Kitab 18 · Bab 35
Larangan beramal kebaikan agar dilihat orang (riya').
✦ 8 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ﴾[سورة البينة(5)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan dan perintah Allah kepada manusia adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya semata (tauhidul uluhiyah). Ibadah tersebut harus dilandasi keikhlasan (mukhlisin) dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, serta mengikuti agama yang lurus (hanif) sesuai tuntunan Nabi. Dengan demikian, esensi agama Islam adalah memurnikan ketauhidan dalam setiap amal.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan dan perintah Allah kepada manusia adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya semata (tauhidul uluhiyah). Ibadah tersebut harus dilandasi keikhlasan (mukhlisin) dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, serta mengikuti agama yang lurus (hanif) sesuai tuntunan Nabi. Dengan demikian, esensi agama Islam adalah memurnikan ketauhidan dalam setiap amal.
# 2
وقال تعالى: ﴿ لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ ﴾[سورة البقرة(264)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia." (Al-Baqarah: 264)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa nilai sedekah dapat rusak oleh dua hal: al-mann (menyebut-nyebut pemberian) dan al-adza (menyakiti perasaan penerima). Perbuatan ini disamakan dengan riya, yaitu beramal untuk pamer. Hikmahnya, keikhlasan dan menjaga harga diri penerima adalah ruh dari sedekah yang diterima.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa nilai sedekah dapat rusak oleh dua hal: al-mann (menyebut-nyebut pemberian) dan al-adza (menyakiti perasaan penerima). Perbuatan ini disamakan dengan riya, yaitu beramal untuk pamer. Hikmahnya, keikhlasan dan menjaga harga diri penerima adalah ruh dari sedekah yang diterima.
# 3
وقال تعالى: ﴿ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾[سورة النساء(142)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (An-Nisa': 142)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengungkap ciri utama kemunafikan, yaitu riya' (ingin dipuji manusia) dalam beramal. Pelajaran utamanya adalah keikhlasan merupakan ruh dan syarat diterimanya ibadah. Sebaliknya, menyia-nyiakan zikir kepada Allah dan lebih mementingkan penilaian makhluk adalah penyakit hati yang merusak nilai amal shaleh di sisi-Nya.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengungkap ciri utama kemunafikan, yaitu riya' (ingin dipuji manusia) dalam beramal. Pelajaran utamanya adalah keikhlasan merupakan ruh dan syarat diterimanya ibadah. Sebaliknya, menyia-nyiakan zikir kepada Allah dan lebih mementingkan penilaian makhluk adalah penyakit hati yang merusak nilai amal shaleh di sisi-Nya.
# 4
وَعَنْ أبي هُريْرَةَ رضي اللَّه عنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « قَالَ اللَّه تعَالى : أنَا أغْنى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّركِ ، منْ عَملَ عَمَلا أشْركَ فيهِ مَعِى غَيْرِى ، تَركْتُهُ وشِرْكَهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah berfirman, 'Aku adalah yang paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.'" (HR. Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip ikhlas sebagai syarat diterimanya amal. Allah menolak segala bentuk syirik dalam ibadah, baik besar maupun kecil, seperti riya'. Intinya, amal harus ditujukan hanya untuk Allah semata. Jika dicampuri keinginan untuk dilihat atau dipuji makhluk, maka amalan itu tertolak dan pelakunya dibiarkan bersama "sekutu" yang dia cari.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip ikhlas sebagai syarat diterimanya amal. Allah menolak segala bentuk syirik dalam ibadah, baik besar maupun kecil, seperti riya'. Intinya, amal harus ditujukan hanya untuk Allah semata. Jika dicampuri keinginan untuk dilihat atau dipuji makhluk, maka amalan itu tertolak dan pelakunya dibiarkan bersama "sekutu" yang dia cari.
# 5
وَعَنْهُ قَالَ : سمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « إنَّ أوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يوْمَ الْقِيامَةِ عَليْهِ رجُلٌ اسْتُشْهِدَ ، فَأُتِىَ بِهِ ، فَعرَّفَهُ نِعْمَتَهُ ، فَعَرفَهَا ، قالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيها ؟ قَالَ : قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ : قالَ كَذَبْت ، وَلكِنَّكَ قَاتلْتَ لأنَ يُقالَ جَرِيء ، فَقَدْ قِيلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ . وَرَجُل تَعلَّم الْعِلّمَ وعَلَّمَهُ ، وقَرَأ الْقُرْآنَ ، فَأتِىَ بِهِ ، فَعَرَّفَهُ نِعَمهُ فَعَرَفَهَا . قالَ : فمَا عمِلْتَ فِيهَا ؟ قالَ : تَعلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ ، وَقَرَأتُ فِيكَ الْقُرآنَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، ولكِنَّك تَعَلَّمْت الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ ، وقَرَأتُ الْقرآن لِيقالَ : هو قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيلَ ، ثُمَّ أمِرَ ، فَسُحِبَ عَلى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ ، وَرَجُلٌ وسَّعَ اللَّه عَلَيْهِ ، وَأعْطَاه مِنْ أصنَافِ المَال ، فَأُتِى بِهِ فَعرَّفَهُ نعمَهُ ، فَعَرَفَهَا . قال : فَمَا عَمِلْت فيها ؟ قال : ما تركتُ مِن سَبيلٍ تُحِبُّ أنْ يُنْفَقَ فيهَا إلاَّ أنْفَقْتُ فيها لَك . قَالَ : كَذَبْتَ ، ولكِنَّكَ فَعَلْتَ ليُقَالَ : هو جَوَادٌ فَقَدْ قيلَ ، ثُمَّ أمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وجْهِهِ ثُمَّ ألْقِىَ في النار » رواه مسلم .
