Kitab 1 · Bab 40
Berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturahmi
✦ 30 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ واعبدوا اللَّه ولا تشركوا به شيئاً، وبالوالدين إحساناً، وبذي القربى، واليتامى، والمساكين، والجار ذي القربى، والجار الجنب، والصاحب بالجنب، وابن السبيل، وما ملكت أيمانكم ﴾ .سورة النساء(36)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan), dan hamba sahaya yang kamu miliki." (QS. An-Nisa': 36)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip utama tauhid sebagai fondasi ibadah, yang langsung diikuti dengan perintah berbuat baik kepada manusia. Ini menunjukkan bahwa keimanan yang benar harus terwujud dalam akhlak sosial. Perintah berbuat baik dirinci secara hierarkis, mulai dari orang terdekat (orang tua, kerabat) hingga lingkaran yang lebih luas, mengajarkan tanggung jawab sosial yang komprehensif dalam Islam.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip utama tauhid sebagai fondasi ibadah, yang langsung diikuti dengan perintah berbuat baik kepada manusia. Ini menunjukkan bahwa keimanan yang benar harus terwujud dalam akhlak sosial. Perintah berbuat baik dirinci secara hierarkis, mulai dari orang terdekat (orang tua, kerabat) hingga lingkaran yang lebih luas, mengajarkan tanggung jawab sosial yang komprehensif dalam Islam.
# 2
وقال تعالى: ﴿ واتقوا اللَّه الذي تساءلون به، والأرحام ﴾ .سورة النساء(1)
Terjemahan
Allah berfirman: "Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi)." (QS. An-Nisa': 1)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan dua kewajiban utama. Pertama, bertakwa kepada Allah dengan menjaga hak-Nya, termasuk menggunakan nama-Nya hanya dalam kebaikan. Kedua, memelihara silaturahmi sebagai hak sesama manusia. Keduanya digabungkan untuk menunjukkan bahwa kesalehan spiritual harus dibuktikan dengan kesalehan sosial, dan pengabaian terhadap keluarga termasuk dosa besar di sisi Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan dua kewajiban utama. Pertama, bertakwa kepada Allah dengan menjaga hak-Nya, termasuk menggunakan nama-Nya hanya dalam kebaikan. Kedua, memelihara silaturahmi sebagai hak sesama manusia. Keduanya digabungkan untuk menunjukkan bahwa kesalehan spiritual harus dibuktikan dengan kesalehan sosial, dan pengabaian terhadap keluarga termasuk dosa besar di sisi Allah.
# 3
وقال تعالى: ﴿ والذين يصلون ما أمر به أن يوصل ﴾ الآية.سورة الرعد(21)
Terjemahan
Allah berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan." (QS. Ar-Ra'd: 21)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan sifat mulia orang beriman, yaitu komitmen untuk menjaga dan menghubungkan segala sesuatu yang diperintahkan Allah. Perintah ini mencakup menyambung tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan kerabat, serta memelihara hak-hak Allah dan sesama manusia. Intinya, keimanan harus diwujudkan dengan menjaga kesatuan dan keharmonisan dalam seluruh aspek kehidupan, baik spiritual maupun sosial.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan sifat mulia orang beriman, yaitu komitmen untuk menjaga dan menghubungkan segala sesuatu yang diperintahkan Allah. Perintah ini mencakup menyambung tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan kerabat, serta memelihara hak-hak Allah dan sesama manusia. Intinya, keimanan harus diwujudkan dengan menjaga kesatuan dan keharmonisan dalam seluruh aspek kehidupan, baik spiritual maupun sosial.
# 4
وقال تعالى: ﴿ ووصينا الإنسان بوالديه حسناً ﴾ .سورة العنكبود(8)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (Al-'Ankabut: 8)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan perintah langsung dari Allah untuk berbuat baik (ihsan) kepada kedua orang tua. Perintah ini bersifat mutlak dan terus-menerus, berlaku dalam segala kondisi. Ihsan mencakup ketaatan, berkata lemah lembut, memberikan nafkah, dan berdoa untuk mereka. Kewajiban ini menempati kedudukan sangat tinggi setelah kewajiban beribadah kepada Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan perintah langsung dari Allah untuk berbuat baik (ihsan) kepada kedua orang tua. Perintah ini bersifat mutlak dan terus-menerus, berlaku dalam segala kondisi. Ihsan mencakup ketaatan, berkata lemah lembut, memberikan nafkah, dan berdoa untuk mereka. Kewajiban ini menempati kedudukan sangat tinggi setelah kewajiban beribadah kepada Allah.
# 5
وقال تعالى: ﴿ وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه، وبالوالدين إحساناً، إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف، ولا تنهرهما، وقل لهما قولاً كريماً، واخفض لهما جناح الذل من الرحمة، وقل رب ارحمهما كما ربياني صغيراً ﴾ .
سورة الإسراء(23-24)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan 'ah' kepada keduanya dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil'." (Al-Isra': 23-24)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan dua kewajiban utama: mengesakan Allah (tauhid) dan berbakti kepada orang tua. Birrul walidain ditempatkan langsung setelah ibadah kepada Allah, menunjukkan kedudukannya yang sangat agung. Perintah bakti dijelaskan secara praktis, terutama saat orang tua renta, dengan larangan mengucapkan "ah", membentak, serta perintah berkata lemah lembut, merendahkan diri penuh kasih, dan mendoakan mereka. Hikmahnya, berbakti adalah ibadah sosial yang nyata dan bentuk syukur atas pengasuhan mereka.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan dua kewajiban utama: mengesakan Allah (tauhid) dan berbakti kepada orang tua. Birrul walidain ditempatkan langsung setelah ibadah kepada Allah, menunjukkan kedudukannya yang sangat agung. Perintah bakti dijelaskan secara praktis, terutama saat orang tua renta, dengan larangan mengucapkan "ah", membentak, serta perintah berkata lemah lembut, merendahkan diri penuh kasih, dan mendoakan mereka. Hikmahnya, berbakti adalah ibadah sosial yang nyata dan bentuk syukur atas pengasuhan mereka.
# 6
وقال تعالى: ﴿ ووصينا الإنسان بوالديه؛ حملته أمه وهناً على وهن، وفصاله في عامين، أن اشكر لي ولوالديك ﴾ .سورة لقمان(14)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu." (Luqman: 14)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan perintah berbuat baik (birrul walidain) yang diawali dengan kisah pengorbanan ibu, mengandung dan menyusui dalam kelemahan. Perintah bersyukur kepada Allah digandengkan dengan bersyukur kepada orang tua, menunjukkan betapa tingginya hak mereka. Hikmahnya, bakti kepada orang tua, terutama ibu, adalah bentuk ketaatan yang utama dan realisasi dari syukur kepada Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan perintah berbuat baik (birrul walidain) yang diawali dengan kisah pengorbanan ibu, mengandung dan menyusui dalam kelemahan. Perintah bersyukur kepada Allah digandengkan dengan bersyukur kepada orang tua, menunjukkan betapa tingginya hak mereka. Hikmahnya, bakti kepada orang tua, terutama ibu, adalah bentuk ketaatan yang utama dan realisasi dari syukur kepada Allah.
