Kitab 1 · Bab 74
Sabar, Pemaaf, dan Lembut
✦ 15 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ والكاظمين الغيظ، والعافين عن الناس والله يحب المحسنين ﴾ .سورة آل عمران(134)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Ali 'Imran: 134).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga tingkatan akhlak mulia dalam menghadapi amarah. Tingkat pertama adalah menahan amarah (كظم الغيظ), tingkat lebih tinggi adalah memaafkan kesalahan (العفو عن الناس), dan puncaknya adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat salah. Allah SWT menyatakan kecintaan-Nya khusus kepada mereka yang mencapai tingkat tertinggi ini, yaitu al-Muhsinun.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga tingkatan akhlak mulia dalam menghadapi amarah. Tingkat pertama adalah menahan amarah (كظم الغيظ), tingkat lebih tinggi adalah memaafkan kesalahan (العفو عن الناس), dan puncaknya adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat salah. Allah SWT menyatakan kecintaan-Nya khusus kepada mereka yang mencapai tingkat tertinggi ini, yaitu al-Muhsinun.
# 2
وقال تعالى: ﴿ خذ العفو، وأمر بالعرف، وأعرض عن الجاهلين ﴾ .سورة الأعراف(199)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga prinsip utama dalam membina akhlak mulia dan berinteraksi sosial. Pertama, bersikap pemaaf dan lapang dada terhadap kesalahan orang lain. Kedua, aktif menyeru kepada kebaikan dan kemaslahatan yang telah dikenal dalam syariat. Ketiga, menghindari perdebatan dan sikap membalas terhadap orang-orang yang bodoh (jahil) dengan cara berpaling yang bijak, bukan dengan menghina atau membalas kebodohan mereka. Ketiganya adalah pondasi untuk menciptakan kedamaian dan mencegah konflik yang tidak perlu.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga prinsip utama dalam membina akhlak mulia dan berinteraksi sosial. Pertama, bersikap pemaaf dan lapang dada terhadap kesalahan orang lain. Kedua, aktif menyeru kepada kebaikan dan kemaslahatan yang telah dikenal dalam syariat. Ketiga, menghindari perdebatan dan sikap membalas terhadap orang-orang yang bodoh (jahil) dengan cara berpaling yang bijak, bukan dengan menghina atau membalas kebodohan mereka. Ketiganya adalah pondasi untuk menciptakan kedamaian dan mencegah konflik yang tidak perlu.
# 3
وقال تعالى: ﴿ ولا تستوي الحسنة ولا السيئة، ادفع بالتي هي أحسن، فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم؛ وما يلقاها إلا الذين صبروا، وما يلقاها إلا ذو حظ عظيم ﴾ .سورة فصلت(34-35)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan strategi mulia untuk melawan kejahatan, bukan dengan membalas serupa, tetapi dengan membalasnya dengan kebaikan dan cara yang lebih baik. Sikap ini dapat mengubah permusuhan menjadi persahabatan yang akrab. Hanya orang-orang yang sabar dan diberi taufik oleh Allah yang mampu mengamalkan ajaran agung ini, dan bagi mereka pahala yang sangat besar.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan strategi mulia untuk melawan kejahatan, bukan dengan membalas serupa, tetapi dengan membalasnya dengan kebaikan dan cara yang lebih baik. Sikap ini dapat mengubah permusuhan menjadi persahabatan yang akrab. Hanya orang-orang yang sabar dan diberi taufik oleh Allah yang mampu mengamalkan ajaran agung ini, dan bagi mereka pahala yang sangat besar.
# 4
وقال تعالى: ﴿ ولمن صبر وغفر، إن ذلك من عزم الأمور ﴾ .سورة الشورى(43)
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan sungguh, barangsiapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Asy-Syura: 43).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia yang membutuhkan kekuatan hati: sabar atas perlakuan buruk orang lain dan memaafkan kesalahan mereka. Mengamalkan keduanya bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti keteguhan jiwa dan kemuliaan karakter. Perbuatan ini digolongkan sebagai 'azmul umur' (urusan yang penting dan teguh), menunjukkan kedudukannya yang agung dalam Islam.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan dua akhlak mulia yang membutuhkan kekuatan hati: sabar atas perlakuan buruk orang lain dan memaafkan kesalahan mereka. Mengamalkan keduanya bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti keteguhan jiwa dan kemuliaan karakter. Perbuatan ini digolongkan sebagai 'azmul umur' (urusan yang penting dan teguh), menunjukkan kedudukannya yang agung dalam Islam.
