Kitab 1 · Bab 32
Keutamaan seorang Muslim yang lemah, miskin, dan orang biasa (yang tidak menarik perhatian)
✦ 9 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه، ولا تعد عيناك عنهم ﴾ .سورة الكهف(28)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia." (QS. Al-Kahfi: 28).
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk selalu menyertai dan memberikan perhatian kepada orang-orang saleh yang tekun beribadah dengan ikhlas. Perintah ini mengandung pelajaran agar kita memilih dan menjaga persahabatan dengan orang-orang yang mengingat Allah, serta tidak berpaling dari mereka hanya demi mengutamakan kemewahan atau hubungan duniawi. Dengan demikian, kita akan terbimbing untuk konsisten dalam ketaatan dan terhindar dari godaan kesenangan fana.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk selalu menyertai dan memberikan perhatian kepada orang-orang saleh yang tekun beribadah dengan ikhlas. Perintah ini mengandung pelajaran agar kita memilih dan menjaga persahabatan dengan orang-orang yang mengingat Allah, serta tidak berpaling dari mereka hanya demi mengutamakan kemewahan atau hubungan duniawi. Dengan demikian, kita akan terbimbing untuk konsisten dalam ketaatan dan terhindar dari godaan kesenangan fana.
# 2
عن حَارِثَة بْنِ وهْب رضي اللَّه عنه قال : سمعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : « أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجنَّةِ ؟ كُلُّ ضَعيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَم عَلَى اللَّه لأبرَّه ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بَأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ » . متفقٌ عليه .
« الْعُتُلُّ » : الْغَلِيظُ الجافِي . « والجوَّاظُ » بفتح الجيم وتشدِيدِ الواو وبِالظاءِ المعجمة وَهُو الجمُوعُ المنُوعُ ، وَقِيلَ : الضَّخْمُ المُخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ ، وقيلَ : الْقَصِيرُ الْبَطِينُ .
Terjemahan
Dari Haritsah bin Wahb radhiyallahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni surga? (Yaitu) setiap orang yang lemah lagi dianggap lemah, seandainya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni neraka? (Yaitu) setiap orang yang kasar, kikir lagi sombong." (Muttafaqun 'alaih).
"Al-'Utull": Orang yang kasar dan keras hatinya. "Al-Jawwazh" dengan membuka huruf jim, mentasydid waw, dan dengan zha' adalah orang yang banyak mengumpulkan harta dan kikir. Ada yang mengatakan: Orang yang gemuk lagi berjalan dengan sombong. Ada juga yang mengatakan: Orang yang pendek lagi berperut buncit.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada kekuatan, kekayaan, atau kedudukan duniawi. Sebaliknya, surga dijanjikan bagi orang yang rendah hati dan lemah di mata manusia, tetapi tulus dan dekat dengan Allah. Adapun neraka disediakan bagi orang yang berperangai kasar, pelit, dan sombong, yang menzalimi sesama dengan sifat-sifat buruknya.
"Al-'Utull": Orang yang kasar dan keras hatinya. "Al-Jawwazh" dengan membuka huruf jim, mentasydid waw, dan dengan zha' adalah orang yang banyak mengumpulkan harta dan kikir. Ada yang mengatakan: Orang yang gemuk lagi berjalan dengan sombong. Ada juga yang mengatakan: Orang yang pendek lagi berperut buncit.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada kekuatan, kekayaan, atau kedudukan duniawi. Sebaliknya, surga dijanjikan bagi orang yang rendah hati dan lemah di mata manusia, tetapi tulus dan dekat dengan Allah. Adapun neraka disediakan bagi orang yang berperangai kasar, pelit, dan sombong, yang menzalimi sesama dengan sifat-sifat buruknya.
# 3
وعن أَبي العباسِ سهلِ بنِ سعدٍ الساعِدِيِّ رضي اللَّه عنه قال : مرَّ رجُلٌ على النَبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقالَ لرجُلٍ عِنْدهُ جالسٍ : « ما رَأَيُكَ فِي هَذَا ؟ » فقال : رَجُلٌ مِنْ أَشْرافِ النَّاسِ هذا وَاللَّهِ حَريٌّ إِنْ خَطَب أَنْ يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَع أَنْ يُشَفَّعَ . فَسَكَتَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخرُ ، فقال له رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَا رأُيُكَ فِي هَذَا ؟ » فقال : يا رسولَ اللَّه هذا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ ، هذَا حريٌّ إِنْ خطَب أَنْ لا يُنْكَحَ ، وَإِنْ شَفَع أَنْ لا يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لا يُسْمع لِقَوْلِهِ . فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « هَذَا خَيْرٌ منْ مِلءِ الأَرْضِ مِثْلَ هذَا» متفقٌ عليه .
