Kitab 1 · Bab 34
Wasiat untuk berbuat baik kepada perempuan
✦ 10 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وعاشروهن بالمعروف ﴾ .سورة النساء(19)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu) dengan cara yang baik." (QS. An-Nisa': 19)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan suami untuk bergaul dengan istri secara baik dan penuh kemuliaan, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun perlakuan sehari-hari. Perintah "al-ma'ruf" mencakup semua bentuk kebaikan yang diakui oleh syariat dan adab yang luhur. Ini merupakan pondasi utama dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan suami untuk bergaul dengan istri secara baik dan penuh kemuliaan, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun perlakuan sehari-hari. Perintah "al-ma'ruf" mencakup semua bentuk kebaikan yang diakui oleh syariat dan adab yang luhur. Ini merupakan pondasi utama dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
# 2
وقال تعالى: ﴿ ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل فتذروها كالمعلقة، وإن تصلحوا وتتقوا فإن اللَّه كان غفوراً رحيماً ﴾ .سورة النساء(129)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nisa': 129)
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa keadilan sempurna dalam poligini sangat sulit dicapai, terutama dalam hal cinta hati. Namun, seorang suami tetap diwajibkan berusaha adil dalam hal-hal yang bisa diupayakan, seperti nafkah dan pembagian waktu. Larangan untuk terlalu condong kepada satu istri bertujuan mencegah terjadinya pengabaian dan penderitaan pada istri lainnya. Ayat ini menutup dengan penekanan pada pentingnya perbaikan dan ketakwaan, serta rahmat Allah bagi yang berusaha.
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa keadilan sempurna dalam poligini sangat sulit dicapai, terutama dalam hal cinta hati. Namun, seorang suami tetap diwajibkan berusaha adil dalam hal-hal yang bisa diupayakan, seperti nafkah dan pembagian waktu. Larangan untuk terlalu condong kepada satu istri bertujuan mencegah terjadinya pengabaian dan penderitaan pada istri lainnya. Ayat ini menutup dengan penekanan pada pentingnya perbaikan dan ketakwaan, serta rahmat Allah bagi yang berusaha.
# 3
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «اسْتوْصُوا بِالنِّساءِ خيْراً ، فإِنَّ المرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوجَ ما في الضِّلعِ أَعْلاهُ ، فَإِنْ ذَهبتَ تُقِيمُهُ كَسرْتَهُ ، وإِنْ تركتَهُ ، لمْ يزلْ أَعوجَ ، فاستوْصُوا بِالنِّسَاءِ » متفقٌ عليه .
وفي رواية في الصحيحين:« المرْأَةُ كالضلعِ إِنْ أَقَمْتَها كسرْتَهَا ، وإِنِ استَمتعْت بِهَا،اسْتَمتعْت وفِيها عَوجٌ » .
وفي رواية لمسلمٍ : « إِنَّ المرْأَةَ خُلِقتْ مِن ضِلَعٍ ، لَنْ تَسْتقِيمَ لكَ علَى طريقةٍ ، فَإِنْ استمتعْت بِهَا ، اسْتَمتَعْتَ بِهَا وفِيها عَوجٌ ، وإِنْ ذَهَبْتَ تُقيمُها كسرتَهَا ، وَكَسْرُهَا طلاقُها» .
قولُهُ : « عوجٌ » هو بفتح العين والواو .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Berbuat baiklah kepada wanita. Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas. Jika kamu berusaha meluruskannya, ia akan patah. Dan jika kamu membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, berbuat baiklah kepada wanita." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Terdapat riwayat dalam Ash-Shahihain bahwa: "Wanita itu seperti tulang rusuk, jika kamu berusaha meluruskannya, ia akan patah. Jika kamu ingin bersenang-senang dengannya, kamu bisa bersenang-senang dengannya meskipun ia memiliki sifat yang bengkok (sulit)." Dalam satu riwayat Muslim: "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dia tidak akan istiqamah (lurus) untukmu dengan satu cara. Jika kamu ingin bersenang-senang dengannya, kamu bisa bersenang-senang dengannya meskipun ia memiliki sifat yang bengkok. Jika kamu berusaha meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan mematahkannya itu berarti menceraikannya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk memperlakukan wanita dengan baik, lemah lemang, dan bijaksana. Perumpamaan penciptaan dari tulang rusuk yang bengkok menegaskan bahwa tabiat wanita memiliki "keunikan" yang harus diterima, bukan dipaksa untuk berubah secara radikal karena akan merusak hubungan. Hikmahnya adalah anjuran untuk bersikap arif, memaklumi kekurangan, dan menikmati kebaikan dalam kehidupan berumah tangga.
