✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 71

Merendahkan Diri dan Tawadhu' terhadap Orang-Orang Beriman

✦ 15 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين ﴾ .سورة الشعراء(215)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu." (Asy-Syu'ara': 215)

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bersikap tawadhu' dan lemah lembut kepada orang-orang beriman yang mengikutinya. Perintah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin atau pendidik harus menghilangkan sikap sombong dan merendahkan hati di hadapan umatnya. Hikmahnya, sikap rendah hati adalah fondasi kuat dalam membina hubungan dan mempererat ukhuwah islamiyah, serta menjadi teladan akhlak mulia bagi seluruh pemeluk agama.

# 2
وقال تعالى: ﴿ يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي اللَّه بقوم يحبهم ويحبونه، أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين ﴾ .سورة المائدة(54)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir." (Al-Maidah: 54)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa kemurtadan sebagian orang tidak akan melemahkan agama Allah. Sebagai gantinya, Allah akan mendatangkan generasi pengganti yang memiliki dua karakter utama: hubungan cinta dengan Allah (mahabbah) dan sikap yang berbeda terhadap mukmin dan kafir (wala' dan bara'). Hikmahnya, kesetiaan pada agama diukur dengan ketulusan cinta kepada Allah dan komitmen untuk membela kebenaran serta komunitas beriman.

# 3
وقال تعالى: ﴿ يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى، وجعلناكم شعوباً وقبائل لتعارفوا؛ إن أكرمكم عند اللَّه أتقاكم ﴾ . سورة الحجرات(13)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (Al-Hujurat: 13)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip kesetaraan dan kemuliaan manusia di hadapan Allah. Asal-usul keturunan, suku, atau bangsa bukanlah ukuran kehormatan. Kemuliaan sejati hanya ditentukan oleh ketakwaan, yaitu tingkat ketaatan dan kebaikan iman seseorang. Ayat ini juga menjelaskan bahwa keragaman suku dan bangsa adalah sarana untuk saling mengenal dan bekerja sama, bukan untuk saling membanggakan diri atau merendahkan.

# 4
وقال تعالى: ﴿ فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى ﴾ .سورة النجم(32)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan janganlah kamu memuji dirimu (atas kesuciannya), Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa." (An-Najm: 32)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan sikap tawadhu' dan larangan merasa 'ujub (bangga diri) atas amal kebaikan yang dilakukan. Allah SWT menegaskan bahwa hak untuk menilai kesucian dan ketakwaan seseorang adalah mutlak milik-Nya, karena hanya Dia yang mengetahui niat dan hakikat amal hamba. Oleh karena itu, seorang muslim harus fokus pada keikhlasan dalam beramal dan menghindari sikap menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain.

# 5
وقال تعالى:﴿ ونادى أصحاب الأعراف رجالاً يعرفونهم بسيماهم قالوا: ما أغنى عنكم جمعكم وما كنتم تستكبرون، أهؤلاء الذين أقسمتم لا ينالهم اللَّه برحمة؟! ادخلوا الجنة لا خوف عليكم ولا أنتم تحزنون﴾.سورة الأعراف(48-49)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan para penjaga neraka (malaikat) memanggil orang-orang (pemimpin orang-orang kafir) yang mereka kenal dengan tanda-tandanya, (seraya berkata), 'Tidaklah berguna bagimu harta bendamu dan apa yang dahulu kamu sombongkan. (Kepada para penghuni surga dikatakan), 'Masuklah kamu ke dalam surga, tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak akan bersedih hati.'" (Al-A'raf: 48-49)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa kekayaan dan kesombongan di dunia sama sekali tidak berguna untuk menyelamatkan diri dari azab akhirat. Hanya rahmat Allah yang menjadi penyebab seseorang masuk surga. Di akhirat, semua pengakuan dan sumpah dusta di dunia akan terbongkar, sedangkan orang yang beriman akan memperoleh ketenteraman tanpa rasa takut dan sedih.

# 6
وعن عِيَاضِ بنِ حِمَارٍ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِن اللَّه أَوحَى إِليَّ أَنْ تَواضَعُوا حتى لا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلى أَحدٍ ، ولا يَبغِيَ أَحَدٌ على أَحَدٍ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dan dari 'Iyadh bin Himar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri, sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri atas yang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim atas yang lain." Diriwayatkan oleh Muslim.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan perintah langsung dari Allah agar umat Islam memiliki sikap tawadhu' (rendah hati). Inti ajarannya adalah mencegah kesombongan dan kezaliman antar sesama manusia. Dengan merendahkan diri, tercipta hubungan sosial yang harmonis, bebas dari sikap merendahkan atau menindas orang lain. Ini merupakan fondasi bagi terwujudnya keadilan dan persaudaraan dalam masyarakat.

