✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 33

Bersikap lemah lembut terhadap anak yatim, anak perempuan, orang yang lemah, orang miskin, orang yang membutuhkan, serta berbuat baik, menyayangi, merendahkan diri, dan mengalah untuk mereka

✦ 17 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ واخفض جناحك للمؤمنين ﴾ .سورة الحجر(88)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hijr: 88).

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan setiap pemimpin atau orang yang memiliki kedudukan untuk bersikap tawadhu' dan lemah lembut terhadap sesama mukmin. Perintah "merendahkan sayap" adalah metafora untuk menunjukkan kerendahan hati, kasih sayang, dan penghormatan yang mendalam. Hikmahnya adalah agar tercipta ukhuwah (persaudaraan) yang kuat, jauh dari kesombongan, serta terwujudnya masyarakat yang penuh dengan kelembutan dan rasa hormat.

# 2
وقال تعالى: ﴿ واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه، ولا تعد عيناك عنهم تريد زينة الحياة الدنيا ﴾ .سورة الكهف(28)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia." (QS. Al-Kahfi: 28).

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan setiap pemimpin untuk selalu dekat dan sabar bersama orang-orang saleh yang tekun beribadah, meski mereka sederhana dan tidak berharta. Larangan memalingkan muka dari mereka mengandung pelajaran agar kita tidak silau oleh gemerlap duniawi dan status sosial, sehingga meremehkan orang yang taat. Hikmahnya, pergaulan dengan orang-orang yang ikhlas mencari ridha Allah akan menguatkan iman dan meluruskan orientasi hidup dari materialisme menilai ketakwaan.

# 3
وقال تعالى: ﴿ فأما اليتيم فلا تقهر، وأما السائل فلا تنهر ﴾ .سورة الضخى(9-10)
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya." (QS. Ad-Dhuha: 9-10).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia utama. Pertama, kelembutan dan perlindungan terhadap anak yatim, dengan larangan menindas atau merendahkan mereka. Kedua, sikap santun kepada peminta-minta, meski tidak memberi, dengan larangan menghardik atau mengusirnya dengan kasar. Intinya, Islam menekankan belas kasih, menghormati hak dan harga diri manusia, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan.

# 4
وقال تعالى : ﴿ أرأيت الذي يكذب بالدين، فذلك الذي يدع اليتيم، ولا يحض على طعام المسكين ﴾ .سورة الماعون(1-3)
Terjemahan
Allah berfirman: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin." (QS. Al-Ma'un: 1-3).

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa hakikat pendustaan terhadap agama (ad-din) tercermin dalam sikap hati dan perbuatan nyata, bukan hanya pengakuan lisan. Menolak hak anak yatim dan enggan menolong orang miskin adalah bukti nyata kehampaan iman. Dengan demikian, agama sangat menekankan kepedulian sosial; mengabaikan tanggung jawab kepada sesama merupakan tanda pengingkaran terhadap nilai-nilai agama itu sendiri.

# 5
عن سعد بن أَبي وَقَّاص رضي اللَّه عنه قال : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سِتَّةَ نفَر ، فقال المُشْرِكُونَ للنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : اطْرُدْ هُؤُلاءِ لا يَجْتَرِئُون عليْنا ، وكُنْتُ أَنا وابْنُ مسْعُودٍ ورجُل مِنْ هُذَيْلِ وبِلال ورجلانِ لَستُ أُسمِّيهِما ، فَوقَعَ في نَفْسِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ما شاءَ اللَّه أَن يقعَ فحدث نفْسهُ ، فأَنْزَلَ اللَّهُ تعالى : { ولا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُون رَبَّهُمْ بالْغَداةِ والعَشِيِّ يُريدُونَ وجْهَهُ } [ الأنعام : 52 ] رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata: Kami berenam pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian orang-orang musyrik berkata kepada Nabi, "Usirlah mereka ini, agar mereka tidak berani terhadap kami." Mereka mengarah kepada aku (Sa'ad), Ibnu Mas'ud, seorang laki-laki dari Hudzail, Bilal, dan dua orang laki-laki lagi yang tidak kukenal namanya. Hal ini membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersedih hati, beliau berpikir. Tiba-tiba Allah menurunkan wahyu yang artinya: "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh mengusir atau merendahkan orang-orang lemah dan setia hanya karena tekanan dari pihak yang berpengaruh atau kaya. Allah SWT langsung menegur Nabi Muhammad SAW melalui wahyu (QS. Al-An'am: 52) untuk melindungi kaum muslimin yang fakir namun tekun beribadah. Hikmahnya, kesetiaan dan ketakwaan lebih berharga daripada status sosial, serta pemimpin harus berprinsip dan membela kaum dhuafa.