# 7
عن أبي عبد الرحمن عبد اللَّه بن مسعود رضي اللَّه عنه قال : سأَلتُ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: أَيُّ الْعملِ أَحبُّ إلى اللَّهِ تَعالى ؟ قال : « الصَّلاةُ على وقْتِهَا » قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قال: «بِرُّ الْوَالِديْنِ » قلتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قال : «الجِهَادُ في سبِيِل اللَّهِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ: "Amal apakah yang paling dicintai Allah?" Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prioritas amal saleh yang paling dicintai Allah. Intinya, ibadah ritual yang tepat waktu (shalat) adalah fondasi utama, diikuti oleh bakti kepada orang tua sebagai bentuk ibadah sosial, lalu jihad sebagai puncak pengorbanan. Urutan ini menegaskan keseimbangan antara hak Allah, hak manusia (terutama orang tua), dan kepentingan agama secara kolektif.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prioritas amal saleh yang paling dicintai Allah. Intinya, ibadah ritual yang tepat waktu (shalat) adalah fondasi utama, diikuti oleh bakti kepada orang tua sebagai bentuk ibadah sosial, lalu jihad sebagai puncak pengorbanan. Urutan ini menegaskan keseimbangan antara hak Allah, hak manusia (terutama orang tua), dan kepentingan agama secara kolektif.
# 8
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يَجْزِي ولَدٌ والِداً إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مملُوكاً ، فَيَشْتَرِيَهُ ، فَيَعْتِقَهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang anak tidak akan dapat membalas (kebaikan) orang tuanya, kecuali jika dia mendapatinya sebagai budak, lalu dia membelinya dan memerdekakannya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa besarnya jasa dan hak orang tua sehingga kebaikan anak sepanjang hidupnya pun tidak akan mampu membalasnya. Satu-satunya bentuk balasan yang setara, secara simbolis, adalah jika anak memerdekakan orang tuanya dari perbudakan. Ini adalah metafora untuk mendorong anak berbuat kebajikan setinggi-tingginya kepada orang tua, serta mengingatkan bahwa bakti kita tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa besarnya jasa dan hak orang tua sehingga kebaikan anak sepanjang hidupnya pun tidak akan mampu membalasnya. Satu-satunya bentuk balasan yang setara, secara simbolis, adalah jika anak memerdekakan orang tuanya dari perbudakan. Ini adalah metafora untuk mendorong anak berbuat kebajikan setinggi-tingginya kepada orang tua, serta mengingatkan bahwa bakti kita tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan mereka.
# 9
وعنه أيضاً رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوْمِ الآخِرِ ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوم الآخِر ، فَلْيصلْ رَحِمَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّه وَالْيوْمِ الآخِرِ ، فلْيقُلْ خيراً أَوْ لِيَصمُتْ » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dan darinya (Abu Hurairah) juga radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia menyambung tali silaturahmi. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengaitkan kesempurnaan iman dengan akhlak praktis dalam bermasyarakat. Iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi harus terwujud dalam tiga bentuk: memuliakan tamu sebagai bentuk kemurahan hati, menyambung silaturahmi untuk memperkuat ikatan sosial, serta menjaga lisan dengan hanya berkata baik atau diam. Dengan demikian, keimanan kepada Allah dan Hari Akhir menjadi motivasi utama untuk berperilaku mulia dan bertanggung jawab.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengaitkan kesempurnaan iman dengan akhlak praktis dalam bermasyarakat. Iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi harus terwujud dalam tiga bentuk: memuliakan tamu sebagai bentuk kemurahan hati, menyambung silaturahmi untuk memperkuat ikatan sosial, serta menjaga lisan dengan hanya berkata baik atau diam. Dengan demikian, keimanan kepada Allah dan Hari Akhir menjadi motivasi utama untuk berperilaku mulia dan bertanggung jawab.
# 10
وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّ اللَّه تَعَالى خَلَقَ الخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ ، فَقَالَتْ : هذا مُقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعةِ ، قال : نَعَمْ أَمَا تَرْضينَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ ؟ قالت : بَلَى ، قال فذلِكَ ، ثم قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : اقرءوا إِنْ شِئتُمْ : { فهَلِ عَسَيْتمْ إِن تَولَّيتُم أَنْ تُفسِدُوا في الأَرْضِ وتُقطِّعُوا أَرْحامكُمْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أُولَئِكَ الذين لَعنَهُم اللَّهُ فأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ } [ محمد : 22 ، 23 ] متفقٌ عليه.
وفي رواية للبخاري : فقال اللَّه تعالى : « منْ وَصلَكِ ، وَصلْتُهُ ، ومنْ قَطَعكِ قطعتُهُ »
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah menciptakan semua makhluk. Ketika telah selesai menciptakan mereka, tali rahim (silaturahmi) berdiri dan berkata: 'Ini adalah tempat bagi orang yang memohon perlindungan kepada-Mu dari pemutusan hubungan.' Allah berfirman: 'Ya. Apakah engkau tidak rela jika Aku menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu dan memutus hubungan dengan orang yang memutusmu?' Tali rahim menjawab: 'Tentu saja rela.' Allah berfirman: 'Maka itu adalah untukmu.'" Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian mau, bacalah firman Allah: 'Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan tali kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dibuat tuli serta dibutakan penglihatan mereka.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam satu riwayat Al-Bukhari: Allah berfirman: "Barangsiapa yang menyambungmu, Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa yang memutusmu, Aku akan memutusnya."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan agung silaturahmi dalam Islam. Allah SWT menjamin balasan setimpal: siapa yang menyambung tali silaturahmi akan disambung oleh rahmat-Nya, dan siapa yang memutuskannya akan dijauhkan dari kebaikan-Nya. Dengan demikian, memelihara hubungan kekeluargaan adalah ibadah yang langsung dijamin oleh Allah.
Dalam satu riwayat Al-Bukhari: Allah berfirman: "Barangsiapa yang menyambungmu, Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa yang memutusmu, Aku akan memutusnya."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan agung silaturahmi dalam Islam. Allah SWT menjamin balasan setimpal: siapa yang menyambung tali silaturahmi akan disambung oleh rahmat-Nya, dan siapa yang memutuskannya akan dijauhkan dari kebaikan-Nya. Dengan demikian, memelihara hubungan kekeluargaan adalah ibadah yang langsung dijamin oleh Allah.
# 11
وعنه رضي اللَّه عنه قال : جَاءَ رَجُلٌ إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يا رسول اللَّه مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بحُسنِ صَحَابَتي ؟ قال : « أُمُّك » قال : ثُمَّ منْ ؟ قال: « أُمُّكَ » قال : ثُمَّ مَنْ ؟ قال : « أُمُّكَ » قال : ثُمَّ مَنْ ؟ قال : « أَبُوكَ » متفقٌ عليه .
وفي رواية : يا رسول اللَّه مَنْ أَحَقُّ الناس بِحُسْن الصُّحْبةِ ؟ قال : « أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ، ثُمَّ أُمُّكَ ، ثمَّ أَباكَ ، ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ » .
« والصَّحابة » بمعنى : الصُّحبةِ . وقوله : « ثُمَّ أباك » هَكَذا هو منصوب بفعلٍ محذوفٍ، أي ثم برَّ أَباك وفي رواية : « ثُمَّ أَبُوكَ » وهذا واضِح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya: "Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbuat baik paling utama?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ayahmu."
