✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hal-Hal yang Dilarang
Kitab 18 · Bab 10

Larangan keras untuk memberikan kesaksian palsu

✦ 6 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ﴾[سورة الحج(30)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan jauhilah perkataan dusta."
(Al-Hajj: 30)

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan untuk menjauhi semua bentuk perkataan dusta, baik itu kesaksian palsu, berita bohong (hoaks), fitnah, maupun ucapan sia-sia yang mengandung kebatilan. Perintah ini mencakup larangan terhadap segala bentuk kemunafikan dan kepalsuan dalam keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Hikmahnya adalah untuk menjaga kemurnian akidah, kejujuran dalam bermasyarakat, serta melindungi hak dan kehormatan setiap individu. Dengan demikian, tercipta lingkungan sosial yang aman dan penuh kepercayaan.

# 2
قال اللَّه تعالى: ﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ ﴾[سورة الإسراء(36)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti (mengucapkan, membenarkan, atau melakukan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." [Surat Al-Isra' (17): 36]

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan larangan keras untuk bersikap gegabah dalam perkataan, keyakinan, atau perbuatan tanpa dasar ilmu yang sahih. Perintah ini mencakup semua bidang, termasuk menyebarkan kabar, berfatwa, atau menilai orang lain tanpa pengetahuan. Setiap indera dan hati akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas bagaimana digunakan, sehingga mendorong seorang muslim untuk selalu bersikap hati-hati, verifikasi (tabayyun), dan hanya berbicara berdasarkan ilmu.

# 3
وقال تعالى : ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾[سورة ق(18)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Setiap perkataan yang diucapkan, pasti ada pengawas yang mencatatnya."
(Qaf: 18)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan, baik atau buruk, dicatat oleh malaikat yang selalu hadir. Ini mendorong kita untuk selalu menjaga lisan, berkata jujur, dan menghindari ghibah, dusta, atau perkataan sia-sia. Kesadaran akan pengawasan Allah ini menjadi benteng untuk memuliakan perkataan dan hanya mengucapkan yang bermanfaat.

# 4
وقال تعالى: ﴿إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ﴾[سورة الفجر(14)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasimu."
(Al-Fajr: 14)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa Allah Swt. senantiasa berada di posisi pengawasan, mengawasi segala perbuatan dan niat hamba-Nya. Ini menjadi motivasi untuk selalu berbuat baik dan menjauhi kemungkaran, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Hikmahnya adalah menumbuhkan rasa muraqabah (merasa diawasi Allah) yang menjadi dasar keikhlasan dan ketakwaan.

# 5
وقال تعالى: ﴿وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ﴾[سورة الفرقان(72)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan (juga) orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu." (Al-Furqan: 72)

Penjelasan singkat: Ayat ini menggariskan karakter mulia hamba Allah yang bertakwa. Inti pelajarannya adalah kewajiban menjauhi segala bentuk kesaksian dusta dan perkataan tidak benar. Hikmahnya, seorang muslim harus menjaga integritas lisan, kejujuran, dan menjauhi kemaksiatan yang sering dihadiri kebatilan, seperti majelis sia-sia, kemunafikan, atau perayaan agama lain. Ini membentuk pribadi yang lurus dan terjaga kehormatannya.

# 6
وعن أبي بكْرةَ رضي اللَّه عَنْهُ قال : قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ألا أُنبِّئكُم بأكبر الكَبائِر ؟ قُلنَا : بَلَى يا رسول اللَّهِ . قَالَ : « الإشراكُ باللَّه ، وعُقُوقُ الوالِديْنِ » وكان مُتَّكِئا فَجلَس ، فقال : « ألا وقَوْلُ الزُّورِ ، وشهادةُ الزورِ » فما زال يُكَرِّرُهَا حتى قلنا : لَيْتَهُ سكَت . متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar?" Kami menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk dan bersabda: "Ketahuilah, (juga) perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus mengulang-ulang perkataan itu hingga kami berharap beliau berhenti. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan beberapa dosa besar yang paling utama, yaitu syirik, durhaka kepada orang tua, berkata dusta, dan memberikan kesaksian palsu. Rasulullah ﷺ menekankannya berulang kali untuk menunjukkan betapa seriusnya perkara ini.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan hierarki dosa besar yang paling berbahaya. Inti pelajarannya adalah bahwa keimanan (tauhid) dan berbakti kepada orang tua adalah fondasi utama agama. Kemudian, Rasulullah ﷺ secara khusus menekankan bahaya besar dari ucapan dan kesaksian dusta, yang sering dianggap remeh namun dapat merusak tatanan sosial dan keadilan. Pengulangan sabda beliau menunjukkan betapa seriusnya ancaman dosa-dosa tersebut.