Kitab 1 · Bab 37
Bersedekah dengan harta yang dicintai dan harta yang baik
✦ 3 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون ﴾ .سورة آل عمران(92)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kualitas kebajikan dan ketakwaan seseorang diukur dari kesediaannya berkorban. Hikmahnya, kesempurnaan iman tercapai ketika mampu mengutamakan perintah Allah di atas kecintaan pada harta duniawi. Pengorbanan harta yang paling dicintai menjadi bukti keikhlasan dan kunci meraih derajat spiritual yang tinggi (al-birr).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kualitas kebajikan dan ketakwaan seseorang diukur dari kesediaannya berkorban. Hikmahnya, kesempurnaan iman tercapai ketika mampu mengutamakan perintah Allah di atas kecintaan pada harta duniawi. Pengorbanan harta yang paling dicintai menjadi bukti keikhlasan dan kunci meraih derajat spiritual yang tinggi (al-birr).
# 2
وقال تعالى: ﴿ يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم ومما أخرجنا لكم من الأرض، ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون ﴾ .
Terjemahan
Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya." (QS. Al-Baqarah: 267)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa infak harus berasal dari harta yang baik dan halal, bukan dari barang yang buruk dan tidak layak. Ini mengajarkan keikhlasan dan kesungguhan dalam beribadah, serta melarang sikap menghina dengan memberi sesuatu yang kita sendiri enggan menerimanya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa infak harus berasal dari harta yang baik dan halal, bukan dari barang yang buruk dan tidak layak. Ini mengajarkan keikhlasan dan kesungguhan dalam beribadah, serta melarang sikap menghina dengan memberi sesuatu yang kita sendiri enggan menerimanya.
# 3
عن أَنس رضي اللَّه عنه قال : كَانَ أَبُو طَلْحَةَ رضي اللَّه عنه أَكْثَر الأَنْصَارِ بِالمدِينَةِ مَالاً مِنْ نَخْلٍ ، وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوالِهِ إِلَيْهِ بَيْرَحاءَ ، وَكانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ المسْجِدِ وكانَ رسولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يدْخُلُهَا وَيشْربُ مِنْ ماءٍ فِيهَا طَيِّبٍ قَالَ أَنَسٌ : فلَمَّا نزَلَتْ هَذِهِ الآيةُ : { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } قام أَبُو طَلْحَةَ إِلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يا رسولَ اللَّه إِنَّ اللَّه تَعَالَى أَنْزَلَ عَلَيْكَ : { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ مَالي إِلَيَّ بَيْرَحَاءَ ، وإِنَّهَا صَدقَةٌ للَّهِ تَعَالَى أَرْجُو بِرَّهَا وذُخْرهَا عِنْد اللَّه تعالى ، فَضَعْها يا رسول اللَّه حيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « بَخٍ ، ذلِكَ مَالٌ رَابحٌ ، ذلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ، وَقَدْ سمِعْتُ مَا قُلْتَ ، وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا في الأَقْرَبِينَ » فقال أَبُو طَلْحَةَ : أَفْعَلُ يا رسولَ اللَّه ، فَقَسَّمَهَا أَبُو طَلْحَةَ في أَقَارِبِهِ ، وَبَني عَمِّهِ. متفقٌ عليه .
وقولُهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مالٌ رَابحٌ » رُوي في الصحيحين « رَابحٌ » و « رَايحٌ» بالباءِ الموحدةِ وبالياءِ المثناةِ ، أَيْ رَايحٌ عَلَيْكَ نَفْعُهُ ، و « بَبْرَحَاءُ » حَدِيِقَةُ نَخْلٍ ، وروي بكسرِ الباءِ وَفتحِها .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya berupa kebun kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah kebun Bairuha', yang menghadap ke masjid. Rasulullah ﷺ pernah masuk ke dalamnya dan minum dari air yang baik di dalamnya." Anas berkata: "Ketika turun ayat: 'Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.' (Ali 'Imran: 92), Abu Thalhah mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan ayat kepadamu: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." Dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha'. Ia sekarang menjadi sedekah karena Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Letakkanlah ia, wahai Rasulullah, di mana pun Allah memperlihatkan kepadamu.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan, dan aku berpendapat agar kamu memberikannya kepada kerabat-kerabatmu.' Abu Thalhah berkata, 'Aku akan lakukan, wahai Rasulullah.' Maka Abu Thalhah membagikannya kepada kerabatnya dan anak-anak pamannya." (Muttafaqun 'alaih). Sabda Nabi ﷺ "maalun raabih" dalam Shahihain diriwayatkan dengan "raabih" dan "raaih", artinya membawa manfaat bagimu. "Bairuhaa" adalah kebun kurma, diriwayatkan dengan memfathah atau mengkasrah huruf ba'-nya.
Penjelasan: Kisah sahabat Abu Thalhah yang langsung menyedekahkan harta paling dicintainya setelah turun ayat. Rasulullah ﷺ memujinya dan menyarankan agar diberikan kepada kerabat dekat, menunjukkan prioritas dalam sedekah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa infak yang paling utama adalah mendermakan harta yang paling kita cintai, bukan sisa harta yang tidak bernilai. Keteguhan iman Abu Thalhah ditunjukkan dengan segera menyedekahkan kebun terbaiknya saat turun ayat, tanpa menunggu atau berhitung-hitung. Ini adalah telanan nyata dalam mengutamakan kecintaan kepada Allah di atas kecintaan pada harta dunia.
Penjelasan: Kisah sahabat Abu Thalhah yang langsung menyedekahkan harta paling dicintainya setelah turun ayat. Rasulullah ﷺ memujinya dan menyarankan agar diberikan kepada kerabat dekat, menunjukkan prioritas dalam sedekah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa infak yang paling utama adalah mendermakan harta yang paling kita cintai, bukan sisa harta yang tidak bernilai. Keteguhan iman Abu Thalhah ditunjukkan dengan segera menyedekahkan kebun terbaiknya saat turun ayat, tanpa menunggu atau berhitung-hitung. Ini adalah telanan nyata dalam mengutamakan kecintaan kepada Allah di atas kecintaan pada harta dunia.
‹
Mengeluarkan nafkah untuk anggota keluarga
Kewajiban kepala keluarga, orang tua terhadap anak yang telah dewasa, dan semua yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk menyuruh mereka taat kepada Allah, melarang mereka dari perbuatan salah, serta mendidik dan melarang mereka melanggar hal-hal yang diharamkan
›