Kitab 1 · Bab 65
Mengingat Kematian dan Mengurangi Angan-angan yang Panjang dan Berlebihan
✦ 13 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ كل نفس ذائقة الموت، وإنما توفون أجوركم يوم القيامة، فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز، وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور ﴾ .سورة أل عمران(185)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (Ali 'Imran: 185)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian bagi setiap jiwa, dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara yang menipu. Kemenangan sejati adalah ketika seorang hamba dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga pada hari Kiamat. Oleh karena itu, fokus utama manusia seharusnya adalah mengumpulkan bekal amal shaleh untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian bagi setiap jiwa, dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara yang menipu. Kemenangan sejati adalah ketika seorang hamba dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga pada hari Kiamat. Oleh karena itu, fokus utama manusia seharusnya adalah mengumpulkan bekal amal shaleh untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat.
# 2
وقال تعالى: ﴿ وما تدري نفس ماذا تكسب غداً، وما تدري نفس بأي أرض تموت ﴾ .سورة لقمان(34)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman: 34)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tentang masa depan, termasuk rezeki dan ajal, adalah hak prerogatif Allah semata. Manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan di mana ia akan mengakhiri hidupnya. Pelajaran utamanya adalah agar manusia senantiasa bersandar dan bertawakal hanya kepada Allah, serta selalu berusaha dan beramal baik setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirnya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tentang masa depan, termasuk rezeki dan ajal, adalah hak prerogatif Allah semata. Manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan di mana ia akan mengakhiri hidupnya. Pelajaran utamanya adalah agar manusia senantiasa bersandar dan bertawakal hanya kepada Allah, serta selalu berusaha dan beramal baik setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirnya.
# 3
وقال تعالى: ﴿ فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة، ولا يستقدمون ﴾ .سورة الأعراف(34)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Dan apabila ajal mereka tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (Al-A'raf: 34)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas ajal manusia. Waktu kematian telah ditetapkan dan tidak dapat diundur atau dimajukan sedikit pun. Pelajaran utamanya adalah agar manusia senantiasa waspada dan mempersiapkan diri dengan amal shaleh sebelum ajal tiba, serta berserah diri kepada ketentuan-Nya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas ajal manusia. Waktu kematian telah ditetapkan dan tidak dapat diundur atau dimajukan sedikit pun. Pelajaran utamanya adalah agar manusia senantiasa waspada dan mempersiapkan diri dengan amal shaleh sebelum ajal tiba, serta berserah diri kepada ketentuan-Nya.
# 4
وقال تعالى: ﴿ يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر اللَّه، ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون، وأنفقوا مما رزقناكم من قبل أن يأتي أحدكم الموت فيقول: رب لولا أخرتني إلى أجل قريب فأصدق وأكن من الصالحين، ولن يؤخر اللَّه نفساً إذا جاء أجلها، والله خبير بما تعملون ﴾ .سورة المنافقين(9-11)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.' Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila ajalnya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Al-Munafiqun: 9-11)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan orang beriman agar tidak terlena oleh harta dan anak sehingga melalaikan kewajiban berdzikir dan taat kepada Allah. Perintah berinfak segera ditegaskan sebelum ajal tiba, karena penyesalan di akhirat tidak berguna lagi. Intinya, kehidupan dunia dan segala isinya adalah ujian; kesuksesan sejati adalah dengan mengutamakan Allah dan amal shaleh sebelum kematian yang pasti datang.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan orang beriman agar tidak terlena oleh harta dan anak sehingga melalaikan kewajiban berdzikir dan taat kepada Allah. Perintah berinfak segera ditegaskan sebelum ajal tiba, karena penyesalan di akhirat tidak berguna lagi. Intinya, kehidupan dunia dan segala isinya adalah ujian; kesuksesan sejati adalah dengan mengutamakan Allah dan amal shaleh sebelum kematian yang pasti datang.