Dalam riwayat lain: "Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku harus berbuat baik paling utama?" Beliau menjawab: "Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian kerabat terdekatmu."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kedudukan ibu yang sangat agung, diulang tiga kali untuk menunjukkan haknya yang paling utama untuk diperlakukan dengan baik (birrul walidain). Setelah itu, barulah hak ayah disebutkan. Intinya, hadis ini mengajarkan prioritas dalam berbakti: ibu mendapat porsi bakti terbesar, kemudian ayah, dan kemudian kerabat terdekat berikutnya.
Dalam riwayat lain: "Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku harus berbuat baik paling utama?" Beliau menjawab: "Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian kerabat terdekatmu."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kedudukan ibu yang sangat agung, diulang tiga kali untuk menunjukkan haknya yang paling utama untuk diperlakukan dengan baik (birrul walidain). Setelah itu, barulah hak ayah disebutkan. Intinya, hadis ini mengajarkan prioritas dalam berbakti: ibu mendapat porsi bakti terbesar, kemudian ayah, dan kemudian kerabat terdekat berikutnya.
# 12
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « رغِم أَنْفُ ، ثُم رغِم أَنْفُ ، ثُمَّ رَغِم أَنف مَنْ أَدرْكَ أَبَويْهِ عِنْدَ الْكِبرِ ، أَحدُهُمَا أَوْ كِلاهُما ، فَلمْ يدْخلِ الجَنَّةَ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Celaka, kemudian celaka, kemudian celaka orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya berusia lanjut, namun (dengan perbuatannya) dia tidak dapat memasuki surga." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa mulia dan wajibnya berbakti kepada orang tua, terutama saat mereka telah lanjut usia. Ancaman keras berupa "celaka" dan terhalang dari surga menunjukkan bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Hikmahnya, merawat dan memuliakan orang tua di masa tuanya adalah jalan utama untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa mulia dan wajibnya berbakti kepada orang tua, terutama saat mereka telah lanjut usia. Ancaman keras berupa "celaka" dan terhalang dari surga menunjukkan bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Hikmahnya, merawat dan memuliakan orang tua di masa tuanya adalah jalan utama untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya.
# 13
وعنه رضي اللَّه عنه أَن رجلاً قال : يا رسول اللَّه إِنَّ لي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني ، وَأُحسِنُ إِلَيْهِمِ وَيُسيئُونَ إِليَّ ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيجْهلُونَ علَيَّ ، فقال : « لَئِنْ كُنْت كما قُلْتَ ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ ، ولا يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظهِيرٌ عَلَيْهِمْ ما دمْتَ عَلَى ذَلكَ » رواه مسلم .
« وتسِفُّهُمْ » بضم التاءِ وكسرِ السين المهملةِ وتشديد الفاءِ . « والمَلُّ » بفتحِ الميم ، وتشديد اللام وهو الرَّماد الحارُّ : أَيْ كأَنَّمَا تُطْعِمُهُمْ الرَّماد الحارَّ وهُو تَشبِيهٌ لِما يلْحَقُهمْ مِنَ الإِثم بِما يَلْحقُ آكِلَ الرَّمادِ مِنَ الإِثمِ ، ولا شئَ على المُحْسِنِ إِلَيْهِمْ ، لَكِنْ يَنَالهُمْ إِثْمٌ عَظَيمٌ بَتَقْصيِرهِم في حَقِه ، وإِدخَالِهِمُ الأَذَى عَلَيْهِ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yang aku sambung hubungan dengan mereka tetapi mereka memutuskanku, aku berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat buruk kepadaku, aku bersikap sabar terhadap mereka tetapi mereka bersikap bodoh kepadaku." Maka beliau bersabda: "Jika benar seperti yang kamu katakan, maka seolah-olah kamu memberi mereka makan abu panas. Dan selama kamu tetap seperti itu, akan selalu ada penolong dari Allah untukmu terhadap mereka." (Diriwayatkan oleh Muslim)
"Memberi mereka makan abu panas" adalah perumpamaan bagi dosa yang akan menimpa mereka, seperti bahaya yang menimpa pemakan abu panas. Tidak ada dosa bagi orang yang berbuat baik, tetapi mereka akan mendapat dosa besar karena mengabaikan haknya dan menyakitinya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk tetap berbuat baik dan bersabar kepada kerabat yang zalim, meskipun perbuatan itu terasa seperti "memberi makan abu panas" bagi pelakunya. Keteguhan dalam berakhlak mulia itu sendiri sudah merupakan balasan, karena Allah akan selalu menjadi penolong selama kita konsisten pada kebaikan. Hikmahnya, nilai amal kita terletak pada ketulusan dan kesabaran, bukan pada respon orang lain.
"Memberi mereka makan abu panas" adalah perumpamaan bagi dosa yang akan menimpa mereka, seperti bahaya yang menimpa pemakan abu panas. Tidak ada dosa bagi orang yang berbuat baik, tetapi mereka akan mendapat dosa besar karena mengabaikan haknya dan menyakitinya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk tetap berbuat baik dan bersabar kepada kerabat yang zalim, meskipun perbuatan itu terasa seperti "memberi makan abu panas" bagi pelakunya. Keteguhan dalam berakhlak mulia itu sendiri sudah merupakan balasan, karena Allah akan selalu menjadi penolong selama kita konsisten pada kebaikan. Hikmahnya, nilai amal kita terletak pada ketulusan dan kesabaran, bukan pada respon orang lain.
# 14
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ أَحبَّ أَنْ يُبْسَطَ له في رِزقِهِ ، ويُنْسأَ لَهُ في أَثرِهِ ، فَلْيصِلْ رحِمهُ » متفقٌ عليه .
ومعْنى « ينسأَ لَهُ في أَثَرِه » : أَيْ : يؤخر له في أَجلهِ وعُمُرِهِ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturahmi." (Muttafaqun 'alaih)
Makna "dipanjangkan umurnya" adalah ditunda ajalnya atau diberkahi umurnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari silaturahmi. Allah menjanjikan dua balasan utama bagi yang menjaganya: kelapangan rezeki dan umur yang panjang atau penuh berkah. Janji ini menunjukkan bahwa kebaikan sosial seperti menyambung tali kekerabatan memiliki dampak langsung pada kehidupan duniawi dan ukhrawi seseorang. Dengan demikian, silaturahmi bukan sekadar tradisi, tetapi perintah agama yang sarat dengan manfaat.
Makna "dipanjangkan umurnya" adalah ditunda ajalnya atau diberkahi umurnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari silaturahmi. Allah menjanjikan dua balasan utama bagi yang menjaganya: kelapangan rezeki dan umur yang panjang atau penuh berkah. Janji ini menunjukkan bahwa kebaikan sosial seperti menyambung tali kekerabatan memiliki dampak langsung pada kehidupan duniawi dan ukhrawi seseorang. Dengan demikian, silaturahmi bukan sekadar tradisi, tetapi perintah agama yang sarat dengan manfaat.
