✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 51

Harapan (Raja')

✦ 32 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى :﴿ قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة اللَّه إن اللَّه يغف الذنوب جميعاً، إنه هو الغفور الرحيم ﴾ .سورة الزمر(53)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (bagi yang bertaubat). Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar: 53)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa pintu taubat dan ampunan Allah terbuka lebar bagi setiap hamba, sebesar apa pun dosanya. Pesan utamanya adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, karena sifat-Nya Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Hikmahnya, seorang muslim harus selalu optimis dan kembali kepada Allah, serta tidak boleh menghalangi orang lain untuk bertaubat.

# 2
وقال تعالى: ﴿ وهل نجازي إلا الكفور ﴾ .سورة السبأ(17)
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka apakah Kami memberi balasan (kepada orang-orang kafir) seperti itu, tidak lain karena mereka tidak bersyukur?" (Saba': 17)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa azab Allah ditimpakan sebagai balasan atas kekufuran dan keingkaran manusia terhadap nikmat-Nya. Inti pelajaran adalah bahwa sikap tidak bersyukur (kufur nikmat) merupakan pangkal kesesatan yang mendatangkan hukuman. Sebaliknya, syukur akan melestarikan nikmat dan mendatangkan ridha Allah.

# 3
وقال تعالى: ﴿ إنا قد أوحي إلينا أن العذاب على من كذب وتولى ﴾ .سورة طه(48)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami (Musa dan Harun) bahwa siksa itu adalah untuk orang yang mendustakan dan berpaling (dari ayat-ayat Allah)." (Thaha: 48)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa azab Allah yang nyata diperuntukkan bagi dua golongan: pertama, orang yang mendustakan kebenaran wahyu dan ayat-ayat-Nya; kedua, orang yang berpaling setelah kebenaran itu sampai kepadanya. Pelajaran utamanya adalah bahwa keselamatan hanya diraih dengan menggabungkan keimanan hati (tidak mendustakan) dengan ketundukan perbuatan (tidak berpaling). Sikap ingkar dan menghindar dari kewajiban merupakan sebab utama datangnya hukuman.

# 4
وقال تعالى: ﴿ ورحمتي وسعت كل شيء ﴾ .سورة الأعراف(156)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (Al-A'raf: 156)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa rahmat Allah bersifat universal dan mutlak, meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali. Hal ini menjadi dasar keyakinan bahwa kasih sayang-Nya mendahului dan mengungguli segala bentuk hukuman. Pelajaran utamanya adalah agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah, sekaligus mendorong untuk senantiasa berharap dan memohon kepada-Nya.

# 5
وعن عُبادَة بنِ الصامِتِ ، رضي اللَّهُ عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ شَهِدَ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وأَنَّ مُحمَّداً عبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وأَنَّ عِيسى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقاها إِلى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، وأَنَّ الجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الجَنَّةَ عَلى ما كانَ مِنَ العمَلِ » متفقٌ عليه . وفي رواية لمسلم : « مَنْ شَهِدَ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وأَنَّ مُحَمَّداً رسُولُ اللَّهِ ، حَرَّمَ اللَّهُ علَيهِ النَّارَ » .
Terjemahan
Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, bahwa 'Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amalannya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dari Muslim: "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah mengharamkan neraka baginya."

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa fondasi iman adalah kesaksian tauhid dan kerasulan, termasuk keimanan yang benar tentang Nabi Isa a.s. sebagai hamba dan utusan Allah. Iman kepada hari akhir dengan keyakinan atas surga dan neraka juga merupakan rukun keyakinan. Janji masuk surga berdasarkan amal menunjukkan bahwa kesempurnaan iman harus dibuktikan dengan pelaksanaan kewajiban dan menjauhi larangan.

# 6
وعن أبي ذَرٍّ ، رضيَ اللَّهُ عنه ، قال : قال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يقولُ اللَّهُ عزَّ وجَلّ: مَنْ جاءَ بِالحَسَنَةِ ، فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِها أَوْ أَزْيَدُ ، ومَنْ جاءَ بِالسَّيِّئَةِ ، فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ . وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْراً ، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعاً ، ومنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذرَاعاً، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ باعاً، وَمَنْ أَتاني يمشي ، أَتَيْتُهُ هَرْولَةً ، وَمَنْ لَقِيَني بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطِيئَةً لاَ يُشْرِكُ بِي شَيْئاً، لَقِيتُهُ بمثْلِها مغْفِرَةً » رواه مسلم. معنى الحديث : « مَنْ تَقَرَّبَ » إِلَيَّ بِطاعَتي « تَقَرَّبْتُ » إِلَيْهِ بِرحْمَتي ، وإِنْ زَادَ زِدْتُ، «فَإِنْ أَتاني يَمشي » وَأَسْرَعَ في طاعَتي « أَتَيْتُه هَرْوَلَةً » أَيْ : صَبَبْبُ علَيْهِ الرَّحْمَة ، وَسَبَقْتهُ بها ، ولَمْ أُحْوِجْهُ إِلى المَشْيِ الْكَثِيرِ في الوُصُولِ إِلى المَقْصُودِ ، « وَقُرَابُ الأَرْضِ» بضمِّ القافِ ويُقال بكسرها ، والضمّ أَصحّ ، وأَشهر ، ومعناه : ما يُقارِبُ مِلأَها ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dan dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda (bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman): "Barangsiapa datang dengan membawa kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipatnya atau lebih. Dan barangsiapa datang dengan membawa kejelekan, maka balasan kejelekan itu adalah kejelekan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Dan barangsiapa menemui-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, sedang ia tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula."
Diriwayatkan oleh Muslim.
Makna hadits: "Barangsiapa mendekat" kepada-Ku dengan ketaatan kepada-Ku, "maka Aku mendekat" kepadanya dengan rahmat-Ku. Jika ia menambah, Aku pun menambah. "Maka jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan" dan bersegera dalam ketaatan kepada-Ku, "Aku datang kepadanya dengan berlari" artinya: Aku curahkan rahmat kepadanya, dan Aku mendahuluinya dengan rahmat, dan Aku tidak memerlukannya untuk berjalan banyak dalam mencapai tujuan. "Wa quraabul ardhi" dengan dhamah qaf, ada juga yang membaca dengan kasrah. Bacaan dhamah lebih shahih dan lebih masyhur. Maknanya: sesuatu yang mendekati penuh bumi. Wallahu a'lam.

Penjelasan singkat: Hadis qudsi ini menegaskan kemurahan dan rahmat Allah yang melampaui keadilan-Nya. Setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya, sementara satu kejahatan hanya dibalas setimpal atau bahkan diampuni. Allah menjamin bahwa usaha hamba untuk mendekat kepada-Nya, sekecil apa pun, akan dibalas dengan pendekatan dan sambutan yang berlipat dari-Nya, menunjukkan betapa Allah Maha Penerima tobat dan Maha Pengasih.

# 7
وعن جابر ، رضي اللَّهُ عنه ، قال : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلى النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يا رَسُولَ اللَّهِ ، ما المُوجِبَتانِ ؟ فَقَالَ : « مَنْ مَات لاَ يُشرِكُ بِاللَّه شَيْئاً دخَلَ الجَنَّةَ ، وَمَنْ ماتَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً ، دَخَلَ النَّارَ » رواه مُسلم
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang badui datang menemui Nabi ﷺ lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah dua sebab (yang menyebabkan masuk surga dan neraka)?" Beliau menjawab: "Siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, ia akan masuk surga. Dan siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah, ia akan masuk neraka."
Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip tauhid sebagai penentu akhirat. Syarat mutlak masuk surga adalah meninggal dalam keadaan bertauhid (tidak syirik). Sebaliknya, syirik yang tidak diampuni sebelum ajal adalah penyebab kekal di neraka. Dengan demikian, hadis ini menjadi pondasi utama dalam akidah Islam.

