✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hadits-Hadits tentang Berbagai Masalah
Kitab 19 · Bab 2

Memohon ampunan.

✦ 18 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ ﴾[سورة محمد(19)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu atas dosa-dosamu dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan." (Muhammad: 19)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ, meski telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, tetap diperintahkan untuk memohon ampun. Hal ini menunjukkan keutamaan dan anjuran istighfar yang sangat kuat, sekaligus mengajarkan sikap rendah hati (tawadhu'). Selain itu, perintah untuk mendoakan kaum mukminin dan mukminat menjadi teladan bagi umatnya agar saling peduli dan mendoakan kebaikan serta ampunan bagi sesama muslim.

# 2
وقال تعالى: ﴿وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا﴾[سورة النساء(106)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa': 106)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan perintah langsung dari Allah untuk selalu memohon ampun (istighfar) atas segala kesalahan. Perintah ini disertai dengan penyebutan dua sifat Allah, Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), yang menjadi jaminan bagi hamba-Nya. Intinya, ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus senantiasa kembali dan bertobat kepada Allah, serta tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya, karena Allah selalu membuka pintu ampunan bagi yang memohon.

# 3
وقال تعالى: ﴿فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا﴾[سورة النصر(3)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat." (An-Nasr: 3)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua ibadah utama sebagai respons atas nikmat dan pertolongan Allah: tasbih (menyucikan Allah) dan istighfar. Kombinasi ini menunjukkan bahwa di puncak kesuksesan, seorang hamba harus tetap rendah hati, tidak sombong, dan selalu merasa perlu menyempurnakan dirinya di hadapan Allah. Dengan demikian, kemenangan dan keberhasilan tidak membuat lupa diri, tetapi justru meningkatkan ketakwaan.

# 4
وقال تعالى: ﴿ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ﴾ إلى قوله عز وجل ﴿ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾[سورة آل عمران(115-117)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Bagi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya (disediakan) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai... dan orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur (sebelum fajar)." (Ali 'Imran: 15-17)

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa balasan tertinggi di sisi Allah adalah bagi orang-orang yang bertakwa (muttaqin). Sifat mereka dirinci, antara lain gemar berinfak, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang, dan beristighfar di waktu sahur. Intinya, ketakwaan bukan hanya ritual, tetapi tercermin dalam penguasaan diri, kedermawanan sosial, dan ketekunan beribadah di sepertiga malam terakhir.

# 5
وقال تعالى: ﴿وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا﴾[سورة النساء(110)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa': 110)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa pintu taubat selalu terbuka lebar bagi setiap hamba. Betapapun besar dosa dan kezaliman yang dilakukan, baik terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri, selama ia bersungguh-sungguh beristighfar dan memohon ampun kepada Allah, maka Dia akan mengampuni. Ini adalah jaminan langsung dari Allah tentang sifat-Nya yang Maha Pengampun (Al-Ghafur) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim), yang memberikan harapan dan tidak membuat manusia putus asa dari rahmat-Nya.

# 6
وقال تعالى: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾[سورة الأنفال(33)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampun." (Al-Anfal: 33)

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan dua sebab terangkatnya azab Allah dari suatu kaum. Pertama, keberadaan Nabi Muhammad ﷺ di tengah mereka sebagai rahmat dan perisai. Kedua, istigfar (permohonan ampun) yang tulus dari mereka sendiri. Pelajaran utamanya adalah betapa agungnya kemuliaan Rasulullah ﷺ dan betapa pentingnya serta dahsyatnya kekuatan istigfar dalam mencegah bencana dan murka Allah.

# 7
وقال تعالى: ﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾[سورة آل عمران(135)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji (dosa besar) atau menzalimi dirinya sendiri (dengan dosa kecil), segera mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." (Ali 'Imran: 135)

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan ciri orang bertakwa yang sejati. Hikmahnya adalah bahwa seorang mukmin yang terjatuh dalam dosa, besar atau kecil, segera menyadari kesalahannya, mengingat Allah, dan beristighfar. Kunci diterimanya taubat adalah tidak mengulangi dosa tersebut dengan sengaja. Ini menunjukkan rahmat Allah yang luas dan jalan kembali kepada-Nya selalu terbuka bagi yang bersungguh-sungguh.