# 6
وعن أَبي هُبيْرةَ عائِذِ بن عمْرو المزَنِيِّ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ بيْعةِ الرِّضوانِ رضي اللَّه عنه، أَنَّ أَبا سُفْيَانَ أَتَى عَلَى سلْمَانَ وصُهَيْب وبلالٍ في نفَرٍ فقالوا : ما أَخَذَتْ سُيُوفُ اللَّه مِنْ عدُوِّ اللَّه مَأْخَذَهَا ، فقال أَبُو بَكْرٍ رضي اللَّه عنه : أَتَقُولُونَ هَذَا لِشَيْخِ قُريْشٍ وَسيِّدِهِمْ؟ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَخْبرهُ فقال : يا أَبا بَكْر لَعلَّكَ أَغْضَبتَهُم ؟ لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبتَ رَبَّكَ ؟ فأَتَاهُمْ فقال : يا إِخْوتَاهُ آغْضَبْتُكُمْ ؟ قالوا : لا ، يغْفِرُ اللَّه لَكَ يا أُخَيَّ . رواه مسلم . قولُهُ « مَأْخَذَهَا » أَيْ : لَمْ تَسْتَوفِ حقَّهَا مِنْهُ . وقولُهُ : « يا أُخيَّ » رُوِي بفتحِ الهمزةِ وكسر الخاءِ وتخفيفِ الياءِ ، ورُوِي بضم الهمزة وفتحِ الخاءِ وتشديد الياءِ.
Terjemahan
Dari Abu Hubairah 'Aidz bin 'Amr Al-Muzani, dan dia termasuk ahli Bai'atur Ridhwan radhiyallahu 'anhu, bahwa Abu Sufyan melewati Salman, Shuhaib, dan Bilal bersama beberapa orang. Mereka berkata, "Pedang-pedang Allah belum mengambil hak dari musuh Allah sebagaimana mestinya." Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Apakah kalian mengatakan ini kepada seorang tua Quraisy dan pemimpin mereka?" Kemudian dia mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mengabarkannya. Beliau bersabda, "Wahai Abu Bakar, barangkali engkau telah membuat mereka marah? Jika engkau telah membuat mereka marah, sungguh engkau telah membuat Tuhanmu marah." Maka Abu Bakar mendatangi mereka dan berkata, "Wahai saudara-saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?" Mereka menjawab, "Tidak, semoga Allah mengampunimu, wahai saudaraku." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Perkataan mereka "ma'khadzaha" artinya: belum mengambil haknya secara sempurna darinya. Perkataan mereka "ya ukhayya" diriwayatkan dengan membuka hamzah, mengkasrah kha', dan meringankan ya', dan juga diriwayatkan dengan mendham hamzah, membuka kha', dan mentasydid ya'.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghormati dan berhati-hati dalam menilai orang yang telah masuk Islam, meski sebelumnya musuh. Nabi menegur Abu Bakar yang membela Abu Sufyan (mantan musuh) secara berlebihan, karena justru menyakiti hati para sahabat mulia yang dihina di masa jahiliah. Sikap Nabi menunjukkan bahwa loyalitas utama adalah kepada kebenaran dan keadilan, bukan pada status sosial lama. Hikmahnya, kita harus memuliakan setiap muslim dan tidak merendahkan orang karena latar belakangnya.