# 8
وَعن أَنسٍ ، رضي اللَّهُ عنه ، أَنَّ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَمُعَاذٌ ردِيفُهُ عَلى الرَّحْلِ قَالَ : «يا مُعاذُ » قال : لَبيَّيْكَ يا رسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ، قالَ : « يا مُعَاذُ » قالَ : لَبَّيكَ يارَسُول اللَّهِ وَسَعْديْكَ . قالَ : « يَا مُعاذُ » قال : لَبَّيْكَ يا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْديكَ ثلاثاً ، قالَ : « ما مِن عَبدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِله إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمدا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ صِدْقاً مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ على النَّارِ » قالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُخْبِرُ بِها النَّاسَ فيستبشروا ؟ قال : «إِذاً يَتَّكلُوا » فَأَخْبرَ بها مُعَـاذٌ عِنْد مَوْتِهِ تَأَثُّماً . متفقٌ عليه . وقوله : « تَأَثماً » أَيْ : خَوْفاً مِنَ الإِثمِ في كَتْمِ هذا العِلْمِ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ menaiki kendaraan, dan Mu'adz duduk di belakang beliau. Beliau memanggil: "Wahai Mu'adz!" Ia menjawab: "Ya, aku penuhi panggilanmu." Beliau memanggil lagi: "Wahai Mu'adz!" Ia menjawab: "Ya, aku penuhi panggilanmu." Beliau memanggil lagi: "Wahai Mu'adz!" Ia menjawab: "Ya, aku penuhi panggilanmu," sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda: "Siapa saja yang bersaksi dengan jujur dari hatinya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, maka Allah mengharamkan neraka baginya." Mu'adz bertanya: "Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar ini kepada orang-orang agar mereka bergembira?" Beliau menjawab: "Kalau begitu, mereka akan bersandar (pasrah dan tidak beramal)." Mu'adz memberitahukan hal ini ketika ia mendekati ajalnya, karena takut berdosa menyembunyikan ilmu.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kedudukan kalimat syahadat. Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa siapa pun yang mengikrarkan "Laa ilaaha illallaah, Muhammadan 'abduhu wa rasuuluh" dengan penuh kejujuran dari dalam hatinya, maka Allah akan mengharamkannya masuk neraka. Pengulangan panggilan kepada Mu'adz menunjukkan pentingnya pesan ini. Intinya, keselamatan abadi ditentukan oleh pengakuan tauhid dan kerasulan yang tulus, bukan sekadar ucapan di lisan.

# 9
وعنْ أبي هريرة أَوْ أبي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رضيَ اللَّهُ عنهما : شَك الرَّاوِي ، وَلاَ يَضُرُّ الشَّكُّ في عَينِ الصَّحابي ، لأَنهم كُلُّهُمْ عُدُولٌ ، قال : لما كان يَوْمُ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَصابَ الناسَ مَجَاعَةٌ ، فَقالُوا : يا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَذِنْتَ لَنا فَنَحَرْنَا نَواضِحَنا ، فَأَكلْنَا وَادَّهَنَّا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « افْعَلُوا » فَجَاءَ عُمَرُ رضي اللَّهُ عنهُ ، فقالَ : يا رَسولَ اللَّهِ إِنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ ، وَلَكِنْ ادْعُهُمْ بفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُ اللَّهِ لَهُمْ عَلَيْهَا بِالبَرَكَةِ لَعَلَّ اللَّه أَنْ يَجْعَلَ في ذلكَ البَرَكَةَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « نَعَمْ» فَدَعَا بِنِطْعٍ فَبَسَطهُ ، ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ أَزَاوَدِهِمْ ، فَجعلَ الرَّجُلُ يجيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ ويجيءُ الآخَرُ بِكَفِّ تَمْرٍ ، ويجيءُ الآخَرُ بِكِسرَةٍ حَتى اجْتَمَعَ عَلى النِّطْعِ مِنْ ذَلِكَ شَيءٌ يَسِيرٌ ، فَدَعَا رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِالبَرَكَةِ ، ثُمَّ قالَ « خُذُوا في أَوْعِيَتِكُمْ ، فَأَخَذُوا في أَوْعِيَتِهِمْ حتى ما تركُوا في العَسْكَرِ وِعاء إِلاَّ مَلأوهُ ، وأَكَلُوا حَتَّى شَبعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ ، فقالَ رَسُولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّه بهما عَبْدٌ غَيْرُ شاكٍّ ، فَيُحْجبَ عَنِ الجَنَّةِ» رواهُ مسلم .
Terjemahan
Abu Hurairah atau Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhuma (perawi tidak yakin, tetapi tidak masalah karena keduanya adalah sahabat yang shalih) meriwayatkan: Saat perang Tabuk, para prajurit Muslim mengalami kelaparan. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, izinkan kami menyembelih unta-unta kami untuk dimakan dan digunakan lemaknya." Rasulullah ﷺ menjawab: "Lakukanlah." Kemudian 'Umar datang dan berkata: "Wahai Rasulullah, jika Anda melakukan itu, maka akan berkuranglah hewan tunggangan. Saya sarankan Anda memerintahkan mereka untuk membawa sisa bekal makanan mereka, kemudian Anda berdoa kepada Allah untuk memberkahinya." Rasulullah ﷺ menjawab: "Baik." Beliau meminta diambilkan sebuah alas kulit, lalu memerintahkan mereka mengumpulkan sisa makanan. Lalu ada yang membawa segenggam jagung, ada yang membawa kurma, dan yang lain sepotong roti, hingga terkumpul sedikit di atas alas itu. Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa memohon berkah untuk makanan itu, lalu bersabda: "Ambillah dan masukkan ke dalam wadah kalian." Mereka pun mengambil dan mengisi wadah mereka sampai penuh. Di kemah itu tidak ada lagi wadah yang kosong, dan mereka semua makan sampai kenyang, bahkan makanan itu masih tersisa. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, dan aku adalah Rasulullah. Siapa yang menemui Allah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ini tanpa keraguan, maka ia tidak akan diharamkan masuk surga."
Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya musyawarah dan mempertimbangkan nasihat demi kemaslahatan bersama. Rasulullah ﷺ mengizinkan permintaan pasukan, namun menerima masukan Umar ra. yang mempertimbangkan dampak jangka panjang (berkurangnya kendaraan perang). Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus bijak, terbuka terhadap saran, dan mendahulukan kepentingan umum meski telah mengambil keputusan awal.