# 8
وَعن الأَغَرِّ المُزَنيِّ رضِي اللَّه عنْهُ أَنَّ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « إِنَّهُ لَيُغَانُ على قَلْبي ، وَإِني لأَسْتغْفِرُ اللَّه في الْيوْمِ مِئَةَ مرَّةٍ » رواهُ مُسلِم .
Terjemahan
Dari Al-Agharr Al-Muzani radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya hatiku terkadang tertutup oleh kelalaian, dan aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Nabi Muhammad ﷺ, meskipun dosanya telah diampuni, tetap sering beristighfar sebagai bentuk ketawadhu'an dan pengajaran bagi umatnya agar senantiasa kembali kepada Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa istighfar bukan hanya untuk orang yang berdosa, tetapi juga sebagai bentuk penyucian hati dari kelalaian. Nabi Muhammad ﷺ, yang ma'shum, melakukannya seratus kali sehari sebagai teladan ketawadhu'an dan kesadaran spiritual. Hikmahnya, umat Islam diajari untuk senantiasa introspeksi, menjaga kebersihan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui istighfar, sekalipun merasa diri sudah baik.

# 9
وعنْ أَبي هُريْرة رضِي اللَّه عنْهُ قَال : سمِعْتُ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : « واللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّه وأَتُوبُ إِلَيْهِ في الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سبْعِينَ مَرَّةً » رواه البخاري .
Terjemahan
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan betapa seringnya Nabi ﷺ beristighfar dan bertaubat, mencontohkan bahwa manusia sempurna sekalipun harus terus-menerus mendekatkan diri dan memohon ampun kepada Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa istighfar dan taubat adalah kebutuhan harian seorang muslim, bukan sekadar untuk orang yang melakukan dosa besar. Nabi ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) melakukannya dengan sangat sering sebagai bentuk ketundukan dan pendekatan diri kepada Allah. Ini menjadi teladan agar kita tidak pernah merasa suci dan selalu merasa butuh ampunan-Nya dalam segala kondisi.

# 10
وعنْهُ رَضِي اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « والَّذي نَفْسِي بِيدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا ، لَذَهَب اللَّه تَعَالى بِكُمْ ، ولجاءَ بقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّه تَعالى فَيغْفِرُ لهمْ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari beliau (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum yang berbuat dosa kepada-Nya, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini mengandung makna bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa. Allah menciptakan mekanisme taubat dan istighfar sebagai rahmat. Bukan berarti dianjurkan berbuat dosa, tetapi ditekankan bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi yang bersalah lalu bertaubat.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya tidak luput dari dosa. Justru dengan adanya dosa, lalu diikuti dengan taubat dan istighfar, rahmat dan ampunan Allah turun. Hikmahnya, Allah mencintai hamba-Nya yang selalu menyadari kesalahan, lalu bersegera memohon ampun, bukan yang menganggap diri suci. Mekanisme ini menunjukkan kasih sayang Allah yang Maha Pengampun.

# 11
وعَنِ ابْنِ عُمر رضِي اللَّه عَنْهُما قَال : كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في المجلِس الْواحِدِ مائَةَ مرَّةٍ : « ربِّ اغْفِرْ لي ، وتُبْ عليَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيمُ » رواه أبو داود ، والترمذي ، وقال : حديث صحيح .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Kami pernah menghitung doa Rasulullah ﷺ dalam satu majelis sebanyak 100 kali: "Rabbigfir lii wa tub 'alayya innaka antat-tawwaabur-rahim" (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang). (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya istighfar dan taubat yang terus-menerus, bahkan bagi Rasulullah ﷺ yang ma'shum. Pengulangan doa hingga seratus kali dalam satu majelis menunjukkan kesungguhan, kerendahan hati, dan kebutuhan hamba akan ampunan Allah. Ini juga menjadi teladan bahwa taubat bukanlah tindakan sekali saja, melainkan permohonan yang harus diulang-ulang sebagai bentuk pengakuan atas dosa dan pengharapan akan rahmat-Nya.

