✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 45

Menanyakan kabar orang yang berbuat kebajikan, duduk bersama mereka, bergaul dengan mereka, mencintai mereka, meminta mereka mendoakan, berdoa kepada Allah untuk mereka, dan mengunjungi tempat-tempat yang baik (seperti masjid, dll.)

✦ 17 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وإذ قال موسى لفتاه لا أبرح حتى أبلغ مجمع البحرين أو أمضي حقباً ﴾ إلى قوله تعالى ﴿ قال له موسى هل أتبعك على أن تعلمن مما علمت رشداً؟ ﴾ .سورة الكهف(60-66)
Terjemahan
Allah berfirman: "Ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.'" Hingga firman-Nya: "Musa berkata kepadanya (Khidhr): 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'"
(Al-Kahfi: 60-66)

Penjelasan singkat: Kisah ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu memerlukan kesungguhan, perjalanan jauh, dan kesabaran, sebagaimana ditunjukkan Nabi Musa. Ia juga mengajarkan adab seorang penuntut ilmu: rendah hati, mengakui ketidaktahuan, dan meminta izin untuk belajar dari orang yang lebih berilmu (Khidhr). Ini menegaskan bahwa ilmu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

# 2
وقال تعالى: ﴿ واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه ﴾ .سورة الكهف(28)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya."
(Al-Kahfi: 28)

Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Perintah untuk bersabar bersama orang-orang yang rajin beribadah dan mengingat Allah mengandung pelajaran penting tentang memilih lingkungan pergaulan. Bergaul dengan orang shaleh yang ikhlas akan menguatkan iman, mendorong ketekunan dalam ibadah, dan membantu kesabaran dalam meniti jalan kebenaran.

# 3
وعن أَنسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : قال أبو بكر لِعمرَ رضي اللَّهُ عنهما بَعْدَ وَفَاةِ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : انْطَلِقْ بِنَا إِلى أُمِّ أَيْمنَ رضي اللَّه عنها نَزُورُهَا كَما كانَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يزُورُهَا ، فلَمَّا انْتَهَيا إِلَيْهَا ، بَكَتْ ، فَقَالاَ لَهَا : مَا يُبْكِيكِ أَما تَعْلَمِينَ أَنَّ ما عِنْدَ اللَّهِ خيرٌ لرسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ؟ فقالت : إِنِّي لا أَبْكِي أَنِّي لأعْلمُ أَنَّ ما عِندَ اللَّهِ تعالَى خَيرٌ لرسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ولَـكنْ أبْكي أَنْ الوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ .فَهَيَّجَتْهُما على البُكَاءِ ، فَجعلا يَبْكِيانِ معهَا.رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Abu Bakar berkata kepada Umar radhiyallahu 'anhuma setelah wafatnya Rasulullah ﷺ: "Mari kita pergi menemui Ummu Aiman radhiyallahu 'anha, kita akan menjenguknya sebagaimana Rasulullah ﷺ biasa menjenguknya." Ketika mereka berdua telah sampai kepadanya, Ummu Aiman pun menangis. Mereka berdua bertanya kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis? Tidakkah engkau tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah ﷺ?" Ia menjawab: "Sesungguhnya aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah Ta'ala lebih baik bagi Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus." Maka tangisannya itu membangkitkan kesedihan pada mereka berdua, sehingga mereka pun ikut menangis bersamanya. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya melanjutkan tradisi kebaikan (sunnah) Rasulullah ﷺ, seperti menjenguk orang shaleh. Tangisan Ummu Aiman bukan karena keraguan akan kemuliaan akhirat bagi Nabi, tetapi sebagai ekspresi cinta dan rindu manusiawi yang dibolehkan. Kisah ini juga menunjukkan sikap lembut dan edukatif para sahabat dalam menghibur.

