Kitab 1 · Bab 73
Akhlak yang Baik
✦ 13 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وإنك لعلى خلق عظيم ﴾ .سورة القلم(4)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Penjelasan singkat: Ayat ini merupakan pujian langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang menegaskan keluhuran akhlak beliau sebagai fakta yang tak terbantahkan. Pelajaran utamanya adalah bahwa kesempurnaan iman seseorang tercermin dari kemuliaan akhlaknya. Oleh karena itu, setiap muslim wajib meneladani dan mengamalkan akhlak mulia Rasulullah dalam seluruh aspek kehidupan.
Penjelasan singkat: Ayat ini merupakan pujian langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang menegaskan keluhuran akhlak beliau sebagai fakta yang tak terbantahkan. Pelajaran utamanya adalah bahwa kesempurnaan iman seseorang tercermin dari kemuliaan akhlaknya. Oleh karena itu, setiap muslim wajib meneladani dan mengamalkan akhlak mulia Rasulullah dalam seluruh aspek kehidupan.
# 2
وقال تعالى: ﴿ والكاظمين الغيظ، والعافين عن الناس ﴾ الآية.سورة آل عمران(134)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali 'Imran: 134)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia puncak dalam menghadapi amarah. Tingkat pertama adalah كظم الغيظ (menahan amarah), yaitu mengendalikan diri saat emosi memuncak. Tingkat yang lebih tinggi adalah العفو عن الناس (memaafkan orang lain), yaitu membebaskan pelaku dari balasan setelah mampu membalas. Keduanya adalah ciri orang yang dicintai Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia puncak dalam menghadapi amarah. Tingkat pertama adalah كظم الغيظ (menahan amarah), yaitu mengendalikan diri saat emosi memuncak. Tingkat yang lebih tinggi adalah العفو عن الناس (memaafkan orang lain), yaitu membebaskan pelaku dari balasan setelah mampu membalas. Keduanya adalah ciri orang yang dicintai Allah.
# 3
وعن أَنسٍ رضيَ اللَّه عنه قال :كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَحْسنَ النَّاسِ خُلقاً .متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya." (Muttafaqun 'alaih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keagungan akhlak Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan tertinggi bagi umat manusia. Pernyataan ini datang dari sahabat yang dekat dan lama hidup bersamanya, sehingga memiliki nilai kesaksian yang sangat kuat. Hikmahnya, kita diperintahkan untuk meneladani dan mencontoh akhlak beliau yang mulia dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam beribadah kepada Allah maupun dalam bermuamalah dengan sesama makhluk.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keagungan akhlak Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan tertinggi bagi umat manusia. Pernyataan ini datang dari sahabat yang dekat dan lama hidup bersamanya, sehingga memiliki nilai kesaksian yang sangat kuat. Hikmahnya, kita diperintahkan untuk meneladani dan mencontoh akhlak beliau yang mulia dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam beribadah kepada Allah maupun dalam bermuamalah dengan sesama makhluk.
# 4
وعنه قال : مَا مَسِسْتُ دِيباجاً ولاَ حَرِيراً أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَلاَ شَمَمْتُ رائحَةً قَطُّ أَطْيَبَ مِن رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَلَقَدْ خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عشْرَ سِنينَ ، فَما قالَ لي قَطُّ : أُفٍّ ، وَلا قالَ لِشَيْءٍ فَعلْتُهُ : لِمَ فَعَلْتَهُ؟ ولا لشيءٍ لَمْ افعَلْهُ : أَلاَ فَعَلْتَ كَذا ؟ متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku tidak pernah menyentuh sutera tipis atau tebal yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan aku tidak pernah mencium aroma apa pun yang lebih harum daripada aroma Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan sungguh aku telah melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama sepuluh tahun, namun beliau tidak pernah sekalipun berkata 'cis' kepadaku, dan tidak pernah berkata tentang sesuatu yang aku kerjakan: 'Mengapa engkau kerjakan?' Dan tidak pula tentang sesuatu yang tidak aku kerjakan: 'Mengapa tidak engkau kerjakan begini?'" (Muttafaqun 'alaih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang sempurna, baik secara fisik maupun perilaku. Kelembutan dan keharuman beliau adalah tanda kenabian. Yang terpenting, selama sepuluh tahun melayani, Anas tidak pernah sekali pun mendengar celaan atau bentakan dari Nabi ﷺ, mengajarkan kita untuk bersikap lembut, sabar, dan memaafkan dalam mendidik serta bergaul.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang sempurna, baik secara fisik maupun perilaku. Kelembutan dan keharuman beliau adalah tanda kenabian. Yang terpenting, selama sepuluh tahun melayani, Anas tidak pernah sekali pun mendengar celaan atau bentakan dari Nabi ﷺ, mengajarkan kita untuk bersikap lembut, sabar, dan memaafkan dalam mendidik serta bergaul.
