✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Perintah
Kitab 1 · Bab 72

Larangan Sombong dan Membanggakan Diri

✦ 13 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ تلك الدار الآخرة نجعلها للذين لا يريدون علواً في الأرض ولا فساداً، والعاقبة للمتقين ﴾ .سورة القصص(83)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qashash: 83)

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan syarat utama untuk meraih kebahagiaan akhirat, yaitu meninggalkan kesombongan (tinggi hati) dan perbuatan merusak di muka bumi. Allah menjanjikan negeri akhirat yang kekal hanya bagi orang yang berakhlak mulia dan tidak menzalimi sesama. Sebaliknya, kemenangan dan kesudahan yang baik (al-‘aqibah) di dunia dan akhirat merupakan hak khusus bagi orang-orang yang bertakwa.

# 2
وقال تعالى: ﴿ ولا تمش في الأرض مرحاً ﴾ .سورة الإسراء(37)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong." (QS. Al-Isra': 37)

Penjelasan singkat: Ayat ini melarang kesombongan dalam berperilaku, termasuk dalam cara berjalan yang menunjukkan keangkuhan. Larangan ini mengajarkan pentingnya sikap tawadhu' (rendah hati) sebagai cerminan keimanan. Sebab, segala yang dimiliki manusia, termasuk kemampuan fisik untuk berjalan, adalah nikmat dan pemberian dari Allah Ta'ala.

# 3
وقال تعالى: ﴿ ولا تصعر خدك للناس ولا تمش في الأرض مرحاً، إن اللَّه لا يحب كل مختال فخور ﴾ .سورة لقمان(18)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan pentingnya menghindari kesombongan dalam sikap dan perilaku. Larangan memalingkan wajah dan berjalan dengan angkuh adalah cerminan dari akhlak buruk yang dibenci Allah. Intinya, seorang muslim harus selalu rendah hati, menghormati orang lain, dan menjauhi segala bentuk keangkuhan serta rasa bangga diri yang berlebihan.

# 4
وقال تعالى: ﴿ إن قارون كان من قوم موسى فبغى عليهم، وآتيناه من الكنوز ما إن مفاتحه لتنوء بالعصبة أولي القوة، إذ قال له قومه لا تفرح إن اللَّه لا يحب الفرحين ﴾ سورة القصص(76) إلى قوله تعالى: ﴿ فخسفنا به وبداره الأرض ﴾ سورة القصص(81) الآيات.
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: 'Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.'" (QS. Al-Qashash: 76) sampai firman Allah yang artinya: "Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah." (QS. Al-Qashash: 81)

Penjelasan singkat: Kisah Qarun dalam ayat ini mengajarkan bahwa harta adalah amanah dari Allah, bukan alat untuk sombong dan menzalimi orang. Kesombongan dan keangkuhan (al-farihin) sangat dibenci Allah. Akibat dari kedurhakaan dan kesombongan itu adalah kehancuran, sebagaimana Qarun ditenggelamkan bersama hartanya ke dalam bumi.

# 5
وعن عبدِ اللَّهِ بن مسعُودٍ رضيَ اللَّهُ عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا يَدْخُل الجَنَّةَ مَنْ كَانَ في قَلْبِهِ مثْقَالُ ذَرَّةٍ مَنْ كِبرٍ » فقال رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُه حسناً ، ونعلهُ حسنا قال : « إِنَّ اللَّه جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمالَ الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ وغَمْطُ النَّاسِ » رواه مسلم . بَطَرُ الحقِّ : دفْعُهُ وردُّهُ على قائِلِهِ . وغَمْطُ النَّاسِ : احْتِقَارُهُمْ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah." Seorang laki-laki bertanya: "Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus (apakah itu termasuk sombong)?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)
Batharul haqq: menolak dan membantah kebenaran dari yang menyampaikannya. Ghamthun naas: meremehkan mereka.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kesombongan, sekecil apapun, dapat menghalangi seseorang dari surga. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kesombongan bukanlah sekadar penampilan lahiriah, tetapi sikap bathin menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Dengan demikian, hikmahnya adalah kita harus senantiasa membersihkan hati dari sifat takabur, tawadhu' dalam menerima kebenaran, dan menghormati setiap manusia.