# 5
وقال تعالى: ﴿ حتى إذا جاء أحدهم الموت قال: رب ارجعون لعلي أعمل صالحاً فيما تركت. كلا إنها كلمة هو قائلها، ومن ورائهم برزخ إلى يوم يبعثون، فإذا نفخ في الصور فلا أنساب بينهم يومئذ ولا يتساءلون. فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون، ومن خفت موازينه فأولئك الذين خسروا أنفسهم في جهنم خالدون، تلفح وجوههم النار، وهم فيها كالِحُون. ألم تكن آياتي تتلى عليكم فكنتم بها تكذبون! ﴾ إلى قوله تعالى ﴿ قال كم لبثتم في الأرض عدد سنين؟ قالوا: لبثنا يوماً أو بعض يوم فاسأل العادين. قال: إن لبثتم إلا قليلاً لو أنكم كنتم تعلمون، أفحسبتم أنما خلقناكم عبثاً وأنكم إلينا لا ترجعون؟! ﴾ .سورة المؤمنون(99-115)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (pemisah) sampai hari mereka dibangkitkan. Maka apabila sangkakala ditiup, tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula saling bertanya. Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, telah dikalahkan nasib sial kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari (neraka) ini. Jika kami kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.' Dia (Allah) berfirman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah Pemberi rahmat yang terbaik.' Tetapi kamu menjadikan mereka bahan ejekan, sehingga (kesibukan)mu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu menertawakan mereka. Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menang.' Dia (Allah) berfirman, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung.' Dia (Allah) berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, sekiranya kamu benar-benar mengetahui. Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?'" (Al-Mu'minun: 99-115)
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan penyesalan manusia saat sakaratul maut yang sudah terlambat, di mana permintaan untuk dikembalikan ke dunia ditolak. Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat dipisahkan oleh barzakh yang tak bisa ditembus. Di akhirat, segala hubungan duniawi terputus dan amal perbuatanlah yang ditimbang; yang berat timbangannya beruntung, sedangkan yang ringan merugi dan kekal di Neraka. Intinya, peringatan agar tidak menunda-nunda taubat dan beramal shaleh sebelum ajal tiba.
Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan penyesalan manusia saat sakaratul maut yang sudah terlambat, di mana permintaan untuk dikembalikan ke dunia ditolak. Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat dipisahkan oleh barzakh yang tak bisa ditembus. Di akhirat, segala hubungan duniawi terputus dan amal perbuatanlah yang ditimbang; yang berat timbangannya beruntung, sedangkan yang ringan merugi dan kekal di Neraka. Intinya, peringatan agar tidak menunda-nunda taubat dan beramal shaleh sebelum ajal tiba.
# 6
وقال تعالى: ﴿ ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر اللَّه وما نزل من الحق، ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم، وكثير منهم فاسقون ﴾ .سورة الحديد(16)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Hadid: 16)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan orang beriman agar segera melunakkan hati (khusyuk) dengan zikir dan mengikuti kebenaran Al-Qur'an. Peringatan keras diberikan agar tidak menunda-nunda hingga hati menjadi keras, seperti sebagian Ahli Kitab terdahulu yang lalai dan fasik karena lama terpisah dari tuntunan nabinya. Intinya, keimanan harus dirawat dengan ketundukan hati yang kontinu, bukan hanya keyakinan di awal.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan orang beriman agar segera melunakkan hati (khusyuk) dengan zikir dan mengikuti kebenaran Al-Qur'an. Peringatan keras diberikan agar tidak menunda-nunda hingga hati menjadi keras, seperti sebagian Ahli Kitab terdahulu yang lalai dan fasik karena lama terpisah dari tuntunan nabinya. Intinya, keimanan harus dirawat dengan ketundukan hati yang kontinu, bukan hanya keyakinan di awal.
# 7
وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال : أَخَذَ رَسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِمنكِبِي فَقَالَ : «كُنْ في الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَو عابرُ سَبِيلٍ » وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي اللَّه عنهما يقول : إِذا أَمسَيتَ، فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ ، فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ ، وخذ مِن صِحَّتِكَ لَمَرَضِك وَمِن حَيَاتِكَ لمَوتِكَ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memegang kedua pundakku dan bersabda: "Hiduplah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang musafir (yang akan pergi)."
Ibnu Umar berkata: "Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum sakit, dan masa hidupmu sebelum mati (untuk beramal)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap zuhud terhadap dunia. Intinya adalah agar seorang muslim hidup di dunia bagai orang asing atau musafir yang tidak terikat, selalu waspada bahwa kematian bisa datang kapan saja. Pesan praktisnya adalah untuk tidak menunda-nunda beramal baik, memanfaatkan setiap waktu, kesehatan, dan kehidupan sebelum semuanya hilang.