Terdapat riwayat dalam Ash-Shahihain bahwa: "Wanita itu seperti tulang rusuk, jika kamu berusaha meluruskannya, ia akan patah. Jika kamu ingin bersenang-senang dengannya, kamu bisa bersenang-senang dengannya meskipun ia memiliki sifat yang bengkok (sulit)." Dalam satu riwayat Muslim: "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dia tidak akan istiqamah (lurus) untukmu dengan satu cara. Jika kamu ingin bersenang-senang dengannya, kamu bisa bersenang-senang dengannya meskipun ia memiliki sifat yang bengkok. Jika kamu berusaha meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan mematahkannya itu berarti menceraikannya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk memperlakukan wanita dengan baik, lemah lemang, dan bijaksana. Perumpamaan penciptaan dari tulang rusuk yang bengkok menegaskan bahwa tabiat wanita memiliki "keunikan" yang harus diterima, bukan dipaksa untuk berubah secara radikal karena akan merusak hubungan. Hikmahnya adalah anjuran untuk bersikap arif, memaklumi kekurangan, dan menikmati kebaikan dalam kehidupan berumah tangga.
# 4
وعن عبد اللَّه بن زَمْعَةَ رضي اللَّهُ عنه ، أَنه سمعَ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يخْطُبُ ، وذكَر النَّاقَةَ والَّذِى عقَرهَا ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذِ انْبعث أَشْقَاهَا » انْبعثَ لَها رَجُلٌ عزِيزٌ، عارِمٌ منِيعٌ في رهْطِهِ » ثُمَّ ذكَرَ النِّساءَ ، فَوعظَ فِيهنَّ ، فَقالَ : « يعْمِدُ أَحَدكُمْ فيجْلِدُ امْرأَتَهُ جلْد الْعَبْدِ فلَعلَّهُ يُضاجعُهَا مِنْ آخِر يومِهِ » ثُمَّ وَعَظهُمْ في ضحكهِمْ مِن الضَّرْطَةِ وقال : «لِمَ يضحكُ أَحَدَكُمْ مِمَّا يفعلُ ؟ » متفق عليه .
« وَالْعارِمُ » بالعين المهملة والراءِ : هُو الشِّرِّيرُ المُفْسِد ، وقولُه : « انبعثَ »، أَيْ : قَامَ بسرعة .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Zam'ah رضي الله عنه, dia berkata: Dia mendengar Nabi ﷺ berkhutbah dan mengingatkan tentang unta dan orang yang membunuhnya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika orang yang paling celaka bangun dengan cepat untuk membunuhnya." Seorang laki-laki yang terhormat, kuat, dan perkasa dari kaum mereka seperti Abu Zam'ah bangun dengan cepat untuk membunuhnya. Kemudian beliau mengingatkan tentang wanita dan memberi nasihat untuk berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: "Sebagian kalian memukul istrinya seperti memukul budak, kemudian pada sore harinya dia tidur bersamanya lagi." Kemudian beliau memberi nasihat kepada mereka tentang tertawa karena kentut. Beliau bersabda: "Mengapa sebagian kalian tertawa terhadap sesuatu yang dia sendiri juga melakukannya?" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung dua pelajaran utama. Pertama, larangan keras menyakiti istri, bahkan dilarang memukulnya seperti memukul budak, karena suami tetap harus bergaul mesra dengannya. Kedua, larangan menertawakan kentut karena itu adalah perbuatan yang memalukan dan tidak pantas untuk dijadikan bahan ejekan. Intinya, Islam mengajarkan untuk menjaga kehormatan dan perasaan orang lain, baik dalam hubungan rumah tangga maupun pergaulan sehari-hari.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung dua pelajaran utama. Pertama, larangan keras menyakiti istri, bahkan dilarang memukulnya seperti memukul budak, karena suami tetap harus bergaul mesra dengannya. Kedua, larangan menertawakan kentut karena itu adalah perbuatan yang memalukan dan tidak pantas untuk dijadikan bahan ejekan. Intinya, Islam mengajarkan untuk menjaga kehormatan dan perasaan orang lain, baik dalam hubungan rumah tangga maupun pergaulan sehari-hari.
# 5
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِه مِنها خُلقاً رضِيَ مِنْها آخَرَ » أَوْ قَالَ : « غيْرَهُ » رواه مسلم.