# 7
وعَنْ أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « ما نَقَصَتْ صَدقَةٌ من مالٍ ، وما زاد اللَّه عَبداً بِعَفوٍ إِلاَّ عِزّاً ، ومَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ » رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan (kesalahan orang lain) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan baginya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya."
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga prinsip utama. Pertama, sedekah justru melipatgandakan keberkahan harta, bukan menguranginya. Kedua, sifat pemaaf akan mendatangkan kemuliaan dan kehormatan dari Allah. Ketiga, ketawadukan (rendah hati) karena Allah adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di dunia dan akhirat. Semua ini menunjukkan bahwa nilai sejati dalam Islam terletak pada kedermawanan, kelapangan hati, dan kerendahan hati.

# 8
وعن أَنس رضي اللَّه عنه أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبيانٍ فَسَلَّم عَلَيْهِم وقال : كان النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَفْعَلُهُ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: Dia berjalan lalu bertemu anak-anak kecil, kemudian dia memberi salam kepada mereka dan berkata: "Rasulullah ﷺ melakukan demikian."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya menghormati dan memuliakan anak-anak, serta meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Memberi salam kepada anak-anak merupakan bentuk pengakuan akan hak mereka, pendidikan adab sejak dini, dan penanaman rasa percaya diri. Perbuatan Anas radhiyallahu 'anhu yang disertai penjelasan bahwa itu adalah sunnah Nabi juga menunjukkan metode mengajarkan Islam yang efektif, yaitu dengan praktik langsung disertai ilmu.

# 9
وعنه قال : إِنْ كَانَتِ الأَمَةُ مِن إِمَاءِ المَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيثُ شَاءَتْ . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari dia (Anas) radhiyallahu 'anhu juga: Seorang anak kecil, salah satu pelayanku dari penduduk Madinah, pernah menarik tangan Nabi ﷺ dan membawa beliau berjalan ke mana pun yang dia kehendaki.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Nabi Muhammad ﷺ yang sangat lembut, rendah hati, dan dekat dengan semua lapisan masyarakat, termasuk anak kecil dan pelayan. Beliau tidak angkuh dan membiarkan dirinya dibawa oleh seorang anak kecil sesuai keinginannya, menunjukkan sikap tawadhu' yang sempurna. Ini menjadi teladan bagi pemimpin dan setiap muslim untuk bersikap ramah, mudah didekati, serta menghormati hak dan perasaan anak-anak.

# 10
وعن الأسوَد بنِ يَزيدَ قال : سُئلَتْ عَائِشَةُ رضيَ اللَّه عنها : ما كانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصنعُ في بَيْتِهِ ؟ قالت : كان يَكُون في مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَعني : خِدمَةِ أَهلِه فإِذا حَضَرَتِ الصَّلاة ، خَرَجَ إِلى الصَّلاةِ ، رواه البخاري
Terjemahan
Dan dari Al-Aswad bin Yazid, dia berkata: 'Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya: "Apa yang biasa dilakukan Nabi ﷺ di rumahnya?" Dia menjawab: "Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya, yaitu melayani keluarganya. Apabila waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kesederhanaan dan ketawadhu'an Nabi Muhammad ﷺ. Beliau tidak segan melakukan pekerjaan rumah tangga untuk membantu keluarganya, menunjukkan bahwa melayani keluarga adalah perbuatan mulia. Selain itu, hadis ini mengajarkan keseimbangan hidup: aktif dalam urusan duniawi namun tetap prioritaskan kewajiban ibadah (shalat) tepat waktu.

# 11
وعن أبي رِفَاعَةَ تَميم بن أُسَيدٍ رضي اللَّه عنه قال : انْتَهَيْتُ إِلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهو يَخْطُبُ . فقلتُ : يا رسولَ اللَّه ، رجُلٌ غَرِيبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عن دِينِهِ لا يَدري مَا دِينُهُ ؟ فَأَقْبَلَ عَليَّ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وتَركَ خُطْبتهُ حتى انتَهَى إِليَّ، فَأُتى بِكُرسِيٍّ ، فَقَعَدَ عَلَيهِ ، وجَعَلَ يُعَلِّمُني مِمَّا عَلَّمَه اللَّه ، ثم أَتَى خُطْبَتَهُ ، فأَتمَّ آخِرَهَا . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Rifa'ah Tamim bin Usaid radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang berkhutbah. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, ada seorang asing datang bertanya tentang agamanya, ia tidak tahu apa agamanya?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap kepadaku dan meninggalkan khutbahnya hingga selesai (menjawab) pertanyaanku. Lalu didatangkan sebuah kursi, beliau duduk di atasnya, dan mulai mengajariku dari apa yang telah Allah ajarkan kepadanya. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbahnya dan menyempurnakan bagian akhirnya. (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan mengajarkan agama dan memenuhi kebutuhan orang yang belum paham Islam, meski dalam keadaan penting seperti berkhutbah. Rasulullah SAW memberikan prioritas pada pendidikan dan kepedulian terhadap seorang pencari ilmu, dengan meninggalkan sejenak khutbahnya untuk mengajarkan agama. Ini menjadi teladan bagi para dai dan guru tentang kesabaran, kemurahan hati, serta pentingnya memudahkan jalan bagi orang yang ingin belajar Islam.

