✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hal-Hal yang Dilarang
Kitab 18 · Bab 9

Dorongan untuk memeriksa apa yang dikatakan dan disampaikan seseorang

✦ 5 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ ﴾[سورة الإسراء(36)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." [Surat Al-Isra' (17): 36]

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan untuk berhenti mengikuti atau menyebarkan sesuatu tanpa dasar ilmu yang jelas, baik dalam perkataan, keyakinan, maupun perbuatan. Setiap indera dan hati akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas segala yang diikuti dan dilakukan. Hikmahnya adalah kewajiban untuk senantiasa berhati-hati, mencari kebenaran, dan hanya bersandar pada pengetahuan yang valid, sehingga terhindar dari kesalahan, prasangka, dan penyebaran kebatilan.

# 2
وقال تعالى: ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾[سورة ق(18)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Setiap perkataan yang diucapkan, pasti ada pengawas yang mencatatnya."
(Qaf: 18)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan, baik kecil maupun besar, serius atau bercanda, diawasi dan dicatat oleh malaikat. Ini mendorong kita untuk selalu menjaga lisan, berkata jujur, baik, dan bermanfaat, serta menghindari ghibah, dusta, dan perkataan sia-sia. Kesadaran ini menjadi benteng untuk memelihara amal dan kehormatan diri.

# 3
وعنْ أبي هُريْرة رضي اللَّه عنْهُ أنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « كفي بالمَرءِ كَذِباً أنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ ما سمعِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang dianggap berdusta, jika dia menceritakan segala sesuatu yang dia dengar."
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan untuk selektif dan kritis terhadap informasi. Tidak semua yang kita dengar itu benar. Menyebarkan semua berita yang didengar tanpa verifikasi adalah bentuk kedustaan, karena bisa jadi berita itu salah atau tidak akurat.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya sikap kritis dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Cukup bagi seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala yang didengar tanpa seleksi dan verifikasi. Intinya, kita wajib memastikan kebenaran berita sebelum menyebarkannya, agar terhindar dari menyebarkan kesalahan, fitnah, atau kabar bohong.

# 4
وعن سمُرة رضي اللَّه عنْهُ قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ حدَّث عنِّي بِحَدِيثٍ يرَى أنَّهُ كذِبٌ ، فَهُو أحدُ الكَاذِبين » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Samurah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menceritakan suatu berita yang dia anggap sebagai dusta, maka dia adalah salah seorang pendusta."
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan bahwa sengaja menyampaikan informasi yang diyakini sebagai kebohongan, meskipun informasi itu ternyata benar, tetap termasuk perbuatan dusta karena niatnya untuk berdusta.

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan kejujuran dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi, khususnya yang dinisbatkan kepada Nabi. Inti pelajarannya adalah bahwa niat dan keyakinan pribadi seseorang menjadi penentu keabsahan suatu periwayatan. Seseorang yang sengaja menyebarkan berita yang diyakininya dusta, meskipun faktanya benar, tetap tercatat sebagai pendusta di hadapan Allah karena niat buruknya. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan untuk selalu berhati-hati, verifikasi kebenaran, dan menjaga niat dalam setiap ucapan.

# 5
وعنْ أسماءَ رضي اللَّه عنْها أن امْرأة قالَتْ : يا رَسُول اللَّه إنَّ لي ضرَّةَ فهل علَيَّ جناحٌ إنْ تَشبعْتُ من زوجي غيْرَ الذي يُعطِيني ؟ فقال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « المُتشبِّعُ بِما لـم يُعْطَ كَلابِس ثَوْبَي زُورٍ » متفقٌ عليه . المُتشبِّعُ : هو الذي يُظهرُ الشَّبع وليس بشبعان ، ومعناها هُنا : أنَّهُ يُظهرُ أنه حَصلَ له فضِيلةٌ وليْستْ حاصِلة . « ولابِس ثَوْبي زورٍ » أي : ذِي زُورٍ ، وهو الذي يزَوِّرُ على النَّاس ، بأن يَتَزَيَّى بِزيِّ أهل الزُّهدِ أو العِلم أو الثرْوةِ ، ليغْترَّ بِهِ النَّاسُ وليْس هو بِتِلك الصِّفةِ ، وقيل غَيْرُ ذلك واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Asma' radhiyallahu 'anha, bahwa seorang wanita berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki istri kedua (rekan istri), apakah aku berdosa jika aku berpura-pura kenyang (puas) dari suamiku dengan sesuatu yang tidak diberikannya kepadaku?" Maka Nabi ﷺ bersabda: "Orang yang berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan."
(Muttafaqun 'alaih)
"Al-Mutasyabbi'": adalah orang yang menampakkan kekenyangan padahal tidak kenyang. Maknanya di sini: dia menampakkan seolah-olah dia mendapatkan keutamaan padahal tidak. "Seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan" maksudnya: pemilik kebohongan, yaitu orang yang menipu manusia, dengan berpakaian seperti pakaian ahli zuhud, ilmu, atau kekayaan, agar manusia tertipu, padahal dia bukan seperti sifat itu. Ada juga penafsiran lain, wallahu a'lam.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kejujuran dan larangan berpura-pura. Seseorang yang mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya—seperti status, pujian, atau harta—diibaratkan sebagai pendusta yang memakai pakaian kebohongan. Intinya, kita dilarang berbuat riya' (pamer) dan menipu orang lain dengan kedok yang bukan diri kita yang sebenarnya.