وقولُهُ : « يفْركْ » هو بفتحِ الياءِ وإِسكانِ الفاءِ معناه : يُبغضُ ، يقَالُ : فَركَتِ المرْأَةُ زَوْجَهَا ، وفَرِكَهَا زَوْجُها ، بكسر الراءِ ، يفركُها بفتحهَا : أَيْ : أَبغضهَا ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah seorang mukmin membenci mukminah (istrinya). Jika dia membenci satu sifat pada istrinya, (maka ingatlah) dia ridha dengan sifat lainnya." Atau beliau bersabda: "Sifat yang lain." (HR. Muslim).
Ucapan beliau "Yafruk" dengan fathah ya' dan sukun fa', artinya: membenci. Dikatakan: "Si wanita farakat suaminya" dan "suaminya farikaha" dengan kasrah ra', atau "yafrukuhā" dengan fathah ra', artinya: membencinya. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip kesabaran dan keseimbangan dalam rumah tangga. Seorang suami dilarang membenci istrinya secara keseluruhan hanya karena satu sifat buruk, karena pasti ada sifat baik lain yang dapat disyukuri. Ini mendorong untuk melihat pasangan secara utuh dan berfokus pada kebaikannya, sehingga hubungan pernikahan dapat langgeng dan penuh keridhaan.
Ucapan beliau "Yafruk" dengan fathah ya' dan sukun fa', artinya: membenci. Dikatakan: "Si wanita farakat suaminya" dan "suaminya farikaha" dengan kasrah ra', atau "yafrukuhā" dengan fathah ra', artinya: membencinya. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip kesabaran dan keseimbangan dalam rumah tangga. Seorang suami dilarang membenci istrinya secara keseluruhan hanya karena satu sifat buruk, karena pasti ada sifat baik lain yang dapat disyukuri. Ini mendorong untuk melihat pasangan secara utuh dan berfokus pada kebaikannya, sehingga hubungan pernikahan dapat langgeng dan penuh keridhaan.
# 6
وعن عَمْرو بنِ الأَحْوَصِ الجُشميِّ رضي اللَّه عنه أَنَّهُ سمِعَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في حَجِّةِ الْوَداع يقُولُ بعد أَنْ حَمِدَ اللَّه تعالى ، وَأَثنَى علَيْهِ وذكَّر ووعظَ ، ثُمَّ قال: « أَلا واسْتَوْصوا بِالنِّساءِ خَيْراً ، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوانٍ عَنْدَكُمْ لَيْس تمْلكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئاً غيْرَ ذلِكَ إِلاَّ أَنْ يأْتِينَ بِفَاحشةٍ مُبيِّنةٍ ، فإِنْ فَعلْنَ فَاهْجُروهُنَّ في المضَاجعِ ، واضْربُوهنَّ ضَرْباً غيْر مُبرِّحٍ ، فإِنْ أَطعنَكُمْ فَلا تبْغُوا عَلَيْهِنَّ سبيلا ، أَلا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسائِكُمْ حَقًّا ، ولِنِسائِكُمْ عَلَيْكُمْ حقًّا، فَحَقُّكُمْ عَلَيْهنَّ أَن لا يُوطِئْنَ فُرُشكمْ منْ تَكْرهونَ ، وَلا يأْذَنَّ في بُيُوتكمْ لِمن تكْرهونَ ، أَلا وحقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَن تُحْسنُوا إِليْهنَّ في كِسْوتِهِنَّ وَطعامهنَّ».
رواه الترمذى وقال : حديث حسن صحيحٌ .
قوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « عوانٍ » أَيْ : أَسِيرَاتٌ ، جمْعُ عانِيةٍ ، بِالْعَيْنِ المُهْمَلَةِ ، وهى الأَسِيرَةُ ، والْعانِي : الأَسِيرُ . شَبَّهَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم المرْأَةَ في دُخُولَهَا تحْتَ حُكْم الزَّوْجِ بالأَسيرِ «والضرْبُ المُبرِّحُ » : هُوَ الشَّاقُّ الشديدُ ، وقوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً » أَيْ : لا تَطلُبوا طرِيقاً تحْتجُّونَ بِهِ عَلَيْهِنَّ وَتُؤذونهنَّ بِهِ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari 'Amr bin Al-Ahwash Al-Jusyami رضي الله عنه, bahwa dia mendengar Nabi ﷺ pada haji wada' setelah memuji dan menyanjung Allah Ta'ala, lalu beliau memberi peringatan dan nasihat, kemudian bersabda: "Ketahuilah, berwasiatlah untuk berbuat baik kepada wanita. Sesungguhnya mereka adalah tawanan di sisi kalian. Kalian tidak memiliki kekuasaan atas mereka sedikit pun selain itu (yaitu berbuat baik), kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan (untuk menyusahkan) mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian pun memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci menginjak tempat tidur kalian, dan tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah kalian. Ketahuilah, hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka." (HR. At-Tirmidzi dan dia berkata: hadits hasan shahih).