# 15
وعنه قال : كان أَبُو طَلْحَة أَكْثَر الأَنصار بِالمَدينَةِ مَالاً مِنْ نَخْلٍ ، وكان أَحبُّ ّأَمْوَالِهِ بِيرْحَاءَ ، وكَانتْ مُسْتقْبِلَة المَسْجِدِ ، وكَان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يدْخُلُهَا، وَيَشْرَب مِنْ ماءٍ فيها طَيِّبٍ ، فَلمَّا نَزَلتْ هذِهِ الآيةُ : { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } [ آل عمران: 92 ] قام أَبُو طَلْحة إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يا رسولَ اللَّه إِنَّ اللَّه تَبَارَك وتعالى يقول : { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحب مالى إِليَّ بِيَرْحَاءَ ، وإِنَّهَا صَدقَةٌ للَّهِ تعالى، أَرجُو بِرَّهَا وذُخْرهَا عِنْد اللَّه تعالى ، فَضَعْهَا يا رسول اللَّه حيثُ أَراكَ اللَّه. فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « بَخٍ ، ذلِكَ مالٌ رابحٌ ، ذلِكَ مالٌ رابحٌ ، وقَدْ سَمِعْتُ ما قُلتَ ، وإِنَّي أَرى أَنْ تَجْعَلَهَا في الأَقْربِين » فقال أَبُو طَلْحة : أَفعلُ يا رسول اللَّه ، فَقَسَمهَا أَبُو طَلْحة في أَقارِبِهِ وبني عمِّهِ . متفقٌ عليه .
وَسبق بَيَانُ أَلْفَاظِهِ في بابِ الإِنْفَاقِ مِمَّا يُحِب.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Abu Thalhah adalah seorang Anshar yang memiliki kebun kurma terbanyak, dan harta yang paling dia cintai adalah kebun kurma yang berada di depan masjid. Rasulullah ﷺ pernah masuk ke kebun itu dan minum dari air yang ada di dalamnya. Anas berkata: Ketika turun ayat: "Kamu tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai," Abu Thalhah mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, Allah berfirman dalam Kitab-Nya: 'Kamu tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.' Dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma ini. Sekarang ini ia menjadi sedekah karena Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanannya dari Allah. Maka wahai Rasulullah, aturlah sesuai petunjuk Allah." Rasulullah ﷺ bersabda: "Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan, dan aku berpendapat agar kamu membagikannya kepada kerabatmu." Abu Thalhah berkata: "Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah." Abu Thalhah pun membagikannya kepada kerabat dan sepupu-sepupunya. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa keimanan yang sejati diwujudkan dengan mengorbankan harta yang paling dicintai di jalan Allah. Sikap Abu Thalhah yang segera mewakafkan kebun kesayangannya setelah turunnya ayat menjadi teladan dalam ketanggapan dan kedermawanan. Pelajaran utamanya adalah bahwa infak terbaik dan paling bermakna adalah memberikan sesuatu yang masih kita sayangi, bukan sisa harta yang tidak kita sukai.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa keimanan yang sejati diwujudkan dengan mengorbankan harta yang paling dicintai di jalan Allah. Sikap Abu Thalhah yang segera mewakafkan kebun kesayangannya setelah turunnya ayat menjadi teladan dalam ketanggapan dan kedermawanan. Pelajaran utamanya adalah bahwa infak terbaik dan paling bermakna adalah memberikan sesuatu yang masih kita sayangi, bukan sisa harta yang tidak kita sukai.
# 16
وعن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص رضي اللَّه عنهما قال: أَقْبلَ رجُلٌ إِلى نَبِيِّ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فقال: أُبايِعُكَ على الهِجرةِ وَالجِهَادِ أَبتَغِي الأَجرَ مِنَ اللَّه تعالى . قال: « فهَلْ مِنْ والدِيْكَ أَحدٌ حَيٌّ ؟ » قال : نعمْ بل كِلاهُما قال : « فَتَبْتَغِي الأَجْرَ مِنَ اللَّه تعالى؟» قال : نعمْ . قال : « فَارْجعْ إِلى والدِيْكَ ، فَأَحْسِنْ صُحْبتَهُما . متفقٌ عليه .
وهذا لَفْظُ مسلمٍ .
وفي روايةٍ لهُما : جاءَ رجلٌ فاسْتَأْذَنُه في الجِهَادِ فقال:« أَحيٌّ والِداكَ ؟ قال: نَعَمْ ، قال:« ففِيهِما فَجاهِدْ» .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Aku berbaiat untuk berhijrah dan berjihad demi mengharap pahala dari Allah." Beliau bertanya: "Apakah salah satu atau kedua orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab: "Ya, keduanya masih hidup." Beliau bersabda: "Apakah kamu ingin mencari pahala dari Allah?" Dia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan berbuat baiklah kepada mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafazh dalam riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain dari keduanya: Seorang laki-laki datang meminta izin untuk berjihad di jalan Allah. Beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Dia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Maka berjihadlah (dengan cara) berbuat baik kepada keduanya."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) adalah ibadah yang sangat agung, bahkan lebih diutamakan daripada jihad di medan perang dalam kondisi tertentu. Prioritas ini diberikan ketika orang tua masih hidup dan membutuhkan perhatian serta pengabdian dari anaknya. Dengan demikian, pengabdian dan pelayanan yang tulus kepada orang tua memiliki nilai pahala yang setara dengan jihad fisabilillah.
Dalam riwayat lain dari keduanya: Seorang laki-laki datang meminta izin untuk berjihad di jalan Allah. Beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Dia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Maka berjihadlah (dengan cara) berbuat baik kepada keduanya."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) adalah ibadah yang sangat agung, bahkan lebih diutamakan daripada jihad di medan perang dalam kondisi tertentu. Prioritas ini diberikan ketika orang tua masih hidup dan membutuhkan perhatian serta pengabdian dari anaknya. Dengan demikian, pengabdian dan pelayanan yang tulus kepada orang tua memiliki nilai pahala yang setara dengan jihad fisabilillah.
# 17
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : لَيْسَ الْواصِلُ بِالمُكافئ وَلكِنَّ الواصِلَ الَّذي إِذا قَطَعتْ رَحِمُهُ وصلَهَا» رواه البخاري .
و « قَطعتْ » بِفَتْح القافِ وَالطَّاءِ . وَ « رَحِمُهُ » مَرْفُوعٌ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah penyambung silaturahmi sejati orang yang menyambung hubungan hanya jika disambung. Akan tetapi, penyambung silaturahmi sejati adalah orang yang ketika hubungan kerabatnya diputus, dia justru menyambungnya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa hakikat silaturahmi yang sesungguhnya bukanlah membalas kebaikan, tetapi berbuat baik kepada kerabat yang justru memutuskan hubungan. Hikmahnya adalah keutamaan ada pada pihak yang memulai kebaikan dan mengalahkan ego untuk merajut kembali ikatan yang rusak. Dengan demikian, seorang muslim diajarkan untuk memiliki akhlak yang aktif dalam berbuat baik, sekalipun mendapat perlakuan buruk.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa hakikat silaturahmi yang sesungguhnya bukanlah membalas kebaikan, tetapi berbuat baik kepada kerabat yang justru memutuskan hubungan. Hikmahnya adalah keutamaan ada pada pihak yang memulai kebaikan dan mengalahkan ego untuk merajut kembali ikatan yang rusak. Dengan demikian, seorang muslim diajarkan untuk memiliki akhlak yang aktif dalam berbuat baik, sekalipun mendapat perlakuan buruk.