# 5
وعن الصَّعبِ بنِ جَثَّامَةَ رضيَ اللَّهُ عنه قال : أَهْدَيْتُ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حِمَاراً وَحْشِياً ، فَرَدُّهُ عليَّ ، فلمّا رأَى مَا في وَجْهي قالَ : « إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ إِلاَّ لأَنَّا حُرُمٌ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Asyaj bin 'Abdil Qais radhiyallahu 'anhu berkata: Aku menghadiahkan seekor keledai liar kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi beliau tidak menerimanya. Ketika beliau melihat raut wajahku (yang kecewa), beliau bersabda: "Kami tidak menerimanya hanyalah karena kami sedang dalam keadaan ihram." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menolak hadiah daging keledai liar bukan karena tidak suka atau tidak menghargai pemberian, tetapi semata-mata karena beliau sedang dalam keadaan ihram (haji atau umrah), di mana seorang yang berihram diharamkan memburu atau memakan hasil buruan darat. Penolakan yang disertai penjelasan ini mengajarkan pentingnya menjaga perasaan orang lain (kelembutan hati) dan memberikan alasan yang jelas ketika menolak sesuatu, serta keteguhan dalam menjalankan hukum syariat meskipun dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menolak hadiah daging keledai liar bukan karena tidak suka atau tidak menghargai pemberian, tetapi semata-mata karena beliau sedang dalam keadaan ihram (haji atau umrah), di mana seorang yang berihram diharamkan memburu atau memakan hasil buruan darat. Penolakan yang disertai penjelasan ini mengajarkan pentingnya menjaga perasaan orang lain (kelembutan hati) dan memberikan alasan yang jelas ketika menolak sesuatu, serta keteguhan dalam menjalankan hukum syariat meskipun dalam situasi yang tidak mengenakkan.
# 6
وعن النَّوَّاسِ بنِ سمعانَ رضي اللَّه عنه قال : سأَلتُ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عنِ البِرِّ والإِثمِ فقالَ : « البِرُّ حُسنُ الخُلُقِ ، والإِثمُ : ما حاكَ في نَفْسِكَ ، وكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلعَ عَلَيْهِ النَّاسُ » رواهُ مسلم .
Terjemahan
Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiyallahu 'anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau bersabda: "Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang terasa mengganjal dalam jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan: Hadits ini menjelaskan bahwa tolok ukur kebaikan adalah akhlak mulia, sementara dosa seringkali diawali oleh perasaan tidak tenang dan keinginan untuk menyembunyikan perbuatan karena malu dilihat orang.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan pedoman praktis untuk membedakan kebaikan dan dosa. Intinya, kebaikan identik dengan akhlak mulia dalam berinteraksi dengan sesama. Sementara itu, dosa memiliki tanda batin, yaitu perasaan gelisah dan rasa malu jika perbuatan itu diketahui orang lain. Dengan demikian, hati nurani yang jernih menjadi penuntun penting dalam menjalani kebaikan dan menghindari kemungkaran.
Penjelasan: Hadits ini menjelaskan bahwa tolok ukur kebaikan adalah akhlak mulia, sementara dosa seringkali diawali oleh perasaan tidak tenang dan keinginan untuk menyembunyikan perbuatan karena malu dilihat orang.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan pedoman praktis untuk membedakan kebaikan dan dosa. Intinya, kebaikan identik dengan akhlak mulia dalam berinteraksi dengan sesama. Sementara itu, dosa memiliki tanda batin, yaitu perasaan gelisah dan rasa malu jika perbuatan itu diketahui orang lain. Dengan demikian, hati nurani yang jernih menjadi penuntun penting dalam menjalani kebaikan dan menghindari kemungkaran.