Sabda Nabi ﷺ "‘Awānin" artinya: tawanan-tawanan, jamak dari ‘āniyah, dengan 'ain yang tidak bertitik, yaitu tawanan perempuan, dan al-‘ānī: tawanan laki-laki. Rasulullah ﷺ menyamakan wanita yang masuk di bawah kekuasaan suami seperti tawanan. "Adh-dharbu al-mubrih" adalah pukulan yang keras dan menyakitkan. Sabda Nabi ﷺ "fa lā tabghū ‘alaihinna sabīlā" artinya: janganlah kalian mencari-cari jalan untuk berhujjah (mencari alasan) atas mereka dan menyakiti mereka karenanya. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan kewajiban suami untuk memperlakukan istri dengan baik dan adil, karena kedudukan istri bagaikan amanah. Sikap tegas hanya dibenarkan jika istri melakukan pelanggaran berat (fāḥisyah mubayyinah), itupun dengan cara yang proporsional dan tidak menyakiti. Jika istri telah kembali taat, suami harus memaafkan dan tidak lagi mencari-cari kesalahannya. Intinya adalah membangun rumah tangga dengan dasar kasih sayang, kelembutan, dan keadilan.
Sabda Nabi ﷺ "‘Awānin" artinya: tawanan-tawanan, jamak dari ‘āniyah, dengan 'ain yang tidak bertitik, yaitu tawanan perempuan, dan al-‘ānī: tawanan laki-laki. Rasulullah ﷺ menyamakan wanita yang masuk di bawah kekuasaan suami seperti tawanan. "Adh-dharbu al-mubrih" adalah pukulan yang keras dan menyakitkan. Sabda Nabi ﷺ "fa lā tabghū ‘alaihinna sabīlā" artinya: janganlah kalian mencari-cari jalan untuk berhujjah (mencari alasan) atas mereka dan menyakiti mereka karenanya. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan kewajiban suami untuk memperlakukan istri dengan baik dan adil, karena kedudukan istri bagaikan amanah. Sikap tegas hanya dibenarkan jika istri melakukan pelanggaran berat (fāḥisyah mubayyinah), itupun dengan cara yang proporsional dan tidak menyakiti. Jika istri telah kembali taat, suami harus memaafkan dan tidak lagi mencari-cari kesalahannya. Intinya adalah membangun rumah tangga dengan dasar kasih sayang, kelembutan, dan keadilan.
# 7
وعن مُعَاويَةَ بنِ حَيْدةَ رضي اللَّه عنه قال : قلتُ : يا رسول اللَّه ما حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدنَا عَلَيْهِ ؟ قال : « أَن تُطْعمَها إِذَا طَعِمْتَ ، وتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسيْتَ ولا تَضْربِ الْوَجهَ، وَلا تُقَبِّحْ ، ولا تَهْجُرْ إِلاَّ في الْبَيْتِ » حديثٌ حسنٌ رواه أَبو داود وقال : معنى « لا تُقَبِّحْ» أَى : لا تقُلْ قَبَّحَكِ اللَّه .
Terjemahan
Dari Mu'awiyah bin Haidah رضي الله عنه, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apa hak istri kami atas suaminya?" Beliau menjawab: "Yaitu engkau memberinya makan ketika engkau makan, memberinya pakaian ketika engkau berpakaian, jangan memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan meninggalkannya (memboikot) kecuali di dalam rumah." (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan dasar istri (sandang dan pangan) setara dengan dirinya. Larangan memukul wajah dan mencela melindungi kehormatan dan harga diri istri. Sementara, pembatasan hijrah (memboikot) hanya di dalam rumah menjadi panduan menyelesaikan konflik tanpa mengabaikan tanggung jawab rumah tangga. Intinya, hadis ini mengajarkan keadilan, kasih sayang, dan penghormatan dalam relasi suami-istri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan dasar istri (sandang dan pangan) setara dengan dirinya. Larangan memukul wajah dan mencela melindungi kehormatan dan harga diri istri. Sementara, pembatasan hijrah (memboikot) hanya di dalam rumah menjadi panduan menyelesaikan konflik tanpa mengabaikan tanggung jawab rumah tangga. Intinya, hadis ini mengajarkan keadilan, kasih sayang, dan penghormatan dalam relasi suami-istri.