# 5
وعن ابنِ عَبَّاسٍ رَضيَ اللَّهُ عَنْهُما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لأَشَجِّ عبْدِ الْقَيْس: « إِنَّ فيك خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ : الحِلْمُ وَالأَنَاة » رَواهُ مُسلم .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Al-Asyaj 'Abdul Qais: "Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah: ketenangan (al-hilm) dan kehati-hatian (al-anaah)." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sifat tenang (al-hilm) dan tidak tergesa-gesa (al-anaah) adalah akhlak mulia yang sangat dicintai Allah. Keduanya merupakan pondasi dalam menyikapi berbagai persoalan, mencegah dari tindakan gegabah, dan mendorong kebijaksanaan. Dengan memiliki kedua sifat ini, seorang muslim akan terjaga dari kesalahan dan mampu mengambil keputusan dengan tepat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sifat tenang (al-hilm) dan tidak tergesa-gesa (al-anaah) adalah akhlak mulia yang sangat dicintai Allah. Keduanya merupakan pondasi dalam menyikapi berbagai persoalan, mencegah dari tindakan gegabah, dan mendorong kebijaksanaan. Dengan memiliki kedua sifat ini, seorang muslim akan terjaga dari kesalahan dan mampu mengambil keputusan dengan tepat.
# 6
وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّ اللَّه رفيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ في الأَمْرِ كُلِّه » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut, dan Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sifat lembut (ar-rifq) adalah bagian dari nama dan sifat Allah, serta merupakan perbuatan yang dicintai-Nya. Pelajaran utamanya adalah kita diperintahkan untuk meneladani sifat ini dengan selalu mengutamakan kelembutan, kesantunan, dan cara yang baik dalam segala aspek kehidupan, baik dalam ibadah, muamalah, maupun mendakwahkan agama. Dengan demikian, kelembutan menjadi kunci kemudahan dan keberkahan dalam setiap urusan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sifat lembut (ar-rifq) adalah bagian dari nama dan sifat Allah, serta merupakan perbuatan yang dicintai-Nya. Pelajaran utamanya adalah kita diperintahkan untuk meneladani sifat ini dengan selalu mengutamakan kelembutan, kesantunan, dan cara yang baik dalam segala aspek kehidupan, baik dalam ibadah, muamalah, maupun mendakwahkan agama. Dengan demikian, kelembutan menjadi kunci kemudahan dan keberkahan dalam setiap urusan.
# 7
وعنها أَن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ ، وَيُعْطِي على الرِّفق مالا يُعطي عَلى العُنفِ وَما لا يُعْطِي عَلى ما سِوَاهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan. Dan Dia memberikan kepada orang yang bersikap lembut apa yang tidak Dia berikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kelembutan (ar-rifq) adalah sifat Allah dan dicintai-Nya. Balasan Allah atas sikap lembut jauh lebih besar dan istimewa dibanding balasan atas kekerasan atau sikap lainnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus menjadikan kelembutan sebagai akhlak utama dalam seluruh aspek kehidupan, karena itu adalah jalan meraih karunia Allah yang terbaik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kelembutan (ar-rifq) adalah sifat Allah dan dicintai-Nya. Balasan Allah atas sikap lembut jauh lebih besar dan istimewa dibanding balasan atas kekerasan atau sikap lainnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus menjadikan kelembutan sebagai akhlak utama dalam seluruh aspek kehidupan, karena itu adalah jalan meraih karunia Allah yang terbaik.