# 18
وعن عائشة قالت : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الرَّحمُ مَعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَقُولُ : مَنْ وصلني وَصَلَهُ اللَّه ، وَمَن قَطَعَني ، قَطَعَهُ اللَّه » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tali silaturahmi digantungkan di 'Arsy (singgasana Allah). Ia berkata: 'Barangsiapa yang menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan barangsiapa yang memutusku, Allah akan memutusnya'." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan agung dan kedudukan tinggi silaturahmi dalam Islam. Allah menjadikan ikatan rahim sebagai sesuatu yang sangat mulia, bahkan terhubung langsung dengan 'Arsy-Nya. Intinya, balasan bagi manusia akan setara dengan perbuatannya terhadap kerabat; menyambung silaturahmi mendatangkan rahmat dan penyambungan dari Allah, sementara memutuskannya mengakibatkan terputusnya kebaikan dan rahmat dari-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan agung dan kedudukan tinggi silaturahmi dalam Islam. Allah menjadikan ikatan rahim sebagai sesuatu yang sangat mulia, bahkan terhubung langsung dengan 'Arsy-Nya. Intinya, balasan bagi manusia akan setara dengan perbuatannya terhadap kerabat; menyambung silaturahmi mendatangkan rahmat dan penyambungan dari Allah, sementara memutuskannya mengakibatkan terputusnya kebaikan dan rahmat dari-Nya.
# 19
وعن أُمِّ المُؤْمِنِينَ ميمُونَةَ بنْتِ الحارِثِ رضي اللَّه عنها أَنَّهَا أَعتَقَتْ وليدةً وَلَم تَستَأْذِنِ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فلَمَّا كانَ يومَها الَّذي يدورُ عَلَيْهَا فِيه ، قالت: يا رسول اللَّه إِنِّي أَعْتَقْتُ ولِيدتي ؟ قال : « أَوَ فَعلْتِ ؟ » قالت : نَعمْ قال : « أَما إِنَّكِ لو أَعْطَيتِهَا أَخوالَكِ كان أَعظَمَ لأجرِكِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu 'anha, dia berkata: Dia memerdekakan seorang budak perempuan tanpa izin Rasulullah ﷺ. Ketika tiba hari giliran Rasulullah ﷺ berada di rumahnya, dia memberitahu beliau: "Wahai Rasulullah, aku memberitahumu bahwa aku telah memerdekakan budak perempuanku." Beliau bertanya: "Apakah kamu sudah melakukannya?" Dia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Seandainya kamu memberikannya kepada paman-pamanmu (dari pihak ibu), pahalamu akan lebih besar." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan memerdekakan budak dan anjuran untuk memprioritaskan kerabat dalam berbuat baik. Meski Nabi ﷺ tidak mencela tindakan Maimunah, beliau mengarahkannya pada pilihan yang lebih utama, yaitu memberikan budak itu kepada kerabat dekatnya yang membutuhkan. Dengan demikian, satu amal saleh dapat menghasilkan dua pahala sekaligus: memerdekakan budak dan menyambung silaturahmi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan memerdekakan budak dan anjuran untuk memprioritaskan kerabat dalam berbuat baik. Meski Nabi ﷺ tidak mencela tindakan Maimunah, beliau mengarahkannya pada pilihan yang lebih utama, yaitu memberikan budak itu kepada kerabat dekatnya yang membutuhkan. Dengan demikian, satu amal saleh dapat menghasilkan dua pahala sekaligus: memerdekakan budak dan menyambung silaturahmi.
# 20
وعن أَسْمَاءَ بنْتِ أبي بكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي اللَّه عنهما قالت : قَدِمتْ عليَّ أُمِّي وهِي مُشركة في عهْدِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَاسْتَفتَيْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قلتُ : قَدِمتْ عَليَّ أُمِّى وَهِى راغبةٌ ، أَفأَصِلُ أُمِّي ؟ قال : « نَعمْ صِلي أُمَّكِ » متفق عليه .
وقولها : « راغِبةٌ » أَي : طَامِعةٌ عِندِي تَسْأَلُني شَيئاً ، قِيلَ : كَانَت أُمُّهَا مِنْ النَّسبِ، وقِيل: مِن الرَّضاعةِ والصحيحُ الأَول .
Terjemahan
Dari Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: "Ibuku datang menemuiku dalam keadaan masih musyrik pada masa Rasulullah ﷺ. Aku pun meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ, aku berkata: 'Ibuku datang menemuiku dan dia sangat berharap (pemberian). Bolehkah aku menyambung hubungan dengan ibuku?' Beliau bersabda: 'Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu'." (Muttafaqun 'alaih)
Ucapan Asma' "ragibah" (berharap) maksudnya adalah mengharap sesuatu dariku. Dikatakan bahwa ibunya adalah ibu kandung, ada juga yang mengatakan ibu susuan, dan yang benar adalah pendapat pertama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban berbuat baik (birrul walidain) kepada orang tua, meskipun mereka berbeda keyakinan. Perintah Rasulullah ﷺ kepada Asma' untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang masih musyrik menunjukkan bahwa hak menjaga silaturahmi dan berbuat baik secara duniawi tidak gugur karena perbedaan agama. Hikmahnya, keimanan seorang anak justru ditunjukkan dengan akhlak mulia dan kasih sayangnya.
Ucapan Asma' "ragibah" (berharap) maksudnya adalah mengharap sesuatu dariku. Dikatakan bahwa ibunya adalah ibu kandung, ada juga yang mengatakan ibu susuan, dan yang benar adalah pendapat pertama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban berbuat baik (birrul walidain) kepada orang tua, meskipun mereka berbeda keyakinan. Perintah Rasulullah ﷺ kepada Asma' untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang masih musyrik menunjukkan bahwa hak menjaga silaturahmi dan berbuat baik secara duniawi tidak gugur karena perbedaan agama. Hikmahnya, keimanan seorang anak justru ditunjukkan dengan akhlak mulia dan kasih sayangnya.