قوله : « حَرِيُّ » هو بفتحِ الحاءِ وكسر الراءِ وتشديد الياءِ : أَيْ حقِيقٌ . وقوله: «شَفَعَ» بفتح الفاءِ .
Terjemahan
Dari Abu Al-'Abbas Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu berkata: Seorang laki-laki lewat di depan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian beliau bertanya kepada seorang laki-laki yang duduk bersamanya, "Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki ini?" Dia menjawab, "Dia adalah seorang laki-laki dari kalangan bangsawan. Demi Allah, jika dia meminang (seorang wanita) pasti diterima, dan jika dia memberi syafa'at (pertolongan) pasti diterima." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diam. Kemudian lewat lagi seorang laki-laki lain di depan beliau. Beliau bertanya lagi kepada orang yang duduk bersamanya, "Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki ini?" Dia menjawab, "Dia termasuk seorang muslim yang miskin. Jika dia meminang pasti tidak diterima, jika dia memberi syafa'at pasti tidak diterima, dan jika dia berbicara pasti tidak didengar." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang kedua ini lebih baik daripada orang yang pertama sepenuh bumi." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia seringkali berdasarkan status duniawi seperti kekayaan dan kedudukan. Rasulullah SAW diam saat sahabatnya memuji orang kaya, menunjukkan sikap tidak setuju. Esensi ajaran Islam adalah menilai seseorang berdasarkan ketakwaan dan akhlaknya, bukan materi atau keturunannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia seringkali berdasarkan status duniawi seperti kekayaan dan kedudukan. Rasulullah SAW diam saat sahabatnya memuji orang kaya, menunjukkan sikap tidak setuju. Esensi ajaran Islam adalah menilai seseorang berdasarkan ketakwaan dan akhlaknya, bukan materi atau keturunannya.
# 4
وعن أَبي سعيدٍ الخدري رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «احْتجَّتِ الجنَّةُ والنَّارُ فقالت النَّارُ : فيَّ الجبَّارُونَ والمُتَكَبِّرُونَ ، وقَالتِ الجَنَّةُ : فيَّ ضُعفَاءُ النَّاسِ ومسَاكِينُهُم فَقَضَى اللَّهُ بَيْنَهُما : إِنَّك الجنَّةُ رحْمتِي أَرْحَمُ بِكِ مَـنْ أَشَاءُ ، وَإِنَّكِ النَّارُ عَذابِي أُعذِّب بِكِ مَــنْ أَشَاءُ ، ولِكِلَيكُمَا عَلَيَّ مِلؤُها » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga dan neraka saling berdebat. Neraka berkata, 'Orang-orang yang sombong dan angkuh akan masuk ke dalamku.' Sedangkan surga berkata, 'Orang-orang yang lemah dan fakir akan masuk ke dalamku.' Maka Allah memutuskan perkara di antara keduanya, 'Engkau (wahai surga) adalah tempat rahmat-Ku, Aku akan memasukkan ke dalammu siapa yang Aku kehendaki. Dan engkau (wahai neraka) adalah tempat azab-Ku, Aku akan memasukkan ke dalammu siapa yang Aku kehendaki. Dan Aku akan memenuhi kalian berdua.'" (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa masuk surga atau neraka semata-mata bergantung pada kehendak dan keadilan Allah. Sifat sombong menjerumuskan ke neraka, sementara kerendahan hati dan kelemahan duniawi dekat dengan rahmat-Nya. Keputusan akhir bukan berdasarkan klaim masing-masing, tetapi pada hikmah dan kekuasaan Allah sebagai Pemilik mutlak keduanya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa masuk surga atau neraka semata-mata bergantung pada kehendak dan keadilan Allah. Sifat sombong menjerumuskan ke neraka, sementara kerendahan hati dan kelemahan duniawi dekat dengan rahmat-Nya. Keputusan akhir bukan berdasarkan klaim masing-masing, tetapi pada hikmah dan kekuasaan Allah sebagai Pemilik mutlak keduanya.
