى الأرْضِ ، فتُغلَقُ أبوابُها دُونَها ، ثُّمَّ تَأخُذُ يميناً وشِمالا ، فإذا لمْ تَجِدْ مساغاً رجعت إلى الذي لُعِنَ ، فإنْ كان أهلاً لِذلك ، وإلاَّ رجعتْ إلى قائِلِها » رواه أبو داود .
Terjemahan
Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya, jika aku melaknat seseorang, laknat itu naik ke langit, tetapi pintu-pintu langit ditutup untuknya. Kemudian turun ke bumi, tetapi pintu-pintu bumi pun ditutup. Lalu ia berbelok ke kanan dan ke kiri. Jika tidak menemukan tempat, ia kembali kepada orang yang dilaknat jika dia memang pantas menerimanya. Namun, jika tidak pantas, laknat itu kembali kepada orang yang mengucapkannya." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahaya besar dari melaknat. Laknat yang diucapkan akan mencari sasaran, dan jika sasaran tidak pantas menerimanya, laknat itu akan berbalik kepada orang yang mengucapkannya. Intinya, kita harus sangat berhati-hati dengan lisan, menghindari kata-kata kasar dan doa keburukan, serta fokus pada perkataan yang baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahaya besar dari melaknat. Laknat yang diucapkan akan mencari sasaran, dan jika sasaran tidak pantas menerimanya, laknat itu akan berbalik kepada orang yang mengucapkannya. Intinya, kita harus sangat berhati-hati dengan lisan, menghindari kata-kata kasar dan doa keburukan, serta fokus pada perkataan yang baik.
# 7
وعنْ عِمْرَانَ بنِ الحُصيْنِ رضي اللَّه عنْهُما قال : بينَما رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في بعضِ أسْفَارِهِ ، وامرأَةٌ مِنَ الأنصارِ عَلى نَاقَةٍ ، فضجِرَتْ فَلَعَنَتْهَا ، فَسمع ذلكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقالَ : « خُذوا ما عليها ودعُوها ، فإنَّها ملعُونَةٌُ » قالَ عِمرَانُ : فكَأَنِّي أرَاهَا الآنَ تمشي في النَّاسِ ما يعرِضُ لهَا أحدٌ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ada seorang wanita dari kaum Anshar yang sedang menunggang seekor unta dengan membawa sebagian barang kaumnya merasa kesal dengan untanya, lalu dia melaknatnya. Rasulullah ﷺ mendengarnya dan bersabda: 'Turunkan barang-barang yang ada di atasnya dan biarkan dia pergi, karena dia telah dilaknat.'" Imran bin Hushain berkata: "Seakan-akan aku masih melihat unta itu berjalan di antara orang banyak, dan tidak ada seorang pun yang menahannya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa makhluk hidup dapat merasakan dampak doa atau ucapan buruk. Laknat wanita Anshar kepada untanya, meski diucapkan dalam keadaan emosi, direspons Nabi dengan serius. Perintah untuk melepas unta yang "terlaknat" menunjukkan betapa perkataan kotor atau doa keburukan memiliki konsekuensi nyata. Hikmahnya, kita harus selalu menjaga lisan, bahkan terhadap hewan, dan menghindari ucapan kasar yang dapat menimbulkan mudarat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa makhluk hidup dapat merasakan dampak doa atau ucapan buruk. Laknat wanita Anshar kepada untanya, meski diucapkan dalam keadaan emosi, direspons Nabi dengan serius. Perintah untuk melepas unta yang "terlaknat" menunjukkan betapa perkataan kotor atau doa keburukan memiliki konsekuensi nyata. Hikmahnya, kita harus selalu menjaga lisan, bahkan terhadap hewan, dan menghindari ucapan kasar yang dapat menimbulkan mudarat.
# 8
وعن أبي برّزَةَ نَضلَةَ بْنِ عُبيْدٍ الأسلمِيِّ رضي اللَّه عنْهُ قال : بينما جاريةٌ على ناقَةٍ علَيها بعضُ متَاع القَوْمِ ، إذْ بَصُرَتْ بالنبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وتَضايَقَ بهمُ الجَبلُ ، فقالتْ : حَلْ ، اللَّهُم العنْها فقال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تُصاحِبْنا نَاقَةٌ عليها لعْنةٌ » رواه مسلم .