# 21
وعن زينب الثقفِيَّةِ امْرأَةِ عبدِ اللَّهِ بن مسعودٍ رضي اللَّه عنه وعنها قالت : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « تَصدَّقنَ يا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ولَو مِن حُلِيِّكُنَّ » قالت: فَرجعتُ إِلى عبدِ اللَّه ابنِ مسعودٍ فقلتُ له : إِنَّك رجُلٌ خَفِيفُ ذَات اليَدِ وإِنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قدْ أمرنا بالصدقةِ ، فأْتِه فاسأَلْهُ ، فإن كان ذلك يُجْزِئُ عنِّي وَإِلاَّ صَرَفُتَهَا إِلى غَيركُمْ . فقال عبدُ اللَّهِ : بَلِ ائتِيهِ أَنتِ ، فانطَلَقْتُ ، فَإِذا امْرأَةٌ مِن الأَنَصارِ بِبابِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حاجَتي حاجتُهَا ، وكان رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قد أُلقِيتْ علَيهِ المهابةُ . فَخَرج علينا بلالٌ ، فقُلنَا له : ائْتِ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَأَخْبِرْهُ أَنَّ امْرأَتَيْنِ بِالبَابَ تَسأَلانِكَ : أَتُجزِئُ الصَّدَقَةُ عنْهُمَا على أزواجِهِما وَعلى أَيتَامٍ في حُجُورِهِمَا ؟ وَلا تُخْبِرهُ منْ نَحنُ ، فَدَخل بِلالٌ علَى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَسأَلَهُ ، فقال لهُ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « من هما ؟ » قَالَ : امْرأَةٌ مِنَ الأَنصارِ وَزَيْنبُ . فقالَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم «أَيُّ الزَّيانِبِ هِي ؟ » قال : امرأَةُ عبدِ اللَّهِ ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « لَهُمَا أَجْرانِ : أَجْرُ القرابةِ وَأَجْرُ الصَّدقَةِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersedekahlah wahai para wanita, meskipun dari perhiasan kalian." Dia berkata: Aku pun kembali kepada Abdullah bin Mas'ud dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya engkau adalah seorang laki-laki yang sedikit hartanya, dan Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kami untuk bersedekah. Datangilah beliau dan tanyakanlah, jika sedekahku untuk kalian sudah mencukupi (pahalanya) bagiku, (aku akan berikan padamu). Jika tidak, akan aku berikan kepada selain kalian." Abdullah berkata: "Justru kamu sendiri yang datang menemuinya." Maka aku pun pergi. Ternyata ada seorang wanita Anshar di pintu Rasulullah ﷺ dengan keperluan yang sama denganku. Dan Rasulullah ﷺ memiliki kewibawaan yang sangat. Lalu Bilal keluar menemui kami. Kami berkata kepadanya: "Temuilah Rasulullah ﷺ dan beritahukanlah bahwa ada dua wanita di pintu yang bertanya kepadamu: 'Apakah sedekah mereka kepada suami-suami mereka dan anak-anak yatim yang dalam asuhan mereka dapat mencukupi (pahala) bagi mereka?' Dan jangan beritahu siapa kami." Bilal masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menanyakan hal itu. Rasulullah ﷺ bertanya: "Siapa mereka?" Bilal menjawab: "Seorang wanita Anshar dan Zainab." Rasulullah ﷺ bertanya: "Zainab yang mana?" Bilal menjawab: "Istri Abdullah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Mereka berdua mendapat dua pahala: pahala karena menyambung silaturahmi dan pahala sedekah." (Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan perintah bersedekah yang berlaku universal, termasuk bagi wanita, dengan memanfaatkan apa yang dimiliki, sekalipun berupa perhiasan. Kisah Zainab juga mengajarkan sikap proaktif dan kepekaan sosial dalam keluarga, di mana istri mendorong suami yang berkecukupan pas-pasan untuk tetap berbagi, serta kebijaksanaan dalam memastikan keabsahan dan keutamaan amal ibadah yang dilakukan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan perintah bersedekah yang berlaku universal, termasuk bagi wanita, dengan memanfaatkan apa yang dimiliki, sekalipun berupa perhiasan. Kisah Zainab juga mengajarkan sikap proaktif dan kepekaan sosial dalam keluarga, di mana istri mendorong suami yang berkecukupan pas-pasan untuk tetap berbagi, serta kebijaksanaan dalam memastikan keabsahan dan keutamaan amal ibadah yang dilakukan.
# 22
وعن أبي سُفْيان صخْر بنِ حربٍ رضي اللَّه عنه في حدِيثِهِ الطَّويل في قصَّةِ هِرقل أَنَّ هِرقْلَ قال لأَبي سفْيان : فَماذَا يأْمُرُكُمْ بِهِ ؟ يَعْني النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : قلت : يقولُ: « اعْبُدُوا اللَّهَ وَحدَهُ ، ولا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً ، واتْرُكُوا ما يقُولُ آباؤُكمْ ، ويأْمُرُنَا بالصَّلاةِ ، والصِّدْقِ ، والعفَافِ ، والصِّلَةِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Sufyan bin Harb, dalam hadits panjangnya tentang kisah Heraclius, bahwa Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan: "Apa yang diperintahkan (Nabi) kepada kalian?" Maksudnya adalah Nabi ﷺ. Aku menjawab: "Beliau bersabda: 'Sembahlah Allah semata, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian.' Beliau juga memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, bersikap jujur, menjaga diri dari yang haram, dan menyambung tali silaturahmi." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan inti dakwah Nabi Muhammad ﷺ, yaitu mengajak manusia kembali kepada tauhid yang murni dengan meninggalkan syirik dan tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Allah. Perintah selanjutnya—seperti shalat, jujur, menjaga kehormatan, dan silaturahmi—merupakan implementasi praktis dari tauhid tersebut, yang membentuk pribadi muslim yang bertakwa dan bermasyarakat dengan baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan inti dakwah Nabi Muhammad ﷺ, yaitu mengajak manusia kembali kepada tauhid yang murni dengan meninggalkan syirik dan tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Allah. Perintah selanjutnya—seperti shalat, jujur, menjaga kehormatan, dan silaturahmi—merupakan implementasi praktis dari tauhid tersebut, yang membentuk pribadi muslim yang bertakwa dan bermasyarakat dengan baik.
# 23
وعن أبي ذر رضي اللَّه عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «إِنَّكُم ستفْتَحُونَ أَرْضاً يُذْكَرُ فِيهَا القِيرَاطُ » .
وفي روايةٍ : « ستفْتحُونَ مـصْر وهِي أَرْضٌ يُسَمَّى فِيها القِيراطُ ، فَاستَوْصُوا بِأَهْلِها خيْراً، فَإِنَّ لَهُمْ ذِمة ورحِماً » .
وفي روايةٍ : « فإِذا افْتتَحتُموها ، فَأَحْسِنُوا إِلى أَهْلِهَا ، فَإِنَّ لهُم ذِمَّةً ورحِماً» أَو قال «ذِمَّةً وصِهراً » رواه مسلم .
قال العُلَماءُ : الرَّحِمُ التي لهُمْ كَوْنُ هَاجَر أُمُّ إِسْماعِيلَ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْهمْ . «والصِّهْرُ»: كونُ مارِية أُمِّ إِبراهِيمَ ابنِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم منهم
Terjemahan
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kalian akan menaklukkan suatu negeri yang disebut di dalamnya qirath."
Dalam riwayat lain: "Kalian akan menaklukkan Mesir, yaitu negeri yang disebut di dalamnya qirath. Maka berwasiatlah untuk berbuat baik kepada penduduknya, karena mereka memiliki dzimmah (perjanjian perlindungan) dan hubungan rahim (kekerabatan)."
Dalam riwayat lain: "Jika kalian menaklukkannya, maka berbuat baiklah kepada penduduknya, karena mereka memiliki dzimmah dan hubungan rahim," atau beliau bersabda, "dzimmah dan hubungan pernikahan." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Para ulama berkata: Hubungan rahim yang dimiliki mereka adalah karena Hajar, ibu Nabi Ismail 'alaihissalam, berasal dari mereka. Sedangkan hubungan pernikahan adalah karena Maria, ibu Ibrahim putra Rasulullah ﷺ, berasal dari mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung dua pesan utama. Pertama, kabar gembira dan prediksi Nabi tentang futuhat (pembukaan) negeri Mesir. Kedua, perintah tegas untuk berbuat baik dan menjaga hak penduduknya jika telah ditaklukkan, karena mereka memiliki status dzimmah (yang dilindungi) dan terdapat ikatan kekerabatan melalui Hajar, istri Nabi Ibrahim dan ibu Nabi Ismail.
Dalam riwayat lain: "Kalian akan menaklukkan Mesir, yaitu negeri yang disebut di dalamnya qirath. Maka berwasiatlah untuk berbuat baik kepada penduduknya, karena mereka memiliki dzimmah (perjanjian perlindungan) dan hubungan rahim (kekerabatan)."