Ibnu Umar berkata: "Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum sakit, dan masa hidupmu sebelum mati (untuk beramal)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap zuhud terhadap dunia. Intinya adalah agar seorang muslim hidup di dunia bagai orang asing atau musafir yang tidak terikat, selalu waspada bahwa kematian bisa datang kapan saja. Pesan praktisnya adalah untuk tidak menunda-nunda beramal baik, memanfaatkan setiap waktu, kesehatan, dan kehidupan sebelum semuanya hilang.
# 8
وعنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « ما حَقُّ امْرِيءٍ مُسلِمٍ لَهُ شَيءٌ يُوصِي فِيهِ . يبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ » متفقٌ عليه . هذا لفظ البخاري .
وفي روايةٍ لمسلمٍ : « يَبِيتُ ثَلاثَ لَيَالٍ » قال ابن عمر : مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنذُ سَمِعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال ذلِكَ إِلاَّ وَعِنْدِي وَصِيَّتِي
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma juga, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkan, untuk membiarkan berlalu dua malam, kecuali wasiatnya itu sudah tertulis." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Tiga malam." Ibnu Umar berkata: "Sejak aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu, tidak ada satu malam pun yang berlalu dariku tanpa wasiatku tertulis."
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya segera menulis wasiat bagi setiap muslim yang memiliki harta atau hak untuk diwariskan. Perintah ini menunjukkan sikap hati-hati dan tanggung jawab agar harta dapat terdistribusi sesuai syariat dan tidak menimbulkan sengketa sepeninggalnya. Perbedaan jumlah malam (dua atau tiga) dalam riwayat menunjukkan kelonggaran waktu yang singkat, bukan penundaan. Sikap teladan Ibnu Umar yang selalu menyiapkan wasiatnya mengajarkan untuk konsisten dan tidak menunda-nunda dalam urusan akhirat.
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Tiga malam." Ibnu Umar berkata: "Sejak aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu, tidak ada satu malam pun yang berlalu dariku tanpa wasiatku tertulis."
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya segera menulis wasiat bagi setiap muslim yang memiliki harta atau hak untuk diwariskan. Perintah ini menunjukkan sikap hati-hati dan tanggung jawab agar harta dapat terdistribusi sesuai syariat dan tidak menimbulkan sengketa sepeninggalnya. Perbedaan jumlah malam (dua atau tiga) dalam riwayat menunjukkan kelonggaran waktu yang singkat, bukan penundaan. Sikap teladan Ibnu Umar yang selalu menyiapkan wasiatnya mengajarkan untuk konsisten dan tidak menunda-nunda dalam urusan akhirat.
# 9
وعن أَنس رضي اللَّه عنه قال : خَطَّ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خُطُوطاً فقال : « هَذا الإِنسَانُ وَهَذا أَجَلُهُ . فَبَيْنَما هو كَذَلِكَ إِذ جَاءَ الخَطُّ الأَقْرَبُ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambar beberapa garis, lalu beliau bersabda: "Ini adalah manusia, dan ini adalah ajalnya." Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada garis lain yang memotong garis (ajal) itu. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ajal manusia telah ditetapkan oleh Allah. Garis yang memotong menggambarkan bahwa harapan (amal) dapat mendahului ajal, sehingga manusia harus selalu bersegera dalam berbuat kebaikan sebelum datangnya kematian. Intinya, kita tidak tahu kapan ajal akan tiba, oleh karena itu isilah hidup dengan amal saleh dan jangan menunda-nunda ketaatan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ajal manusia telah ditetapkan oleh Allah. Garis yang memotong menggambarkan bahwa harapan (amal) dapat mendahului ajal, sehingga manusia harus selalu bersegera dalam berbuat kebaikan sebelum datangnya kematian. Intinya, kita tidak tahu kapan ajal akan tiba, oleh karena itu isilah hidup dengan amal saleh dan jangan menunda-nunda ketaatan.