# 5
وعن أَبي هريرة رضي اللَّه عنه عن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّهُ لَيأتِي الرَّجُلُ السَّمِينُ العْظِيمُ يَوْمَ الْقِيامةِ لا يزنُ عِنْد اللَّه جنَاحَ بعُوضَةٍ » متفقٌ عَلَيه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, pada hari kiamat akan didatangkan seorang laki-laki yang besar dan gemuk, namun di sisi Allah nilainya tidak seberat sayap nyamuk." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa standar nilai manusia di sisi Allah bukanlah fisik, kekayaan, atau kedudukan duniawi, tetapi ketakwaan dan amal shaleh. Orang yang tampak hebat di dunia bisa menjadi hina di akhirat jika hatinya kosong dari iman. Oleh karena itu, kita harus selalu mengutamakan bobot spiritual dan keikhlasan dalam beramal, bukan mengagungkan penampilan lahiriyah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa standar nilai manusia di sisi Allah bukanlah fisik, kekayaan, atau kedudukan duniawi, tetapi ketakwaan dan amal shaleh. Orang yang tampak hebat di dunia bisa menjadi hina di akhirat jika hatinya kosong dari iman. Oleh karena itu, kita harus selalu mengutamakan bobot spiritual dan keikhlasan dalam beramal, bukan mengagungkan penampilan lahiriyah.
# 6
وعنه أَنَّ امْرأَةً سوْداءَ كَانَتَ تَقُمُّ المسْجِد ، أَوْ شَابّاً ، فَفقَدَهَا ، أو فقده رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عنْهُ ، فقالوا : مات . قال : « أَفَلا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي » فَكَأَنَّهُمْ صغَّرُوا أَمْرَهَا ، أَوْ أَمْرهُ ، فقال : دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ » فدلُّوهُ فَصلَّى عَلَيه ، ثُمَّ قال : « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُور مملُوءَةٌ ظُلْمةً عَلَى أَهْلِهَا ، وإِنَّ اللَّه تعالى يُنَوِّرهَا لَهُمْ بصَلاتِي عَلَيْهِمْ » متفقٌ عليه .
قوله : « تَقُمُّ هو بفتحِ التَّاءِ وَضَمِّ الْقَافِ : أَيْ تَكنُسُ . « وَالْقُمَامةُ » : الْكُنَاسَةُ . «وَآذَنْتُمونِي » بِمدِّ الهَمْزَةِ : أَيْ : أَعْلَمتُمُونِي .
Terjemahan
Dan darinya (Abu Hurairah), bahwa ada seorang wanita berkulit hitam (atau seorang pemuda) yang biasa membersihkan masjid. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kehilangan dia, lalu bertanya tentangnya. Mereka berkata, "Dia telah meninggal." Beliau bersabda, "Mengapa kalian tidak memberitahuku?" Seolah-olah mereka menganggap remeh urusannya. Beliau bersabda, "Tunjukkanlah kepadaku kuburnya." Mereka pun menunjukkannya, lalu beliau menshalatinya. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan bagi penghuninya, dan sesungguhnya Allah Ta'ala meneranginya untuk mereka dengan shalatku atas mereka." (Muttafaqun 'alaih).
Perkataannya "taqummu" dengan membuka ta' dan mendham qaf, artinya: menyapu. "Al-qumamah": sampah. "Wa adzantumuni" dengan memanjangkan hamzah, artinya: kalian memberitahuku.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa setiap muslim, tanpa memandang status sosial, ras, atau jenis kelamin, memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Rasulullah SAW menunjukkan perhatian dan penghormatan yang tinggi kepada seorang wanita biasa yang rajin membersihkan masjid, dengan menyalatinya di kuburnya. Hikmahnya adalah agar kita tidak meremehkan siapa pun dan menghargai setiap amal kebajikan, sekecil apa pun, karena itu bernilai di hadapan-Nya.