# 8
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه ، قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَكْمَلُ المُؤْمنين إِيمَاناً أَحْسنُهُمْ خُلُقاً ، وَخِياركُمْ خيارُكم لِنِسَائِهِم » رواه التِّرمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits ini hasan shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan dua tolok ukur utama kesempurnaan iman seorang muslim. Pertama, keimanan yang hakiki terwujud dalam akhlak mulia terhadap sesama. Kedua, kebaikan dan keutamaan seseorang diukur dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya, khususnya istri, dengan cara terbaik. Dengan demikian, agama sangat menekankan etika sosial dan keharmonisan rumah tangga sebagai cerminan keimanan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan dua tolok ukur utama kesempurnaan iman seorang muslim. Pertama, keimanan yang hakiki terwujud dalam akhlak mulia terhadap sesama. Kedua, kebaikan dan keutamaan seseorang diukur dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya, khususnya istri, dengan cara terbaik. Dengan demikian, agama sangat menekankan etika sosial dan keharmonisan rumah tangga sebagai cerminan keimanan.
# 9
وعن إِياس بنِ عبدِ اللَّه بنِ أبي ذُباب رضي اللَّه عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « لاَ تَضْربُوا إِمَاءَ اللَّهِ » فَجاءَ عُمَرُ رضي اللَّه عنه إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَقَالَ : ذَئِرْنَ النِّساءُ عَلَى أَزْواجهنَّ ، فَرَخَّصَ في ضَرْبهِنَّ فَأَطاف بِآلِ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نِساءٌ كَثِيرٌ يَشْكونَ أَزْواجهُنَّ ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لَقَدْ أَطَافَ بآلِ بَيْت مُحمَّدٍ نِساءٌ كَثيرِ يشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ أُولِئك بخيارِكُمْ » رواه أبو داود بإسنادٍ صحيح .
Terjemahan
Dari Iyas bin Abdullah bin Abi Dzubab رضي الله عنه, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah." Kemudian Umar datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata: "Para wanita berani membangkang terhadap suami mereka." Maka Rasulullah ﷺ mengizinkan untuk memukul mereka. Setelah itu, banyak wanita yang mengadukan suami mereka kepada istri-istri Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda: "Banyak wanita yang mengadukan suami mereka kepada keluarga Muhammad. Orang-orang yang memukul (istri) mereka bukanlah orang terbaik di antara kalian." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan larangan awal Nabi ﷺ untuk memukul istri. Izin yang diberikan kemudian merupakan rukhsah (keringanan) dalam kondisi darurat, bukan anjuran. Esensi ajaran Islam adalah memperlakukan istri dengan baik, sebab izin tersebut justru mengakibatkan banyak pengaduan dari para istri, yang dikeluhkan oleh Nabi ﷺ sendiri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan larangan awal Nabi ﷺ untuk memukul istri. Izin yang diberikan kemudian merupakan rukhsah (keringanan) dalam kondisi darurat, bukan anjuran. Esensi ajaran Islam adalah memperlakukan istri dengan baik, sebab izin tersebut justru mengakibatkan banyak pengaduan dari para istri, yang dikeluhkan oleh Nabi ﷺ sendiri.
# 10
وعن عبدِ اللَّه بنِ عمرو بن العاص رضي اللَّه عنهما أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتاعهَا المَرْأَةُ الصَّالحةُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash رضي الله عنهما, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia adalah kesenangan (sementara), dan sebaik-baik kesenangan di dunia ini adalah istri yang shalihah." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa dunia bersifat sementara dan segala kenikmatannya hanyalah perhiasan. Di antara semua perhiasan duniawi, istri yang shalihah adalah yang terbaik. Hal ini menunjukkan betapa agungnya nilai seorang perempuan yang taat kepada Allah dan baik kepada suaminya, karena ia menjadi sumber ketenangan, penjaga kehormatan, dan pendukung dalam ketaatan. Dengan demikian, hadis ini mengajak untuk memprioritaskan kebaikan akhirat dan memilih pasangan hidup yang akan membantu mencapainya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa dunia bersifat sementara dan segala kenikmatannya hanyalah perhiasan. Di antara semua perhiasan duniawi, istri yang shalihah adalah yang terbaik. Hal ini menunjukkan betapa agungnya nilai seorang perempuan yang taat kepada Allah dan baik kepada suaminya, karena ia menjadi sumber ketenangan, penjaga kehormatan, dan pendukung dalam ketaatan. Dengan demikian, hadis ini mengajak untuk memprioritaskan kebaikan akhirat dan memilih pasangan hidup yang akan membantu mencapainya.