# 10
وعن ابن مسعُودٍ رضيَ اللَّه عنه قال : خَطَّ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَطًّا مُرَبَّعاً ، وخَطَّ خَطًّا في الْوَسَطِ خَارِجاً منْهُ ، وَخَطَّ خُططاً صِغَاراً إِلى هَذَا الَّذِي في الوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي في الوَسَطِ ، فَقَالَ : « هَذَا الإِنسَانُ ، وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطاً بِهِ أو قَد أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الُخطَطُ الصِّغَارُ الأَعْراضُ ، فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا ، نَهَشَهُ هَذا ، وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذا نَهَشَهُ هَذا » رواه البخاري . وَهَذِهِ صُورَتَهُ : الأجل -الأعراض –الأمل
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuat garis persegi, lalu membuat garis di tengahnya yang keluar dari persegi tersebut, dan membuat garis-garis kecil menuju garis yang di tengah dari sisinya, kemudian beliau bersabda: "Ini adalah manusia, dan ini ajalnya yang mengelilinginya atau telah mengelilinginya. Ini yang keluar adalah angan-angan (harapan)nya. Dan garis-garis kecil ini adalah gangguan-gangguan (atau musibah). Jika ini (gangguan) luput darinya, maka ini (gangguan lain) akan menyengatnya. Dan jika ini luput darinya, maka ini akan menyengatnya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dan ini gambarnya: Ajal - Gangguan (Al-A'radh) - Angan-angan (Al-Amal).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan hakikat kehidupan manusia dengan perumpamaan visual. Ajal (garis persegi) telah mengelilingi dan membatasi usia manusia. Sementara itu, angan-angan (garis yang keluar) seringkali menjauh dan melalaikan dari batas waktu yang ada. Garis-garis kecil adalah musibah atau halangan hidup yang terus mengganggu. Hikmahnya, manusia harus sadar akan keterbatasan waktunya, tidak terbuai oleh harapan panjang, dan bersiap menghadapi cobaan yang silih berganti.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan hakikat kehidupan manusia dengan perumpamaan visual. Ajal (garis persegi) telah mengelilingi dan membatasi usia manusia. Sementara itu, angan-angan (garis yang keluar) seringkali menjauh dan melalaikan dari batas waktu yang ada. Garis-garis kecil adalah musibah atau halangan hidup yang terus mengganggu. Hikmahnya, manusia harus sadar akan keterbatasan waktunya, tidak terbuai oleh harapan panjang, dan bersiap menghadapi cobaan yang silih berganti.
# 11
وعن أبي هريرة رضيَ اللَّه عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعاً، هَل تَنْتَظِرُونَ إلاَّ فَقْراً مُنْسِياً ، أَو غِنَى مُطغِياً ، أَوْ مَرَضاً مُفسِداً ، أو هَرَماً مُفَنِّداً، أَو مَوتاً مُجْهزِاً ، أَو الدَّجَّالَ ، فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ ، أَوِ السَّاعَةَ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وأَمَرُّ ؟، » رواهُ الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah kalian beramal saleh sebelum datangnya tujuh perkara. Apakah kalian menunggu hingga datangnya kemiskinan yang membuat kalian lalai? Atau kekayaan yang membuat kalian melampaui batas? Atau sakit tua yang membuat kalian tidak mampu? Atau kematian yang akan datang dengan cepat? Atau Dajjal, yang merupakan seburuk-buruk makhluk yang ditunggu? Atau hari Kiamat datang, dan hari Kiamat itu adalah hari yang besar dan sangat pahit." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Penjelasan singkat: Hadis ini mendorong umat Islam untuk bersegera melakukan amal saleh dan tidak menunda-nunda. Rasulullah mengingatkan bahwa manusia akan dihadapkan pada tujuh penghalang, seperti kemiskinan, kekayaan, sakit, tua, kematian, Dajjal, atau Kiamat, yang dapat menyulitkan atau melalaikannya dari beribadah. Intinya, waktu sehat dan lapang adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mendorong umat Islam untuk bersegera melakukan amal saleh dan tidak menunda-nunda. Rasulullah mengingatkan bahwa manusia akan dihadapkan pada tujuh penghalang, seperti kemiskinan, kekayaan, sakit, tua, kematian, Dajjal, atau Kiamat, yang dapat menyulitkan atau melalaikannya dari beribadah. Intinya, waktu sehat dan lapang adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
# 12
وعنه قالَ : قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ » يَعني المَوْتَ ، رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) juga, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan." Maksudnya adalah kematian. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menganjurkan untuk senantiasa mengingat kematian, yang disebut sebagai pemutus semua kenikmatan dunia. Tujuannya adalah untuk mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh kehidupan fana dan selalu mempersiapkan bekal amal saleh. Dengan demikian, zikir kepada kematian akan mendorong hidup zuhud, bertaubat, dan lebih giat beribadah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menganjurkan untuk senantiasa mengingat kematian, yang disebut sebagai pemutus semua kenikmatan dunia. Tujuannya adalah untuk mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh kehidupan fana dan selalu mempersiapkan bekal amal saleh. Dengan demikian, zikir kepada kematian akan mendorong hidup zuhud, bertaubat, dan lebih giat beribadah.