Perkataannya "taqummu" dengan membuka ta' dan mendham qaf, artinya: menyapu. "Al-qumamah": sampah. "Wa adzantumuni" dengan memanjangkan hamzah, artinya: kalian memberitahuku.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa setiap muslim, tanpa memandang status sosial, ras, atau jenis kelamin, memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Rasulullah SAW menunjukkan perhatian dan penghormatan yang tinggi kepada seorang wanita biasa yang rajin membersihkan masjid, dengan menyalatinya di kuburnya. Hikmahnya adalah agar kita tidak meremehkan siapa pun dan menghargai setiap amal kebajikan, sekecil apa pun, karena itu bernilai di hadapan-Nya.
# 7
وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « رُبَّ أَشْعثَ أغبرَ مدْفُوعٍ بالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسمَ عَلَى اللَّهِ لأَبرَّهُ » رواه مسلم
Terjemahan
Darinya (Abu Hurairah) juga berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Terkadang ada seseorang yang rambutnya kusut dan penuh debu, diusir dari pintu-pintu (karena kemiskinannya), jika dia berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan agar kita tidak memandang rendah seseorang berdasarkan penampilan lahiriah dan keduniawiannya. Seseorang yang terlihat hina dan miskin di mata manusia bisa saja memiliki kedudukan mulia di sisi Allah karena ketakwaan dan keikhlasannya. Allah mungkin menjadikan doa-doa orang tersebut mustajab (terkabul). Oleh karena itu, kita harus menghormati setiap muslim dan tidak meremehkannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan agar kita tidak memandang rendah seseorang berdasarkan penampilan lahiriah dan keduniawiannya. Seseorang yang terlihat hina dan miskin di mata manusia bisa saja memiliki kedudukan mulia di sisi Allah karena ketakwaan dan keikhlasannya. Allah mungkin menjadikan doa-doa orang tersebut mustajab (terkabul). Oleh karena itu, kita harus menghormati setiap muslim dan tidak meremehkannya.
# 8
وعن أُسامَة رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « قُمْتُ عَلَى بابِ الْجنَّةِ ، فَإِذَا عامَّةُ مَنْ دخَلَهَا الْمَسَاكِينُ ، وأَصْحابُ الجَدِّ محْبُوسُونَ غيْر أَنَّ أَصْحاب النَّارِ قَدْ أُمِر بِهِمْ إِلَى النَّارِ . وقُمْتُ عَلَى بابِ النَّارِ فَإِذَا عامَّةُ منْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ » متفقٌ عليه .
« وَالجَدُّ » بفتحِ الجيم : الحظُّ والْغِني . وقوله : « محْبُوسُونَ » أَيْ : لَمْ يُؤذَنْ لهُمْ بَعْدُ فِي دُخُول الجَنَّةِ .
Terjemahan
Dari Usamah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang fakir. Sedangkan orang-orang kaya ditahan (untuk dihisab). Dan orang-orang yang ditetapkan masuk neraka telah diperintahkan untuk dibawa ke neraka. Kemudian aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah wanita." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah aib di sisi Allah, bahkan orang fakir yang sabar dan taat akan lebih dahulu masuk surga. Sebaliknya, kekayaan adalah ujian berat yang memerlukan pertanggungjawaban (hisab) yang ketat. Selain itu, hadis ini juga menjadi peringatan khusus bagi kaum wanita untuk lebih meningkatkan ketakwaan dan ketaatan agar terhindar dari neraka.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah aib di sisi Allah, bahkan orang fakir yang sabar dan taat akan lebih dahulu masuk surga. Sebaliknya, kekayaan adalah ujian berat yang memerlukan pertanggungjawaban (hisab) yang ketat. Selain itu, hadis ini juga menjadi peringatan khusus bagi kaum wanita untuk lebih meningkatkan ketakwaan dan ketaatan agar terhindar dari neraka.