# 7
وعن سهلِ بن سعدٍ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَنَا وكافلُ الْيتِيمِ في الجنَّةِ هَكَذَا » وأَشَار بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ، وفَرَّجَ بَيْنَهُمَا » . رواه البخاري. و « كَافِلُ الْيتِيم » : الْقَائِمُ بِأُمُورِهِ .
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini," dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, serta merenggangkan antara keduanya. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
"Kaafilul yatiim": Orang yang mengurusi urusannya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan kedudukan yang sangat tinggi di surga bagi orang yang mengasuh dan memelihara anak yatim. Isyarat dua jari yang berdekatan oleh Nabi menunjukkan bahwa kedekatan beliau dengan pengasuh yatim di akhirat bagaikan dua jari yang tidak terpisahkan. Ini menjadi motivasi kuat untuk peduli terhadap anak yatim, tidak hanya sekadar memberi santunan, tetapi juga bertanggung jawab penuh atas pendidikan dan kebutuhannya.

# 8
وعن أَبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «كَافِل الْيتيمِ لَهُ أَوْ لِغَيرِهِ . أَنَا وهُوَ كهَاتَيْنِ في الجَنَّةِ » وَأَشَارَ الرَّاوي وهُو مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ بِالسَّبَّابةِ والْوُسْطى . رواه مسلم . وقوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الْيَتِيمُ لَه أَوْ لِغَيرهِ » معناهُ : قَرِيبهُ ، أَوْ الأَجنَبِيُّ مِنْهُ، فَالْقرِيبُ مِثلُ أَنْ تَكْفُلَه أُمُّه أَوْ جدُّهُ أَو أخُوهُ أَوْ غَيْرُهُمْ مِنْ قَرَابتِهِ ، واللَّه أَعْلَم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang menanggung anak yatim, baik kerabatnya atau bukan, aku dan dia di surga seperti dua ini," dan perawi, yaitu Malik bin Anas memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. (Diriwayatkan oleh Muslim).
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "al-yatiimu lahu au lighairih" artinya: kerabatnya atau orang asing darinya. Kerabatnya seperti seorang ibu, kakek, saudara, atau selain mereka dari kerabatnya yang menanggungnya. Wallahu a'lam.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan kedekatan yang luar biasa dengan Rasulullah SAW di surga bagi siapa saja yang mengasuh dan menanggung nafkah anak yatim, baik itu anak yatim dari kerabatnya sendiri maupun anak yatim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Isyarat dua jari yang berdekatan menggambarkan betapa eratnya kedudukan mereka di akhirat. Intinya, keutamaan mengasuh anak yatim bersifat universal dan menjadi jalan meraih derajat tinggi di sisi Nabi.

# 9
وعنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لَيْسَ المِسْكِينُ الذي تَرُدُّهُ التَّمْرةُ وَالتَّمْرتَانِ، ولا اللُّقْمةُ واللُّقْمتانِ إِنَّمَا المِسْكِينُ الذي يتَعَفَّفُ » متفقٌ عليه . وفي رواية في « الصحيحين » : « لَيْسَ المِسْكِينُ الذي يطُوفُ علَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمةُ واللُّقْمتَان ، وَالتَّمْرةُ وَالتَّمْرتَانِ ، ولَكِنَّ المِسْكِينَ الذي لا يَجِدُ غِنًى يُغنْيِه ، وَلا يُفْطَنُ بِهِ فيُتصدَّقَ عَلَيهِ ، وَلا يَقُومُ فَيسْأَلَ النَّاسَ » .
Terjemahan
Darinya (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu juga berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah orang miskin yang terbaik, orang yang berkeliling meminta-minta lalu pulang dengan mendapat satu atau dua biji kurma, dan satu atau dua suap makanan. Sebenarnya orang miskin yang terbaik adalah orang yang tidak meminta kepada orang lain."
Ada sebuah riwayat dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim): "Bukanlah orang miskin yang terbaik, orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia lalu pulang dengan mendapat satu atau dua biji kurma, dan satu atau dua suap makanan. Sebenarnya orang miskin yang terbaik adalah orang yang tidak memiliki sesuatu untuk mencukupi dirinya, dan orang lain tidak mengetahui keadaannya sehingga tidak memberinya sedekah, dan