# 8
وعنها أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ الرِّفقُ لا يَكُونُ في شيءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلا يُنْزَعُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya, jika kelembutan ada pada sesuatu, niscaya ia akan menghiasinya. Dan jika kelembutan dicabut dari sesuatu, niscaya ia akan menjelekkannya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kekuatan sifat lemah lembut (ar-rifq) dalam segala aspek kehidupan. Sifat ini berfungsi sebagai penghias yang memperindah setiap perkataan, perbuatan, dan interaksi. Sebaliknya, kekerasan dan sikap kasar akan merusak dan menodai kebaikan sesuatu. Dengan demikian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan agar kita senantiasa memilih pendekatan yang penuh kelembutan dalam berdakwah, bergaul, dan menyelesaikan urusan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kekuatan sifat lemah lembut (ar-rifq) dalam segala aspek kehidupan. Sifat ini berfungsi sebagai penghias yang memperindah setiap perkataan, perbuatan, dan interaksi. Sebaliknya, kekerasan dan sikap kasar akan merusak dan menodai kebaikan sesuatu. Dengan demikian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan agar kita senantiasa memilih pendekatan yang penuh kelembutan dalam berdakwah, bergaul, dan menyelesaikan urusan.
# 9
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : بَال أَعْرَابيٌّ في المسجِد ، فَقَامَ النَّاسُ إِلَيْه لِيَقَعُوا فِيهِ ، فقال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : دَعُوهُ وَأَرِيقُوا عَلى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوباً مِن مَاءٍ ، فَإِنَّما بُعِثتُم مُيَسِّرِينَ ولَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ » رواه البخاري .
« السَّجْلُ » بفتح السين المهملة وإسكان الجيم : وَهِيَ الدُّلوُ المُمْتَلِئَةُ ماء ، كَذلِكَ الذَّنُوبُ.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Seorang Arab badui kencing di masjid, lalu orang-orang bangkit untuk memarahinya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biarkan dia dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan diutus untuk mempersulit." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
"As-Sajl" (dengan fathah huruf sin dan sukun huruf jim) adalah ember yang penuh air, begitu juga "Adz-Dzanub".
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip utama dalam dakwah Islam, yaitu memudahkan, bukan mempersulit. Sikap Nabi ﷺ yang lembut dan bijaksana dalam menghadapi kesalahan orang badui yang tidak tahu aturan menunjukkan bahwa tujuan syariat adalah memberikan pengajaran, bukan penghinaan. Hikmahnya, seorang muslim harus bersikap toleran dan edukatif terhadap orang yang belum paham, serta mengutamakan solusi praktis untuk membersihkan kekeliruan.
"As-Sajl" (dengan fathah huruf sin dan sukun huruf jim) adalah ember yang penuh air, begitu juga "Adz-Dzanub".
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip utama dalam dakwah Islam, yaitu memudahkan, bukan mempersulit. Sikap Nabi ﷺ yang lembut dan bijaksana dalam menghadapi kesalahan orang badui yang tidak tahu aturan menunjukkan bahwa tujuan syariat adalah memberikan pengajaran, bukan penghinaan. Hikmahnya, seorang muslim harus bersikap toleran dan edukatif terhadap orang yang belum paham, serta mengutamakan solusi praktis untuk membersihkan kekeliruan.
# 10
وعن أَنس رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « يسِّرُوا وَلا تُعَسِّروا . وَبَشِّرُوا وَلا تُنَفِّرُوا » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Permudahlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat mereka lari (dari agama)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan untuk bersikap ramah, mempermudah urusan, dan menyampaikan dakwah dengan cara yang menggembirakan agar orang tertarik kepada Islam, bukan malah menjauh.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip kemudahan dan kasih sayang dalam berdakwah serta bermuamalah. Intinya adalah mengajak dengan kelembutan dan kabar gembira, bukan dengan kekerasan atau sikap yang mempersulit. Tujuannya agar agama Islam mudah diterima dan dicintai, bukan ditakuti atau dihindari. Dengan demikian, dakwah akan lebih efektif dan sesuai dengan akhlak Rasulullah ﷺ.
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan untuk bersikap ramah, mempermudah urusan, dan menyampaikan dakwah dengan cara yang menggembirakan agar orang tertarik kepada Islam, bukan malah menjauh.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip kemudahan dan kasih sayang dalam berdakwah serta bermuamalah. Intinya adalah mengajak dengan kelembutan dan kabar gembira, bukan dengan kekerasan atau sikap yang mempersulit. Tujuannya agar agama Islam mudah diterima dan dicintai, bukan ditakuti atau dihindari. Dengan demikian, dakwah akan lebih efektif dan sesuai dengan akhlak Rasulullah ﷺ.