# 12
وعنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَال : قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ لَزِم الاسْتِغْفَار ، جعل اللَّه لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مخْرجاً ، ومنْ كُلِّ هَمٍّ فَرجاً ، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لا يَحْتَسِبُ » رواه أبو داود .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang senantiasa beristighfar (memohon ampun) kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, solusi dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan: Hadits ini menjelaskan keutamaan istighfar yang konsisten. Selain pengampunan dosa, istighfar juga menjadi sebab dibukanya pintu rezeki, kemudahan, dan solusi masalah.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa istighfar bukan sekadar permohonan ampun atas dosa, tetapi juga ibadah yang membawa dampak duniawi. Bagi yang membiasakannya, Allah akan memberikan solusi dari segala kesulitan, ketenangan dari kegundahan, dan rezeki yang tak terduga. Kunci utamanya adalah konsistensi (ilzam) dalam memohon ampun.

# 13
وعنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضِي اللَّه عنْهُ قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ قال : أَسْتَغْفِرُ اللَّه الذي لا إِلَهَ إِلاَّ هُو الحيَّ الْقَيُّومَ وأَتُوبُ إِلَيهِ ، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ » رواه أبو داود والترمذي والحاكِمُ ، وقال : حدِيثٌ صحيحٌ على شَرْطِ البُخَارِيِّ ومُسلمٍ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membaca: 'Astaghfirullah alladzi laa ilaha illa huwal-hayyul-qayyumu wa atuubu ilaih' (Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya), niscaya akan diampuni dosanya, meskipun dia pernah lari dari medan perang." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Penjelasan: Istighfar dengan menyebut nama-nama Allah yang agung memiliki keutamaan besar. Hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, yang dapat mengampuni dosa besar sekalipun jika disertai taubat yang sungguh-sungguh.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan istighfar dengan menyebut nama Allah "Al-Hayyu Al-Qayyum". Istighfar ini bukan sekadar permohonan ampun, tetapi pengakuan atas keesaan, kehidupan, dan kekuasaan Allah. Hikmahnya, taubat dan istighfar yang ikhlas dapat mengampuni segala dosa, bahkan dosa besar seperti desertir perang, selama memenuhi syarat taubat nasuha. Ini memberi harapan luasnya rahmat Allah bagi setiap hamba yang kembali.

# 14
وعنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي اللَّه عنْهُ عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « سيِّدُ الاسْتِغْفار أَنْ يقُول الْعبْدُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي ، لا إِلَه إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَني وأَنَا عَبْدُكَ ، وأَنَا على عهْدِكَ ووعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ما صنَعْتُ ، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ علَيَ ، وأَبُوءُ بذَنْبي فَاغْفِرْ لي ، فَإِنَّهُ لا يغْفِرُ الذُّنُوبِ إِلاَّ أَنْتَ . منْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً بِهَا ، فَمـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الجنَّةِ ، ومَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وهُو مُوقِنٌ بها فَمَاتَ قَبل أَنْ يُصْبِح ، فهُو مِنْ أَهْلِ الجنَّةِ » رواه البخاري . « أَبُوءُ » : بباءٍ مضْمومةٍ ثُمَّ واوٍ وهمزَةٍ مضمومة ، ومَعْنَاهُ : أَقِرُّ وَأَعترِفُ .
Terjemahan
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Ucapan istighfar yang paling utama adalah: 'Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta, khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, a'udzu bika min syarri ma shana'tu, abuu'u laka bini'matika 'alayya, wa abuu'u bidzanbi, faghfirlii, fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta' (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau). Barangsiapa membacanya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum petang, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa membacanya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum subuh, maka ia termasuk penghuni surga." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan: Doa ini disebut Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar). Ia merupakan bentuk pengakuan yang lengkap akan keesaan Allah, status sebagai hamba, pengakuan nikmat dan dosa, serta permohonan ampunan yang hanya dari-Nya. Membacanya dengan yakin adalah tanda husnul khatimah (akhir hidup yang baik).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bentuk istighfar (memohon ampun) yang paling utama. Intinya adalah pengakuan hamba atas keesaan Allah sebagai Pencipta, pengakuan diri sebagai hamba yang berjanji setia, serta pengakuan atas nikmat dan dosa yang diperbuat. Permohonan ampun hanya kepada Allah, disertai keyakinan, mengandung harapan agar Allah mengampuni segala dosa.