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan hakikat kemiskinan sejati. Orang miskin yang sesungguhnya bukanlah pengemis yang meminta dan mudah puas dengan sedekah sedikit. Ia adalah orang yang menjaga kehormatan diri (ta'affuf), tidak memamerkan kebutuhannya sehingga orang lain tidak tahu untuk membantunya, namun juga tidak meminta-minta. Hikmahnya adalah keutamaan menjaga harga diri dan anjuran untuk proaktif mencari serta membantu mereka yang miskin tetapi tidak terlihat.

# 10
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « السَّاعِي علَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ كَالمُجاهِدِ في سبيلِ اللَّه » وأَحْسُبهُ قال : « وَكَالْقائِمِ الَّذي لا يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ لا يُفْطِرِ»متفقٌ عليه .
Terjemahan
Darinya (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: 'Orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah.' Perawi berkata: Aku mengiranya juga bersabda: 'Dan seperti orang yang shalat malam tanpa henti dan puasa tanpa berbuka.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dalam membantu golongan rentan, khususnya janda dan orang miskin. Usaha tulus untuk menafkahi dan memenuhi kebutuhan mereka disetarakan pahalanya dengan ibadah-ibadah utama seperti jihad, shalat malam, dan puasa terus-menerus. Ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial dan ekonomi merupakan bagian integral dari jihad fi sabilillah.

# 11
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « شَرُّ الطَّعَام طَعَامُ الْوليمةِ ، يُمْنَعُها مَنْ يأْتِيهَا ، ويُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا ، ومَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوةَ فَقَدْ عَصَى اللَّه ورَسُولُهُ» رواه مسلم. وفي رواية في الصحيحين عن أبي هريرةَ من قوله : « بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ »
Terjemahan
Dari dia (sahabat) رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah (pernikahan) yang melarang orang yang ingin hadir dan mengundang orang yang tidak ingin hadir. Siapa yang tidak memenuhi undangan, sungguh dia telah durhaka terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya."
Terdapat satu riwayat dalam Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) bahwa: "Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah (pernikahan) yang hanya mengundang orang kaya dan tidak mengundang orang miskin."

Penjelasan singkat: Hadis ini mengkritik praktik undangan walimah yang diskriminatif dan tidak memenuhi etika sosial Islam. Inti ajarannya adalah larangan memilih-milih tamu berdasarkan status ekonomi (kaya/miskin) atau pilih kasih dalam mengundang. Di sisi lain, hadis juga menegaskan kewajiban memenuhi undangan walimah sebagai bentuk ketaatan, selama tidak ada uzur syar'i.

# 12
وعن أَنس رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ عَالَ جَارِيتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَومَ القِيامَةِ أَنَا وَهُو كَهَاتَيْنِ » وَضَمَّ أَصَابِعَهُ . رواه مسلم . « جَارِيَتَيْنِ » أَيْ : بِنْتَيْنِ .
Terjemahan
Dari Anas رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan hingga mereka baligh, maka dia akan datang pada hari kiamat, aku dan dia seperti ini," dan beliau merapatkan jari-jarinya. (HR. Muslim).
"Jariyataini" artinya: dua anak perempuan.
Penjelasan: Hadits ini menjelaskan pahala besar bagi orang tua, khususnya ayah, yang sabar dan bertanggung jawab dalam membesarkan serta menafkahi anak-anak perempuannya hingga dewasa. Baligh adalah tanda kedewasaan, biasanya ditandai dengan haid. Kedekatan dengan Nabi ﷺ di akhirat digambarkan dengan merapatkan jari, yang menunjukkan kedekatan yang sangat erat.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan kedekatan yang luar biasa dengan Rasulullah ﷺ di akhirat bagi siapa saja yang dengan sabar dan ikhlas menafkahi serta mengasuh dua anak perempuan hingga dewasa. Ini merupakan motivasi besar untuk menghilangkan anggapan negatif terhadap kelahiran anak perempuan dan mendorong orang tua untuk memberikan perhatian serta pendidikan terbaik bagi mereka. Pahala yang dijanjikan adalah persahabatan dan kedudukan yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ.