# 9
وعن أَبي هريرة رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي المَهْدِ إِلاَّ ثَلاثَةٌ : عِيسى ابْنُ مرْيَمَ ، وصَاحِب جُرَيْجٍ ، وكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلاً عَابِداً ، فَاتَّخَذَ صَوْمَعةً فكانَ فِيهَا ، فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهَو يُصلي فَقَالَتْ : يا جُرَيْجُ ، فقال : يَارَبِّ أُمِّي وَصَلاتِي فَأَقْبلَ عَلَى صلاتِهِ فَانْصرفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وهُو يُصَلِّي ، فقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ ، فقال : أَيْ رَبِّ أُمِّي وَصَلاتِي . فَأَقْبَلَ عَلَى صَلاتِهِ ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَد أَتَتْهُ وَهُو يُصَلِّي فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ فقال : أَيْ رَبِّ أُمِّي وَصَلاتِي ، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلاتِهِ ، فَقَالَتْ : اللَّهُمَّ لا تُمِتْه حَتَّى ينْظُرَ إِلَى وُجُوه المومِسَاتِ . فَتَذَاكَّرَ بَنُو إِسْرائِيلَ جُريْجاً وَعِبَادَتهُ ، وَكَانَتِ امْرَأَةٌ بغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بِحُسْنِهَا ، فَقَالَتْ : إِنْ شِئْتُمْ لأَفْتِنَنَّهُ ، فتعرَّضَتْ لَهُ ، فَلَمْ يلْتَفِتْ إِلَيْهَا ، فَأَتتْ رَاعِياً كَانَ يَأَوي إِلَى صوْمعَتِهِ ، فَأَمْكنَتْهُ مِنْ نفسها فَوقَع علَيْهَا . فَحملَتْ ، فَلَمَّا وَلدتْ قَالَتْ : هُوَ جُرَيْجٌ ، فَأَتَوْهُ فاسْتنزلُوه وهدَمُوا صوْمعَتَهُ ، وَجَعَلُوا يَضْرِبُونهُ ، فقال : ما شَأْنُكُمْ ؟ قالوا: زَنَيْتَ بِهذِهِ الْبغِيِّ فَولَدتْ مِنْك . قال : أَيْنَ الصَّبِيُّ ؟ فَجاءَوا بِهِ فقال : دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّي فَصلىَّ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَتَى الصَّبِيَّ فَطَعنَ فِي بطْنِهِ وقالَ : يا غُلامُ مَنْ أَبُوكَ ؟ قال : فُلانٌ الرَّاعِي ، فَأَقْبلُوا علَى جُرَيْجُ يُقَبِّلُونَهُ وَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ وقَالُوا : نَبْنِي لَكَ صوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ قال : لا، أَعيدُوهَا مِنْ طِينٍ كَمَا كَانَتْ ، فَفَعَلُوا . وَبيْنَا صَبِيٌّ يرْضعُ مِنْ أُمِّهِ ، فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دابَّةٍ فَارِهَةٍ وَشَارةٍ حَسَنَةٍ فَقالت أُمُّهُ : اللَّهُمَّ اجْعَل ابْنِي مثْلَ هَذَا ، فَتَرَكَ الثَّدْيَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فقال : اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْنِي مِثْلهُ ، ثُمَّ أَقَبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعْلَ يَرْتَضِعُ» فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهُوَ يحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِأُصْبُعِه السَّبَّابةِ فِي فِيهِ ، فَجَعلَ يَمُصُّهَا، قال : « وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا، وَيَقُولُونَ : زَنَيْتِ سَرَقْتِ ، وَهِي تَقُولُ : حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوكِيلُ . فقالت أُمُّهُ : اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا ، فَتَركَ الرِّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا فقال : اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا ، فَهُنالِكَ تَرَاجَعَا الحَدِيثِ فقالَت : مَرَّ رَجُلٌ حَسنُ الهَيْئَةِ فَقُلْتُ : اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهُ فَقُلْتَ : اللَّهُمَّ لا تَجْعَلنِي مِثْلَهُ ، وَمَرُّوا بِهَذِهِ الأَمَةِ وَهُم يَضْربُونَهُا وَيَقُولُونَ : زَنَيْتِ سَرَقْتِ ، فَقُلْتُ : اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَقُلْتَ : اللَّهُمَّ اجعَلْنِي مِثْلَهَا ؟، قَالَ : إِنَّ ذلِكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّاراً فَقُلت : اللَّهُمَّ لا تجْعَلْنِي مِثْلَهُ ، وإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لها زَنَيْتِ ، وَلَمْ تَزْنِ ، وَسَرقْت ، وَلَمْ تَسْرِقْ ، فَقُلْتُ : اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا » متفق عليه.