# 10
وَعَنْ عِتْبَانَ بنِ مالكٍ ، رضي اللَّه عنه ، وهو مِمَّنْ شَهِدَ بَدْراً ، قال : كُنْتُ أُصَلِّي لِقَوْمي بَني سالمٍ ، وَكَانَ يَحُولُ بَيْني وَبينهُم وادٍ إِذَا جاءَتِ الأَمطارُ ، فَيَشُقُّ عَليَّ اجْتِيَازُهُ قِبَلَ مَسْجِدِهِمْ ، فَجئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فقلتُ له : إِنِّي أَنْكَرْتُ بَصَرِي ، وَإِنَّ الوَادِيَ الَّذِي بيْني وَبَيْنَ قَوْمي يسِيلُ إِذَا جَاءَت الأَمْطارُ ، فَيَشُقُّ عَليَّ اجْتِيازُهُ ، فَوَدِدْتُ أَنَّكَ تَأْتي ، فَتُصَليِّ في بَيْتي مَكاناً أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى، فقال رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « سأَفْعَلُ » فَغَدا عليَّ رَسُولُ اللَّهِ ، وَأَبُو بَكْرٍ، رضي اللَّهُ عنه ، بَعْدَ ما اشْتَدَّ النَّهَارُ ، وَاسْتَأْذَنَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَذِنْتُ لهُ ، فَلَمْ يَجْلِسْ حتى قالَ : « أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ ؟ » فَأَشَرْتُ لهُ إِلى المَكَانِ الَّذِي أُحبُّ أَنْ يُصَلِّيَ فيه ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَكَبَّرَ وَصَفَفْنَا وَراءَهُ ، فَصَلَّى رَكَعَتَيْن ، ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ ، فَحَبَسْتُهُ علَى خَزيرة تُصْنَعُ لَهُ ، فَسَمَعَ أَهْلُ الدَّارِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في بَيْتي ، فَثَابَ رِجَالٌ منهمْ حتَّى كَثُرَ الرِّجَالُ في البَيْتِ ، فَقَالَ رَجُلٌ : مَا فَعَلَ مَالِكٌ لا أَرَاهُ ، فَقَالَ رَجُلٌ : ذلك مُنَافِقٌ لاَ يُحِبُّ اللَّه ورَسُولَهُ ، فقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « لاَ تَقُلْ ذَلِكَ أَلاَ تَراهُ قالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ تَعالى ؟،» . فَقَالَ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، أَمَّا نَحْنُ فَوَاللَّهِ ما نَرَى وُدَّهُ ، وَلاَ حَديثَهُ إِلاَّ إِلى المُنَافِقينَ ، فقالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « فَإِنَّ اللَّه قَدْ حَرَّمَ على النَّارِ مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهِ اللَّهِ » متفقٌ عليه . و « عِتْبَانِ » بكسر العين المهملة ، وإِسكان التاءِ المُثَنَّاةِ فَوْقُ وبَعْدهَا باءٌ مُوَحَّدَةٌ . و «الخَزِيرَةُ » بالخاءِ المُعْجمةِ ، وَالزَّاي : هِي دقِيقٌ يُطْبَخُ بِشَحْمٍ وقوله : « ثابَ رِجالٌ » بالثَّاءِ المِثَلَّثَةِ ، أَيْ : جَاءوا وَاجْتَمعُوا .
Terjemahan
Dan dari 'Itban bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia adalah salah seorang yang ikut perang Badar, ia berkata: "Aku biasa mengimami kaumku Bani Salim. Ada sebuah lembah yang memisahkanku dengan mereka, yang bila hujan datang, sulit bagiku untuk menyeberanginya menuju masjid mereka. Maka aku datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: 'Sesungguhnya penglihatanku telah berkurang, dan lembah yang memisahkanku dengan kaumku itu mengalir (banjir) bila hujan datang, sehingga menyulitkanku untuk menyeberanginya. Aku ingin sekali Anda datang dan shalat di rumahku di suatu tempat yang akan aku jadikan sebagai tempat shalat.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku akan lakukan.' Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang kepadaku setelah siang hari semakin terik. Rasulullah ﷺ meminta izin, lalu aku mengizinkannya. Beliau belum duduk sudah bertanya: 'Di mana tempat yang kamu sukai untuk aku shalat di rumahmu?' Aku tunjukkan tempat yang kusukai untuk beliau shalat. Rasulullah ﷺ berdiri, bertakbir, dan kami berbaris di belakangnya. Beliau shalat dua rakaat, kemudian salam, dan kami pun salam ketika beliau salam. Aku menahan beliau untuk menikmati bubur yang dibuat untuknya. Penduduk rumah mendengar bahwa Rasulullah ﷺ ada di rumahku, lalu berdatanganlah orang-orang dari mereka hingga rumah dipenuhi banyak orang. Seorang laki-laki berkata: 'Apa yang dilakukan Malik? Aku tidak melihatnya.' Laki-laki lain berkata: 'Itu munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jangan kamu katakan itu! Tidakkah kamu melihat bahwa ia telah mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas karena Allah Ta'ala?' Orang itu berkata: 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Adapun kami, demi Allah, kami tidak melihat kecintaan dan pembicaraannya kecuali kepada orang-orang munafik.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas karena Allah.'"
Muttafaqun 'alaih.
"'Itban" dengan kasrah 'ain, sukun ta' tsaniyah di atas, dan setelahnya ba' muwahhadah. "Al-khazirah" dengan kha' mu'jamah dan za': adalah tepung yang dimasak.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemudahan dan kelonggaran dalam syariat Islam. Dibolehkannya shalat sunah di rumah (bukan di masjid) bagi orang yang memiliki uzur, seperti sakit atau kesulitan berat untuk berjalan ke masjid. Selain itu, hadis ini juga mengajarkan sikap menghormati dan memuliakan seorang guru atau ulama dengan mengundangnya ke rumah.

# 11
وعن عمرَ بنِ الخطاب ، رضي اللَّهُ عنه ، قال : قَدِمَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِسَبْي فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْي تَسْعَى ، إِذْ وَجَدتْ صبيًّا في السبْي أَخَذَتْهُ فَأَلْزَقَتْهُ بِبَطْنِها ، فَأَرْضَعَتْهُ ، فقال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَتُرَوْنَ هَذِهِ المَرْأَةَ طارِحَةً وَلَدَهَا في النَّارِ ؟ قُلْنَا : لاَ وَاللَّهِ . فَقَالَ : «للَّهُ أَرْحمُ بِعِبادِهِ مِنْ هَذِهِ بِولَدِهَا » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Beberapa tawanan perang dibawa menghadap Rasulullah ﷺ. Di antara tawanan itu ada seorang wanita yang mondar-mandir (mencari anaknya). Ketika ia melihat anaknya, ia segera meraihnya, mendekapnya ke dada, dan menyusuinya. Rasulullah ﷺ bertanya: "Menurut kalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami menjawab: "Demi Allah, ia pasti tidak akan melemparkannya ke dalam api selagi ia mampu mencegahnya." Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini sayang kepada anaknya."
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kasih sayang luar biasa seorang ibu kepada anaknya. Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai perumpamaan untuk menjelaskan bahwa rahmat Allah ﷻ kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu tersebut. Intinya, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, karena Dia Maha Pengasih dan Penyayang.

# 12
وعن أبي هريرة ، رضي اللَّهُ عنه ، قال : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لما خَلَقَ اللَّهُ الخَلْقَ ، كَتَبَ في كِتَابٍ ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ : إِنَّ رَحْمتي تَغْلِبُ غَضَبِي » . وفي روايةٍ : « غَلَبَتْ غَضَبِي » وفي روايةٍ « سَبَقَتْ غَضَبِي » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menulis dalam sebuah kitab yang berada di sisi-Nya di atas 'Arsy: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku'."
Dalam riwayat lain: "Mengalahkan kemurkaan-Ku." Dalam riwayat lain: "Mendahului kemurkaan-Ku." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa rahmat Allah Maha Luas dan mengungguli kemurkaan-Nya. Catatan ilahi di atas 'Arsy menjadi jaminan abadi bahwa kasih sayang-Nya adalah prinsip utama dalam mengatur alam semesta. Ini memberikan optimisme dan harapan besar bagi hamba-Nya untuk selalu kembali dan memohon ampunan, serta tidak berputus asa dari rahmat Allah.

# 13
وعنه قال : سمِعْتُ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وتِسْعِينَ ، وَأَنْزَلَ في الأَرْضِ جُزْءَا واحِداً ، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَراحمُ الخَلائِقُ حَتَّى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ ولَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ » . وفي روايةٍ : « إِنَّ للَّهِ تَعَالى مائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الجِنِّ والإِنْسِ وَالبَهَائمِ وَالهَوامِّ ، فَبهَا يَتَعاطَفُونَ ، وبها يَتَراحَمُونَ ، وَبها تَعْطِفُ الوَحْشُ عَلى وَلَدهَا ، وَأَخَّرَ اللَّهُ تَعالى تِسْعاً وتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بها عِبَادهُ يَوْمَ القِيَامَةِ » متفقٌ عليه . ورواهُ مسلم أَيضاً من روايةِ سَلْمَانَ الفَارِسيِّ ، رضي اللَّهُ عنه ، قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّ للَّهِ تَعَالَى ماِئَةَ رَحْمَةٍ فَمِنْها رَحْمَةٌ يَتَراحَمُ بها الخَلْقُ بَيْنَهُمْ، وَتِسْع وَتِسْعُونَ لِيَوْم القِيامَةِ » . وفي رواية « إِنَّ اللَّه تعالى خَلَقَ يَومَ خَلَقَ السَّمَواتِ والأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلى الأَرْضِ ، فَجَعَلَ مِنها في الأَرْضِ رَحْمَةً فَبِها تَعْطِفُ الوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُها عَلَى بَعْضٍ فَإِذا كانَ يَوْمُ القِيامَةِ ، أَكْمَلَها بهِذِهِ الرَّحْمَةِ » .
Terjemahan
Darinya (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Allah membagi rahmat menjadi seratus bagian. Disimpan-Nya sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya, dan diturunkan ke bumi satu bagian. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, hingga seekor kuda mengangkat kakinya karena khawatir mengenai anaknya.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah. Rahmat yang dirasakan semua makhluk di dunia ini hanyalah satu bagian dari seratus bagian rahmat-Nya. Ini mengajarkan kita untuk selalu optimis dan memohon kepada Allah, serta meneladani sifat penyayang kepada sesama makhluk, karena itu adalah cerminan dari secercah rahmat-Nya.