# 6
وعنْ سلمةَ بنِ الأَكْوع رضي اللَّه عنه أَن رجُلاً أَكَل عِنْدَ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بشِمالِهِ فقال : « كُلْ بِيَمِينِكَ » قالَ : لاَ أَسْتَطِيعُ ، قال : « لا اسْتَطَعْتَ » مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الكبْرُ . قال: فما رَفَعها إِلى فِيهِ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki makan di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan tangan kirinya. Beliau bersabda: "Makanlah dengan tangan kananmu!" Orang itu berkata: "Aku tidak mampu." Beliau bersabda: "Tidak, kamu mampu." Tidak ada yang menghalanginya kecuali sifat sombong. Maka sejak saat itu, ia tidak mampu mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan perintah untuk makan dengan tangan kanan dan larangan keras terhadap kesombongan. Sikap menolak perintah Nabi dengan alasan palsu, yang dilandasi rasa tinggi hati, justru mendatangkan musibah. Hikmahnya, kita harus menjauhi sifat takabur dan segera taat kepada syariat Islam dalam hal-hal yang diperintahkan, sekalipun terlihat sederhana.

# 7
وعن حَارثَةَ بنِ وهْبٍ رضي اللَّه عنه قال : سَمِعْتُ رسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : «أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ ؟ : كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ » متفقٌ عليه . وتقدَّم شرحُه في باب ضَعفَةِ المسلمينَ .
Terjemahan
Dari Haritsah bin Wahb radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang penghuni neraka? (Yaitu) setiap orang yang kasar, kikir, dan sombong." (Muttafaqun 'alaih). Penjelasannya telah disebutkan pada bab tentang kelemahan kaum muslimin.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengidentifikasi tiga sifat utama yang menjadi sebab seseorang menjadi penghuni neraka: 'utul (kasar dan kejam), jawwazh (kikir dan serakah), dan mustakbir (sombong). Ketiga sifat ini saling berkaitan, bermula dari kesombongan di hati yang melahirkan kekerasan pada orang lain dan kekikiran dalam hal dunia. Inti pelajarannya adalah peringatan keras untuk menjauhi akhlak tercela tersebut dan berusaha memiliki sifat sebaliknya, yaitu lemah lembut, dermawan, dan rendah hati.

# 8
وعن أبي سعيدٍ الخُدريِّ رضيَ اللَّهُ عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « احْتَجَّتِ الجَنَّةُ والنَّارُ ، فقالت النَّارُ : فيَّ الجَبَّارُونَ والمُتَكَبِّرُونَ ، وقالَتِ الجنَّةُ : فيَّ ضُعَفاءُ النَّاسِ ومَسَاكِينُهُمْ . فَقَضَى اللَّه بيْنَهُمَا : إِنَّكِ الجَنَّةُ رَحْمَتي ، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ وإِنَّكِ النَّارُ عذَابي ، أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ ، ولِكِلَيْكُما عليَّ مِلْؤُها » رواهُ مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga dan neraka saling berdebat. Neraka berkata: 'Orang-orang yang sombong dan angkuh akan berada bersamaku.' Sedangkan surga berkata: 'Orang-orang yang lemah dan fakir akan berada bersamaku.' Lalu Allah memutuskan perkara di antara keduanya: 'Sungguh, engkau (surga) adalah tempat rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa yang Aku kehendaki. Dan engkau (neraka) adalah tempat azab-Ku, denganmu Aku mengazab siapa yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari kalian berdua akan penuh.'" (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa masuk surga atau neraka adalah ketetapan Allah semata, berdasarkan kehendak dan hikmah-Nya. Meski ada gambaran umum bahwa orang sombong masuk neraka dan orang lemah masuk surga, akhirnya semua bergantung pada rahmat dan keadilan Allah. Hikmahnya, kita tidak boleh sombong dan harus tawadhu, seraya selalu berharap rahmat dan takut akan azab-Nya.

# 9
وعن أبي هُريرة رضي اللَّه عنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا يَنْظُرُ اللَّه يَوْم القِيامةِ إِلى مَنْ جَرَّ إِزارَه بَطَراً » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan larangan berbuat sombong (bathar) yang ditunjukkan melalui gaya berpakaian, yaitu menjulurkan kain melebihi batas (isbal). Sikap ini menunjukkan kesombongan hati yang dibenci Allah. Ancaman "tidak akan dilihat Allah" di hari Kiamat merupakan peringatan keras tentang besarnya dosa kesombongan, karena pandangan Allah adalah bentuk rahmat. Intinya, Islam melarang segala bentuk kesombongan, baik dalam sikap hati maupun penampilan lahiriyah.