قوله : « حلْ » بفتح الحاءِ المُهملةِ ، وإسكان اللاَّم ، وهَي كلِمةٌ لزَجْرِ الإبلِ.
واعْلَم أنَّ هذا الحديث قد يُسْتَشْكلُ معْنَاهُ ، وَلا إشْكال فيه ، بل المُرادُ النَّهيُ أنْ تُصاحِبَهُمُ تِلك النَّاقَةُ ، وليس فيه نهيٌ عن بيْعِها وذَبْحِهَا وَرُكُوبِها في غَيْرِ صُحْبةِ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بلْ كُلُّ ذلك وَما سوَاهُ منَ التَّصرُّفاتِ جائِزٌ لا منْع مِنْه ، إلاَّ مِنْ مُصاحبَتِهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِها ، لأنَّ هذِهِ التَّصرُّفاتِ كُلِّهَا كانتْ جائزة فمُنع بْعضٌ مِنْها ، فبَقِي الباقِي على ما كَانَ . واللَّه أعْلَمُ.
Terjemahan
Dari Abu Barzah Nadhlah bin 'Ubaid Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Ketika seorang budak perempuan berada di atas unta yang membawa sebagian barang suatu kaum, tiba-tiba dia melihat Nabi ﷺ dan jalan di gunung itu sempit bagi mereka. Maka dia berkata: 'Hai! (menyuruh unta minggir). Ya Allah, laknatlah unta ini!' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Jangan ada unta yang membawa laknat menyertai kita.'" (Diriwayatkan oleh Muslim)
Ucapan "Hai!" (Hil) dengan membuka ha' dan menyukun lam, adalah kata-kata untuk menggiring unta.
Ketahuilah bahwa makna hadits ini mungkin tampak sulit dipahami, padahal tidak. Maksudnya adalah larangan agar unta itu menyertai mereka. Hadits ini tidak melarang untuk menjual, menyembelih, atau menungganginya selain dalam perjalanan bersama Nabi ﷺ. Bahkan semua itu dan tindakan lainnya diperbolehkan, tidak dilarang, kecuali menyertainya bersama Nabi ﷺ. Karena semua tindakan ini pada asalnya boleh, lalu sebagiannya dilarang (karena kondisi khusus), maka sisanya tetap pada hukum asalnya (boleh). Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan larangan mendoakan keburukan atau melaknat makhluk, bahkan kepada hewan. Nabi ﷺ menolak keberadaan unta yang dilaknat dalam perjalanan mereka, menunjukkan betapa seriusnya ucapan laknat. Hikmahnya adalah agar kita selalu menjaga lisan, bersikap sabar, dan berprasangka baik, serta tidak mudah mengutuk saat menghadapi kesulitan.
Ucapan "Hai!" (Hil) dengan membuka ha' dan menyukun lam, adalah kata-kata untuk menggiring unta.
Ketahuilah bahwa makna hadits ini mungkin tampak sulit dipahami, padahal tidak. Maksudnya adalah larangan agar unta itu menyertai mereka. Hadits ini tidak melarang untuk menjual, menyembelih, atau menungganginya selain dalam perjalanan bersama Nabi ﷺ. Bahkan semua itu dan tindakan lainnya diperbolehkan, tidak dilarang, kecuali menyertainya bersama Nabi ﷺ. Karena semua tindakan ini pada asalnya boleh, lalu sebagiannya dilarang (karena kondisi khusus), maka sisanya tetap pada hukum asalnya (boleh). Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan larangan mendoakan keburukan atau melaknat makhluk, bahkan kepada hewan. Nabi ﷺ menolak keberadaan unta yang dilaknat dalam perjalanan mereka, menunjukkan betapa seriusnya ucapan laknat. Hikmahnya adalah agar kita selalu menjaga lisan, bersikap sabar, dan berprasangka baik, serta tidak mudah mengutuk saat menghadapi kesulitan.