# 14
وعنه عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . فِيمَا يَحكِى عَن ربِّهِ ، تَبَارَكَ وَتَعَالى ، قال : « أَذنَب عبْدٌ ذَنباً ، فقالَ : اللَّهُمَّ اغفِرْ لي ذَنبي ، فقال اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعالى : أَذَنَبَ عبدِي ذنباً ، فَعلِم أَنَّ لَهُ ربًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ، وَيأْخُذُ بِالذَّنبِ ، ثُمَّ عَادَ فَأَذَنَبَ، فقال : أَيْ ربِّ اغفِرْ لي ذنبي ، فقال تبارك وتعالى : أَذنبَ عبدِي ذَنباً ، فَعَلَمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغفِرُ الذَّنبَ ، وَيَأخُذُ بِالذنْبِ ، ثُمَّ عَادَ فَأَذنَبَ ، فقال : أَي رَبِّ اغفِرْ لي ذَنبي ، فقال تَبَارَكَ وَتَعَالى : أَذنَبَ عَبدِي ذَنباً ، فعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنبَ ، وَيأْخُذُ بِالذَّنبِ ، قدَ غَفَرْتُ لِعبدي .. فَلْيَفعَلْ ما شَاءَ » متفقٌ عليه. وقـوله تعالى : « فَلْيَفْعلْ ما شَاءَ » أَي : مَا دَامَ يَفْعَلُ هَكَذا ، يُذْنِبُ وَيتُوبُ أَغْفِرُ لَهُ ، فإِنَّ التَّوبَةَ تَهِدِمُ ما قَبْلَهَا .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW tentang apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, Dia berfirman: "Seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu dia berkata: 'Ya Allah, ampunilah dosaku.' Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, dan dia tahu bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum dosa.' Kemudian dia kembali melakukan dosa, lalu berkata: 'Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.' Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, dan dia tahu bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum dosa.' Kemudian dia kembali melakukan dosa, lalu berkata: 'Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.' Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, dan dia tahu bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum dosa. Aku telah mengampuni hamba-Ku... maka lakukanlah apa yang dia kehendaki.'" (Muttafaqun 'alaih).
Dan firman-Nya: "Maka lakukanlah apa yang dia kehendaki" maksudnya: Selama dia melakukan seperti ini, berbuat dosa lalu bertaubat, Aku akan mengampuninya. Karena sesungguhnya taubat itu menghancurkan (dosa) yang sebelumnya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat dan ampunan Allah bagi hamba yang berbuat dosa lalu segera bertaubat. Intinya adalah pengakuan dan keyakinan hamba bahwa hanya Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Kuasa memberi hukuman. Allah menghargai kesadaran hamba akan sifat-Nya itu. Pelajaran utamanya adalah untuk tidak putus asa dari rahmat Allah, selama taubat dilakukan dengan ikhlas dan pengakuan yang benar.

# 15
وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « وَالَّذِي نَفْسي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذنِبُوا ، لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ ، وَجَاءَ بِقوم يُذْنِبُونَ ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّه تعالى ، فيَغْفرُ لَهُمْ رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menggantikan kalian dengan kaum yang lain yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada-Nya, lalu Dia mengampuni mereka." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya tempat salah dan dosa. Hikmah utamanya adalah Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang selalu menyadari kesalahan dan segera bertaubat. Justru, taubat dan istighfar inilah yang mendekatkan diri kepada Allah. Hadis ini bukan mendorong berbuat dosa, tetapi memberi harapan agar kita tidak putus asa dari rahmat Allah selama masih mau mengakui dosa dan memohon ampun.

# 16
وعن أبي أَيُّوبَ خَالِدِ بنِ زيد، رضي اللَّه عنه قال: سمعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: « لَوْلا أَنَّكُمْ تُذنبُونَ ، لخَلَقَ اللَّهُ خَلقاً يُذنِبونَ ، فَيَسْتَغْفِرُونَ ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid RA, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan orang lain yang berbuat dosa kemudian mengakui kesalahan kepada Allah, agar Dia mengampuni mereka." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan mencintai hamba-Nya yang bertaubat. Manusia memang tempatnya salah dan dosa, namun yang utama adalah segera memohon ampun (istighfar). Justru dalam proses mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah itulah terdapat kesempatan untuk meraih rahmat dan pengampunan-Nya yang luas.

# 17
وعن أبي هريرة ، رضي اللَّه عنه ، قال : كُنَّا قُعوداً مَع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، مَعَنا أَبُو بكْر وَعُمَرُ ، رضي اللَّه عنهما في نَفَرٍ ، فَقَامَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ بَيْن أَظْهُرنَا ، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، فَخَشَينا أَنْ يُقْتَطَعَ دُونَنَا ، فَفَزَعْنا ، فَقُمْنَا ، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزعَ ، فَخَرجتُ أَبْتَغِي رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، حَتَّى أَتَيتُ حَائِطاً لِلأَنْصَارِ وَذَكَرَ الحديث بطُوله إِلى قوله : فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « اذْهَبْ فَمَنْ لَقِيتَ وَرَاءَ هَذَا الحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَه إلاَّ اللَّه ، مُسْتَيقِناً بهَا قَلَبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, bersama kami ada Abu Bakar dan Umar RA dalam suatu kelompok. Kemudian Rasulullah SAW bangkit dari tengah-tengah kami, dan beliau lama tidak kembali, sehingga kami khawatir beliau dipisahkan dari kami. Kami pun cemas, lalu kami berdiri. Akulah orang pertama yang cemas, lalu aku keluar mencari Rasulullah SAW, hingga aku sampai di sebuah kebun milik kaum Anshar... (dan dia menyebutkan hadits panjang) sampai sabda beliau: Rasulullah SAW bersabda: "Pergilah, siapa pun yang kamu temui di balik kebun ini yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan hati yang yakin, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kecintaan dan kekhawatiran mendalam para sahabat terhadap Nabi Muhammad SAW. Kecemasan mereka ketika beliau menghilang sejenak menunjukkan betapa mereka merasa tidak bisa terpisah dari sumber petunjuk dan keberkahan. Sikap proaktif Abu Hurairah RA yang langsung mencari beliau juga mengajarkan pentingnya bersegera dalam menjaga hubungan dengan sumber ilmu dan keteladanan.

# 18
وعن عبد اللَّه بن عَمْرو بن العاص ، رضي اللَّه عنهما ، أَن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم تَلا قَوَل اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ في إِبراهِيمَ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : {رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْللْنَ كَثيراً مِنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَني فَإِنَّهُ مِنِّي} [ إبراهيم : 36 ] ، وَقَوْلَ عيسى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : {إِنْ تُعَذِّبْهُم فَإِنَّهُم عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُم فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الحَكِيمُ} [ المائدة : 118 ] ، فَرَفَعَ يَدَيْه وقال « اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي» وَبَكَى ، فقال اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : « يا جبريلُ اذْهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ ،فسلْهُ مَا يُبكِيهِ ؟ » فَأَتَاهُ جبرِيلُ فَأَخبَرَهُ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِمَا قال:وَهُو أَعْلَمُ ، فقال اللَّهُ تعالى: { يا جِبريلُ اذهَبْ إِلى مُحَمَّدٍ فَقُلْ : إِنَّا سَنُرضِيكَ في أُمَّتِكَ وَلا نَسُوؤُكَ } رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, dia berkata: Sesungguhnya Nabi SAW membacakan firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka telah menyesatkan banyak manusia. Maka barangsiapa mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku." Kemudian beliau membaca firman-Nya yang menceritakan ucapan Isa: "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan bersabda: "Ya Allah, sayangilah umatku, sayangilah umatku," lalu beliau menangis. Allah berfirman: "Wahai Jibril, Tuhanmu lebih mengetahui. Temuilah Muhammad dan tanyakan kepadanya apa yang membuatnya menangis?" Jibril pun datang menemui beliau dan memberitahukan apa yang difirmankan-Nya, padahal Dia Maha Mengetahui. Kemudian Allah berfirman: "Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha (senang) dalam urusan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kasih sayang dan kepedulian Nabi Muhammad ﷺ yang sangat besar kepada umatnya. Beliau meneladani doa Nabi Ibrahim dan Nabi Isa yang penuh ketundukan kepada Allah, lalu memohon dengan penuh harap dan pengulangan, "Ya Allah, umatku, umatku." Inti pelajarannya adalah seorang pemimpin atau pendakwah harus memiliki rasa tanggung jawab dan cinta yang mendalam terhadap orang yang dipimpinnya, serta senantiasa berdoa untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