Dalam riwayat lain: "Jika kalian menaklukkannya, maka berbuat baiklah kepada penduduknya, karena mereka memiliki dzimmah dan hubungan rahim," atau beliau bersabda, "dzimmah dan hubungan pernikahan." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Para ulama berkata: Hubungan rahim yang dimiliki mereka adalah karena Hajar, ibu Nabi Ismail 'alaihissalam, berasal dari mereka. Sedangkan hubungan pernikahan adalah karena Maria, ibu Ibrahim putra Rasulullah ﷺ, berasal dari mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung dua pesan utama. Pertama, kabar gembira dan prediksi Nabi tentang futuhat (pembukaan) negeri Mesir. Kedua, perintah tegas untuk berbuat baik dan menjaga hak penduduknya jika telah ditaklukkan, karena mereka memiliki status dzimmah (yang dilindungi) dan terdapat ikatan kekerabatan melalui Hajar, istri Nabi Ibrahim dan ibu Nabi Ismail.
# 24
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : لما نزلَتْ هذِهِ الآيَةُ : { وَأَنْذِر عشِيرتكَ الأَقربِينَ } [ الشعراء : 214 ] دعا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قُرَيْشَا فاجْتَمعُوا فَعَمَّ ، وخَصَّ وقال: «يا بَني عبدِ شَمسٍ ، يا بني كَعْب بنِ لُؤَي ، أَنقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ ، يَا بني مُرَّةَ بـنِ كْعبٍ ، أَنْقِذُوا أَنفُسَكُمْ مِن النَّار ، يا بني عبْدِ مَنَافٍ ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ ، يا بَني هاشِمٍ أَنقِذُوا أَنْفُسكُمْ مِنَ النَّارِ ، يا بني عبْدِ المطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسكُمْ مِن النَّارِ ، يا فاطِمَة أَنْقِذي نفْسَكَ منَ النَّار ، فَإِني لا أَمْلِكُ لَكُمْ منَ اللَّه شيْئاً ، غَيْر أَنَّ لَكُمْ رحِماً سأَبلُّهَا بِبِلالِها » رواه مسلم.
قوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « بِبِلالِهَا » هو بفتحِ الباءِ الثَّانِيةِ وكَسرهَا « والبِلالُ » الماءُ . ومعنى الحديث : سأَصِلُهَا ، شبَّهَ قَطِيعَتَهَا بالحرارةِ تُطْفَأُ بالماءِ وهذه تُبَرَّدُ بالصِّلةِ.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika turun ayat ini: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS. Asy-Syu'ara': 214), Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil orang-orang Quraisy, lalu mereka berkumpul. Beliau menyampaikan secara umum dan khusus, seraya bersabda: "Wahai Bani 'Abdi Syams, wahai Bani Ka'ab bin Lu'ay, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Wahai Bani Murrah bin Ka'ab, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Wahai Bani 'Abdi Manaf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Wahai Bani 'Abdul Muththalib, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Karena sesungguhnya aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk membelamu dari (siksaan) Allah, kecuali bahwa kalian memiliki tali kekerabatan yang akan aku sambung dengan sebaik-baiknya." Diriwayatkan oleh Muslim.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "dengan sebaik-baiknya" (bi bilaliha) adalah dengan memfathahkan atau mengkasrahkan huruf ba' yang kedua. "Al-Bilal" artinya air. Makna hadits: Aku akan menyambungnya. Beliau mengumpamakan pemutusan silaturahmi seperti panas yang dipadamkan dengan air, sedangkan silaturahmi ini ditegakkan dengan menyambungnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban dakwah yang dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga dan kerabat. Rasulullah ﷺ memberikan contoh praktis dengan mengumpulkan kabilah-kabilah Quraisy untuk menyampaikan peringatan secara khusus. Ini menunjukkan bahwa menyelamatkan orang terdekat dari azab Allah adalah tanggung jawab pertama, meskipun berat, sebelum dakwah kepada masyarakat luas.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "dengan sebaik-baiknya" (bi bilaliha) adalah dengan memfathahkan atau mengkasrahkan huruf ba' yang kedua. "Al-Bilal" artinya air. Makna hadits: Aku akan menyambungnya. Beliau mengumpamakan pemutusan silaturahmi seperti panas yang dipadamkan dengan air, sedangkan silaturahmi ini ditegakkan dengan menyambungnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban dakwah yang dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga dan kerabat. Rasulullah ﷺ memberikan contoh praktis dengan mengumpulkan kabilah-kabilah Quraisy untuk menyampaikan peringatan secara khusus. Ini menunjukkan bahwa menyelamatkan orang terdekat dari azab Allah adalah tanggung jawab pertama, meskipun berat, sebelum dakwah kepada masyarakat luas.
# 25
وعن أبي عبد اللَّه عمرو بن العاص رضي اللَّه عنهما قال : سمعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جِهاراً غيْرَ سِرٍّ يَقُولُ : « إِنَّ آلَ بَني فُلانٍ لَيُسُوا بأَوْلِيائي إِنَّما وَلِيِّي اللَّهُ وصالحُ المؤْمِنِين، ولَكِنْ لَهُمْ رحِمٌ أَبُلُّها بِبِلالِها » متفق عليه . واللَّفظُ للبخاري .
Terjemahan
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dengan sangat tegas: "Sesungguhnya anggota keluarga seseorang bukanlah penolongku. Sesungguhnya penolongku hanyalah Allah dan orang-orang mukmin yang benar, tetapi mereka memiliki hubungan kekerabatan denganku, maka aku akan menyambung hubungan kekerabatan itu." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafaz dalam riwayat Al-Bukhari.
Penjelasan: Hadits ini menegaskan bahwa loyalitas utama seorang muslim adalah kepada Allah dan agama-Nya, melebihi loyalitas kepada keluarga. Namun, Nabi tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan kerabatnya yang belum beriman sebagai bentuk akhlak mulia dan dakwah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa dasar persaudaraan dan loyalitas dalam Islam adalah iman dan ketakwaan, bukan semata hubungan darah atau kekerabatan. Wali (penolong) Nabi adalah Allah dan orang-orang beriman yang saleh. Meski demikian, Nabi tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan keluarga beliau sebagai bentuk berbuat baik kepada kerabat.
Penjelasan: Hadits ini menegaskan bahwa loyalitas utama seorang muslim adalah kepada Allah dan agama-Nya, melebihi loyalitas kepada keluarga. Namun, Nabi tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan kerabatnya yang belum beriman sebagai bentuk akhlak mulia dan dakwah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa dasar persaudaraan dan loyalitas dalam Islam adalah iman dan ketakwaan, bukan semata hubungan darah atau kekerabatan. Wali (penolong) Nabi adalah Allah dan orang-orang beriman yang saleh. Meski demikian, Nabi tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan keluarga beliau sebagai bentuk berbuat baik kepada kerabat.
# 26
وعن أبي أَيُّوب خالدِ بن زيدٍ الأنصاري رضي اللَّه عنه أَن رجلاً قال: يا رسولَ اللَّه أَخْبِرْني بِعملٍ يُدْخِلُني الجنَّةَ ، وَيُبَاعِدني مِنَ النَّارِ . فقال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «تعبُدُ اللَّه ، ولا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وتُؤتي الزَّكاةَ ، وتَصِلُ الرَّحِم » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan fondasi Islam yang menyelamatkan, yaitu tauhid (mengesakan Allah). Ibadah mahdhah (shalat dan zakat) serta ibadah sosial (silaturahmi) merupakan konsekuensi dan bukti keimanan. Dengan demikian, keselamatan dunia-akhirat diraih dengan memurnikan akidah, disiplin beribadah, dan berbuat baik kepada manusia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan fondasi Islam yang menyelamatkan, yaitu tauhid (mengesakan Allah). Ibadah mahdhah (shalat dan zakat) serta ibadah sosial (silaturahmi) merupakan konsekuensi dan bukti keimanan. Dengan demikian, keselamatan dunia-akhirat diraih dengan memurnikan akidah, disiplin beribadah, dan berbuat baik kepada manusia.
