Kitab 1 · Bab 48
Peringatan terhadap menyusahkan orang yang berbuat kebajikan, orang lemah, dan orang miskin
✦ 4 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبيناً ﴾ .سورة الأحزاب(58)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (Al-Ahzab: 58)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan larangan keras menyakiti sesama mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa alasan yang benar. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai kebohongan (buhtan) dan dosa yang nyata. Hikmahnya adalah menjaga kehormatan, perasaan, dan persaudaraan umat Islam, serta menanamkan tanggung jawab atas setiap ucapan dan tindakan yang dapat melukai orang lain.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan larangan keras menyakiti sesama mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa alasan yang benar. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai kebohongan (buhtan) dan dosa yang nyata. Hikmahnya adalah menjaga kehormatan, perasaan, dan persaudaraan umat Islam, serta menanamkan tanggung jawab atas setiap ucapan dan tindakan yang dapat melukai orang lain.
# 2
وقال تعالى: ﴿ فأما اليتيم فلا تقهر، وأما السائل فلا تنهر ﴾ .سورة الضحى(9-10)
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya." (Ad-Dhuha: 9-10)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia utama. Pertama, kelembutan dan perlindungan terhadap anak yatim yang lemah dengan larangan menindasnya. Kedua, sikap hormat dan santun terhadap peminta-minta, meski tidak memberi, dengan larangan menghardiknya. Intinya, Islam menekankan belas kasih, menjaga harga diri sesama, dan melarang sikap kasar terhadap mereka yang dalam keadaan lemah dan membutuhkan.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia utama. Pertama, kelembutan dan perlindungan terhadap anak yatim yang lemah dengan larangan menindasnya. Kedua, sikap hormat dan santun terhadap peminta-minta, meski tidak memberi, dengan larangan menghardiknya. Intinya, Islam menekankan belas kasih, menjaga harga diri sesama, dan melarang sikap kasar terhadap mereka yang dalam keadaan lemah dan membutuhkan.
# 3
وأما الأحاديث فكثيرة منها حديث أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ في الباب قبل هذا (انظر الحديث رقم 385) ( من عادى لي ولياً فقد آذنته بالحرب ) ومنها حديث سعد بن أبي وقاص رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ السابق (انظر الحديث رقم 260) في باب ملاطفة اليتيم، وقوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ( يا أبا بكر لئن كنت أغضبتهم لقد أغضبت ربك ) (انظر الحديث رقم 261)
Terjemahan
Adapun hadits, ada banyak, di antaranya:
Hadits Abu Hurairah dalam bab sebelumnya, bahwa Allah berfirman: "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya."
Hadits Sa'ad bin Abu Waqqash dalam bab berlemah lembut terhadap anak yatim, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Sa'ad, jagalah dirimu dari kemarahan mereka (anak yatim), karena sesungguhnya jika engkau membuat mereka marah, Allah pasti akan murka kepadamu."
Penjelasan singkat: Hadis-hadis ini menegaskan betapa agungnya hak hamba Allah yang lemah dan dekat dengan-Nya. Memusuhi wali Allah berarti mendeklarasikan permusuhan dengan-Nya. Begitu pula, menyakiti hati anak yatim, yang merupakan simbol kelemahan dan kedudukan khusus di sisi Allah, dapat mendatangkan kemurkaan-Nya. Intinya, menjaga hubungan baik dengan Allah harus diwujudkan dengan memuliakan dan menyayangi hamba-hamba pilihan-Nya.
Hadits Abu Hurairah dalam bab sebelumnya, bahwa Allah berfirman: "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya."
Hadits Sa'ad bin Abu Waqqash dalam bab berlemah lembut terhadap anak yatim, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Sa'ad, jagalah dirimu dari kemarahan mereka (anak yatim), karena sesungguhnya jika engkau membuat mereka marah, Allah pasti akan murka kepadamu."
Penjelasan singkat: Hadis-hadis ini menegaskan betapa agungnya hak hamba Allah yang lemah dan dekat dengan-Nya. Memusuhi wali Allah berarti mendeklarasikan permusuhan dengan-Nya. Begitu pula, menyakiti hati anak yatim, yang merupakan simbol kelemahan dan kedudukan khusus di sisi Allah, dapat mendatangkan kemurkaan-Nya. Intinya, menjaga hubungan baik dengan Allah harus diwujudkan dengan memuliakan dan menyayangi hamba-hamba pilihan-Nya.
# 4
وعن جُنَدَبِ بنِ عبد اللَّه رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ ، فَهُوَ في ذِمَّةِ اللَّه ، فَلا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيءٍ ، فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيءٍ ، يُدْرِكْهُ ، ثُمَّ يَكُبُّهُ عَلى وَجْهِهِ في نَارِ جَهَنَّمَ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Jundub bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa shalat subuh, maka dia berada dalam jaminan (perlindungan) Allah. Oleh karena itu, janganlah kalian menyerang orang yang berada dalam jaminan Allah, karena barangsiapa menyerang orang yang berada dalam jaminan Allah, maka Allah akan membalas perbuatannya, kemudian akan melemparkannya tersungkur ke dalam neraka." Diriwayatkan oleh Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keagungan dan kemuliaan orang yang menunaikan shalat Subuh berjamaah, karena ia mendapatkan jaminan perlindungan langsung dari Allah. Ancaman yang sangat keras diberikan kepada siapa saja yang mengganggu atau mencelakakan orang tersebut, yaitu neraka Jahannam. Intinya, hadis ini mengajarkan untuk menghormati dan menjaga keselamatan orang-orang yang taat, sekaligus menunjukkan besarnya pahala dan kedudukan shalat Subuh di sisi Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keagungan dan kemuliaan orang yang menunaikan shalat Subuh berjamaah, karena ia mendapatkan jaminan perlindungan langsung dari Allah. Ancaman yang sangat keras diberikan kepada siapa saja yang mengganggu atau mencelakakan orang tersebut, yaitu neraka Jahannam. Intinya, hadis ini mengajarkan untuk menghormati dan menjaga keselamatan orang-orang yang taat, sekaligus menunjukkan besarnya pahala dan kedudukan shalat Subuh di sisi Allah.