# 19
وعن مُعَاذِ بنِ جَبَلٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال كُنتُ رِدْفَ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم على حِمارٍ فقال : « يَا مُعَاذُ هَل تَدري مَا حَقُّ اللَّه عَلى عِبَادِهِ ، ومَا حَقُّ الْعِبادِ عَلى اللَّه ؟ قلت : اللَهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قال : « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَن يَعْبُدُوه ، وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً ، وَحقَّ العِبادِ عَلى اللَّهِ أَنْ لا يُعَدِّبَ مَنْ لا يُشِركُ بِهِ شَيْئاً ، فقلت : يا رسولُ اللَّهِ أَفَلا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قال : « لا تُبَشِّرْهُم فَيَتَّكِلُوا » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Mu'adz bin Jabal RA, dia berkata: Aku pernah membonceng di belakang Nabi SAW, lalu beliau bertanya: "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang akan dipenuhi Allah?" Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak hamba-hamba-Nya yang akan dipenuhi Allah adalah bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau menjawab: "Jangan kamu beritahukan mereka, agar mereka tidak bersandar (hanya) padanya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan inti tauhid dan janji Allah. Hak Allah atas hamba adalah beribadah hanya kepada-Nya tanpa syirik. Sebagai balasan, hak hamba yang dipenuhi Allah adalah janji untuk tidak mengazab siapa pun yang menjaga tauhidnya. Ini menunjukkan keadilan dan rahmat Allah, sekaligus menegaskan bahwa keselamatan abadi bergantung pada kemurnian aqidah.

# 20
وعن البَرَاءِ بنِ عازبٍ ، رضي اللَّه عنهما ، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « المُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ في القَبرِ يَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّه ، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللَّه ، فذلك قولهُ تعالى : {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالقَوْل الثَّابِتِ في الحَياةِ الدُّنيَا وفي الآخِرَةِ } [ إبراهيم : 27 ] متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Al-Bara' bin 'Azib RA, dia berkata: Nabi SAW bersabda: "Seorang muslim, ketika ditanya di dalam kubur, dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah makna firman Allah: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.'" (Ibrahim: 27).

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan ujian pertama di alam barzakh (kubur) berupa pertanyaan tentang tauhid dan kerasulan. Jawaban seorang muslim berasal dari keyakinan dan pengamalan kalimat syahadat selama hidup di dunia. Dengan demikian, kehidupan dunia adalah ladang menanam keimanan, yang buahnya berupa keteguhan saat menghadapi pertanyaan di akhirat, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ibrahim ayat 27.

# 21
وعن أَنسٍ ، رضي اللَّهُ عنه عن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ الكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً ، أُطعِمَ بِهَا طُعمَةً مِنَ الدُّنيَا ، وَأَمَّا المُؤمِن ، فَإِنَّ اللَّه تعـالى يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ في الآخِرَةِ ، وَيُعْقِبُهُ رِزْقاً في الدُّنْيَا عَلى طَاعَتِهِ » . وفي روايةٍ : « إِنَّ اللَّه لا يَظْلِمُ مُؤْمِناً حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا في الدُّنْيَا ، وَيُجْزَى بِهَا في الآخِرَة، وَأَمَّا الْكَافِرُ ، فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ للَّهِ تعالى ، في الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلى الآخِرَة ، لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Anas RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya orang kafir, jika dia mengerjakan suatu amal kebajikan, dia diberi balasannya di dunia. Adapun orang beriman, Allah menyimpan pahalanya untuknya di akhirat, dan memberinya rezeki di dunia sebagai ganjaran atas ketaatannya."
Dalam riwayat lain: "Allah tidak menzalimi orang beriman terhadap amal kebajikannya. Dia memberinya pahala di dunia dan membalasnya dengan pahala di akhirat. Adapun orang kafir, dia diberi ganjaran amal kebajikan yang dilakukannya di dunia, sehingga ketika di akhirat, tidak ada lagi pahala yang disediakan baginya." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan perbedaan balasan Allah bagi mukmin dan kafir. Amal baik orang kafir hanya dibalas dengan kenikmatan duniawi, sedangkan pahalanya habis. Bagi mukmin, amal baiknya diganjar dua kali: diberi kelapangan rezeki di dunia dan pahala utama yang disimpan utuh di akhirat. Ini menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

# 22
وعن جابرٍ ، رضي اللَّه عنه قال : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ » رواه مسلم. « الْغَمْرُ » الْكَثِيرُ .
Terjemahan
Dari Jabir RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang mengalir deras di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, dia mandi darinya setiap hari lima kali." Diriwayatkan oleh Muslim.
"Al-Ghamru" artinya banyak.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa shalat lima waktu berfungsi seperti air yang menyucikan. Sebagaimana mandi membersihkan kotoran jasmani, shalat yang dikerjakan dengan khusyuk dan tepat waktu akan membersihkan dosa-dosa dan kesalahan rohani yang menempel dalam jiwa seorang muslim setiap harinya. Dengan demikian, ibadah shalat menjadi mekanisme penyucian hati yang terus menerus dan berulang, menjaga kesegaran iman.

# 23
وعن ابنِ عباسٍ ، رضي اللَّه عنهما ، قال : سمعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : «مَا مِنْ رَجُلٍ مُسلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنازتِه أَرَبَعُونَ رَجُلاً لا يُشرِكُونَ بِاللَّهِ شَيئاً إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فيه»رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Seorang muslim yang meninggal, lalu dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang muslim yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya Allah akan mengizinkan mereka untuk memberi syafaat kepadanya." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan shalat jenazah berjamaah dan kekuatan syafaat umat. Syaratnya, yang menshalatkan harus 40 orang muslim yang bertauhid (tidak syirik). Ini mendorong solidaritas dengan menyegerakan dan menghadiri shalat jenazah, karena itu menjadi sebab ampunan dan syafaat bagi si mayit melalui doa dan permohonan ampun dari banyak orang yang bertauhid.

# 24
وعن ابنِ مسعودٍ ، رضي اللَّهُ عنه ، قال : كُنَّا مَعَ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في قُبَّةٍ نَحواً مِنْ أَرَبعِينَ ، فقال : « أَتَرضَونَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ ؟ » قُلْنَا: نَعَم ، قال : «أَتَرضَونَ أَن تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ ؟ » قُلْنَا : نَعَم ، قال: « وَالَّذِي نَفسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لأَرجُو أَنْ تَكُونُوا نِصفَ أَهْلِ الجَنَّة ، وَذَلِك أَنَّ الجَنَّةَ لا يَدخُلُهَا إِلاَّ نَفسٌ مُسلِمَةٌ ، وَمَا أَنتُمْ في أَهْلِ الشِّركِ إِلاَّ كَالشَّعرَةِ البَيَضَاءِ في جلدِ الثَّورِ الأَسودِ ، أَوْ كَالشَّعَرَةِ السَّودَاءِ في جلدِ الثَّورِ الأَحْمَرِ » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud RA, dia berkata: Pada suatu hari kami bersama Rasulullah SAW dalam sebuah kemah yang berjumlah sekitar 40 orang. Kemudian beliau bersabda: "Apakah kalian senang jika kalian menjadi seperempat penghuni surga?" Kami menjawab: "Ya." Beliau bertanya lagi: "Apakah kalian senang jika kalian menjadi sepertiga penghuni surga?" Kami menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian (umatku) menjadi separuh penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh orang muslim. Dan kalian, jika dibandingkan dengan orang-orang musyrik, bagaikan sehelai bulu putih pada kulit sapi hitam, atau sehelai bulu hitam pada kulit sapi putih." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan dan jumlah besar umat Islam yang akan masuk surga dibandingkan penganut syirik. Sabda Nabi yang diawali dengan harapan menjadi separuh penghuni surga, lalu ditegaskan dengan sumpah, mengandung motivasi dan kabar gembira tentang besarnya porsi umat ini. Perumpamaan kaum muslimin di tengah kaum musyrik seperti sehelai rambut di badan menegaskan betapa kecilnya jumlah orang kafir yang selamat. Intinya, hadis ini memacu keimanan dan menumbuhkan optimisme bagi seorang muslim.