# 4
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخاً لَهُ في قَريَةٍ أُخْرَى ، فَأَرْصد اللَّهُ تعالى على مَدْرجَتِهِ ملَكاً ، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قال: أَيْن تُريدُ ؟ قال: أُرِيدُ أَخاً لي في هذِهِ الْقَرْيةِ . قال : هَلْ لَكَ علَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا عَلَيْهِ ؟ قال : لا، غَيْر أَنِّي أَحْببْتُهُ في اللَّهِ تعالى ، قال : فَإِنِّي رسول اللَّهِ إِلَيْكَ بأَنَّ اللَّه قَدْ أَحبَّكَ كَما أَحْببْتَهُ فِيهِ » رواه مسلم . يقال : « أَرْصدَه » لِكَذا : إِذَا وكَّلَهُ بِحِفْظِهِ ، و « المدْرَجَةُ » بفتحِ الميمِ والراء : الطَّريقُ ومعنى « تَرُبُّهَا » : تَقُومُ بهَا ، وتَسْعَى في صَلاحِهَا .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di desa lain. Maka Allah Ta'ala menempatkan seorang malaikat di tengah perjalanannya. Ketika dia mendatanginya, malaikat itu bertanya: 'Kamu hendak ke mana?' Dia menjawab: 'Aku hendak mengunjungi saudaraku di desa ini.' Malaikat bertanya: 'Apakah ada suatu nikmat yang kamu harapkan darinya?' Dia menjawab: 'Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah Ta'ala.' Malaikat berkata: 'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.'" (HR. Muslim)
Dikatakan: "Arshadah" untuk sesuatu artinya jika dia menugaskannya untuk menjaganya. Dan "Al-Madrajah" dengan memfathahkan mim dan ra' artinya jalan. Makna "Tarubbuha" adalah kamu mengurusnya dan berusaha untuk kebaikannya.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan mengunjungi saudara seiman semata-mata karena Allah. Motivasi ikhlas inilah yang membuat pelakunya dicintai Allah. Kisahnya menegaskan bahwa Allah mengetahui niat hamba-Nya dan membalasnya dengan kecintaan yang setara. Dengan demikian, hadis ini mendorong kita untuk memurnikan hubungan persaudaraan atas dasar keimanan.

# 5
وعنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ عَادَ مَريضاً أَوْ زَار أَخاً لَهُ في اللَّه ، نَادَاهُ مُنَادٍ : بِأَنْ طِبْتَ ، وطَابَ ممْشَاكَ ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الجنَّةِ منْزِلاً » رواه الترمذي وقال: حديثٌ حسنٌ . وفي بعض النسخ غريبٌ .
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka akan ada malaikat yang berseru: 'Engkau telah baik, perjalananmu telah baik, dan engkau telah membangun tempat tinggal di surga.'" (HR. At-Tirmidzi)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari dua amalan sosial: menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara semata karena Allah. Pahala yang dijanjikan sangat mulia, yaitu dibangunkan sebuah rumah di surga. Seruan malaikat dalam hadis ini menunjukkan bahwa setiap langkah untuk menjalin ukhuwah islamiyah dicatat sebagai kebaikan yang menyucikan jiwa dan mengantarkan kepada kebahagiaan abadi.

# 6
وعن أبي موسى الأَشعَرِيِّ رضيَ اللَّهُ عنه أَن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِـحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ . كَحَامِلِ المِسْكِ ، وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحامِلُ المِسْكِ ، إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحاً طيِّبةً . ونَافخُ الكيرِ إِمَّا أَن يحْرِقَ ثيابَكَ وإمَّا أنْ تجِدَ مِنْهُ ريحاً مُنْتِنَةً » متفقٌ عليه . « يُحْذِيكَ » : يُعْطِيكَ .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api pandai besi. Penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberimu, atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan darinya aroma yang harum. Sedangkan peniup api pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau kamu mendapatkan darinya bau yang tidak sedap." (Muttafaqun 'alaih)
"Yuhdzika" artinya memberimu.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan pengaruh besar pergaulan terhadap akhlak dan kondisi seseorang. Bergaul dengan orang saleh akan membawa kebaikan, seperti mendapat ilmu, keteladanan, atau lingkungan yang positif. Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk berisiko mendatangkan kerusakan, dosa, atau pengaruh negatif bagi agama dan moral.

# 7
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبعٍ : لِمالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، ولِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاك » متفقٌ عليه. ومعناه : أَنَّ النَّاس يَقْصِدُونَ في الْعَادَةِ مِنَ المَرْأَةِ هَذِهِ الخِصَالَ الأَرْبعَ ، فَاحِرصْ أَنْتَ عَلى ذَاتِ الدِّينِ . وَاظْفَرْ بِهَا ، واحْرِص عَلى صُحْبَتِهَا .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka dapatkanlah wanita yang memiliki agama (keagamaan yang baik), niscaya kamu akan beruntung." (Muttafaqun 'alaih)
Maknanya: Bahwa orang-orang pada umumnya menginginkan dari seorang wanita keempat sifat ini. Maka hendaklah kamu berusaha mendapatkan wanita yang memiliki agama (keagamaan yang baik), dan berusahalah untuk bersamanya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa dalam memilih istri, manusia biasanya tertarik pada harta, keturunan, atau kecantikan. Namun, Nabi ﷺ memberikan tuntunan utama untuk mengutamakan agama (akhlak dan ketaatan) dalam memilih pasangan. Pilihan ini menjamin keberkahan hidup berumah tangga dan keselamatan di akhirat.