# 7
وعن عبد اللَّهِ بن عمرو بن العاص رضي اللَّه عنهما قال : لم يكن رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَاحِشاً ولا مُتَفَحِّشاً . وكانَ يَقُولُ : « إِنَّ مِن خِيارِكُم أَحْسَنَكُم أَخْلاقاً » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukanlah orang yang keji dan tidak pula berbuat keji, dan beliau bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan akhlak mulia, jauh dari perkataan dan perbuatan keji. Sabda beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang diukur dari kebaikan akhlaknya, bukan dari hal-hal lain seperti keturunan atau harta. Oleh karena itu, berusaha memperbaiki dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji merupakan ciri keutamaan seorang muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan akhlak mulia, jauh dari perkataan dan perbuatan keji. Sabda beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang diukur dari kebaikan akhlaknya, bukan dari hal-hal lain seperti keturunan atau harta. Oleh karena itu, berusaha memperbaiki dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji merupakan ciri keutamaan seorang muslim.
# 8
وعن أبي الدرداءِ رضي اللَّه عنه : أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « ما من شَيءٍ أَثْقَلُ في ميزَانِ المُؤمِنِ يَومَ القِيامة من حُسْنِ الخُلُقِ . وإِنَّ اللَّه يُبغِضُ الفَاحِشَ البَذِيِّ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
« البِذيُّ » : هو الذي يَتَكَلَّم بالفُحْشِ . ورِديء الكلامِ .
Terjemahan
Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan berkata kotor." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits hasan shahih).
"Al-Badzii" (orang yang berkata kotor) adalah orang yang berbicara dengan ucapan keji dan perkataan yang buruk.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan akhlak mulia sebagai amalan terberat dalam timbangan kebaikan di akhirat. Sebaliknya, Allah sangat membenci perilaku keji dan ucapan kotor. Dengan demikian, hadis ini menekankan bahwa kesempurnaan iman seorang mukmin tercermin dari budi pekertinya yang luhur dalam berinteraksi dengan sesama.
"Al-Badzii" (orang yang berkata kotor) adalah orang yang berbicara dengan ucapan keji dan perkataan yang buruk.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan akhlak mulia sebagai amalan terberat dalam timbangan kebaikan di akhirat. Sebaliknya, Allah sangat membenci perilaku keji dan ucapan kotor. Dengan demikian, hadis ini menekankan bahwa kesempurnaan iman seorang mukmin tercermin dari budi pekertinya yang luhur dalam berinteraksi dengan sesama.
# 9
وعن أبي هُريرة رضيَ اللَّه عنه قال : سُئِلَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَنْ أَكثرِ مَا يُدْخلُ النَّاس الجَنَّةَ ؟ قال : « تَقْوى اللَّهِ وَحُسنُ الخُلُق وَسُئِلَ عن أَكثرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ: « الفَمُ وَالفَرْجُ » .
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga. Beliau menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik." Dan beliau ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Beliau menjawab: "Mulut dan kemaluan." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan dua prinsip utama keselamatan hidup. Kunci surga adalah ketakwaan kepada Allah yang terwujud dalam akhlak mulia kepada sesama. Sementara, pintu neraka yang paling banyak ditembus manusia berasal dari dua anggota badan: mulut (ucapan kotor, dusta, ghibah) dan kemaluan (zina serta perbuatan keji). Dengan demikian, hadis ini memberikan panduan praktis untuk fokus pada pembinaan hati, lisan, dan menjaga kesucian diri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan dua prinsip utama keselamatan hidup. Kunci surga adalah ketakwaan kepada Allah yang terwujud dalam akhlak mulia kepada sesama. Sementara, pintu neraka yang paling banyak ditembus manusia berasal dari dua anggota badan: mulut (ucapan kotor, dusta, ghibah) dan kemaluan (zina serta perbuatan keji). Dengan demikian, hadis ini memberikan panduan praktis untuk fokus pada pembinaan hati, lisan, dan menjaga kesucian diri.