# 25
وعن أبي موسى الأَشعري ، رضي اللَّه عنه ، قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيامَةِ دَفَعَ اللَّهُ إِلى كُلِّ مُسْلِمٍ يَهُوديًّا أو نَصْرَانِيّآً فَيَقُولُ : هَذَا فِكَاكُكَ مِنَ النَّارِ» . وفي رواية عنهُ عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيامَةِ نَاسٌ مِنَ المُسْلِمِين بِذُنُوبٍ أَمْثَالِ الجبَالِ يَغفِرُهَا اللَّهُ لهمُ » رواه مسلم . قوله : « دَفَعَ إِلى كُلِّ مُسْلِمٍ يهودِيًّا أَوْ نَصرانِياً فَيَقُولُ : هَذا فكَاكُكَ مِنَ النَّارِ » معْنَاهُ مَا جَاءَ في حديث أبي هريرة ، رضي اللَّهُ عنهُ : « لِكُلِّ أَحَدٍ مَنزِلٌ في الجَنَّةِ ، ومَنزِلٌ في النَّارِ، فالمُؤْمِن إِذَا دَخَلَ الجنَّةَ خَلَفَهُ الكَافِرُ في النَّارِ ، لأَنَّهُ مُسْتَحِق لذلكَ بكُفْرِه » وَمَعنى «فكَاكُكَ » : أَنَّكَ كُنْتَ مُعَرَّضاً لِدُخُولِ النَّارِ ، وَهَذا فِكَاكُكَ ، لأَنَّ اللَّه تعالى قَدَّرَ لِلنَّارِ عدَداً يَمْلَؤُهَا ، فإِذا دَخَلَهَا الكُفَّارُ بِذُنُوبِهمْ وَكُفْرِهِمْ ، صَارُوا في مَعنى الفِكَاك لِلمُسلِمِينَ . واللَّه أَعلم .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Pada hari kiamat, Allah memberikan kepada setiap muslim seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Dia berfirman: 'Inilah tebusanmu dari neraka.'"
Dalam riwayat lain darinya, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Pada hari kiamat akan datang sekelompok orang dari kaum muslimin dengan dosa-dosa sebesar gunung, lalu Allah mengampuni mereka." Diriwayatkan oleh Muslim.
Sabda beliau: "Allah memberikan kepada setiap muslim seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Dia berfirman: 'Inilah tebusanmu dari neraka'" maknanya adalah sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah RA: "Setiap orang memiliki tempat di surga dan tempat di neraka. Maka orang beriman, ketika masuk surga, orang kafir menggantikannya di neraka, karena dia memang berhak atas neraka dengan kekafirannya." Makna "Fikakuka" (tebusanmu) adalah: Kamu sebenarnya terancam masuk neraka, dan ini adalah tebusanmu. Karena Allah Ta'ala telah menentukan jumlah tertentu untuk neraka yang akan memenuhinya. Maka ketika orang-orang kafir memasukinya dengan dosa dan kekafiran mereka, mereka menjadi tebusan bagi kaum muslimin. Wallahu a'lam.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keutamaan Islam dan besarnya rahmat Allah di akhirat. Bagi seorang muslim, keislamannya adalah penyelamat. Perumpamaan "tebusan" bukan berarti menghina atau menyakiti non-Muslim di dunia, tetapi menunjukkan bahwa kesyirikan dan kekafiran adalah kebinasaan. Hikmahnya adalah agar kita selalu bersyukur atas nikmat Islam, serta tidak putus asa dari ampunan Allah, sebab dosa sebesar gunung pun bisa diampuni-Nya.

# 26
وعن ابن عمَر رضي اللَّه عنهما قال : سمِعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « يُدْنَى المُؤْمِنُ يَومَ القِيَامَةِ مِنُ رَبِّهِ حتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيهِ ، فَيُقَرِّرَهُ بِذُنُوبِه ، فيقولُ: أَتَعرفُ ذنبَ كَذا؟ أَتَعرفُ ذَنبَ كَذَا ؟ فيقول : رَبِّ أَعْرِفُ ، قال : فَإِنِّي قَد سَتَرتُهَا عَلَيكَ في الدُّنيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَومَ ، فَيُعطَى صَحِيفَةَ حسَنَاته » متفقٌ عليه . كَنَفُهُ : سَتْرُهُ وَرَحْمَتُهُ .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar RA, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Pada hari kiamat, seorang mukmin didekatkan kepada Tuhannya, lalu Dia menaunginya dengan naungan-Nya, dan mengakui dosa-dosanya. Dia berfirman: 'Apakah kamu mengakui dosa ini? Apakah kamu mengakui dosa itu?' Dia menjawab: 'Wahai Tuhanku, aku mengakui.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.' Kemudian dia diberikan catatan amal kebaikannya." (Muttafaqun 'alaih).
"Kanafuhu" artinya naungan dan rahmat-Nya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan kemurahan Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman di akhirat. Intinya adalah betapa Allah Maha Menutupi (as-Sattar) aib dan dosa di dunia, lalu mengampuninya dengan penuh kasih di hari perhitungan. Ini menjadi motivasi untuk selalu bertaubat dan berharap rahmat-Nya, serta mengingatkan kita untuk menutupi aib sesama muslim.

# 27
وعن ابنِ مسعودٍ رضي اللَّه عنه أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَة ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فأَخبره ، فأَنزل اللَّهُ تعالى : { وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرََفي النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنَ الَّليْلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ } [ هود : 114 ] فقال الرجل : أَلي هذا يا رسولَ اللَّه ؟ قال : «لجَميعِ أُمَّتي كُلهِمْ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud RA, dia berkata: Seorang laki-laki telah mencium seorang perempuan, kemudian dia datang menemui Nabi SAW dan menceritakan hal itu kepada beliau. Maka Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: "Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (shalat Subuh, Zhuhur, dan Ashar) dan pada bagian permulaan malam (shalat Maghrib dan Isya). Sesungguhnya perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan." (Hud: 114). Laki-laki itu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untukku?" Beliau menjawab: "Untuk seluruh umatku." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat Allah dan menunjukkan salah satu cara menghapus dosa kecil, seperti ciuman tanpa ikatan nikah. Hikmahnya, Allah mensyariatkan shalat lima waktu bukan hanya sebagai ibadah wajib, tetapi juga sebagai penghapus dosa-dosa kecil bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW, selama dijauhi dosa besar. Kisah ini juga mengajarkan pentingnya segera bertaubat dan kembali kepada Allah setelah berbuat salah.

# 28
وعن أَنسٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : جَاءَ رَجُلٌ إِلى النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يا رسولَ اللَّهِ أَصَبْتُ حدّاً ، فَأَقِمْهُ عَلَيَّ ، وَحَضَرتِ الصَّلاةُ فَصَلَّى مَعَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَلَمَّا قَضَى الصَّلاة قال : يا رسول اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ حدًّا ، فأَقِمْ فيَّ كتَابَ اللَّهِ ، قال : « هَلْ حَضَرْتَ مَعَنَا الصَّلاَةَ ؟ » قال : نَعم : قال«قد غُفِرَ لَكَ » متفقٌ عليه . وقوله : « أَصَبْتُ حَدًّا » معناه : مَعْصِيَةً تُوجِبُ التَّعْزير ، وَليس المُرَادُ الحَدَّ الشَّرْعِيَّ الْحقيقيَّ كَحَدِّ الزِّنَا والخمر وَغَيْرِهمَا ، فَإِنَّ هَذِهِ الحُدودَ لا تَسْقُطُ بِالصلاةِ، ولا يجوزُ للإمام تَرْكُهَا .
Terjemahan
Dari Anas RA, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah melakukan pelanggaran (yang mengharuskan hukuman), maka jatuhkanlah hukuman itu atasku." Kemudian shalat tiba, lalu dia shalat bersama Rasulullah SAW. Setelah selesai shalat, dia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan pelanggaran, maka tegakkanlah aturan Allah padaku." Beliau bertanya: "Apakah kamu tadi shalat bersama kami?" Dia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Sungguh kamu telah diampuni." (Muttafaqun 'alaih).
Ucapan "Ashobtu haddan" maksudnya: Sebuah maksiat yang mengharuskan hukuman ta'zir, bukan maksudnya hukuman hudud syar'i yang sebenarnya seperti hukuman zina, minum khamr, dan lainnya. Karena hukuman-hukuman hudud semacam itu tidak gugur dengan shalat, dan tidak boleh bagi imam untuk meninggalkannya.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah dan besarnya pengampunan Allah. Seorang yang telah berdosa dan pantas dihukum justru diampuni dosanya oleh Rasulullah SAW setelah diketahui ia telah ikut shalat berjamaah. Ini mengajarkan bahwa shalat berjamaah, dengan syarat-syaratnya, dapat menjadi sebab terhapusnya dosa dan ditinggikannya kedudukan seorang hamba di sisi Allah.