# 10
وعنه قال : قالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ثَلاثةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّه يَوْمَ القِيامَةِ ، وَلا يُزَكِّيهِمْ ، وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ ، وَلهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ : شَيْخٌ زانٍ ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ ، وعائلٌ مُسْتَكْبِرٌ» رواهُ مسلم « العائِلُ » : الفَقِير .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada tiga golongan manusia yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka, tidak menyucikan mereka, dan tidak melihat mereka pada hari kiamat, dan bagi mereka azab yang pedih. (Mereka adalah) orang tua yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong." (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan betapa Allah membenci penyimpangan yang diperparah oleh posisi atau kondisi seseorang. Orang tua seharusnya memberi teladan justru berzina, penguasa yang diamanati malah berdusta, dan orang miskin yang seharusnya rendah hati ternyata sombong. Kombinasi dosa dan pengkhianatan terhadap "status" inilah yang mengundang murka Allah yang sangat keras.

# 11
وعنه قال : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قال اللَّه عزَّ وجلَّ : العِزُّ إِزاري ، والكِبْرياءُ رِدَائِي ، فَمَنْ يُنَازعُني في واحدٍ منهُما فقدْ عذَّبتُه » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: 'Kemuliaan adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah kain-Ku. Barangsiapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka Aku akan mengazabnya.'" (HR. Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa hakikat kemuliaan (`al-'izz`) dan keagungan (`al-kibriya'`) adalah sifat yang mutlak milik Allah SWT. Siapa pun yang menyombongkan diri, merasa paling mulia, atau angkuh dengan menyaingi sifat-sifat Allah tersebut, maka ia berhak mendapat azab-Nya. Pelajaran utamanya adalah agar manusia senantiasa rendah hati (`tawadhu'`), karena kesombongan akan menghancurkan dirinya sendiri di dunia dan akhirat.

# 12
وعنْه أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « بيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي في حُلَّةٍ تُعْجِبُه نفْسُه ، مرَجِّلٌ رأسَه ، يَخْتَالُ في مَشْيَتِهِ ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ ، فهو يَتَجَلْجَلُ في الأَرْضِ إلى يوْمِ القِيامةِ » متفقٌ عليه . « مُرجِّلٌ رَأْسَهُ » أَي : مُمَشِّطُهُ . « يَتَجلْجَلُ » بالجيمين : أَيْ : يغُوصُ وينْزِلُ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian yang membuatnya kagum pada dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, ia berjalan dengan sombong, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi, maka ia terus terbenam di dalam bumi sampai hari kiamat." (Muttafaqun 'alaih)
Murjilun ra'sahu: menyisir rambutnya. Yatajaljalu: terbenam dan turun.

Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan peringatan keras tentang bahaya kesombongan ('ujub) dan berbangga diri. Allah membenci seorang hamba yang merasa kagum pada penampilan dirinya sendiri lalu berjalan dengan sikap angkuh di muka bumi. Hikmahnya, seorang muslim harus senantiasa rendah hati (tawadhu'), menyadari bahwa segala kelebihan adalah nikmat dari Allah, dan menjauhi sikap pamer serta merasa lebih dari orang lain.

# 13
وعن سَلَمَة بنِ الأَكْوع رضيَ اللَّه عنه قال : قال رسُولُ اللِّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ في الجَبَّارينَ ، فَيُصِيبُهُ ما أَصابَهمْ » رواهُ الترمذي وقال : حديث حسن . « يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ » أَي : يَرْتَفعُ وَيَتَكَبَّرُ .
Terjemahan
Dari Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang akan terus membanggakan dirinya sehingga ia dicatat sebagai orang-orang yang sombong (al-jabbarin), lalu ia akan ditimpa apa yang menimpa mereka." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan)
Yadzhabu bi nafsihi: meninggikan dan menyombongkan dirinya.

Penjelasan singkat: Hadis ini memperingatkan bahaya sifat takabur dan membanggakan diri. Seseorang yang terus-menerus merasa tinggi dan angkuh akan dicatat oleh Allah dalam golongan orang-orang yang sombong (al-jabbarin). Akibatnya, ia berhak mendapatkan siksa dan kehancuran sebagaimana yang dialami oleh kaum yang sombong di masa lalu. Intinya, kesombongan adalah jalan menuju kebinasaan.