# 8
وعنْ ابن عباسٍ رضي اللَّه عنهما قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لِجِبْرِيلَ : « مَا يمْنَعُكَ أَنْ تَزُورَنَا أَكْثَرَ مِمَّا تَزُورنَا ؟ » فَنَزَلَتْ : { ومَا نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَما خَلْفَنَا وما بَيْنَ ذلِكَ } رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Jibril: "Apa yang menghalangimu untuk lebih sering menjengukku?" Maka Allah menurunkan ayat: "Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya lah apa yang di hadapan kita, apa yang di belakang kita, dan apa yang di antara keduanya." (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk kunjungan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, terjadi atas kehendak dan perintah Allah semata. Ini merupakan pendidikan tauhid agar manusia menyadari bahwa seluruh alam tunduk pada ketetapan-Nya. Hikmahnya, kita dituntut untuk bersabar dan tawakal, karena segala urusan telah diatur dengan hikmah Allah yang Maha Mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan.

# 9
وعنْ أبي سعيدٍ الخُدْرِيِّ رضي اللَّه عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا تُصَاحبْ إِلاَّ مُؤْمِناً ، ولا يَأْكُلْ طعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ » . رواه أبو داود ، والترمذي بإِسْنَادٍ لا بأْس بِهِ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kamu berteman dekat kecuali dengan orang beriman, dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya selektif dalam memilih lingkaran pergaulan dan berbagi. Pertemanan dekat sebaiknya dijalin dengan orang beriman agar saling menguatkan dalam kebaikan. Larangan memberi makan selain orang bertakwa mengajarkan untuk menjaga keberkahan harta dan hubungan yang bernilai ibadah. Intinya, lingkungan dan interaksi kita harus mendukung ketakwaan, bukan melemahkan iman.

# 10
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكمْ مَنْ يُخَالِلُ » . رواه أبو داود . والترمذي بإِسنادٍ صحيح ، وقال الترمذي : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad shahih. At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan pengaruh besar teman dekat terhadap agama, akhlak, dan jalan hidup seseorang. Oleh karena itu, Islam memerintahkan kita untuk sangat selektif dan berhati-hati dalam memilih sahabat. Hikmahnya adalah agar kita bergaul dengan orang shalih yang akan mengingatkan kita pada kebaikan dan menjauh dari teman yang dapat merusak iman. Pilihan pertemanan adalah cermin dan penentu masa depan keislaman kita.

# 11
وعن أبي موسى الأَشْعَرِيِّ رضي اللَّهُ عنه أَن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » . متفق عليه وفي رواية قال قيل للنبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم الرجل يحب القوم وَلَمْا يلحق بهم ؟ قال : « المرء مع من أحب » .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: "Ada yang bertanya kepada Nabi: 'Bagaimana dengan seseorang yang mencintai suatu kaum yang baik, tetapi amalannya belum mencapai mereka?'"

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kekuatan cinta dan loyalitas (al-wala') dalam menentukan akhirat seseorang. Siapa yang mencintai orang-orang shalih dan beriman dengan cinta karena Allah, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak, meskipun amalnya belum menyamai. Ini mengandung motivasi untuk bergaul dengan orang shalih dan menumbuhkan cinta kepada mereka, serta peringatan agar tidak mencintai musuh-musuh Allah.

# 12
وعن أَنس رضي اللَّه عنه أَن أَعرابياً قال لرسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : مَتَى السَّاعَةُ ؟ قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ » قال : حُب اللَّهِ ورسولِهِ قال : « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . متفقٌ عليه ، وهذا لفظ مسلمٍ . وفي روايةٍ لهما : مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَوْمٍ ، وَلا صَلاةٍ ، وَلا صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّه وَرَسُولَهُ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Kapan hari Kiamat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apa yang telah kamu persiapkan untuknya?" Dia menjawab: "Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai." (Muttafaqun 'alaih, ini lafaz Muslim)
Dalam riwayat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim): "Aku tidak mempersiapkan untuknya banyak puasa, shalat, atau sedekah. Akan tetapi, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa cinta yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya adalah bekal utama menghadapi akhirat. Jawaban Nabi mengalihkan fokus dari waktu Kiamat kepada persiapan menyambutnya. Janji "kamu bersama orang yang kamu cintai" memberi motivasi untuk menyelaraskan kecintaan dengan orang-orang shaleh dan ridha Allah, karena itulah yang menentukan kebersamaan di akhirat.