« جَرِيء » بفتح الجيم وكسر الرَّاءَ وبالمدِّ أىّ : شُجَاعٌ حَاذقٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya manusia yang pertama diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid. Dia dihadapkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Aku berperang demi-Mu hingga aku mati syahid.' Allah berfirman, 'Engkau dusta. Engkau berperang agar dikatakan pemberani, dan itu sudah dikatakan.' Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.
Seorang lelaki yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an. Dia dihadapkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an demi-Mu.' Allah berfirman, 'Engkau dusta. Engkau menuntut ilmu agar dikatakan alim, dan membaca Al-Qur'an agar dikatakan qari', dan itu sudah dikatakan.' Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.
Seorang lelaki yang Allah luaskan rezekinya dan diberikan berbagai macam harta. Dia dihadapkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Tidak ada satu jalan pun yang Engkau sukai untuk diinfakkan padanya, melainkan aku telah berinfak demi-Mu.' Allah berfirman, 'Engkau dusta. Engkau berbuat demikian agar dikatakan dermawan, dan itu sudah dikatakan.' Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa Allah menilai amal berdasarkan niat (keikhlasan), bukan hanya bentuk lahiriahnya. Seorang yang mati syahid dan seorang alim bisa menjadi penghuni neraka pertama jika amalnya dilakukan untuk pujian manusia (riya'). Pelajaran utamanya adalah wajibnya ikhlas dan menjauhi sifat ingin dilihat orang dalam beribadah.
Seorang lelaki yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an. Dia dihadapkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an demi-Mu.' Allah berfirman, 'Engkau dusta. Engkau menuntut ilmu agar dikatakan alim, dan membaca Al-Qur'an agar dikatakan qari', dan itu sudah dikatakan.' Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.
Seorang lelaki yang Allah luaskan rezekinya dan diberikan berbagai macam harta. Dia dihadapkan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Tidak ada satu jalan pun yang Engkau sukai untuk diinfakkan padanya, melainkan aku telah berinfak demi-Mu.' Allah berfirman, 'Engkau dusta. Engkau berbuat demikian agar dikatakan dermawan, dan itu sudah dikatakan.' Kemudian diperintahkan agar dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa Allah menilai amal berdasarkan niat (keikhlasan), bukan hanya bentuk lahiriahnya. Seorang yang mati syahid dan seorang alim bisa menjadi penghuni neraka pertama jika amalnya dilakukan untuk pujian manusia (riya'). Pelajaran utamanya adalah wajibnya ikhlas dan menjauhi sifat ingin dilihat orang dalam beribadah.
# 6
وَعَنْ ابنِ عُمَرَ رضي اللَّه عَنْهُما أنَّ نَاساً قَالُوا لَهُ : إنَّا نَدْخُلُ عَلى سَلاطِيننا فَنَقُولُ لهُمْ بِخِلافِ مَا نَتَكَلَّمُ إذا خَرَجْنَا منْ عنْدِهمْ ؟ قالَ ابْنُ عُمَرَ رضي اللَّه عنْهُمَا : كُنَّا نَعُدُّ هذا نِفَاقاً عَلى عَهْد رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa ada orang-orang yang berkata kepadanya, "Sesungguhnya kami menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami mengatakan kepada mereka sesuatu yang berbeda dengan apa yang kami katakan ketika keluar dari sisi mereka?" Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Kami menganggap hal ini sebagai kemunafikan pada masa Rasulullah ﷺ." (HR. Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa bersikap plin-plan dan bermuka dua, khususnya dalam berkata kepada penguasa, merupakan ciri kemunafikan. Ibnu Umar secara tegas menyamakan perilaku mengatakan sesuatu di hadapan penguasa dan hal yang bertentangan di belakangnya dengan sifat nifaq yang dikenal di zaman Nabi. Pelajaran utamanya adalah keharusan menjaga konsistensi dan kejujuran dalam ucapan, serta menjauhi sikap penjilat dan oportunis yang mengubah perkataan demi kepentingan duniawi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa bersikap plin-plan dan bermuka dua, khususnya dalam berkata kepada penguasa, merupakan ciri kemunafikan. Ibnu Umar secara tegas menyamakan perilaku mengatakan sesuatu di hadapan penguasa dan hal yang bertentangan di belakangnya dengan sifat nifaq yang dikenal di zaman Nabi. Pelajaran utamanya adalah keharusan menjaga konsistensi dan kejujuran dalam ucapan, serta menjauhi sikap penjilat dan oportunis yang mengubah perkataan demi kepentingan duniawi.