# 13
وعن أبي بن كعب رضي اللَّهُ عنه : كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا ذَهَبَ ثُلثُ اللَّيْلِ، قامَ فقالَ : « يا أَيها النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّه جَاءَتِ الرَاجِفَةُ تَتْبَعُهُا الرَّادِفَةُ، جاءَ المَوْتُ بما فِيهِ ، جاءَ المَوْتُ بما فِيهِ » قلتُ : يا رَسُولَ اللَّهِ إني أكْثِرُ الصَّلاةَ عَلَيْكَ ، فَكَمْ أَجْعَلُ لكَ مِن صَلاتي ؟ قال: « ما شِئْتَ » قُلْتُ الرُّبُعَ ؟ قال : « ما شئْتَ ، فَإِنْ زِدتَ فَهُوَ خَيْرٌ لكَ » قُلُتُ : فَالنِّصْفَ ؟ قالَ « ما شِئْتَ ، فإِنْ زِدْتَ فهو خَيرٌ لكَ » قُلْتُ : فَالثلثَينِ ؟ قالَ : « ما شِئْتَ ، فإِنْ زِدْتَ فهو خَيرٌ لكَ » قُلْتُ : أَجْعَلُ لكَ صَلاتي كُلَّها ؟ قال : إذاً تُكْفي هَمَّكَ، ويُغُفَرُ لكَ ذَنْبُكَ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Dari Ubaid bin Ka'ab, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada saat sepertiga malam telah berlalu, beliau bangun dari tidur dan bersabda: "Wahai sekalian manusia! Ingatlah Allah, saat tiupan sangkakala pertama datang yang membuat semua terkejut dan gempar, yang diikuti dengan tiupan sangkakala kedua, kematian telah datang atas segala sesuatu yang ada di bumi." Aku (Ubaid) bertanya: "Wahai Rasulullah, aku telah memperbanyak doa memohonkan kebaikan untukmu. Berapa banyak aku harus memohonkan untukmu dalam doaku?" Beliau menjawab: "Sesukamu." Aku bertanya: "Seperempatnya bagaimana?" Beliau menjawab: "Sesukamu, tetapi jika engkau tambah itu lebih baik bagimu." Aku bertanya lagi: "Setengahnya bagaimana?" Beliau menjawab: "Sesukamu, tetapi jika engkau tambah itu lebih baik bagimu." Aku bertanya lagi: "Dua pertiganya bagaimana?" Beliau menjawab: "Sesukamu, tetapi jika engkau tambah itu lebih baik bagimu." Aku bertanya lagi: "Bagaimana jika aku jadikan seluruh doaku untukmu?" Beliau menjawab: "Kalau begitu, cukupilah (urusan) dirimu, dan dosa-dosamu akan diampuni." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua hal utama. Pertama, anjuran untuk bangun di sepertiga malam akhir guna mengingat Allah dan hari akhir, sebagai bentuk kewaspadaan spiritual. Kedua, keutamaan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, di mana beliau memberikan kebebasan tanpa batas karena itu selalu membawa kebaikan bagi pelakunya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua hal utama. Pertama, anjuran untuk bangun di sepertiga malam akhir guna mengingat Allah dan hari akhir, sebagai bentuk kewaspadaan spiritual. Kedua, keutamaan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, di mana beliau memberikan kebebasan tanpa batas karena itu selalu membawa kebaikan bagi pelakunya.