# 13
وعن ابنِ مسعودٍ رضي اللَّه عنه قال : جاءَ رَجُلٌ إِلى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يا رسول اللَّه كَيْفَ تَقُولُ في رَجُلٍ أَحبَّ قَوْماً وَلَمْ يلْحَقْ بِهِمْ ؟ فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum, tetapi amalannya belum seperti mereka?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kekuatan dan keutamaan cinta yang tulus kepada orang-orang shalih, meskipun amal kita belum menyamai mereka. Cinta yang sejati akan menyatukan hati dan mengangkat derajat seseorang, sehingga di akhirat kelak ia akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk mencintai para nabi, sahabat, dan orang-orang beriman, serta berusaha meneladani mereka, sebagai jalan untuk meraih kemuliaan bersama mereka.

# 14
وعن أبي هُريرة رضي اللَّه عنه عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « النَّاسُ معَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، خِيَارُهُمْ في الجَاهِلِيَّةِ خِيارُهُمْ في الإِسْلامِ إِذَا فَقهُوا . وَالأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجنَّدَةٌ ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا ، اخْتَلَفَ » رواه مسلم . وروى البخاري قوله : « الأَرْوَاحُ » إِلخ ، من رواية عائشة رضي اللَّه عنها .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Manusia itu seperti tambang, seperti tambang emas dan perak. Orang terbaik di antara mereka pada masa jahiliyah adalah orang terbaik di dalam Islam jika mereka paham (agama). Dan ruh-ruh itu adalah bala tentara yang dikumpulkan. Maka yang saling mengenal akan bersatu, dan yang saling mengingkari akan berselisih." (HR. Muslim)
Al-Bukhari meriwayatkan sabdanya: "Arwaahu junuudun mujannadah..." dari riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua prinsip penting. Pertama, potensi kebaikan seseorang bersifat intrinsik seperti logam mulia, yang akan bersinar sempurna jika disempurnakan dengan ilmu agama (fiqh). Kedua, keselarasan dan konflik dalam pergaulan manusia sering berakar pada kecocokan dasar dan kesamaan nilai yang dibawa oleh ruh sejak di alam pra-dunia.