# 15
وعنْ ثوْبانَ رضِي اللَّه عنْهُ قَال : كَانَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا انْصرفَ مِنْ صلاتِهِ، استَغْفَر اللَّه ثَلاثاً وقَالَ : « اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلامُ ، ومِنْكَ السَّلامُ ، تَباركْتَ ياذَا الجلالِ والإِكْرامِ » قيلَ لِلأوزاعِيِّ ¬ وهُوَ أَحدُ رُوَاتِهِ ¬ : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَال : يقُولُ : أَسْتَغْفِرُ اللَّه ، أَسْتَغْفِرُ اللَّه . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Syu'bah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ ketika selesai salat, beliau memohon ampun kepada Allah tiga kali, kemudian membaca: "Allahumma antas-salaam, wa minkas-salaam, tabaarakta yaa dzal-jalaali wal-ikraam" (Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan, dan dari-Mu datang keselamatan. Maha Berkah Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan). Beliau ditanya, "Bagaimana cara beristighfar?" Beliau menjawab, "Ucapkan: 'Astaghfirullah, astaghfirullah' (Aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada Allah)." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua adab penting setelah salam menutup salat. Pertama, membaca istighfar (astaghfirullah) tiga kali sebagai bentuk pengakuan bahwa mungkin ada kekurangan dalam salat yang baru dilakukan. Kedua, memuji Allah dengan doa yang menegaskan bahwa Dialah sumber keselamatan dan keagungan. Dengan demikian, ibadah ditutup dengan permohonan ampun dan pengagungan kepada Allah SWT.

# 16
وعَنْ عَائِشَةَ رَضي اللَّه عنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْل موْتِهِ : « سُبْحانَ اللَّهِ وبحمْدِهِ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّه وأَتُوبُ إِلَيْهِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ banyak membaca sebelum beliau wafat: "Subhanallah wa bihamdih, astaghfirullah wa atuubu ilaih" (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Di akhir hayatnya, Nabi ﷺ memperbanyak dzikir, tasbih, dan istighfar. Ini mengajarkan bahwa mengingat Allah dan memohon ampun adalah bekal terbaik menghadapi kematian.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa bekal utama menghadapi kematian adalah memperbanyak dzikir dan taubat. Nabi ﷺ, di akhir hayatnya, memberikan teladan dengan mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, dan istighfar. Ini menunjukkan bahwa manusia, sebaik apapun keadaannya, tetap membutuhkan ampunan Allah. Hikmahnya, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dan menyadari bahwa hidup di dunia adalah untuk persiapan akhirat.