# 7
وعنْ جُنْدُب بن عَبْدِ اللَّه بنِ سُفْيانَ رضي اللَّه عَنْهُ قَالَ : قالَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «مَن سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّه بِهِ ، ومَنْ يُرَاَئِى اللَّه يُرَئِى بِهِ » متفقٌ عليه .
وَرَواهُ مُسْلِمٌ أيضاً مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي اللَّه عَنْهُمَا .
« سَمَّعَ » بتَشْدِيدِ المِيمِ ، وَمَعْنَاهُ : أشْهَرَ عمَلَهُ للنَّاس ريَاءً « سَمَّعَ اللَّه بِهِ » أيْ : فَضَحَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ومَعْنى : « منْ رَاءَى » أيْ : مَنْ أَظْهَرَ للنَّاسِ الْعَمَل الصَّالحَ لِيَعْظُمَ عِنْدهُمْ «رَاءَى اللَّه بِهِ » أيْ : أظْهَرَ سَرِيرَتَهُ عَلى رُؤوس الخَلائِقِ .
Terjemahan
Dari Jundub bin Abdullah bin Sufyan radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa memperdengarkan (amalnya untuk dilihat orang), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya). Dan barangsiapa berbuat ria, maka Allah akan memperlihatkan (niat buruknya)." (Muttafaqun 'alaih)
Dan Muslim juga meriwayatkannya dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
"Memperdengarkan" dengan tasydid pada mim, artinya: menampakkan amalnya kepada manusia karena ria. "Allah akan memperdengarkan (aibnya)" artinya: Allah akan membongkarnya pada hari kiamat. Makna "barangsiapa berbuat ria" yaitu: siapa yang menampakkan amal saleh kepada manusia agar dianggap besar di mata mereka. "Allah akan memperlihatkan (niat buruknya)" artinya: Allah akan menampakkan niat hatinya di hadapan seluruh makhluk.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan peringatan keras tentang bahaya riya' (pamer amal) dan sum'ah (memperdengarkan amal untuk pujian). Intinya, Allah akan membalas perbuatan itu dengan membongkar aib dan niat buruk pelakunya di hadapan manusia pada Hari Kiamat. Hikmahnya, kita harus selalu ikhlas dalam beramal, hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.
Dan Muslim juga meriwayatkannya dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
"Memperdengarkan" dengan tasydid pada mim, artinya: menampakkan amalnya kepada manusia karena ria. "Allah akan memperdengarkan (aibnya)" artinya: Allah akan membongkarnya pada hari kiamat. Makna "barangsiapa berbuat ria" yaitu: siapa yang menampakkan amal saleh kepada manusia agar dianggap besar di mata mereka. "Allah akan memperlihatkan (niat buruknya)" artinya: Allah akan menampakkan niat hatinya di hadapan seluruh makhluk.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan peringatan keras tentang bahaya riya' (pamer amal) dan sum'ah (memperdengarkan amal untuk pujian). Intinya, Allah akan membalas perbuatan itu dengan membongkar aib dan niat buruk pelakunya di hadapan manusia pada Hari Kiamat. Hikmahnya, kita harus selalu ikhlas dalam beramal, hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.
# 8
وعَنْ أبي هُريْرَةَ رضي اللَّه عنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ تَعَلَّم عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لا يَتَعَلَّمُهُ إلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُّنْيَا ، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » يَعْنى : رِيحَهَا . رواه أبو داود بإسنادٍ صحيحٍ . والأحاديثُ في الباب كثيرةٌ مشهورةٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Azza wa Jalla, namun dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Hadits-hadits dalam bab ini banyak dan masyhur.)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa niat adalah penentu nilai amal. Ilmu agama, khususnya, harus dipelajari dengan ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah. Jika niatnya ternoda oleh tujuan duniawi seperti popularitas, pangkat, atau harta, maka pelakunya terancam kehilangan kenikmatan surga. Dengan demikian, hadis ini mengingatkan untuk selalu memurnikan niat dalam menuntut ilmu.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa niat adalah penentu nilai amal. Ilmu agama, khususnya, harus dipelajari dengan ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah. Jika niatnya ternoda oleh tujuan duniawi seperti popularitas, pangkat, atau harta, maka pelakunya terancam kehilangan kenikmatan surga. Dengan demikian, hadis ini mengingatkan untuk selalu memurnikan niat dalam menuntut ilmu.