# 13
وعن عائشةَ رضي اللَّه عنها قالت : دَخَلَتَ عليَّ امْرَأَةٌ ومعهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَم تَجِدْ عِنْدِى شَيْئاً غَيْرَ تَمْرةٍ واحِدةٍ ، فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمتْهَا بَيْنَ ابنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قامتْ فَخَرَجتْ ، فَدخلَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلَيْنَا ، فَأَخْبرتُهُ فقال: « مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْراً من النَّارِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah رضي الله عنها, bahwa ada seorang wanita yang menemuiku sambil membawa dua anak perempuannya. Dia meminta (sedekah) padaku, namun aku tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kecuali sebiji kurma. Wanita itu lalu mengambil kurma itu dan membagikannya kepada kedua anak perempuannya, sementara dia sendiri tidak memakannya sama sekali. Kemudian dia pun berdiri dan pergi. Tak lama kemudian, Nabi ﷺ masuk, lalu aku ceritakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: "Siapa yang diuji dengan memiliki banyak anak perempuan, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari neraka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dalam berbuat baik kepada anak perempuan, khususnya dalam kondisi kekurangan. Sikap ibu yang mengutamakan anaknya hingga rela tidak makan menjadi contoh nyata. Nabi ﷺ menjamin bahwa siapa yang sabar dan berbuat baik dalam mengasuh anak-anak perempuannya, maka perbuatan itu akan menjadi pelindungnya dari api neraka.

# 14
وعن عائشةَ رضي اللَّهُ عنها قالت : جَاءَتنى مِسْكِينَةٌ تَحْمِل ابْنْتَيْن لها ، فَأَطعمتهَا ثَلاثَ تَمْرَاتٍ ، فَأَعطتْ كُلَّ وَاحدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرفعتْ إِلى فيها تَمْرةً لتَأَكُلهَا ، فاستطعمتها ابْنَتَاهَا ، فَشَقَّت التَّمْرَةَ التى كَانَتْ تُريدُ أَنْ تأْكُلهَا بيْنهُمَا ، فأَعْجبنى شَأْنَها ، فَذَكرْتُ الَّذي صنعَتْ لرسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : « إن اللَّه قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الجنَّةَ ، أَو أَعْتقَها بِهَا مَن النَّارِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari 'Aisyah رضي الله عنها, bahwa ada seorang wanita miskin yang menemuiku sambil membawa dua anak perempuannya. Aku memberinya tiga biji kurma. Saat itu, dia memberi masing-masing anaknya satu biji kurma. Sementara satu biji kurma lagi, dia angkat ke mulut hendak memakannya, tetapi tiba-tiba kedua anaknya meminta lagi darinya. Wanita itu lalu membagi kurma ketiga itu menjadi dua dan memberikannya kepada kedua anaknya. Aku terharu dengan perbuatannya. Lalu aku ceritakan apa yang dilakukannya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda: "Sungguh Allah telah memastikannya masuk surga, atau sungguh Allah telah membebaskannya dari neraka." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, sekalipun dalam hal yang kecil seperti membagi sebutir kurma, memiliki nilai yang sangat agung di sisi Allah. Perbuatan tersebut dapat menjadi sebab diampuninya dosa dan diraihnya surga. Ini menunjukkan betapa perhatian terhadap kebutuhan keluarga, terutama anak-anak, adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.