# 17
وَعَنْ أَنسٍ رضِي اللَّه عنْهُ قالَ : سمِعْتُ رسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « قالَ اللَّه تَعَالى : يا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ ما دَعَوْتَني ورجوْتَني غفرتُ لَكَ على ما كَانَ منْكَ وَلا أُبَالِي ، يا ابْنَ آدم لَوْ بلَغَتْ ذُنُوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثُم اسْتَغْفَرْتَني غَفرْتُ لَكَ وَلا أُبالي ، يا ابْنَ آدم إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَني بِقُرابٍ الأَرْضِ خطايَا ، ثُمَّ لَقِيتَني لا تُشْرِكُ بي شَيْئاً ، لأَتَيْتُكَ بِقُرابِها مَغْفِرَةً » رواه الترمذي وقَالَ : حَدِيثٌ حَسَنٌ . « عنان السَّمَاءِ » بِفَتْحِ العيْنِ : قِيل : هُو السَّحَابُ ، وقِيل : هُوَ مَا عنَّ لَكَ مِنْها ، أَيْ: ظَهَرَ ، و « قُرَابُ الأَرْضِ » بِضَمِّ القافِ ، ورُويَ بِكَسْرِهَا ، والضَّمُّ أَشْهَرُ ، وهُو ما يُقَاربُ مِلْئَهَا .
Terjemahan
Dan dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah Ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuhnya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan)
Penjelasan: Hadits Qudsi ini menggambarkan betapa luas dan tak terbatasnya ampunan Allah bagi hamba-Nya yang bertaubat dengan ikhlas, selama ia tidak mati dalam keadaan syirik. Allah tidak "berhitung" dengan dosa hamba jika dibandingkan dengan kemurahan ampunan-Nya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat dan ampunan Allah Ta'ala. Intinya adalah bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi hamba selama ia berdoa, berharap, dan memohon ampun dengan ikhlas tanpa menyekutukan-Nya. Betapapun besar dosa manusia, ia tidak akan mengalahkan kemurahan pengampunan Allah bagi yang bersungguh-sungguh kembali.

# 18
وَعنِ ابنِ عُمَرَ رضِي اللَّه عنْهُما أَنَّ النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « يا معْشَرَ النِّساءِ تَصَدَّقْنَ، وأَكْثِرْنَ مِنَ الاسْتِغْفَارِ ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ » قالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ : مالَنَا أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ؟ قَالَ : « تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وتَكْفُرْنَ العشِيرَ مَا رأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عقْلٍ ودِينٍ أَغْلبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ » قَالَتْ : ما نُقْصانُ الْعقْل والدِّينِ ؟ قال : « شَهَادَةُ امرأَتَيْنِ بِشهَادةِ رجُلٍ ، وتَمْكُثُ الأَيَّامَ لا تُصَلِّي » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Wahai para wanita! Bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun) kepada Allah, karena aku melihat kalian adalah mayoritas penghuni neraka." Seorang wanita di antara mereka bertanya: "Mengapa kami, kaum wanita, menjadi mayoritas penghuni neraka?" Beliau menjawab: "Karena kalian banyak mengutuk (melaknat) dan banyak mengingkari kebaikan suami. Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih bisa menghilangkan akal laki-laki yang berakal selain kalian." Wanita itu bertanya lagi: "Apa yang dimaksud dengan kurang akal dan agama?" Beliau menjawab: "Kurang akal adalah karena kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Kurang agama adalah karena terkadang (pada hari-hari tertentu) kalian tidak salat (karena haid)..." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini bukan merendahkan wanita, tetapi menjelaskan beberapa aspek fithrah dan hukum syar'i yang berbeda. Poin utamanya adalah perintah untuk memperbanyak sedekah dan istighfar sebagai penyeimbang dan perlindungan dari potensi kelemahan yang disebutkan. Istighfar adalah solusi universal bagi semua manusia.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung peringatan dan solusi. Intinya, Rasulullah ﷺ mengingatkan kaum wanita untuk memperbanyak sedekah dan istighfar sebagai perlindungan dari ancaman menjadi mayoritas penghuni neraka. Penyebab ancaman itu adalah dua sifat negatif: banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami (kufur al-'asyir). Penjelasan tentang "kurang akal dan agama" yang disebutkan selanjutnya, seperti kesaksian dua wanita setara satu laki-laki dan haid, adalah ketetapan syar'i yang tidak mengurangi nilai takwa.