# 12
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كان إِذَا أَكَلَ طَعَاماً لَعِقَ أَصابِعه الثلاثَ قال : وقال : « إِذَا سَقطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ ، فَلْيُمِطْ عَنْها الأَذى ، ولْيأْكُلْها ، وَلا يَدَعْها للشَّيْطَانِ » وَأَمَر أَنْ تُسْلَتَ القَصْعَةُ قالَ : « فَإِنَّكُمْ لا تدْرُونَ في أَيِّ طَعامِكُمُ البَركَةُ» رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ketika beliau menjilat jari-jarinya tiga kali, beliau bersabda: "Apabila sesuap makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka hendaklah ia membersihkan kotorannya lalu memakannya dan jangan membiarkannya untuk setan." Beliau juga memerintahkan kami untuk membersihkan piring dan bersabda: "Kalian tidak tahu di bagian mana dari makanan kalian terdapat keberkahan." (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga adab makan: menjilat jari setelah makan, memakan kembali makanan yang jatuh setelah dibersihkan, dan membersihkan sisa makanan di piring. Inti hikmahnya adalah menghargai rezeki dan menghindari sikap boros, karena keberkahan makanan mungkin terdapat pada bagian yang tidak terduga. Perbuatan ini juga menjauhkan kita dari menuruti bisikan setan yang membenci kesyukuran.

# 13
وعن أبي هُريرة رضي اللَّه عنه ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « ما بعثَ اللَّهُ نَبِيّاً إِلاَّ رعى الغنَمَ » قالَ أَصحابه : وَأَنْتَ ؟ فقال : « نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا على قَرارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ » رواهُ البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap nabi yang diutus Allah pasti pernah menjadi penggembala kambing." Para sahabat bertanya: "Termasuk Anda juga?" Beliau menjawab: "Ya, aku dulu menggembalakan kambing penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath." (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan bahwa pekerjaan menggembala kambing, meski terlihat sederhana, adalah sekolah kepemimpinan bagi para nabi. Dari sana, mereka belajar sabar, lembut, dan bertanggung jawab dalam mengurus dan melindungi. Nabi Muhammad ﷺ juga melakukannya, yang menegaskan kemuliaan kerja halal dan kehormatan dalam berusaha sendiri sejak muda.

# 14
وعنهُ عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : لَوْ دُعِيتُ إِلى كُراعٍ أَوْ ذِرَاعٍ لقبلتُ . وَلَوْ أُهْدى إِليَّ ذِراعٌ أَو كُراعٌ لَقَبِلْتُ » رواهُ البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seandainya aku diundang untuk menghadiri jamuan (yang menghidangkan) kaki (hewan) atau paha kambing, niscaya aku akan memenuhi undangan itu. Dan seandainya aku diberi kaki atau paha kambing, niscaya aku akan menerimanya." (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap rendah hati dan tidak sombong. Rasulullah SAW memberikan teladan untuk menerima undangan dan hadiah, sekalipun nilainya kecil atau sederhana. Hal ini menunjukkan pentingnya memuliakan dan menghargai pemberian orang lain, serta menjaga perasaan mereka. Intinya, Islam mendidik umatnya untuk memiliki akhlak yang mulia dalam pergaulan sosial.

# 15
وعن أَنسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : كَانَتْ نَاقَةُ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم العَضْبَاءُ لاَ تُسبَقُ، أو لا تكَادُ تُسْبَقُ ، فَجَاءَ أَعْرابيٌّ عَلى قَعُودٍ لهُ ، فَسبقَها ، فَشَقَّ ذلك عَلى المُسْلمِينَ حَتَّى عَرفَهُ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقَالَ: «حَقٌّ عَلى اللَّهِ أَنْ لاَ يَرْتَفِعَ شَيء مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ وَضَعَهُ» رواهُ البخاري.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Unta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang bernama Al-'Adhba', tidak ada unta yang lebih cepat darinya, atau hampir tidak ada yang lebih cepat darinya." Suatu hari, seorang badui yang tinggal di pedalaman menunggang untanya dan ternyata lebih cepat dari unta Nabi. Hal ini membuat kaum muslimin merasa tidak senang, sampai berita itu sampai kepada beliau. Beliau bersabda: "Sesuatu yang diangkat tinggi-tinggi di dunia menurut ketentuan Allah, pasti akan direndahkan." (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa segala keunggulan duniawi, seperti kekuatan, kecepatan, atau kedudukan, bersifat sementara dan pasti akan mengalami penurunan. Sikap Nabi yang tenang dan bijak saat untanya dikalahkan mengajarkan umatnya untuk tidak terlalu bergembira atau sedih berlebihan terhadap urusan dunia. Hikmahnya adalah agar kita tidak sombong dengan kelebihan yang dimiliki dan menyadari bahwa semua kejadian adalah ketetapan Allah, sehingga kita harus menerimanya dengan lapang dada.