# 11
- وعن جرير بن عبد اللَّه رضي اللَّه عنه قال : سمعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : «مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرمِ الخيْرَ كُلَّهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang dihalangi dari sifat lemah lembut, maka sungguh ia dihalangi dari seluruh kebaikan." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan pentingnya sifat lemah lembut dalam segala aspek kehidupan, karena itu adalah kunci dari semua kebaikan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sifat lemah lembut (ar-rifq) bukan sekadar akhlak tambahan, melainkan pondasi utama meraih kebaikan. Siapa yang kehilangan atau dihalangi dari sifat ini, maka ia akan terhalang dari seluruh kebaikan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Dengan demikian, kelembutan dalam perkataan, perbuatan, dan muamalah adalah kunci yang membuka segala pintu kebaikan dan mencegah dari keburukan.
Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan pentingnya sifat lemah lembut dalam segala aspek kehidupan, karena itu adalah kunci dari semua kebaikan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sifat lemah lembut (ar-rifq) bukan sekadar akhlak tambahan, melainkan pondasi utama meraih kebaikan. Siapa yang kehilangan atau dihalangi dari sifat ini, maka ia akan terhalang dari seluruh kebaikan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Dengan demikian, kelembutan dalam perkataan, perbuatan, dan muamalah adalah kunci yang membuka segala pintu kebaikan dan mencegah dari keburukan.
# 12
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَنَّ رَجُلاً قال للنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَوْصِني قال : « لا تَغْضَبْ » فَرَدَّدَ مِرَاراً ، قال : « لا تَغْضَبْ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Janganlah kamu marah." Orang itu mengulang-ulang permintaannya, dan beliau tetap bersabda: "Janganlah kamu marah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menahan amarah, sehingga Nabi ﷺ menjadikannya sebagai wasiat utama untuk mengendalikan diri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa inti kebaikan dan pondasi akhlak mulia terletak pada kemampuan mengendalikan amarah. Sabda Nabi ﷺ yang diulang menekankan bahwa pengendalian diri dari emosi marah dapat mencegah berbagai keburukan dan kerusakan. Dengan demikian, wasiat "jangan marah" merupakan kunci utama untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia dan dengan Allah Ta'ala.
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menahan amarah, sehingga Nabi ﷺ menjadikannya sebagai wasiat utama untuk mengendalikan diri.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa inti kebaikan dan pondasi akhlak mulia terletak pada kemampuan mengendalikan amarah. Sabda Nabi ﷺ yang diulang menekankan bahwa pengendalian diri dari emosi marah dapat mencegah berbagai keburukan dan kerusakan. Dengan demikian, wasiat "jangan marah" merupakan kunci utama untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia dan dengan Allah Ta'ala.
# 13
وعن أبي يعلَى شدَّاد بن أَوسٍ رضي اللَّه عنه ، عن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ اللَّه كَتَبَ الإِحسَان على كُلِّ شَيءٍ ، فإِذا قَتلتُم فَأَحسِنُوا القِتْلَةَ وَإِذَا ذَبحْتُم فَأَحْسِنُوا الذِّبْحة وليُحِدَّ أَحَدُكُم شَفْرتَه وَليُرِحْ ذَبيحَتَهُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh (binatang yang membahayakan), bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih (untuk dimakan), sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan etika (ihsan) dalam semua perbuatan, termasuk terhadap hewan, dengan tidak menyiksanya dan meminimalkan penderitaannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip ihsan (berbuat baik) sebagai kewajiban universal dalam Islam, bahkan dalam situasi yang keras seperti membunuh binatang berbahaya atau menyembelih hewan. Nabi ﷺ memberikan contoh konkret dengan perintah untuk menggunakan pisau yang tajam dan mengurangi penderitaan hewan. Intinya, etika dan rasa belas kasih harus menyertai setiap tindakan, mencerminkan kesempurnaan iman seorang muslim.