# 27
وعن سلْمان بن عامرٍ رضي اللَّه عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِذا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمرٍ ، فَإِنَّهُ بركَةٌ ، فَإِنْ لَمْ يجِد تَمْراً ، فَالماءُ ، فَإِنَّهُ طُهُورٌ » وقال: « الصَّدقَةُ عَلَى المِسكِينِ صدقَةٌ ، وعَلَى ذي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وصِلَةٌ » .
رواه الترمذي . وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Dari Salman bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian berbuka puasa, hendaklah berbuka dengan kurma karena ia membawa berkah. Jika tidak mendapatkannya, berbukalah dengan air karena ia suci dan menyucikan." Kemudian beliau melanjutkan: "Sedekah kepada orang miskin mendapat pahala sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat mendapat dua pahala: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: "Hadits ini hasan."
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan keutamaan menyambung silaturahmi sambil bersedekah, karena mendapatkan dua pahala sekaligus. Juga dianjurkan berbuka puasa dengan kurma atau air.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua sunnah utama. Pertama, keutamaan berbuka puasa dengan kurma atau air sebagai bentuk kesederhanaan dan keberkahan. Kedua, keutamaan bersedekah, terutama kepada kerabat, karena menggabungkan dua kebaikan sekaligus: sedekah dan menyambung tali silaturahmi. Dengan demikian, ibadah puasa dan kedermawanan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat hubungan sosial.
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan keutamaan menyambung silaturahmi sambil bersedekah, karena mendapatkan dua pahala sekaligus. Juga dianjurkan berbuka puasa dengan kurma atau air.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua sunnah utama. Pertama, keutamaan berbuka puasa dengan kurma atau air sebagai bentuk kesederhanaan dan keberkahan. Kedua, keutamaan bersedekah, terutama kepada kerabat, karena menggabungkan dua kebaikan sekaligus: sedekah dan menyambung tali silaturahmi. Dengan demikian, ibadah puasa dan kedermawanan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat hubungan sosial.
# 28
وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال : كَانَتْ تَحتي امْرأَةٌ ، وكُنْتُ أُحِبُّها ، وَكَانَ عُمرُ يكْرهُهَا ، فقال لي : طَلِّقْها فأبيْتُ ، فَأَتَى عَمرُ رضي اللَّه عنه النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَذَكر ذلكَ لَهُ ، فقال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « طَلِّقْهَا » رواه أَبو داود ، والترمذي وقال: حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Aku memiliki seorang istri yang sangat aku cintai, tetapi 'Umar (ayahku) membencinya. Ia berkata kepadaku: 'Ceraikan dia!' Aku menolak. Lalu 'Umar radhiyallahu 'anhu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menyampaikan hal itu. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ceraikan dia.'" Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: "Hadits hasan shahih."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kewajiban berbakti dan taat kepada orang tua, khususnya ayah, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Perintah Nabi SAW kepada Abdullah bin Umar untuk menceraikan istri yang dicintainya demi menuruti keinginan ayahnya, Umar bin Khattab, menunjukkan tingginya kedudukan keridhaan orang tua. Hikmahnya, menjaga hubungan baik dengan orang tua dan mendahulukan perintah mereka (dalam perkara mubah) dapat mendatangkan keberkahan, meski berat secara personal.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kewajiban berbakti dan taat kepada orang tua, khususnya ayah, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Perintah Nabi SAW kepada Abdullah bin Umar untuk menceraikan istri yang dicintainya demi menuruti keinginan ayahnya, Umar bin Khattab, menunjukkan tingginya kedudukan keridhaan orang tua. Hikmahnya, menjaga hubungan baik dengan orang tua dan mendahulukan perintah mereka (dalam perkara mubah) dapat mendatangkan keberkahan, meski berat secara personal.
# 29
وعن أبي الدَّرْادءِ رضي اللَّه عنه أَن رَجُلاً أَتَاهُ فقال : إِنَّ لي امْرَأَةً وإِن أُمِّي تَأْمُرُني بِطَلاَقِها ؟ فقال سَمِعْتُ رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ « الْوالِدُ أَوْسطُ أَبْوابِ الجَنَّةِ ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذلِك الْبابَ ، أَوِ احفظْهُ » رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu: Seorang laki-laki datang menemuinya dan berkata: "Aku memiliki seorang istri, tetapi ibuku menyuruhku untuk menceraikannya." Ia menjawab: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ayah dan ibu adalah pintu surga yang paling utama. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah.'" Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan kedudukan tinggi berbakti kepada orang tua, yang digambarkan sebagai pintu menuju surga. Namun, konteksnya bukan memerintahkan menceraikan istri tanpa alasan syar'i, tetapi menekankan pentingnya berbuat baik kepada ibu. Masalah perceraian harus dilihat dengan pertimbangan syariat yang lengkap.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua, terutama ibu, adalah jalan utama menuju surga. Perintah orang tua harus didahulukan selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Ancaman dalam hadis ini sangat tegas: mengabaikan hak mereka berarti menutup pintu kebaikan dan keselamatan di akhirat.
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan kedudukan tinggi berbakti kepada orang tua, yang digambarkan sebagai pintu menuju surga. Namun, konteksnya bukan memerintahkan menceraikan istri tanpa alasan syar'i, tetapi menekankan pentingnya berbuat baik kepada ibu. Masalah perceraian harus dilihat dengan pertimbangan syariat yang lengkap.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua, terutama ibu, adalah jalan utama menuju surga. Perintah orang tua harus didahulukan selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Ancaman dalam hadis ini sangat tegas: mengabaikan hak mereka berarti menutup pintu kebaikan dan keselamatan di akhirat.
# 30
وعن البراءِ بن عازبٍ رضي اللَّه عنهما ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «الخَالَةُ بِمَنْزِلَة الأُمِّ » رواه الترمذي : وقال حديثٌ حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Bibi (dari pihak ibu) kedudukannya seperti ibu." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: "Hadits hasan shahih."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kemuliaan dan kedudukan tinggi bibi dari pihak ibu (khālah) dalam Islam. Ia disetarakan dengan ibu, yang mengandung makna penghormatan, hak untuk diperlakukan dengan baik, dan penguatan ikatan silaturahmi. Penilaian At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan shahih menguatkan keabsahan pesan ini, mendorong umat untuk memuliakan kerabat dekat sebagaimana memuliakan ibu.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kemuliaan dan kedudukan tinggi bibi dari pihak ibu (khālah) dalam Islam. Ia disetarakan dengan ibu, yang mengandung makna penghormatan, hak untuk diperlakukan dengan baik, dan penguatan ikatan silaturahmi. Penilaian At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan shahih menguatkan keabsahan pesan ini, mendorong umat untuk memuliakan kerabat dekat sebagaimana memuliakan ibu.