« والمُومِسَاتُ » : بضَمِّ الميم الأُولَى ، وإِسكان الواو وكسر الميم الثانيةِ وبالسين المهملَةِ وهُنَّ الزَّوانِي . والمُومِسةُ : الزانية . وقوله : « دابَّةً فَارِهَة » بِالْفَاءِ : أَي حاذِقَةٌ نَفِيسةٌ . «الشَّارَةُ » بِالشِّينِ المعْجمةِ وتَخْفيفِ الرَّاءِ : وَهِي الجمالُ الظَّاهِرُ فِي الهيْئَةِ والملْبسِ . ومعْنى وصل « ترَاجعا الحدِيث » أَيْ : حدَّثَتِ الصَّبِي وحدَّثَهَا ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada seorang pun yang dapat berbicara sejak masih bayi, kecuali tiga orang: Isa putra Maryam, bayi teman Juraij. Juraij adalah seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah. Dia membangun biara untuk beribadah kepada Allah di dalamnya. Suatu hari ibunya memanggilnya, saat itu dia sedang shalat. Ibunya berteriak, 'Wahai Juraij!' Dia berkata, 'Wahai Tuhanku, ibuku memanggilku dan aku sedang shalat.' Dia pun meneruskan shalatnya, sementara ibunya kembali. Keesokan harinya, ibunya datang memanggilnya lagi, dan dia sedang shalat. Ibunya berteriak, 'Wahai Juraij!' Dia berkata, 'Wahai Tuhanku, ibuku memanggilku dan aku sedang shalat.' Dia pun meneruskan shalatnya, sementara ibunya kembali. Pada hari ketiga, ibunya datang memanggilnya lagi, dan dia sedang shalat. Ibunya berteriak, 'Wahai Juraij!' Dia berkata, 'Wahai Tuhanku, ibuku memanggilku dan aku sedang shalat.' Dia pun meneruskan shalatnya. Kemudian ibunya berdoa, 'Ya Allah, janganlah Engkau matikan Juraij sebelum dia melihat wajah pelacur.' Saat itu, Bani Israil membicarakan Juraij dan ibadahnya. Lalu ada seorang pelacur yang cantik berkata, 'Jika kalian mau, aku akan menggoda Juraij.' Wanita itu pun menampakkan diri kepada Juraij, tetapi dia tidak menghiraukannya. Kemudian wanita itu mendatangi seorang penggembala yang sedang tidur di biaranya (Juraij) dan menyerahkan dirinya kepada penggembala itu. Setelah itu, wanita itu hamil. Ketika melahirkan, dia berkata, 'Ini adalah anak Juraij.' Maka orang-orang pun mendatangi Juraij, menariknya turun dari biara, merobohkannya, dan memukulinya. Juraij bertanya, 'Ada apa dengan kalian?' Mereka menjawab, 'Engkau telah meniduri pelacur ini hingga dia melahirkan.' Dia bertanya, 'Di mana bayi itu?' Mereka pun membawa bayi itu. Dia berkata, 'Biarkan aku shalat dulu.' Dia pun shalat. Setelah selesai shalat, dia mendatangi bayi itu dan menepuk perutnya, lalu bertanya, 'Wahai anak kecil, siapakah ayahmu?' Bayi itu menjawab, 'Ayahku adalah si penggembala.' Maka orang-orang pun menciumi dan memeluk Juraij seraya berkata, 'Kami akan membangun kembali biaramu dari perak.' Dia berkata, 'Tidak, bangunlah dari tanah seperti semula.' Maka mereka pun membangunnya kembali." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Meski shalat sangat penting, berbakti kepada orang tua (terutama ibu) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan tidak boleh diabaikan. Kisah Juraij menjadi peringatan bahwa menolak panggilan ibu dengan alasan ibadah dapat berakibat buruk. Hikmahnya, hak manusia (hak orang tua) harus dipenuhi meski saat menjalankan hak Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Meski shalat sangat penting, berbakti kepada orang tua (terutama ibu) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan tidak boleh diabaikan. Kisah Juraij menjadi peringatan bahwa menolak panggilan ibu dengan alasan ibadah dapat berakibat buruk. Hikmahnya, hak manusia (hak orang tua) harus dipenuhi meski saat menjalankan hak Allah.