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan etika (ihsan) dalam semua perbuatan, termasuk terhadap hewan, dengan tidak menyiksanya dan meminimalkan penderitaannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip ihsan (berbuat baik) sebagai kewajiban universal dalam Islam, bahkan dalam situasi yang keras seperti membunuh binatang berbahaya atau menyembelih hewan. Nabi ﷺ memberikan contoh konkret dengan perintah untuk menggunakan pisau yang tajam dan mengurangi penderitaan hewan. Intinya, etika dan rasa belas kasih harus menyertai setiap tindakan, mencerminkan kesempurnaan iman seorang muslim.
# 14
وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : مَا خُيِّر رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بَينَ أَمْرينِ قَطُّ إِلاَّ أَخذَ أَيْسَرَهُمَا ، مَا لَم يَكُن إِثماً ، فإنْ كانَ إِثماً كَانَ أَبعد النَّاسِ مِنْهُ . ومَا انتَقَمَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لِنَفْسِهِ في شَيءٍ قَطُّ ، إِلاَّ أَن تُنتَهكَ حُرْمَةُ اللَّهِ ، فَينتَقِم للَّهِ تعالى . متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ tidak pernah diberi pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama itu bukan dosa. Jika itu dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya. Beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri, kecuali ketika larangan Allah dilanggar, maka beliau membalasnya karena Allah. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan akhlak Nabi ﷺ yang selalu memilih kemudahan dan tidak pendendam untuk urusan pribadi, tetapi tegas dalam menegakkan hukum Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua prinsip utama dalam akhlak Rasulullah ﷺ. Pertama, memilih kemudahan dan keringanan (rukhshah) dalam perkara mubah selama tidak melanggar syariat. Kedua, ketegasan dan kemarahan beliau semata-mata dilandasi oleh pembelaan terhadap agama Allah, bukan untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, teladan beliau mengajarkan keseimbangan antara toleransi dalam urusan duniawi dan keteguhan dalam prinsip-prinsip ilahiyah.
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan akhlak Nabi ﷺ yang selalu memilih kemudahan dan tidak pendendam untuk urusan pribadi, tetapi tegas dalam menegakkan hukum Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua prinsip utama dalam akhlak Rasulullah ﷺ. Pertama, memilih kemudahan dan keringanan (rukhshah) dalam perkara mubah selama tidak melanggar syariat. Kedua, ketegasan dan kemarahan beliau semata-mata dilandasi oleh pembelaan terhadap agama Allah, bukan untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, teladan beliau mengajarkan keseimbangan antara toleransi dalam urusan duniawi dan keteguhan dalam prinsip-prinsip ilahiyah.
# 15
وعن ابن مسعود رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَلا أَخْبرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ ؟ تَحْرُمُ على كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ ليِّنٍ سَهْلٍ».
رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang diharamkan masuk neraka, atau neraka diharamkan untuknya? (Yaitu) orang yang dekat (ramah) kepada manusia, lemah lembut, dan mudah (dalam urusannya)." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadits ini menjanjikan surga bagi orang yang bersikap ramah, lemah lembut, dan memudahkan urusan orang lain, sehingga dijauhkan dari neraka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggarisbawahi keutamaan akhlak mulia dalam Islam. Inti pelajarannya adalah bahwa sifat ramah, lembut, dan suka memudahkan urusan sesama manusia bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan sebab meraih ridha Allah dan keselamatan di akhirat. Karakter tersebut menjadi perisai yang menghalangi seseorang dari neraka. Dengan demikian, hadis ini mendorong setiap muslim untuk menjadikan kelembutan dan kemudahan sebagai bagian integral dari kepribadian dan interaksi sehari-hari.
Penjelasan singkat: Hadits ini menjanjikan surga bagi orang yang bersikap ramah, lemah lembut, dan memudahkan urusan orang lain, sehingga dijauhkan dari neraka.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggarisbawahi keutamaan akhlak mulia dalam Islam. Inti pelajarannya adalah bahwa sifat ramah, lembut, dan suka memudahkan urusan sesama manusia bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan sebab meraih ridha Allah dan keselamatan di akhirat. Karakter tersebut menjadi perisai yang menghalangi seseorang dari neraka. Dengan demikian, hadis ini mendorong setiap muslim untuk menjadikan kelembutan dan kemudahan sebagai bagian integral dari kepribadian dan interaksi sehari-hari.