# 10
وعنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَكْمَلُ المُؤمِنِينَ إِيمَاناً أَحسَنُهُم خُلُقاً ، وخيارُكُم خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهمْ » .
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan dua tolok ukur utama kesempurnaan iman seorang muslim. Pertama, kesempurnaan iman diukur dari kebaikan akhlak dalam bermuamalah dengan semua orang. Kedua, kebaikan seorang suami khususnya diukur dari bagaimana perlakuannya yang terbaik terhadap istrinya. Dengan demikian, keimanan yang benar harus terwujud dalam etika sosial yang mulia dan keharmonisan rumah tangga.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan dua tolok ukur utama kesempurnaan iman seorang muslim. Pertama, kesempurnaan iman diukur dari kebaikan akhlak dalam bermuamalah dengan semua orang. Kedua, kebaikan seorang suami khususnya diukur dari bagaimana perlakuannya yang terbaik terhadap istrinya. Dengan demikian, keimanan yang benar harus terwujud dalam etika sosial yang mulia dan keharmonisan rumah tangga.
# 11
وعن عائشةَ رضيَ اللَّه عنها ، قالت سمعت رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إِنَّ الُمؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسنِ خُلُقِه درَجةَ الصائمِ القَائمِ » رواه أبو داود .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang mukmin dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat malam dengan akhlaknya yang baik." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan akhlak mulia dalam Islam. Seorang mukmin yang berakhlak baik dapat meraih pahala dan kedudukan setara dengan ahli ibadah sunnah yang tekun berpuasa dan shalat malam. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya tercermin dalam ritual ibadah mahdhah, tetapi juga dalam interaksi dan perilaku sehari-hari yang baik terhadap sesama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan akhlak mulia dalam Islam. Seorang mukmin yang berakhlak baik dapat meraih pahala dan kedudukan setara dengan ahli ibadah sunnah yang tekun berpuasa dan shalat malam. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya tercermin dalam ritual ibadah mahdhah, tetapi juga dalam interaksi dan perilaku sehari-hari yang baik terhadap sesama.
# 12
وعن أبي أُمَامَة الباهِليِّ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَنا زَعِيمٌ ببَيتٍ في ربَضِ الجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِراءَ . وَإِنْ كَانَ مُحِقّاً ، وَببيتٍ في وَسَطِ الجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ ، وإِن كَانَ مازِحاً ، وَببيتٍ في أعلى الجَنَّةِ لِمَن حَسُنَ خُلُقُهُ » حديث صحيح ، رواه أبو داود بإِسناد صحيح .
« الزَّعِيمُ » : الضَّامِنُ .
Terjemahan
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam canda. Dan aku menjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang baik akhlaknya." (Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan jaminan rumah di surga dengan tingkat yang berbeda berdasarkan amalan hati dan lisan. Intinya, keutamaan tidak hanya pada kebenaran substansi, tetapi pada meninggalkan perdebatan (jidal) meskipun benar, menjauhi dusta sekalipun bercanda, dan berakhlak mulia. Ini menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial, kejujuran mutlak, dan budi pekerti sebagai jalan meraih kedudukan tinggi di akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjanjikan jaminan rumah di surga dengan tingkat yang berbeda berdasarkan amalan hati dan lisan. Intinya, keutamaan tidak hanya pada kebenaran substansi, tetapi pada meninggalkan perdebatan (jidal) meskipun benar, menjauhi dusta sekalipun bercanda, dan berakhlak mulia. Ini menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial, kejujuran mutlak, dan budi pekerti sebagai jalan meraih kedudukan tinggi di akhirat.
# 13
وعن جابر رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِن مِنْ أَحَبِّكُم إِليَّ ، وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجلساً يَومَ القِيَامَةِ ، أَحَاسِنَكُم أَخلاقاً . وإِنَّ أَبَغَضَكُم إِليَّ وَأَبْعَدكُم مِنِّي يومَ الْقِيامةِ ، الثَّرْثَارُونَ والمُتَشَدِّقُونَ وَالمُتَفَيْهِقُونَ » قالوا : يا رسول اللَّه قَدْ عَلِمْنَا الثَرْثَارُونَ وَالمُتَشَدِّقُونَ ، فَمَا المُتَفيْهِقُونَ ؟ قال : « المُتَكَبِّروُنَ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن .
« الثَّرثَارُ » : هُوَ كَثِيرُ الكَلامِ تَكلُّفاً . « وَالمُتَشَدِّقُ » : المُتَطاوِلُ عَلى النَّاسِ بِكَلامِهِ ، وَيتَكَلَّمُ بِملءِ فيه تَفَاصُحاً وَتَعْظِيماً لكلامِهِ ، « وَالمُتَفَيْهِقُ » : أَصلُهُ مِنَ الفَهْقِ ، وهُو الامْتِلاءُ ، وَهُوَ الذي يَمْلأ فَمَهُ بِالكَلامِ ، وَيَتَوَسَّعُ فيه ، وَيُغْرِب بِهِ تَكَبُّراً وَارتِفَاعاً ، وإِظْهَاراً للفَضِيلَةِ عَلى غيَرِهِ .
وروى الترمذي عن عبد اللَّه بن المباركِ رحِمه اللَّه في تَفْسير حُسْنِ الخُلُقِ قال : هُوَ طَلاقَهُ الوجه . وبذلُ المَعرُوف ، وكَفُّ الأَذَى .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun (orang yang banyak bicara), al-mutasyaddiqun (orang yang melontarkan kata-kata), dan al-mutafaihiqun." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kami telah tahu ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, lalu apakah al-mutafaihiqun itu?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang sombong." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: Hadits hasan).
"Ats-Tsartsar" adalah orang yang banyak bicara dengan dibuat-buat. "Al-Mutasyaddiq" adalah orang yang menyombongkan diri atas manusia dengan perkataannya, dan berbicara dengan penuh mulutnya untuk menunjukkan kefasihan dan mengagungkan ucapannya. "Al-Mutafaihiq" asalnya dari al-fahq (penuh), yaitu orang yang memenuhi mulutnya dengan perkataan, meluaskannya, dan menggunakan kata-kata yang aneh/asing karena sombong, tinggi hati, dan untuk menampakkan kelebihan atas orang lain.
Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah dalam penjelasan tentang akhlak yang baik, dia berkata: "Yaitu wajah yang berseri, memberikan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kedekatan dengan Rasulullah SAW di akhirat ditentukan oleh akhlak mulia. Sebaliknya, beliau menjauh dari orang yang buruk perilaku lisannya, yaitu yang banyak bicara tanpa guna, berbicara dengan kesombongan, dan berusaha tampak fasih dengan memaksakan kata-kata. Intinya, keutamaan seseorang terletak pada budi pekerti yang baik dan kesederhanaan dalam berkata-kata, bukan pada kefasihan atau banyaknya bicara.
"Ats-Tsartsar" adalah orang yang banyak bicara dengan dibuat-buat. "Al-Mutasyaddiq" adalah orang yang menyombongkan diri atas manusia dengan perkataannya, dan berbicara dengan penuh mulutnya untuk menunjukkan kefasihan dan mengagungkan ucapannya. "Al-Mutafaihiq" asalnya dari al-fahq (penuh), yaitu orang yang memenuhi mulutnya dengan perkataan, meluaskannya, dan menggunakan kata-kata yang aneh/asing karena sombong, tinggi hati, dan untuk menampakkan kelebihan atas orang lain.
Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah dalam penjelasan tentang akhlak yang baik, dia berkata: "Yaitu wajah yang berseri, memberikan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kedekatan dengan Rasulullah SAW di akhirat ditentukan oleh akhlak mulia. Sebaliknya, beliau menjauh dari orang yang buruk perilaku lisannya, yaitu yang banyak bicara tanpa guna, berbicara dengan kesombongan, dan berusaha tampak fasih dengan memaksakan kata-kata. Intinya, keutamaan seseorang terletak pada budi pekerti yang baik dan kesederhanaan dalam berkata-kata, bukan pada kefasihan atau banyaknya bicara.