# 29
وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّ اللَّه لَيَرضي عن الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكلَةَ، فَيحْمَدُهُ عليها ، أَوْ يَشْربَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمدُهُ عَليها » رواه مسلم. « الأَكْلَةُ » بفتح الهمزة وهي المرَّةُ الواحدةُ مِنَ الأَكلِ كَالْغَدْوةِ والْعَشْوَةِ ، واللَّه أعلم .
Terjemahan
Dari Anas RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang memakan sesuap makanan lalu memuji-Nya atas makanan itu, atau meminum seteguk minuman lalu memuji-Nya atas minuman itu." Diriwayatkan oleh Muslim.
"Al-Aklah" dengan fathah hamzah, artinya sekali makan, seperti "al-ghadwah" (sekali di pagi hari) dan "al-'asywah" (sekali di sore hari). Wallahu a'lam.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa rasa syukur dalam hal sekecil apapun sangat dicintai Allah. Ridha-Nya dapat diraih dengan memuji dan berterima kasih kepada-Nya atas nikmat sehari-hari yang sering dianggap remeh, seperti sesuap makanan atau seteguk minuman. Dengan demikian, setiap aktivitas harian dapat bernilai ibadah jika disertai dengan kesadaran dan syukur.

# 30
وعن أبي موسى ، رضي اللَّه عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : « إِنَّ اللَّه تعالى، بَبْسُطُ يَدَهُ باللَّيلِ لَيَتُوبَ مُسيِءُ النَّهَارِ ، وَيَبْسُطُ يَدهُ بِالنَّهارِ ليَتُوبَ مُسيءُ اللَّيلِ حتى تَطْلُعَ الشمسُ مِنْ مَغْرِبَها » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari RA, dia berkata: Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari. Dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari barat." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keluasan rahmat dan kesediaan Allah SWT untuk menerima taubat hamba-Nya setiap saat, siang dan malam. Pintu taubat terbuka lebar tanpa henti, menunjukkan sifat Allah Yang Maha Pengampun. Namun, kesempatan ini memiliki batas akhir, yaitu ketika tanda Kiamat besar (matahari terbit dari barat) muncul, saat itulah taubat tidak lagi diterima.