# 15
وعن أُسيْرِ بْنِ عَمْرٍو ويُقَالُ : ابْنُ جابِر وهو « بضم الهمزةِ وفتح السين المهملة» قال : كَانَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رضي اللَّه عنه إِذا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدادُ أَهْلِ الْيمنِ سأَلَهُمْ : أَفيُّكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ ؟ حتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ رضي اللَّه عنه، فقال له : أَنْتَ أُويْس بْنُ عامِرٍ ؟ قال : نَعَمْ ، قال : مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ ؟ قال : نعَمْ ، قال : فكَانَ بِكَ بَرَصٌ ، فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضعَ دِرْهَمٍ ؟ قال : نَعَمْ . قال : لَكَ والِدَةٌ ؟ قال : نَعَمْ . قال سَمِعْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « يَأْتِي علَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مع أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ برصٌ ، فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضعَ دِرْهَمٍ ، لَهُ وَالِدَةٌ هُو بِها برٌّ لَوْ أَقْسمَ على اللَّه لأَبَرَّهُ ، فَإِن اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ » فَاسْتَغْفِرْ لي فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فقال له عُمَرُ : أَيْنَ تُرِيدُ ؟ قال : الْكُوفَةَ ، قال : أَلا أَكْتُبُ لَكَ إِلى عَامِلهَا ؟ قال : أَكُونُ في غَبْراءِ النَّاسِ أَحبُّ إِلَيَّ . فَلَمَّا كَانَ مِنَ العَامِ المُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أشْرَافِهِمْ ، فَوافَقَ عُمَرَ ، فَسَألَهُ عَنْ أُوَيْسٍ ، فَقَالَ : تَرَكْتُهُ رَثَّ البَيْتِ قَليلَ المَتَاع ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول الله يقولُ : « يَأتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أمْدَادٍ مِنْ أهْلِ اليَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إلا مَوضِعَ دِرْهَمٍ ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أقْسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ ، فَإنِ اسْتَطْعتَ أنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ ، فَافْعَلْ » فَأتَى أُوَيْساً ، فَقَالَ : اسْتَغْفِرْ لِي . قَالَ : أنْتَ أحْدَثُ عَهْداً بسَفَرٍ صَالِحٍ ، فَاسْتَغْفِرْ لي . قَالَ : اسْتَغْفِرْ لِي . قَالَ : أنْتَ أحْدَثُ عَهْداً بسَفَرٍ صَالِحٍ ، فَاسْتَغْفِرْ لي . قَالَ : لَقِيتَ عُمَرَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، فاسْتَغْفَرَ لَهُ ، فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ ، فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ . رواه مسلم . وفي رواية لمسلم أيضاً عن أُسَيْر بن جابر رضي الله عنه أنَّ أهْلَ الكُوفَةِ وَفَدُوا عَلَى عُمَرَ رضي الله عنه وَفِيهمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ ، فَقَالَ عُمَرُ : هَلْ ها هُنَا أَحَدٌ مِنَ القَرَنِيِّينَ ؟ فَجَاءَ ذلِكَ الرَّجُلُ ، فَقَالَ عمرُ : إنَّ رَسُول الله  صلى الله عليه وسلم قَدْ قَالَ : « إنَّ رَجُلاً يَأتِيكُمْ مِنَ اليَمَنِ يُقَالُ لَهُ : أُوَيْسٌ ، لا يَدَعُ باليَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ ، قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا الله تَعَالَى ، فَأذْهَبَهُ إلا مَوضِعَ الدِّينَارِ أَو الدِّرْهَمِ ، فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ ، فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ » . وفي رواية لَهُ : عن عمر رضي الله عنه قَالَ : إنِّي سَمِعْتُ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « إنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ : أُوَيْسٌ ، وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ ، فَمُرُوهُ ، فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ » . قوله : « غَبْرَاءِ النَّاسِ » بفتح الغين المعجمة ، وإسكان الباءِ وبالمد : وهم فُقَرَاؤُهُمْ وَصَعَالِيكُهُمْ وَمَنْ لا يُعْرَفُ عَيْنُهُ مِنْ أخلاطِهِمْ « وَالأَمْدَادُ » جَمْعُ مَدَدٍ : وَهُمُ الأَعْوَانُ وَالنَّاصِرُونَ الَّذِينَ كَانُوا يُمدُّونَ المُسْلِمِينَ في الجهَاد .
Terjemahan
Dari Usair bin 'Amr -ada yang mengatakan: Ibnu Jabir- (nama ini dibaca dengan mendhamahkan hamzah dan memfathahkan sin yang tidak bertitik) berkata: "Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, apabila datang kepadanya rombongan dari Yaman, beliau bertanya kepada mereka: 'Apakah di antara kalian ada Uwais bin 'Amir?' Hingga suatu saat Uwais radhiyallahu 'anhu datang. Beliau bertanya: 'Apakah kamu Uwais bin 'Amir?' Dia menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Dari (suku) Murad, kemudian dari (kabilah) Qarn?' Dia menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Dulu kamu pernah sakit kusta, lalu sembuh kecuali bekas sebesar uang dirham?' Dia menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Apakah kamu masih memiliki ibu?' Dia menjawab: 'Ya.'
Beliau (Umar) berkata: 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan datang kepada kalian Uwais bin 'Amir bersama rombongan dari Yaman, dari (suku) Murad, kemudian dari (kabilah) Qarn. Dia pernah sakit kusta lalu sembuh kecuali bekas sebesar uang dirham. Dia memiliki ibu yang sangat dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kamu mampu meminta dia memohonkan ampun untukmu, maka lakukanlah." Maka mohonkanlah ampun untukku.' Lalu Uwais memohonkan ampun untuknya.
Kemudian Umar bertanya kepadanya: 'Kamu hendak ke mana?' Dia menjawab: 'Ke Kufah.' Umar berkata: 'Maukah aku menulis surat untukmu kepada pemimpinnya?' Dia menjawab: 'Aku lebih suka hidup di antara orang-orang biasa.'
Ketika tahun berikutnya, seorang laki-laki terhormat dari penduduk Kufah menunaikan haji dan bertemu Umar. Umar bertanya kepadanya tentang Uwais. Dia menjawab: 'Aku tinggalkan dia dalam keadaan rumahnya sederhana dan sedikit perabotan.' Umar berkata: 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan datang kepada kalian Uwais bin 'Amir bersama rombongan dari Yaman, dari (suku) Murad, kemudian dari (kabilah) Qarn. Dia pernah sakit kusta lalu sembuh kecuali bekas sebesar uang dirham. Dia memiliki ibu yang sangat dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kamu mampu meminta dia memohonkan ampun untukmu, maka lakukanlah."' Maka orang itu mendatangi Uwais dan berkata: 'Mohonkanlah ampun untukku.' Uwais berkata: 'Kamu baru saja pulang dari perjalanan yang baik (haji), mohonkanlah ampun untukku.' Orang itu berkata: 'Mohonkanlah ampun untukku.' Uwais berkata: 'Kamu baru saja pulang dari perjalanan yang baik, mohonkanlah ampun untukku.' Orang itu bertanya: 'Apakah kamu telah bertemu Umar?' Dia menjawab: 'Ya.' Maka Uwais memohonkan ampun untuknya. Orang-orang pun menyadari (siapa dia), lalu dia pergi meninggalkan mereka." (HR. Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim juga dari Usair bin Jabir radhiyallahu 'anhu: "Bahwa penduduk Kufah datang menemui Umar radhiyallahu 'anhu, dan di antara mereka ada..."