# 15
وعن أبي شُريْحٍ خُوَيْلِدِ بْنِ عَمْروٍ الخُزاعِيِّ رضي اللَّهُ عنه قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « اللَّهُمَّ إِنِّى أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعيفينِ الْيَتِيمِ والمرْأَةِ » حديث حسن صحيح رواه النسائى بإِسناد جيدٍ . ومعنى « أُحَرِّجُ » : أُلحقُ الحَرَجَ ، وَهُوَ الإِثْمُ بِمَنْ ضَيَّعَ حَقَّهُما ، وَأُحَذِّرُ منْ ذلكَ تَحْذيراً بَلِيغاً ، وَأَزْجُرُ عَنْهُ زَجْراً أَكيداً
Terjemahan
Dari Abu Syuraih Khuwailid bin 'Amr Al-Khuza'i رضي الله عنه, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Ya Allah, sesungguhnya aku menyatakan berat (dosanya) atas (orang yang mengabaikan) hak dua orang yang lemah, yaitu anak yatim dan wanita." (Hadits hasan shahih diriwayatkan oleh An-Nasa'i dengan sanad yang baik).
Dan makna "Uharriju" adalah: Aku menjadikan (pelakunya) berdosa, yaitu dosa bagi siapa yang menyia-nyiakan hak keduanya, dan aku memperingatkan hal itu dengan peringatan yang sangat, serta aku melarangnya dengan larangan yang kuat.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa agung dan terjaminnya hak anak yatim dan perempuan dalam Islam. Rasulullah ﷺ secara khusus memohon kepada Allah agar menjadikan dosa yang besar bagi siapa pun yang menzalimi atau menyia-nyiakan hak kedua golongan yang sering lemah secara sosial ini. Sabda beliau merupakan bentuk perlindungan, peringatan keras, dan penjagaan terhadap martabat serta kebutuhan mereka.

# 16
وعن مُصْعبِ بنِ سعدِ بنِ أبي وقَّاصٍ رضي اللَّه عنهما : رأَى سعْدٌ أَنَّ لَهُ فَضْلاً علَى مَنْ دُونهُ ، فقال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « هَل تُنْصرُونَ وتُرزقُونَ إِلاَّ بِضُعفائِكُم» رواه البخاري هَكَذا مُرسلاً ، فَإِن مصعَب ابن سعد تَابِعِيُّ ، ورواه الحافِظُ أَبو بكر الْبَرْقَانِى في صحيحِهِ مُتَّصلاً عن أَبيه رضي اللَّه عنه .
Terjemahan
Dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqash رضي الله عنهما, bahwa Sa'ad merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki justru karena orang-orang lemah di antara kalian?" Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mursal karena Mus'ab sebagai tabi'in. Sementara Al-Hafizh Abu Hatim Al-Burqani meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya, Al-Mustadrak, dari Mus'ab dari ayahnya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa keberkahan, pertolongan, dan rezeki dari Allah justru datang karena keberadaan orang-orang lemah dan dhuafa dalam komunitas. Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak merasa lebih baik dari orang lain, karena merekalah sebab turunnya rahmat Allah. Hikmahnya, kita harus menghormati, menyayangi, dan memperhatikan mereka, bukan merendahkannya.

# 17
وعن أبي الدَّرْداءِ عُوَيْمرٍ رضي اللَّه عنه قال : سمِعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : «ابْغونِي في الضُّعَفَاءَ ، فَإِنَّمَا تُنْصرُونَ ، وتُرْزقون بضُعفائِكُمْ » رواه أَبو داود بإسناد جيد .
Terjemahan
Dari Abu Ad-Darda' Uwaimir رضي الله عنه, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Carilah (keberkahan dengan membantu) orang-orang lemah di antara kalian. Sesungguhnya kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan memperhatikan dan menolong kaum lemah (dhuafa). Hikmahnya, pertolongan dan rezeki dari Allah turun kepada suatu komunitas justru karena keberkahan dan doa orang-orang lemah di dalamnya. Dengan demikian, merawat mereka bukan sekadar ibadah sosial, tetapi menjadi sebab utama datangnya kemenangan dan kemakmuran kolektif.