# 31
وعن أبي نجيحٍ عَمرو بن عَبْسَةَ بفتح العين والباءِ السُّلَمِيِّ ، رضي اللَّه عنه قال : كنتُ وَأَنَا في الجَاهِلِيَّةِ أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلى ضَلالَةٍ ، وَأَنَّهُمْ لَيْسُوا على شيءٍ ، وَهُمْ يَعْبُدُونَ الأَوْثَانَ ، فَسَمِعْتُ بِرَجُلٍ بِمكَّةَ يُخْبِرُ أَخْبَاراً ، فَقَعَدْتُ عَلى رَاحِلَتي ، فَقَدِمْتُ عَلَيْهِ، فَإِذَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُسْتَخْفِياً جُرَءَاءُ عليهِ قَوْمُهُ ، فَتَلَطَّفْتُ حَتَّى دَخلْتُ عَلَيهِ بِمَكَّة ، فَقُلْتُ له : ما أَنَتَ ؟ قال : « أَنا نَبي » قلتُ : وما نبي ؟ قال : « أَرْسَلِني اللَّه » قلت: وبِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسلَكَ ؟ قال : « أَرْسَلني بِصِلَةِ الأَرْحامِ ، وكسرِ الأَوْثان ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّه لايُشْرَكُ بِهِ شَيْء » قلت : فَمنْ مَعَكَ عَلى هَذا ؟ قال : « حُر وَعَبْدٌ » ومعهُ يوْمَئِذٍ أَبو بكر وبلالٌ رضي اللَّه عنهما . قلت : إِنِّي مُتَّبعُكَ ، قال إِنَّكَ لَنْ تَستطِيعَ ذلكَ يَوْمَكَ هَذا . أَلا تَرى حَالى وحالَ النَّاسِ ؟ وَلَكِنِ ارْجعْ إِلى أَهْلِكَ فَإِذا سمعْتَ بِي قد ظَهَرْتُ فَأْتِني » قال فَذهبْتُ إِلى أَهْلي ، وَقَدِمَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم المَدينَةَ . وكنتُ في أَهْلي . فَجَعَلْتُ أَتَخَبَّرُ الأَخْبَارَ ، وَأَسْأَلُ النَّاسَ حينَ قَدِمَ المدينة حَتَّى قَدِمَ نَفرٌ مِنْ أَهْلي المدينةَ ، فقلتُ : ما فَعَلَ هذا الرَّجُلُ الذي قدِم المدينةَ ؟ فقالوا : النَّاسُ إِليهِ سِراعٌ وَقَدْ أَرَادَ قَوْمُه قَتْلَهُ ، فَلَمْ يَستْطَيِعُوا ذلِكَ ، فَقَدِمتُ المدينَةَ فَدَخَلتُ عليهِ ، فقلتُ : يا رسولَ اللَّه أَتَعرِفُني ؟ قال : «نَعم أَنتَ الَّذي لَقيتنَي بمكةَ » قال : فقلتُ : يا رسول اللَّه أَخْبرني عمَّا عَلَّمكَ اللَّه وَأَجْهَلُهُ، أَخبِرنْي عَنِ الصَّلاَةِ؟ قال : « صَلِّ صَلاَةَ الصُّبحِ ، ثُمَّ اقْصُرْ عَنِ الصَّلاةِ حَتَّى تَرتفَعِ الشَّمْسُ قِيدَ رُمْحٍ ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حين تطلع بَيْنَ قَرْنَي شَيْطَانٍ ، وَحِينئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الكفَّارُ ، ثُمَّ صَل ، فَإِنَّ الصَّلاَةَ مشهودة محضورة . حتى يستقِلَّ الظِّلُّ بالرُّمحِ ، ثُمَّ اقْصُر عن الصَّلاةِ، فإِنه حينئذٍ تُسجَرُ جَهَنَّمُ ، فإِذا أَقبلَ الفَيء فصَلِّ ، فإِنَّ الصَّلاةَ مَشهودةٌ محضورة حتى تُصَلِّيَ العصرَ ثم اقْصُر عن الصلاةِ حتى تَغْرُبَ الشمسُ ، فإِنها تُغرُبُ بين قَرنيْ شيطانٍ ، وحينئذٍ يَسْجُدُ لها الكُفَّارُ » . قال : فقلت : يا نَبِيَّ اللَّه ، فالوضوءُ حدّثني عنه ؟ فقال : « ما منْكُمْ رجُل يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ ، فَيَتَمَضْمضُ ويستنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ ، إِلاَّ خَرَّتْ خطايَا وجههِ وفيهِ وخياشِيمِهِ . ثم إِذا غَسَلَ وجهَهُ كما أَمَرَهُ اللَّه إِلاَّ خرّت خطايا وجهِهِ مِنْ أَطرافِ لحْيَتِهِ مع الماءِ . ثم يغسِل يديهِ إِلى المِرفَقَينِ إِلاَّ خرّت خطايا يديه من أَنامِلِهِ مع الماءِ ، ثم يَمْسحُ رَأْسَهُ ، إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ من أَطرافِ شَعْرهِ مع الماءِ ، ثم يَغْسِل قَدَمَيهِ إِلى الكَعْبَيْنِ ، إلاَّ خَرت خطايا رِجْلَيه من أَنَامِلِهِ مَع الماءِ ، فإِن هو قامَ فصلَّى ، فحمِدِ اللَّه تعالى ، وأَثْنَى عليهِ وَمجَّدَهُ بالذي هو له أَهل ،وَفَرَّغَ قلبه للَّه تعالى . إِلا انصَرَفَ من خطيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يومَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ». فحدّثَ عَمرو بنُ عَبسةَ بهذا الحديثَ أَبَا أُمَامَة صاحِبِ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال له أبو أمامة: يا عَمْروُ بن عَبْسَةَ ، انظر ما تقولُ . في مقامٍ واحِدٍ يُعطى هذا الرَّجُلُ ؟ فقال عَمْرو : يا أَبَا أُمامةَ . فقد كِبرَتْ سِنِّي ، ورَقَّ عَظمِي ، وَاقْتَرَبَ أَجَلي ، وما بي حَاجة أَنْ أَكذِبَ على اللَّهِ تعالى ، ولا على رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لو لم أَسْمَعْهُ من رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِلاَّ مَرَّةً أَوْ مَرْتَيْن أو ثلاثاً ، حَتَّى عَدَّ سبعَ مَراتٍ ، ما حَدَّثتُ أَبداً بِهِ ، ولكنِّي سمِعتُهُ أَكثَرَ من ذلك رواه مسلم . قوله : « جُرَءَاءُ عليهِ قومُهُ » : هو بجيمٍ مضمومة وبالمد على وزنِ عُلماء ، أَي : جاسِرُونَ مُستَطِيلونَ غيرُ هائِبينَ . هذه الرواية المشهورةُ ، ورواه الحُمَيْدِي وغيرهُ : « حِراء» بكسر الحاءِ المهملة . وقال : معناه غِضَابُ ذُوُو غَمٍّ وهمٍّ ، قد عيلَ صبرُهُمْ بهِ ، حتى أَثَّرَ في أَجسامِهِم ، من قوَلِهم : حَرَىَ جِسمُهُ يَحْرَى، إِذَا نقصَ مِنْ أَلمٍ أَوْ غم ونحوه ، والصَّحيحُ أَنَهُ بالجيمِ . وقوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « بين قَرنَي شيطانٍ » أَيْ : ناحيتي رأسهِ . والمرادُ التَّمثِيلُ . معناهُ : أَنه حينئذٍ يَتَحرَّكُ الشَّيطانُ وشيِعتهُ . وَيَتَسَلَّطُونَ . وقوله : « يُقَرِّبُ وَضُوءَه » معناه : يُحْضِرُ الماءَ الذي يَتَوَضَّأُ بِه. وقوله :« إِلاَّ خَرّتْ خَطاياهُ » هو بالخاءِ المعجمة : أَيْ سقطَت . ورواه بعضُهُم . « جرتْ » بالجيم . والصحيح بالخاءِ ، وهو رواية الجُمهور . وقوله : « فَيَنْتَثرُ » أَيْ : يَستَخرجُ ما في أَنفه مِنْ أَذَى ، والنَّثرَةُ : طرَفُ الأَنفِ .
Terjemahan
Dari Abu Najih 'Amr bin 'Abasah As-Sulami RA, dia berkata: Dahulu, pada masa jahiliyah, aku mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan, dan mereka tidak berada di atas sesuatu (yang benar). Mereka menyembah berhala. Kemudian aku mendengar ada seorang laki-laki di Makkah yang menyampaikan berita-berita (tentang kenabian). Lalu aku naik kendaraanku dan mendatanginya. Ternyata dia adalah Rasulullah SAW yang saat itu bersembunyi, karena kaumnya masih memusuhinya. Aku pun berusaha dengan hati-hati hingga bisa menemuinya di Makkah. Aku bertanya: "Siapakah engkau?" Beliau menjawab: "Aku seorang nabi." Aku bertanya: "Apa itu nabi?" Beliau menjawab: "Allah mengutusku." Aku bertanya: "Dengan apa engkau diutus?" Beliau menjawab: "Aku diutus untuk menyambung silaturahmi, menghancurkan berhala-berhala, dan agar Allah disembah secara tunggal, tidak disekutukan dengan sesuatu pun." Aku bertanya: "Siapa yang mengikutimu dalam hal ini?" Beliau menjawab: "Seorang merdeka dan seorang budak." Saat itu bersama beliau ada Abu Bakar dan Bilal RA. Aku berkata: "Sesungguhnya aku akan mengikutimu." Beliau bersabda: "Sesungguhnya kamu tidak akan mampu melakukan itu pada harimu ini. Tidakkah kamu melihat keadaanku dan keadaan manusia? Tetapi kembalilah kepada keluargamu, dan jika kamu mendengar aku telah menang (berhasil), maka datanglah kepadaku." Dia berkata: Maka aku pun pergi kepada keluargaku. Kemudian Rasulullah SAW tiba di Madinah, dan aku masih bersama keluargaku. Aku pun mencari-cari berita dan bertanya kepada orang-orang ketika beliau tiba di Madinah, hingga sekelompok orang dari keluargaku datang ke Madinah. Aku bertanya: "Apa yang dilakukan oleh laki-laki yang datang ke Madinah itu?" Mereka menjawab: "Orang-orang bergegas mendatanginya. Kaumnya telah berusaha membunuhnya, tetapi mereka tidak mampu." Maka aku pergi ke Madinah dan menemuinya. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenaliku?" Beliau bersabda: "Ya, kamu adalah orang yang menemuiku di Makkah." Dia berkata: Kemudian aku berkata: "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang apa yang Allah ajarkan kepadanya dan aku tidak mengetahuinya. Beritahukanlah kepadaku tentang shalat?" Beliau bersabda: "Shalatlah shalat Subuh, kemudian tahanlah diri dari shalat hingga matahari terbit setinggi satu tombak. Karena sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah, karena shalat itu disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat) hingga bayangan tombak condong (menjelang Zhuhur). Kemudian tahanlah diri dari shalat, karena saat itu neraka Jahim dinyalakan. Jika bayangan telah condong (setelah Zhuhur), maka sh

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan pencarian hakikat seorang pencari kebenaran di masa jahiliyah. Ia menyadari kesesatan kaumnya dan aktif mencari petunjuk, yang mengantarkannya kepada Rasulullah SAW. Pelajarannya adalah bahwa Allah akan membimbing siapa saja yang tulus mencari kebenaran, meski dalam kondisi penuh risiko dan tantangan. Kisah ini juga menunjukkan ketabahan dakwah Rasulullah di awal Islam.

# 32
وعن أبي موسى الأشعري رضي اللَّه عنه ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «إِذا أَرادَ اللَّه تعالى ، رحمةَ أُمَّةٍ ، قَبضَ نبيَّهَا قَبلَها ، فجعلَهُ لها فَرَطاً وسلَفاً بين يَدَيها ، وإذا أرادُ هَلَكةَ أُمَّةٍ ، عذَّبها ونبيُّهَا حَيُّ ، فَأَهْلَكَهَا وهوَ حَيُّ ينظُرُ ، فَأَقَرَّ عينَهُ بِهلاكها حين كذَّبوهُ وعصَوا أَمْرَهُ » رواه مسلم . المُعْجَمَةِ ، أَي : غَيْرَ مختُونِينَ .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: 'Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia menyegerakan hukumannya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, maka Dia menahan (hukuman atas) dosanya hingga Dia membalasnya di hari kiamat.' (HR. Tirmidzi, hasan gharib)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan hikmah di balik wafatnya seorang nabi. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi suatu umat, Nabi-Nya diwafatkan terlebih dahulu sebagai pendahulu dan pemberi syafaat. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, mereka diazab bersama Nabi yang masih hidup menyaksikannya, sebagai balasan karena mendustakan dan mendurhakainya. Ini menunjukkan betapa beratnya dosa mengingkari risalah kenabian.