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) dan kedudukan mulia Uwais al-Qarni di mata para sahabat. Khalifah Umar bin Khattab secara khusus mencarinya karena rekomendasi Nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan bahwa doa Uwais mustajab berkat bakti luar biasanya kepada ibunya. Kisah ini mengajarkan bahwa ketakwaan dan bakti kepada orang tua dapat mengangkat derajat seseorang melebihi kemasyhuran duniawi.

# 16
وعن عمرَ بنِ الخطاب رضي اللَّه عنه قال : اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في العُمْرَةِ ، فَأَذِنَ لي ، وقال : « لا تَنْسَنَا يا أَخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ » فقال كَلِمَةً مَا يسُرُّني أَنَّ لي بِهَا الـدُّنْيَا . وفي روايةٍ قال : « أَشْرِكْنَا يَا أخَيَّ في دُعَائِكَ » . حديثٌ صحيحٌ رواه أَبو داود ، والترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Aku meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk pergi umrah, lalu beliau mengizinkanku dan bersabda: 'Wahai saudaraku, jangan lupakan kami dalam doamu kepada Allah.'" Umar berkata: "Beliau mengucapkan suatu kalimat yang membuatku lebih bahagia daripada mendapatkan segala sesuatu di dunia."
Dalam riwayat lain: "Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doamu." Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia (At-Tirmidzi) berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan saling mendoakan, khususnya kepada sesama muslim. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, meski memiliki kedudukan tinggi, meminta agar sahabatnya menyertakan beliau dalam doa. Ini menunjukkan kerendahan hati, pentingnya ukhuwah, dan bahwa doa seorang muslim untuk saudaranya adalah suatu keistimewaan. Umar bin Khattab sangat bahagia dengan permintaan ini, melebihi kebahagiaan mendapat dunia.

# 17
وعن ابن عُمرَ رضي اللَّه عنهما قال : كَانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَزُورُ قُبَاءَ رَاكِباً وَماشِياً، فَيُصلِّي فِيهِ رَكْعتَيْنِ متفقٌ عليه . وفي روايةٍ : كان النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَأْتي مَسْجِدَ قُبَاءَ كُلَّ سبْتٍ رَاكِبًا وَمَاشِياً وكَانَ ابْنُ عُمَرَ
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengunjungi (masjid) Quba dengan berkendaraan dan berjalan kaki, lalu beliau shalat di dalamnya dua rakaat." (Muttafaqun 'alaih)
Dalam riwayat lain: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang ke masjid Quba setiap hari Sabtu dengan berkendaraan dan berjalan kaki. Dan Ibnu Umar..."

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan besar Masjid Quba dan anjuran untuk mengunjunginya, sebagaimana teladan Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mendatanginya secara rutin setiap Sabtu, baik berkendara maupun berjalan kaki, lalu shalat dua rakaat di dalamnya. Ini mengajarkan kesungguhan dalam mencari pahala, kemudahan ibadah sesuai kemampuan, serta pentingnya memelihara sunnah dan menghidupkan masjid.